Jumat, 13 Mei 2016

[2_DOMBA] BINGKAI MIMPI

oleh : hewan


Ringkasan cerita sebelumnya:

Museum Semesta akan aktif sebentar lagi, Pameran Raya segera tiba. Untuk menyelenggarakan itu, Sang Kehendak membutuhkan “karya-karya seni” baru yang akan didatangkannya dari segala penjuru semesta melalui perantara Alam Mimpi. Bagaimanapun, Zainurma melihat itu sebagai peluang baginya untuk terbebas dari belenggu Sang Kehendak. Dia pun membujuk Ratu Huban si penjelajah mimpi.

“Bukan berarti kita tak bisa berbuat apa-apa,” tutur Zainurma, tersenyum licik.

“Maksud Paman?” balas Ratu Huban.

Kaki kanan Zainurma menginjak-injak tanah Alam Mimpi, memberi kode. “Artefak brengsek itu tidak tahu potensi sesungguhnya dari Alam Mimpi. Dan Huban … bagaimana kalau kita jalan-jalan sejenak?”

Maka rencana Zainurma sang Kurator dimulai sudah.

-reveriers-

Ratu Huban, si makhluk kepala bantal nan ajaib, mulai menggerakkan tongkat permennya yang berbentuk gagang payung. Digerakkanlah tongkat itu ke atas, ke bawah, kiri dan kanan, lalu diputar-putar, kemudian diulang lagi gerakan-gerakan itu dari awal. Ratu Huban tampak tertawa menikmati itu sambil sedikit menari-nari.

“Itu … apa memang perlu semua gerakan itu??” hardik Zainurma yang berjongkok sambil memasang wajah bosan. “Mestinya kau bisa membuka portal mimpi dengan satu kali sodokan gagang payung saja.”

Gerakan Ratu Huban terhenti. Rupanya tebakan Zainurma tepat sasaran. “P-Paman Nurma menguntit aku, ya? Kok bisa tahu detail kemampuanku?” ujar si kepala bantal.

“Err, bukan menguntit juga sih. Aku hanya mengawasi gerak-gerikmu,” kilah Zainurma. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan, “Dengar, kita sedang diburu waktu. Kecuali kau mau menunggu Pameran Raya berikutnya yang entah berapa ratus tahun lagi maka kuminta kau bergegas.”

Kepala bantal Ratu Huban berkerut. Dia tak terlalu mengerti maksud sindiran sang Kurator tapi setidaknya dia tahu kalau menunggu selama ratusan tahun itu akan sangat menyebalkan dan membosankan. Kapan dia akan menemukan mimpinya sendiri jika begitu?

“Baiklah, Paman Nurma. Bersiaplah~”

Ratu Huban menyodokkan gagang payungnya ke udara. Kemudian kembang api memercik seraya memunculkan sejenis lubang. Itu adalah portal mimpi.

“Hehehe, bagus,” Zainurma terkekeh, “sekarang kita harus menandai sejumlah Reverier potensial.”

Zainurma melompat ke dalam lubang portal tersebut, disusul Ratu Huban.

Mereka pun berkelana dari satu mimpi ke mimpi lainnya demi mencari siapapun yang layak untuk ditandai. Pencarian demi pencarian membawa mereka menyelusuri beragam mimpi dari pelbagai makhluk di penjuru semesta.

Ada sekumpulan manusia dengan otak cerdas, ada pula yang lebih lihai di teknik membunuh dalam gelap. Beberapa mempunyai keahlian dalam meniru jurus lawan. Namun yang lebih populer adalah kemampuan memanipulasi elemen, mulai dari api, angin, air, tanah, bahkan sampai suara dan cahaya.

Zainurma dan Ratu Huban muncul di mimpi para petarung itu sebagai sosok yang samar-samar. Zainurma akan mengatakan, “Kau adalah Reverier, dan dengan itu, mungkin kau bisa membuat Mahakarya terbaik di Alam Mimpi. Mencapai apa yang tidak mampu kau capai di duniamu.” Setelah itu keduanya menghilang dan kembali menjelajah mimpi petarung lainnya.

Ratu Huban yang tadinya tidak terlalu bersemangat kini ekspresinya menjadi lebih ceria. Dia tampak mulai menikmati perjalanan ini.

Karena terlalu bersemangat, dia memberi tanda ke sejumlah makhluk aneh. Mulai dari hiu ajaib, kaleng semprotan pewangi ruangan, ayam jago, pangeran kodok, bahkan segerombolan hantu ataupun sejumlah robot. Ratu Huban tak lupa menandai kembali sejumlah petarung yang dulu sempat diajaknya bermimpi untuk melawan petarung tangguh lainnya pada kesempatan silam. Mulai dari ratu pemanah, pangeran berdansa pisau, hingga manusia biasa dengan nama aneh “Satan”.

Zainurma lebih berkelas. Dia mengincar beberapa alkemis, pemburu hantu, monster naga, bahkan perompak udara. Yang paling disukai sang Kurator adalah sejumlah kandidat yang mengerti tentang seni rupa, sekalipun mereka itu pemerkosa, bocah jalang, ataupun gadis biang tawuran. Mengimbangi itu, Ratu Huban menambahkan peri-peri dan Elf dari sejumlah semesta.

Pada akhirnya, mereka berdua berhasil menandai ratusan calon Reverier—pemimpi.

Lalu beristirahatlah keduanya di suatu pojok Alam Mimpi di mana bunga-bunga air sedang berbuah lebat menghiasi pilar-pilar pepohonan kelabu. Domba-domba putih mengembik di kejauhan, berenang di danau gulali.

“Aku tidak tahu berapa banyak yang akan benar-benar diundang oleh artefak sial itu. Tapi semakin banyak yang diundang, maka semakin besar kesempatan kita,” ujar Zainurma.

Ratu Huban yang sedari tadi masih bingung akhirnya bertanya, “Memangnya kita menandai para pemimpi itu untuk apakah, Paman Nurma?”

Menyeringailah sang Kurator. “Hehehe, ini adalah eksperimen. Para pemimpi itu, dan kekuatan sejati dari Alam Mimpi, perpaduan kedua ini bisa menjadi kunci penting.”

“Apakah dengan begitu aku bisa punya mimpi sendiri?” raut bantal Ratu Huban menjadi ceria.

“Bisa saja,” jawab Zainurma.

Ekspresi Ratu Huban semakin berseri. “Kalau begitu, sekalian saja kutandai kecebong imut ini~” dia menunjuk ke arah monster mimpi seperti kadal kecil yang tampak baru menetas dari telurnya. “Kurasa kalau dikasih banyak makan, kecebong ini bisa berevolusi jadi naga~~”

“Hah?? Aku tidak yakin monster mimpi masuk hitungan. Tapi tandai saja kalau kau memang mau.”

“Yeay~”

Bagaimanapun, kesenangan mereka berdua terhenti akibat Alam Mimpi yang tiba-tiba bergoncang kencang seperti dilanda gempa.

“Ah, sial! Ternyata getarannya sudah menjalar sampai di sini!” seru Zainurma. Dia menoleh ke arah Ratu Huban, “Kalau begitu, Huban, aku harus kembali ke Museum.”

Tanpa menunggu persetujuan dari lawan bicaranya, Zainurma sudah lenyap terbawa aura keemasan. Sosoknya menghilang dalam sekejap dari Alam Mimpi.

-reveriers-

Saat itu, Mirabelle masih terpaku sekitar sepuluh meter di hadapan patung gigantik berbentuk otak—Sang Kehendak. Namun tak lama berselang, sosok Zainurma muncul di belakang sang Dewi.

“Menyingkirlah sebentar,” ujar Zainurma. “Aku mau bicara dengan patung otak ini.”

Maka pergilah Mirabelle secara teratur. Dia melangkah mundur dengan khidmat, seolah tidak ingin menunjukkan ketidaksopanan barang sedikit pun di hadapan Sang Kehendak. Sementara itu, Zainurma menggantikan posisi sang Dewi. Pria itu melangkah maju.

“Lama kita tidak mengobrol, ya? Kau merindukanku?” sapa Zainurma. Matanya berani menatap tajam patung tersebut namun sang Kurator pun tak bisa menyembunyikan tetesan keringat dingin pada pelipis dahinya. “Y-yah … kurasa terakhir kali kita bicara itu sekitar 100 tahun lalu? Atau itu 200 tahun? Berada di semesta yang tak terikat ruang-waktu seperti museum ini membuat semuanya serba tak pasti.”

Getaran Museum Semesta bertambah hebat. Zainurma hampir kehilangan keseimbangan pijaknya.

“Hei, hei, t-tolong hentikan dulu gempa-Mu ini. Aku tahu Kau pasti sedang bersemangat-bersemangatnya, tapi yah … kubilang tadi ada yang ingin kubicarakan. Dan ini penting.”

Namun getaran itu malah semakin dahsyat. Akhirnya Zainurma terpelanting dengan belakang kepala membentur permukaan rumput. Kacamata gelapnya terjatuh.

Dengan ekspresi kesal dan mengaduh, dia bangkit sembari menyeka debu dari jas necisnya. Lalu disapanya lagi, “Baiklah. Mungkin aku kurang sopan tadi.” Zainurma mengambil posisi setengah berlutut. “Wahai, Sang Kehendak yang kehendak-Nya meliputi seluruh Museum Semesta dan Alam Mimpi. Mohon berkenan untuk mendengarkan apa yang hendak kusampaikan.” Nada bicara Zainurma terdengar lebih khusyuk sekarang.

Dan ajaib, intensitas gempa menjadi lebih pelan. Lama-lama getaran itu berhenti juga.

“Terima kasih, wahai Sang Kehendak.” Lalu dia melanjutkan di dalam hati, Kenapa tidak dari tadi, dasar artefak brengsek!

Zainurma bangkit. Dia merapikan lagi setelan jasnya yang berantakan lalu menyisiri rambutnya kembali hingga klimis kemudian kacamata semi-gelapnya pun sudah tersemat kembali di wajah.

Situasi menjadi lebih kondusif untuk berbincang-bincang.

“OK, langsung saja. Apakah Kau tidak bosan menggunakan cara biasa untuk mengumpulkan karya-karya seni?” seru Zainurma. “Setidaknya berilah aku, sebagai Kurator Museum Semesta ini, kesempatan untuk menawarkan yang lebih baik.

“Daripada mengumpulkan jutaan karya seni kelas A, B, dan C, bukankah menurut-Mu lebih bagus mengumpulkan ratusan saja, namun kelasnya adalah S dan SS? Aku menawarkan karya seni yang tercipta melalui tetesan darah, keringat, dan air mata, oleh mereka-mereka yang terbaik di semesta masing-masing. Aku menawarkan MAHAKARYA!”

Seringai percaya diri Zainurma menutup pembicaraannya itu.

-reveriers-

Setelah momen itu, sejumlah petarung tangguh dari segala penjuru semesta akan mengalami mimpi yang sangat aneh.

Mereka telah ditandai.

Mereka semua akan dipanggil ke Alam Mimpi.

Mereka adalah Reverier yang akan saling bertarung untuk menciptakan Mahakarya.

[]

11 komentar:

  1. Eh sialan... ahahah gw ngakak!!! Satan dibawa-bawa.... Ahahahaha

    Btw, bagaimana kita tahu Ratu Huban bisa mengkerut? Apakah permukaan bantal yang dimaksud?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, kerutan bantal bisa menyampaikan sejuta ekspresi~

      Hapus
    2. Sejuta Ekspresi Ratu Kepala Bantal

      i want that book immediatly

      Hapus
  2. Entah kenapa, ngebaca tingkah Ratu Huban, yang kebayang beneran Kana ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tingkah ratu huban bikin ketawa '-'

      Hapus
  3. "pangeran berdansa pisau". sepertinya pernah kenal dengan yang satu itu ._.

    BalasHapus
  4. semua telah dimulai (^w^)

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. *dimulai

      penulisan awalan di- itu harus disambung~

      Hapus
  6. Ratu pemanah... OC saya dibawa-bawa nih. Ngomong-ngomong, sub OC ditandai atau tidak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ndak. Yang ditandai cuman si OC. Tapi sub-OC nempel dan bisa kebawa di pertarungannya si OC

      Hapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.