Senin, 12 Desember 2016

[ROUND 3] 06 - NORA | HOUSE OF ILNESS ADALAH TERJEMAHAN DARI RUMAH SAKIT

oleh : Mocha_H

--


==Prologue==

Aku meningatnya. Aku masih mengingatnya, selalu terkenang, tapi aku sendiri yang tak menyadari kalau aku mengingatnya berulang kali. Sebuah ingatan, cerita yang seolah peninggalan satu-satunya dari ayahku tercinta.

Cerita itu dimulai saat aku dan ayahku mengunjungi suatu desa pedalaman, terpencil tapi masih mendapat akses lisrik. Dengan jas putih dan rambut gimbalnya, ayahku menemui para warga yang telah berkumpul di sisi lain gerbang desa yang tertutup erat. Ia berbicara dengan para warga desa, mencari keberadaan seorang wanita yang namanya tak pernah kudengar.

Aku tak ingat kapan gerbang itu dibuka, tapi ketika aku menyadarinya, kami sudah berada di tengah desa. Sepi, bahkan lebih sepi gerbang tadi karena tidak ada satu orangpun yang kami temui. Kukira itu janggal, tapi aku baru menyadari bahwa latar hitam telah bertebar di langit, bahkan semenjak kami di depan gerbang.


Jika ada yang janggal, maka itu adalah kami. Apa yang kulakukan di sini? Kenapa aku masih bangun di waktu orang lain tidur?

Ayahku juga masih terjaga, berjalan di depanku sambil meneriakan nama orang yang dicarinya sementara aku mengekor di belakang. Siapakah wanita yang dicari ayahku? Kenapa ia bersikeras mencarinya di tengah malam saat seluruh warga tertidur?

Aku tak ingat lagi apa yang terjadi di setelah itu. Namun kurasa, suatu hal buruk terjadi di renggang waktu itu. Aku merasa takut, sedih dan amarah ketika berusaha mengingatnya.

Apa kepalaku mempermainkan diriku? Ini seakan ia berusaha menghapus bersih ingatan itu. Aku hanya mengingat sepotong demi sepotong, tak mendengar terlalu jelas dan tidak sepatah katapun keluar dari mulutku.

Kumohon, aku ingin tahu apa yang terjadi. Sekeji apapun kenyataannya aku ingin tahu alasannya!

Namun aku langsung menyesali permintaanku. Hal yang kulihat berikutnya adalah potongan-potongan gambar dari mataku sendiri. Suatu mahluk buas, besar, berbulu hitam dan matanya menyala merah terang seperti iblis dari neraka. Di setiap potongan gambar itu, aku melihat jemari tajam mahluk  itu melesat dari depan hingga keluar dari sudut pandangku, sejenak kemudian ia menariknya dan jemari lain bernganti menerjang.

Aku tidak... tidak mau...

Aku tidak mau mengingatnya...

Aku tak mau ingat cakar tajam mahluk itu...

Aku tak mau ingat raungannya...

Aku tak mau ingat...

Bahwa aku telah mati.

***

"TIDAK!"

Jeritan kasar Sirna ternyata diikuti dengan goyangan tubuhnya, membuatnya terjatuh dari domba yang ia pakai menjadi kasur. Cahaya terang dan panas terik matahari memberitahu Sirna bahwa sekarang sudah bukan pagi hari lagi, tapi sudah masuk siang hari. Di sebelah kepalanya yang miring adalah sosok berkepala bantal yang menggegam sebuah tongkat permen.

"Selamat siang, pembantuku~" sambut riang Huban sambil memutar-mutarkan tongkat permennya.

"Maafkan saya, ratu!" pekik panik Sirna. "S-Saya tidak bermaksud..."

"Tidak apa, kok. Kamu boleh libur hari ini," potong Huban.

"L-Libur, Ratu?"

"Ya, kamu istirahat saja. Aku akan merawat domba-domba sendiri, tapi besok aku yang libur~" seru Huban riang.

Sirna hendak menolak tawaran Huban, mengangap bahwa tidak sopan menginap di rumah orang tanpa membalas kebaikan sang pemilik rumah. Namun saat ia hendak berdiri, kakinya sempoyongan hingga akhirnya jatuh kembali. Untungnya domba kasur Sirna segera menerjang ke belakangnya, menjadi bantalan yang mencegah kejatuhan fatal.

"Jangan memaksakan tubuhmu! Apa kamu tidak ingat? Kemarin kamu terhanyutkan di sungai deras!" ujar Huban. "Domba, tolong jadilah tunggangannya."

"Mbek!" sahut si domba.

Mengikuti Huban, Sirna dan dombanya berjalan keluar dari mansion ke padang kapas dimana para domba sering merumput. Namun tidak ada domba yang merumput dengan santai di padang itu, di siang ini mereka semua berbaris rapi, bagai pasukan siap perang.

"Ratu, kenapa domba-domba anda tampak... tegang?" tanya Sirna.

"Aku mencoba tongkat ini," ujar Huban, mengibaskan tongkat permen warna pink dengan garis merah melingkar di tangannya. "Meski bentuknya seperti tongkat permen, ini adalah sebuah DreamCatcher."

DreamCatcher, Sirna mengingat nama itu. Ia ingat Oneiros menyebut tongkatnya dengan nama itu ketika mahluk bermata satu itu mengancamnya. Sirna tak mau membayangkan apa yang akan terjadi jika saat itu Huban tidak menghadang Oneiros dengan sebuah tongkat yang mampu mengkomando domba-domba mimpi.

"Dengan tongkat ini aku bahkan bisa memerintahkan para domba untuk menyusun diri menjadi menara yang sangat tinggi! Tapi aku tak mau memakainya terlalu sering. Ada perbedaan jauh antara meminta dan memerintah," tambah Huban.

"Tongkat yang imut, sesuai dengan kepribadian anda," puji Sirna.

"Oneiros yang membuatnya," ujar Huban. "Aku awalnya tidak suka tongkat DreamCatcher miliku dan Oneiros berusaha keras mengubah bentuknya. Membungkusnya dengan lilin, mewarnainya, bahkan sampai menaburkan riasan supaya ini terlihat seperti tongkat permen," terang Huban.

Pernyataan Huban mengagetkan Sirna. Sosok Oneiros yang ia ketahui adalah mahluk bermata satu yang datang di hari damai untuk mengancam dirinya, tidak pernah ia menyangkat Oneiros sedekat itu dengan Ratu Huban.

"Aku sudah bilang,kan? Oneiros tidak seperti dirinya kemarin," lanjut Huban. "Kurasa ia kesal karena dunia mimpi telah menjadi seperti ini. Ia selalu mengembara mencari panorama indah, jadi melihat pemandangan yang ia sukai menjadi sesuatu yang tak ia inginkan pasti telah menyulut amarahnya."

Seorang pengembara pencari panorama yang sangat peduli dengan temannya. Apakah itu sosok asli si mahluk mimpi bermata satu? Jika tidak berasal dari Huban sendiri, pasti Sirna takan mempercayainya.

"Aku sudah memutuskannya, Sirna. Jika Oneiros ikut bertarung, maka aku akan bertarung juga," tegas Huban. "Aku tahu Oneiros merencanakan sesuatu di musium semesta, ditambah lagi om mafia dan Mirabelle sedang tidak berada di musium, jadi aku mengirim para Reverier ke musium."

"M-Maaf,  Ratu. Kenapa sang Kurator dan Konservator meninggalkan musium? Lalu para Reverier?" tanya Sirna. 

"Entah kenapa pengaruh [Sang Kehendak] melemah, itulah kenapa mereka berdua pergi. Dan untuk para Reverier... akan banyak karya yang "kembali" hidup di musium, jadi Oneiros pasti perlu sebuah pengalih perhatian," terang Huban.

"Lalu Nona Nora? Apa Reverier itu sudah berangkat?"

"Tidak, dia masih mengurung diri di bingkai mimpinya," ujar Huban. "Tenanglah, kau tidak perlu lagi menemui monster itu! Aku akan melindungimu kalau dia sampai datang ke sini!"

"Tidak, saya harus menemuinya!"

"APA?!" sontak Huban kaget. "Tidak! Tidak! Aku keberatan! Kamu hampir mati tenggelam di ronde lalu! Aku tidak mau kamu terlibat dalam turnamen ini!"

"Saya... harus menemuinya. Nona Nora sudah berjanji untuk menemukan ayah saya jika saya meminjamkan tubuh saya beberapa waktu saja," terang Sirna. "Anda tahu sendiri, Ratu. Saya ingin mendapatkan ingatan saya kembali!"

"Karena kamu harus berada di sisi ayahmu,  pembantuku?" tukas Huban. "Aku ingat kok! Kamu pernah mengatakan kalau ada yang mengganjal di hatimu dan itulah alasannya."

"Lalu... apa saya boleh?"

"Jika dua hari lalu aku mungkin tak akan peduli apa yang terjadi padamu, Sirna," ujar Huban. "Di awal, aku hanya menganggapmu sebagai model pakaian konyol yang kubuat di waktu kosong, tapi seiring berjalannya waktu, kamu ikut membantuku merawat domba, kita makan bersama, main bersama... Aku begitu menikmati hari-hariku denganmu, Sirna."

"Ratu... saya mengerti. Saya juga menikmati hari-hari saya tinggal di sini," ujar Sirna. "Tapi saya harus tetap mencari ayah saya!"

"Masihkah kau belum mengerti, pembantuku?" tanya Huban. "Selain pembantu, kamu juga temanku, teman yang sangat dekat denganku."

Huban mengangkat tongkat permennya, menunjuk Sirna dengan ujung melengkung permen pink itu.

"Pertama Oneiros... Sekarang kamu, Sirna!" bentak Huban. Takan kubiarkan Turnamen ini merengut temanku untuk kedua kalinya! Tetaplah di sini! DreamCatcher!"

Rumput kapas di bawah kaki Sirna menyembur menjadi butiran-butiran debu warna-warni, debu mimpi. Debu tersebut berputar-putar dengan kecepatan tak terbayangkan, menjebak Sirna dalam sebuah penjara bola dari debu yang terus berputar. Rintihan Sirna terdengar dari dalam penjara bola itu, tampaknya putaran debu penjara itu terlalu cepat, hingga menggores kulitnya sedikit demi sedikit.

"W-Wah! Terlalu cepat! Berhenti, DreamCatcher! Berhenti!" pekik Huban.

Dalam sekejap, badai debu yang memenjarakan pembantu Huban sirna seketika, jatuh ke tanah sebagai gumpalan debu beragam warna. Sang ratu segera mendatangi Sirna meski ia masih bisa menjaga keseimbangannya untuk tetap berdiri setelah badai debu itu berakhir.

"Maafkan aku, pembantuku! Aku tidak bermaksud melukaimu!"

"Maafkan aku... Ratu... Aku benar-benar minta maaf," pinta Sirna lirih.

Sekilat bayangan melesat di antara Huban dan Sirna, cukup cepat hingga tak dapat ditangkap oleh mata(?) Huban. Tangan Huban tiba-tiba ditarik, sehingga sang Ratu harus melawan balik. Sayangnya, tangannya tidak mampu menahan genggamannya, sehingga lepaslah DreamCatcher dari tangan Huban.

"Maafkan aku!" seru Sirna. "DreamCatcher!"

Dalam sekejap situasi terbalik, kini sang Ratu yang terperangkap dalam badai debu ciptaan tongkatnya sendiri. Debu itu tidak berlangsung lama karena Sirna tahu ketidaknyamanan di dalam badai debu itu, tapi ketika Huban membuka matanya, ia telah dikelilingi domba-dombanya yang berjajar tinggi bagai sebuah menara.

"Domba-dombaku! Ini bukan waktunya untuk main menara! Cepat minggir!" pinta Huban.

Namun para domba tidak berkutik, sedikitpun mereka tidak merespon permintaan majikannya. Formasi mereka tetap fokus menjadi sebuah menara kokoh yang mencegah siapapun masuk ataupun keluar.

"T-Tidak mungkin?! Kamu mengkomando mereka, pembantuku?!" pekik Huban.

"Tolong maafkan aku, Ratu! Aku benar-benar minta maaf!" teriak Sirna dari balik menara. "Tongkat ini akan kuletakan di sini, tapi saya harus benar-benar mencari ayah saya!"

Suara langkah kaki Sirna terdengar menjauh hingga akhirnya tak ada lagi suara. Hubanpun melihat ke puncak menara domba yang tak beratap, tapi tak mungkin ia bisa memanjat keluar, tidak dengan tubuh mungil dan bulu domba yang terlalu lembut untuk dijadikan pijakan.

"Uh.... Gimana caraku keluar?" rintih Huban yang malang.

==1==
==Contract Renewal==

Jalanan kota kematian tetaplah sepi seperti biasanya. Sirna berlari melewati jalanan itu secepat yang ia bisa karena tahu ia takan menabrak siapapun. Namun dugaannya salah, ketika ia hendak berbelok ke blok dimana Nora tinggal, pembantu Huban menabrak seseorang sampai tersandung hingga jatuh.

"Ah! Maaf, Mi Amor! Aku tidak lihat kanan-kiri!" ujar suara gadis muda dari belakangnya.

"S-Saya minta maaf juga... Saya juga kurang waspada..."

"Nora?!" pekik kaget gadis yang ia tabrak membuat Sirna menoleh.

Di belakangnya adalah seorang gadis berambut coklat dikepang dua dengan seragam sirkus merah, Olive La Ercilla, badut Reverier yang terjebak di bingkai mimpi Nora karena tanda Reveriernya dicabut oleh Huban sendiri.

"Eh... bukan... mungkin saya salah orang. Mirip... tapi anda terlalu sopan untuk menjadi monster itu..." gumam Olive. "Ah! Aku ingat! Kamu gadis yang dari sungai itu,kan?"

"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Sirna.

"Semenjak terjebak di bingkai mimpi ini, aku terus mencari jalan keluar," ujar Olive. "Tapi aku tidak menemukan apapun! Bingkai mimpi ini bahkan lebih besar dari yang kukira! Akhirnya kamipun di sini, menunggu peluang saat Nora keluar untuk mengambil kentang di kebunnya!"

"Kita tidak di sini untuk mengambil kentangnya, Olive. Dombanya, ingat? Hanya domba mimpi yang bisa keluar dari bingkai mimpi."

Tutup sebuah tong di pinggir jalan tiba-tiba bergeser, lalu munculah kepala seorang pria dari dalamnya.

"Bersembunyilah, Guillermo! Nora bisa saja melihatmu!" tukas Olive.

"Apa kau gila? Gadis itu terlalu takut melihat apiku, apalagi melihat ke terik sinar matahari!" balas Guillermo. "Dan bisa tolong lepas kayu tong ini? Kurasa kakiku tersangkut."

"Kurasa tong itu cocok denganmu, senor!"

"Gila kau! Jangan bercanda!"

"Karena aku gila, maka aku tidak wajib menurutimu~"

"Baik-baik! Kau CUMA sedikit sinting, oke?"

"Si, senor! Si!"

Tong Guillermo tiba-tiba meluncur ke sebuah dinding reruntuhan, pecah menjadi kepingan kayu dan seorang Guillermo marah.

Sambil meraup dahi kepalanya yang memerah, Guillermo bergejolak, "Kau tidak harus menendangnya, sinting!"

"Oh... Tolong maafkan tindakan kasar teman saya, mi amor! Dia memang tak tahu sopan santun!" pinta Olive pada Sirna. "Ya... kami memang mencari domba Reverier itu, tapi kami tak menemukannya dimanapun!"

"Mungkin Nona Nora sedang tidak berada di rumah?" tukas Sirna.

"Tidak. Kita bisa mendengar tangisannya dari sini," ujar Olive. "Coba dengarkan!"

***

Siapaun yang menamai dunia, maka ialah penguasanya.

Sebuah nama adalah sebuah simbol dari kekuasaan, maka siapapun yang memberikan nama itulah penguasanya. Semboyan kuno itu punya kekuatan tak terduga pada penduduk dunia ini meski tak ada yang mengenal asal usulnya.

Namun dengan adanya suatu kepercayaan, maka disanalah para penyangkal. Tidak semua akan setuju akan sebuah nama karena berbagai alasan, baik karena tidak memakai bahasa yang mereka pakai, arti yang tidak sesuai dengan keinginan, bahkan ketidak setujuan atas pengusul nama itu. Oleh karena itulah, nama menjadi suatu hal sakral di dunia ini.

Siapapun yang membuat nama harus bersedia mempertahankannya.

Dan esok hari, kita akan menghancurkan semboyan itu!

Sorak sorai terdengar ramai dari bawah panggung. Para penonton bersorak serentak, menjawab deklarasi sosok berjubah biru di atas panggung.

Nora telah menghapus ingatannya berkali-kali karena ia tak tahan akan rasa sakit masa lalu, tapi ia takan pernah menghapus ingatan di malam bulan purnama itu. Dia, Emi, Gargo dan Knowlegde akhirnya telah mengumpulkan kekuatan untuk mengakhiri teror dunia. Teror yang memanfaatkan semboyan kuno untuk menamai siapapun yang tak diinginkan dengan nama hina, seolah memberi kuasa pada diri mereka.

"Kita bersiap malam ini! Ketika petang, kita akan menyerbu kota Clockwork!" seru sosok berjubah biru itu, memukulkan tinjunya ke langit.

Hari itupun Nora sama seperti biasanya, hanya bisa melihat dari belakang sosok biru itu seraya ia meninggalkan panggung. Dengan riang gadis itu mengikuti kemanapun si sosok biru pergi, baik ke ruang altileri, barak, bahkan ke menara pengawas sekalipun.

"Nora," panggil si jubah biru, tampaknya terusik oleh kehadiran Nora. "Aku tidak akan mati, aku janji."

"Hah?" kini Nora yang dibuat bingung. "Kenapa tiba-tiba..."

"Sudah lama kita berkeliling tapi kamu tidak berkata sepatah katapun," ujar si jubah biru. "Kurasa itu yang mengganjal di hatimu, kan?"

"Hehehe~ Kau mengkhawatirkanku, Emi?" canda Nora. "Aku malah khawatir kalau kamu hanya mengkhawatirkan aku."

"Aku mengkhawatirkan kita semua, Nora," ujar Emi. "Aku mengkhawatirkan Zail yang meninggalkan toko perahunya, Naif  yang meninggalkan kuilnya, Arce yang meninggalkan keluarganya... semua yang ada di benteng kuno ini telah meninggalkan segala sesuatu yang mereka cintai untuk hari penentuan esok hari."

"...tapi kita tidak bisa menjanjikan keselamatan mereka, bukan?" tebak Nora.

Tak membalas, Emi hanya berbalik dan melanjutkan perjalanan, sedangkan Nora mengekor di belakang.

"Aku tidak perlu menakuti kematian, tapi apa aku bisa memandang wajah keluarga mereka saat membawa berita duka?" tanya Emi pada dirinya. "Terkadang aku berharap aku tidak pernah keluar dari hutan tempatku lahir dan mati di tangan petualang pemula."

"Huh... Jangan bilang begitu... Kalau kamu nggak keluar dari hutanmu, aku pasti sudah mati kelaparan di goaku," omel Nora.

"Dan Gargo takan pernah keluar dari kastil tempatnya mengabdi... Knowledge takan keluar dari perpustakaan tempatnya dikekalkan..." ia menghentikan langkahnya. "Aku telah mempengaruhi hidup semua yang ada di sini. Itulah kenapa, besok kita harus menang."

"Kalau begitu berisirahatlah, pemimpin besar!" goda Nora.

"Pemimpin Besar? Kalau aku saja sudah pemimpin besar, Gargo pemimpin super besar, dong?" balas Emi.

Malam itupun berlalu dengan cepat. Mereka bertemu dengan Gargo dan Knowledge untuk membahas strategi bersama para pemimpin lainnya. Nora, tentunya tidak menyukai rapat dan malah tidur di atap benteng kuno.

Melihat bulan purnama di atasnya, Norapun bertanya. Akankah ia bisa menjumpai malam seperti ini? Bulan purnama yang selalu mengingatkan dirinya akan perjalanan yang telah ia tempuh bersama Emi dan teman-temannya. Bersantai saat bulan purnama bersinar, Nora dan ketiga temannya berkumpul di depan perapian dan saling bercanda tawa.

Namun suasana ramai benteng itu tiba-tiba menjadi sunyi. Norapun terbangun, menyadari tidak ada siapapun dalam benteng. Iapun bergegas ke menara tertinggi, mencari tahu apakah ia benar-benar tertinggal rombongan penyerang. Namun saat ia mencapai menara itu, ia hanya melihat sebuah cahaya menyilaukan dari barat kota Clockwork.

Sebuah cahaya gemerlap yang membuat Nora merinding sampai ke bulu kuduknya. Ia meneriakan sesuatu, tapi suaranya tidak bisa keluar. Ia ingin berlari, tapi tubuhnya membeku seketika. Ia meronta, tapi usahanya sia-sia.

Pada akhirnya, Nora hanya bisa meneriakan satu kata penuh kesedihan.

***

"EMI!"

Nora terbangun dari tidurnya, menggigil ketakutan. Ia memeluk diri, berharap untuk menenangkan diri, tapi ketakutan membuatnya tak sadar bahwa kukunya sendiri telah menggali ke dalam kulit.

"Aku... Aku..." Nora berusaha mengambil nafas, masih menggigil dari tidurnya.

"MBEEK!"

Kasur Nora ambruk karena kakinya ditendang keras oleh Maximillion, menjatuhkan si gadis tinta ke lantai tanah. Mata Nora terbelalak terbuka, mencari ke setiap sudut yang bisa ia capai hingga akhirnya berhenti pada si domba, Maximillion. Tangan lemas si gadis Ink menggapai lantai, menyeret dirinya pada si domba.

"MAXI!!!" Nora mengalungkan  tangannya pada leher si domba, lalu membenamkan kepalanya pada bulu tebal si domba. "C-Cahaya itu tidak ada,kan? Itu hanya khayalanku saja,kan? Tolong katakan iya, ya Maxi?"

"Mbek," sebuah jawaban singkat karena domba itu sudah kesal dengan tingkah laku majikannya.

Nora menjeda. Ia tak mengatakan apapun, hanya menghela nafas perlahan sambil menjaga mata melototnya di hadapan mata domba itu.

"Terimaksih, Maxi!" seiring perubahan drastis mood sang majikan, Ink miliknyapun melesat pada si domba, mengikat pergerakannya. "Kamu domba terbaik, Maxi~ apa yang kamu inginkan hari ini? Jalan-jalan? Rumput segar? Pesta sate bersama teman-temanmu? Akan kuturuti semuanya~"

"Mbeek mbeek!" Maximillion menolak tawaran ketiga Nora. Ia tahu apa peran dia dan teman-teman dombanya di pesta itu.

Domba itupun kumat paniknya dan membumbungkan bulunya seperti bola, menyembunyikan kepala dan kakinya dalam bola bulunya yang begitu tebal dan lembut. Bukannya terganggu, Nora semakin betah bersandar di bulu si domba karena empuknya.

"Anda tampak senang sekali, nona Nora," sebuah suara gadis, diikuti langkah kaki sepatu heelsnya masuk ke dalam gubuk Nora.

"Ah~ Sirna! Kamu datang juga! Aku hampir mengira kamu tidak akan datang!" seru Nora riang. "Sekarang, boleh aku..."

"Tidak, tidak untuk kali ini," ujar Sirna. "Aku tidak akan meminjamkan tubuhku sampai anda menjawab semua pertanyaanku!"

"Aku mungkin akan meladeni permintanmu," ujar Nora. "Tapi suasana hatiku sedang jengkel sejak bangun, jadi bisa kita bahas nanti?"

Memasuki rumah Nora adalah langkah fatal. Dalam kegelapan ini, Sirna hampir tidak bisa melihat apapun, tapi ia dapat mendengar suara melata dari Ink Nora. Benar-benar seperti masuk ke dalam sarang laba-laba.

"Bukannya kita ada perjanjian? Kontrak?" ingat Sirna. "Aku bahkan tak tahu apa isi kontrak kita! Dan akupun takan rela meminjamkan tubuhku sampai kau menjelaskannya!"

"Hmm... menyusahkan. Aku bisa langsung mengambil tubuhmu, tahu?" ujar Nora. "Tapi Emi takkan menyukainya..."

"Jadi, kesimpulannya?"

"Baiklah. Aku akan menjelaskan kontrak itu lagi. Cukup sederhana, kau pinjamkan tubuhku padamu dan aku carikan ayahmu yang hilang," terang Nora. "Tapi dengan syarat awal aku boleh menghapus ingatanmu soal kontrak ini."

"Anda menghapus ingatanku?"

"Ya. Aku bisa melihat ingatan seseorang dan membuatnya lupa jika perlu," terang Nora. "Karena semakin tahu dirimu, semakin lemah kendaliku terhadapmu. Yang kumaksud tubuhmu, tentunya."

Sirna meneguk liurnya. Ia masih punya beberapa pertanyaan, tapi jawaban Nora barusan sudah membuatnya merasa tidak enak, "Kalau anda tak ingin saya tahu, kenapa tidak langsung mengambil tubuh saya tanpa kontrak itu?"

"Emi takkan menyukainya," jawab Nora. "Menyusahkan... tapi aku akan melakukan apapun yang Emi minta~"

"Karena... cinta?" tebak Sirna, masih memiliki sedikit ingatan betapa menyebalkan diri Nora saat nama itu mulai muncul.

"Ya! Ya! Ya! Benar sekali!" jawab Nora kegirangan. "Itu saja pertanyaanmu?"

"Apa dirimu?" tanya Sirna. "Kau... entah kenapa masih bisa hidup setelah tercebur ke dalam sungai di ronde sebelumnya. Tapi kau tidak punya wujud, hanya kumpulan Ink dan bola ungu milikmu."

"Karena itulah diriku," jawab Nora. "Orang memanggilku "Wabah Hitam", tapi aku tak suka namanya, jadi aku menyebut diriku sebagai Nora si Tinta Hitam. Mereka menyebutku demikian karena aku sering menyerang desa-desa dan memakan penduduknya hingga menjadi Ink. Tentunya... itu jauh sebelum aku bertemu Emi."

Paling tidak Sirna mengerti lebih banyak soal Nora. Mahluk di hadapannya ini adalah sebuah mahluk tak dikenal yang tubuhnya hanya terdiri atas Ink dan bola ungunya. Ia punya kelaparan yang tak terbendung, tapi sepertinya Nora mulai memilih-milih semenjak sosok Emi ini datang. Kemungkinan besar, Emi inilah yang mengekang sifat asli Nora, untuk tujuan baik tentunya.

"Satu pertanyaan terakhir, nona. Jika anda memang seperti apa yang ada di pikiran saya..." Jari Sirna menunjuk pada diri Nora, lebih tepatnya "sosok" manusia yang ada di hadapannya. "Tubuh siapa yang sedang anda pakai?"

"Oh? Ini? Tubuh seorang budak yang kubeli dua minggu sebelum masuk ke dunia mimpi," ujar Nora. "Tak usah khawatir, aku juga membuat kontrak dengannya! Aku tidak sejahat yang kau pikirkan!"

Tidak sejahat seperti yang dipikirkan? Kalimat itu terulang berkali-kali di benak Sirna. Mengingat tubuh budak itu tak pernah keluar dari gelapnya rumah Nora, Sirna takkan tahu luka yang bisa saja tampak di kulit tubuh pinjaman itu. Namun Sirna tahu ada yang salah dengan tubuh itu karena ia tak pernah sekalipun melihatnya berdiri ataupun berjalan. Dalam tubuh itu, Nora selalu duduk dan merangkak jika perlu berjalan.

"Kalau boleh tahu, kenapa kau perlu tahu informasi-informasi tak penting ini?" tanya Nora. "Bukannya kau datang untuk tujuan yang sama seperti sebelumnya? Supaya aku mencari ayahmu?"

"Itu..."

"Dan... mungkin kau sudah mengingat sosok ayahmu?"

Sirna terdiam. Ia butuh Nora untuk mencari ayahnya dan Nora memanfaatkan ketergantungan itu. Setelah memikirkan sejenak, Sirna sampai pada kesimpulan bahwa ia memang tidak suka perlakukan Nora, tapi paling tidak ia masih memiliki batas dan patuh pada kontraknya.

"Ia adalah sosok berambut acak-acakan dengan jas dokter berwarna putih," ujar Sirna. "Tapi aku ingin meminta satu hal sebelum aku meminjamkan tubuhku."

Vivaldo, sosok pemimpin kelompok sirkus Cirque dimana Olive bekerja, telah mati karena kelaparan Nora. Sedangkan rekan Olive yang lain tidak lagi terlihat di bingkai mimpi ini, seakan menandakan mereka telah tiada karena alasan yang tak diketahui Sirna sendiri dan ia takkan ragu menebak apa yang terjadi pada mereka.

"Tolong jangan bunuh siapapun lagi. Tidak dengan tubuhku!"

"Baiklah. Jika itu maumu," balas Nora. "Sekarang, bisa kita mulai?"

Sirna mengangguk pelan, membiarkan cairan hitam Nora menyerbu tubuhnya. Ia merintih, hendak berteriak, tapi tak bisa. Ink Nora masuk melalui pori-pori kulitnya, sesuatu yang ia anggap tak mungkin terjadi. Ia dapat merasakan sendiri cairan hitam itu membaur dengan tulang dan ototnya, hingga kesadarannya semakin pudar.

Dan kembalilah sosok sang tinta hitam, si gadis tinta dengan tubuh Sirna si pembantu.

==2==
Lukisan Penarik Jiwa

Lorong pameran musium semesta begitu lebar hingga membuat pengunjung yang melewatinya penasaran kenapa mereka hanya berpapasan dengan satu dua orang saja. Namun tak satupun pengunjung sesenang anak tamasya, semua mempertanyakan kenapa lampu-lampu lorong dimatikan, pasalnya tak ada yang tahu bahwa mereka datang tak diundang selagi sang Kurator dan Konservator sedang keluar.

Satu dari pengunjung itu, seorang pemuda bernama Ash Aegisa membawa senter untuk menerangi jalannya. Langkah kaki reverier lain di belakang Ash membuatnya tak takut untuk berjalan lebih awal dari reverier lagi, terlebih lagi karena senter-senter para reverier di belakang menambah terangnya jalan.

Namun setelah beberapa waktu, senter para Reverier berhenti mengikuti Ash. Iapun berbalik, penasaran kenapa mereka berhenti. Jantungnya mendetak kencang sampai ia menjatuhkan senternya. Senter-senter para Reverier menghadap pada Ash, tapi tak seorangpun memegangnya, tergeletak begitu saja di lantai.

"Kawan-kawan? Dimana kalian? Buckazy, kawan dombaku?" panggil Ash, tapi tak ada jawaban dari kegelapan lorong.

Ash terburu-buru mengambil senternya kembali, lalu menelusuri langkahnya untuk mencari kemana perginya reverier yang bersamanya beberapa saat lalu.

"Ghoul..." sebuah suara lemah terngiang di kepala Ash.

Rambut pirang nan kusam pemuda itu bergelombang karena cepat larinya, membuat poni di depan matanya terangkat, menampakan luka terbakar di mata kiri, tanda seorang pembawa arwah monster 29 Februari.

"Ghoul..."

Pelarian ini semakin memburu nafas, langkah Ashpun semakin melambat. Tidak hanya kelelahan, iapun juga ketakutan. Takut nasib yang terjadi pada para reverier yang menjatuhkan senter mereka juga ikut menimpanya.

"Ghoul..."

"DIAM!" seru Ash pada suara yang menggema itu.

Pada akhirnya Ash tak kuat berlari lagi. Ia membaringkan punggungnya pada dinding lorong mengambil nafas sebisa mungkin. Makian pelan keluar dari mulutnya, mengutuk dirinya yang masih cepat kehabisan nafas meski sudah sembuh dari asmanya.

"Ghoul..."

            Seakan penderitaannya belum lengkap, lampu senternya kini berkedip-kedip pelan seakan hendak kehilangan daya. Tanpa menunda Ash menggoyangkan tabung senternya sambil memutar bohlamnya, berharap kedipan-kedipan senternya hanya permasalahan kecil. Hingga akhirnya senter itu padam, mengurung Ash dalam kegelapan lorong.

            "GAK.... MAU....NGU....LANG... LA...GI..."
           
            "Lho?"

            "Udah! Aku nggak mau ngulang lagi, bo! Dari tadi manggil, tapi kamu cuekin terus! Sakit hatiku, tahu!" protes suara tanpa sumber itu. "Yah, aku bilang gitu, tapi hati kita sama, kan? Secara teknis."

Ketakutan Ash tiba-tiba berubah menjadi rasa jengkel. Suara banci yang terngiang di kepalanya ini adalah pecahan jiwa Lucifer, si monster tanggal 29 Februari yang terkurung dalam tubuhnya. Singkat cerita, pada ronde sebelumnya pecahan jiwa monster ini berusaha mengambil alih tubuh Ghoul ketika kesadarannya pulih, tapi usahanya gagal dan dia masih berupa pecahan jiwa yang terperangkap dalam tubuh Ghoul. Maaf, maksudku Ash Aegisa.

"Apalagi, Lucifer? Aku tak mau melakukan permainan bodohmu!" bentak Ash.

"Lucifer? Ayolah, Ghoul. Kitakan nggak sejauh itu? Kita satu tubuh, satu hati, jadi tolong panggil L-U-C-Y," balas "Lucy"fer

"Tidak! Memanggil namamu saja sudah membuatku mual, apalagi dengan nama seperti itu!" tolak Ash.

"Lakukan atau akan kungiangkan nama Ghoul itu lagi," perintah si pecahan jiwa.

Ash menggeram kesal. Tampaknya Lucy masih kesal karena usahanya gagal di ronde sebelumnya dan melampisakan dengan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan : mengganggu Ash dengan pembicaraan tak penting. Parahnya, Ash sendiri tak bisa melakukan apapun untuk membungkam Lucy.

"Kalau kupanggil Lucy, bisa kau berhenti memanggilku Ghoul?" pinta Ash.

"Tentu saja, Kenzo sayangku!"

"Kenzo itu nama... ah! Sudahlah! Aku tak peduli kau menyebutku dengan apapun," ujar apapun geram. "Narator nggak usah ikut-ikutan!" bentak Ash.

"Oh... iya, Ken. Kau ingin tahu apa yang terjadi pada reverier lain,kan?" tebak Lucy. "Seorang wanita berpakaian hitam berbisik pada mereka, lalu dengan cekikikan mereka meletakan senter di lantai dan bersembunyi di ruang sebelah."

"J-Jadi aku dipermainkan?!" pekik Ash tak percaya.

"Satu lagi, Ken," mulai Lucy. "Letakan tanganmu di dinding dan angkat ke atas," ujarnya.

Ash masih agak ragu, tapi ia tetap melakukannya. Tangannya meraba ke dinding yang ia sandari, lalu diangkat sedikit ke atas. Sesuatu membentur tangannya. Ia pun meraih objek itu, meraba bentuk kotaknya dan menyadari apa yang disentuhnya.

"Jangan bilang kalau ini tombol lampu!"

Tombol tertekan dan lorong itupun disinari sorotan lampu dari atap, menampakan lukisan dan patung yang terpajang di sepanjang lorong itu.

"Kenapa tidak bilang dari tadi?!"

"Hei, aku ini monster! Biasanya aku akan meminta bayaran untuk itu, tapi kurasa ekspresi terkejutmu sudah cukup untuk kali ini. Hohohohoho!"

Alis Ash berkedut, hampir tak percaya ia telah dipermainkan monster 29 Februari itu dengan mudahnya. Iapun mengingat untuk tidak lagi menerima bantuan dari Lucy, pasti dia akan meminta organ atau bahkan tubuh kali berikutnya.

"Nah, karena sudah terang, kenapa tidak kamu baca kertas pemberian kepala bantal itu?"

Ash menggangguk, mengambil kertas yang telah ia simpan di celana buronnya. Terdapat sebuah peta di dalam kertas itu berserta nama dan sketsa wajah lawannya di ronde ini, Nora. Sayangnya, peta maupun lukisan Huban tidak seindah niatannya, bahkan Ash hampir tak dapat membaca tulisan-tulisan di kertas itu.

Petunjuk pada kertas itu adalah gambaran manusia batang berambut pendek dengan sebuah jubah besar dan sebuah peta tanpa arah mata angin. Serta sebuah text yang tak ia pahami.

Ikuti lorong sampai ke ruang pameran dengan lukisan besar di atasnya.
Cari wanita yang memeluk beberapa anak kecil.
Nikmati perjalananmu~


Ash hanya bisa menggaruk-garuk kepala. Tak satupun instruksi itu terdengar masuk akal. Saat dia berusaha memecahkan misteri peta Huban, matanya menangkap sesuatu yang memancing perhatiannya.

Sebuah lukisan terpajang di sisi lain koridor. Sebuah lukisan dari seorang wanita berkerudung jubah putih yang tangannya terbuka lebar dan dari tangan itu memanjang sebuah selendang putih yang  membentuk lingkaran di tengah kanvas itu. Di dalam selendang putih itu adalah beberapa sosok anak, mengangkat tangan mereka pada wanita putih itu, seakan keduanya hendak berpelukan.

Namun Ash tak sedikitpun senang dengan lukisan itu. Di luar selendang si wanita adalah beberapa sosok manusia tak berkulit, berdarah segar dan tampak marah, hendak memanjat selendang putih itu hingga bagian terluar selendang bermandikan darah. Belum lagi Ash melihat apa yang di pegang wanita itu, sebuah gergaji tangan dan sebuah pisau bedah. Wajah si wanita putih tak menunjukan senyuman dan Ash tak tahu apakah anak-anak itu sedang tersenyum atau tidak karena membelakangi dirinya, tapi ia tahu ada yang salah dengan lukisan itu.

"Apa ini yang mereka sebut lukisan kontradiktif?" tanya Ash pada dirinya sambil menahan rasa mual.

Iapun mendekat, berusaha untuk melihat lukisan itu lebih jelas. Tapi saat ia berdiri di depan lukisan itu, sebuah tangan merah menyembur keluar dan menghantamnya ke lantai. Ash berusaha keluar dari cengkraman tangan itu, tapi ia tak mampu berbuat apapun seraya tangan itu menggapainya dan menarik ke dalam lukisan.

Suara rintihan kesakitan tiba-tiba terdengar di telinganya, semakin keras hingga menjadi teriakan. Kepala sosok-sosok tak berkulit di kanvas itu bergerak perlahan, seolah menyadari kehadiran Ash. Tangan-tangan merah mereka meraih-raih, seakan hendak menangkap Ash yang terjerat, pemuda itupun tak mampu keluar dari jeratan tangan merah.

Namun sebelum ia dapat tertarik ke dalam lukisan, sebuah selendang putih menyambar tangan yang menahan Ash, membuatnya melepas genggaman. Ash yang terlempar tiba-tiba terjerat oleh selendang yang sama, sialnya, tampaknya selendang itupun punya niatan menariknya ke dalam lukisan. Hingga pada akhirnya, hanya cahaya putih mengisi pandangannya.

***
"Tangkap bolanya!"

Belum sempat Ash memproses apa yang terjadi setelah ia masuk ke dalam lukisan, tiba-tiba sebuah bola plastik menghantam kepalanya seketika. Sialnya, wajah Ash menggali masuk ke dalam bola plastik itu. Ash meraih bola yang menutupi hingga ke telinganya itu, tapi lekuk bola itu sudah terlanjur membentuk wajahnya, sehingga sangat sulit bagi si pemuda untuk melepasnya.

"Yah... Bolanya rusak..." ungkap kecewa sebuah suara. "Yuk ganti main setan-setanan! Mas yang baru masuk jadi setannya!"

Sesuatu mendorong Ash hingga terjatuh, lalu menduduki punggungnya seperti hewan tunggangan. Suara pukulan dan tawa riang  memenuhi  gendang telinganya, bahkan tangannya dikunci hingga ia tak bisa melepas bola yang terukir di wajahnya. Ash sudah terlalu terbiasa dihantam dan disiksa seumur hidupnya, tapi ia tak pernah merasakan yang seperti ini.

Jika biasanya ia merasa tersiksa, kali ini ia merasa dipermainkan. Ia merasa dapat melepas kuncian-kuncian itu dengan mudah dan pukulan yang dilemparkanpun tidak terasa sakit. Ashpun tahu siapapun yang menyerangnya tidak pandai bertarung.

Dengan satu erangan keras, Ash mendorong penindih punggungnya, berdiri dan segera melepas topeng bola yang menutup wajahnya. Iapun menyiapkan kuda-kuda bertarung untuk melawan penyerangnya. Namun bukannya ungkapan kemarahan yang ia dengar, malah tawa riang penyerangnya. Suara tawa seperti anak kecil.

"Waaah! Monsternya bangun! Lari!"

Tentu saja suaranya seperti anak kecil! Yang menyerangnya memang anak kecil! Beberapa anak  berbaju putih tampak berlari menjauhi Ash, tapi suara mereka tidak sedikitpun mengisyaratkan kebencian ataupun ketakutan. Mereka tertawa, seakan sedang menikmati sebuah permainan.

"Kak Nora! Kak Nora! Ada tamu datang!" sorak salah seorang anak.

Nora. Mendengar nama itu diucapkan membuat Ash terperanjat. Ia segera mencari asal suara itu, menyadari di ujung pandangannya terdapat seorang anak yang sedang berlari ke seorang wanita di bawah bayangan payung hitam. Namun sebelum ia bisa melihat sosok wanita itu, bola kedua menghantam wajahnya, membawanya kembali ke dunia kegelapan.

"Yah... Kok bolanya ketendang ke sana lagi?" ungkap kecewa anak yang menendang dua bola berturut-turut ke wajah Ash.

"Wajahnya punya magnet mungkin! Coba lempar pakai botol minum!" usul seorang anak.

"Jangan, main lempar-lempar! Nanti suster marah lagi!" tolak anak yang lain.

"Apa anda baik-baik saja?"

Sebuah tangan dingin nan halus menyentuh kulit berabu Ash, melepaskan topeng kulit bola yang menutupi pandangannya. Sebuah wajah berbinar menyambut Ash dengan senyuman, sesuatu yang hampir tak pernah ia dapat karena setiap orang yang ia temui selalu berniat membunuhnya.

"Halo, apa anda bisa mendengar?" tanya sosok gadis itu.

Ash perlu sedikit waktu untuk mencerna apa yang terjadi, tapi paling tidak ia bisa menebak. Gadis di hadapannya bukanlah Nora lawannya. Benar ia mempunyai nama yang sama, tapi penampilannya sangat berbeda dari coretan Huban yang menggambarkan Nora sebagai gadis berambut pendek.

Gadis di hadapannya berambut sepinggang dan memakai sebuah gaun ungu berlengan panjang. Ash bisa saja curiga jika gambaran Huban adalah rambut panjang dan yang dihadapannya adalah rambut pendek karena rambut masih bisa dipotong, tapi sangat tidak mungkin sebaliknya karena rambut tidak mudah dipanjangkan.

"Anak-anak, ada yang punya bola lagi?" tanya si gadis bergaun hitam.

"Ada kak Nora!" jawab seorang anak, "Tapi buat apa, kak?"

"Sepertinya tamu kita kehilangan kesadaran karena tabrakan bola tadi, jadi kalau wajahnya kena bola lagi dia pasti akan kembali sadar!" ujar Nora.

Konsentrasi Ash terpecah saat kata bola kembali terucap, "T-Tunggu dulu, kawan! Tak perlu kasar-kasar! Aku masih sadar, kok!"

"Syukurlah! Aku hampir saja memanggil suster untuk merawatmu," ujar Nora. "Perkenalkan, namaku Nora Celine, perawat ruang anak-anak."

"Ash Aegisa," ujar Ash sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

Nora menggapai tangan Ash dengan tangannya yang terbalut kain hitam. Ashpun tak mengambil terlalu banyak waktu berbegangan tangan dan segera menarik tangannya. Sesuai yang ia ucapkan, pakaian Nora benar-benar mencerminkan seorang perawat di rumah sakit, terlebih lagi dari topi persegi di kepalanya. Hanya saja ia tak pernah melihat variasi baju perawat berwarna ungu, tapi ia mengganggap bisa saja norma di dunia ini sedikit berbeda.

"Kalau boleh tahu, apa anda seorang pasien atau seorang pengunjung?" tanya Nora.




"Pengunjung," jawab Ash. "Dan... kutebak tempat ini adalah sebuah rumah sakit?"

"Ya, anda benar," jawab Nora. "Tapi saya tidak melihat kartu tamu anda. Tolong tunjukan kartu anda, jika tidak... saya minta maaf, tapi saya akan mengusir anda."

"Tak perlu mengusir. Apa kartu ini sudah cukup jelas?"

Ash menunjukan sebuah kartu yang kemudian diperiksa oleh si perawat. Setelah semenit, si perawat mengembalikan kartu itu pada Ash, menggangguk pelan padanya.

"Maaf atas kelancangan saya tadi, pak Aegisa," ujar si perawat.

"T-Tidak apa-apa... dan tolong jangan panggil saya pak! Saya tidak..."

Di tengah percakapan yang terdengar biasa itu, tidak satupun dari Ash ataupun Nora menyadari anak-anak yang telah berkumpul di dekat mereka. Namun anak-anak itu tidak datang untuk mendengarkan percakapan, melainkan karena seorang dari mereka tak sadarkan diri.

"Magie! Bangun!"

Ash dan Norapun akhirnya menyadari setelah pekikan seorang anak. Seorang gadis muda bernama maggie yang usianya belum menginjak dua digit telah pingsan tanpa alasan yang jelas. Nora segera menghampiri anak itu, meletakan tangannya di dahi si anak, sedangkan tangan yang lain mengecek nadi di pergelangan tangan.

"Dia masih bernafas, tapi detak jantungnya tidak teratur," ujar Nora.

"Asmanya Magie kambuh lagi?" tanya seorang anak.

"Tolong panggilkan suster, anak-anak! Aku akan membawa Magie ke tempat terik!"

Di tengah kehebohan Nora dan anak-anak, Ash meninggalkan ruang anak-anak melalui pintu koridor. Ia berlari sejauh yang ia bisa, melewati pintu dan jendela kamar di sekelilingnya. Sampai pada akhirnya ia berhenti karena kehabisan nafas.

"Monster berengsek! Ini ulahmu, kan!"

"Tentu saja. Kau pikir siapa lagi yang bisa melakukannya?" ujar Lucy, suara yang menggema di pikiran Ash.

Ash menampar pipinya sendiri, menyesal karena telah melupakan kehadiran si monster tanggal 29 Februari dalam tubuhnya. Monster itu lapar akan nafas mahluk hidup dan takan segan menghabisi anak-anak sekalipun, sisi terburuknya adalah Ash tak dapat melakukan apapun untuk mencegah pencurian nafas itu. Oleh karena itulah, Ash selalu menjauh dari orang biasa karena monster itu akan selalu mencuri nafas orang lain.

"Ah... iya. Kau sejenak melupakannya. Baru beberapa saat lalu kau tersenyum bahagia karena anak-anak kecil itu tak takut denganmu. Kau pikir aku akan membiarkanmu senang dalam hidupmu selagi aku menderita dalam kematianku?" ujar suara yang menggema di pikiran Ash. "Ngomong-ngomong soal nafas... entah kenapa aku tidak bisa mengambil nafas gadis itu."

Kalimat Lucy membuat mata Ash memicing. Iapun kembali menampar dirinya dengan harapan monster itu ikut merasakan rasa sakit yang ia alami.

"Kau tahu aku tidak merasakan rasa sakitmu, kan?" selidik Lucy. "Aku tahu kau marah, tapi coba pikirkan kenapa aku tak bisa mengambil nafas gadis Nora itu..."

"Tidak mungkin dia seorang Reverier," ujar Ash. "Dia berbeda dengan gambaran Huban, terlebih lagi dia punya pekerjaan di rumah sakit ini!"

"Oh, ya? Coba tanyakan para pasien. Aku punya keraguan akan hal itu," ujar Lucy.

Ash menggaruk kepalanya, "Para Pasien?"

"Aku merasakan nafas dari banyak orang di sekitar sini, coba cari seorang staff dan tanyakan keberadaan perawat itu," usulan Lucy. "Tak usah khawatir soal aku mencuri nafas orang-orang ini. Aku tak suka nafas mereka yang sakit-sakitan."

Ash tidak menyukai usulan Lucy, ia merasa semakin terjerumus ke dalam godaannya. Namun ia tak punya pilihan lain dan iapun tak dapat kembali ke ruang anak-anak lagi. Ia memilih pintu terdekat dengannya dan mencoba menggerakan kenop pintunya, sayang kenop itu tak bisa digerakan sedikitpun.

"Dikunci?"

Pintu demi pintu telah ditelusuri, tapi tak satupun terbuka. Firasat buruk mulai menghantui pikiran Ash. Biasanya dalam sebuah rumah sakit, pintu-pintu ruang pasien akan dibuka jika para pasien masih tinggal di ruangan itu, tapi tidak masuk akal jika ia terus menemui pintu yang terkunci, padahal Lucy mengatakan ada banyak nafas di sekitar.

Sampai pada akhirnya, ia mencapai sebuah pintu yang menjawab saat ia menggerakan kenop pintunya.

"Siapa di sana?" tanya suara serak dan lemah dari balik pintu.

"Aku... seorang pengunjung," jawab Ash dengan jujur, tak mau memberi kesan buruk.

"Pengunjung? Rumah sakit jarang mendapat pengunjung. Apa anda seorang dokter?"

"B-Bukan... aku hanya pengunjung biasa," jawab Ash.

"Oh... kukira aku akan segera sembuh dari sakitku..." ungkap murung pasien itu. "Apa... suster ada di sana?"

"Suster?" kini Ash yang bertanya-tanya. Ia memang bertemu dengan seorang perawat, tapi tidak dengan suster. Iapun teringat bahwa anak-anak tadi juga menyebutkan seorang suster, tapi sepertinya mereka tidak menunjuk pada Nora. "Tidak ada siapapun di sini. Apa perlu kupanggilkan si suster?"

"Tidak! Jangan!" bentak si pasien. "M-Maaf, aku membentakmu, tapi tolong jangan panggil suster. Tolong bukakan saja pintu ini untukku."

"Ada apa dengan pintu-pintu di koridor ini? Semuanya terkunci," tanya Ash.

"Itu perbuatan si suster," tegas si pasien. "Dia mengurung kami di sini dan tak merawat kami! Bahkan kami rasa ia ingin kami tetap sakit!"

Seteguk ludah tertelan oleh kerongkongan Ash, tampaknya ia mulai mendapat gambaran seram sosok suster ini. iapun berusaha mengeluarkan pasien itu, tidak tega melihatnya terkurung lebih lama, tapi tak peduli berapa kalipun ia memukul ataupun menendang, pintu itu tetap berdiri kokoh.

"Anda baik sekali tuan... tapi saya tidak mengira pintu ini begitu keras..." pinta maaf si pasien.

"Tunggu. Aku masih punya satu cara lain."

Ash berfokus pada pernafasannya, berusaha menemukan ritme yang sejalan dengan nafas monster di dalam tubuhnya. Ketika nafas itu tersinkron, Ash mengepalkan kedua tangannya menjadi satu. Percikan api tiba-tiba membakar udara di dalam kepalan kedua tangan itu, membuat sebuah api kecil yang langsung disulutkan pada pintu itu.

Inilah kekuatan monster 29 Februari yang dimiliki Ash, pengubahan nafas menjadi api. Ia tidak menyukai kemampuan ini karena sumbernya, tapi setidaknya, kemampuan inilah yang telah menyelamatkannya dalam ronde-ronde mematikan turnamen ini.

Awalnya, api itu hanya sebuah percikan kecil, tapi perlahan membesar hingga akhirnya pintu itu hangus menjadi abu. Saat itu pula, terdengar suara kursi roda dari dalam ruangan itu. Sayangnya, koridor tiba-tiba mendapat guyuran air, membut Ash secara refleks masuk ke dalam ruangan yang tak diguyur air. Tampaknya koridor ini terpasang dengan pemadam api otomatis jika mendeteksi adanya api.

"Terimaksih. Aku sangat berhutang padamu," ujar sosok di kursi roda itu.

Namun Ash melompat mundur karena terkejut. Sosok dihadapannya bukanlah manusia, melainkan sosok tanpa kulit yang ia lihat dalam lukisan yang menariknya. Dengan sedikit berbatuk-batuk, ia mendorong maju kursi rodanya keluar ruangan, menuju Ash yang masih kaku. Tangan tulang berlapis daging sosok itu meraih ke arah Ash, seakan hendak mencengkram.

"Perlu bantuan, kawan?" tawar pemilik suara serak itu. "Aku minta maaf telah mengagetkanmu. Aku juga sekaget dirimu saat menyadari wujudku menjadi seperti ini."

Pikiran seram yang terbayangkan ketika ia tertarik ke dalam lukisan sirna begitu saja dari pikiran Ash. Ia sempat berpikir bahwa sosok itu adalah monster, tapi ternyata tidak. Pasien itu menawarkan bantuan padanya seperti manusia pada umumnya, jadi akan sangat tidak sopan jika ia mendiskriminasi hanya dari penampilannya. Iapun meraih tangan si pasien dan berdiri dengan sedikit bantuan.

"Terimakasih telah menyelamatkanku, sang arang."

"Sang Arang?"

"Ya... Sang Arang... kupikir nama itu cocok denganmu."

"Karena bauku seperti arang?"

"Tidak-tidak... karena arang adalah pembuat api,"ujar si pasien. "Ini mungkin sedikit berat... terutama untuk orang yang baru pertama kali bertemu. Tapi tolong bakarlah rumah sakit ini, sang arang. Penduduknya telah menderita, tapi si suster masih membiarkannya berlanjut. Tolong akhiri semua ini!"

Namun sebelum Ash dapat memahami perkataan pasien itu, sebuah selendang putih melesat di antara mereka dan menghantam si pasien kembali ke kamarnya. Pintu kamar pasien itu tiba-tiba pulih dari abu pembakaran Ash dan menguncinya kembali. Ash segera menghampiri pintu pasien itu, hendak membuat api baru untuk membebaskannya lagi.

Sayangnya ia telah melupakan selendang putih tadi, sehingga ia tersentak saat selendang putih itu telah menyelimuti dirinya dan menghantamkannya jauh dari pintu yang hendak ia bakar.

"Tolong jangan melakukan tindakan tidak berguna itu," ujar suara wanita dari selendang putih. "Anda tidak tahu apa yang sedang anda lakukan."

Dari tipisnya selendang putih itu, sesosok cahaya berjalan keluar darinya.  Seorang wanita bergaun putih dengan sebuah topi suster di kepala botaknya.

"Lepaskan! Aku tahu apa yang telah kau lakukan pada para pasien itu, suster!" bentak Ash, meronta-ronta dalam jeratan.

"Maaf, kurasa kelancanganku membuatmu tersinggung?" tanya si suster. "Elli Celine. Satu-satunya suster di rumah sakit ini dan konsevator lukisan ini."

Konsevator, kata baru yang mengusik pikiran Ash. Seingatnya, hanya satu orang saja yang memiliki gelar itu,  Mirabelle, lalu kenapa ada orang lain yang menyandang gelar itu? Apapun jawabannya, ia pasti akan segera diberitahu karena suster itu menyeretnya ke suatu tempat yang tak bisa didengar pasien.

==3==
Dua Sisi dari Satu Koin

"Magie nggak sakit! Tadi Cuma  pusing sedikit!" protes gadis kecil yang mengalami asma beberapa saat lalu.

"Nggak boleh!" tolak Nora. "Kamu nggak boleh main-main dulu! Nanti aku yang kena marah!!!"

Mendengar  penolakan kasar itu, wajah magie berkerut hebat. Tubuhnya bergetar bagai ketle yang dipanaskan hingga akhirnya menyemburkan tangisan yang memekakan.

"A-Aduh... M-Magie jangan nangis dong..." pinta Nora.

            Kini Nora merasa bersalah karena tidak membiarkan Magie bermain, tapi pada saat yang sama ia tak mau Magie mencederai dirinya lagi. Di saat panik itulah, sebuah ide terbayang di kepala Nora.

            "Hei, lihatlah!"

Bagian depan Gaun Nora tampak mencair, tapi sedetik kemudian bagian yang mencair itu membentuk sebuah layar baru di depan gaunnya, seolah sebuah apron terbentuk dari gaunnya. Rambut panjang Norapun kini mencair, merayap ke atas kepalanya dan membentuk sebuah topi menggelembung di kepala Nora.

Tangisan Magiepun mereda, tergantikan dengan keriangan, "Wah! Hebat! Hebat!"

Inilah salah satu pengunaan dari manipulasi Ink milik Nora selain perubahan senjata. Dikarenan seluruh pakaiannya terbuat dari Ink, maka iapun dapat mengubah bentuk dan ukurannya sesuka hati. Kelemahannya, hanya warna antara ungu dan hitam saja yang dapat ia tiru, itulah kenapa warna pakaian susternya berwarna ungu.

"MBEEEK!!"

Baru sejenak ia menjadi pusat perhatian, Nora terlempar karena serudukan Maximillion si domba. Dengan penuh amarah Nora bangkit kembali dan hendak memberi pelajaran pada dombanya, tapi saat mengingat si domba telah menyelamatkan dirinya, iapun membiarkan perlakuan si domba kali ini.

"Hore! Dombanya sudah kembali!"

Anak-anak segera berkumpul di sekitar si domba dan mulai menarik-narik bulunya. Dengan cepat Maxi membumbungkan bulunya, melindungi dirinya dalam bulunya yang lebih tebal dari biasanya. Sayangnya bulu-bulu itu masih empuk bagi anak-anak itu, jadi merekapun lebih senang dari sebelumnya.

"Huh! Gitu kamu, Maxi! Waktu aku mainkan bulumu kamu nggak suka, tapi kalau mereka yang mainkan kamu biarkan saja!" protes Nora.

Wajah Maxi menyempul keluar dari salah satu sisi bola bulunya,"Mbeeeeekkkk."

"Tarik ucapanmu, Maxi! Aku juga mau pegang bulumu, tahu!"

"Mbeek," embikan berbeda memanggil Nora yang tengah bertikai dengan Maxi.

Saat Nora menoleh ke asal suara itu, disanalah domba yang memanggilnya, bersama seorang wanita berkepala bersih.

"Ah! Suster!" panggil Nora, iapun segera pergi menghampiri si suster. "Terimakasih telah menemukan dua domba nakal ini!"

"Tidak masalah, nona. Saya justru bersyukur anda menemani anak-anak selagi saya mencari dua domba anda," ujar si suster. "Kalau tidak pasti saya harus mencari anda juga di dalam rumah sakit," canda si suster.

"Sebenarnya domba di sebelahmu bukan miliku," ujar Nora. "Dia adalah makan siangku~"

"MBEEEKKK!!!!"

Bola bulu bernama Maximillion tiba-tiba berguling dan melindas Nora tanpa ampun, mengurung sang majikan dalam penjara empuk. Nora berusaha meronta sebisanya, tapi bulu Maximillion ternyata lebih keras daripada yang dikira, bahkan Nora penasaran bagaimana bulu Maxi masih tetap empuk.

"Sudah-sudah! Aku hanya bercanda, Maxi!"

Domba kedua di sini adalah Buckazy, domba milik Ash yang secara tidak sengaja masuk ke tempat ini bersama Nora dan Maxi. Singkat cerita, ketika Nora hendak menjahili Ash dengan meminta Reverier lain untuk meletakan senter dan bersembunyi,  domba Ash menyadari ada yang janggal dan mengikuti reverier lain. Sayangnya, domba ini ikut tertangkap bersama Nora oleh sebuah lukisan dan disinilah mereka berada.

Tentunya karena punya kesempatan untuk menyantap domba lawannya, Nora tak berbasa-basi. Namun ia tidak menyangka dombanya akan membelot dan membantu Buckazy kabur hingga akhirnya si suster meminta Nora untuk menjaga anak-anak selagi ia pergi mencari domba-domba itu.

"Oh. Maaf, nona Nora, tapi bisakah anda mengawasi anak-anak ini lagi? aku harus pergi memeriksa pasien lain," pinta si suster.

"Baiklah... setelah aku keluar dari bola bulu ini!"

***

Kita tahu apa yang telah dilakukan si suster. Ia menangkap Ash dan membawanya ke suatu ruang bedah. Di sanalah Elle melepas ikatan selendang putihnya, membiarkan sang Reverier bergerak lagi.

"Aku punya beberapa pertanyaan untuk anda, tuan Ash," ujar si suster, Elle.

"Begitu pula denganku... kawan" balas Ash, berusaha menahan suaranya supaya tetap terdengar sopan. "Apa maksudmu dengan konsevator? Hanya ada satu konservator yang kutahu dan itu jelas bukanlah dirimu!"

Sejenak, suster itu memejamkan matanya. "Konservator... aku akan lebih senang jika kau menyebutku suster saja," ungkap Elle. "Konservator adalah gelar yang diberikan oleh [Sang Kehendak] untuk penjaga suatu maha karya dan Mirabelle, kurasa dia yang kau maksud, adalah penjaga maha karya terbesar [Sang Kehendak], yaitu musium semesta. Aku hanyalah penjaga maha karya ini, lukisan [Ironi Rumah Sakit]."

Elle mulai menceritakan soal peran konservator, sang pengawet maha karya. Pengawetan dalam arti segala sesuatu yang ditampilkan oleh karya itu harus berada pada kondisi yang telah ditentukan.

"Tempat ini... Rumah Sakit ini... bukanlah tempat dimana orang datang untuk mencari kesembuhan," ujar Elle. "Rumah Sakit adalah Rumah bagi mereka yang sakit-sakitan. Segala penyakit dari penjuru semesta ditampilkan dalam karya ini... dalam tubuh para pasien. Merekalah pertunjukan musium, terjebak dalam kesakitan mereka yang abadi."

"Lalu kenapa kau tidak menyembuhkan mereka?" tanya Ash, sedikit menaikan nadanya. "Mirabelle memiliki kekuatan memulihkan semua luka, bukannya berarti kau punya kemampuan itu juga?"

"Ya. Aku bisa saja menyembuhkan mereka," ungkap Elle. "Tapi itu akan merusak maha karya ini dan memancing kemarahan [Sang Kehendak]. Jika itu terjadi, aku tak bisa melakukan apapun. Satu-satunya yang bisa kulindungi sekarang hanyalah anak-anak itu... anak-anak yang diampuni oleh [Sang Kehendak] untuk memenuhi lingkaran dalam selendangku."

"Ironi rumah sakit..." gumam Ash, teringat akan lukisan yang menariknya masuk. Awalnya Ash mengira lukisan itu hanya bercerita tentang seorang wanita melindungi anak-anak dari sosok menyeramkan di luar selendangnya.

Namun itu hanya setengah cerita, wanita itu tak dapat melebarkan selendangnya ke penjuru kanvas, oleh karena itu ia hanya melindungi anak-anak di tengah, sedangkan pasien lain hanya bisa berharap masuk ke dalam perlindungannya.

"Akan kuanggap keheningan anda sebagai akhir dari pertanyaan anda," mulai Elle. "Sekarang, tolong jawab pertanyaan saya. Apa yang anda bicarakan dengan pasien yang anda bebaskan?"

"Dia memanggilku... sang abu dan memintaku untuk membakar lukisan ini. Kawan... kalau anda punya hati, bagaimana kalau saya bakar saja lukisan ini? Dengan begitu pasien di dalamnya akan mati dengan tenang dan anda akan terbebas dari tugas anda."

"Dan membiarkan anak-anak tak berdosa ikut mati?" tanya Elle. "Saya memohon maaf sebesar-besarnya, jika anda masih berniat membakar lukisan ini, saya tidak akan sungkan melawan anda."

"T-Tidak... maksudku... mungkin kau bisa mengungsikan mereka ke tempat lain? Sebagai konsevator?"

"Tidak ada jalan keluar dari lukisan ini," ungkap Elle. "Satu-satunya cara keluar adalah atas kuasa [Sang Kehendak], sesuatu yang kalian para Reverier miliki, tapi tidak dengan kami para penghuni lukisan."

Ash tak mampu berkata apa-apa. Dadanya terasa sesak saat mendengar jawaban Elle, bahkan jauh lebih sakit daripada saat ia terkena asma. Dirinya telah berkelana dari satu bingkai mimpi ke bingkai mimpi lain tanpa kendala karena adanya si domba,Buckazy, tapi ia tak pernah membayangkan apa yang terjadi pada penduduk bingkai mimpi yang ia tinggalkan.

"Wahai sang Abu... jika anda senang memakai nama itu," mulai Elle. "Jika anda tak ingin mengusik lukisan ini, maka saya akan memberikan bantuan."

"Maksudmu... membantu melawan lawanku?" tanya Ash.

Elle menggeleng, "Saya tidak diizinkan untuk ikutcampur dalam pertarungan."

Si suster berjalan ke sebuah rak buku di ujung ruang, lalu mengambil sebuah buku hitam bertuliskan tulisan putih. Melihat buku itu saja, bulu kuduk Ash sudah bergetar kencang. Dibukanya buku suram itu, langsung melompat ke salah satu halaman terbelakang.

"Anda sudah menemui lawan anda, Nora. Dia datang bersama dua ekor domba yang salah satunya bukan miliknya dan sempat berpura-pura menjadi seorang perawat ketika saya mencari dua domba yang kabur dan saat itulah anda bertemu, saat domba-domba itu dan saya tidak berada di ruangan anak-anak," ungkap Elle.

"M-Maksudmu perawat yang tadi kutemui adalah..."

"Ya, dia adalah lawanmu di ronde ini," jawab Elle.

"Agh, sial! Aku menunjukan kartuku padanya! Dia sudah tahu semua kekuatan dan lemahanku!"

"Jangan khawatir. Aku sudah bilang akan membantumu, kan?" ingat Elle. "Dengan katalog lukisan ini, aku dapat melihat informasi dasar dari pengunjung yang masuk ke lukisan, termasuk para Reverier. Mungkin sedikit tidak berguna untuk anda, tapi buku ini juga menyimpan informasi soal segala penyakit."

Elle terdiam sejenak saat ia membaca entri terakhir dari buku katalog itu. Namun perlahan matanya melebar, menunjukan ekspresi yang lebih serius dari sebelumnya. Ia membalik ke suatu halaman di tengah buku, berisikan beberapa tulisan asing dengan ilustrasi orang termakan oleh cairan hitam.

"Buku ini... bercerita lebih banyak dari yang kutahu. Di balik nama Nora, lawanmu di ronde ini, adalah sebuah organisme parasit yang kerap mengambil alih tubuh mangsanya. Penyakit ini sering meneror desa-desa terpencil di dekat hutan, tapi lemah terhadap air. Sang Wabah Hitam."

"Parasit? Seperti benalu dan cacing?" tanya Ash.

"Parasit ini pada tingkatan berbeda dari contoh yang anda sebutkan. Parasit ini berbentuk koloni dan patuh pada sel parasit dengan kemampuan kontrol tertinggi. Hal terburuk dari parasit ini adalah rasa laparnya yang tak terkekang dan ia dapat membuat lebih banyak sel parasit dengan mengkonsumsi sel mahluk hidup lain,"  terang Elle.

"Berarti lawan kita adalah monster parasit? Kurasa apiku akan membakarnya dengan mudah!"

"Tidak! Ia masih menyandra seseorang dalam kendalinya," ujar Elle. "Buku ini mencatat dua kehadiran saat Nora masuk, satu untuk si parasit dan satu lagi untuk entitas yang dikendalikan olehnya."

"Dan entitas ini... adalah tubuh yang ia kendalikan?" tanya Ash.

"Tepat sekali," jawab Elle. "Untungnya, saya mungkin telah menemukan kelemahan untuknya. Anda memperhatikan bagaimana ia selalu bersembunyi di bawah bayangan payungnya? Kemungkinan ia sangat takut akan cahaya!"

"Baiklah! Aku akan menyelamatkan sandra itu secepat mungkin!"

==4==
Sang Pembawa Api

"Untuk apa anda memanggilku ke sini?"

Nora telah masuk ke dalam koridor gelap rumah sakit, menemui sang lawan, Ash Aegisa yang telah memanggilnya keluar.

"Kau tidak usah menipuku lagi, kawan. Tunjukanlah sosokmu!" seru Ash.

"Akhirnya kau menyadari, ya?"

Jubah ungu Nora melebur menjadi cairan hitam, lalu membentuk pakaian yang sering ia kenakan, sebuah jaket lengan panjang berterusan di bagian belakang, sebuah rok ungu dan cairan hitam yang menyelimuti seluruh permukaan kulitnya selain leher ke atas.

"Itu berarti kau sudah siap bertarung?" tanya Nora, membentuk sebuah pisau ungu dari Ink miliknya yang tersisa.

"Jauh lebih siap!" seru Ash, melempar sebuah cengraman tangan.

Nora menapak ke samping, menghindari cengkraman tangan yang diayunkan oleh Ash. Iapun melesat masuk, melemparkan pisau kecilnya. Namun tangan kiri Ash melesat dari bawah dan mencengkram tangan Nora pelempar, menggeser alur lemparannya jauh ke atas.

"Rasakan ini, parasit!"

Tangan kanan Ash tiba-tiba berkobar menjadi api, menimbulkan cahaya yang begitu terang untuk lorong gelap itu. Terangnya api itu membuat kaki Nora lemas, ia terlalu takut untuk berlari, bahkan ia tak mampu membentuk Inknya untuk membuat senjata karena Ink miliknyapun takut dengan cahaya.

Cairan hitam yang tadinya menutup kulit Nora mulai mencair dan merambat ke belakang dimana cahaya tidak menggapainya. Nora berusaha menahan Inknya di tempat, tapi semua Ink Nora sama takutnya dengan dirinya. Dengan cepat Ink pada rok dan baju Nora terkikis, menampakan pakaian maid sang pemilik tubuh, Sirna sang pembantu.

"Sekarang!"

Ash melemparkan apinya ke atap koridor, mengaktifkan penyiram air otomatis pada lorong itu. Pekikan seram dari Nora terdengar keras seiring Inknya tercairkan oleh air dari penyiram air. Tubuh Sirna bersujud, menudungi Ink yang tersisa di bawah tubuhnya.

"Tolong hentikan..." sebuah suara pelan keluar dari bibir Sirna. "Aku harus menemukan ayahku..."

Penyiram air koridor akhirnya padam juga, tapi Sirna masih saja menetap pada posisi bersujudnya. Ia perlahan berdiri, menahan sebuah bola ungu di kedua tangannya beserta beberapa liter Ink yang masih tersisa dari Nora.

"T-Terimakasih, Sirna! H-Hampir saja aku mati!" sorak suara dari bola ungu itu.

"Kenapa kau melindunginya? Parasit itu jelas-jelas memanfaatkanmu! Biarkan aku menghabisinya supaya kau tidak diberatkan oleh monster itu lagi!" seru Ash.

"Dia akan menemukan ayahku, aku yakin!" ujar Sirna. "Aku... aku tak pandai bertarung, akupun tak yakin aku bisa menemukan ayahku... tapi dia... Nora... dia bebas pergi kemanapun di musium ini! Dia bisa menemukan ayahku!"

"Dia berbohong padamu!" tegas Ash. "Coba pikir kembali, sudah berapa kali ia bertanya akan ayahmu?"

Sirna tak mampu menjawab. Kesadarannya saat dikendalikan Nora mirip seperti ketika ia tidur, tapi ia masih mengerti dan paham apa yang dilakukan Nora. Dan sejauh yang ia ingat, Nora tak pernah sedikitpun bertanya soal ayahnya.

"Jika kau perlu bantuan... akan kutolong kau mencari ayahmu! Paling tidak aku masih dapat dipercaya daripada monster pembunuh itu!"

"S-Sirna, iya aku paham! Aku belum tanya-tanya gegara kesibukan! Tapi aku janji..."

"Nora... Kurasa ada kebenaran di perkataan tuan Ash. Kau tak pernah berniat mencari ayahku," ujar Sirna seraya mengangkat kedua tangannya, membuka jalur langsung ke penyiram air di atap koridor.

"Sirna! Tolong jangan!"

MBEEEEKKKK!!!!

Dari ujung koridor, sebuah bola bulu raksasa bergelinding melewati koridor, memaksa Sirna dan Ash untuk menepi. Di tengah perjalanannya, Ink Nora menempel pada bola bulu itu dan ikut bergelinding bersamanya dengan membawa bola ungu Nora. Dengan cepat bola bulu itu menarik kembali bulunya seperti biasa, lalu berbalik menghadap lawannya dengan sang tuan menunggang di atasnya.

"Maxi, kita kabur dulu!" pinta Nora.

"Mbekk?!" pekik Maximillion kaget.

"Semburan air tadi sudah menghabisi banyak Ink miliku, Maxi..." ujar Nora. "Aku bahkan ragu bisa merebut kendali Sirna. Lebih baik kita mundur, cari makan dan cari tubuh baru."

"Mbee....k" jawab Maxi dengan malas.

Domba itu bergegas berlari dari Ash dan Sirna, tapi Ash tidak mau membiarkan lawannya kabur begitu saja. Ia kembali menyulut tangannya dengan api dan mengayun-ngayunkannya di langit-langit koridor, mengaktifkan kembali penyembur otomatis.

Untungnya Maxi sudah menyadari nyalanya penyembur air dan segera membentuk bola dan bergelinding semakin cepat ke ujung koridor. Putaran Maxi semakin cepat, membuatnya tampak seperti butiran debu hingga akhirnya ia menabrak dinding koridor dan menghilang begitu saja. Ash tak mengerti apa yang telah terjadi, tapi satu hal yang pasti, ia gagal membunuh Nora.

***

"Terima kasih telah menyadarkanku," sebuah suara menyambut Ash dari belakang.

Saat berbalik, Ash mendapati gadis yang telah ia bebaskan tak jauh darinya, mungkin ia juga ikut mengejar Nora yang kabur tapi Ash saja yang tak menyadari.

"Sama-sama, kawan. Senang rasanya membantu kawan senasib," ujar Ash.

Ada sebuah alasan kenapa Ash sangat menggebu-gebu ingin melepas gadis itu dari kendali Nora, yaitu karena monster 29 Februari dalam dirinya. Ia tahu rasanya melukai orang yang tak ingin dilukai dan pedihnya ketidak berdayaan melawan monster yang menempel pada hidupnya, sebuah parasit. Sebuah rasa simpati tercipta dalam hati besarnya.

"Maaf, tapi saya tidak mengingat nama anda. Apa anda tidak keberatan untuk memperkenalkan diri lagi?" ujar gadis itu.  "Nama saya Sirna, pembantu Ratu Huban. Senang bertemu dengan anda."

"Namaku As..." namun bibir Ash terhenti.

Ia teringat akan salah satu cerita Huban ketika mengunjunginya, suatu cerita soal gadis tak bernama yang menjadi pembantunya. Huban menemukan gadis itu tak lama sebelum turnamen di mulai, sayangnya gadis itu tak mengingat apapun soal kehidupan masa lalunya. Termasuk namanya. Nama Sirna bukanlah nama aslinya, melainkan hinaan dari Oneiros yang ia rasa mendekati nama aslinya.

Tidak. Meski Ash ingin memperkenalkan diri dengan nama aslinya, tapi ia tidak boleh. Tidak di hadapan seseorang yang bahkan namanya sendiri merupakan sebuah hinaan.

"...Maksudku, Ghoul. Ghoul saja," lanjut Ash.

"Ghoul saja?"

"Ya. Cuma Ghoul, tidak ada nama marga. Cuma Ghoul," tambahnya.

"Senang bertemu denganmu, Ghoul."

Mereka berdua berjabat tangan untuk kedua kalinya, pertama kali untuk Sirna tentunya. Sebuah senyuman terukir di wajah Ash. Hangat. Tangan Sirna tidaklah sedingin seperti saat ia dikendalikan oleh Nora.

==5==
Pembawa Bencana

"Tidak... tidak.. tidak!"

Nora menggeram dari dalam rumahnya di bingkai mimpi. Beberapa liter Ink yang disimpan di dalam gelapnya rumah Nora telah diambil untuk memulihkan persediaan Ink Nora, tapi ia tak memiliki tubuh apapun untuk dapat bertarung. Yang ia miliki hanya sebuah tubuh budak yang tak mampu berjalan akibat serangan fatal dari Gargo saat ronde preliminary.

"Aku... Aku... Aku tak mungkin mengalahkan mereka kalau begini! Kenapa, Sirna?! Kenapa kau mengkhianatiku?!"

"Ahh!!! Dombanya mengamuk, Guillermo!"

"Sial! Sudah kubilang ikat dulu lehernya!"

Di tengah kesedihan Nora, Maxi berlari masuk ke dalam rumahnya sambil membawa seorang gadis yang terikat oleh sebuah tali. Olive La Ercilla, Nora masih mengingat betul akan gadis itu.

"Ah... Olive! Kau datang pada saat yang tepat!" seru Nora. "Apa kau punya sebuah permintaan yang mau dikabulkan? Akan kukabulkan asal kau mau membuat kontrak denganku!"

"Bagaimana kalau dimulai dari menghidupkan kembali Vivaldo?" tanya Olive. "Oh, tidak! Sepertinya kau tak bisa melakukannya!"

"Iya. Kau benar, tapi aku bisa mencegah kematian satu-satunya temanmu yang tersisa," ujar Nora.  

Olive menenggak ludah, menyesali perkataannya, "Apa maksud kalimatmu?"

"Esmeralda. Oh~ apa kau melupakan keledai malangmu?" tanya Nora.

"E-Esmeralda masih hidup?"

"Ya, benar. Tapi temanku Maxi di sini tidak mau memberi tahu dimana Esmeralda berada... kecuali jika kau menerima tawaranku..."

"Pengecut! Teganya kau menyandra Esmeralda!"

"Hei... Kalau aku mau, bisa saja aku merebut tubuhmu secara paksa," ungkap Nora. "Terlebih dalam rumah ini, bukan begitu?"

Olive berpikir untuk sejenak. Esmeralda memang hanya seekor keledai, tapi ia adalah anggota Cirque lain yang selamat selain Guillermo, sebuah anggota keluarga yang sangat penting. Terutama dalam kondisi dimana setengah kru mereka telah tiada.

Setelah berpikir cukup lama, Olive mengangkat wajahnya,"Baiklah. Apa maumu?"

***

Suasana rumah sakit itu kembali seperti sedia kala setelah Nora kabur kembali. Elle si suster sedang bermain dengan anak-anak, sedangkan Ash dan Sirna beristirahat di pojok ruangan, menonton permainan anak-anak.

"Kenapa namamu Sirna?" tanya Ash yang sedang duduk di samping Sirna.

"Em... mungkin karena terdengar mirip namaku? Maksudku... nama asliku. Aku tidak mengingatnya karena hilang ingatan, tapi ketika nama itu disebutkan, entah kenapa rasanya cukup mendekati," jawab Sirna. "Ghoul sendiri kenapa namanya Ghoul? Bukannya Ghoul itu artinya..."

"...Monster pemakan manusia," lanjut Ash. "Iya. Aku tidak suka nama itu, tapi hei! Itu satu-satunya nama yang kupunya!" ujar Ash, berbohong mengenai namanya.

"Kalau dombamu? Kurasa anda memberi nama yang bagus, kan?" tanya Sirna.

"MBEEEK," si domba menggeram kesal.

"Uh... B-Buckazy... dari festival... p-penyembelihan domba...." ucap Ash putus-putus, berusaha membuatnya tidak terdengar seburuk arti sebenarnya yang merupakan festival berdarah dimana kaki-kaki domba akan ditarik ke banyak sisi oleh kuda cepat.

"Kenapa anda memberi nama seperti itu?" ungkap Sirna kecewa.

"Uh... karena namaku agak brutal, jadi kukira partnerku harus punya nama yang menggambarkan sesuatu yang cukup brutal juga," jawab Ash seraya memalingkan pandangan. "Tapi... kalau untukmu... kurasa Sirna tidak cocok sama sekali, apalagi hanya karena terdengar mirip."

"Apa kau punya nama yang lebih bagus?" tanya Sirna. "Aku akan memakainya kalau nama itu terdengar lebih familiar dari Sirna."

"Hmm... nama, ya?" gumam Ash. "Bagaimana dengan Risna? Itu terdengar seperti nama gadis daripada Sirna."

"Risna... Risna... sepertinya anda benar. Nama itu lebih menggema di telinga saya, meski saya rasa itu belum tepat,"  ujar Sirna.

"Jadi... aku boleh memanggilmu Risna?" tanya Ash.

"Boleh saja," jawab Risna. "Perkenalkan, namaku Risna, pembantu Ratu Huban. Senang bertemu dengan anda!"

"Ahaha... apa perlu memperkenalkan diri lagi?"

Untuk sejenak itu, Ash merasakan kehangatan baru. Saat ia bercanda gurau dengan Risna, hatinya terus berdegup kencang, tak sabaran menunggu balasan Risna. Saat itulah, Ash menemukan seorang yang dapat mengisi kehampaan hidupnya. Kehampaan karena ia hanya bisa bicara dengan sedikit orang saja.

Namun di tengah suasana ceria ini adalah saat yang tepat untuk merusak mood, oleh karena itu, lampu di ruangan itu tiba-tiba mati, membuat anak-anak di dalamnya berteriak panik. Lampu darurat menyala di dinding-dinding yang mengitari kubah ruang anak, memberi cukup cahaya bagi si suster untuk menghitung semua anak yang ada.

"Syukurlah, semua masih berada di sini," ujar si suster. "Tapi kenapa lampunya bisa mati?"

"Suster!" panggil Ash. "Apa memang bisa terjadi lampu mati di bingkai mimpi ini?"

"Seharusnya tidak mungkin!" jawab si suster, kemudian mengeluarkan katalog lukisan miliknya. "Sudah kuduga... ia telah kembali."

"Tuan, tolong segera temukan Nora dan kalahkan dia," pinta suster. "Buku katalog ini mengatakan ia memburu satu persatu pasien dan menginfeksi mereka dengan parasit miliknya!"

==6==
Pertarungan Terakhir

Ash dan Risna bergegas ke ruangan yang telah ditunjuk oleh si suster, beberapa blok jauhnya dari ruang anak. Namun semakin mereka mendekat, semakin mereka mendengar erangan kesakitan dari ruang-ruang pasien. Mereka mengabaikannya begitu saja hingga mereka menemui seorang pasien, tak berkulit, yang berdiri begitu saja di tengah koridor.

"Hei! Kawan! Apa kau melihat..."

Belum sempat Ash menyelesaikan kalimatnya, pasien itu segera berlari sambil mengerang ke arah mereka. Ash segera membakar tangannya, menerangi seisi koridor itu. Namun betapa terkejutnya mereka ketika melihat ada sebuah gumpalan hitam melekan di sisi kanan tubuh pria itu. Dengan cepat Ash mengeluarkan katana pemberian satan dan menebas kaki si pasien, membuatnya terjungkal.

Keributan kecil yang diakibatkan oleh Ash sepertinya menarik perhatian para pasien lain. Saat api di tangannya padam, semua pasien di sekitar keluar dari kamar dengan gumpalan hitam serupa di bagian-bagian tubuh mereka.

Ash mengatur nafasnya kembali, lalu membakar nafasnya sekali lagi.

"Silence!"
"Silence!"
"Silence!"


Namun tak ada sedikitpun api berkobar di tangannya. Iapun mencoba lagi, memfokuskan pada pernafasannya lagi.

"Out of Mana!"

Saat itulah, Ash menyadari ia telah dipermainkan oleh monster 29  Februari itu lagi.

"Buat apa kamu teriakin kata-kata itu di kepalaku, Lu...cy..." tanya Ash geram.

"Hohoho! Kamu kira apimu kamu dapat Cuma-Cuma? No-oH! Itu dari aku! Gue! Me!" ledek Lucy. "Tentu saja, aku bisa memberikan kekuatan padamu... dengan sedikit biaya yang jauh lebih tinggi dari nafas pacar barumu."

"P-PACAR?!" muka Ash memerah saat kata itu terdengar, tapi kembali serius ketika mengingat ada kata nafas di dalam kalimatnya. "T-Tunggu dulu! Jangan bilang kamu mengambil nafasnya dari tadi?"

"Iya, sih... aku ambil..." ungkap Lucy. "AH! Tapi, bo! Gadis itu nggak ngerespon apa-apa! Aku sudah memerasnya! memerahnya! Mencekik nafasnya! Tapi dia nggak sedikitpun merasa kesakitan! Ill-feel banget jadinya!"

"Emm... R-Risna, apa kau merasa baik-baik saja?" tanya Ash, khawatir akan kesehatan Risna.

"Rasanya... iya, mungkin aku agak haus."

"AAAAAGGGGGHHHHH!!!!!!! Ribet, deh ngomong sama dia! Lucy out!"

"Ghoul, apa kau baik-baik saja?" tanya Risna. "Dari tadi kamu teriak-teriak ke langit-langit... kukira kamu mulai kena penyakit juga."

"O-Oh.... A-Apa aku berteriak sekeras itu? Seharusnya itu adalah perencanaan strategi, kawan!" jawab Ash gemetaran. Iapun berbalik ke pasien-pasien yang tadinya telah keluar dari ruangan, tapi kini ia tidak melihat mereka sama sekali. "Kemana pasien-pasien tadi?"

"Kurasa mereka kabur karena perencanaanmu, Ghoul," jawab Risna. "A-Aku tak bermaksud menyinggung, tapi teriakanmu cukup membuatku takut."

"Ash! Cepat merabalah ke dinding dan tekan tombol lampunya!" ujar Lucy, tiba-tiba masuk ke dalam percakapan.

"Lho? Listriknya kan mati? Kenap....aagggh!"

Kalimat Ash terpotong oleh pekikannya sendiri. Suatu benda tajam telah menembus dadanya dari kegelapan. Adalah sebuah tombak, panjang hingga matanya menembus tulang belakang. Namun yang terparah bukan itu, melainkan suara desisan yang diciptakan mahluk itu setelah menusuk, seolah ia telah ditusuk oleh seekor ular.

"Itu balasan untuk yang tadi, Ash... karena telah merebut Sirna dariku."

Sebuah sosok pendek berjalan mendekat dalam kegelapan, sebuah sosok anak kecil berambut dikepang dua yang seluruh kulitnya tertutupi oleh cairan hitam dan pakaiannya berwarna keunguan.

"Risna! Lari!"

Mengikuti perintah Ash, Risna berlari secepat yang ia bisa, tapi Nora mengabaikan Ash dan segera mengejar Risna yang sedang kabur. Sedangkan Ash, hanya berbaring tak berdaya, tak sanggup menggerakan tombak di dadanya sama sekali.

"Sial... apa ini akhir perjalananku? Bahkan setelah aku menemukan namaku?!"

Tombak yang telah tertancap itu seolah hidup, menggerogoti tubuh Ash dari dalam. Jika bukan karena regenerasi monster 29 Februari itu, ia pasti telah meninggal, tapi menghitung betapa dekatnya tombak itu dengan jantungnya, kemungkinan selamatnya semakin menipis.

"Cepat keluar! Aku tidak boleh diam di sini saja!" seru Ash.

Iapun mulai penasaran, kenapa ia begitu ingin melepas tombak di dadanya? Jawabannya tentu bukan karena pengaruh Lucy, bukan pula karena kebencian terhadap Nora, lalu apa yang mungkin mempengaruhi niatnya padahal ia sudah berencana untuk mati setelah menemukan nama aslinya.

Ash Aegisa. Sang Arang Pelindung.

Itulah kenapa. Suara ibunya menyebut nama itu ketika ia masih baru lahir terus menggema di kepalanya. Ash Aegisa, Sang Pelindung. Semenjak ia memiliki sebuah nama, iapun memiliki sebuah tujuan, tapi tujuannya takan pernah tercapai karena tak ada siapapun untuk dilindungi, itulah kenapa ia selalu tak peduli dengan hidupnya.

Namun kali ini, untuk pertama kalinya, Ash tak mau mati terlebih dahulu. Dalam pertarungan ronde ini, ia telah menemukan seseorang untuk dilindungi, seseorang untuk mencapai tujuannya, seseorang untuk meluruskan namanya.

"Lucy... aku datang untuk barter denganmu!" seru Ash. "Penuhi permintaanku dan ambilah segalanya dariku!"

"Hohoho... tawaran yang menarik. Terima nggak, ya?"

"Tolong..."

"Oke... oke... beres, deh."

Tubuh Ash tiba-tiba membara, jauh lebih terang daripada api yang biasa ia buat. Tombak Ink di dada Ash menggeliat untuk lari dari terangnya cahaya, tapi panasnya api baru Ash terlebih dahulu membakar tombak itu. Dengan cepat lubang pada dadanya tertutup dengan daging baru.

Ash berbalik, melesat seakan melayang sambil meninggalkan jejak api di jalurnya, langsung mengejar Risna dan Nora yang telah jauh di depan. Ia menghadang Nora, memberikan sedikit rasa tenang untuk Risna.

"Risna," panggil Ash, dengan suara lebih tinggi. "Ash telah tiada. Cepat pergi dari sini atau kau akan terbakar bersamanya!"

Risna mengangguk, lalu berlari menjauh. Sementara itu Nora tak mampu berbuat apa-apa terhadap cahaya terang dari Ash, sehingga ia hanya bisa berlindung di balik payung hitamnya.

"Kau pikir payung bisa menghentikanku? Lucu sekali!"

Dengan satu ayunan tangan, payung Nora terkibas jauh ke belakang. Tangan Ash yang lain mengangkat ke atas, mengumpulkan api yang begitu terang untuk melakukan serangan pamungkas.

Sebuah ledakan besar meledakan sebagian besar rumah sakit, termasuk Nora sekaligus. Ash yang telah menciptakan lubang besar pada rumah sakit itu tersenyum puas, tampak menikmati kehancuran yang telah ia ciptakan.

Namun di antara debu dan asap ledakan, sesuatu mengganggu pandangannya. Sebuah bola biru sebesar orang dewasa di pusat ledakan, melayang-layang begitu saja seolah tak mempedulikan ledakan yang baru saja terjadi.

"Ah... Boss... Sepertinya bukan ide bagus bertahan dari serangan gila tadi!" ujar sebuah suara yang terdengar seperti decitan tikus. "Hei! Nggak sopan nyamain aku sama tikus!"

Bola biru itu membuka setelah mendarat, menampakan sosok Nora dalam tubuh anak kecil yang tengah pingsan, kemungkinan besar karena shock melihat api yang begitu terang di hadapannya.

"Kau!" panggil sebuah suara yang berbeda lagi, "Katakan, apa kau lawannya di ronde ini?"

"Aku? Maksudmu si Ghoul?" balas tanya sosok Ash. "Tidak lagi.  Dia telah menukar hidupnya dengan kekuatan... sekarang akulah pemilik tubuh ini! Lucifer!"

"Berarti Ghoul telah tiada, mati termakan oleh monsternya sendiri," simpul si jubah biru. "Reismo, bawa kita pergi dari sini!"

"Siap, Boss!"

Jubah biru sosok itu kembali membola. Kini bola itu mengecil dengan cepat hingga pada akhirnya sirna begitu saja tanpa jejak.

==Epilogue==

Risna berlari secepatnya, kembali ke rumah Huban di bukit kapas. Namun saat ia sampai di sana, rumah Huban telah dikelilingi oleh domba-domba Hitam Oneiros, tampak sedang mencari sesuatu.

Sang pembantu bergegas masuk, tapi sebelum ia bisa masuk ke pintu utama, si penggembala domba hitam, Oneiros, telah menghadangnya dengan dreamcatcher miliknya siap menyerang.

"Apa yang telah kau lakukan pada Huban?" tanya Oneiros.

"A-Aku tidak mengerti... bukannya ratu harusnya ada di rumahnya?" tanya balik Risna.

"Jangan berbohong padaku!" bentak Oneiros. "Jika kau benar-benar membuatnya menangis, jangan anggap aku akan ragu untuk menghabisimu!"  ancamnya.

MBEEEEK!!!

Seekor domba hitam memanggil pada Oneiros. Si penggembala dan Risnapun bergegas mengikuti domba hitam itu hingga akhirnya sampai pada pagar meruput domba-domba huban dan sebuah menara terbuat dari domba-domba itu.

"Risna... tolong keluarkan aku..." pinta Huban dari dalam menara. "Aku sudah terperangkap di sini dari Prolog, tahu!"

"Tsch... kau benar-benar tidak becus, Huban!" ledek Oneiros.

Si mata satu segera mengambil tongkat dreamcatcher milik Huban dan memerintahkan domba-domba Huban untuk turun satu persatu. Huban berjalan keluar dari menara sambil menangis, tampak sarung tangan dan roknya lebih kotor dari biasanya karena ia telah mencoba memanjat dan jatuh berkali-kali.

"Ini pasti ulahmu,kan?" tuduh Oneiros, mengacungkan dreamcatchernya pada Risna. "Cukup dengan permainan ini, Huban! Kau sudah lihat apa yang dia lakukan padamu! Dia bukan pembantu! Dia adalah..."

Jika Oneiros punya mulut, mulutnya pasti akan menggagap terbuka. Sang kepala bantal berdiri dengan tangan terbentang di depan Risna, melindungi sang pembantu meski ia sendiri masih menangis terseduh-seduh.

"Ada apa denganmu, Huban!  Bukannya kau sudah lihat apa yang dilakukan pembantumu padamu!"

"Semua pasti melakukan kesalahan, tapi hanya sedikit yang akan belajar dari kesalahan mereka," ujar Huban. "Iya, kan Oneiros? Seperti katamu ketika aku tidak bisa turun dari pohon?"

"Itu tidak ada hubungannya, Huban!"

"Ada, Oneiros! pembantuku tidak pernah menggunakan DreamCatcher, itulah kenapa ia membuat kesalahan! Tapi ia pasti belajar sesuatu dari kejadian ini, iya kan? pembantuku?"

"Pastikan dia benar-benar belajar, Huban! Atau aku akan kembali dan menghabisinya!" ancam Oneiros, lalu pergi bersama domba-domba hitamnya.

"Oneiros... kenapa kau berubah?" gumam Huban.

"Ratu... aku..."

"Tidak, tolong jangan sekarang, pembantuku. Aku sudah capek karena menara buatanmu tadi," ujar Huban.

"Iya, Ratu. Tapi tolong..."

"Bisa kita bicarakan ini nanti? Aku sedang tidak ingin bicara."

"Baik... ratu."

Risna merasa bahwa sang ratu masih kesal atas perbuatannya tadi pagi. Bagaimana tidak, setiap orang akan marah jika dikurung dalam menara domba selama sehari penuh. Terlebih lagi Risna memakai tongkat DreamCatcher Huban tanpa izinnya.

Sofa di ruang tamu Huban kembali bergetar karena Risna menjatuhkan dirinya di atasnya. Tidak ada domba yang bisa menjadi kasur, jadi ia terpaksa memakai sofa yang lebih keras untuk tidur.

"Hey~ Hey~ Apa kau tahu? Kalau kau mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, kau akan menenangkan dirimu!"

Risna mengambil saran dari kepalanya, iapun mengambil nafas dan melepaskannya. Namun ia belum merasa puas, jadi ia melakukannya berulang kali sampai ia merasa cukup tenang.

"Nah, kan! Kamu sekarang bisa tidur dengan tenang karena nasehat Reismo!"

Risna terbangun lagi ketika ia menyadari itu bukanlah suara pikirannya. Di lengan sofa yang ia tiduri, sebuah mahluk kecil berjubah biru menyambutnya. Ia tak dapat melihat sebagian besar tubuh mahluk kecil itu karena jubahnya, tapi ia dapat melihat matanya yang kuning menyala dari kerudung jubahnya.

"Halo, Risna... Sirna... Pembantu?" sahut sosok yang tidak lebih besar dari tangannya itu. "Namaku adalah Reismo dan mulai sekarang, akulah teman baikmu!"

"Hei pembantuku~ dimana kamu? Aku minta maaf soal yang tadi..."

Huban terhenti saat melihat sosok Reismo di lengan sofa, saat itulah terdengar sebuah jeritan paling memekakan.

"WWWAAAAAAAAAAAHHHH!!!!! Ada bantal bisa bicara!" pekik Reismo.

"Enak saja! Kamu sendiri serbet yang bisa bicara!" balas Huban.


Nora- Round 3
End.

P.S. : Penulis tidak sempat melakukan pengecekan ulang di bagian-bagian terakhir karena dikejar deadline dan Nora yang protes jatah tayangnya yang sedikit.


2 komentar:

  1. maaf baru sempat komen sekarang, eman karena sudah baca, meski ronde selanjutnya sudah mulai...

    rasa-rasanya entry ini bernuansa agak surreal horor begitu, saya bayangkan Nora sosok tinta hitam dengan bentuk-bentuk hitam suram seperti film horor yang pernah saya tonton dulu (tapi judulnya lupa)... tapi, suram dan horornya dapat...

    saya lihat karakter Nora yang penuh misteri dan tidak jelas ini, entah dia masuk protagonis atau antagonis, itulah keunggulannya. Nuansa cerita Nora jadi beda dengan yang lain. Tapi horonya lumayan bisa diimbangi dengan tebaran humor di beberapa sudut, seperti inner dialogue-nya Ghoul dengan Lucy-fer yang sempat bikin saya senyum2.

    kekuarangan entry ini adalah sepertinya kurang selesai, porsinya Nora kalah dengan Ash/Ghoul, dan endingnya terburu-buru. Mungkin karena kejar deadline ya.

    regards,

    Rakai A
    OC Shade

    BalasHapus
  2. kalau dilihat dari cerita pasti orang anggepnya nora yang kalah
    tapi kalo diperhatiin yang kalah sebenernya si ash/ghoul karena dia sendiri ngorbanin nyawanya

    kesannya endingnya kecepetan

    tapi ceritanya bagus
    (baru komen sekarang gara-gara kesibukan :'v)

    regards

    M.hafidz
    OC cain

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.