Minggu, 29 Mei 2016

[PRELIM] 25 - NORA | TWO OF THE FOUR PIECES, BROKEN BY DEATH

oleh : Mocha_H

--

Two of  The Four Pieces, Broken by Death

==1==
Sang Tinta Hitam


Apa itu kedamaian? Apa itu kesejahteraan?

Banyak yang mengartikan kedamaian adalah suatu masa dimana tidak terjadi pertumpahan darah, sedangkan kesejahteraan adalah suatu masa dimana orang-orang merasa puas akan segala sesuatu.

Namun atas harga apa mereka mengharap masa itu?
Akankah mereka mengharap suatu kedamaian setelah pembantaian?
Akankah mereka mengharap suatu kesejahteraan dengan merebut kesejahteraan yang lain?

Kedua kalimat itu selalu dipakai dalam semboyan para munafik. Mereka yang berkata berjuang untuk kedamaian dunia hanyalah pembawa perang dan mereka yang berkata membawa kesejahteraan adalah pembawa kesengsaraan bagi yang lain.

Oleh karena dasar pemikiran itulah, Nora sang tinta hitam tidak memiliki tuan. Tentara bayaran itu selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengharapkan untuk menemukan kesenangan yang fana dan bekerja hanya untuk mendapatkan uang.

Gadis itupun...

"LAPAR!!!!!"

...sedang dalam...

"KENAPA HANYA POHON DI KANAN KIRI?!"

...perjalanan menyusuri...

"BISA NGGAK SKIP INTRO KEPANJANGAN INI?!"

Ya gusti... kenapa,sih OC ini nggak bisa diam selagi narasi dibacakan? 

Dalam hutan rimba entah dimana ini, Nora, seorang gadis berambut hitam sepundak sedang menebas-nebaskan pedang ungu di tangannya pada dedaunan yang menutupi jalannya. Entah kenapa, ketika ia terbangun, dirinya sudah berada di dalam hutan lebat dan matahari sudah terbenam.

Tidak seperti pakaian pada umumnya, gadis ini seakan memiliki kulit di atas kulit pucatnya, berupa sebuah lapisan kehitaman yang menutupi seluruh tubuhnya selain leher dan kepala bagaikan baju latex ketat. Pakaiannya terdiri atas rok ungu selutut dan jaket ungu bertudung yang bagian belakangnya memanjang hingga ke betis bagaikan sebuah jubah. Uniknya, dia tidak memakai alas kaki selain lapisan hitam yang membungkus kaki tersebut.

Setelah beberapa saat menebas tidak terarahkan, terdengarlah suara pekikan babi hutan tak jauh darinya. Derap langkahnya terdengar, diikuti dengan gesakan dedaunan seakan telah menyadari bahaya yang mengintai.

Mata Nora yang sudah terbiasa dengan gelapnya malam dapat melacak arah lari babi hutan itu dengan mudah. Nora berlari seakan mengabaikan dedaunan, tak terhambat karena lengan panjang jaketnya dan kakinya yang terbalut lapisan hitam melindungi Nora dari dedaunan lancip ataupun batang kayu yang menghalangi.

Dengan satu lompatan besar, Nora melompat maju seraya bersiap menebas mangsanya ketika mendarat. Namun lompatannya kurang jauh, tebasannya hanya mengenai bayangan babi itu, sementara dirinya malah terjungkal dan tersungkur jatuh.

...atau setidaknya begitulah kelihatannya. Sebuah cairan hitam merambat dari balik jas ungunya menjuju ke tangan kirinya. Cairan hitam itu merambat ke sisi kanan dan kiri, memipih hingga bentuknya menyerupai sebuah busur. Gadis itu meletakan pedangnya pada tali busur tersebut, lalu seiring dengan tarikannya, bentuk pedang itu meruncing seperti panah.

Panah Nora melesat dari busur, menebus dedaunan di depannya. Nora segera berdiri dan kembali berlari, tak lama setelah mendengar pekik kesakitan dari hewan buruannya. Akhirnya babi itupun terkejar, Nora melihat sendiri bagaimana babi itu dilumpuhkan.

Panah ungu Nora menembus kaki belakang babi itu, mungkin juga menembus tulangnya karena kaki babi sepanjang satu setengah meter itu tampak lebih kaku. Pekik kesakitan babi itupun tak henti terdengar, kakinya mulai menghitam perlahan, terutama bagian yang terkena oleh panah hitam Nora.

Ketika Nora hendak mencabut panahnya kembali, panah itu tiba-tiba mendesis dan nyaris menggigit tangan Nora. Dengan gerakan melata, panah itu mencabut dirinya dari kaki si babi dan mengitari si babi seperti ular mengitari mangsanya.

"Tidak! Ini punyaku!" omel Nora pada panah tersebut sambil menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya.

Tak mau mematuhi perintah Nora, panah itu langsung melompat dan menggigit sang tuan. Nora menjerit sebentar, tapi pada saat itulah panah itu berhenti "Hidup", hanya memaku di tempatnya menggigit. Nora mencabut panah itu, lalu duduk di depan babi yang menjerit kesakitan itu dan dengan cepat menusukan panahnya ke jantung mangsanya, membunuhnya seketika itu.

Jaket ungu Nora berubah warna dari ungu menjadi hitam, perlahan mencair menjadi cairan hitam yang menetes ke atas tanah dan merayap ke hasil buruannya. Cairan Nora membungkus babi itu, lalu terdengarlah suara mendesis seakan daging babi itu sedang dicerna. Lima belas menit berlalu, cairan hitam Nora merayap kembali dan membentuk jas ungu lagi dan tidak ada sisa dari babi itu selain tulang dan kotoran.

Ink, itulah nama dari cairan tersebut. Hitam ketika cair dan ungu ketika mengering, seperti tinta. Tidak heran kenapa nama itu dipakai oleh cairan hitam Nora.

Hanya Nora yang tahu asal usul Ink. Materi ini akan bertindak seperti hewan buas apabila tidak dibawah kendali, tapi ketika di bawah kendali, Ink seakan kehilangan kesadarannya dan menjadi bagian dari koloni Ink yang lebih besar. Dan tentunya, dalam perumpamaan ini, Nora adalah ratu dari koloni tersebut.

"Ah~~~ Kenyang sudah..." ucap Nora, menepuk perutnya.

"Dasar rakus... cepat sekali kamu menghabiskannya...." ucap Nora lagi, tapi tidak ada siapapun dihadapannya.

"Sudah... Sudah... biarin aja~~~" jawab Nora pada ucapannya sendiri.

"Kali ini aku biarkan soalnya aku kelaparan!" ucap Nora ketus.

Ya, gadis ini punya kebiasaan mengigau pada omongannya sendiri.

Puas setelah memakan mangsanya, Nora membaringkan dirinya pada sebuah pohon di dekatnya. Sambil menikmati udara malam, Nora memeriksa langit. Dalam perjalannannya ini, Nora sedang berkelana dari hutan elf menuju ke gurun Ifrit yang konon terdapat sebuah kuil yang menyimpan sebuah relik kuno yang bisa mencari keberadaan dari siapapun.

...seharusnya begitu. Namun yang dilihatnya di langit sama seperti dua jam lalu ketika ia terbangun, kosong. Bulan bersinar begitu terang di malam itu, tapi tidak satupun bintang terlihat di langit. Tadinya, Nora sempat berpikir langit sedang gelap karena tertutup awan, tapi dengan bulan yang bersinar seterang itu, tidak mungkin awan menutupi bintang-bintang.

"Ini seakan bintang-bintang itu lenyap..." pikir Nora.

Ada yang janggal dari tempat ini. Dalam petanya, Nora seharusnya sampai pada sebuah desa dalam satu jam perjalanan, tapi kenyataannya ia malah tersesat dalam sebuah hutan lebat selama dua jam. Saat Nora berpikir sia-sia saja ia melihat langit malam, tiba-tiba saja ia menyadari ada sesuatu yang menggeliat di langit malam.

"Asap?"

Ya, asap membumbung tinggi di langit malam itu dengan bulan sebagai latarnya. Nora segera bergegas menuju asap yang dilihatnya. Asap selalu menjadi sebuah pertanda keberadaan suatu peradaban atau mungkin asap ini adalah asap pertarungan? Pertanyaan itu akan segera terjawab.


==2==
Kota Kematian, Artefak Kehancuran


Nora langsung dihadapkan dengan sebuah dinding besar tepat setelah dia keluar dari hutan. Dinding dihadapannya menjulang tinggi, seakan dibangun untuk menghadang mahluk raksasa, tapi bagian lain dinding itu sudah roboh dan berlubang. Tentunya Nora memilih masuk melalui bagian dinding yang sudah runtuh, tapi ternyata kejutan sebenarnya ada di balik dinding itu.

"Kenapa aku sampai di sini?"

Nora terpaku pada hamparan padang rumput luas di hadapannya. Berbagai reruntuhan bangunan tampak setelah padang itu dan jumlahnyapun tidak sedikit. Jauh di belakang reruntuhan itu, terdapat bangunan- bangunan pecakar langit yang tidak asing baginya. Bangunan-bangunan yang membawa simbol roda gerigi yang berkarat dan tidak lagi teratur.

"Kota Kematian?" gumam Nora. "ehm... gimana ya cerita kota ini..."

Kota ini dulunya adalah sebuah kota dengan teknologi paling maju di benua tak bernama resmi dari dunia tak bernama resmi ini pula. Namun sebuah perang besar berkecamuk di kota ini, membumiratakan bangunan-bangunannya dan hanya meninggalkan sebagian kecil; dinding kota dan beberapa bangunan pecakar langit di tengah kota sebagai saksi bisu perang tersebut.

Semenjak perang  tujuh hari itu terselesaikan dua tahun silam tanpa hasil akhir yang jelas, berbagai negara manusia ataupun monster berusaha merebut tanah kota tersebut. Beberapa perang terjadi lagi di kota ini dan berakhir dengan tanah kota tidak menjadi milik siapapun.

Tak heran dunia ini tidak punya nama resmi. Semua peradaban hanya mengutamakan rakyat mereka sendiri.

Akhirnya kota Kematian terbenggalai karena tidak ada negara ataupun organisasi yang mengurusnya. Paling tidak, waktu dua tahun itu telah digunakan cukup baik untuk menyingkirkan mayat-mayat dari mereka yang telah gugur di peperangan dahulu.

Nama baru untuk kota ini adalah kota "Kematian", bahkan ada yang menambah embel-embel Artefak Kehancuran karena merupakan bukti peradaban secanggih apapun masih dapat dihancurkan.

Sembari mengingat sejarah kota Kematian, Nora berjalan ke tengah kota dimana bangunan-bangunan pecakar langit masih tersisa. Di sana pula Nora dapat melihat cahaya terang yang merupakan sumber dari asap yang dilihatnya tadi. Namun, tentunya tidak semudah itu berjalan di kota yang telah membuat konflik di berbagai negara.

Sebuah angin kencang tiba-tiba menerpa Nora, diikuti suara ledakan hebat di depannya, mengembuskan debu dan pasir ke udara. Nora segera melompat mundur dan mengeluarkan pedang Inknya. Ketika debu ledakan berpudar, barulah Nora melihat sebuah tombak batu bermata dua di tempat ledakan itu terjadi.

"Tombak yang unik," ujar Nora. "tapi kalau salah pakai bisa kena penggunanya sendiri,kan?"

Angin keras kembali menerpa,  Nora menyilangkan lengannya di depan wajahnya supaya tidak terkena debu yang terbawa angin. Namun itu adalah tindakan fatal, karena Nora tidak melihat sebuah bayangan melesat dari belakang tangannya.

Seketika bayangan itu mengenai tangan Nora, dia segera berjongkok, menghindari sebuah cakaran dari langit. Penyerangnya mendarat di atas tanah, kemudian menurunkan kibasan ekor batunya pada Nora.

Gadis itu segera melompat ke samping, tapi seakan gerakannya terbaca, si penyerang sudah lebih dulu melompat ke tempat Nora menghindar. Satu cakar mendorong si gadis hingga terjatuh, sedangkan yang lain terangkat dan bersiap menghujam turun.

Pada momen itulah Nora menyadari sosok musuhnya. Sebuah Gargoyle, monster patung penjaga berbentuk manusia berkepala elang, berekor reptil dan sayap berjari-jari. Namun bukan Gargoyle biasa, mahluk ini terbuat dari marmer berwarna coklat-oranye, salah satu bahan terkeras untuk membuat Gargoyle.

Mata Nora hanya terfokus pada cakar Gargoyle yang bisa saja turun kapan saja, waktu terasa seakan berhenti. Sampai sebuah kalimat memecah keheningan,

"Masih saja rata..." gumam si Gargoyle.

Sebuah tamparan menyusul ucapan itu, tapi bukannya yang ditampar yang kesakitan, malah yang menamparlah yang kesakitan.

"UH!!! Curang!!!" seru Nora. "Sudah! Jangan tindihi aku!"

Gargoyle itupun mengibaskan kedua sayap besarnya, mendorong dirinya menjauh dari Nora.

"Lama tidak berjumpa, Nora. Dari mana saja?" ujar si Gargoyle.

"Aku masih mencari Emi! Dia terus saja bersembunyi dariku!" seru Nora. "Apa kamu melihat Emi akhir-akhir ini, Gargo?"

"Emi? Emi sia... oh... dia?" gumam Gargo. "Bukannya aku sudah memberitahumu? Dia sudah..."

"Ah! Tidak mungkin! Emi tidak mungkin mati semudah itu!" seru Nora, mengibaskan kedua lengannya. "Dia selalu kembali di saat-saat seperti ini!"

"Dan apa dia sudah kembali?" tanya Gargo.

Nora hanya bisa menggelengkan kepala, bahkan dalam perjalanannya selama dua tahun tidak satu kalipun dia merasakan keberadaan Emi yang dicarinya.

"Aku akui, dia itu seperti kecoa. Berkali-kali kau membunuhnya, dia masih akan hidup," ujar Gargo. "tapi kali ini berbeda, Nora. Dia sudah tiada."

"TIDAK!" seru Nora. "D-Dia masih hidup! Aku yakin!"

Kali ini Gargolah yang terdiam. Sosok setinggi dua meter itu berjalan ke tombak yang dilemparkannya tadi, lalu mencabutnya tanpa sepatah katapun. Tanpa berbalik, ia memberi isyarat pada Nora untuk mengikutinya.

Nora dan Gargo berjalan ke sisi barat reruntuhan kota Kematian, suatu tempat yang paling berbeda dari reruntuhan lain. Terdapat sebuah kawah masif pada daerah ini, seakan bagian kota ini mencekung dari bagian kota yang lain. Gargo melompat turun ke kawah tersebut, diikuti Nora di belakang.

Satu hal yang Nora sadari adalah betapa tandusnya daerah kawah ini. Tidak seperti bagian kota lain yang masih bisa ditumbuhi oleh rerumputan liar, tidak satupun tanaman ada dalam kawah ini. Hanya terdapat sisa-sisa bangunan yang sebagian dindingnya hangus terbakar.

Sampailah mereka pada sebuah bangunan di tengah kawah yang tampaknya menjadi penyebab terciptanya kawah ini. Bangunan itu kini hanya reruntuhan dengan dinding tinggi dan anak tangga yang tidak lengkap, sepertinya adalah sebuah menara sebelum kehancurannya.

"Inilah yang tersisa dari dirinya."

Gargo menunjuk pada sebuah batu nisan dan sebuah batu es runcing, tapi dari bentuknya siapapun tahu ini bukan bongkahan es biasa. Panjang es itu hampir mencapai panjang dari sebuah tombak, tapi tidak pula terlalu panjang untuk dipakai sebagai pedang untuk menebas. Ujung senjata itu meruncing seperti tombak, tapi satu sisi batang tombak itu menajam seperti mata bilah pedang.

Sebuah pedang yang bukan pedang. Sebuah tombak yang bukan tombak. Dan terakhir, sebuah cincin perak yang mengalung di gagang senjata tersebut.

"Pedang tidak jelas ini..."

"Ya, itu punya "Emi" kesayanganmu. Lengkap dengan cincin es abadinya."

Cincin es abadi. Konon, cincin yang diimbuhi sihir es itu mampu mengawetkan seluruh lembah bersalju dan akan menyebabkan badai salju kemanapun dia datang. Namun itu hanya legenda dan cincin itu ternyata hanya mengawetkan sebuah senjata kuno yang rapuh termakan usia.

Nora ingat bahwa Emi mematahkan senjata kuno yang diawetkan cincin itu, mengurangi nilai guna dari cincin itu, bahkan tidak bisa dijual ke musium. Namun Emi menyukai cincin itu dan memakainya untuk mengawetkan senjata dari bongkahan es dalam berbagai pertarungan, sehingga menjadi sebuah cincin ikonik untuk Emi seorang.

Nora menatap tak percaya,"Gargo... ini hanya lelucon,kan?"

Gargo menggeleng. "Inilah kenyataannya."

Tangan gemetar Nora menggapai pedang es di hadapannya, lalu memeluknya seakan mencari kehangatan dari pedang dingin itu. Sampai terdengarlah suara pecahan es.

"Hei! Kenapa pedang itu..."

Gargo sempat khawatir mental Nora tidak akan kuat menghadapi kenyataan, tapi ternyata lebih buruk dari perkiraannya. Pedang itu telah dilempar oleh Nora, menghantam dinding puing menara dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Kehilangan cincin yang mengawetkannya, pecahan-pecahan pedang itu meleleh dengan cepat.

Nora berbalik menghadap Gargo dengan sebuah senyuman tak bersalah, lalu bertanya, "Hei, Gargo bukannya kamu mau menunjukan sesuatu?"

"Apa kau buta? Kau baru saja menghancurkan pedangnya! Itu satu-satunya peninggalan orang yang paling kau sayangi!" seru Gargo.

"Pedang? Pedang apa?" Nora memutar kepalanya ke sekitar. "Aku tidak melihat pedang apapun."

Denial, penyangkalan.

Hanya itu satu-satunya kemungkinan yang terpikirkan di kepala Gargo. Nora sengaja menyangkal bukti kematian Emi dengan menghancurkan bukti tersebut, lalu berlanjut "mengulang" kejadian sebelum bukti itu ditunjukan.

Semua itu untuk menghapus bukti-bukti kematian Emi dari ingatannya, dengan begitu "Emi" akan terus hidup, paling tidak dalam kepala Nora sendiri.

"Kau benar-benar buta, Nora!" seru Gargo.

"Eh? Buta? Apa benar aku buta?" tanya Nora.

"Ahahaha... aku masih bisa melihat Gargo di sana, mana mungkin aku buta?" ujar Nora pada dirinya sendiri.

"Kalau begitu..."

Kedua sayap Gargo terangkat, lalu mengebas hingga tubuhnya terangkat dari tanah. Satu kebasan itu bisa saja membuat Gargo terbang, tapi karena berat tubuh batunya, kibasan itu hanya menjadi pendorong lompatan pendek ke belakang, memberi jarak antara dirinya dan Nora.

"...akan kubuka matamu yang buta itu!" seru Gargo.

"Kamu menghina cara pikirku, Gargo? Apa ini soal cara menggoreng daging, atau cara mengukir kayu?" Nora menarik sebuah botol plastik berisikan Ink dari balik jasnya. "Entahlah, tapi akukan selalu melihat dari sudut lain!"

Dengan menggenggam botol di tangannya, Nora melesat maju hingga ke hadapan Gargo. Langkahnya berhenti, lalu terlemparlah botol di tangannya. Gargo dengan cepat merespon dengan membelah botol itu di udara, tapi isi dari botol itu langsung menyembur ke segala arah bagai sebuah ledakan.

Sementara Gargo teralihkan oleh Ink di depan wajahnya, Nora mengeluarkan pedang ungu dari balik jaketnya, lalu menebaskannya ke leher Gargo. Dentang logam pedang Nora terdengar nyaring, hampir seperti menggema. Ketika mengenai leher mahluk batu itu, pedang Nora terhentikan karena kerasnya leher Gargo.

"Kamu tidak lupa aku terbuat dari marmer, kan?" ujar Gargo sombong, bahkan tidak menunjukan niatan memberi serangan balasan meski jarak begitu dekat. "Apa pandanganmu benar-benar buta karena cintamu? Tidak... ini tidak bisa kubilang cinta, lebih menjadi obsessi."

"Sudah kubilang, aku selalu melihat dari sisi berbeda!"

Bilah pedang Nora berubah hitam, lalu melilit leher Gargo dan kembali mengeras menjadi ungu. Nora melompat ke pundak Gargo, lalu melompat lagi hingga mendarat jauh di belakang si mahluk batu. Lilitan pedang Nora menarik  Gargo mundur sampai kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh pada kedua sayapnya.

Begitu selesai dengan serangannya, bilah pedang elastis Nora menyerap Ink yang melumuri wajah si Gargoyle, lalu tertarik kembali ke tuannya. Nora mengayunkan pedangnya, bilah elastis pedang itu merespon dengan bergelombang, bergerak bagaikan sebuah cambuk.

"Raaahhh!"

Dengan satu erangan kuat Gargo kembali bangkit, lalu berbalik menghadap lawannya, tapi kedua sayapnya patah karena tertindih oleh berat badannya sendiri. Kerutan pada wajah batunya cukup memberi petunjuk bahwa Gargoyle itu tidak senang dengan penampilan barunya.

"Sial... Aku benar-benar lengah," Gargo menggenggam kuat tombak bermata gandanya. "Aku masih teringat pertama kali kita bertarung... ah... waktu itu kamu hanya menyerang dari depan dan menuduhku bertarung tidak adil karena aku terbuat dari marmer."

"Dari waktu itu, aku sudah mengalahkanmu belasan kali," ujar Nora. "...dan aku selalu bersama Emi, apa yang membuatmu berpikir aku seperti dulu?"

"Banyak hal, Nora," ujar Gargo sombong. "Terutama bagian kamu tidak menyadari kalau temanku sudah siap menyerang di belakangmu."

Nora segera berbalik, memastikan kebenaran dari perkataan Gargo. Kakinya berpindah dari kiri ke kanan, lalu berputar dan mengakhirinya dengan sebuah tebasan horizontal yang diikuti serangkaian tebasan lain. Namun serangan Nora hanya membelah udara kosong.

Mata Nora terbelalak, mengipas dari kiri ke kanan dan sebaliknya. "T-Tidak mungkin..." ucap Nora gemetar, "Kamu punya teman hantu?!"

Sang tinta hitam berbalik ke arah Gargo, tapi di tempatnya hanyalah sayap marmernya yang telah patah.

"T-Tidak mungkin! Kamu juga bisa sihir tak terlihat?" ucap Nora.

Nora mulai beranjak dari tempatnya, berlari keluar dari kawah sambil mencari keberadaan Gargo. Adalah sebuah insting bagi Nora untuk mencari mangsanya dan mengklaim hadiah untuk mengalahkannya, jika tidak, tentunya Nora akan memakan mangsanya.

Gargo!
Dimana kamu?
Aku masih belum selesai!
Aku janji tidak akan memakanmu!

Pekikan Nora sudah terdengar jauh.

Biasanya gadis itu akan langsung menemukan lawannya karena memiliki penciuman tajam, apalagi jika dikaitkan dengan bau "mangsa"nya. Sayangnya Gargo tidak punya bau unik karena tubuh marmernya tidak menghasilkan keringat ataupun hormon yang bisa menjadi pertanda. Berusaha mencium keberadaan Gargo sama saja mencari bau batu di tumpukan batu yang lain.

"Mau dua tahun ataupun seratus abad dia akan tetap sebodoh itu." Gumam Gargo.

Ada keuntungan tubuh batu Gargoyle, yaitu kemudahan membaur dengan sekitar dengan mudah. Gargo tidak benar-benar kabur, dia hanya mengambil beberapa langkah mundur, lalu berpose seperti patung lain di sebelahnya. Biasanya dia tidak akan menggunakan cara ini karena warna tubuhnya yang terlalu mencolok, tapi Nora yang teledor bahkan tidak menyadari tipuan ini.

Gargo beranjak dari persembunyian, menuju makam di samping menara. Dua jari  besarnya mencapit cincin peninggalan kawan seperjuangannya, lalu meletakannya kembali di depan makam tersebut.

"Hei, pacarmu mengamuk lagi,tuh. Apa kamu nggak mau tanggung jawab?" ujar Gargo pada batu nisa dihadapannya.

"Aku sudah bilang berkali-kali, dia bukan pacarku!" itulah yang mungkin akan dikatakan kawannya.

Gargo kembali berkata, "Heh... Kamu selalu berkata begitu, tapi kamu tetap perhatian, kan? Dasar munafik." Lalu Gargopun kembali terdiam, "Heh... munafik, ya?"

Mahluk bertubuh marmer itu duduk di depan makam sang sahabat, seolah lawan bicaranya juga sedang duduk berbincang di hadapannya.

"Kamu benar-benar brengsek, tahu? Kamu selalu rela bunuh diri untuk menyelamatkan yang lain karena menganggap hidupmu tak berharga, tapi ketika mati, semua yang kamu selamatkan malah tidak tahu harus apa dengan hidup mereka," ledek Gargo. "...termasuk aku, kawan."

Gargo berdiri, lalu mengambil sayapnya yang telah patah dan memasangnya kembali ke belakang punggungnya. Sebagai mahluk yang tidak benar-benar hidup, Gargo tidak merasakan sakit dan tubuhnya dapat dipasang kembali seperti mainan bongkar pasang.

Saat menempelkan kembali sayap itu, Gargo teringat akan satu hal serupa. Soal teman yang namanya terukir di makam ini, ketika orang itu mematahkan sayap Gargo dengan cara serupa.

"Lebih baik aku segera mencarinya. Ada orang-orang merepotkan akhir-akhir ini."


==3==
Takutlah pada Cahaya


"Gargo! Aku minta maaf,deh! Ini soal ikan goreng yang dulu itu,kan? Atau waktu perburuan di bulan november? Ehm... terserah! Pokoknya keluar dulu!" seru Nora.

Setelah keluar dari kawah, Nora langsung berkeliling, tapi dia tidak menemukan Gargo dimanapun.

"Dimana Gargo ini? Kalau gini aku yang ngerasa bersalah!" seru Nora.

"Eh, gimana kalau periksa asap di tengah kota?" saran Nora pada dirinya sendiri.

"Erm... ada cahaya di sana... aku nggak suka," jawab Nora.

"Aku juga nggak suka, sih... tapi si Gargo memang suka sembunyi di pinggiran bangunan besar,kan? Kalau dia sembunyi susah dicarinya!" ujar Nora, lagi pada dirinya sendiri.

"Oke, deh... Langsung ke tengah kota..." ucap Nora lemas.

Nora beranjak ke tengah kota dimana tampak asap dan cahaya. Jalanan yang dilaluinya sama seperti perkiraannya, sebuah pemandangan kota terlantarkan. Tidak jarang Nora melihat jalan setapak dari batu setinggi bangunan di sekitarnya, rata dengan tanah. Untungnya ada beberapa pohon yang masih tumbuh di tempat ini, sehingga pemandangan tidak terlalu hambar.

Sampailah dia pada gedung- gedung pecakar langit yang masih berdiri di tengah kota. Nora terkejut melihat bangunan-bangunan ini tidak berkarat ataupun rapuh setelah menjumpai perang besar dan dua tahun bebas perawatan, memang sebuah bukti peradaban yang maju. Sayangnya fondasi bangunan-bangunan ini tidak sekuat bahan bangunannya, beberapa gedung menimpa jalan, bersandar pada bangunan lain atau bahkan saling menumpuk.

Diluar perkiraan Nora, ternyata ada lebih banyak cahaya di sini. Beberapa datang dari orang- orang yang berpatroli sambil membawa lentera. Masing-masing memakai baju besi yang menutup diri secara keseluruhan, tapi tidak tampak banner negara apapun, sehingga Nora tidak bisa siapa kelompok yang ditemuinya.

"Siapa di sana?!" seru salah satu patroli, menghampiri bayangan Nora.

Nora yang pada dasarnya membenci cahaya langsung melarikan diri ketika melihat ada cahaya yang mendekat. Dia melompat masuk ke jendela salah satu gedung, kemudian bersembunyi di dinding sebelah  jendela itu. Cahaya redup lentera itu semakin mendekat, begitu pula dengan langkah kaki patroli di luar.

Untungnya patroli itu tidak berpikir untuk masuk jendela, cahaya lentera sang patroli yang perlahan menjauh dari jendela. Nora menghela nafas, merasa bersyukur bisa menemukan persembunyian seperti ini. Dengan hati-hati Nora memeriksa ada tidaknya patroli, lalu keluar seketika karena kondisinya aman.

Namun ketika melompat keluar Nora baru menyadari satu hal. Ketika dia melihat masuk ke dalam jendela lagi, terdapat sebuah lentera di dalam gedung itu dan dikelilingi oleh delapan orang berbaju besi yang tengah melonggo melihat Nora, tidak heran patroli tadi tidak memeriksa ke dalam jendela. Tampaknya Nora baru saja mengacaukan permainan kartu mereka.

"Penyusup!" seru para pasukan berbaju besi.

Setelah kalimat khas itu berkumandang, para pasukan di dalam bangunan itu berusaha keluar melalui jendela pelarian Nora. Sayangnya satu dari mereka sudah mencoba keluar dan malah tersangkut di bingkai jendela.

Nora segera kabur dari tempat kejadian perkara sebelum ada yang mengejarnya. Suara sirine alarm terdengar di tengah kota, Nora semakin mempercepat larinya supaya tidak tertangkap pasukan tadi.

Satu persatu markah jalan yang ia ingat terlampaui, pepohonan yang tumbuh liar, jalan yang lebih tinggi dari reruntuhan di sekitarnya, reruntuhan bangunan, hingga tampaklah padang rumput luas yang mungkin menjadi sawah sebelum kota hancur. Di ujung padang luas itu, Nora dapat melihat dinding tempatnya masuk.

Namun sebelum Nora menginjak padang rumput, tiba-tiba sebuah kantong kulit melintas di depan matanya, lalu meledak dan menghasilkan cahaya yang begitu menyilaukan. Nora tersungkur, menutup matanya yang seakan menjadi buta. Tubuhnya menggeliat, menggelinding dari sisi kiri ke sisi kanan dan sebaliknya.

"Cahaya seram! Cahaya seram!" kalimat itu terus diulang berkali-kali selama Nora bergelinding.

Setelah beberapa menit jerit dan panik, pandangan Nora kembali normal. Namun waktu penyembuhannya masih tergolong lambat karena dirinya sudah dikepung dari segala sisi oleh kelompok berbaju besi itu.

"T-Tidak... Jangan cahaya..." rintih Nora.

Masing-masing patroli berbaju besi itu membawa senter yang sangat terang. Sesuatu yang aneh karena tadi mereka membawa lentera. Pasukan patroli melangkah maju, mempersempit jarak antara Nora dan cahaya terang yang sangat dibencinya, cahaya yang membuat dirinya gemetar.

"E-Emi... Tolong..."

Dalam usaha menghindari cahaya, Nora menutup matanya dengan satu tangan, sedangkan dirinya berusaha keluar dari jangkauan cahaya dengan merangkak mundur. Namun pilihan panik itu kurang tepat, baru empat langkah dia mundur, punggungnya sudah menghantam kaki salah satu patroli yang langsung memukul kepala Nora, membuatnya tersungkur jatuh.

"Emi..." rintih Nora, suaranya mengecil mengikuti kesadarannya yang mulai memudar.

***

"Boss, ini tangkapan besar!" sebuah suara kasar membangunkan Nora.

Nora terkejut berada di tempat sempit, tapi paling tidak dia berada di tempat yang tidak terlalu terang. Tangan dan kakinya tak bisa digerakan, kemungkinan besar karena diikat. Posisi tubuhnya pun dibuat menekuk hingga lutut menyentuh rahang mulutnya, seakan dicoba untuk dimasukan ke dalam karung.

"Kita baru saja ngarungi "target" yang bagus, komandan," ujar si anak buah.

"Hohoho... dan maksud "karung" kali ini yang tulen, kan? Bukan yang setengah-setengah?" tanya si pemimpin dengan suara beratnya, sebuah pukulan  terasa di punggung Nora, memperjelas bahwa dirinyalah yang dibicarakan.

"Hehehe... ya jelas, komandan," ujar si anak buah.

"Tunggu apa lagi, keluarkan!" seru si komandan.

Nora dapat merasakan karung yang mengurung dirinya mengalami kenaikan ketinggian, lalu tiba-tiba sebuah lubang terbuka di ujung bawah tempat itu, mengeluarkan Nora yang seketika jatuh ke lantai. Hanya saja, Nora lanjut menembus papan kayu rapuh di bawahnya.

Nora menengok ke atas. Tampaknya ruangan di atas tidak terlalu banyak cahaya, sama seperti tempat di bawah lantai ini. Kalau dia bisa melepaskan ikatannya, pasti kabur akan menjadi lebih mudah.

"Dasar bodoh! Dia malah jatuh ke bawah!" seru si komandan.

"M-Maaf komandan... T-Tapi lantai kayu yang kita pakaikan juga dibeli setengah harga, jadi kita nggak rugi!" ujar si anak buah.

"Bukan itu masalahnya, tolol!" tegur sang komandan, lanjut dengan pukulan ke kepala anak buahnya. "Hei! Yang tadi di dalam karung, kamu masih hidup,kan?"

"Kasih aku pisau dulu baru aku jawab!" seru suara dari bawah lantai.

"Oh, dia nggak papa, toh," ucap si komandan.

"L-Lho?! Kok tahu?! Aku belum kasih tahu,kan?" tanya suara dari bawah lantai.

"Ohohoho!!! Gadis ini punya sifat Klutz rupanya!" ujar si komandan dengan riang.

Sebuah lentera diturunkan ke ruangan bawah lantai supaya dapat melihat Nora secara langsung. Melihat cahaya lentera saja Nora sudah menggigil ketakutan, air matapun mulai berlinang di pipinya.

"Ohoho... manis sekali kalau menangis."

Maka tampaklah sosok sang komandan. Dia bukanlah manusia, melainkan monster kadal humanoid, seperti manusia pada umumnya, tapi kulit mereka bersisik dan mereka memiliki penciuman tajam, terutama akan darah. Sebuah banner kerajaan terlihat di dinding lantai atas, tapi entah kenapa simbol kerajaan itu malah tercoreng oleh cat merah.

Sang komandan meletakan lenteranya di lantai atas, kemudian menyuruh bawahannya untuk mengambil "barang" berharganya. Norapun jengkel, bukan hanya menakut-nakutinya dengan cahaya, sosok komandan ini malah menikmati ketakutannya.

Ink Nora membentuk pisau dari sebagian jaketnya. Sebuah tangan hitam, terususun atas cairan Ink, mencuat dari permukaan jaket Nora, lalu mengambil pisau yang dibuatnya dan memotong tali yang mengikat dirinya.

"Sudah! Aku muak!"

Nora hendak mengambil pedangnya, tapi baru ia sadari senjatanya tidak ada di balik jaketnya. Kemungkinan besar pasukan kadal mengambilnya dan menyimpannya secara paksa. Tanpa Ink, Nora tidak akan bisa melawan siapapun.

Sempat terpikir untuk mencari senjata di ruangan tempatnya jatuh, tapi tempat ini lebih seperti gudang perabotan, bukan gudang senjata ataupun makanan. Tampak dari adanya meja-meja tua dan kardus-kardus tersegel.

Dengan berat hati Nora mengubah jaketnya kembali menjadi bentuk Ink, lalu membentuk sebuah pedang pendek.  Namun warna pedang tersebut tidak secerah pedangnya yang biasa, jadi kemungkinan besar pedang ini tidak sekeras logam alumunium yang sering dipakai, bahkan bisa jadi hanya sekeras kayu.

Suara dinding kayu dirobohkan terdengar dekat, tampaknya pasukan kadal sang komandan lebih suka membuat pintu baru daripada memakai pintu yang sudah ada. Nora segera bersembunyi di balik kegelapan, berharap untuk melakukan serangan kejutan.

Sebuah cahaya redup memasuki ruangan itu, lalu perlahan menghampiri tempat jatuhnya Nora. Ketika cahaya dari atas mengenai sosok pembawa cahaya, tampaklah sosok prajurit kadal tak berhelm yang membawa sebuah lentera.

"Aku tidak melihat gadis itu," ujar si prajurit tak berhelm. "Talinya sudah putus, bagaimana bisa?"

Dua cahaya redup ikut menghampiri prajurti pertama.

"Bagaimana kalau kita pakai senter saja?" tanya prajurit yang lain. "Lagi pula, konyol kalau kita pakai lentera, sedangkan kita punya senter!"

"Bodoh! Simpan sentermu!" seru yang lain. "Listrik mahal, tahu! Memangnya ada tempat isi ulang di dekat sini?"

Melihat para penjaga yang bercengkrama, Nora segera memanfaatkan kesempatan ini untuk mengendap mengitari mereka dengan harapan bayangan dan barang-barang di dalam ruangan itu menutupi dirinya.

Ketika sampai di "pintu masuk" yang dibuat ketiga kadal tadi, Nora langsung memekik pelan, mendorong dirinya mundur. Tampaknya dirinya telah dibawa ke sebuah kamp manusia kadal yang dibuat menggantung pada sisa-sisa bangunan kota kematian.

Nora dapat melihat sebuah bangunan pecakar langit di sisi lain yang ditempeli oleh sebuah struktur kayu setinggi empat lantai, kemungkinan buatan para manusia kadal. Sebuah api unggun besar menyala di tengah kamp dan ruangan-ruangan di dalam kamp diterangi oleh obor-obor yang menyala terang.

"Tidak! Tidak! Tidak! Terlalu terang!" gumam Nora pelan, ketakutannya pada cahaya membuatnya menolak keluar.

"Ada sesuatu di sana!" seru si prajurti tak berhelm seraya mengeluarkan pedangnya dan menghampiri pintu masuk, tidak mau targetnya kabur.

Dua prajurit lain ikut mengeluarkan senjata mereka, lalu menyapu sisi kiri dan kanan si prajurit tak berhelm untuk memastikan Nora tidak menyergap dari samping. Namun mereka akan segera menyesali langkah itu.

Jarak ketiga prajurit yang begitu jauh membuat mereka perlu lebih banyak waktu untuk merespon, sehingga Nora memanfaatkan kesempatan ini dan melempar sebuah kardus di sebelahnya pada si prajurti tak berhelm.

Ketika kardus itu menutup pandangan si prajurit, Nora melompat berdiri, menghujamkan pedang kecilnya pada kepala si prajurit. Sialnya, tanpa helm sekalipun pedang Nora tidak mampu menembus tengkorak keras kadal itu. Dengan cepat Nora mengunci lengan kanan si prajurit, lalu menghujamkan pedangnya ke kepala si manusia kadal.  

Si manusia kadal tersungkur, tergeletak di atas lantai kayu dan tak bernafas. Nora mengambil pedang prajurit itu, bersiap untuk menghadapi dua prajurit yang lain.

"Sialan kau!"

Salah satu prajurti kadal melaju dengan pedang di atas kepala, siap menebas. Namun Nora melihat titik kelemahan dalam ancang-ancang si prajurit. Dengan posisi tangan seperti itu, ketiak si kadal jadi terlihat, bahkan yang menutupi ketiak itu hanya sepotong kain tipis.

Seraya berguling, Nora melompat ke dekat si prajurti kadal, lalu menebas ketiak itu dari bawah. Lengan si manusia kadal menghuyun turun sambil mengerang kesakitan dan jatuh pada lututnya. Kini tangan kanan itu tidak bisa memegang senjata, tapi itu belum cukup bagi Nora yang hanya mematuhi hukumnya sendiri. Maka ditebaslah leher kadal itu dari belakang, membunuhnya seketika.

"T-Tolong, jangan!" pekik si prajurit terakhir.

Prajurit kadal itu gemetar, ia berjalan mundur hingga membentur dinding terjauh dalam ruang gelap itu. Nora menghampiri prajurit terakhir itu, hendak mengakhiri hidupnya secepat mungkin.

 "T-Tunggu dulu! Aku mohon! Jangan bunuh aku!" pinta prajurit itu. "A-Aku akan diam! K-Kau boleh kabur kalau kau mau! A-Aku berjanji!"

"Tidak. Aku sudah jengkel sama komandan kalian, jadi sekalian saja aku habisi kalian. Toh, nanti kamu pasti nggak akan nepati janjimu," ujar Nora.

"B-Bagaimana kalau begini! Nih! Ambil gada ini! Aku nggak butuh lagi!" pinta si kadal, melempar sebuah senjata tumpul berkepala tabung, gada besi, ke bawah kaki Nora.

Namun itu tidak cukup untuk mengubah pikiran Nora. Diangkatnya pedang itu, lalu dalam sekejap mengayun turun ke pundak si manusia kadal.

Dia sudah menyerah, Nora! Jangan dibunuh!

Sebuah panggilan dari masa lalu menghentikan ayunan pedang Nora, hanya meninggalkan sebuah goresan pada pundak si kadal.

Kalau kamu tidak berbelas kasih, apa bedanya kamu dengan para munafik yang kamu benci?

"Pergi," ucap Nora pelan.

Kadal itu tak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera lari tunggang langgang dari amarah Nora.

Setelah memastikan kadal itu pergi, Nora menarik mayat kedua kadal yang mati di antara tumpukan perabotan untuk menyingkirkan dari pandangan. Nora tidak bisa mencari pedangnya yang hilang dalam kamp musuh, jadi dia terpaksa membuat lebih banyak Ink dengan memakan mayat kedua kadal ini.

Kau tega memakan orang- orang yang menjadi korban ini? Orang-orang yang telah memperjuangkan keyakinan mereka sampai mati?

"Maaf, Emi... Aku harus melakukan ini," rintih Nora.

Cairan Nora  membungkus kedua mayat itu, lalu perlahan mencerna mereka. Dalam sepuluh menit, Ink yang membungkus mayat itu terbuka, hanya menyisakan baju besi para manusia kadal.

Nora telah mendapatkan cukup Ink untuk membentuk sepasang pedang, tapi untuk berjaga-jaga ia juga mengambil pedang masing-masing kadal itu dan gada yang ditinggalkan kadal yang kabur.

Jaket ungu Nora kembali terbentuk dari cairan Ink yang baru di dapat, sedangkan sisanya tersimpan di balik jaket tersebut. Nora hendak berjalan keluar, tapi sekali lagi, dia terhenti karena cahaya terang di lorong.

Takutlah pada cahaya, Nora. Karena disanalah mahluk yang lebih menakutkan dari kita hidup.

Tak mampu keluar ke sisi lain yang terlalu terang, Nora berjalan kembali ke lubang tempatnya jatuh. Dapat terdengar suara desah panik sang komandan dari lubang tersebut. Tampaknya dia cukup banyak mendengarkan apa yang terjadi di bawah. Sudah saatnya Nora memberi pembalasan atas tindakan si komandan.

Ink baru Nora dipusatkan pada kedua lengannya, lalu kumpulan Ink itu diperintahkan untuk memanjang hingga mencapai lantai kedua. Namun tangannya tidak memanjang sama sekali.

"L-Lho? Kok nggak bisa?"

Bukan hanya tangan, Nora mencoba membuat tombak dan tali, panah dan busur, bahkan serangkaian anak tangga untuk membantunya naik. Namun Inknya tidak membuat bentuk yang dimintanya, hanya mematuhi perintah dasar seperti menyebar, memisah dan kembali.

Hampir saja putus asa, Nora baru teringat kalau ruangan tempatnya jatuh adalah sebuah gudang perabotan. Baru saja dia hendak mencari, Nora sudah menemukan sebuah tangga tertekuk di sebelah kiri. Tanpa menunda, Nora memanjangkan tangga itu, meletakannya ke atas lubang jatuhnya dan menaikinya hingga ke ruangan di atas.

Sampai di ruang sang komandan, hal pertama yang dilihat Nora adalah sang komandan yang menggigil ketakutan, berusaha bersembunyi di balik sebuah kursi tahta dari kardus sambil meningintip keluar sesekali.

"Aku bisa melihatmu, cepat keluar!" seru Nora.

"A-Aku minta maaf, beneran!" sang komandan keluar dari tahtanya dengan dua tangan di atas kepala, "Aku akan membiarkanmu pergi, oke? Jadi kita bisa impas! Anggap saja ini tidak pernah terjadi."

"Hmm... aku sangat ingin mencincangmu habis-habisan.... tapi kata Emi aku ngga boleh bunuh orang yang menyerah... gimana,ya?" gumam Nora.

"Bagaimana kalau aku sajikan..."

"Oke, aku maafkan! Sekarang mana makanannya?!" seru Nora, lidahnya menjulur keluar mencari-cari di sudut ruangan.

"Ada di belakangmu."

Nora segera berbalik, tapi bukanlah meja sajian yang berada di sana, melainkan enam pasukan kadal berderet dengan senter di tangan masing-masing. Satu persatu senter menyala, Nora berusaha kabur dari cahaya senter, tapi kakinya terlalu gemetar untuk lari.

Nora mengenal salah satu dari kadal itu. Salah satunya memiliki luka gores di pundaknya, kemungkinan dari serangan yang ia batalkan tadi. Benar dugaan Nora, manusia kadal itu kembali sambil membawa bala bantuan.

"Nora si tinta hitam, bayaran untuk kepalamu bisa mencapai Satu juta koin emas," gumam si komandan. "Hah! Dan seperti gosip yang bertebaran, cahaya terang membuatmu menggigil seperti gadis kecil! Aku penasaran kenapa harga kepalamu bisa begitu tinggi."

Sang komandan menghampiri Nora dengan sebuah trisula berlapis sisik hijau, senjata tradisional para orang kadal, di tangan kanannya. Sang komandan mengangkat tombaknya, bersiap untuk menghujam Nora yang terlemahkan.

Namun sebelum tombak itu menghujam, tiba-tiba sebuah kantong kulit melintas di tengah ruang. Rasa Dejavu Nora ketika melihat kantong itu memerintahkannya untuk  segera menutup mata karena tahu akan segera keluar cahaya yang begitu terang.

Kantong itu meledak, menyemburkan isinya ke segala arah, tapi yang keluar bukanlah cahaya, melainkan serbuk hitam yang begitu melimpah sampai ruang itu seakan tertutup oleh kabut hitam. Berkat serbuk hitam itu, cahaya senter para kadal tidak lagi menyinari Nora.

"Cahayanya... sudah hilang!" seru Nora.

"Terus sinari gadis itu! Jangan biarkan dia kabur!" seru si komandan.

Kabut itu hanya bertahan selama sepuluh detik dan berangsur memudar, sehingga pandangan sang komandan kembali seperti sedia kala. Namun di depannya tidak ada lagi pasukannya yang menyinari Nora, sang tinta hitam telah membantai pasukannya dengan dua pedang yang diambil dari tentaranya sendiri.

"Jangan kira aku nggak punya senter!" seru si komandan.

Sebuah senter menyala terang di tangan si komandan, dilambai-lambaikan cahaya senter itu pada wajah Nora dan membuatnya menghindar ke kanan-kiri. Dengan cahaya senter itu, si komandan bisa mempermainkan Nora karena dia tahu Nora selalu menghindar ke arah yang tidak terkena senter si komandan.

Akhirnya si komandan memutuskan untuk berhenti bermain dan perlahan mendekati Nora sementara sang tinta hitam sibuk menghindar, bersiap dengan trisula di tangan. Namun belum satu langkah diambilnya, sebuah rasa sakit menembus punggungnya hingga ke perutnya.

Ketika ia menoleh ke bawah, sebuah mata tombak yang begitu besar seakan mencuat dari dalam perutnya. Kenyataannya, seseorang telah menusuknya dari belakang. Iapun tersungkur di atas lantai kayu, tak bergerak sama sekali.

"Gargo!" seru Nora.


==4==
Kemarahan dan Kesedihan


Terdapat sebuah pintu di belakang tahta si komandan yang mengharah ke lantai logam bangunan asli kota kematian. Di atas lantai itulah, Gargo berdiri setelah menghujamkan tombak panjangnya pada si komandan, kemudian menarik tombak panjang itu tanpa harus menginjak lantai kayu. Tanpa berbalik, ia memberi isyarat pada Nora untuk mengikutinya.

Sama seperti sebelumnya, Nora mengikuti Gargo dari belakang, berpindah dari bangunan berlantai kayu tadi ke bangunan lain di belakang tahta yang memiliki lantai dari logam. Lantai yang ia lalui telah ditebar dengan beberapa batu yang bisa menyala dalam gelap, menerangi jalan, tapi tidak terlalu terang sampai membuat Nora menggigil.

Jalan batu bercahaya Gargo terhenti pada sekumpulan batu yang membentuk lingkaran bercahaya. Gargo memasuki lingkaran tersebut, lalu berbalik pada Nora.

"Menurutmu siapa yang melempar ini?" ujar Gargo, menyodorkan sebuah kantong kulit yang membulat karena memuat sesuatu. Nora langsung mengenal kantong itu karena sudah dua kali ia menjumpainya.

"Jadi itu kamu yang ngelempar waktu aku kabur!" seru Nora. "Eh... tapi yang barusan kok malah ngeluarkan kabut? Isinya beda,ya?"

"Maaf tadi aku tidak bilang- bilang. Aku sengaja membuatmu tertangkap oleh pasukan kadal tadi untuk menjadi umpan. Karena terlalu sibuk denganmu, aku bisa menyusup masuk tanpa diketahui kadal yang lain," jelas Gargo. "Itu semua untuk membunuh komandan tadi."

"Memang kenapa? Siapa mereka?" tanya Nora.

"Para pelarian dari kerajaan manusia kadal di utara," jawab Gargo. "Mereka keluar dari pasukan mereka untuk menjadi kaya dengan menjarah pedagang malang yang lewat, tapi alasanku membunuh pemimpin mereka lebih dari itu."

"Kalau kerajaan lain melihat attribut pasukan kadal ini, mereka bisa mengira kerajaan asal pasukan ini hendak mengklaim teritori ini?" tebak Nora.

"Tepat sekali. Jika itu terjadi, perang tidak akan terhindarkan lagi," jelas Gargo.

"Tumben kamu peduli? Biasanya kamu tak acuh soal politik," ujar Nora. "Kamu mau jadi politikus?"

"Karena di "Kota Kematian" inilah dia dimakamkan," jawab Gargo.

"Siapa? Siapa yang dimakamkan di sini? Seorang temanmu?" tanya Nora.

"Sampai sejauh itukah kamu akan menyangkalnya?" tanya balik Gargo, "Emi kesayanganmu sudah tiada, Nora!"

"Cukup!" seru Nora, mengambil dua pedang jarahannya dari balik jas ungunya. "Emi masih hidup! Aku yakin!"

"Menyangkal kematiannya tidak akan menghidupkannya, Nora!" balas seru Gargo, memutar tombak mata gandanya hingga satu mata tombak menghadap ke depan, "Dia sudah mati sejak lama!"

"nggak! NGGAK! NGGAK!!!"

Dalam kemarahannya, Nora menebaskan kedua pedangnya pada tubuh batu Gargo hingga bilah kedua pedang itu patah karena ayunan Nora terlalu kuat.

"Kamu memaksaku, Nora!"

Sebuah pukulan mendarat di perut Nora, melemparnya hingga ke langit-langit. Ketika Nora terjatuh, sebuah tendangan memutar menyambutnya, melemparnya ke belakang. Namun belum jauh dia terlempar, sebuah ekor batu menghantamnya dari atas, menjatuhkannya pada lantai logam di bawahnya.

"Aku harus memakai cara kasar untuk membuka matamu, Nora," ujar Gargo. "Sekalipun aku harus membunuhmu, akan kutujukan padamu kalau Emi sudah tidak lagi ada di dunia ini!"

Nora bergelinding ke samping, menghindari tusukan dari tombak Gargo, lalu melompat berdiri. Kedua pedang jarahan Nora patah karena mengenai tubuh batu Gargo, jadi Nora hanya bisa memakai satu-satunya senjata yang dipunyainya, gada dari kadal yang kabur tadi.

Sempat terbesut ide untuk membuat pedang dari Inknya, tapi entah kenapa Inknya tidak menuruti. Tidak, ini seakan Nora lupa akan bentuk senjata yang biasa dibuatnya.

Gargo dan Nora menjaga jarak mereka. Nora tahu bahaya jangkauan serangan Gargo, tidak mau gegabah dan terkena tombak tersebut. Ia terus mengikuti gerakan Gargo, berjalan maju jika dia mundur dan berjalan ke arah berlawanan jika dia berjalan ke samping, menunggu kesempatan ketika Gargo menyerang.

"Aku benci yang namanya kedamaian, aku benci yang namanya kesejahteraan. Siapapun yang mengatakan itu adalah orang munafik karena mereka tidak pernah menepatinya," ucap Gargo. "Bukannya itu yang selalu kau katakan, Nora?"

"Ya, aku benar-benar benci kalimat itu, kenapa?" tanya balik Nora.

"Kalau begitu, bukannya Emi kesayanganmu juga munafik, Nora?"

Tanpa peringatan Nora menerjang maju, mengayunkan gadanya pada wajah elang Gargo. Namun serangan itu terlalu gegabah, Gargo dengan mudahnya menghindari ayunan gada Nora dengan membungkuk, bahkan menambah sebuah serudukan kepala yang membuat Nora kesakitan memegang perutnya.

"Sifat dasar manusia adalah perusak, tapi kita bertarung untuk melawan sifat terkutuk itu," ucap Gargo.  "Itu yang pernah dikatakan Emi,kan? Ironisnya..."

"Diam kamu... Kamu tidak tahu apa-apa!" potong Nora.

Gada Nora kembali melayang, tapi tertangkap oleh cakar besar Gargo. Tangan Gargo yang lain meninju perut Nora, mengirimnya mundur beberapa langkah lagi.

"Akulah yang selalu berada di sisi Emi kesayanganmu, Nora. Aku lebih kenal dirinya dibandingkan kamu!" seru Gargo.

Nora kembali menerjang, lalu melompat hingga di atas kepala Gargo. Sayangnya ia membentur atap ruangan itu dan terjatuh tepat di hadapan lawannya. Gargo segera menginjak punggung Nora, mencegahnya untuk bangkit.

"Dia juga pernah berkata..."

"Makan,nih!"

Nora tiba-tiba memukul celah di belakang lutut kanan Gargo, memaksa si Gargoyle mengangkat kakinya dan turun bertekuk lutut menahan sakit. Memanfaatkan kesempatan ini, Nora berdiri dan memukulkan gadanya pada kepala si Gargo.

Serangan itu membuat retakan besar pada wajah Gargo, tapi pada saat itu juga, sebuah retakan besar tetbentuk pada kepala gada itu. Nora mendecak, satu-satunya senjata untuk mengalahkan Gargo tidak dapat dipercayai.

Gargo kembali memanas-manasi Nora,"Dia pernah berkata "Kita harus menghargai perbedaan!", tapi dia sendiri tidak punya pendirian!"

Gargo kembali memukulkan tinju batunya, mengirim Nora  mundur lebih jauh. Namun Nora segera berlari ke arah Gargo, lalu melompat dan menendang kepala elang Gargo. Namun kaki Nora tertangkap dan dibanting ke lantai.

"Ketika ditantang bertarung tangan kosong dia berkata, "Pertarungan tanpa senjata adalah pertarungan paling adil!", tapi tubuhnya sendiri adalah senjata!"

Kaki besar Gargo melayang di atas Nora, tapi sang tinta hitam sempat menghindar sebelum kaki itu dijatuhkan.

"Sebelum pertarungan terakhirnya dia berkata "Aku akan terus hidup! Karena itulah, kalian semua jangan sampai mati!" Dasar munafik! Dia sendiri mati di pertarungan itu!"

Akhirnya Gargo mengambil tombak gandanya, melaju dan menusukan tombaknya ke depan. Nora hanya bisa menghindar ke samping, tapi Gargo telah memprediksi ini dan menghantamkan batang tombaknya ke samping, mengenai Nora telak.

"Dan kamu tahu yang paling parah? "Gargo, kamu tidak perlu menjaga lagi, kamu sudah bebas!" Dasar munafik!" ujar Gargo, tapi suaranya kali ini tidak menunjukan kemarahan seperti sebelumnya, melainkan gemetar.

Kepala sang Gargoyle tertunduk, menatap lantai di bawahnya,
"Apanya yang bebas? Kamu pikir aku bisa meninggalkanmu tanpa balas budi setelah membebaskanku? Kamu mati sebelum aku bisa membalas perbuatanmu, dasar sialan!"


==5==
Mereka yang Terantai oleh Kematian


Gargo kembali menerjang, menebaskan satu sisi tombaknya pada Nora. Pada saat itulah Nora melompat maju seraya bergelinding ke samping. Si marmer mengibaskan sayapnya, mendorong dirinya mundur sambil menarik tombaknya kembali untuk mengatisipasi gerakan Nora.

Melihat Gargo yang tidak menyentuh tanah, Nora tahu inilah kesempatannya. Seluruh jaket ungunya berubah menjadi cairan Ink, lalu menyebar dengan cepat di atas lantai. Ketika Gargo mendarat, kakinya terpeleset oleh cairan Nora yang licin dan secara ironis jatuh pada punggungnya, merusak sayapnya lagi.

Nora melompat ke atas tubuh Gargo, sambil melayangkan gadanya pada wajah batu Gargo. Wajah Gargo semakin retak, tapi itu tidak cukup untuk memutus kepala si mahluk marmer.

"Kena kau!" seru Gargo.

Kedua tangan Gargo menangkap Nora dari belakang, mendorongnya hingga membentur si mahluk marmer. Kuncian mahluk itu terlalu kuat, Nora tidak mampu melepaskan "pelukan" maut Gargo.

Nora terus meronta, berusaha memukul-mukul sendi Gargo supaya tangannya putus dan melepas kunciannya. Namun Gada retak di tangannya tidak bisa bertahan, dalam satu pukulan saja, kepala gada itu sudah terlepas dari gagangnya.

Terdengarlah suara tulang patah, maka saat itulah Nora terlepas dari kuncian Gargo. Nora berusaha merangkak ke arah Gargo, hendak memukulkan sisa gadanya pada si Gargoyle. Sayangnya kuncian itu telah merusak banyak tulangnya, terutama tulang punggung dan rusuk yang telah patah.

"Menyerahlah, akui dia sudah mati!" seru Gargo, kembali berdiri dan mengambil tombaknya.

"Tidak... akan... Emi masih hidup!" rintih Nora.

"Tulangmu sudah kupatahkan, bahkan untuk berdiri saja tidak bisa!"

"TIDAK! EMI MASIH HIDUP! AKU YAKIN!"

Dalam kegelapan yang hanya disinari cahaya rembulan dari jendela di ujung ruang panjang itu, sang raksasa marmer memandang sedih teman seperjuangannya dari dua tahun lalu. Teringat kembali akan sosok "Emi", dirinya pasti akan marah melihat dua sahabatnya bertikai. Namun Gargo tidak bisa membiarkan Nora menderita lebih lama.

Gargoyle adalah mahluk penjaga bangunan. Mereka diciptakan dalam bentuk patung supaya dapat membaur dengan wilayah bangunan yang akan dijaganya. Bentuk ini juga mencegah Gargoyle keluar dari wilayah yang dijaganya karena pasti akan mecolok dan bisa segera ditemukan. Atau dihabisi.

Emi adalah sosok yang membebaskan Gargo dari kekangan tersebut. Dia memberikan mantera perubahan wujud pada Gargo, sehingga si penjaga marmer dapat kabur dari kastil yang dijaganya.

Namun semenjak kematian sang pembebas, Gargo tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan pada akhirnya keinginan balas budinya menjadikan dirinya sebagai penjaga batu nisan Emi dan sisa-sisa kota kematian.

Tidak seperti Gargo yang terikat oleh tujuan penciptaan, Nora adalah sosok yang bebas. Sering kali Nora pergi dan kembali tanpa kabar, bermain sesuka hatinya, memakan apapun di hadapannya dan tidak pernah sekalipun Nora menunjukan ada "rantai" yang mengikatnya.

Namun sekarang, jika dibandingkan dengan Gargo, Nora terlihat lebih terantai oleh kematian Emi. Tidak bisa mengakui kematian orang yang paling di sayanginya dan berkelana demi mencari orang yang tak akan pernah ditemukan.

"Emi masih hidup, Gargo..." gumam Nora.

Suara retakan tulang terdengar berkali-kali dari arah Nora. Kedua tanganya mendorong tubuhnya ke posisi duduk, kemudian melempar dirinya ke dinding. Punggungnya tidak terasa nyeri lagi karena Nora telah memaksa Inknya untuk memperbaiki tulangnya dengan mengeraskan Ink tersebut di bagian yang patah.

Dengan sempoyongan, Nora berdiri lagi. Gargo memutar tombaknya, memukul Nora dengan batang tombaknya hingga menghantam dinding belakang ruangan.

Namun Nora menolak untuk diam, tubuhnya perlahan bangkit, semakin terdengar suara retakan tulang Nora, tanda dirinya semakin memaksakan kondisi tulangnya.

"EMI MASIH HIDUP!!!" seru Nora.

Gargo menerjang maju. Dengan pahit di hati, Gargo memutuskan untuk membunuh teman seperjuangannya. Satu serangan saja, maka Nora akan terbebas dari rantai kematian yang membelenggunya. Sang mahluk marmer menerjang maju dengan tombak di tangan kanan.

Takutlah pada cahaya, Nora. Karena disanalah mahluk yang lebih menakutkan dari kita hidup.

Karena tempat untuk mahluk seperti kita adalah di dalam kegelapan.

Namun ada satu peringatan Emi yang tidak diketahui Gargo ketika ia memasuki daerah di dekat Nora, daerah di ujung ruangan yang paling jauh dari cahaya rembulan. Dalam bagian tergelap ruang, sang Gargoyle tidak dapat melihat cairan hitam yang telah menyebar luas di atas lantai.

Terjangan Gargo berubah menjadi seluncuran, kakinya  menjatuhkan tubuhnya ke depan karena tergelincir dan kehilangan tombaknya, tapi dorongan dari larinya terus mendorong dirinya maju di lantai licin itu. Di hadapan Gargo adalah pintu yang membawa ke bangunan kayu para manusia kadal.

Nora menggenggam segenap keberaniannya, lalu melompat pada Gargo yang meluncur turun, menumpang di atas punggungnya. Cairan Ink Nora merayap ke leher sang Gargoyle, mengikatnya bagaikan sebuah kalung.

Ada alasan kenapa Gargo tidak bisa mengatasi para kadal sendirian, tubuhnya terlalu berat. Lantai kayu yang menopangnya selalu berlubang untuk setiap langkah yang diambilnya, jangankan mengalahkan komandan musuh, naik tangga saja dia tidak bisa. Hanya gedung peninggalan kota kematian saja yang dapat menahan beratnya.

Maka dari itu, lubang- lubang berdiameter besar terbentuk di setiap lantai yang berada di jalurnya. Bangunan kayu yang menempel di bangunan peninggalan kota kematian itupun roboh karena banyaknya lantai yang hancur.

Pada akhirnya, mendaratlah sang Gargoyle di tanah kota kematian, menciptakan sebuah kawah besar ketika menghantam tanah. Para manusia kadal berlarian ke sana-kemari, panik karena salah satu bangunan mereka roboh oleh sebuah meteor.

"Emi masih hidup, Gargo! Dia masih hidup! Masih hidup!" seru Nora dari atas punggung Gargo, memukul-mukuli punggung batu sang Gargoyle.

Gargo bangkit dari kawahnya, pecahan-pecahan tubuhnya tersedot ke dalam retakan-retakan tubuhnya, memulihkan segala kerusakan akibat kejatuhan hebatnya. Segeralah ia mencabut Nora di punggungnya, lalu menghempaskannya ke atas tanah.

Gadis itu kembali bangkit meski lukanya yang begitu parah. Jalannya sempoyongan, matanya tidak lagi terfokuskan, tapi mulutnya masih menggumamkan kata yang sama.

Emi Masih Hidup...

Nora menyandarkan dirinya pada Gargo, tapi tangannya masih memukul-mukul pelan.

Dalam hatinya, Gargo ragu. Awalnya Ia bertekad melepas Nora dari kesedihannya yang terus dipendam dalam senyum dan perilaku riangnya. Jika usahanya gagal, Gargo sudah siap untuk membunuh Nora untuk mengakhiri penderitaannya.

Namun melihat tindakan keras kepala Nora yang sekarat ini, Gargo merasa seolah kematian sosok itulah yang menjadi satu-satunya alasan hidup Nora.

Bukannya tidak mau mengakui, tapi tidak bisa mengakui. Karena dengan mengakuinya, itu sama saja dengan kehilangan tujuan hidup, tapi menghidupi hidup tanpa sosok yang telah mati itu bukannya sama saja dengan mengakuinya?

Mengakui kematian dengan menyangkalnya, suatu cara munafik dari gadis yang memunafikan orang lain.

"Sudah, Nora. Cukup sampai di sini," mulai Gargo. "Kamu menang. Aku tidak akan menghentikanmu lagi."

Mendengar ucapan Gargo, tangan Nora berhenti memukul. Dengan sponan tubuhnya jatuh, tapi ditangkap oleh kedua tangan besar Gargo. Mereka segera meninggalkan kumpulan sisa bangunan pecakar langit di tengah kota itu, berjalan menuju kawah di sisi barat kota.

Menengok ke atas, Gargo dapat melihat bulan purnama di atas langit. Teringat kembali bagaimana dia dan tiga teman lainnya sering tidur di atas langit berbulan. Gargo sang penjaga, Nora sang tinta hitam, Eye si serba tahu dan...

"Maaf, kawan aku tidak bisa membunuhnya,  tapi aku tidak tahu cara lain untuk menolongnya," gumam Gargo, melihat ke bulan di langit yang gelap.


==6==
Awal Suatu Mimpi


"Bangun~~~ Bangun~~~" suara gadis yang begitu riang mengganggu tidur Nora.

Gadis berjaket ungu itu membuka matanya, sayangnya ia tidak dapat melihat apapun karena sebuah bantal yang menutup wajahnya.

"Masih malam, nih... Aku lanjut tidur saja..." gumam Nora. "Eh, ada bantal di sini pakai,ya?"

Nora meraih bantal di hadapannya, membanting ke sebelahnya dan memakainya sebagai bantal. Entah kenapa ada getaran dari bantal itu hingga membuat wajah Nora merasa geli, tapi Nora terlalu lelah untuk memikirkannya.

"Lepas! Lepas! Aku bukan bantal! Eh... Iya, sih! Tapi bukan untuk ditiduri!" seru suara gadis itu.

"Nona Nora, bisakah anda melepas si kepala bantal itu?" pinta tegas seorang wanita.

Mendengar suara tegas wanita itu, Nora langsung berguling ke samping. Tangannya meraih ke dalam jas ungunya, hendak mengambil sebuah senjata dari balik jasnya. Namun hal yang sama terjadi lagi, Nora tidak bisa membentuk Ink miliknya menjadi senjata.

"Tenang, kami bukan musuhmu," ujar suara wanita itu.

Seorang wanita berbaju ringan menghampiri Nora. Wanita itu hanya mengenakan sebuah gaun putih, mantel coklat dan sebuah helm perang di atas rambut merah panjangnya. Namun insting Nora mengatakan wanita di depannya bisa saja menghabisi dirinya jika benar-benar serius.

"Uhuhu... Sepertinya aku menelan satu dua helai rambut..." seduh suara gadis riang tadi menyusul, hanya saja kali ini suaranya tidak terlalu riang.

Namun entah kenapa suara tersebut datang dari sebuah mahluk berkepala bantal. Pakaiannya tampak seperti jas hujan berwarna kuning, tapi pakaian itu begitu asing bagi Nora karena di dunianya tidak ada pakaian seperti itu.

"Kepala bantal?" tanya Nora.

"Namaku Ratu Huban! Senang berkenalan denganmu!" seru si mahluk berkepala bantal dengan riang.

"Dan aku Mirabelle de l'Artemisia, Konservator Musium seni," ujar wanita berseragam perang di sebelah Huban.

"R-Ratu?!" pekik Nora panik.

Mirabelle segera merespon, "Bukan, itu hanya..."

"YA! Benar! Aku adalah Ratu Huban dari dunia mi..." Huban menyahut, tapi menghentikan kalimatnya ketika melihat lidah Nora menjulur. "K-Kenapa kamu melihatku seperti itu?"

"Aku penasaran... Apa rasa gorengan Ratu kepala bantal lebih enak dari gorengan Ratu cumi-cumi,ya?" gumam Nora.

"T-Tidak! Aku tidak untuk dimakan! Mirabelle, selamatkan aku!" pekik panik Huban, bersembunyi di belakang Mirabelle.

"Nona Nora... tolong kendalikan keinginanmu," ujar Mirabelle.

Karena pada dasarnya Nora takut pada sosok Mirabelle, diapun tidak berani menentangnya. "Baik... aku tidak akan memakannya... untuk sekarang."

Huban memekik panik, semakin bersembunyi di belakang Mirabelle, sedangkan sang Konservator sendiri menggeleng-geleng melihat jalan pikir Nora.

"Demi Dewa... Nona Nora, tantanganmu adalah "Kill when Necessary", tapi dari sekian pertarunganmu, bukannya kamu membunuh terlalu banyak?" ujar Mirabelle.

"A-Aku tidak membunuh banyak! Malah aku sempat melepas satu kadal!" sahut Nora. "Yah... tapi dia juga kubunuh di akhir..." gumamnya.

"Dari total 150 manusia kadal yang kamu temui hari ini, 2 mati dalam pertarungan di gudang, 6 terbunuh di ruangan si komandan, 1 komandan mati karena Gargo dan 132 mati ketika kamu menumpang Gargo yang melesat jatuh," terang Mirabelle. "Dan kamu tidak mengalahkan lawanmu, si Gargo. Dia yang mengaku kalah."

"Membunuh karakter sampingan juga termasuk?" tanya Huban.

"K-Keberatan!" seru Nora. "Yang sembilan di awal memang aku yang bunuh, tapi si komandan dan 132 kadal lainnya dibunuh Gargo!"

"Paling tidak, dia tidak membunuh si Gargo,kan?" sahut Huban. "Atau lebih tepatnya tidak bisa~~~"


"M-Masih ada sebelas yang selamat,kan?" tanya Nora gemetar, "Lagi pula aku tidak ingat kapan mengambil tantangan ini!"

"Sembilan," koreksi Mirabelle, kini berpaling pada si kepala bantal yang bersembunyi di belakangnya. "Huban, apa kau sudah memperingatkan soal tantangan itu?"

"Seharusnya iya, melalui mimpinya!" seru Huban.

"Ah! Aku ingat sekarang! Kamu yang bilang Revolver, panggangan dan Alam mimpi,kan?!" seru Nora pada Huban. "Aneh... aku tidak ingat apa yang aku mimpikan."

"I-Itu keliru! Mungkin ada operasi sweeping mimpi oleh satuan patroli lalu mimpi!" ujar Huban.

"Maafkan saya, Nona Nora. Saya harus melaporkan sebuah tindakan kurang disiplin pada tuan Kurator," ujar Mirabelle.

"E-EH?! J-Jangan, Mirabelle!"

"Tolong buka portalnya, Huban," perintah Mirabelle.

"Iya..." jawab Huban lesu.

Baru saja Nora sadar, bahwa ada sebuah kumpulan kabut berwarna-warni di sebelah kirinya, sedangkan sisi kanannya terhubung pada hutan tempatnya tersesat di awal.

Huban mengambil sebuah tongkat yang dari tadi disembunyikan di belakangnya  dan mengayunkannya pada kabut berwarna-warni. Tiba-tiba sebuah pintu kayu muncul di depan Huban. Inilah "Gerbang Mimpi", sebuah Gerbang pada setiap ujung mimpi yang membawa ke pusat alam mimpi.

"Nora! Ambil ini!" seru Huban. 

Sebuah domba putih melompat keluar dari gerbang, menghampiri Nora.

"Jaga domba itu! Jangan dimakan! Kalau sudah siap, masuk ke gerbang ini!" seru Huban, lalu meninggalkan Nora, mengejar Mirabelle yang keluar lebih dulu.

"Mbeek,"

"Hmm... Enaknya digoreng langsung atau pakai kecap,ya?"

"MMMBBEEEKKK!!!!"

Domba baru Nora sudah takut terhadap sang tuan dari awal, kabur ke dalam hutan. Namun sang tuan tidak mengejar. Merasa ada yang janggal, si domba kembali ke tempat gerbang itu berada.

"MMMMBBBBBBBBBEEEEEKKK!!!!"

Si domba bahkan lebih terkejut dengan apa yang dilihat. Nora terbaring tak berdaya di atas kubangan cairan Ink yang terus merembes keluar. Si domba segera menghampiri tuannya yang sekarat, menariknya ke atas punggung meski dirinya takut dimakan dan membawanya masuk ke gerbang mimpi.


==Epilog==


Kata "Ratu" dalam nama Ratu Huban tidak memiliki makna sebenarnya, tapi tidak juga berarti kalau nama itu tidak memiliki makna lain. Faktanya, meski bukan ratu, Huban memiliki sebuah rumah "mewah" di dekat dataran gulali yang menjadi tempatnya bermain.

Sebuah rumah kecil yang hanya terdiri atas dua lantai. Dindingnya terbuat dari batu gula, tiangnya dari batang coklat dan gorden dari agar-agar, seperti sebuah rumah dalam cerita dongeng. Tidak banyak yang mengetahui tempat ini, tapi di rumah inilah Huban memelihara domba-dombanya.

"S-Selamat datang, Ratu Huban," seseorang menyahut Huban yang baru saja kembali ke rumah kesayangan menggunakan salah satu potal dimensinya.

"Iya..." jawab Huban lesu, melempar dirinya ke atas kasur.

"A-Anda tampak lesu. Apa perlu saya pijat?"

"Paman Mafia itu memarahiku..." gerutu Huban. "Ah, iya! Apa ingatanmu sudah kembali?" tanya Huban, tiba-tiba berdiri ceria lagi.

"Belum, ratu..." jawab lawan bicaranya.

Gadis yang sedang berbicara dengan Huban adalah seorang pembantu rumah. Ia ditemukan oleh Huban tidak sadarkan diri setelah menjelajahi suatu mimpi beberapa hari lalu, tapi entah mengapa ketika Huban kembali, gadis itu ikut terbawa bersamanya dan terjebak di alam mimpi.

Awalnya Huban penasaran kenapa gadis ini bisa terbawa ke dunia mimpi, tapi setelah ditanya, gadis ini ternyata tidak tahu, bahkan dia tidak ingat siapa dirinya dan darimana ia berasal.

Sebenarnya Huban tidak mau merawat seorang gadis yang amnesia dan sempat terpikir untuk menyerahkan kepada Mirabelle saja. Akantetapi setelah mencobakan beberapa pakaian untuknya, Huban berubah pikiran dan mengganti cita-citanya menjadi desainer baju. Tentunya, Gadis itu sebagai model uji cobanya.

Misalnya seperti saat ini, gadis itu mengenakan pakaian ala maid yang dihiasi oleh bulu-bulu domba. Rok pendek dan baju hitamnya dihiasi dengan hiasan bergelombang dari bulu domba putih, sedangkan celemek putih yang dipakainya bermotif  lingkaran-lingkaran besar yang melingkari lingkaran yang lebih kecil. Dan terakhir, sebuah pita besar mengikat rambut coklat pendeknya menjadi satu kuncir rapi.

"Hmm... Apa kamu tidak punya keinginan?" tanya Huban, menjatuhkan dirinya ke kasur lagi. "Baru saja aku melihat banyak peserta Turnamen dan mereka ikut pasti ada maunya," tambahnya.

"Keinginan..." gumam gadis pembantu itu. "Ayah..."

"Apa tadi?" Huban segera duduk, mendengar satu kata yang tidak pernah diucapkan sebelumnya.

"Saya rasa... saya mungkin punya keinginan," gumam gadis itu.

"Mungkin? Apa maksudmu dengan "mungkin" ?" tanya Huban. "Kamu sendiri belum yakin?"

"Iya, Ratu. Ada rasa mengganjal di hati saya, seolah mengatakan saya tidak boleh ada di sini, seolah saya harus berada di tempat lain," ujar gadis itu. "Saya harus di samping ayah saya yang..." gadis itu berhenti.

"Ayahmu yang?" tanya Huban, penasaran.

"Maaf. Saya lupa, Ratu."


==Epilog End==



"Past, other Past and Present
The two pasts came as diffrent story
Yet it all ended with a resent
While an undone story had no glory"

-Mocha H, BoR 2016, Preliminary Round of Nora the black Ink.

--

>Cerita selanjutnya : [ROUND 1 - 12A] 35 - NORA | THE BLACK LAMBS

15 komentar:

  1. Baru intro dan entri udah mainan breaking 4th wall... Dan di ending soal tantangan prelim disebut pula. Sengaja banget meta

    Ada beberapa typo, kayak melonggo, mengharah, dll. Beberapa kali 'patroli' disebut, tapi kayaknya kurang lengkap kalo bukan 'petugas patroli' atau semacemnya. Terus 'klutz', istilahnya berasa rada out of place di tengah narasi bahasa indonesia gini.

    Saya lumayan suka bagian Gargo berusaha nyadarin Nora. Dialog"nya jadi ngingetin sama entri saya sendiri yang ngobrol sambil berantem, dan konteksnya lumayan dapet di entri ini, jadi ga berasa cuma tempelan.

    Ngomong", Emi ini sebenernya apa? Dan dari namanya saya kira dia cewek, berarti Nora-Emi ini pairing yuri?

    Nilai 8

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih komentarnya, mas Sam!

      Dan... saya masih typo meski sudah dibaca ulang. Kalau perihal kata Patroli, itu merujuk penggunaannya sebagai nomina, bukan kata kerja dan saya rasa agak boros kata menambah kata petugas atau tentara.

      Soal Emi, saya sengaja membuat definisi Emi tidak diketahui untuk saat ini. Kalau menebak dari nama, jangan mengharap banyak~~~

      Salah satu dialog Gargo memberikan Hint kalau itu bukanlah nama asli Emi, melainkan nama panggilan yang dipakai Nora untuk si Emi.


      Sekali lagi, terimakasih!

      Hapus
  2. wow ceritanya panjang juga, tapi saya seneng karena ceritanya fokus ke Nora dan Gargo dan gak terlalu banyak filler. Karakterisasi Nora disini sangat bagus karena kerasa banget sifat koplaknya, dan juga ketakutannya pada cahaya. Tadinya saya kira ceritanya bakal berakhir pas si komandan kadalnya mati, ternyata abis itu lanjut berantem lagi, ajegileee.

    Dan Gargo beneran best bro sekali sampai segitunya mau nyadarin Nora kalau pacarnya udah mati, mantap deh buat saya.

    nilai 8

    OC: Tristana

    BalasHapus
  3. untuk ukuran 9100 kata ga berasa lho. asik gitu bacanya, lancar juga tanpa gangguan. Saya gabisa ngasik kritik apa apa dan kayakna bakal saya masukin ke favorite list saya ntar.

    Semoga saya bisa berhadapan dengan Nora kelak.
    Lumayan nambah koleksi

    Salam, William Amadeus Anderson
    Nilai : 9

    BalasHapus
  4. Wow? Ini beneran 9,1k? Ceritanya mengalir lancar sampai gak sadar XD

    Ekspresi Nora disini tergambar dengan sangat bagus melalui dialog dan kelakuannya. Yanderenya Nora sangat ditekankan disini, tapi sifat yang paling aku suka Nora bicara sendiri kayak deadpool lengkap dengan luwes dan cerobohnya. Untuk battlenya sangat seru lompat dari satu aksi ke aksi lainnya detail tapi mulus.

    Nilai : 9
    OC : Begalodon

    BalasHapus
  5. impresi pertama saya membaca entri ini : mengalir, penuh keceriaan (yang brutal), cameo asal2an, hot chick, author rempong,

    ini kenapa malah kayak intro pengenalan para kru film Deadpool..wkwkwkwk

    yah, jujur saja perkenalan dr Nora sendiri amat menghibur. entri ini sangat kuat di karakterisasi Nora yg bner-bener seenak udelnya. ga bisa dibilang jahat, ga bisa dibilang baik, Mocha sukses ngebawaainnya.

    9 dr Axel

    BalasHapus
  6. Oh, me dear Mocha..!
    Gak kerasa bacanya. Asik dan mengalir, cepat tanpa ketinggalan deskripsi penting. Gayanya? enak di baca. Tehnik penulisan, sama sekali gak buruk.
    Aku memang bukan master yang tau ini itu. yang jelas ini bikin aku suka.

    aku beri 9

    Sincerely,
    RJ Marjan
    Author of Lucas's Story

    BalasHapus
  7. alur yang menarik walau sempat takut dengan entry 9100 kata.

    cerita yang mengalir begitu saja tanpa ada yang memaksa. kukira Emi itu cewek, eh ternyata cowok pacarnya Nora. disini apa yang disampaikan Gargoyle untuk "menyadarkan" Nora terasa di pembaca seperti saya.

    tapi yang disayangkan masih adanya typo dan kurang spasi di beberapa kata. tapi itu tidak menghilangkan kenikmatan saya membaca entry ini..

    well, saya kasih nilai 9. semoga sukses..

    Dwi Hendra
    OC : Nano Reinfield

    BalasHapus
  8. Untuk membuat Entri Setengah-Serius-Setengah-Gendeng, saya rasa bung Mocha jago.

    Menyelipkan komedi meta dalam cerita beralur serius itu susah-susah gampang. Dan eksekusi Nora berhasil. Untuk plot yang cukup dalam Nora berhasil mengemasnya dengan narasi-narasi yang tidak begitu berat.

    Adegan pertarungannya juga full pack banget. Sejauh ini battle Nora yang paling bikin saya senang.

    Soal penokohan jangan ditanya lagi. Nora udah solid banget.

    Pantas lah kalau dikasih 10 dari saya. Saya puas banget baca Entri Nora.

    Salam Sejahtera dari Enryuumaru dan Mbah Amut

    BalasHapus
  9. Saya tidak bisa berkomentara apapun pada cerita ini

    Cerita ini benar2 mudah dinikmati dan keren abis

    untuk typo2 saya sih nggak masalah

    Nilai 10/10

    PenulisDadakan (Arca)

    BalasHapus
  10. Sebelum ngasih review ke om Mocha, Umi kasih nilai dulu : 9/10

    kenapa 9? kenapa ga 10? tanggung amat?

    Yah, itu karena dan hanya karena, Umi sebel di awal Umi ga nemu alasan kenapa Gargo segitunya pengen nyadarin Nora dan kenapa Nora sampai segitunya cinta ke Emi.

    Tapi, kenapa 9? kenapa ga 8,7,6,5,4,3,2,1?

    Karena ceritanya bagus. Plotnya juga. Alurnya dan Umi iri sama battle-nya yang bikin Umi berimajinasi. (ajarin dongg~~ )

    Umi juga suka narasinya. Dialognya juga sederhana. XD

    Last, Semoga lolos~

    OC : Song Sang Sing

    BalasHapus
  11. GHOUL : “Tak suka pake alas kaki? Sama dong!
    Kirain itu darahnya, rupanya tinta ya?
    Ga begitu suka adegan membunuh binatang, hiks!
    Duh praktisnya caranya makan, ga usah buka mulut dan capek2 mengunyah dah kenyang segala. Tapi bisa mengalami penyempitan rahang dan gigi2 bungsu geraham belakangnya bakal kena amputasi karna tak cukup ruang hingga harus dicabuti mua. Mana biaya operasi giginya mahal lagi. Huft. Tapi unik cara makannya tuh ga makan banyak waktu n ga usah gosok gigi. Gak usah dimasak pula, jadi deh di perut. Kalo pake metode unik kayak geneh, hum ini lawan yang menantang buatku, hehe…”

    SHUI : “Hamper aja ngomel karna narasi prolognya bertele-tele, eh pas nguap langsung ngakak gara2 si nora menyelah si narrator.” (sudut mulut lecet2 saking terbuka lebarnya ne mulut).

    SUNNY : “Gusti mah huruf g besar.
    Masih banyak typo dalam artian kekeliruan pemakaian atau kekurangan EYD-nya. Coba liat halaman 93.
    Tuh OC-nya kayak bicara ama authornya dalam bentuk narator ya, hehe unik banget kayak sahut menyahut…
    Terbenggalai ato terbengkalai? Coba cek huruf paling kanan. Ya, kanannya lagi terus belok kiri.
    Butuh jasa editing naskah? Ntar ditraktir buka puasa ya, aku tunggu di distrik kabut asap, di sini buka puasanya jam 6 teng.”

    GHOUL : “Kalo makan kayak getuh membatalkan puasa gak ya? Kan ga ditelan hehe…
    t-tidak mungkin! Kenapa aku memberi nilai 8 pada entri ini?! Apa saja yang kupikirkan?
    Ah dahlah. Dah waktunya buka puasa. Yeeeeeeeeeeee!!!
    Eh, gak puasa ding…”

    BalasHapus
  12. Hmm, hmm.. saya bingung mau komentar apa. Ini cerita yang lumayan seru, tapi pengembangan tiap adegannya terlalu hambar dan sedikit dipaksakan. Entah, saya sendiri tak tahu.

    Tata bahasa, saya gak memperdulikan. Jadi, oke aja kok.

    Gak perlu banyak komentar saya rasa, mungkin 8 pantas saya berikan :3

    -Salam, Hyakunosen.
    OC: Satan Raizetsu

    BalasHapus
  13. Banyak cerita bagus di lingkaran entri saya. alamak. gawat nih. haha
    ini entri panjang lagi, dan yang menonjol dari entri ini adalah gaya narasinya yang lancar, gak bikin tersendat bacanya. ada typo sih, tapi gak begitu ngeganggu, mungkin karena saya juga langganan typo. hehe

    Btw, suka banget karakter Nora. ini karakter yang gak akan pernah bisa saya buat.

    9/10 dari Bian Olson.

    BalasHapus

  14. Karakter Nora bagus juga, pertamanya saya kira dia bakal tipikal yang, well ... gampang ketebak. Tapi kesininya kayaknya mulai berkembang. pembawaan Gargo juga pas jadi penyeimbang buat sifat Nora yg ekspresif itu, dan sekalian jadi pemantik tumbuhkembangnya(?) karakterisasi Nora di entri ini
    Nilai 8 dari Olive

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.