Kamis, 19 Mei 2016

[PRELIM] 13 - KURO GODWILL | DREAM, PAST, AND FUTURE

oleh : Chou-3

--

Ch. 1
Dream, Past, and Future


太陽とその輝きに於いて
"Taiyou to sono kagayaki ni oite"
(Demi matahari dan cahayanya)
それに従う月に於いて
"Sore ni shitagau tsuki ni oite"
(Dan bulan apabila mengirinya)
輝き現わす昼に於いて
"Kagayaki arawasu hiru ni oite"
(Dan siang apabila menampakkanya)
それを覆う夜に於いて
"Sore wo oou yoru ni oite"
(Dan malam apabila menutupinya)
天と、それを打ち建てた御方に於いて
"Ten to, sore wo uchi tateta okata ni oite"
(Dan langit serta pembinaannya)
大地と、それを広げた御方に於いて
"Daichi to, sore wo hirogeta okata ni oite"
(Dan bumi serta pemaparannya)
魂と、それを釣り合い秩序付けた御方に於いて
"Tamashi to, sore wo tsuriai chitsujo tsuketa okata ni oite"
(Dan jiwa serta penyempurnaanya (penciptaanya))
暁に於いて
"Akatsuki ni oite"
(Dan fajar)
偶数と奇数に於いて
"Guusuu to kisuu ni oite"
(serta genap dan ganjil)
去り行く夜に於いて
"Sari iku yoru ni oite"
(Dan malam yang kan berlalu)
「この世におけるなんじの役割を忘れてはならぬ」
"Kono yo ni okeru nanji no yakuwari wo wasurete wa naran"
(Jangan lupakan tugasmu di dunia ini)


Piece of Memories (Side K)

             Samar-samar suara itu terdengar dan terus menggema di telinga bak mantra yang kadang membuat kepala ini terasa sakit luar biasa dan membuat pandangan mendadak kabur. Pemuda itu....., ya, pemuda dengan rambut yang unik yang memiliki tiga warna. Putih di ujung poninya, orange warna dominanya, dan hitam di bagian ujung bawah rambutnya. Aku melihatnya tidur terlelap berselimutkan kedamaian, akan tetapi ntah kenapa sepertinya dia menyembunyikan sebuah kesedihan? Kesepian? Kerinduan? Dalam senyum damainya itu. Pemuda itu......, aku merasa aku mengenalnya.
             "Tuan Muda, bangun!"
             Terdengar suara pria sembari membuka tirai kamar yang tertutup. Sinar mentari pun masuk melahap kegelapan ruangan, terlalu silau untuk melihat sehingga wajah pria yang membangunkan pemuda itu pun tak begitu terlihat.
             "Hari ini hari spesial, jadi bangunlah lebih awal", katanya berbisik mendekati pemuda itu.
             "Hmm....spesial? Apa ayah dan ibu akan datang?", jawab si pemuda dengan nada yang masih ingin tidur.
             "....", sejenak pria itu terdiam tanpa kata. Matanya menatap dalam pada pemuda itu dan terlihat raut kesedihan pada mukanya. Aku terus menyaksikan mereka seperti melihat sebuah movie di televisi. Aku tak mengerti, aku berada di ruangan itu bersama mereka namun kenapa mereka tak menyadariku?
             "Tentu saja!"
             "Benarkah?", tanya pemuda itu dengan kegirangan lalu langsung terbangun dan memeluk pria itu. "Key tidak bohong kan? Tentu saja! Key kan hidup lebih lama dari ku pasti tahu ayah dan ibu".
             "Maaf, aku memang tak bisa mempertemukan Tuan muda dengan mereka, tapi....", katanya sambil memeluk erat pemuda itu. Pemuda itu pun terlihat sedikit kecewa tapi ia tak ingin kesedihannya itu terlihat seolah-olah aku benar-benar memahami apa yang dirasakan pemuda itu, lalu iapun berkata,
             "Hei sudah berapa kali aku bilang hentikan panggilan 'Tuan Muda'!. Key sudah seperti kakakku sendiri"
             "Maaf, tapi karena hari ini adalah hari spesial saya akan memberikan sesuatu yang bisa membimbing Anda kepada mereka"
             Pemuda itu terlihat senang dan memasang wajah penasaran. Mereka pun berjalan menuju ruang tamu. Aku mengikuti mereka dari belakang. Di sana terdapat kue ulang tahun yang dihiasi lilin panda di atasnya dan juga makanan yang sepertinya lezat dan aku menyukai semua makanan yang terhidang di sana. Lalu pria yang dipanggil Key oleh pemuda itu yang tadi sempat menghilang datang kembali dengan membawa sebuah kotak yang panjangnya hampir dua meter.
             "Saya sudah berjanji akan memberikan ini pada Tuan Muda di ulang tahun yang ke tujuh belas", katanya sambil memberikan kotak itu pada si pemuda.
             "ini...."
Di dalamnya terdapat dua pedang yang sama persis namun berbeda warna. Yang satu berwarna biru dengan permata biru dan yang satunya lagi berwarna orange dengan permata merah. Di ujung pegangan pedang tersebut tergantung bell yang bergerincing tiap kali digerakkan. Pemuda itu mengambilnya dan mengamati. Selama ini ia tak pernah memegang pedang sungguhan. Saat berlatih pun ia hanya memakai pedang yang terbuat dari bambu. Tidak hanya itu di dalamnya juga terdapat beberapa lembar surat yang di masukkan dalam amplop. Beberapa surat tidak bisa di buka karena pada surat tersebut terpasang segel yang akan terbuka saat pemuda itu mencapai usia tertentu.
             "Kelak Tuan muda akan ditunjuk sebagai salah satu penjaga gerbang dari ke tujuh pintu masuk dunia ini, sebuah tugas yang sangat terhormat dan diakui. Hanya ksatria tertangguh yang dipilih untu melaksanakan tugas ini, tugas saya cukup sampai di sini"
             "Tunggu! Apa maksudnya?"
             "Sampai saatnya tiba berpetualanglah. Carilah banyak pengalaman. Mungkin di tengah-tengah perjalanan itu Tuan Muda akan menemukan sesuatu yang berharga, Tuan Muda akan menemukan jawabannya"
             "Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu"
             "Kedua pedang itu hadiah dari orang tua Tuan Muda. Saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh lagi.....", pria itu mendekati si pemuda, memberikan pelukan untuk terakhir kalinya, mengelus-elus rambutnya dan mencium keningnya kemudia berkata,
             "Maaf. Selamat tinggal Kuro", ucapnya dengan senyum dan tetesan air mata.
             "Ke.....Key.....", kata si pemuda dengan air mata berlinang yang tak bisa di bendung lagi.
             Ya, untuk pertama dan terakhir kalinya pria itu memanggil nama asli pemuda itu dan menghilang bersama berkas-berkas cahaya yang memudar. Isak tangis pemuda itu menggema di seluruh ruangan ingin rasanya aku menghiburnya, menenangkannya namun ku tak bisa. Dan, tunggu dulu! Bagaimana bisa aku tahu itu nama aslinya? Bagaimana bisa aku merasa seoalah-olah aku tahu semua ini. Dan saat pria itu menghilang ntah kenapa dada ini juga terasa sesak, sakit, seoalah aku mengerti perasaan pemuda yang ditinggal sendirian itu. Aku menoleh ke sebuah cermin yang ada di sebelah kananku. Sontak aku terkejut. Mata itu....rambut itu.....wajah itu......itu aku? Lalu aku menoleh kembali ke pemuda yang masih menangis itu. Benar-benar sama persis. Apa itu aku? Lalu aku menoleh ke cermin lagi. Tak bisa dipungkiri, wajahku dan pemuda itu benar-benar sama. Bagaimana bisa? Lalu saat aku menoleh sekali lagi ke pemuda itu, terlihat samar-samar sosok bayangan yang tak begitu jelas dari belakang pemuda itu.
             "........mahakarya....."
             "apa? Kau berbicara pada ku?"
             "......reverier..."
             "siapa kau? Aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang kau katakan"
             "........"
             "Apa?"
             "....alam mimpi..."
             "hei, aku tidak mengerti. Bisa kau ulang dari awal?", tanya ku namun tak ada jawaban
             "...mimpi? Jadi semua ini hanya mimpi?", kataku dalam hati. Pantas saja begitu banyak kejadian ganjil yang tak bisa kumengerti. Lalu perlahan-lahan sosok-sosok bayangan itu pun pergi menjauh. Ingin ku mengejar bayangan itu namun suara itu datang lagi. Kali ini tak hanya suara itu. Kata-kata dari sosok yang tak bisa kulihat dengan jelas pun masih terngiang. Membuat otakku semakin berpacu dan rasa sakit kepala yang luar biasa datang lagi.

             "Nanji no yakuwari wo wasurete wa naran"
                                                               
                                                                "....reverier..."

                                "....mimpi....."
             "AAARRRGGGGHHHH"saking sakitnya hingga aku tak sanggup menahannya lagi.

***


Sesaat sebelum penandaan

             "Paman Nurma, selanjutnya ayo kita masuk ke mimpi itu", ajak Ratu Huban.
             "Yang mana?"
             "Itu, yang rambutnya aneh  itu"
             "Aku tidak mengerti mana yang kau incar Ratu Huban"
             "Sudah pokoknya ikut aja"
            
             Zainurma pun mengikuti Ratu Huban dan mendarat di sebuah mimpi seorang pemuda yang memiliki rambut tiga warna. Setibanya di mimpi pemuda itu Ratu Huban dan Zainurma mendengar suara-suara yang bahkan maknanya pun mereka tidak mengerti namun terdengar merdu.
             "Asa no kagayaki ni oite, seijakuna yoru ni oite..."
             (di pagi hari yang bersinar dan malam yang sunyi...)
             "ssstt!!! Kau dengar itu paman Nurma?"
             "Hmmm"
             "Apa itu lirik lagu atau itu kitab suci?"
   "Mana ku tahu. Kalau itu kitab langka maka kita harus mendapatkan versi cetaknya untuk di pajang di museum.", jawab Zainurma.

Mereka masih mendengarkan kata-kata itu dengan hikmat. Mengahayati makna dibalik kata-kata itu meskipun tidak tahu itu bahasa apa. Sampai beberapa saat kemudian Zainurma pun mengeluarkan suaranya.
               
"Hmmm...seberapa keras aku berusaha memahaminya tetap saja aku tidak mengerti", kata Zainurma sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
                "Itulah namanya keindahan dalam ketidak mengertian, paman Nurma", sahut Ratu Huban.
"Pola pikirmu memang aneh. Jadi Ratu Huban, yang ini jadi ditandai juga?"
                "Tentu saja, kan ikemen lumayan buat cuci mata"
                "Hah? Kau ingin membuat boyband di alam mimpi?"
                "wah ide bagus paman Nurma"
                "Cepat tandai dan kita lanjut cari yang lainnya", kata Zainurma dengan sedikit memaksa.
                "Tunggu dulu, aku ingin tahu sedikit masa lalunya paman Nurma"
                "Itu urusan nanti. Memangnya kau lagi nonton drama korea apa? Kita lagi nyari reverier. Bukannya senang-senang nonton sinetron atau apalah itu", kata Zainurma mengingatkan waktu yang terbatas.
             "Iya-iya. Ayo kita tandai sekarang dan buat boyband paman Nurma!!! Yay!!", sahut Ratu Huban dengan penuh semangat. Mendengar itu pun Zainurma hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.
***



             "Dimana ini?", saat aku membuka mata, aku sudah berada di depan pintu. Aku mencoba menfokuskan pandangan mataku dan berusaha bangkit kemudian mengawasi sekitarku. Aneh sekali seingatku sebelum aku pingsan aku berada di ruang tamu, lalu kenapa sekarang aku berada di depan pintu keluar? Ya, satu hal yang ku sadari aku berada di dalam rumahku sendiri. Kali ini aku benar-benar sendirian. Tidak ada siapaun di sini. Aku pun memutuskan untuk membuka pintu. Begitu keluar dari rumah ada hal yang lebih mengejutkan yang membuatku membatu seketika. "Aneh sekali, seharusnya di sini kan taman", aku menutup mataku sejenak kemudian membukanya lagi untuk memastikan aku tidak sedang  berhalusinasi. Namun pemandangannya tetap sama. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah. Terdapat tujuh pintu gerbang yang cukup besar mengitari rumah. Masing-masing gerbang memiliki ciri khas yang berbeda dan warnanya pun juga berbeda. Pintu-pintu itu adalah pintu-pintu yang memisahkan negeri Xaverius dengan dunia Luar. Tak hanya itu, negeri Xaverius ini yang seharusnya terpaut jauh dari bumi, sekarang nampak begitu dekat.
             Konon katanya gerbang-gerbang itu dijaga oleh ksatria-ksastria terpilih, masing-masing dijaga oleh dua penjaga, seorang malaikat/ dewa dan ksatria pilihan itu, dan akan diganti setelah beberapa ribu tahun sekali. Negeri Xaverius, negeri yang secara kasat mata terlihat seperti bumi namun bukan bumi. Penghuninya memiliki kemampuan khusus yang tak dimiliki manusia biasa. Dijaga oleh malaikat/ dewa bukan berarti pula ini adalah negeri tempat tinggal para dewa atau malaikat.
             Aku teringat kata-kata pria yang dipanggil Key tadi, bahwa aku akan menjadi salah satu dari mereka. Aku tidak mengerti bagaimana mereka memandangku hingga memutuskan aku akan menjadi penjaga berikutnya? Aku ini hanyalah pemuda yang tak tahu siapa orang tuanya, dari mana asal usulnya. Aku hanyalah seorang pemuda yang dianggap anak iblis? Oleh keluarganya sendiri dan tetangga sekitarnya. Aku tak ingat kejadian apapun sebelum usiaku genap sepuluh tahun kecuali kecelakan tragis yang hampir merenggut nyawaku. Namun, berkat negeri Xaverius ini dan pria itu.....pria itu? Ya, pria itu adalah Key, karenanya semua jadi baik-baik saja. Tunggu dulu....Key? Siapa Key?
            
             "AARGH" ingatanku mulai rancu lagi. Aku berusaha menenangkan diri dan sekali lagi melihat ke sekeliling. Pintu-pintu yang seharusnya saling berjauhan itu terasa semakin berdekatan. Padanganku terfokus pada salah satu gerbang itu. Sebuah gerbang bercahaya keemasan di selimuti awan-awan. Sinar mentari membuat kilau sinarnya terasa begitu damai. Dari tempatku berpijak, di depan gerbang itu terdapat bunga-bunga yang bermekaran, sungai yang sangat jernih dan luas mengalir, di atasnya terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan daratan yang terpisaha karena aliran sungai. Begitu indah dan damai bak pintu menuju surga. Dengan penuh keheranan aku berjalan mendekati pintu gerbang. Semakin dekat semakin terasa asri dan damai. Suara air mengalir begitu menenangkan dan kicauan burung yang merdu, para kupu-kupu pun terbang mengitariku menggiringku hingga sampai ke depan pintu gerbang itu. Gerbang yang sungguh besar, aku tak tahu pasti mungkin tingginya kisaran seratus meter lebih. Ukiran-ukiran indah menghiasi setiap pilar. Di kanan dan kiri gerbang mengalir air terjun yang tak berujung, bias matahari membuat jajaran pelangi indah bagaikan bingkai. Saat aku mencoba menyentuh gerbang itu cahaya yang sangat kuat dan menyilaukan tiba-tiba menyerang hingga aku tak bisa membuka mataku.

***




First Encounter (side A)

             Cahaya itu menenggelamkan seluruh daratan dan tubuh Kuro. Beberapa saat setelahnya, cahaya itu pun berangsur-angsur memudar dan menghilang. Kuro masih berdiri, berpijak di tempat yang sama. Di ujung cahaya yang sempat menghalangi pandangannya mulai terlihat sesosok laki-laki tinggi, tegap, dan memiliki sayap yang bersinar begitu indah. Auranya berbeda dengan penghuni Xaverius. Itulah yang dirasakan Kuro.
             "Malaikat? Dewa?", tanyanya dalam hati.
             Ya, memang benar sosok yang ia lihat adalah seorang Dewa. Dewa titik tengah yang melambangkan sebuah ketiadaan. Salah satu dewa yang terkenal sangat kuat, Huang longh. Lalu Kuro pun mencoba memperhatikan di sisi lainnya, dari sisi yang berlawanan terlihat manusia-manusia yang sedang berlari-lari ketakutan menghindari sebuah bencana dan gempa yang mengguncang daratan mereka. Anak-anak, orang dewasa, tua-muda, mereka bingung sendiri berusaha menyelamatkan diri. Tangisan anak-anak yang terpisah dari orang tuanya pun terdengar. Begitu Sang Dewa mengangkat air dari tempatnya dan menjatuhkannya ke daratan itu sebagai tsunami, tak satupun yang bisa lolos dari kejaran sang air yang mengamuk, tangisan anak-anak itu pun tenggelam karenanya. Sang dewa terus membaca mantranya dan melanjutkan penghancuran itu, bencana pun menjalar ke daerah-daerah berikutnya. Kuro yang melihat itu pun merasa iba dan berusaha berbicara dengan Sang Dewa.

             "Tunggu, kenapa Anda melakukan semua ini?"
             "Aku hanya melaksanakan tugasku"
             "Tapi banyak anak-anak tidak berdosa yang menjadi korban. Tidakkan Anda mempertimbangkan itu?"
             "Sudah waktunya manusia di hukum karena perbuatannya"
             "Manusia memang ada yang berbuat buruk tapi bukankan di antara mereka ada yang berbuat baik juga? Jadi mohon hentikan semua ini. Kasihan anak-anak itu dan orang-orang yang tak berdosa itu"
             "Tahu apa kau? Seorang anak pencuri sepertimu juga tak pantas hidup di dunia ini. Tidak, kau memang tak seharusnya lahir di dunia ini", kata Sang Dewa sembari menoleh ke arah Kuro yang sedari tadi tak ia lihat.
             "Pencuri? Aku tidak mengerti maksud Anda"
             "Dia telah mencurinya dariku", jelas Sang Dewa sambil meluncurkan serangan ke Kuro.
             "WUSSHHHH", serangan cepat air berbentuk seperti mata pisau tajam menyerang Kuro secara bertubi-tubi. Kuro berhasil mengindarinya. Kuro yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pun melontarkan pertanyaan.
             "Apa salah saya? Kenapa Anda menyerang saya?"
             "Kau hanyalah penghalang. Aku akan membunuhmu sekarang juga"
             Sang Dewa mengeluarkan naga air dan menembakkan bola air yang dapat memicu ledakan. Kuro yang sedari tadi hanya menghindari serangan pun mulai mengeluarkan pedangnya dan berbalas menyerang. Karena jika tidak ia akan benar-benar mati. Berdiskusi dengannya pun akan sia-sia saja. Perkataan Kuro sama sekali tidak digubris. Kuro berusaha mendekati Sang Dewa, namun sangatlah sulit menembus pertahanan yang di buat Sang Dewa.
             "GRRRAAAAK", suara retakan tanah tepat di bawah pijakan Kuro. Retakan itu membentuk barier yang mengurung Kuro di dalalamnya, karena pergerakannya yang sangat cepat Kuro pun tak bisa menghindar. Dinding-dinding tanah itu mulai menyempit.
             "SLASSHHHHH!!!"
             "BRAAARRR"
             Kuro menghancurkan dinding itu dengan sekali tebasan dengan kombinasi elemen api yang ia miliki. Akan tetapi dalam hitungan detik serangan dari Sang Dewa datang lagi. Kali ini bola halilintar raksasa meluncur ke arahnya.
             "BLAAARRRR" suara ledakan bola halilintar itu meruntuhkan tebing tempat pertarungan itu terjadi. Reruntuhannya jatuh ke Bumi dan beberapa manusia bumi pun menjadi korban karena reruntuhan itu. Kuro berhasil membuat perisai untuk melindunginya dari ledakan itu. Namun, saat ia memperhatikan bahwa manusia bumi bisa menjadi korban akibat pertaungan ini. Kuro pun langsung membuat perisai untuk melindungi mereka. Perhatian Kuro terbagi dua antara melindungi manusia-manusia itu dan menghadapi Sang Dewa. Lalu Kuro berusaha bernegosiasi sekali lagi dengan Sang Dewa.
             "Bisa kita hentikan pertarungan ini? Jika dilanjutkan orang-orang tak tau apa-apa itu juga akan terlibat"
             Namun Sang dewa tidak menjawab sama sekali dan meluncurkan serangan ribuan anak panah. Kuro menangkisnya dengan kelihaian gerakan pedangnya. Di tengah-tengah kesibukannya menangkis anak panah yang berdatangan tak diduga serangan berikutnya pun datang. Naga halilintar diluncurkan dan Kuro tak bisa menghindarinya. Tangan kirinya terkena serangan itu dan membuat perban yang membalut tangan kirinya terbuka.  Kuro mulai kewalahan menghadapi serangan Sang Dewa bahkan ia tak punya sedikit pun kesempatan untuk mendekati Sang Dewa. Ia berusaha agar perisai yang dia buat untuk-melindungi manusia-manusia itu tidak mudah dihancurkan. Dan saat ia sedang terfokus memperhatikan manusia-manusia itu agar korban yang jatuh tidak bertambah, tanpa ia sadari Sang Dewa sudah mendekatinya. Sang Dewa berhasil mencengkeram muka Kuro dan mengucapkan sebuah mantra.

             "HAKAI TO KUNOU" (destruction and distress).

             Sontak mata Kuro terbelalak, cahaya mulai muncul di telapak Sang Dewa. Dengan sigap Kuro langsung bergerak mundur dan membuat perisai.
            
             "PRISON WIND"
             BLAAASHHHH
             GLAARRRR

             Tembakan sinar laser dari tangan Sang Dewa bagaikan tembakan basoka, bahkan lebih kuat dan besar. Hutan-hutan bumi yang terkena serpihan tembakan itu terbakar, gununng yang dilaluinya pun langsung hancur tak berbekas. Manusia-manusia yang menyaksikan itu dari bawah, bagaikan menyaksikan kembang api, tepatnya bagaikan meteor yang terbakar menembus lapisan-lapisan atmospher bumi. Ada yang masih merasa ketakutan ada pula yang raut wajahnya sudah mulai sedikit tenang karena merasa perlindungan perisai dari Kuro sangat aman. Sehingga jatuhan-jatuhan meteor itu tak mengenai tubuh mereka. Karena meteor yang jatuh akan tertahan perisai buatan Kuro. Manusia-manusia yang tadinya terluka pun mulai bangkit kembali dan sembuh dari lukanya karena api-api putih yang di buat Kuro. Mereka terus menyaksikan pertarungan angkasa itu. Satu hal yang tidak mereka sadari, karena mereka tenaga Kuro cukup terkuras untuk melindungi sekaligus melawan seorang dewa yang tentu saja dengan kekuatannya saat ini hampir mustahil bagi Kuro untuk memenangkan pertarungan ini. Di sisi lain, Kuro masih bingung untuk apa pertarungan ini harus terjadi.
             Dengan perisainya Kuro berhasil bertahan meskipun perisai retak.
"Dheg dheg", suara detak jantung Kuro berpacu begitu cepat karena kejadia tadi, "Nyaris saja...."
             Naasnya serangan itu ternyata adalah serangan dua arah. Dari belakang Kuro muncul sesosok monster besar bersayap hitam dan putih, berjubah hitam bak malaikat pencabut nyawa, mukanya tak terlihat. Rantai-rantai yang keluar dari makhluk itu melilit tubuh Kuro, mengikat tangan dan kakinya sehingga Kuro tak bisa bergerak sama sekali. Dari depan, Sang Dewa tersenyum menyeringai. Sebagian rantai-rantai yang menjulur membentuk tobak tajam siap menusuk tubuh Kuro. Sang Dewa mendekat.
              
             "Sudah waktunya kau musnah bersama manusia-manusia itu", hasrat Sang Dewa untuk membunuh Kuro sangat besar. Begitu bencinya dia terhadap pemuda itu. Dia siap menghabisi nyawa pemuda yang tak tau apa-apa itu saat itu juga.

             Kuro berusaha memberontak, melepaskan diri dari cengkraman makhluk itu, namun usahanya sia-sia. Cengkraman lilitan rantainya terlalu kuat dan dia sudah tak punya cukup banyak tenaga lagi.
             Rantai yang berbentuk tombak tajam itu pun mulai digerakkan dan dalam hitungan detik siap menusuk tubuh Kuro.

             "Mati? Apa aku akan mati sekarang? Tidak! Aku tidak ingin mati di sini"

             Akan tetapi dalam jarak 0,001 mili pergerakannya berhenti tepat di jantung Kuro.

             "Segel rinnetensei.....", melihat tanda segel yang ada pada tangan kiri Kuro, Sang Dewa mengurungkan niatnya untuk membunuh Kuro. Karena Sang Dewa tahu betul apa itu segel rinnetensei, tak hanya itu ada segel ganda juga yang ditanamkan pada tubuh Kuro. Tentu ini adalah posisi yang tidak menguntungkan bagi Sang Dewa. Karena membunuhnya berarti membangkitkannya. Dengan adanya segel itu, membunuhnya adalah pantangan terbesar.
            
             "Apa yang kau rencakan menanamkan segel rinnetensei pada putra tak berguna mu ini, Zhu Que. Tidak-tidak! Aku tidak mengakuinya sebagai putramu tidak pula laki-laki itu. Harusnya langsung kau bunuh saja saat dia lahir", gumam Sang Dewa.  
            
             "Zhu Que? Siapa itu?", tanya Kuro dalam hati yang baru pertama kali mendengarnya.

             "Hmm...kalau aku tidak bisa membunuhnya maka mari pisahkan darahmu dari nya", ujar Sang Dewa sambil menyentuh kening Kuro.
             Cengkraman makhluk itu semakin kuat, membuat Kuro semakin sulit bernafas.

             "AAAAAAARRRRGGGHHHHH", Kuro mengerang kesakitan.


PEMISAHAN JIWA TELAH DIMULAI.


Na niebo ozdobione konstelacjami
(Demi langit yang mempunyai gugusan bintang)

Na dzien przyobiecany
(Dan hari yang dijanjikan)

Na swiedka i na to, czemu on daje swiadectwo
(Dan yang menyaksikan, dan disaksikan)
         
Rzecsy niebie powrot do nieba
(Milik langit kembalilah ke langit )

Rzecsy ziemi powrot do ziemi
(Milik bumi kembalilah ke bumi)
......


             Pikirannya semakin tak terkendali, perlahan-lahan ingatannya mulai mundur dan satu persatu mulai terhapus, menyisakan kenangan-kenangan buruk yang belum terhapus. Darah mengalir dari tangan kirinya yang tadi sempat terluka terkena serangan. Darahnya terus mengalir ke pedang yang ia pegang, membuat simbol Dewa mengikuti relik yang terukir pada pedang itu. Genggaman Kuro mulai meregang karena cengkraman sang makhluk, kedua pedang yang ia pegang pun terlepas dari genggamannya. Kedua pedangnya terjatuh menuju bumi. Pada jarak beberapa meter salah satu pedang terhenti dan sebuah lambang yang menyerupai lingkaran sihir yang cukup besar mendadak terbentuk di angkasa dengan pusatnya adalah pedang itu. Dan pedang satunya lagi terus melesat, saat pedang itu menancap ke permukaan bumi secara tiba-tiba api biru menyembur ke udara mengenai tepat pada makhluk yang mencengkeram Kuro. Para manusia yang menyaksikan pertarungan dahsyat itu terbelalak yang paling terkejut adalah orang yang berada tepat di depan pedang itu tertancap. Mulut mereka ternganga jantung mereka pun berdegup cukup keras sampai-sampai mereka bisa saling mendengar detak jantung orang yang saling berdekatan tanpa alat bantu. Beruntung bagi mereka meskipun Kuro dalam kondisi terdesak perisai yang ia buat masih dengan kokohnya melindungi mereka. Sehingga saat semburan api itu muncul mereka tidak mati terbakar karena baranya. Dari berkas bara api itu muncul sesosok laki berambut hitam panjang dengan poni berwarna putih. Ia memakai jaket berwarna putih hitam, tampangnya rupawan sama persis dengan wajah Kuro. Ia menengadah ke langit kemudian,
             WUUSHHHH
             Ia terbang ke angkasa menangkap Kuro yang mulai jatuh karena makhluk yang tadi mencengkeramnya telah lenyap oleh semburan api biru, reinigung (api pemurni yang menetralkan apapun). Semburan api itu berhasil menghentikan proses pemisahan jiwa tersebut sebelum jiwa Kuro benar-benar terpisah. Saat ini emosi Kuro sedang tidak stabil dan benar-benar terguncang. Melihat Kondisi itu laki-laki yang menyerupai Kuro itu, sebut saja Zweite, mencoba menenangkan Kuro. ia menyandarkan Kuro di sebuah pohon besar yang di sampingnya terdapat dua anak kembar berusia sekitar enam tahun yang masih terkurung di dalam perisai buatan Kuro. anak-anak itu memperhatikan wajah Kuro yang tertekan dan seolah-olah pandangannya kosong, wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya gemetaran, nafasnya tak beraturan. Setelah menyandarkan Kuro, Zweite menoleh ke arah anak-anak itu.
             "Bisa kalian jaga dia untukku?", katanya sambil tersenyum kepada anak-anak itu.
Kedua anak kembar itu pun mengangguk menanggapi pertanyaan Zweite.

             DUARRR!!!
            
             "KYAAAA", teriak anak-anak itu karena serangan kembali datang ke arah mereka. Zweite membuat perisai tambahan dengan api birunya. Tapi, tetap saja perisai buatan Kuro yang melindungi anak-anak itu mulai retak akibat serangan dadakan tadi.

             "Tenang saja, mulai sekarang aku yang akan melindungi kalian", kata Zweite untuk mengurangi kecemasan anak-anak itu.

             Mulai sekararang pertarung diambil alih oleh Zweite karena kondisi Kuro sekarang tidak mungkin melanjutkan pertarungan ini. Ia langsut melesat menuju Sang Dewa. Pertarungan sengit terjadi di antara mereka.
             DASHHH
                                GLARRR
                                    BYUURRRR
            CTRARRR
                                                TRANG
             Baku hantam elemen api, air, udara, petir, tanah pun terjadi. Tak jarang mereka juga menggunakan pedang. Zweite terus berusaha menghindari serangan yang mengarah ke anak-anak itu seminimal mungkin dan berusaha agar dirinya juga tidak terkena serangan yang cukup serius.
             "Kau hanya sebuah pedang, tapi kemampuanmu lumayan juga", kata Sang Dewa.
             "Hehe. Tentu saja. Menyesalah jika kau meremehkanku", jawab Zweite dengan bangga menanggapi Sang Dewa. "Dewa yang tak punya belas kasihan sepertimu tak pantas menjadi dewa. Aku pasti akan mengalahkanmu", lanjutnya meskipun ia sadar bahwa dirinya sendiri juga tidak mungkin mengalahkan Sang Dewa, memang seperti itulah perangainya.
             "HAHAHA. Pedang yang sangat menarik", kata Sang Dewa. "Aku salut pada penciptamu".
             Pertarungan terus berlanjut. Sementara itu Kuro masih duduk terdiam di bawah pohon besar bersama kedua anak kembar tadi. Pikirannya kosong, saat ia mulai bisa sedikit tenang ia mulai sedikit demi sedikit kehilangan jati dirinya. Pandangannya pun masih kosong. Bahkan kebisingan pertarungan yang terjadi pun terdengar seperti angin lalu ditelinganya. Pandangannya masih meraba-raba kesadarannya. Ia mengedarkan pandangannya, pemandangan di depannya hanyalah tanah yang hancur porak-poranda seperti bekas ledakan nuklir, lalu orang-orang yang terkurung dalam kubus-lubus transparan. Kondisi tanah dan tumbuhan di dalam kubu-kubus itu pun lebih baik dari pada yang berada di luar, di sebelahnya ada anak kembar yang terus memperhatikannya dan terlihat agak takut. Lalu, saat ia mencoba menengadah ke langit ia melihat seekor naga dan burung sedang bertarung, terlihat pula dua sosok laki-laki. Tak hanya itu lingkaran bercahaya berwarna seperti nyala api yang sangat besar terbentuk di langit-langit.  Ia masih bingung dengan apa yang terjadi. Kuro benar-benar seperti orang linglung.
             Di sisi lain, Zweite mulai terdesak.
             "Cih. Kalau begini terus, aku bisa....", gumamnya
             "Ada apa? Gerakanmu mulai melambat", tanya Sang Dewa. "Menyerahlah dan biarkan aku mengambil jiwanya maka aku akan menjadikanmu sebagai bawahanku", tawar Sang Dewa.
             "Enak saja kau bilang. Tugasku adalah melindunginya, tidak peduli kau dewa atau apa jika perlu aku akan membunuhmu", tolaknya dengan lantang.
             "Kalau itu keputusanmu terimalah ini", kata Sang Dewa sambil meluncurkan serangan naga kembar halilintar ke arah Zweite.
             Dengan sigap Zweite langsung membuat perisai dengan api birunya untuk menangkis serangan dua arah itu, akan tetapi perisainya hampir tertembus. Ia pun langsung terbang menghindar. Serangan itu jatuh tepat di sebelah anak kembar tadi. "Sial!!", umpat Zweite. Dia terus berpikir bagaimana cara mengalahkan Sang Dewa. Sejauh dari pertarungan yang ia lakukan, ia tak menemukan celah sedikitpun. "Tidak ada cara lainnya lagi. Cuma itu satu-satunya cara", katanya dalam hati, lalu ia pun menghirup nafas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh tenaga dan berteriak dari ketinggian.
                "KUUURRRRRROOOUUU!!!"
             Kuro yang mendengar itu langsung menengadah ke langit dan mengarahkan pandangannya ke arah suara itu datang. Teriakan itu sedikit membuyarkan lamunannya.
             "API.....", lanjutnya.
DSING
              TRANG
DUAARRRR
GROAWWRRR  
               
             Belum sempat Zweite menyelesaikan kata-katanya serangan bertubi-tubi dari Sang Dewa datang. Akhirnya Zweite hanya bisa meneriakkan potongan-potongan kode yang ingin ia sampaikan kepada Kuro. Ia tak berpikir ntah Kuro bisa memahami pesan apa yang ia sampaikan, ia juga tidak peduli lagi ntah yang ia teriakkan bisa terdengar oleh Kuro. yang penting ia sudah berteriak sekuat tenaga dan berharap Kuro bisa memahaminya.
             "PANAH....", lanjut Zweite lagi ketika punya kesempatan.


             "Panah? Api? Apa maksudnya?", Kuro mencoba memahami kata-kata laki-laki yang memanggilnya tadi. Ia berpikir keras, menggali ingatannya. Namun, semakin ia berpikir semakin ia tak menuemukan jawabannya. Saat ia sedang sibuk mencari jawaban dari kata-kata itu tiba-tiba kenangan yang tidak ingin iya ingat pun terlintas dan membuat emosinya menjadi labil kembali. Perisai pelindung yang melindungi anak kembar itu yang memang tadii sudah retak, sekarang benar-benar pecah. Anak-anak yang melihat kondisi Kuro itu langsung berlari memeluknya.
             "Semua akan baik-baik saja, Yuuha akan bersama kakak", kata salah satu anak kembar itu.
             "Yuuga juga akan menemani dan mendukung kakak, jangan menangis lagi", tambah si kembar satunya lagi. Karena kata-kata anak-anak itu Kuro pun mulai tenang kembali. Mereka berdua menyodorkan mainan yang mereka pegang kepada Kuro.
             "Untukku?", tanya Kuro.
Kedua anak kembar itu cuma mengangguk membalas pertanyaan Kuro. Kuro pun menerimanya. Sebuah boneka Arjuna dan kincir angin. Ia terus memandangi dua mainan itu. Sesekali melihat ke langit mengamati pertarungan Zweite dan Sang Dewa, melihat lingkaran bercahaya bagaikan kobaran api di angkasa. Sepertinya ia mengingat sesuatu. Dan hanya itu yang ia ingat selain itu ia tak ingat apa-apa lagi.
             "Sekarang aku mengerti", mainan-mainan yang diberikan anak-anak itu mengingatkannya pada suatu hal. Kuro bangkit dari tempat ia bersandar.
             "Kladeneits", ucap Kuro. Ia mengumpulkan kayu-kayu yang berserakan di daerah itu membuat kapal yang sangat besar dengan memanfaatkan elemen anginnya. Menghilangkan perisai pelindung yang tadi melindungi setiap orang. Ia menerbangkan mereka dan menaikkan mereka ke kapal kayu yang melayang itu. Terakhir iya menaikkan si kembar.
             "Terima kasih", ucapnya pada si kembar dengan senyum. Si kembar pun membalas senyuman Kuro dengan senyuman pula. Setelah ia menaikkan seluruh orang yang masih bertahan ia membuat perisai lagi  melapisi kapal itu untuk melindungi kapal dari serangan dan menjauhkan kapal itu dari arena pertempuran. Sekarang hanya ada satu hal terakhir yang harus ia lakukan.

             "nanji no yakuwari wo wasurete wa naran"

             "Agh! Suara itu....", suara yang bagaikan bisikan itu memecahkan konsentrasi Kuro. Mata merahnya bersinar, dengan kesadaran yang hampir hilang ia membentuk sebuah busur dan panah yang terbuat dari api. Segel ganda pada tangan kirinya bersinar.
             "Forbidden Flameblast", dengan tatapan mata kosong ia mengucapkan kata-kata itu dan melepaskan anak panah yang ia arahkan ke pedang yang membentuk symbol lingkaran bercahaya di langit.
             Menyadari suatu hal yang di luar dugaannya terjadi, Zweite langsung lari dari Sang Dewa dan melesat mendekati Kuro. Anak panah yang di luncurkan Kuro tepat mengenai permata merah yang ada di tengah pedang. Di saat bersamaan Zweite berhasil sampai di sisi Kuro tepat waktu. Ia langsung membentuk perisai api biru untuk melindungi dirinya dan Kuro dari ledakan dahsyat yang akan terjadi.
             Ya, tepat setelah anak panah itu mengenai permata pedang, sinar merah terpancar dan dua burung api muncul bersamaan menyerang Sang Dewa dengan ledakan dahsyat dan hujan api pun langsung menghujani arena pertempurang itu. Hujan itu menghanguskan segalanya tanpa sisa. Sang Dewa berhasil menghidar dengan sedikit luka di kepala dan bahu kananya. Ia memilih untuk mundur dari pertarungan. Tindakannya kali ini sudah cukup di luar batas. Dan jika melakukan lebih dari ini, bisa saja ia merusak segel yang telah dibuat itu.
             Zweite memeluk erat Kuro yang sudah kehilangan kontrol kesadaranya sepenuhnya dan mengelus-elus kepalanya.
             "Tenanglah", bisik Zweite pada Kuro. Kemudian ia menggenggam erat tangan kiri Kuro. Segel pada tangan kirinya yang sempat bercahaya kini mulai meredup. Zweite memang di ciptakan untuk melindungi Kuro jika ia berada dalam bahaya dan menekan kekuatannya jika ia hilang kendali, serta memperkuat segel yang tertanam pada tubuh Kuro agar segel tersebut tidak terbuka. Namun yang paling utama adalah menjadi keluarga bagi Kuro, selalu mendukung dan menemani setiap langkahnya.

             "Aku akan selalu bersamamu", bisiknya lagi. Perisai api biru itu perlahan mulai meredup. Daratan yang mereka pijak sudah tak rupa daratan lagi. Begitu cahaya api biru benar-benar hilang semuanya menjadi gelap gulita. Bayangan Zweite pun perlahan juga menghilang bersamaan hilangnya sang api biru. Kali ini Kuro benar-benar sendiri di tengah kegelapan dengan pikiran yang sudah kosong. Bahkan kata-kata terakhir dari Zweite hanya terdengar samar-samar.  
###

             Ia masih berdiri dalam kegelapan yang sunyi dan hening itu. Lalu....
             "Tes. Ciprat", terdengar suaras seperti tetesan air. Kuro melihat ke bawah.
             "Air?", tanpa ia sadari ia sudah berdiri di air yang dalamnya sekitar 10 cm. Dari tempat  ia berpijak muncul berkas-berkas cahaya yang terus bergerak mengalir ke satu arah. Cahaya itu sangat indah bagaikan sebuah parade sedang berjalan dibawah kakinya, kunang-kunang pun mendekati Kuro. Karena tertarik dengan keindahan cahaya itu, Kuro berjalan mengikuti arah cahaya itu bergerak diiringi kunang-kunang yang memberikan sedikit cahaya di tengah kegelapan. Ia terus menyusuri kemana perginya parade cahaya itu bergerak.

             "Ciprak. Cipruk", suara gemericik air karena langkah Kuro.  
Samar-samar mulai terdengar suara-suara. Ia tak bisa mendengar dengan Jelas. Seperti suara obrolan seseorang dan suara seekor kambing? Suaranya terdengar seperti itu. Dari ujung parade cahaya itu terdapat kumpulan cahaya yang lebih banyak. Di sana terlihat lebih terang. Begitu ia sampai di ujung parade cahaya itu terlihat dua sosok makhluk yang tidak ia kenal.
             "Akhirnya yang di tunggu datang juga", kata Zainurma.
             "Ini untukmu", kata Ratu Huban sambil menyerahkan domba kecil ke Kuro.
             "Panda?", karena Kuro sudah mulai lelah, domba kecil yang mengembik itu terlihat seperti panda imut baginya.
             "Itu bukan panda tapi domba! Masa nggak tau bedanya domba sama panda sih?", Kata Ratu Huban.
             "Panda berbulu domba?", Kuro yang sudah lelah secara fisik dan mental pun tak terlalu bisa berkonsentrasi dengan apa yang dikatakan Ratu Huban. Dan melihat kepala bantal Ratu Huban, seketika Kuro tumbang.
             "BLUK", Kuro tertidur di atas kepala bantal Ratu Huban sambil memeluk domba mungil itu.
             "Ugh berat....paman Nurma bantu aku"
             "Hahaha. Kepala bantalmu memang empuk Ratu Huban sampai dia tidur pulas begitu" Zainurma terbahak-bahak,melihat kejadian itu.
             "Mungkin kalau aku menciumnya dia akan terbangun", kata Mirabelle yang tidak sengaja lewat.
             "Ini bukan dongeng sleeping prince, Mirabelle!!!, ngomong-ngomong Mirabelle, kok ada di sini?"
             "Aku hanyalah dewi perang yang kebetulan lewat", ucapnya menirukan gaya kamen rider decade.
             "....."
             "Hm, pilihanmu boleh juga Ratu huban. Yang kutahu Zhu Que adalah dewi penjaga mata angin"
             "Dewi? Jadi dia anak seorang Dewi? Pantas saja wajahnya ikemen", sahut Ratu Huban.
             "Yah kita lihat saja apa yang bisa dilakukan oleh putra seorang dewi langit"
 
###
End

31 komentar:

  1. Pembukanya itu... Asy-Syams? Dan di tengah" ada awalan surat Al-Buruj juga.

    Kendala utama saya pas baca entri ini adalah paragrafnya yang panjang dan padet, seolah ga ngasih kesempatan napas buat pembaca. Penggambaran adegannya juga masih rada kaku, kayaknya beberapa adegan bisa dipangkas dan dipenggal antar kalimat biar lebih efektif. Terus juga banyak typo, dan sampe sekarang saya masih ngerasa lucu kalau ngeliat ada sfx dalem tulisan.

    Ada analogi bazooka, saya kira ini settingnya ala fantasi medieval gitu?

    Dari ceritanya sendiri ga ada banyak komentar, cukup menuhin ketentuan prelim, tapi masih berkesan standar.

    Nilai 6

    BalasHapus
    Balasan
    1. fantasy medival? apa itu? aku nggak tau itu tapi mungkin iya. sbnernya juga krn kbtulan lg mempelajari bhasa yg di pakai d al qur'n dan saya suka jd sya masukkan. ada empat surat di situ. trimakasih reviewnya jadi tau kesalahanan saya. masih nggak ngerti kpn harus menggal paragrafnya. hmm....emang kalo di novel2 atau cerita semacam ini nggak pakai sfx ya?

      Hapus
    2. Fantasy = setting berbau sihir
      Medieval = ala abad pertengahan eropa

      Setau saya light novel juga jarang saya temuin ada yang pake sfx. Beda sama manga karena emang lebih appropriate. Soal pemenggalan paragraf, coba banyak" baca cerita lain atau entri peserta lain, atau selesai nulis baca ulang tulisanmu sendiri - buatmu nyaman dibaca atau ngga? Saya pribadi tipe yang lebih seneng paragraf ringkas sih, paling ngga ga sampe lebih dari 5-6 baris sepanjang"nya

      Hapus
  2. Ukh... wall of text ini membunuhku.
    **jongkok di pojok ruangan**

    Waaaaa... ada SFX~

    Ada campuran ayat-ayat Al-Quran...
    :O


    Dewa-nya IMBA yah, pertarungannya sampe ke level ilahiah gini ancur lebur itu daratan...

    Bagian si Kuro dikelilingi anak-anak entah kenapa mengingatkan saya pada adegan terakhir di FF VII AC
    XD

    si Zweite cerewet
    ._.


    Nenek Mirrable nongol di sini~
    kyaaaaa~ ♫


    -------------------

    Saya lelah membacanya, beneran mz. Senada dengan komen di atas, pembaca kayak nggak dikasih kesempatan buat mengukir bayangan di kepala, karena isi cerita begitu BAK BIK BUK tanpa jeda.
    Belum selesai satu adegan, langsung digeplak sama narasi berikutnya.

    Batin ini lelah mz...


    Point : 6
    OC : Venessa Maria

    BalasHapus
    Balasan
    1. kesalahan2 sudah saya catat. dan sarannya akan saya terapkan di lain kesempatan. hmm...ff ya, saya memang suka tapi tidak kepikiran sama sekali waktu bikin ini.

      kuro: maafkan author saya jika dewa nya terlalu imba. sampai saya nyaris terbunuh. jujur authornya juga nggak tau gimana cara ngalahin itu dewa habis dia bikin. karna di alur sesungguhnya (kenyataan) memang saya belum bisa mengalahkannya juga. jadi authornya bingung sendiri.

      Hapus
    2. Tetap semangat menulis ya, jadikan beragam kritik ini sebagai masukan agar menjadi pengingat di karya selanjutnya.

      @kuro : kayak si masasshi kishomoto aja, bikin villain terlalu imba sampe bingung gimana cara ngalahinnya, wkwkwkwk

      Hapus
  3. Sebenarnya ceritanya bagus secara plot. Dan saya suka bagian kutipan ayat Al-Qur'an yang dialihbahasakan. Hanya saja, hal-hal bagus dari cerita ini ditulis dengan gaya yang menurut saya mengecewakan.

    Tulisannya mengingatkan saya pada beberapa gaya penulisan di situs fanfiction, terutama pada bagian pergantian pov yang tidak terlalu nyaman buat saya.
    Masih banyak kesalahan tanda baca dan ejaan. Dan ini hampir muncul di keseluruhan tulisan.
    Gaya penulisannya juga berantakan menurut saya. Saya tidak menangkap gambaran dimana setting yang dipakai. Paragrafnya juga terlalu panjang di beberapa bagian.

    Banyak sekali koreksinya disini. Mungkin bisa diperbaiki lagi penulisannya kedepan. Perbanyak baca referensi.

    Overall Score: 5

    At last, greetings~
    Tanz, Father of Adrian Vasilis

    BalasHapus
    Balasan
    1. setting? sepertinya saya sudah sebut di cerita kalau settingnya xaverius dan bumi. kalau saya jelasin lebih detail lagi akan jd panjang dan agak membosankan. di komen sblumnya juga ada komen kalau saya masukin penjelasan yang nggak perlu dijelasin. hmm...jd bingung...

      Hapus
  4. GHOUL: “Tuh jus amma?
    Penampilan rambutnya yang unik mengingatkanku ama Haise Sasaki.
    Gambar katalognya bagus kayak kover komik. Hampir aja aku tanya berapa harganya.”
    (ngelirik Shui lagi). :=(O

    SHUI: “Apa lihat-lihat mua?!”

    SUNNY: “’Ayah’ & ‘ibu’ sapaan awalan huruf besar.
    Ga ada titik di akhir dialog dan penempatan tanda koma juga salah-salah.
    EYD-nya seolah cerai ama aturan EYD yang dipatenkan di buku-buku pelajaran kami.
    Salah satu dewa yang terkenal sangat kuat—Huang long=pake tanda penghubng em dash bukan tanda koma.
    Meski masih banyak tiponya tapi aku suka lay out penulisannya.”

    GHOUL: (ngasih 8 sambil nunggu kembaliannya)… :=(D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak cuma jus amma kayaknya. saya lupa.

      haise sasaki→langsung browsing karna penasaran. oh tokyo ghoul ya? bru tau. slama ini cuma tau judulnya aja tp nggak nonton anime atau bc manganya.

      kuro: terimakasih sebelumnya. hmm. harga? heh? maaf saya bukan host. bukan untuk diperjual belikan juga

      chou: (mulai khawatir...)

      Hapus
  5. Kuro dan Zweite bisa dijadikan incest?

    Pertarungannya seru seandainya paragrapnya tidak penuh, dengan penuh kesabaran akhirnya bisa selesai dibaca. Sang Dewa ini bener-bener kuat sampai dilawan Kuro dan Zweite. Saya suka saat Kuro dan Zweite bersama melawan sang raja, terutama saat Zweite membentuk perisai api biru. Lalu adegan paling akhir itu suka banget, menyentuh...

    Saya suka Zweite :*

    Suka kutipan ayat Al-Qur'an juga

    Nilai 8
    Merald

    BalasHapus
  6. terimakasih sudah membaca sampai akhir meskipun masih bnyak kesalahan.

    hmm... incest? kalau itu, saya serahkan ke imajinasi pembaca saja. tadi sempet browsing juga tentang incest karna pertama kali dngar.
    tp kalau alur yg saya pakai sih tidak ada rencana ke sana.

    chou: zweite, nak kamu punya penggemar. aku terharu

    BalasHapus
  7. E: Enryuumaru
    A: Amut


    E: Jadi gimana menurut mbah?

    A: Kalau menurut mbah sih ini cerita mantep juga. Alur cerita, sabab-musabab, penokohan, sama tarungnya udah oke. Cuma ada yang ngeganjel.

    E: Apa yang ngeganjel, mbah?

    A: Gimana ya... hmm... kayak kurang langsung jeder gitu lho.

    E: Maksud mbah jeder teh apaan?

    A: Kayaknya narasinya masih kurang ngegambarin apa yang sebenernya terjadi di lakonnya, lho.

    E: Ah, itu maksudnya. Saya juga setuju sih mbah. Kalau saya pribadi seneng adegan berantemnya, adegan berantem yang cukup intensif. Cuma ya itu tadi, yang di pikiran saya kayaknya ga sama dengan apa yang dinarasikan. Mungkin nanti lain kali narasinya harus lebih dinamis lagi, ya?

    A: Bukan dinamis juga, yang penting bisa dibayangin sama pembaca. Terserah mau pakai kata banyak majas atau sederhana, yang penting adegan berantemnya harus pakai deskripsi yang sama intensipnya. Gitu aja sih menurut mbah, karena lakonnya kerasa emosi ama nuansanya, tapi kayaknya narasinya kurang dikit gitu.

    E: Nilai berapa nih, jadinya?

    A: 8 setuju?

    E: Oke, 8/10 deh.

    A: Hatur nuhun sudah mampir ke lakon mbah, kapan-kapan ketemu lagi ya.

    E: Good luck and have fun!

    BalasHapus
    Balasan
    1. chou: mbaaaah! mbah mengingatkanku pada kakek saya. jadl kangen. terimakasih mbah sudah mengingat kuro meskipun mbah udah agak pikun. jadikan kuro muridmu, mbah! kuro, sana belajar bnyak ke mbah!
      kuro: iya mbah nanti kalau ketemu lagi ayo makan sate ayam bareng, saya siap mendengarkan kisah2 menarik mbah

      Hapus
  8. -Penggunaan tanda elipsis yang baik dan benar bisa dicek di sini: https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penulisan_tanda_baca

    -Jangan khawatir, saya juga masih belajar kok soal tanda titik
    tiga itu :))

    -Selain elipsis, masih ada typo dan kesalahan penggunaan tanda baca. Formatingnya juga agak aneh.

    -Adegan pertarungannya cukup oke, tapi paragraf yang padet ini bikin saya agak sulit menikmati. I mean, ada ide bagus di sini, tapi metode penyampaiannya masih kurang. Jadi ceritanya pun kurang nonjok.

    -Saya berikan nilai 6/10

    Fahrul Razi
    OC: Anita Mardiani

    BalasHapus
  9. Kesan pertama : Kuro! Pake pedang! Ikemen! Waaa~ XD

    Jujur aku sempat Ngebayangin kalo di battle in sama oc ku... mungkin akan menarik...

    Ehem..

    Awal aku baca : ini ada ayat qur'an nih... di terjemahin di bahasa jepang jadi keren banget... kreatif..

    Lalu baca baca baca... ini Narasinya terlalu dempet, gak ada jeda jadi terkesan alurnya terburu-buru.. tapi deskripisinya udah bagus sih (menurutku)

    Adegan battle nya juga seru tapi ya itu, narasi tanpa jeda yang bikin (maaf) aku rada kurang enjoy bacanya...

    Dan akhirnya...

    Ya gitu deh *plakk

    Nilai aku kasi 7, karena mengingatkanku pada oc temen yang bikin baper (btw oc itu jadi cameo di entry FBC ku)

    Sign,

    Lyre Reinn

    OC : Eve Angeline

    BalasHapus
  10. saya kritisi dari teknik narasi ama tata letaknya

    untuk narasi sendiri itu, aslinya setiap paragraf di entri inibisa dipecah menjadi minimal tiga paragraf. dan juga saya masih bisa menangkap cara penyampaiannya terlalu detil (ibaratnya terlalu "berbusa-busa" kalo ngedeskripsiin ceritanya). secukupnya aja asal pembaca bisa mengerti. biarkan mereka yang berimajinasi

    7 dulu dari Axel Elbaniac

    BalasHapus
  11. aarghh.. wall of text dan sfx yang ditulis besar. jujur aja, saya selalu scroll ke bawah menyimak sekilas saja. penulisan dengan tulisan menjorok ke dalam dan tidak ada jeda enter tiap beberapa paragraf membuat terkesan padat namun tidak efektif. untuk cerita sih lumayan. cuma hindari sfx yang ditulis besar dan penempatan yang tidak jelas.

    well, seandainya penulisannya diperbaiki mungkin saya kasih nilai 8. tapi maaf, saya cuma bisa kasih nilai 6.

    Dwi Hendra
    OC : Nano Reinfield

    BalasHapus
  12. Wuah...

    Keluhan saya senada dengan orang-orang di atas saya, mostly soal onomatopoeia, tata letak yang tidak beraturan, paragraf, dan tanda baca.

    Bagusnya, dari adegan pertarungannya saya bisa menilai kalau kau punya ambisi yang lumayan besar soal menulis battle scene. Sayangnya jumlah typo jadi mengesankan seolah kau ini sedang bercerita seru sambil makan, banyak salah kata yang bisa bikin saya bereaksi "Hah?" di tiap beberapa kalimat.

    Seru, tapi capek bacanya...

    I'll give you 6 for this, sorry.

    Asibikaashi

    BalasHapus
  13. Jadi mungkin beberapa dari ini udah disebut di atas, tapi akan saya jabarkan tetep aja, buat masukan.

    Wall of text paling menyebalkan ada di tengah, yang paling besar. Ada banyak info penting di sini sebenarnya, terutama yang menjelaskan gimana Kuro di sana. Sayang sekali kalo orang skip baca ini, Mungkin saran Bang Ivan di grup bisa diindahkan ke depannya.

    Sfx alangkah baiknya dilepaskan dari kurungan tanda petik, untuk menghindari kesamaan dengan suara seseorang yang menirukan bunyi. Di tengah sudah dilakukan sih, sayangnya di akhir dikurung lagi.

    Alangkah baiknya setiap akhir dialig diakhiri tanda baca.

    Kutipan bahasa Jepang waktu Kuro denger suara2 tentang alam mimpi, mahakarya dll itu siapa yang bilang? Di akhir juga ada, tapi saya yakin ini bukan Zainurma yang ngomong. Malah, di awal saya kira itu kutipan respon Kuro waktu denger suara2 itu.

    Battlenya sangat spektakuler. Banyak variasi serangan dari dewa maupun Kuro, duet Kuro dan Zweite yang paling menarik variasinya. Favorit saya waktu Kuro nahan serangan pake perisai biru api. Menarik juga melihat Kuro peduli keadaan sekitar waktu battlr, sedangkan dewanya main serang aja.

    Sesudahnya pun masih ada variasi keadaan Kuro yang mulai ngeliat kunang2 sebelu ketemu Zainurma dkk. Lelucon di akhir seakan ngasih nuansa lega. Terutana bagian Kuro yang kelelahannya ngira domba panda, dan parodi decade Mirabelle.

    Overall, wall of text pengaruhnya sangat substansial ke jalannya cerita di entri ini, biasanya kalau teknik penulisan ga bikin ngeganggu cerita yang seru, bakalan saya kasih setidaknya 7. Untuk sekarang, saya cuma bisa puas ngasih segini.

    6/10

    PUCUNG

    BalasHapus
    Balasan
    1. By the way, kutipan Alqurannya di bahasa jepang itu keren, loh!

      Hapus
    2. hmm...suara 'itu' ya. nggak akan terungkap jk kuro gagal di tengah2. soalnya ada persyaratan untuk mengungkap sesuatu atau seseorang yg mengatakan kata2 itu. ada dua variasi sih dr alur yg rencnanya kupake.
      1. ketika arsamagna mulai bs digunakan
      2. ktika segelnya terbuka (meskipun segelnya nggak bner2 bs terbuka scr sempurna. soalnya segelnya dibikin permanen).

      kterangan lbh lanjut tentang segel juga akan dibhas di salah satu chapter. itu sih kalo lolos. kalo nggak, ya mungkin bkal kupake di crt asli tentang kuro. (di luar versi BOR)

      trimakasih udah mampir

      Hapus
    3. yg jelas kamu benar. itu memang bukan zainurma. yg kdngaran dr zainurma kan cuma 3 kata aja.

      untuk smentara biarlah tetap menjadi misteri di BOR6 ini, sampai waktunya tiba. ^_^
      atau akan menjadi misteri abadi jika aku gagal memperjuangkan kuro

      Hapus
  14. surprised ketika di awal saya temui ayat dalam kitab suci... dan juag ada surat yang lain di tengah-tengah. Well.. jujur sedikit speechless karena ini pertama kalinya aku baca yang demikian. Saya pribai nggak berani sampai menggunakannya, kecuali secara implisit tersamar berlapis-lapis, tapi penerjemahan ayat dalam bahasa Jepang dan .. err... rusia? -- ditulis begitu gamblang. Saya juga ada rencana memasukkan itu di entry Shade, tapi itupun tidak sejelas ini. Meski surprised, yang bikin saya kecewa adalah relevansinya yang terasa kurang di dalam cerita. Battle-nya terasa kurang masuk di saya, kurang menggigit, kurang sinematik, kurang dramatis,... ditambah pergantian POV dan sound effect, yang malah menurunkan feeling membaca. Penulis harus lebih banyak latihan bikin adegan battle ini... saran saya:
    1. belajar mendeskripsikan serangan, seperti pendaran sinar, darah yang mengalir, pedang yang berdenting, ledakan yang embahana, dsb dsb... sebagai referensi coba baca entry dari juara tahun lalu, Fatanir.
    2, kembangkan strategi untuk mengganti ound effect dengan menggunakan diksi bervariasi, seperti: berdentum-dentum, menggelegar, meledak keras, dsb... niscaya akan lebih menarik.

    saya berharap KUro lolos prelim, dan entry berikutnya lebih baik dari ini.

    nilai 7.

    Regards,

    Rakai Asaju - OC Shade

    BalasHapus
  15. > "Paman Nurma, selanjutnya ayo kita masuk ke mimpi itu", ajak Ratu Huban.
    > "Yang mana?"
    > "Itu, yang rambutnya aneh itu"
    > "Aku tidak mengerti mana yang kau incar Ratu Huban"
    > "Sudah pokoknya ikut aja"
    Kocak banget di sini Paman Nurma sama Ratu Huban-nya haha. Ya, cerita disuguhkan dengan narasi berparagraf padat yang proses penulisannya (kayanya) masih setengah mateng ya? Agak bertumpuk dan kurang efektif. Next lebih kasih waktu buat editingnya oke. Sisanya saya enjoy. Battle megah, lawan tangguh, dan sisipan-sisipan relijinya. Wessip, sampai ketemu lagi, putra sang dewi~ 8/10

    Oc: Namol Nihilo

    BalasHapus
  16. Interaksi Zainurma-Hubannya ... komedik. Haha xD

    Err, banyak banget eror ini secara bahasa. Ada salah tanda baca, titik pada hilang-hilang, dsb. Dan ... yang paling fatal itu wall of text, karena sesuatu yang disebut "paragraf gajah" kalo menurut dosen saya. Apalagi saya baca lewat hape. Paragraf itu, kalau bisa kalimatnya jangan banyak-banyak. 3-5 cukup--just, opinion. Karena itulah saya jadi banyak ngeskim.

    Menariknya, entri ini banyak bahasa Jepangnya. Dan tampaknya, oleh saya yang gak mudeng, bahasanya terlalu believable sampe saya yakin gak ada salahnya. Wwwk. Dan bahasa apa lagi itu pas pelepasan?

    Njay sound efeknya ganggu. Mending gak usah dipake deh. Karena logikanya sound effect itu, penulisannya bagi orang gak selalu sama. Bisa aja kayak ledakan satu bilang jederr, yg lain bilang duaarr yang lain lagi bilang bumm--contohnya. Mending dinarasikan.

    Jadi dengan agak berat hati hanya bisa titip 6.

    -Sheraga Asher

    BalasHapus
  17. Penggunaan SFXnya terlalu berlebihan. Rasanya kayak menggurui pembaca seolah pembaca nggak tau bunyi benturan gimana. Belajar lagi lebih banyak utk mendeskripsikan adegan. Jangan sampai bergantung pada SFX ya.

    Lalu kenapa bisa banyak typo bertebaran? Km submit di awal2 lho. Deadline masih lagi 2 minggu, jadi masih banyak banget ada waktu utk baca ulang sebelum dikirim. Kalo males baca lagi, coba baca ulang setiap 2-3 kalimat atau 1 paragraf sekali.

    Lalu wall of textnya sangat distracting, aku terpaksa skimming utk melanjutkan cerita. Itu paragraf sepanjang itu bisa dipecah jadi 3-4 paragraf kecil supaya jatuhnya nggak jadi info dump.

    Adegan battlenya keren padahal. Sayang, typonya bener ngeselin. Kubus-lubus terus di bawahnya kubu-kubus. Itu masih di paragraf yg sama lho. Jadinya mood yg dibangun di battle jadi runtuh lagi.

    Well, dariku 7/10. Aku ingin lihat improve author di ronde 1
    -FaNa

    BalasHapus
  18. saya nemuin banyak typo disini @3@ //kebayang punya sendiri //slapped //okay
    somehow... err.. saya juga pengguna bahasa lain sih //eh... tapi ini bneran bahasa jepangnya rada err... yha err... gimana yah agak.. kurang sreg di saya...

    dan di beberapa bagian mood saya ilang buat baca.. krn tulisannya yg mepet-mepet, yhaa wall of text sih yah.. //duhsayajuga..

    kyagnya cuma segini yang bisa saya komentarin
    7/10 well done Kuro :3

    Kagero Yuuka
    OC; Airi Einzworth

    BalasHapus
  19. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  20. Saya berasa baca entri saya sendiri di BoR tahun lalu xD

    Saya bukan expert dalam hal tulis menulis tapi here im gonna tell you what i know: Disaat kamu memulai kalimat setelah "." maka awalannya harus besar bukan? (CMIIW) lalu saya bingung di bagian si kuro dihadapkan suara "Alam Mimpi, Reveriers, Mahakarya" kok di browser saya kaya berantakan gitu ya?

    Hei SFX bukannya tak boleh digunakan lho, hanya saja gunakan lebih efisien dan sebutuhnya saja

    Dibalik semua itu, alurnya asik dari awal sampai akhir saya terbawa ceritanya dan tentu saja komedinya juga kocak xD Terutama perbincangan antara Ratu Huban dan Zainurma.

    Walakhir 6
    Ganzo Rashura

    BalasHapus
  21. Orz... ini kasusnya kayak si Airi. Padahal saya yakin penulisnya niat banget. Jadi sekedar komen dan sedikit krisar deh. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.

    Sebenarnya pembukanya cukup bagus, tadinya mikir itu lagu, pas liat artinya, "loh ini kan ayat Qur'an". Tapi bergerak ke bawah, saya nemuin Wall of Text

    [Okay, another wall of text]

    Berusaha buat nggak skimming, tapi akhirnya harus ngulang-ulang karena typo. Sebenarnya battlenya lumayan, tapi masih biasa (atau memang Kuro adalah sosok yang 'biasa'?) dan bagusnya, ada porsi panitia di cerita ini.

    Lagi, masalah sfx dan ukuran huruf. Sumpah, saya kaget. Saya tipe pembaca yang ga terlalu suka sfx, apalagi kalau kebanyakan dan seolah ditampilkan ke wajah biar bisa mbaca.

    Liat tulisan ini, ingat sama tulisan seseorang yang dulu pernah saya edit. Karena bermasalah mulai dari teknis, dan narasi.

    Semoga ke depan bisa lebih baik lagi



    SCORE = 6


    - Odin -

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.