Senin, 23 Mei 2016

[PRELIM] 19 - JESS HUTCHERSON | RINDU

oleh : Muhammad Da'i Kuncoro

-- 


Now you're in New York
These streets will makes you feel brand new
Big lights will inspire you
Hear it from New York~

Para penonton bertepuk tangan. Potongan kecil-kecil kertas mengilap aneka warna berjatuhan dari langit-langit ruangan. Jess tersenyum puas. Begitu juga dengan Hutcher yang sedari tadi memainkan biola, bersanding dengan Jess di dalam ruangan megah gedung Empire State, jantung kota New York.

Hutcher meletakkan biolanya, berdiri, dan bersamaan dengan Jess mereka membungkuk kepada hadirin. Inilah penampilan terakhir mereka musim ini. Mereka berencana mengambil cuti sebelum hadir kembali musim depan. Yahh.. musisi juga manusia. Punya rasa, punya hati, dan punya rasa lelah. 

Jess dan Hutcher melangkah menuju backstage. Senyum puas dan bahagia masih terus menghiasi wajah mereka. Kini, di belakang panggung semua orang seolah tersenyum kepada mereka. Kurang lebih dari raut wajahnya dapat dibedakan mana senyum tulus, mana senyum licik, dan mana yang senyam-senyum sendiri. Aroma France Eau de Perfume semerbak mengiringi mereka. Bukannya mudah melenggang santai seperti ini setelah pertunjukkan. Banyak terdengar bisik-bisik bernada miring di sana-sini. Bahkan sempat ada yang bilang kalau Jess dan Hutcher ini terbiasa pergi ke dukun, atau bukan manusia, atau jelmaan dewa-dewi, dan sebagainya.

Jess dan Hutcher berhenti di pinggiran ruangan yang terdapat beberapa kursi bersantai. Dengan seenaknya Jess memanggil seseorang untuk memberikannya wine. Kalau sudah begini siapa pun bisa ilfeel dibuatnya. Hutcher sendiri hanya bisa mengelus dada.

"Mulai sore ini kita bebas! Aku berencana pergi ke Maldives supaya bisa pamer di Instagram, oh atau ke Milan, di sana ada brand-brand terkenal yang bikin ngiler, oh atau ke Venesia, lebih romantis bagaikan bulan madu untuk kita," dengan hati dipenuhi bunga yang cukup untuk modal usaha tanaman hias atau papan bunga, Jess memulai pembicaraan.

"Hei, jangan sembrono begitu. Ingat, uangmu adalah uangku juga. Jangan dipakai untuk sesuatu yang tidak penting," ucap Hutcher dengan bijaknya.

"Jangan terlalu serius. Kita masih bisa mendapatkan lebih banyak di musim depan, iya 'kan mbak?" Jess berbicara kepada seseorang--entah siapa itu yang kebetulan lewat di sampingnya.

"Entahlah. Aku malah berpikir untuk mengunjungi keluargaku, terutama Ibuku terlebih dahulu."

"Ummprrrfftttt. That's it! Itulah yang sebenarnya dari tadi ingin aku bicarakan. Keluarga tetaplah keluarga di manapun kau berada!" Jess yang sedang minum kaget dan saking semangatnya mendengar perkataan Hutcher, minuman itu pun disemburnya ke sembarang arah.

"Hahahaha... Kau yakin bisa melakukannya dengan attitude  yang seperti ini?"

"Ayolah, Hutcher. Kau kan tahu kalau aku sangat fleksibel. Aku bisa menjadi siapa saja di depan siapa saja."

"Dirimu tetaplah dirimu di manapun kau berada. Baiklah, kutunggu kau lobi. Pertama kita ke rumah keluargamu dulu. Aku tak tega membuatmu menunggu terlalu lama untuk bertemu mereka," kata Hutcher sambil melangkah pergi.

"Okies, beibs! Maaf nona, maaf nona. Aku tak sengaja menyembur tadi. Kumohon maafkan aku," balas Jess yang tengah menyembah-nyembah memohon maaf pada orang-orang yang tak sengaja terkena semburan minumannya tadi. Eww.

Di luar sana, semesta sedang menyiapkan kedatangan Sang Malam. Matahari beranjak pergi ke ufuk barat, ditemani burung segala burung yang terbang penuh kerinduan terhadap sangkarnya. Semburat merah seolah berpesta pora di ujung-ujung cakrawala. Lampu-lampu kota dinyalakan. Betapa rindunya alam ini terhadap Sang Malam.


***



Sebuah rumah di pinggiran jalan yang bergaya klasik dengan halaman berupa taman-taman ceria menjadi tujuan pertama Jess dan Hutcher. Rumah kediaman keluarga Romanoff, atau yang Hutcher kenal sebagai tempat kelahiran Jess. Jaraknya tak begitu jauh dari New York, sekitar 20 menit perjalanan ke barat daya dari gerbang kota.

Mereka turun dari mobil. Jess berinisiatif untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Hello! Anybody home?"

"Siapa itu?" terdengar suara seorang remaja perempuan dari dalam.

"Ini aku, Jess. Jess Romanoff."

Hening untuk beberapa saat. Sampai tiba-tiba tiba pintu terbuka, menampakkan remaja tersebut dengan mulut menganga, memperlihatkan permen karet hijau di dalam mulutnya.

"OH MY GOD! IBUU!! AYAHH!! JESSIE PULAAAAANNGG!!!" remaja itu berteriak seperti sedang kerasukan. Terdengar suara gaduh dari dalam. Dua kejab kemudian muncul seorang wanita dan pria paruh baya dengan ekspresi yang berbeda. Si ibu terlihat gembira sementara si bapak kaget luar biasa.

"Dan dia membawa...umm.. peliharaan?" kata si Ibu dengan senyum 10 senti merekah di wajahnya.

"Hei! Dia itu.. ummm...ahh, sudahlah. Tak perlu kujelaskan lagi," Jess berkata dengan senyum malu-malu.

"Jessie akan menikah!! Horee!! Aku akan punya cucu yang bisa kupamerkan ke tetangga!!" giliran si bapak yang berbicara dengan begitu semangat.

"Ayah, Ibu, jangan membuat malu di hadapan tamu ini. Lihatlah, om itu jadi salah tingkah sampai dia tak sadar bahwa rambutnya terkena kotoran burung peliharaan tetangga," dengan (sok) bijaknya remaja cewek di samping si ibu menengahi.

"APAAHH??!!"



***



Ruang makan keluarga Romanoff terletak di tengah rumah. Sebenarnya kurang tepat disebut ruang makan, toh isinya hanya sebuah meja besar dengan beberapa kursi dan tanaman hias. Tanpa sekat yang membatasi ke ruang lainnya. Di atasnya tergantung sebuah lampu kuning terang yang hangat. Kini, ruangan itu riuh dengan suara canda, tawa, sesekali teriakan histeris, dan obrolan-obrolan ringan. Jess seolah memberikan semangat dan gairah baru yang menghidupkan kembali keluarga ini. Kini, meja makan keluarga Romanoff tengah bertabur berkah. Ya, apa lagi kalau bukan banyaknya makanan dan minuman yang enak-enak. Belum tentu tiga bulan sekali keluarga ini makan makanan mewah. Yang mengejutkan adalah walaupun tubuh dibalik gaun merahnya-- yang sejak pertunjukkan tadi belum berganti-- diidamkan banyak wanita, toh Jess makan seperti kuli sambil cuek-cuek bebek.

Tapi, meskipun di Empire State tadi Jess berkata bahwa ia bisa menjaga sikapnya, di depan keluarga aslinya ini kelakuannya malah bertambah absurd.

"Iya beneran. Waktu itu aku kebetulan baru selesai menandatangani kontrak rekaman bersama Hutcher. Awalnya aku tak tahu mengapa dia tidak mau naik tangga ke ruang rekaman yang ada di lantai atas karena liftnya macet. Kupaksakan kakinya untuk mulai menapaki anak tangga pertama, lalu terdengarlah bunyi seperti kain dirobek. Ternyata celana hitam kantoran yang kupinjamkan kepadanya terlalu sempit, dan karena terlanjur dipaksakan akhirnya menimbulkan robek yang cukup besar, sampai-sampai aku bisa melihat boxer-nya yang berwarna norak. Wakakakakkakakkakakaka," Jess bercerita tentang semua yang dia dan Hutcher alami dengan penuh semangat, diiringi dengan tertawaan khas tarzan yang lupa tak diberi pisang selama seminggu.

Keluarga Romanoff tertawa. Rupanya mereka memiliki selera humor yang sama.

"Sudahlah Jess. Itu kan hanya masa lalu," sahut Hutcher, tersipu.

"Hei nak, asal kau tahu saja ya, dulu Jess sama sekali tak bisa menyanyi. Suara cemprengnya begitu membahana, sampai-sampai para tetangga terganggu dan protes kepada kami untuk menyumpal mulutnya dengan kaos kaki mereka. Sejak saat itu kami pindah," tutur Bu Romanoff.

"Dan sejak saat itu pulalah kita berpisah. Sebelum... sebelum kejadian itu-" lanjut Jess, namun langsung dipotong Hutcher.

"Oh ya.. Emm, kejadian ketika kita..uhh..mulai duet pertama di kafe itu kan ya. Uhhh.. Kafe yang banyak supir truk itu, yang mukanya serem-serem kan Jess." Hutcher memasang senyum yang terlihat dipaksakan.

"Sudahlah. Aku tahu kalian menyembunyikan hal yang sangat pribadi. Rasanya tak enak jika dipaksakan untuk bercerita. Iya kan, Jessie?" remaja perempuan yang sedari tadi diam kini angkat bicara. Kembali, dengan kata-kata bijaknya.

"Umm...oke baiklah. Kita sudahi saja makan malam ini. Harley, pimpin do'a setelah makan," Pak Romanoff, seolah tahu apa yang sedang terjadi, segera menutup makan malam.



***


Seluruh anggota keluarga beranjak kembali ke aktivitasnya masing-masing. Jess dan Hutcher lebih memilih untuk tidur. Lelah, seharian bekerja dan belum beristirahat. Karena keterbatasan kamar yang ada, mereka pun tidur seranjang. Bapak dan Ibu Romanoff pergi ke taman depan rumah, bernostalgia bersama terangnya bintang-bintang dan sendunya bulan sabit yang mengintip dari balik awan tipis. Harley masih menonton TV, ada siaran ulang penampilan kakaknya di Empire State tadi.

"Jess, sudah kubilang kau jangan sembarangan memberitahu orang tentang kejadian itu. Kita bisa sepenuhnya menjadi hantu dan masuk neraka setelah sebelumnya diceramahi kakek si penguasa itu jika ada yang berbuat onar terhadap hal ini!" setengah emosi Hutcher memulai pembicaraan dengan Jess.

"Tapi mereka keluargaku." Jess menyahut sedikit terisak dengan mata berkaca-kaca. Tidak biasanya dia seperti ini. Menjadi perempuan seutuhnya. Hutcher pun luluh dibuatnya.

"Iya...besok akan kuberitahu mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi."

Hening sesaat. Mereka beranjak naik ke tempat tidur. Mulai memakai selimut yang agak bau pesing untuk merelaksasi tubuh.

"Hutcher, kini kau tahu kabar keluargaku. Apakah rasa ingin tahumu sebesar rasa penasaranku terhadap keluargamu?" Jess berkata lirih.

"Tentu saja. Siapa yang tidak rindu dengan mereka yang telah merawatmu sampai sejauh ini?"

"Kalau begitu, let me sing just a lil' bit for you. Hope your sorrow will gone. Far, far away."

Mother, how are you today?
Here is a note from your son
With me everything is okay
Mother, how are you today?

Jess menyanyi dengan segenap jiwa. Mencoba menghibur sahabatnya yang tengah merasakan tusukan kerinduan yang mendalam. Perlahan, setitik air bening jatuh dari pelupuk mata Hutcher. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes. Tertahan di pipinya. Dia akhirnya tertidur dalam alunan harmoni yang diciptakan Jess.

I found the girl of my dream
Next time you will get to know her
Many things happen while i was away
Mother, how are you today?



***



Bunga tidur kiranya telah menghanyutkan Jess dan Hutcher. Di dalam mimpinya, masing-masing mereka melihat dua sosok aneh gak jelas yang seolah mengatakan sesuatu. Tak terlalu jelas, hanya beberapa patah kata yang terdengar.

"Reveriers...."

"Hutcher, berhenti ngorok. Berisik lu ah!"

"Mahakarya..."

"Iya iya.. Besok aku beliin martabak. Jam segini mana ada yang buka, dodol."

"Alam mimpi..."

"Mimpi doang mah ga bakal kesampaian kalo kagak berusaha."

Di penghujung mimpi, Jess seolah bertemu Hutcher, begitu juga Hutcher yang bertemu Jess. Mereka berpegangan tangan. Di depan mereka berdiri sesosok manusia, tak jelas gendernya. Di sebelah kanan tubuhnya memakai gaun, dan sebelah kiri mengenakan setelan jas. Sampai akhirnya mereka tersadar....

bahwa itu adalah mereka sendiri.



***



Seketika itu juga mereka terbangun. Entah kenapa rasanya kamar itu menjadi semakin sempit. Dengan wajah syok tidak karuan, Jess mengambil cermin kecil dan segera menghadapkan ke wajahnya.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH!!!!" jerit mereka (?). Bumi bergetar, kaca jendela tetangga pecah, lebah berdengung semakin keras, puluhan semut tewas, belasan burung jatuh ke bumi, ayam-ayam kebingungan dan saling menabrak. Dan siksa Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

"Kau boleh menjerit, tapi jangan terlalu menggunakan manipulasi suaramu itu," protes Hutcher.

"Hut..Hutcher, apa benar ini kita?"

"Sepertinya iya. Kau ingat sosok aneh di mimpi itu?"

"Pernikahan kita terancam batal."

"Mau disembunyikan di mana mukaku ini bila bertemu Ibuku nanti?!"

Dia menyibak selimut. Terlihatlah pakaian berpotongan aneh, setengah gaun ala Princess berwarna merah menyala dan setengah jas dengan lengan yang digulung sampai siku. Mencoba berjalan dengan normal. Keluar kamar, menapaki tangga.

"Hei, rasanya biasa saja. Aku seperti tidak bergabung dalam satu tubuh," seru Jess.

"Kau benar. Rasanya biasa saja. Btw, ke mana orang-orang? Harusnya di sini kan ramai, mengingat keluargamu yang seperti itu," ledek Hutcher.

"Yahh, itu sudah ada dalam garis keturunanku. Mungkin Ayah dan Ibu sudah pergi kerja, dan Harley juga sudah berangkat sekolah. Rumah ini kelihatannya makin mengecil. Ayo keluar, kita lihat apakah dunia juga seaneh kita saat ini."

Jess Hutcherson keluar lewat pintu belakang. Rasanya dunia seolah dipadatkan ke dalam satu dimensi. Seperti ada lubang hitam mini yang menarik segalanya, membentuk distorsi yang nyata. Bukan hanya rumah keluarga Romanoff saja yang kosong, begitu juga dengan rumah tetangga. Alam rasanya begitu sunyi, hanya ada semilir angin yang bertiup pelan.

Sampai ketika mata Jess Hutcherson menangkap seseorang dengan baju serba hitam, topi penyihir, dan sepatu bot hitam selutut. Untuk ukuran seorang penyihir, dia terlihat cukup modis. Dia berdiri di samping pohon beringin tua, jaraknya sekitar beberapa blok dari rumah keluarga romanoff. Wajahnya tertutupi topi penyihir lusuhnya. Seolah terhipnotis, dia melangkah ke arah wanita itu. Pelan tapi pasti. Suara langkah kaki dari sepatu hak tinggi Jess dan sepatu pantofel Hutcher mengiringi langkah maut itu. Dia berhenti sekitar tiga puluh langkah dari tempat si wanita itu berdiri.

Sejurus kemudian si penyihir mengarahkan tangannya ke arah Jess Hutcherson. Mulutnya berkomat-kamit merapal mantra. Muncullah lingkaran sihir di bawah mereka. Sebelum semuanya terlambat, Jess Hutcherson melompat ke arah lain. Benar saja, lingkaran sihir itu menghasilkan ledakan keras.

Si penyihir terus melakukan hal yang sama berulang-ulang. Bukan hanya lingkaran sihir di tanah, bahkan di udara dan air sekalipun. Jess Hutcherson terus menghindar. Hutcher sebisa mungkin menenangkan diri untuk tidak emosi, sedangkan Jess yang sudah termakan emosi beberapa kali menyemburkan api-api kecil ke arah si penyihir. Dia tahu situasi ini sangat berbahaya. Sampai akhirnya semua berhenti.

Si penyihir menyibak topi yang menghalangi wajahnya. Membuat Jess Hutcherson seketika membatu.

"Kemampuanmu lumayan juga, nak. Sepertinya setelah kematianmu kau bertambah kuat. Kematian yang hina dina, tak pantas jiwamu masih berada di sini." ucap si penyihir dengan suara berat.

"I..I....Ibu??!!!" suara Hutcher tercekat di tenggorokan.



***



Cuaca berubah mendung gelap. Petir menyambar di mana-mana. Awan besar dan kelam bergerak perlahan ke segala arah. Angin bertiup kencang, tetapi belum ada setetespun air langit yang jatuh. Pepohonan bergoyang, menjatuhkan daun-daun yang ikut terbawa angin.

"Kau meninggalkan Ibumu di usia sepuluh tahun demi mengejar beasiswa bodohmu itu di New York sana. Membuatku pusing tujuh keliling karena aku harus menunggu entah berapa puluh tahun lagi untuk kesempatan berikutnya. Dan hari ini, kesempatan emas buatku." si penyihir yang ternyata adalah Ibu Hutcherson Stanford tertawa getir, menampakkan giginya yang kuning-kuning keropos.

"Kenapa kau mencoba membunuh Hutcher? Apa yang membuatmu benci sekali kepadanya?" seru Jess, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang ia hadapi.

"Benci? Hah! Benci apanya? Aku hanya punya dendam kesumat yang menggerogoti pikiranku, menghilangkan akal sehatku. Ekstraksada miner valcona, statrodus bavolk : trikspados!!" rapalan mantra kembali terucap. Dua detik selanjutnya petir menyambar Jess Hutcherson.

Bagaikan berteleportasi, Jess Hutcherson berhasil menghindar. Dia memang telah memprediksikan sesuatu, sehingga membuatnya dapat menghindar terlebih dahulu.

"Tapi, apa salahku hingga membuat dendam yang membuatmu ingin membunuhku, bu? Bukankah kita harusnya berpelukan, mengharu biru setelah lama tak bertemu? " giliran Hutcher yang berbicara dengan suara bergetar.

Bu Stanford mengangkat tangan kanannya. Membuat semacam piringan yang berputar dari angin dan melemparkannya ke Jess Hutcherson yang kini ada di atas atap. Melemparkannya berulang-ulang seiring menghindarnya Jess Hutcherson. Jess juga sesekali menjerit-jerit untuk memecahkan konsentrasi sekaligus mencoba melumpuhkan Bu Stanford.

"Kau ingin tahu jawabannya? Baiklah. Hutcher, ketahuilah. Ketahuilah bahwa kau adalah anak yang lahir di luar nikah! Kau adalah anak haram!" jerit Bu Stanford seraya terus melemparkan piringan cakram angin.

Mendengar pernyataan menyakitkan dari ibunya sendiri, Hutcher terdiam, membiarkan Jess mengambil alih tubuhnya. Jess merasakan tubuhnya mengangkut beban dua kali lipat. Kecepatannya berkurang.

"Setelah tahu bahwa aku hamil, ayahmu terus menerus menyiksaku baik secara fisik maupun secara verbal. Memasuki usia tujuh bulan, ayahmu menampar perutku hingga begitu keras. Darah bercampur air ketuban terus mengucur dari mulut vaginaku. Saat itu aku berada di ujung gang buntu. Ayahmu tak peduli dan meninggalkanku. Kau pasti tak menyadari betapa perihnya itu!!" sambil terus melempar cakram angin, Bu Stanford menjelaskan dendamnya. Di akhir kalimatnya, petir menyambar Jess Hutcherson. Tak sempat menghindar, dia pun tumbang.

"Kau lahir di sana, dengan tembok bata sebagai saksinya. Kau lahir tanpa ayah. Aku berusaha bekerja sebagai apapun agar dapat hidup. Bahkan sebagai hidup sebagai pelacur pun kulakoni, tanpa mempedulikan sakitnya haid dan luka setelah melahirkan. Umurmu satu tahun, aku pun sudah punya kehidupan yang layak. Ayahmu datang kembali padaku dengan wajah memelas. Kembali hari-hari terus berjalan dengan siksaan. Tamparan, makian, goresan dengan pisau silet, kau tak pernah mengetahuinya. Kenapa? Karena kau dipasangi segel sihir oleh ayahmu." Bu Stanford terus berbicara. Kali ini tubuhnya ikut  bergerak. Menggambarkan betapa depresinya ia kala itu.

 Cakram angin berganti dengan gelembung-gelembung ledakan. Dengan sisa-sisa tenaga, Jess Hutcherson terus menghindar. Jess tak kuat lagi menyemburkan api. Jangankan memanipulasi api, menghangatkan diri saja sudah susah.

"Ulang tahunmu yang kesepuluh. Aku sudah berencana untuk menghabisimu saat itu, tetapi kau dijemput seseorang. Panitia beasiswa Carter’s Foundation, katanya. Ayahmu pergi meninggalkanku, lagi. Tetapi dia tidak sadar, bahwa selama ini bukan hanya dia yang bisa menggunakan sihir, tapi aku juga belajar menggunakan sihir dari berbagai sumber. Aku membawanya kembali masuk ke dalam rumah dan aku menghabisinya. Tanpa darah. Tanpa perlawanan yang berarti.  Sekarang giliranmu. AKU AKAN MEMUSNAHKAN DARAH KETURUNAN STANFORD!!!” Bu Stanford berteriak ke segala arah. Begitu keras, begitu pilu, begitu menyayat hati.

***


Jess Hutcherson bersembunyi di balik sebuah rumah. Jess tak kuat lagi melawan sendirian, sementara Hutcher masih belum sadar dari lamunannya. Wahai angin yang berhembus menembus malam, jiwa siapakah yang tidak terguncang mengetahui orang yang melahirkannya, yang merawatnya, yang membesarkannya berkata seperti ini?

Tenaga terakhir. Jess Hutcherson membuat semacam dinding cangkang telur yang menyelimutinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tempat khusus untuk memulihkan kembali energi yang hilang.

“Hutcher! Sadarlah sayang! Aku tahu berat bagimu untuk melakukannya. Aku sendiri membayangkan bahwa ia adalah ibuku sendiri. Calon mertuaku. Bila begini terus dia bisa menghancurkan dunia!” Jess mencoba menyadarkan Hutcher. Tangannya mengelus pipi Hutcher.

“Kau tak tahu apa yang kualami, Jess. Dia selalu tersenyum kepadaku. Dia selalu berperilaku manis di depanku, tanpa tahu bahwa sebenarnya dia tersiksa. Aku kecewa dengan diriku sendiri yang seperti ini, yang jangankan melawan balik, aku bahkan tak tahu ibuku seperti ini.”

“Sadarlah, Hutcher. Dia sedang berusaha untuk membunuhmu. Dirimu yang sekarang ini. Bukan, bukan hanya kau. Tapi jika kau mati maka aku pun akan mati dan seperti yang kau katakan saat itu, kita bisa masuk neraka. Waktu itu kita hanya beruntung dengan pusingnya penguasa Alam Penghakiman sehingga kita dikirim kembali ke bumi dengan wujud setengah hantu. Kini, hanya ada satu pilihan, dan itu ada di tanganmu : lawan ibumu atau masuk neraka.” Jess berkata dengan tegas.

"Aku bahkan tak tahu kalau aku ini anak di luar nikah. Aku adalah aib. Mungkin memang benar aku lebih baik mati."

"Hutcher! Ingatlah tentang janji-janji kita. Janji yang membuat kita tetap hidup hingga sekarang. Janji yang akan terus membuat kita berjuang untuk terus bertahan hidup hingga tua nanti. Sekarang bangkitlah! Penuhi janjimu. Selamatkan harapan itu. Aku tahu ini berat, terlebih melawan ibu kandungmu sendiri. Tapi aku tahu, kau kuat. Sangat kuat dan tangguh."


“Hmmpphh..uuhhh... Biarkan aku menenangkan diri dulu, aku tak mau tampak lemah di hadapannya. Sekalian kita selesaikan fase telur rebus ini. Aku akan memanipulasi cahaya sebisa mungkin untuk mengulur waktu.


                                                                                                ***



Sementara itu...

“Aku mendengar berita itu. Berita runtuhnya bangunan yang korbannya adalah kau dan wanita laknat itu. Saat itu aku merasa bagaikan berada di pucuk nirwana, surga dunia. Tapi beberapa minggu kemudian kalian berdua muncul lagi di TV, entah bagaimana caranya. Aku yang sudah memutuskan untuk hidup normal dan tentram dihantui lagi oleh bayang-bayang dendam. Si penyebab dosa itu telah kubunuh, tetapi darahnya masih mengalir di tubuhmu. Kau semakin populer. Semakin bertambah pula kebencianku. Tetapi, kini kau sudah tak berdaya. Terkapar di depanku, menyerahkan nyawamu kepadaku. Mari kita buat jadi lebih dramatis.” Penyihir itu merapal mantra. Mantra yang sangat panjang. Muncullah hasil dari mantra itu, berupa gelembung air transparan yang besar. Perlahan datang menuju Jess Hutcherson.

“Meledak!”

Meledaklah gelembung itu. Petir menyambar tanah, ledakan api beruntun bagaikan perang, cakram angin raksasa melubangi tanah.

Tapi Jess Hutcherson masih di situ. Masih tetap dalam posisinya yang tersungkur. Seolah tak terjadi apa-apa. Sadarlah si penyihir telah termakan jebakan. Matanya menatap tidak percaya apa yang dilihatnya. Sepersekian detik kemudian, terbanglah ia. Mencari di mana sosok Jess Hutcherson yang asli. Sampai ia menemukan sesuatu yang mencurigakan. Seperti sebuah telur rebus raksasa.

“Di situ kau rupanya!” pekiknya. Dengan segera dia menghujani objek itu dengan ledakan api, cakram angin, dan petir dari langit.

Asap yang tebal secara perlahan memunculkan rupa Jess Hutcherson yang tengah bersiap dengan biolanya. Gaun Jess berkibar-kibar, senada dengan rambutnya. Dedaunan menghujaninya dari berbagai arah. Wajahnya tegas khas kstaria, dengan wajah separuh tentunya.



***



"Sepertinya kau terlalu meremehkanku. Maaf bu, tetapi kini akulah yang harus mengakhiri dendam ini," ucap Hutcher.

"Lakukan sesukamu, anak tak tahu diuntung." Dengan segera Bu Stanford merapal mantra. Lingkaran sihir kembali muncul di tanah tempat Jess Hutcherson berpijak. Jess Hutcherson kembali menghindar.

Ia memainkan biolanya. Bangunan yang dipijaknya runtuh, begitu pun dengan bangunan lainnya. Kini bahaya ada di depan Bu Hutcher. Ia menghindar ke kiri, ke kanan, lompat menerjang sambil terus merapal mantra. Cakram angin berdatangan dari berbagai arah menuju ke Jess Hutcherson. Dia mengubah melodinya, membuat mode bertahan. Tapi cakram angin dari bawahnya berhasil menembus perisai suara. Tak sempat kaget, cakram tersebut langsung mengarah ke biola Jess Hutcherson. Benda itu hancur berkeping-keping.

"Jangan membuat sembarang konser di sini ya adik-adik." ledek Bu Stanford.

"Kita butuh biola lagi. Aku punya cadangannya di kamar Harley, tetapi butuh waktu untuk mengambilnya," pekik Jess.

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?" sahut Hutcher.

Sosok asli Jess Hutcherson memanipulasi warna tubuhnya menjadi transparan, berlari ke rumah keluarga Romanoff. Sementara bayangannya masih berdiri tegak di tempatnya berpijak. Bu Stanford melempar cakram angin ke bayangan Jess Hutcherson, tetapi sekali lagi ia tertipu.

"Bedebaaaahhhh!!!!" jerit Bu Stanford beriringan dengan kilat cahaya yang sangat terang.

Tubuh Jess Hutcherson yang asli nampak seketika. Langsung diberondong dengan berbagai serangan Bu Stanford. Sial, serangannya tak dapat dihindari. Jess Hutcherson jatuh terkapar di atas rumput.

"Sekarang kau tak bisa menipuku lagi. Zona anti-ilusi yang kubuat akan menekuk lututmu di hadapanku," ucap Bu Stanford.

Jess mengeluarkan gelombang suara ultrasonik yang sangat kuat. Seolah tau pergerakan selanjutnya, Bu Stanford membuat lapisan pelindung berupa cekungan parabola di sekelilingnya. Dia menyerap dan mengumpulkan suara Jess. Bu Stanford merapal mantra. Sejurus kemudian dia mengambil salah satu cekungan parabola dan mengarahkannya ke Jess Hutcherson.

"Aaarrgghhhh!!"

"Aku, sudah tak bisa memanipulasi suara lagi. Pantulan suara yang dihasilkan ibumu sangat kuat," kata Jess.

Jess Hutcherson berlari mendekat, mengarahkan tangan kanannya ke Bu Stanford. Hening sejenak, lalu ledakan dan kobaran api luar biasa hebat memberondongnya. Ia bukannya diam saja. Secepat mungkin merapal mantra, dan terbentuklah tornado air di sekeliingnya, melenyapkan manipulasi api Jess.

Tak berhenti sampai di situ, dengan berani Jess Hutcherson kembali mendekati Bu Stanford. Ia mengarahkan tangan kirinya ke Bu Stanford, tornado air itu pun seketika membeku. Sebelum sempat menjauh, Jess Hutcherson menyadari bahwa di bawah tornado itu dipasangi lingkaran sihir. Sekonyong-konyong ledakan hebat pun terjadi, menghancurkan tornado beku yang mengelilingi Bu Stanford. Pecahan-pecahan es dengan cepat melesat ke seluruh arah. Jess Hutcherson terpental jauh, dan jatuh tengkurap. Tenaganya benar-benar sudah habis sekarang.

"Fuhhhhh.... Bagaimana mungkin anak-anak ini dapat menguasai berbagai teknik luar biasa ini? Aku benar-benar kewalahan dibuatnya. Baiklah, serangan terakhir," batin Bu Stanford. Diam-diam dia merasa amat kagum dengan anaknya beserta calon menantunya.

"Sial! Sekarang satu-satunya serangan yang dapat kita lakukan adalah serangan jarak dekat. Tapi ibuku merupakan penyihir petarung jarak jauh. Mendekatinya sama dengan mati." Jess Hutcherson mencoba berdiri, namun yang dilakukannya hanyalah merangkak, berusaha bersembunyi.

Dengan kecepatan luar biasa Bu Stanford mendatangi Jess Hutcherson. Gerimis mulai turun, tetapi angin dan petir masih sama gilanya.

"Sekarang kau milikku. Bagaimana rasanya jatuh nak? Sakit bukan? Tenanglah, aku akan membunuhmu pelan-pelan. Tak seperti ketika membunuh ayahmu, yang pada saat itu aku terlalu takut untuk melakukannya. Kini kita bisa melakukannya, tanpa takut terhadap apapun" ucap Bu Stanford seraya tersenyum. Dia mencoba untuk mengelus kepala Jess Hutcherson. Kini semua bisa terjadi, dengan perbedaan hanya setipis benang.

BBRRRUUUUKKKK!! KRRTTAAAKKK KRRRTTAAAKKKK!!

Bunyi yang keluar saat kepalan tangan kanan Jess menembus dada kiri Bu Stanford, tepat di jantungnya. Tulang rusuk si penyihir ikut retak. Darah merah pekat mengalir membasahi gaun hitamnya. Tak terlalu kontras, tapi tetap nampak merahnya.

"Kau terlalu fokus terhadap kelemahan lawanmu, sampai kau tak sadar bahwa kelemahanmu sendiri tak berperisai. Semua penyihir punya fisik yang tak terlalu spesial, dengan dada sebagai kelemahan utama. Kini ucapkan selamat tinggal pada dendammu, juga pada seluruh dunia ini. Aku menyayangimu, ibu." ucap Hutcher.

"Dan aku menghormatimu, calon ibu mertua, Nyonya Margareth Stanford," timpal Jess.

Orang tua itu ambruk di depan Jess Hutcherson. Lubang di dada kanannya menjadi kubangan darah. Tak ada lagi kereta kenangan yang melintas. Tak ada air mata yang berjatuhan. Dan tak ada lagi yang dapat membangga-banggakan seorang Margareth Stanford.

Jess Hutcherson jatuh telentang. Kelelahan. Perlahan matanya menutup. Dunia baginya serasa berputar.



***



Sampai kedua makhluk itu datang.

Yang pertama adalah seorang pria usia tiga puluhan dengan gaya bak bangsawan tak terkenal. Yang kedua adalah sosok mirip anak kecil dengan kepala yang sepenuhnya adalah bantal. Ya, bantal dengan sedikit kerutan serupa wajah.

"Inikah puncak dari makhluk setengah-setengah yang kita temui, om Nurma?" kata si bantal.

"Mungkin saja, Huban. Aku pernah melihat sosok serupa di salah satu ajang pencarian bakat di suatu negeri yang pemimpinnya suka blusukan ke mana-mana. Namanya juga hampir mirip." jawab si bangsawan yang dipanggil Nurma oleh si bantal.

"Dendam yang membutakan ibunya benar-benar berbahaya. Takut, ih!" celetuk si bantal.

"Makanya kalau ada apa-apa jangan masukin ke dalam hati."

Pembicaraan kedua sosok aneh ini mengusik pendengaran Jess Hutcherson. Dia terduduk seraya berusaha berbicara kepada mereka, dengan mata yang masih tertutup.

"Berisik!! Kalau mau menggosip jangan di sini. Nggak tahu apa orang capek begini?" terdengarlah suara Jess. Akhirnya ia membuka matanya.

"Jess, bukannya ini dua makhluk aneh yang kita temui di mimpi itu?"

"Ya! Kau benar sekali. Sebagai hadiahnya, kau berhak mendapatkan......" jawab Ratu Huban. Kalimatnya sengaja diputus supaya mirip seperti kuis-kuis berhadiah dua juta rupiah.

"Sudahlah, Huban. Serahkan saja, tak perlu didramatisir."

"Domba ini! Jeng jeng jeng jeng!" Ratu Huban memberikan domba putih yanh entah sejak kapan ada di situ. Dengan centilnya dia melompat-lompat kegirangan. Tak peduli dengan wajah datar Jess Hutcherson dan om Nurma.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Tolong jelaskan semuanya," Hutcher mulai berbicara.

"Jadi, sebenarnya kita semua sedang berada di Bingkai Mimpi," kata Zainurma.

"Hah! M..mim...mimpi?"

"Ya, jadi secara teknis kau belum benar-benar bangun dari tidurmu saat ini. Tak usah khawatir dengan segala kerusakan ini," lanjutnya.

"Dan jangan khawatir dengan ibumu, om Hutcher. Dia sedang bermimpi indah saat ini." Ratu Huban memunculkan semacam awan kecil yang di permukaannya terlihat Bu Stanford sedang tidur... dengan wajah bahagia?!.

"Ayo kita pergi. Cuaca buruk seperti ini tidak baik untuk kesehatanmu."

"Pergi? Ke mana?"

Ratu Huban mengayunkan tongkatnya, lalu terciptalah semacam portal. "Ke sini! Ayo masuk!" ajaknya.

Mereka berempat masuk ke portal itu. Meninggalkan area perumahan yang hancur porak-poranda. Batin Jess dan Hutcherson bertanya-tanya, anomali apa lagi yang akan terjadi?




--

>Cerita selanjutnya : [ROUND 1 - 7F] 41 - JESS HUTCHERSON | RINAI PURNAMA

12 komentar:

  1. Hmm, saya agak loss di tengah. Koreksi kalo salah, jadi Jess sama Hutcher ini baru jadi satu pas masuk mimpi? Kurang ada deskripsi yang ngegambarin, sepanjang cerita saya kurang ngebayangin mereka nyatu. Agak kaget juga pas adaptasi mereka ke battle cepet, soalnya saya ga baca charsheet jadi ga ngeh kemampuan mereka apa

    Ada logika yang saya gagal paham pas battlenya, kalo ibu Hutcher jago pertarungan jarak jauh, kenapa malah kalo ngedeket dibilang cari mati? Bukannya kebalik?

    Nilai 7

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan cek fb (tantangan prelim Jess Hutcherson) untuk jawabannya

      Hapus
  2. Dan siksa Tuhan mana lagi yang kau dustakan? =))

    Jalan ceritanya mengalir. Ibu Hutcher itu ingin menghabisi darah keturunan Stanford. Masih agak aneh di bagian mereka seperti udah terbiasa gabung dalam satu tubuh. Tapi keren ya tetap saling mencintai

    Perpindahan tubuh yang dominan dan pergantian menyerang sudah enak diikuti. Untuk proses penyatuan mereka memang ada di Charsheet, tapi ada baiknya dijelaskan juga di cerita jadi tidak terkesan tiba-tiba menyatu setelah mimpi dan bangun tidur

    Nilai 7
    Merald

    BalasHapus
  3. Oke, jadi saya mau komentar di entri ini.

    Kurang lebih, Jess Hutcherson sama seperti FaNa di entri nomor 17, tapi dengan eksekusi yang berbeda. Tapi tetap sinergis dan harmonis.

    Perkara perkembangan cerita dan plot serta adegan-adegannya sudah cukup rapi, jadi saya tidak perlu komentar banyak juga. Paling saya bingung di bagian Jess dan Hutcher yang menjadi satu aja yang hanya diberi foreshadowing.

    Bacaan yang cukup enjoy, jadi 7/10 dari saya

    Salam sejahtera dari Enryuumaru dan Mbah Amut

    BalasHapus
  4. Hangat, terlebih saat mereka semua berkumpul di ruang makan keluarga Romanoff. Benar-benar menghangatkan hati.

    Jalan cerita yang halus dengan pendekatan yang detail membuat cerita ini asik dibaca.

    Sebenarnya tak banyak yang bisa saya komentari dari entri ini. Hanya saja, ada beberapa hal yang membuat saya terheran. AKU AKAN MEMUSNAHKAN DARAH KETURUNAN STANFORD!!! Bukankah Hutcherson adalah anak haram? Dan seperti yang Uncle Sam said, kenapa melawan musuh jarak jauh dengan inisiatif mendekati itu mati? Seharusnya jika mereka mendekati Bu Stanford, itu akan menguntungkan mereka.

    Dan terakhir, Admin pernah bilang sama saya kalau ada sesuatu yang penting dari karaktermu tambahkanlah dalam cerita. Filler dikit gak masalah kan. Nah, ini yang menjadi titik penting penyatuan Jess dan Hutcher malah gak diterangi sama sekali disini. "Karena tak semua orang baca Charsheet" begitulah katanya.

    Maaf jika komentar saya menyinggung, saya tak ada maksud sama sekali. Saya orang yang bukan mengomentari gaya penulisan, tapi gaya tulisan Anda benar-benar bagus. Dan saya suka itu.

    Overall, Nilai 8 bisa saya berikan.

    -Salam, Hyakunosen
    OC: Satan Raizetsu

    BalasHapus
  5. chou: wush rasengan meluncur. pertarungannya lumayan juga
    kuro: setajam apakah kepala jesshutcher? sampai bs nembus gtu
    zweite: setajam silet
    kuro: loh? tumben zweite ikutan
    chou: btw itu reality show, zweite. hm...knp hanya dg tdur bs menyatu dalam satu mimpi bhkan tubuhnya ikutan menyatu. dan itu ibunya ceroboh bnget kalo emang tipe petarung jarak jauh kan bs membunuh tnp mendekati lawannya. melakukan hal yg sia2. tp saya suka pertartarungan sihir2annya. lumayan seru juga. 8

    BalasHapus
  6. GHOUL : “Wah ini bisa jadi lawan yang unik. Kalo duel, paling yang cowok aja kena hajaranku hehe, yang sisi cewe mah aman2 aja. Ntar jadi babak belur separuh dong, bayangin aja!” :=(O

    SHUI : “Hush, ‘mahakarya’ disebut ‘martabak’, nih bulan puasa tauk!” (lamunin santapan buka puasa nanti).

    GHOUL : “Nih prolog ceritanya belum menyatu, ya? Kirain dah menyatu jadi kupikir betapa repotnya yang satu melangkah pergi n istrinya minta maaf getuh. Astaga nih entri bikin ngakak di bagian bingkai mimpinya, (stop baca sejenak, ketawa dulu!). enak pertarungannya karna sambil cerita2, seru juga hm maksudku menyedihkan curhatnya si mama, jadi ga ngebosenin bag big bughnya. Konfliknya ngena.” :=(D

    SUNNY : “Sampai saat ini, belum nemu typo yang berarti…”

    GHOUL : “Aku pengen seret mereka berdua ke penghulu aja, mumpung bulan puasa, tobat ! nih, kami ngasih 8. Kembaliannya ambil aja buat ke penghulu.” :=(D

    BalasHapus
  7. yep... emang masih banyak yg miss soal penyatuan dua jiwa dalam satu tubuh. alangkah baiknya jika prosesnya juga sedikit dijelaskan biar pada mudeng gitu.

    dan juga untuk battlenya juga, perlu dipikirkan hukum sebab akibat, penyerang jarak jauh harus didekati, jarak dekat musti dijauhi. dan juga sebagai penyanyi, kemampuan adaptasi tempur mereka juga sangat siginifikan begitu masuk bngkai mimpi

    7 dari Axel Elbaniac

    BalasHapus
  8. makhluk setengah-setengah. jadi keinget seseorang yang juara 1 di ajang pencarian bakat di salah satu televisi swasta. well, ceritanya bagus dan menarik. tidak ada typo di sepanjang cerita. cuma agak aneh aja di petarung jarak jauh tapi kalo mendekat sama saja mati.

    nilai dari saya 8. semoga sukses..

    Dwi Hendra
    OC : Nano Reinfield

    BalasHapus
  9. Awal cerita alurnya asik, diksinya mengalir dan karakterisasinya mulai dapet. Begitu masuk pertengahan cerita, things go down south. Berasa kayak ditabrak kereta, alur begitu ngebut, karakter-karakter ditabrakkan kesana-kemari di tengah battle.

    Well, aku nggak masalah pergabungan Jess-Hutcher nggak dijelasin di sini. Tapi aku agak risih dengan pengulangan nama, terutama Bu Standford. Mungkin bisa lebih baik divariasikan dengan Nyonya Standford, penyihir itu, atau wanita [masukkan deskripsi fisik di sini]. Pengulangan nama dapat membuat pembaca terdistraksi dan cenderung bosan.

    Lalu hal lain yang rasanya agak kurang, Jess dan Hutcher tiba-tiba bisa menggunakan magic tanpa pembiasaan diri terlebih dahulu. Dan tidak dijelaskan apakah mereka bisa menggunakan magic sebelum cerita dimulai. Alangkah baiknya apabila meninggalkan Foreshadowing agar tidak meninggalkan pembaca dengan Plot Hole. Sebisa mungkin jangan mengandalkan Character Sheet untuk menjelaskan kemampuan karakter.

    Sama seperti aplikasi, orang-orang lebih tertarik dengan aplikasi yang interfacenya newbie friendly ketimbang musti baca buku manual bolak-balik karena nggak ngerti. Apalagi kalau aplikasinya banyak punya saingan, tentunya newbie friendly adalah salah satu poin plus.

    Karakterisasi aku belum terlalu dapet, selain Jess yang agak hot-blooded dan Hutcher yang lebih bijak. Jadi aku belum terlalu bisa relate ke karakternya. Lalu villain yang ditampilkan di entry ini, ibunya Hutcher berasa minim karakterisasi. Alasannya ingin membunuh Hutcher berasa terlalu Freudian Excuse. Mungkin ada baiknya apabila author meninggalkan Foreshadowing di awal. Misalnya dengan mempertemukan Jess-Hutcher dengan ibunya Hutcher di dunia nyata, lalu sudut pandang dipindah ke ibunya Hutcher yang menggeram marah atau semacamnya.

    Anyway, maaf aku pake istilah2 tvtropes, kayaknya aku kena sindrom tvtropes hahahaha. Susah nemu kata2 yg tepat utk menggambarkan apa yg aku maksud sih.

    Well, aku masih berharap utk ketemu author di ronde selanjutnya, karena gaya bahasanya punya potensi. Tinggal penyusunan plot aja yg agak kurang.
    Dariku 7/10

    -FaNa

    BalasHapus
  10. Bagian awalnya kerasa hangaat~
    :D

    Hudson? is that you?

    Saya baru saja baca entry Fana, dan ngebaca ini jadi punya bayangan akan seperti apa OC-nya.
    Kalo saja nggak lihat gambar dulu, saya yakin bakalan lost di tengah jalan cerita.

    Btw, ibunya hutcher ganas beut
    ._.

    Bagian Jess dan Hutcher nge'fushion kok rasanya kurang kegali ya?
    ._.


    Point : 7
    OC : Maria Venessa

    BalasHapus
  11. Hm...

    Ini dua orang satu tubuh, tapi entah kenapa saya bacanya seolah ini dua orang yang terpisah. Feel kalau mereka itu satu tubuh kurang terasa.

    Untuk porsi pertarungannya sendiri cukup seru, sayangnya saya gak ngerasa kalau Jess Hutcher ini all out. Padahal kalau dari character sheet-nya ini karakter yang cukup balanced, jadi harusnya dia bisa dengan mudah menghabisi Stanford.

    Selain itu, ini Stanford jadi berasa kayak stupid villain, karena dia terlalu angkuh dan gegabah untuk mendekat, padahal dia petarung jarak jauh.

    Itu aja sih, keluhan saya yang bikin kesel pas bacanya. Jess-Hutcher kurang all out, dan Stanford is too darn stupid.

    Untuk itu, saya hanya bisa beri 7 poin.

    Asibikaashi

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.