Minggu, 29 Mei 2016

[PRELIM] 24 - MIA | KUPU-KUPU YANG TIDAK BISA BERHENTI BERMIMPI

oleh : meridianna

--

Judul: Kupu-Kupu Yang Tidak Bisa Berhenti Bermimpi
Alignment: Chaotic Netral (Necessary Kill)



-How do I know that enjoying life is not a delusion?
How do I know that in hating death we are not like people who got lost in early childhood and do not know the way home?-

"Kau ... Reverier, dan ... membuat Mahakarya ... di Alam Mimpi. Mencapai ... mampu ...  duniamu."

Mata Mia membuka dengan berat setelah semalaman berusaha mengalahkan boss.

Bagus, pikirnya. Mimpi apaan gue semalem. Bikin kepala pening saja.

Dia tidak sadar kalau itu karena ulahnya sendiri, main game tanpa henti. Sampai tengah malam, demi boss di game RPG klasik yang mulai dilupakan orang.

Sambil berusaha untuk sadar, dia bangkit dari tempat tidurnya. Berkali-kali dia ingin tidur lagi tapi selalu dihentikan oleh suara indah itu. Suara lelaki tampan yang menumpang dirumahnya. Dan lelaki itu sedang membuka tirai jendela kamarnya sekarang. Lalu sorot sinar matahari langsung mengenai mata Mia.

"Selamat pagi, Mia. Cuaca cerah sekali hari ini." 

Ooh Dietrich, sungguh aku ingin menciummu namun juga menusukmu. Tapi mana bisa, dia kan setan, pikir Mia.

Seperti itulah, Dietrich adalah setan dari 72 Lesser Key of Solomon bergelar President yang dipanggil oleh Mia karena bosan. Siapa bilang rasa bosan tidak berbahaya.

Wujud Dietrich seperti layaknya lelaki tampan yang ada di dunia ini. Rambut hitam berkilauan seperti sayap gagak, diikat ke samping. Tampan seperti lelaki Yunani yang gagah dan mengalihkan setiap mata yang memandang. Hanya matanya yang terlihat tidak seperti berasal dari dunia manusia, berwarna ungu seperti bunga kecubung. Misterius dan aneh. Dia berperilaku sangat sopan dan penuh etika, sampai Mia berpikir lebih baik sekalian jadi gigolo saja setan ini. Dia terlihat sangat sempurna, kecuali satu hal. Pakaiannya selalu membosankan. Kemeja putih dan celana hitam. Hanya itu saja yang selalu dikenakannya. Tidak ada jas atau tuxedo. Tidak pula pakaian yang necis ala model. Padahal tubuhnya sudah seperti supermodel.

Sedangkan Mia, yah hanya Mia. Wajahnya sebenarnya cantik dengan rambut emas berkilauan, mata biru yang besar, mulut kecil berwarna merah. Cantik bagaikan boneka, kalau diam dan tidak membuka mulut. Saat membuka mulut, hal-hal yang keluar biasanya membuat orang hilang selera karena tidak jarang bicaranya membuat orang sakit hati. Dengan kata lain, mulutnya kasar. Kontradiksi ini membuat takjub, seakan Tuhan memang suka bercanda. Matanya yang besar pun akhir-akhir ini terlihat menyipit karena dia sering kekurangan tidur. Seperti sekarang ini, dia harus memicingkan mata karena sinar matahari pagi terlalu kuat untuknya. Dan mulai menimbang-nimbang bagaimana cara untuk memblokir sinar matahari ke dirinya.

"Dietrich... kenapa setan sepertimu selalu semangat di pagi hari? Bukannya seharusnya di malam hari? Aku baru tidur jam 4 pagi dan sekarang masih jam 6!!"

"Agar pemalas sepertimu juga semangat." Jawab Dietrich sambil senyum secerah matahari yang ada dibelakangnya. Silau.

"Balasan ini... sangat efektif. Dasar gigolo!! Sekarang mau jadi apa kau?! Ayah rumah tangga? Kalau ada ibu rumah tangga berarti pastinya ada ayah rumah tangga kan! Jadi itu kau!? Dasar ayah rumah tangga!!" Mia mulai meracau karena tidurnya diganggu. Tidak ada orang yang suka diganggu saat tidur.

"Mia, aku mengerti kamu tidak suka dibangunkan pagi-pagi. Tetapi bukankah hari ini kamu ada pekerjaan menyelidiki kasus itu?"

Secara resmi, pekerjaan Mia adalah NEET. Alias pengangguran sejati. Tapi terkadang dia dimintai tolong untuk membereskan kejadian yang tidak bisa dijelaskan. Dengan kata lain, yang berkaitan dengan hal mistis. Itu sudah seperti kutukan yang melekat di keluarga Mia, von Rosendorn, thorn of roses. Seperti sulur berduri yang melindungi bunga mawar dari penganggu, keluarga Mia ada untuk melindungi kota Kreuzenglocke. Tapi dari keluarga kuno itu, hanya dia yang tersisa. Dan penerus satu-satunya keluarga ini pun sudah enggan melakukan tugasnya. Dia tidak pernah merasa berkewajiban melindungi orang, dia bahkan tidak pernah suka dengan keluarganya sendiri. Apa yang perlu disukai dari keluarga yang melakukan percobaan terkutuk pada anggtotanya sendiri?

"Kasus apaan? Orang mati berturut-turut itu? Orang mati kan sudah biasa."

"Iya, tetapi mati karena mencekik dirinya sendiri itu bukan hal biasa."

"Oh seperti film horor kelas B. Tapi kenapa harus aku? Polisi di kota ini kan bagus."

Dietrich menatapnya tidak percaya, seakan ingin bilang, 'Tolong jangan lakukan hal ini lagi.'

Mia sadar itu jadi dia beranjak pergi dari kamarnya ke ruang tengah, yang berfungsi sebagai ruang makan juga ruang keluarga.

"Oke, oke. Jangan menatapku seperti itu. Rasanya aku sedang dihipnotis saja. Pintar sekali kamu membalas omonganku. Hm... Ada sarapan kan? Hiya wi goo." Mia berjalan menyeret-nyeret kakinya, sangat tidak bersemangat.

Setelah sampai di meja makan, Mia menatap makanan yang disediakan.

"Oh kopi susu. Kau tahu saja kebutuhanku apa. Serius deh Dietrich, tidak ingin jadi suami rumah tangga?"

"Saya adalah setan, kalau hanya seperti ini, mudah sekali untuk melakukannya."

Sambil menyeruput kopi itu, Mia mulai sadar kembali. Perasaannya mulai membaik. Efek susu dan kopi selalu membuatnya tersadar. Lalu dia kembali berbicara hal aneh lagi.

"Ngomong-ngomong aku selalu penasaran. Kamu pastinya sudah bertemu Tuhan. Seperti apa Dia?"

Wajah tampan Dietrich mulai mengkerut. Dia tidak pernah suka dengan topik ini.

"Dia.. yah Dia adalah Yang Maha Kuasa. Saya rasa itu cukup menjelaskan. Walau saya harus jujur, saya tidak pernah suka dengan air karena selalu mengingatkanku pada-Nya."

Oho, masa lalu kelam nih, pikir Mia. Kapan-kapan bakal kukorek masa lalunya.

"Tetapi Mia, saya pikir kamu tidak percaya pada-Nya."

"Tidak sopan. Aku percaya kalau Tuhan ada kok. Cuma masalahnya aku tidak percaya dengan kesan yang diceritakan oleh agama-agama. Yang Maha Baik dan Pemurah itu. Wah entah ya beneran baik dan pemurah."

"Iya, kalau memang benar baik dan pemurah, tidak perlu ada kejahatan dan kesedihan di dunia ini kan. Kurasa Tuhan hanya gampang bosan dan suka iseng." Tambahnya.

Mia mengunyah roti yang ada di depannya dengan lahap. Seketika, semua roti tidak bersisa.

"Aku sudah kenyang. Dan cukup sadar. Selanjutnya ngapain yah.. ah lanjut game kemarin saja. Sial, mentang-mentang aku ambil hard mode, masa normal attack saja damage cuma 1-2 point. Dasar boss sial. Masa harus keluarin segala jurus tertinggi. Boros MP woi. Item juga menipis cih. Game turn-based macam ini kadang gampang kadang susah bikin emosi. Tapi kalau normal/easy mode itu membosankan. Wah aku jadi kayak menggali kuburan sendiri nih." Mia mulai meracau lagi. Dia memang sering berbicara asal, selalu sesuai dengan suasana hati.

"Mia... satu jam lagi ada utusan polisi yang datang untuk kasus itu."

"Wah Dietrich, kenapa kamu mengingatkanku soal itu." Tapi Mia sudah duduk di sofa dan memegang handheld ditangannya. Siap memulai permainan.

"Ini sebenarnya aneh. Kamu selalu menganggap diri sebagai pemalas sejati—"

"Tapi aku memang pemalas kok!" sela Mia.

"—lalu kenapa kamu biasanya semangat main game dan makan cemilan?"

"Ck, ck, ck. Ini salah persepsi orang-orang. Malas itu bukannya tidak ingin melakukan apa-apa dan hanya berdiam diri. Tidur seperti kerbau. Kecuali kalau memang suka tidur. Yang benar adalah hanya melakukan apa yang diinginkan. Seperti seseorang yang bercita-cita jadi penulis di suatu tempat. Di suatu hari ada sejenis sayembara untuk penulis amatir. Dia awalnya ikutan dengan semangat. Tapi setelah diminta melakukan revisi untuk tulisannya, tahu apa dilakukannya? Dia malah main action game yang telah lama ditunggunya, demi kapten rambut pirang yang tampan. Lalu melupakan batas waktu terakhir perbaikan tulisan dan di-diskualifikasi. Konyol? Mungkin. Baginya ini masalah keinginan pribadi dan prioritas. Dia hanya menyesal sedikit dan mengangapnya sebagai hal yang nggak bisa dhindari." Lalu Mia melanjutkan bicaranya.

"Lagipula manusia tidak mungkin tidak melakukan apa-apa dalam waktu lama. Mereka akan berusaha melakukan sesuatu, entah itu berimajinasi, bersenandung, mengenang masa lalu, mengenang mantan. Kalau seseorang diam terus-terusan, yang ada dia akan mulai gila dan melihat halusinasi. Segila apapun aku, aku nggak mau kalau sampai nggak bisa membedakan kenyataan dan khayalan. Ogah banget."

-And yet fools think they are awake, presuming to know that they are rulers or herdsmen. How dense!-

....

Mia diam sejenak

"Kenapa?"

"Ah tidak. Aku seperti teringat sesuatu. Gara-gara kamu sih tanya aneh-aneh."

"Apa boleh buat, manusia seperti misteri bagi saya. Kamu tidak mengarang atau mencari alasan sekenanya bukan?"

"Enak saja. Aku pernah baca essay penelitian soal rasa bosan. Itu sah sebagai penelitian ilmiah tahu."

Dan dia bisa menyempatkan diri membaca essay penelitian tapi tidak untuk menghentikan pembunuhan berantai. Manusia sungguh makhluk yang menarik, pikir Dietrich.

"Lalu entah kenapa ceritamu itu terasa nyata sekali. Namun juga sangat metafisik."

"Ah nggak perlu dipikirkan. Itu hanya gambaran saja."

Mia kemudian mulai bermain lagi. Dietrich yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.

Sudahlah, masih ada waktu sekitar satu jam, pikirnya.

Satu jam pun berlalu. Yang ditunggu pun akhirnya datang, si utusan polisi. Mia yang melihat siapa yang datang hanya melengus pelan.

"Hah, kupikir siapa, ternyata kamu, Julian. Tahu gitu aku tidur saja tadi."

"Lamia von Rosendorn, aku membawa tugas untukmu. Jadi kuharap kau berterima kasih padaku." Timpal Julian.

Julian adalah polisi muda berambisi dari kepolisian setempat. Mia tidak pernah akur kepadanya karena sifatnya keduanya sangat berbeda.

"Tugas darimu tidak pernah menyenangkan, tahu tidak sih? Dan juga, jangan sebut namaku secara lengkap." Kata Mia dengan ketus. Dia tidak pernah suka dengan nama lengkapnya, terutama nama keluarganya.

"Karena hanya dengan cara ini, aku bisa mendapatkan perhatianmu. Lagipula, bersenanglah. Aku punya sesuatu yang pastinya kamu suka."

Lalu Julian menyodorkan kotak yang selama ini dia bawa. Mia melihatnya dengan curiga namun tetap membukanya. Dia terkejut melihat isi sebenarnya dari paket itu.

"I-ini?!"

"Ya, edisi pertama dan terbatas 'Trails of the Zeroth Treasure'. Sangat langka."

"Dari mana kamu dapatin ini?! Aku sudah nyari kemana-mana nggak ketemu!!"

Yang dimaksud adalah game RPG klasik legendaris. Sangat diburu oleh kolektor jadi harganya sangat mahal.

"Anggap saja, kekuatan dari ini." Julian menunjuk saku di jasnya, dimana lencana polisinya tersimpan.

Kurang ajar, dasar pelayan negara, penyalahgunaan kekuasan!, pikir Mia dengan kesal.

"Oke, baiklah, silakan beritahu info yang anda punya, Herr Julian." Mia berusaha sopan, sama sekali tidak cocok dengan sifatnya dan kontras dengan sikapnya barusan.

Julian tersenyum puas melihat Mia seperti itu, yang gelisah sambil memandangi paket itu terus. Dietrich hanya kalem memandangi mereka semua. Baginya dia seperti melihat tontonan yang bagus.

"Akan kuceritakan secara singkat, sisanya kamu cari sendiri." Kata Julian memulai. "Mungkin pelayan—"

"Dia bukan pelayan tapi orang numpang!" sela Mia.

"—di belakangmu sudah memberi tahumu, selama 2 minggu terakhir ini sudah ditemukan 7 mayat orang mati secara misterius. Mereka mati mencekik dirinya sendiri, dengan tangan mereka sendiri. Kamu sendiri pastinya paham, tidak ada manusia yang bisa mencekik dirinya sendiri." Lanjut Julian tanpa memperdulikan selaan dari Mia.

"Tapi orang bunuh diri kan sudah biasa."

"Iya, tidak dengan mencekik dirinya sendiri. Secara teori, boleh kamu praktikan sendiri, tenaga manusia tidak cukup kuat untuk mencekik dirinya. Makanya orang yang ingin bunuh diri menggantungkan tali di tempat tinggi. Atau terjun dari tempat tinggi."

"Film horor kelas B...." kata Mia, masih tidak tertarik.

"Semua korban tidak menunjukkan kesamaan yang berarti selain kondisi kematian. Benar-benar acak. Dan... oh ya, ada satu hal lagi yang harus kukatakan padamu. Surat ini ditemukan di dekat mayat, di semua mayat. Terkesan seperti tulisan omong kosong, tapi kurasa kamu tahu maksudnya." Kata Julian sambil memberikan secarik kertas.

Mia menerimanya, lalu membacanya sambil tidak percaya. Dietrich yang dibelakangnya juga ikut melihatnya. Kata-kata di kertas itu berbunyi, 'Hei boneka terkutuk dari bunga mawar berduri yang tidak laku.  Aku menunggumu.'

Julian mengerutkan dahi

"Aku tidak mengerti apa maksud dari tulisan itu. Benar-benar terlihat omong kosong."

Wajah Mia seakan pasrah setelah membaca itu. Ekspresi mukanya benar-benar menyiratkan keengganan yang sangat untuk melakukan penyelidikan ini. Dia seakan sudah bisa menduga siapa yang menulis itu, dan ditunjukkan kepada siapa.

"Aaaaa...sepertinya aku tahu yang dimaksud siapa. Duh malasnya..."

Julian masih terlihat bingung. Mia yang melihatnya, hanya mengarahkan jari telunjuknya kepada dirinya sendiri, dalam diam. Seketika Julian sadar.

"Oh, jadi yang dimaksud di kertas ini kamu?"

Mia mengangguk kecil.

"Berarti kamu tahu siapa pelakunya? Kenapa kamu bisa tahu?"

"Tidak dengan pasti. Bisa dibilang aku sudah bisa menduga siapa pelakunya karena aku pernah menerima tulisan semacam ini sebelumnya. Ah paling-paling kenalan lelaki tampan yang dibelakangku ini."

Julian belum tahu mengenai identitas Dietrich sebenarnya adalah setan. Dia menganggap Dietrich adalah pelayan Mia, dan Mia tidak mau mengakuinya hanya karena malu.

"Dietrich... kenapa kamu bisa kenal kriminal seperti ini? Kupikir kamu adalah orang yang baik.."

Mia ingin ketawa tapi dipendamnya. Sambil iseng dia mulai bercerita dan memasang ekspresi serius, sedih dan cukup meyakinkan.

"Julian, tidak tahukah kamu kalau Dietrich ini sebenarnya masa lalunya sangat menyedihkan..? Sejak lahir orang tuanya sudah meninggal, lalu dia dibesarkan di panti asuhan. Tapi orang-orang panti asuhan itu sangat kejam padanya, jadi dia kabur dari sana ketika remaja karena tidak tahan. Saat itulah dia mulai mengenal berbagai macam orang, seperti pencopet dan prostitusi misalnya. Ketika dia kebingungan, ada seorang prostitusi baik hati yang menampungnya dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Dia pun diasuh oleh wanita baik itu hanya sampai dia menginjak dewasa. Wanita itu meninggal karena penyakit kronis yang lama dideritanya. Seperti kehilangan harapan, dia pun hanya bekerja serabutan tanpa tujuan. Kemudian akhirnya dia bertemu denganku dan aku tampung disini. Rumah ini terlalu besar untuk satu orang kan."

Julian tersentuh mendengar kisah Mia tentang Dietrich. Matanya berkaca-kaca saat melihat Dietrich. Sedangkan Mia berusaha keras agar ekspresi sedihnya tidak berubah menjadi tawa.

"Dietrich.. tak kusangka kamu sudah melalui banyak hal... Maafkan aku karena sempat meragukanmu. Aku yakin kamu adalah orang baik. Tidak masalah jika seseorang pernah terjerumus kejahatan karena aku yakin tiap orang sebenarnya baik di dalam hatinya." Julian seperti mengeluarkan aura malaikat yang bersinar yang penuh kebajikan.

Dietrich memandang Mia dengan tidak percaya. Mia hanya memandang balik Dietrich.

Julian kembali memandang kertas kecil itu.

"Tunggu, dari mana kamu tahu kalau kamulah yang dimaksud?"

"Ingat nama keluargaku. Rosendorn, sulur mawar. Simpel kan."

"Jadi kamu tidak laku begitu?"

"Karena memang aku nggak pernah pacaran. Hussh, nggak perlu dibahas. Jangan pernah membahas masa lalu seorang wanita atau kamu akan ditampar."

Julian hanya membalas singkat, "Okay."

"Dan Julian, kamu memberiku itu setelah kasusnya berhenti ya..." Mia menunjuk paket disamping Julian. Diam-diam dia tidak pernah melepaskan pandangan dari kotak itu.

"Tentu saja."

Mia hanya menghela napas pelan.

"Haa.. sejujurnya aku malas banget tapi ini demi itu. Apa boleh buat dah. Julian, berikan aku alamat para korban."

"Tidak perlu. Aku sudah meringkasnya di laporan kecil ini." Dia menjulurkan beberapa kertas kepada Mia.

"Wow, efisien sekali kau. Begini ya polisi teladan."

Lalu Mia pun langsung pergi ke tempat kejadian setelah membaca singkat laporan itu, meninggalkan Julian tanpa bicara apa-apa. Dan Dietrich segera menyusulnya.

----------

"Haaa... bertanya-tanya ke sekeliling benar-benar merepotkan. Dan membosankan. Dan merepotkan." Kata Mia tidak bersemangat.

"Lagipula ini sia-sia kali. Ngapain juga aku harus tanya satu-satu ke para saksi. Pastinya sudah diperiksa sama polisi kan?!" lanjutnya dengan kesal.

Mia berhenti mendadak dan membaca laporan itu sekali lagi. Seakan mendapat ide, dia langsung berbalik menuju tempat lain.

"Ada apa?" tanya Dietrich.

"Daripada pakai cara berbelit-belit, lebih baik pakai cara langsung. Seperti yang dikatakan Sun Tzu, serangan terbaik adalah yang seperti petir, cepat dan tepat. Kita periksa para tersangka saja."

Bukannya karena tidak ingin repot kan? Dan kenapa tidak dari tadi?, pikir Dietrich diam-diam.

"Ah! Orang yang ini, yang memiliki hubungan dengan semua korban walau tidak secara langsung. Aku malah heran kalau dia bukan tersangka utama." Yang dimaksud Mia adalah Andrè, pengangguran yang tinggal sendiri. Laki-laki ditengarai terlibat dengan semua korban. Walau begitu, menurut laporan yang dibawa Mia, tidak ada bukti konkrit yang mengarah bahwa dialah pelakunya.

"Tetapi tunggu dulu Mia. Sebenarnya dari tadi saya penasaran, kamu masih memakai kaos lusuh yang dipakai tidur kemarin malam? Dan kamu belum mandi kan tadi?"

Mia berhenti berjalan secara mendadak.

"Oh Dietrich, jangan pedulikan hal kecil seperti itu. Kita ada pembunuh yang harus dihentikan!" jalannya mulai dipercepat, dan dia tidak menengok Dietrich yang ada di belakangnya.

Dietrich memandangnya seakan ingin bilang, 'Bukannya kamu tadi tidak mau melakukan hal ini?'

Akhirnya mereka sampai di tempat yang dimaksud. Rumah itu hanya terdiri dari satu lantai. Kecil dan lusuh. Warna cat yang seharusnya putih sekarang terlihat menguning. Debu-debu juga mengumpul di depan pintu. Sangat kotor. Rumah itu seperti yang biasa ditemukan di daerah pinggiran kota. Tanpa basa-basi, tanpa mengetuk pintu, Mia langsung berusaha membuka pintu rumah si tersangka. Ternyata tidak dikunci. Seketika itu Mia mulai merasa aneh. Namun dia tetap memasuki rumah itu.

"Permisi~" katanya dengan setengah hati.

"Apa ada orang disini~? Wah nggak ada di ruangan depan, oke mari cari ruangan belakang."

Saat Mia akan memegang kenop pintu, pintu mendadak terbuka, membuatnya jatuh karena terkejut. Seorang laki-laki terlihat keluar dan menuju pintu keluar.

"Wuaaah..!"

"Aku kejar dia!" kata Dietrich dengan sigap.

"Waa, tunggu du...lu. Waduh sial, dia keburu hilang dari pandangan. Percuma aku mengikuti mereka. Nggak bakal aku bisa mengejar mereka. Lebih baik aku mencari bukti di rumah ini."

Mia lalu mulai memasuki ruangan di belakang. Dia memasuki kamar tidur, namun tidak menemukan apa-apa. Selama beberapa saat, hampir seluruh ruangan dia masuki namun tanpa hasil. Rumah itu terlihat seperti rumah biasa, rumah kecil seperti pada umumnya. Akan tetapi saat dia melihat lukisan mawar merah yang layu, dia merasa aneh. Ada perasaan tidak nyaman saat melihat lukisan itu. Dia pun menggeser lukisan itu dan menemukan sebuah mekanisme yang aneh, tombol yang tersembunyi. Mia dengan enteng menekan itu lalu suara keras seperti mesin bergerak terdengar olehnya. Dia mengikuti suara itu dan menemukan ada pintu yang terbuka di kamar mandi, menuju ke ruangan rahasia.

Mia sadar kalau itu mungkin jebakan. Tapi menunggu Dietrich kembali itu akan membutuhkan waktu cukup lama. Dia tidak punya kesabaran selama itu jadi dia memasuki ruangan itu. Di dalam ruangan itu terdapat berbagai buku kuno dan lembaran kertas berwarna kuning. Dan juga simbol-simbol magis. Mia yang pernah memanggil setan mengenali salah satu simbol itu, biasa yang disebut sigil. Salah satu sigil itu sangat dikenalnya sehingga dia langsung merasa mual.

Mia akhirnya tahu siapa yang menuntunnya kesini. Karena di pojok ruangan, dibalik bayangan kegelapan, seseorang berdiri disitu. Dan sosok itu mendekatinya.

Sial, ternyata dugaanku benar. Duh, kadang kuharap tebakanku nggak benar, pikir Mia.

Sosok itu memperlihatkan siluet seorang laki-laki yang tinggi. Auranya mencekam dan membuat bulu kuduk berdiri. Sembari perlahan-lahan menjauhi sosok itu, dia bicara padanya.

"'Allo, kau bosan sekalinya sampai datang ke tempat seperti ini. Bukannya kita baru-baru ini bertemu," katanya memandang laki-laki itu. "Wahai Herr Buer?"

"Akhirnya kamu datang juga, Lamia von Rosendorn. Aku tidak bisa melupakanmu jadi aku datang kesini."

"Aduh kakak, nggak perlu repot-repot. Masa segitunya rindu padaku sih?"

"Diam kau, anak terkutuk. Aku tidak akan melupakanmu dan penghinaan yang kau lakukan terhadapku saat kau mencegahku memangsa manusia waktu itu. Aku, President Buer dari neraka, tidak akan membiarkanmu pergi dengan begitu saja."

"Kejadian tempo lalu itu tidak bisa dihindarkan. Jadi tolong jangan mendendam begitulah." Mia mengabaikan hinaan yang ditujukan padanya dan berusaha membuat Buer tidak semakin marah. Bukan ide bagus membuat orang marah, apalagi setan, tanpa alasan khusus.

"Diam." Dia mulai melancarkan serangan berupa ratusan panah yang transparan, seperti terbentuk dari energi kegelapan.

Mia yang sudah berada di dekat pintu langsung berlari sekuat tenaga keluar dari ruangan itu. Panah-panah itu menembus pintu yang baru saja dia tutup. Dia berusaha menghindari serangan dari Buer. Walau bisa dibilang kemampuan olahraga Mia nyaris tidak ada, dia masih mampu menghindari panah-panah itu agar tidak mengenai organ vitalnya. Beberapa kali serangannya hampir mengenai dirinya. Walau dia bisa menghindari serangan mematikan, tapi beberapa serangan sempat mengenai tubuhnya. Dia bisa merasakan tulang rusuknya patah karena hentakan dari panah itu dan kulitnya sobek di berbagai tempat. Tidak ada cara lain baginya selain menghindar. Karena sejak kapan manusia biasa bisa mengalahkan setan?

"Kenapa kau terus menghindar? Terima saja nasibmu dengan mati ditanganku!"

"Maaf sekali. Walau aku tidak berminat hidup panjang tapi bukan berarti aku ingin mati sekarang... Masih ada game yang ingin aku tamatin!" teriak Mia sambil berusaha menangkis serangan Buer dengan lempengan seng yang dia temui. Walau itu tidak bisa dibilang sukses karena panah-panah itu masih mampu menembus, nyari menusuk Mia.

"Hanya demi alasan seperti itu kau ingin hidup?!" suara Buer menggema di lorong di antara gedung-gedung pencakar langit. Nyaris memekakkan telinga.

"Apa boleh buat, aku beneran ingin tahu ending game itu! Kyaaah!"

Mia tertangkap olehnya. Buer mencekiknya. Hidupnya sedang diujung tanduk.

Sementara itu di tempat lain, Dietrich menangkap laki-laki yang lari sebelumnya, menarik kerah bajunya agar bicara.

"Kenapa kau disini? Jawab aku Zaleos!"

Yang dimaksud adalah Zaleos, Great Duke dari neraka yang memerintah 30 legion setan. Di hadapan Dietrich, dia hanyalah tampak seperti manusia biasa tanpa ciri khas khusus.

"Agar Anda kembali bersamaku Tuan. Kami semua menunggu Anda, King Asmodeus! Menantikan Anda untuk menghancurkan para makhluk munafik itu!"

"Apa kau sudah lupa? Kita gagal melakukannya. Aku tidak ingin melakukan hal sia-sia seperti itu lagi."

Wajah Dietrich tidak lembut seperti biasa. Dia sekarang terlihat dingin dan sadis. Kontras dengan wajah memahami yang biasa dia kenakan dengan orang lain. Ekspresi ini, mirip dengan orang yang melihat serangga penganggu di depannya. Tanpa belas kasihan, dengan sedikit niat membunuh.

"Akan tetapi bukankah Anda berada disini lebih sia-sia? Apalagi bersama makhluk rendahan seperti perempuan itu."

"Diam, setan yang bermimpi muluk sepertimu sungguh menyusahkan." Walau berkata seperti itu, Dietrich melepaskan Zaleos dari  cengkeraman.

"T-tuan... melepasku?"

"Pergilah. Aku ada urusan." Jawab Dietrich singkat.

"Dan menolong perempuan itu? Percuma saja Tuan, dia sekarang pasti telah dibunuh oleh Tuan Buer."

"Berisik."

Tiba-tiba, tubuh Zaleos terbakar api yang berwarna hitam. Bukan merah, tapi hitam yang pekat. Yang tersisa kemudian hanyalah arang dari sisa tubuh manusia. Dia pun tidak sempat berteriak karena itu terjadi begitu tiba-tiba. Api Asmodeus adalah api neraka, inferno flame, yang konon mampu menghanguskan apa saja, termasuk materi dan benda tak kasat mata seperti roh, menjadi tanpa sisa.

Dietrich tahu bahwa setan pengecut seperti Zaleos hanya meminjam tubuh dari seorang manusia. Jika setelah digunakan lalu akan dibunuhnya. Dia bisa kabur sesuka hati karena tidak berwujud materi. Tapi dia tidak peduli. Dia segera lari menuju ke tempat Mia. Walau dia tidak pernah bisa bersimpati pada manusia, hanya Mia yang membuatnya tertarik. Sorot mata gadis itu saat memanggilnya sungguh tidak bisa dilupakan. Sorot mata yang kosong dan mati, seperti boneka rusak yang hanya bisa menunggu kehancuran datang padanya. Pemanggilan dirinya ke dunia ini seakan tindakan putus asa dan terakhir sebelum dia hancur. Ini bukan pertama kalinya Dietrich, Asmodeus, dipanggil ke dunia ini. Berkali-kali dia melihat manusia yang memuja dirinya layaknya Tuhan atau takut padanya seperti sedang melihat kematian. Belum pernah sebelumnya dia dipanggil karena bosan dan diperlakukan seperti tak acuh seperti itu.

Mia yang sudah dicengkeram Buer masih terlihat kalem walau sangat kesakitan. Diam-diam Mia sudah memegang pipa yang lepas dari dinding saat serangan dari Buer datang. Dia menghantam Buer dengan sekuat tenaga, berharap bisa lepas dari cengkeramannya. Buer tidak bergeming, seperti yang sudah diduga dari seorang setan. Walau begitu, karena sedikit kaget, dia bertanya pada Mia.

"Kau... masih berusaha kabur?"

Buer tidak mengerti kenapa manusia di depannya ini begitu tidak peduli dengan kehidupan tapi masih bersikukuh tidak akan mati.

"Kan sudah kubilang tadi. Aku... nggak ingin mati disini." Jawab Mia susah payah. Cekikan di lehernya semakin kuat.

"Perempuan jalang! Kau masih ingin menghinaku di saat seperti ini?!"

Mia masih berusaha menghindar walau sia-sia.

"Kenapa kau masih berusaha untuk hidup. Bukankah kau sendirian? Tidak akan yang berduka jika kau mati!"

Mia tidak menjawab karena cekikan Buer membuatnya tidak bisa bernapas sehingga tidak bisa berbicara.

Untuk kesekian kalinya, Mia menghantamkan pipa besi yang masih dibawanya. Buer bergeming dan melepaskan Mia. Walau sebenarnya dia hanya terlihat bermain-main dengan nayawa Mia, seperti kucing yang memainkan tikus yang akan dimakannya.

"Berhentilah melakukan hal sia-sia Lamia. Manusia terkutuk sepertimu tidak pantas ada di dunia ini."

"Ohok.. ohok..! Oh.. ya? Suka-suka aku dong ingin melakukan apa. Kamu kan bukan Tuhan! Gah!" Mia terbatuk-batuk, berusaha bernapas dengan normal setelah sebelumnya sesak karena dicekik.

"Tapi hidupmu berada dalam genggamanku sekarang. Memohonlah agar aku tidak membunuhmu."

"Nggak bakal." Sorot mata Mia tajam dan tanpa takut, walau keringatnya bercucuran.

"Ohh, berarti kamu lebih suka mati di tanganku."

"Itu juga, nggak mau!" jawab Mia tajam.

"Lalu kamu ingin apa? Ingin seorang pangeran berkuda putih yang menyelamatkanmu, begitu? Oh, jangan-jangan kamu sebenarnya sedang menunggu Dietrich, Asmodeus, untuk menyelamatkanmu? Dengan mengulur waktu berbicara padaku."

Mia hanya diam. Tidak menjawab ucapan Buer.

"Berarti dugaanku tepat. Tapi sayang sekali, dia sekarang sibuk dengan hal lain. Dan kau mati disini."

Mia hanya tersenyum.

"Oh ya? Kenapa kamu seyakin itu?" tanya Mia, dengan rasa percaya diri yang susah payah dia kumpulkan.

"Hoo, lalu apa yang akan kau lakukan? Memanggilnya?"

Tiba-tiba Mia melemparkan smartphone yang selalu dibawanya. Kalau hanya itu, tidak akan mempengaruhi Buer. Tetapi sebelumnya, Mia menuliskan segel sihir yang cukup untuk membuat Buer kaget.

"Sayang sekali, aku sudah bisa menduga kamu akan menyerangku. Jadi aku sengaja memisahkan diri dari Dietrich agar kau keluar. Kau tidak akan keluar saat Dietrich ada disampingku kan?! Kau terjebak olehku, Buer!"

"A-apa?! Kau..!" wajahnya Buer mengkerut menyeramkan karena amarah. Lalu dia perlahan mengeluarkan ratusan, bukan, ribuan anak panah di angkasa siap untuk menerjang Mia dan menembus tubuhnya.

"Kau pikir aku bakal masuk kerumah itu tanpa persiapan?! Aku sudah memberi tahu sebelumnya pada Dietrich untuk datang pada waktu yang sudah kuperkirakan. Jadi aku mengulur waktu sampai dia datang."

Mia tidak gentar walau sebenarnya dia takut. Dia tahu dia tidak akan selamat setelah serangan ini. Dia harus mengulur waktu sampai Dietrich datang.

"Apakah hanya ini yang kau bisa, Buer?! Karena inilah kau kalah pada Dietrich kan?! Dasar pengecut, beraninya mengincarku bukan melawan Dietrich secara langsung!" Mia terus berbicara. "Setan lemah seperti kau hanya berani memburu gadis lemah sepertiku!"

Wajah Buer semakin terlihat gila karena marah yang amat sangat. Panah-panahnya langsung melesat menuju Mia.

"Diam kau, boneka terkutuk!"

" Sekarang, Dietrich!"

Mia sudah menunggu momen ini. Dietrich muncul di belakangnya dan membakar panah-panah itu lalu tubuh Buer.

"Asmodeus?!"

Mia lalu menyergap Buer dan menusuk dadanya dengan pipa besi yang sejak tadi dipegangnya terus, berusaha membatasi geraknya.

"K-kuh?! Kau tidak peduli dengan manusia yang kurasuki ini?!" dia kaget dan berusaha mempengaruhi Mia, berharap dia kasian dan lalu lengah.

"Persetan! Lagipula kamu juga bakal kembali merasuki orang kan? Jadi selama kamu masih berada di tubuh ini... Dietrich, bakar dia sampai rohnya tanpa sisa!!"

"GAAAAAHHH!!"

Wajah Buer penuh rasa penyesalan. Dengan sisa waktu terakhir, dia menuju Dietrich.

"AAAAH. INIKAH API NERAKA TERDALAM ITU. ASMODEUS, SEHARUSNYA KAU MENGGANTIKAN LUCIFER!! AAAAAAAHH.........!!!!!!"

Dan itulah kata-kata terakhirnya.

Mia yang merasa lega hanya bisa terhuyung-hayung lalu ambruk di atas tanah. Kepalanya menengadah ke langit, melihat langit kelabu di atasnya.

"Sial... badanku sakit semua. Kubilang apa, ini bakal menyusahkan."

"Maaf Mia. Seharusnya aku datang lebih cepat." Dietrich mulai menyangga Mia agar dia bisa duduk.

"Memang, dasar orang numpang. Tapi sudahlah. Ada hal yang lebih penting..." dia perlahan melanjutkan, "Tolong bopong aku. Aku sudah nggak bisa bergerak..."

"Seharusnya kamu lebih terus terang saja."

"Maaf deh, aku masih nggak biasa minta tolong..."

"Lalu sepertinya aku mendengar tadi jika kamu memintaku datang pada waktu yang ditentukan. Memang kapan kamu bilang itu?" tanya Dietrich.

"Itu... cuma gertakan. Semakin lama waktu diulur, semakin bagus. Lagipula, jika dia marah, dia tidak akan menyadari kehadiranmu yang semakin dekat. Karena dibutakan rasa amarah itu..."

"Kenapa kamu yakin aku akan datang?"

"Bukankah aku pernah berjanji akan memberikanmu jiwaku? Janji tetaplah janji. Minimal aku ingin mati sesuai pilihanku..."

Ekspresi Dietrich menyiratkan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Apakah itu rasa kecewa atau sedih?

"Lalu, bukankah warisan dari keluargamu mampu membunuh?" tanyanya lagi.

"Apa?! Itu?! Tapi itu pada manusia... Aku nggak yakin bakal berhasil pada makhluk non-manusia apa bukan. Lagipula kalau aku mengaktifkan 'itu', aku juga akan mati. Bukan rencana yang bagus untuk mengalahkan musuh..." katanya sambil memegang kalung yang ada di lehernya. Permata yang berbentuk tetesan air di kalung itu berkilau lembut. Hadiah satu-satunya dari orang yang dianggap keluarga olehnya.

Tiba-tiba Mia melihat sesuatu yang ganjil. Ikan terbang tapi dalam bola api. Dan kupu-kupu berwarna putih seperti terbuat dari salju, melayang-layang pelan.

"Sepertinya karena rasa sakit aku mulai berhalusinasi."

"Tidak, Mia. Ini kenyataan." Balas Dietrich singkat.

"Apa?!"

Mia memegang kupu-kupu putih itu yang ada di depannya dan memang bukan ilusi. Kupu-kupu itu terbuat dari salju. Ketika dipegang akan lenyap di tangannya dan meninggalkan berkas air.

-Once upon a time, I, dreamt I was a butterfly, fluttering hither and thither, to all intents and purposes a butterfly.-

"'Sekarang aku tidak tahu apakah aku adalah manusia yang bermimpi sebagai kupu-kupu atau apakah aku sebenarnya kupu-kupu yang bermimpi menjadi manusia.' "

"Apa itu?" tanya Dietrich.

"Mimpi kupu-kupu Zhuang Zi kah...?" jawab Mia singkat, tanpa memperdulikan Dietrich dan menerawang jauh langit dimana muncul kupu-kupu salju.

Mia melihat kupu-kupu itu melayang dengan perasaan sunyi yang tidak dapat dijelaskan.


---end

--

>Cerita selanjutnya : [ROUND 1 - 9I] 12 - MIA | BLOOD AND STEEL NATION

22 komentar:

  1. Gue curiga authornya curcol gegara maenan Sen no Kiseki gagal molo #Ups
    Hawa hawanya kerasa,

    "Saya adalah setan"
    diutarakan oleh DIetrich yang wajahnya kelewat klimis Yunani.
    Setabah apa si Setan alas ini sih?
    asik nih kalo Dietrich gue pertemukan ama Forneus, piaraan gue. #Slap

    Kisah NEET yang bener2 "Hidup segan mati enggan" dengan otak Semi-Atheis. Anehnya genre ginian gue cepet skimmingnya.

    8 Deh.
    OC: Kaminari Hazuki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mia: bukan kakak... dia stress lawan Ariarhod, nona cantik dari Ao no Kiseki yang umurnya penulisku yakin lebih dari 200th. dia bingung kenapa bisa begitu, padahal nona cantik itu seharusnya masih manusia dan kenapa masih bisa cantik. dia mau mengutuk Septentrion of Time sepertinya.
      Dietrich, lagi-lagi kau ambil sorot lampu. tch, orang numpang itu...
      btw, thanks ya kakak :*

      Hapus
  2. chou: dietrich...deskripsinya membuatku pengen menggambarmu
    kuro: hah(ー ー;) author saya mulai ngaco lagi. jd saya yg akan memberikan kesan2 tntang cerita ini. pertama saya kurang menangkap adanya penyempitan smesta tokoh. ke dua, kok nggak dijemput dan di kasih domba sama ratu huban dan zainurma?. ke tiga, penyelesaian masalahnya kurang wah (nggak tau ngomongnya gimana). mungkin karna lawannya terlalu lemah kali ya. kurang lebih begitu.
    chou: eh ini kaya ada sindiran ke peserta BOR? iya nggak sih? atau cuma perasaanku saja?
    kuro: kalo itu, aku juga ngrasa thor. tapi nggak tau sih kenyataannya gmana? jd thor, dikasih berapa?
    chou: hmm.,tadinya mau 7 tp karna aku suka dietrich jadi dikasih 8 aja deh.
    kuro: lain kali kasih alasan logis dong, thor!
    chou: itu kan juga alasan(・Д・)ノ
    kuro: (ー ー;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mia: eh masa sih harus ada scene dijemput sama ratu huban dan dikasih domba?! ....geez sepertinya penulisku lupa. dan Dietrich, kamu mengambil sorot lampu dariku!
      soal sindiran itu... aku nyindir penulisku sendiri kok. tahun lalu dia sudah mau revisi nenekku (OC lain) tapi karena game yang sudah ditunggu setahun setengah lebih tahu-tahu datang, akhirnya dia mikir 'Sebodo dengan ini semua. Taichou-ku datang kyaah <3'
      padahal itu game dalam bahasa bulan. sekarang saja aku sempat dibikin ceritanya karena game yang dia mainkan sudah tamat(bahasa bulan juga). coba belum... hahaha. ga tau deh jadi apa. orang itu sel...
      penulis: SECRET MOVE SILENCING METHOD, ZERO FIEELD!!
      Mia: eh eh!
      penulis: ohohoho, maafkan anak satu ini ya. kebanyakan ngomong dia. ohohohoho

      Hapus
    2. Taichou.
      Gue mencium 1 hal.
      1 Hal bahwa Author dari Mia adalah sosok yang paling gue kenal.
      Cma dia yang berani fangirling taichou tertjinta.

      Hapus
  3. Jujur baca ini lumayan enjoyable karena faktor dialognya yang ringan. Karakter Mia juga lumayan kegambar jelas sifatnya yang males"an, dan mesti banyak dibantu Dietrich

    Impresi awal saya tadinya pengen langsung ngasih nilai 8. Tapi begitu selesai baca, buat saya ada 2 poin minus besar di entri ini. Yang pertama, Mia rasanya ga bener" ngapa"in, malah kalo ngutip kata panitia, sub-OC yang lebih banyak berperan berarti mungkin justru sub-OCnya yang lebih pantes jadi Reverier. Buat contoh, entri Satan juga OCnya lumayan jadi sidelined gara" adiknya Chikako muncul, tapi paling ngga masih keliatan konklusinya dari dia dan bukan sub-OCnya.

    Ini juga nyambung ke poin minus kedua, ketentuan dari panitia. Mia ga keliatan kehilangan inspirasi, settingnya pun ga berasa mimpi - ditambah komen terakhir Dirtrich di ujung entri, dan paling fatal, ga ada ketemu OC panitia selesai mimpi ini dan dikasih domba. Rasanya entri ini jadi kayak semacem cerita lepas aja, bukan prelim BoR

    Nilai 6

    BalasHapus
  4. Ceritanya enak dibaca dan ringan. Dramatisirnya pas jugaa..
    But im not sure you read the kuratorial..
    Dan ketika lihat yang lain bilang sama.. neetneet!

    6, Atas kurangnya perhatian akan batasan panitia..

    RJ Marjan,
    Author of Lucas's Story

    BalasHapus
  5. Sama seperti beberapa yang komentar di atas, entri ini ringan dibaca. Namun bagi saya ada beberapa bagian yang terlalu padat, misal ketika Mia berdialog soal penjelasan procastinator yang sering disalah artikan.

    Selagi ngomongin dialog procas Mia... hati-hatilah, Mia. Kamu sudah mulai proses "Foreshadowing" dari akhir ceritamu...

    Ada juga bagian Mia kehilangan spotlight, tapi sepertinya ini sudah biasa terjadi di BoR, terutama untuk karakter ber-sub OC. Ambil contoh Deismo dari BoR 4 yang ditake over oleh mini-Deismo.

    Overall saya kasih 8, minus 1 karena kurang perhatian dengan ketentuan panitia.

    Nilai : 7

    OC : Nora

    BalasHapus
  6. Syaratnya ada yang belom dipenuhi ya? Entry saya juga sih, hahahahahaha... oke, that aside...
    Saya boleh kasih nilai delapan?
    Kenapa ya? ini cerita yang bisa saya enjoy meski saya gatahu apa apa soal OCmu soale kalau baca entry saya punya kebiasaan jelek ga baca dulu character sheetnya.

    Jadi saya gatahu mana yang OC mana yang Sub Oc. tapi lihat tanggapan temen2, katanya Deitrich yang lebih menonjol yang Sub OC. weird...In character, tapi weird...

    Salam, William Amadeus Anderson
    Nilai 8

    BalasHapus
  7. Mia: mbak, ditanyain tuh.
    penulis: ..uh...
    oke, sepertinya ntah aku yg kelewat bikinnya samar atau gimana, kalau soal dijemput ratu Huban sebenarnya diatas sendiri.
    bagian >> "Kau ... Reverier, dan ... membuat Mahakarya ... di Alam Mimpi. Mencapai ... mampu ... duniamu."
    itu kalimat yg diucapkan. kalau jemputan beneran...bukannya di lanjutan? oh yah, anggap aja miskom dariku.
    trus ini anak cuma bagus soal taktik doang, kalau diilangkan berarti beneran ga bisa apa2 dong. yg di entry intinya cuma pinter akal tapi dipanjang2in :p
    sebenarnya bknnya aku ga mikirin Dietrich jadi sub-OC cuma...klo dia ikutan, Mia bakal beneran ga ngapa2in. itu membosankan.
    Mia: ?!!
    penulis: lalu kalau Dietrich yg ikutan BOR, bakal langsung didepak karena imba. jadi biar ini anak aja yg ikutan. biar ada usaha dikit hahaha
    Mia: ????!!!!!!!

    BalasHapus
  8. gak tahu kenapa... teknik penyampaiannnya bener-bener enjoyable. karakterisasi Mia kuat banget sebagai hikikimori kelas wahid.

    cuma perlu diingatkan juga posisi Mia sebagai tokoh utama, dia yang menyelesaikan semua konflik dengan atau tanpa bantuan sub-Oc. dan ada aturan panitia yang kelewatan di sini. tp sya gak masalahin soal itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. andai saja sub OC Mia di pasang sebagai summon, cara penyelesaiannya tentu saja lebih berkesan cos emang murni usaha Mia sendiri.

      6 dr Axel Elbanac

      Hapus
  9. alur cerita yang ringan dan halus. cuma ya ada miss dari typo sampe tidak ada OC panitia yang menjemput OC di ujung bingkai mimpi.

    well, nilai dari saya 7. semoga sukses..

    Dwi Hendra
    OC : Nano Reinfield

    BalasHapus
  10. Mia, gadis termalas yg pernah ane liat selain ane sendiri(?)

    Dialog yang dipadatkan dalam satu paragraf jujur mengganggu. Walau memang karakternya tukang ngoceh(?), dibagi dalam dua paragraf biar nyaman bacanya.

    Terutama pas bagian Mia menceritakan kisah pelayan setannya Dietrich, harusnya ini adegan lucu. Tapi karena paragrafnya sungguh rapat, jadi ga kena.

    But, still~ Cerita macam ini ane suka dan cepat paham konsepnya.

    Walau sayang, efek padatnya paragraf itu yang jadi nilai minus.
    Yah.. ane punya masalah mata disini #gaditanya

    ----------------
    Rate = 7
    Ru Ashiata (N.V)

    BalasHapus
  11. Waduh, eneng Mia... padahal lakon eneng bagus sekali.

    Penjiwaan eneng dan teman eneng bagus banget. Kerasa lah gimana malesnya eneng itu. Hehehe. Temen eneng aktingnya juga natural lah. Gak ada yang dipaksakan dalam adegan-adegan yang dilakoni. Tinggal penjiwaan sedikit lagi eneng juara lah aktingnya.

    Alur cerita lakon eneng juga mantep. Cukup mudah dimengerti, dan nuansa yang mau dibawa cerita eneng kerasa buat mbah. Take adegannya di saat yang tepat, tapi berantemnya yang cukup dikhawatirkan, neng. Walau kebanyakan diwakilkan, porsi yang eneng Mia harusnyaa lebih menonjol juga. Eneng yang harusnya jadi bintang di lakon eneng sendiri, jangan temen eneng.

    Teknis lakon eneng lumayan lah, cuma sayang sekali kurang sesuai sama yang ditentukan panitia. Padahal eneng sudah menyajikan lakon bagus.

    Mbah kasih 8. Kalau aja eneng sesuai ama ketentuan panitia, bisa ditambah 1.

    Ngendog di kamar jangan lupa kebersihannya ya neng, cantik-cantik jangan bau juga.

    Ttd

    Mbah Amut

    BalasHapus
  12. Tokoh utama disini hampir tersisihkan oleh tokoh lainnya. ini mengingatkanku kayak komik Onepunchman yang tokoh utamanya cuma disorot bentar daripada tokoh2 lainnya.

    Tapi tidak apalah, saya masih dapat menikmati cerita ini. oklah sekali-kali panitia dilupakan nggak apa2 kali XD

    PenulisDadakan (Arca)

    BalasHapus
  13. GHOUL : “Reviewnya lebaran aja ah, lagi males… tapi jangan males taraweh, sekalian berdakwah mumpung bulan suci.” :=(0

    SHUI : “Hm, percakapannya memang ringan, tapi lama-kelamaan kesannya membuat ceritanya jadi lamban dan membosankan.”

    SUNNY : “’memedulikan’ bukan ‘memperdulikan’.
    masi ada typonya dikit—typo yang dimaksud kurang tepatnya pemakaian tanda baca.
    Yang dimaksud Mia adalah Andrè—pengangguran yang tinggal sendiri= tanda em dash, bukan tanda koma.
    Waa, tunggu du-lu= pake tanda penghubung bukan titik2 karna masih dalam satu kata.
    Aku—President Buer dari neraka—tidak akan membiarkanmu pergi dengan begitu saja= tanda em dash pula, bukan koma.
    karena panah-panah itu masih mampu menembus, nyari menusuk Mia=nyari atau nyaris?
    Bayar jasa editing naskah buat buka puasa… hehe, kidding.”

    GHOUL : “Syukurlah aku males ngasih nile 6, tapi mau ngasih nile 8 lebih malas lagi, tapi aku ga malas ngasih nilai di tengah-tengahnya aja deh. Tujuh!” :=(D

    BalasHapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  15. Saatnya berkomentar. Dari segi penulisan, saya yakin author punya kenyamanan sendiri dalam tulisannya, dan itu tak bisa diganggu gugat.

    Dari segi cerita, saya pikir Mia ini adalah tipe detektif, tapi di dalam ceerita ini tidak terlalu terlihat bagaimana Way of Decision miliknya. dan jujur, saya sedikit kecewa. Mungkin di R1, analitiknya sediit lebih diperbanyak. Karena daya tarik utama seorang karakter pemikir adalah cara berpikirnya dalam menemukan solusi.

    Salam dari Satan:
    "Aku tahu bagaimana rasanya punya fisik yang dibawah rata-rata, itu sungguh merepotkan. Mungkin aku akan menantikan kepintaranmu saat aku mencuri permata bulan. Well, anggap saja Kaito Kid ataupun Lupin."

    Maaf, nilai dari saya hanya 7

    -Salam, Hyakunosen.
    OC: Satan Raizetsu

    BalasHapus
  16. Dan saya agak kaget karena ternyata pernah baca tapi belum komen. Karena agak lupa, dan karena mager juga buat baca ulang, akhirnya mengandalkan ingatan. Beruntung cukup inget--hei, Mia emang mencolok berkat ciri khas sifat (dan katalog karakternya). Whahaha xD

    Saya pikir narasinya bagus dan cukup gampang dipahami. Walau di beberapa tempat, saya bingung sama adegan-adegannya. Kayak, penuturannya kurang jelas gitu buat latarnya. Tapi cukup terobati berkat karakterisasinya. Mia keliatan banget magerannya dan, tbh, saya agak merasa relate--saya bilang agak ya, karena kadang saya suka nggak ngerti Mia ngomongin apa dlm dialognya. Dia tipe procrastinator yg pinter sih xD

    Mo ngomong apa lagi ya? Huh mungkin segini dulu.

    8/10

    -Sheraga Asher

    BalasHapus
  17. Salah satu karakter dengan tujuan hidup paling mengundang simpati; demi namatin sebuah game. *slowclap* *cries in Germany*
    Cara bawain tokoh-tokoh iblis yang dimunculin di sini buat sy kurang biblikal, mereka kan makhluk yg merasa derajatnya ada di atas makhluk lain ya? Mestinya cara bicara mereka udah beda. Agak ke-alkitab-alkitab-an. ini mungkin cuma preferensi pribadi aja sih. Dan mungkin jg gara-gara pengaruh kalo karakter utamanya masih remaja/bersikap spt remaja. Jadi yah ... okelah. 8 Olive

    BalasHapus
  18. Tulisan ini bagus, banget. Plotnya jalan. Narasi dan karakterisasinya Mia sama Dietrich juga nyampe.

    Pas baca Umi berasa barenga sama Mia di cerita itu.

    Walaupun plotnya hampir sejenis sama Black Butler, tapi sepertinya konfliknya beda xD

    Anyway semoga lolos xD

    nilai : 8/10
    OC : Song Sang Sing

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.