Senin, 12 Desember 2016

[ROUND 3] 08 - MIA | WHERE IS THE BUTTERFLY FLUTTERING TO?

oleh: Meridianna
--



Where is the butterfly fluttering to?

In a rusted cage, the days that have become indistinct
Let off so much beautiful color that they begin to fade1

Dia mendengar suara-suara dari orang-orang, mengusik dan mengganggu telinganya.

'pembunuh.'
'keluarga terkutuk'
'dasar monster'
'monster'

Kata-kata itu terus diperdengarkan olehnya. Dia tidak merasa perasaan apapun walau kata-kata itu ditujukan padanya. Dia menganggapnya hanya sebuah suara dari kejauhan, tidak ada hubungan dengannya.
Tiba-tiba, dia mendengar suatu suara yang sangat dikenalnya. Menimbulkan rasa kangen yang hampir terlupakan.

"Mia."
Ah, itu suara Nenek, pikirnya. Suara yang sudah lama tidak pernah didengar olehnya. Suara lembut yang selalu disukainya.
"Kemarilah Mia. Sudah malam, waktunya masuk ke dalam rumah."
Dia ingin menjawab dan menggapai suara itu. Namun sebelum dia sempat bergerak, di sampingnya berdiri seorang gadis kecil berambut emas. Rambut emasnya berkilau dan terhembus angin sore. Matanya biru, seperti langit di musim panas. Biru cerah dan tanpa noda. Di sekelilingnya nampak hamparan bunga, baik yang segar dan layu sehingga kelopak-kelopaknya beterbangan. Gadis itu diam tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk pelan lalu berjalan menuju suara itu berasal. Namun tiba-tiba, suara datang dari gadis itu,
"Nenek, kenapa bunga-bunga yang didekatku layu semua?"
Dia tidak dapat mendengar jawaban si nenek karena seketika pemandangan di sekitarnya berubah. Dia membuka mata, bangun dari tidurnya. Matahari bersinar lembut dari balik jendela yang terbuka sedikit. Dia ingin bangun dan meluruskan badannya. Tapi entah kenapa badannya tidak menuruti keinginannya.
"Selamat pagi, Mia."
Di sampingnya, terdengar suara yang cukup familiar selama beberapa tahun ini.
"Aku… masih hidup?"
"Begitulah. Karena kejadian terakhir, kau tertidur selama seminggu ini."
"Hah… aku selalu kagum bagaimana takdir mempermainkan seseorang. Jadi… Dietrich, bagaimana situasi saat ini?"
"Setelah pertemuan dengan roh Indian itu, sepertinya dua dunia menyambung. Sebagai akibatnya, efek wabah berhenti untuk sementara ini. Namun, kekacauan semakin meningkat karena ada area yang tidak dikenal muncul tiba-tiba."
"Cuma kekacauan he… ungg… sepertinya aku masih ngantuk…"
Mia tidak berbicara lagi. Dia kembali tertidur. Kali ini tidurnya dalam dan tanpa mimpi. Dietrich tetap berada di sampingnya, tidak bergerak sembari memperhatikan nafas Mia yang naik-turun dengan pelan.
Di belakangnya, pintu terbuka tiba-tiba. Sesosok anak laki-laki, tidak lebih dari 15 tahun, masuk ke kamar dan bertanya pada Dietrich.
"Dia… tidur lagi?"
"Ya Cotton. Kali ini kondisinya lebih parah daripada sebelumnya. Tidak mustahil waktu yang tersisa untuknya tidak lama."
"Begitukah…" anak laki-laki yang dipanggil Cotton itu hanya bisa menjawab lirih. Dia lalu menatap Mia. Mia yang selama ini dilihatnya suka seenaknya dan seperti sedang baik-baik saja, ternyata bisa menjadi lemah seperti ini.
"Hmm… aku penasaran seperti apa reaksinya jika melihatku seperti ini."
Dietrich hanya tersenyum.

++++

Shade telah melihat foto di dinding itu. Hatinya berkecamuk dengan luar biasa. Dia ingin mempercayai gurunya, namun di saat yang sama keraguan terus mengakar di hatinya.
"Lalu aku siapa sebenarnya?"
"Aku bukan pengganti saja kan…"
Dia tahu bahwa dia hanya klon, yang bisa dibuang begitu saja ketika sudah dipakai. Namun perlakuan sang guru padanya begitu manis dan indah sehingga Shade mulai lupa bahwa dia bukan manusia. Begitu juga sikap teman-teman di sekitarnya. Mereka sangat menerima Shade apa adanya. Walau dengan julukan yang aneh dan kelihatan mengejek, Shade percaya bahwa itu hanyalah bukti keakraban mereka yang canggung.
Dia tidak sadar bahwa kasih sayang dari gurunya sebenarnya bukan untuknya, tapi untuk orang yang sudah lama mati.

++++

Setelah lebih dari dua minggu dari peristiwa sebelumnya, Mia kembali ke rutinitas yang selama ini dia lakukan. Bermain game. Baginya menghabiskan waktu dengan percuma adalah sebuah kemewahan, jika dipandang dari hal-hal yang terjadi belakangan ini. Di tangannya ada sebuah konsol yang menyala, memperlihatkan gambar-gambar yang berkejaran.
"Waa, Roido wa tottemo kawaii desu ne~"
Cotton yang saat itu menonton berita di TV bersama Dietrich yang sedang membaca buku mau tidak mau mendengar hal itu. Cotton tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Mia… jangan-jangan sebenarnya kau seorang… weaboo?"
Weaboo adalah panggilan untuk seseorang yang terlalu menggemari Jepang dan budayanya, bahkan sampai ingin menjadi orang Jepang sendiri.
"Shimatta…! Eh bukan, bukan begitu. Ini cuma terpengaruh karena akhir-akhir ini aku bermain game dalam bahasa Jepang! Apa boleh buat kan, kalau sedikit terpengaruh."
Dietrich lalu menimpali.
"Trails of Azure? Bukannya kau sudah tamat itu. Berapa kali kamu sudah mengulang game itu?"
"Sekarang playthrough ketiga. Aah ini karena tidak ada game yang menarik sekarang. Lanjutannya malah membuat kesal saja. Game-game dari pembuat lain juga tidak kalah membosankan. Terlalu banyak klise yang membuatku tidak senang. Dan juga apa-apaan itu seting ceritanya. Terlalu membosankan. Game incaranku tahun ini, V○lkry○ Az○r○ R○vol○t○on, juga belum rilis." Jawab Mia sembari meletakkan konsol di meja dan menjatuhkan tubuh di atas sofa. "Saking membosankannya, aku sampai harus bermain game dari bahasa lain seperti. Untungnya aku masih paham."
"Tapi Mia, sekarang dunia sedang berada dalam masalah. Terjadi kekacauan dan kerusuhan di beberapa tempat."
"Lalu?"
Cotton seperti merasakan déjà-vu. Dia menatap tajam Mia. Mia melihatnya dan segera berkelit.
"Begini, begini. Maksudku begini. Bayangkan saja jika hal yang awalnya kamu anggap luar biasa atau aneh, lalu terjadi dengan sering dalam waktu singkat. Akhirnya kan menjadi hal yang biasa kan. Perasaan takjub atau takut dapat berubah menjadi perasaan tidak peduli dengan cepat. Kamu menjadi kebal, seperti itulah. Mana aku termasuk orang yang gampang bosan. Pada saat ini, di antara berbagai berita kerusuhan dan pembunuhan yang marak terjadi, berita tidak penting seperti kucing hilang atau pacar orang selingkuh terasa menyegarkan."
"Lalu siapa yang kau sebut tadi? Aku merasa kau menyebut nama seseorang."
"Ooh Roido, karakter game itu. Raja Harem yang bisa menarik perhatian siapa saja, termasuk musuh dan non-manusia hahaha." Mia melihat Dietrich dan menunjuknya dengan santai. "Dan yang jelas lebih polos dari dia."
Tiba-tiba telepon berdering. Di rumah itu, hanya terdapat telepon rumah sementara ini. Smartphone andalan Mia sudah hancur beberapa waktu lalu dan dia malas beli lagi. Walau lebih tepatnya, dia tidak ingin membeli yang baru karena sudah hilang selera dengan mobile game.
'Persetan dengan mobile game. Paling-paling isinya juga kebanyakan undian melulu', begitulah pikirnya.
Mia langsung mengangkat telepon itu, dan suara di seberangnya adalah suara Julian.
"Ooh Julian. Sudah ketemu apa yang kuminta?"
Beberapa waktu lalu Mia meminta Julian untuk memastikan sesuatu.
"Ini masalahnya. Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Hasilanya… benar seperti kecurigaanmu. Tidak ada dokumen atau catatan satupun mengenai Museum Semesta." Jawab Julian.
"Aah begitulah. Benar, benar, aku mengerti sekarang. Danke." Mia menutup telepon.
Cotton bertanya padanya, "Kau mencari tentang museum itu? Kau sadar kan kalau itu hal yang mustahil."
"Yah tidak ada salahnya mencoba. Aku sudah mencoba dengan Demon Network milik Dietrich dan tidak ada hasil yang berarti."
"Benar, seperti ada penghalang yang mencegahku untuk mencari tahu tentang museum itu."
"Karena itu aku memakai Julian, hanya sekedar memastikan apakah manusia biasa di dunia ini tahu tentang museum itu. Dengan hasil ini aku berhasil mengetahui sesuatu."
Dan Mia berdiri, berjalan ke arah Dierich untuk mengambil buku ditangannya, berjudul 'Treatise Concerning of Human Knowledge'
"Museum itu tidak berasal dari dunia ini."
"Apakah hal itu penting? Kurasa itu sudah jelas dan tidak perlu ditanyakan."
"Aah Cotton, kau membosankan. Coba pikir, jika tidak ada info sama sekali tentang museum itu, hal yang bisa disimpulkan adalah; museum itu berada di dunia lain yang terlepas dari dunia-dunia yang berkaitan di sekitar kita dan kemungkinan diciptakan oleh sesuatu yang lebih kuat dari Dietrich. Karena dia pun tidak berhasil mendapatkan informasi apa-apa."
"Aku awalnya menyimpulkan bahwa museum itu hanya khayalanku tetapi kamu sendiri pernah mengunjunginya jadi itu tidak mungkin. Menurutmu ini tidak penting?"
Cotton mencerna kata-kata Mia. Ya, kalau dipikir dia tidak salah. Cotton pun sebenarnya tidak paham kapan dan bagaimana dia bisa hidup dan berada di tempat itu. Ingatannya hanya samar-samar.
"Nah Dietrich, ini buku yang bagus." Kata Mia sambil membaca buku itu sekilas di tangannya.
"Benar sekali." Jawab Dietrich singkat.

++++

Sesaat sebelum pergi ke undangan seperti biasanya, Mia melihat-lihat lagi sosok Cotton yang baru.
"Lebih imut jadi domba daripada manusia seperti ini."
"K-kau!"
Lalu portal terbuka tiba-tiba.
"Hah… ini yang terakhir kah?" Mia teringat sesuatu dan berkata pada Dietrich, "Oh ya Dietrich! Pre-order V○lkry○ Az○r○ R○vol○t○on Limited Edition untukku nanti. Aku lupa tadi."
"Walau mungkin kau tidak bisa memainkannya?"
"Persetan dengan itu, pokoknya pre-order sebelum terlambat."  Mia melambaikan tangan. Dia memanggil Cotton.
"Ayo Cotton…. Aah sudah kuduga, versi domba lebih manis."
"Masih soal ini?!"
Dan mereka pun menghilang.
Sesampainya di museum semesta, atau lebih tepatnya di lautan caramel, Mia berkumpul dengan para reverier. Mia dan Cotton terendam di laut itu sambil berpegangan di sebuah biscuit coklat yang mirip gelonggongan kayu, mendengarkan sang Putri memberi tahu apa yang terjadi selanjutnya. Sebuah kunjungan museum.
Mia hanya mendengarkan dengan setengah hati. Dia sebenarnya tergoda untuk mencoba minum laut caramel itu. Tapi dia ingat jika beberapa orang sempat masuk ke dalam laut itu, dia pun membatalkan idenya itu.
"Siapa sih yang punya ide bagus buat mengumpulkan orang disini? Iya sih aku memang suka makanan manis. Tapi barang untuk dimakan dan diduduki itu tidak sama." Mia mengomentari tempat dimana dia berada sekarang.
"Kunjungan seperti anak sekolah? Ooh hebat sekali." Walau kata-katanya itu membuatnya seakan sedang semangat, nada datarnya menginsyaratkan hal yang sebaliknya. Lalu datanglah pusaran air yang menyedotnya, mengembalikannya ke dunia asalnya.
"Aku lebih suka cappuccino dari caramel."

++++

Yang tiba terlebih dahulu ke dunia adalah Cotton. Untuk hal yang tidak diketahui, Mia terlambat sampai di dunia asalnya walau sebelumnya mereka dikirim pada waktu bersamaan.
Setelah hampir setengah jam, portal terbuka dan Mia muncul kembali.
"Bagaimana untuk selanjutnya, Mia?" Tanya Cotton.
Dia berjalan seperti tidak ada masalah.
"Akan ada kunjungan museum. Aku tidak mengerti pastinya seperti apa, mungkin portal terbuka tiba-tiba dan lalu terlempar di sebuah museum. Bedanya dengan selama ini juga aku tidak mengerti. Hmm… yang pasti aku harus berusaha keras untuk menyelamatkan dunia ini."
Cotton merasa terharu dengan kata-kata Mia yang terakhir. Namun tidak untuk Dietrich. Dia sama sekali tidak terkesan.
"Mia, sudah kupesan V○lkry○ Az○r○ R○vol○t○on Limited Editionnya. Juga dengan store bonus An○m○te."
"Oh ya, terima kasih."
Dietrich terdiam.
"Kau siapa?" Tanya Dietrich.
"Hng? Bukannya sudah jelas? Aku Mia, Lamia von Rosendorn."
"Aku tidak berusaha bercanda sekarang jadi jawab pertanyaanku. Kau. Siapa?" aura Dietrich berubah kelam. Tatapannya memberi isyarat dia bisa kehilangan kesabaran. Kata-kata sopannya menghilang.
Mia awalnya senyum santai, berubah menjadi picik dan jahat. Wajahnya bengkok karena senyum yang licik.
"Oh, tidak kusangka akan ketahuan secepat ini. Iya aku bukan Mia. Aku hanya sebuah kopian, ciptaan dari Museum Semesta. Bagaimana kau bisa tahu?"
"Mia yang asli akan langsung berteriak gembira jika mendengar kata bonus dari An○m○te. Karena itu adalah toko kesukaannya. Lagipula dia tidak akan dengan tenang menyebut nama yang paling dibencinya itu. Dan terakhir, dia tidak pernah semangat menyelamatkan dunia."
"Aah, sayang sekali aku kurang perhatian."
"Dimana Mia sekarang?"
"Menurutmu dimana?"
"Aku memberimu kesempatan dan kau balik bertanya padaku? Tidak bisa dibiarkan."
Api langsung membakar kopian Mia. Api itu hitam, menghanguskan apa saja di yang berada di dekatnya.
"Arghhhhh Nggarrhhhh ARGHAHAHAHAHA DATANGLAH KE MUSEUM SEMESTA SAYANGKU."
"Tch." Terdengar suara Dietrich mendecik.
Cotton hanya bisa melihat dengan tidak percaya. Dia tidak mampu mencerna hal yang terjadi dengan cepat di depannya. Dia pun bertanya pada Dietrich.
"Itu tadi… apa?"
"Sepertinya kumpulan dari emosi negatif yang terkumpul di museum itu. Apapun itu, bukan hal yang menyenangkan."
"Cotton." Lanjut Dietrich . "Bawa aku ke museum semesta sekarang."

++++

Mia sedang berjalan menyusuri lorong yang panjang dan besar. Pillar-pillar yang tinggi menjulang dan tidak memperlihatkan langit-langit yang ada di atasnya. Dia tidak menyangka tantangan kali ini begitu cepat bahkan dia tidak bisa bersiap-siap. Lebih buruk, dia sekarang sendirian. Jauh lebih buruk lagi, karena lautan caramel badannya terasa gatal dan lengket. Dia sebenarnya menimbang-nimbang menjilat sendiri tubuhnya, menghilangkan caramel yang lengket. Tapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya karena itu bukan pemandangan yang bagus. Itu juga hal yang konyol. Jadi sekarang yang bisa dia lakukan adalah melepaskan kaos dan celana jeans yang dipakainya, hanya menyisakan bra dan celana dalam, sembari menyusuri lorong itu.
"Hah… mimpi apaan aku kemarin. Jadi bisa berada dalam situasi konyol seperti ini."
Berbeda dengan penampilannya, Mia tahan dingin. Jadi dengan penampilan seperti itu, dia tidak akan mendadak bersin karena kedinginan. Sembari menggerutu, dia melihat lorong yang terpecah jadi dua arah, ke kanan dan ke kiri. Dengan asal milih, dia berbelok ke arah kanan, dan langsung menemukan seseorang berjalan ke arahnya.
"Uwaaa!"
Tapi yang menjerit bukan Mia, melainkan sosok satunya.
"Oh kau! Umm.. siapa namanya tadi… Shade?"
"Iya aku Shade! T-tapi kenapa gadis sepertimu sendirian di tempat seperti ini?! D-dengan penampilan seperti itu?!"
"Apa boleh buat, lengket nih. Jadi kulepas saja."
Walau dada Mia tidak bisa dibilang besar, sosoknya yang hampir telanjang itu merupakan pemandangan yang tidak buruk.. eh, pemandangan yang tidak senonoh. Itu pukulan yang cukup besar untuk Shade.
"Ini, pakailah ini!" Shade melempar jaketnya pada Mia.
"Apa? Jaketmu juga seharusnya lengket karena laut caramel tadi kan. Ogah."
"Sudah pakai saja! Itu jaket anti-air khusus dari planetku, jadi lebih cepat kering."
Mia meraba jaket itu. Memastikan apakah perkataan Shade benar.
"Wah iya benar. Terima kasih Shade~" dan lalu memakainya. Sekarang penampilannya terlihat lebih sopan daripada sebelumnya. Tetapi tetap merupakan pemandangan yang berbahaya. Tubuh bagian bawah masih nyaris tidak tertutupi.
Shade akhirnya bisa tenang. Walau dia sendiri sering dianggap naïf, dia belum pernah melihat seorang gadis yang tidak canggung saat dirinya terlihat hampir telanjang. Apakah itu kenaifan atau hanya sebuah ketidakpedulian? Shade tidak bisa memutuskan mana yang benar. Dia hanya melihat Mia dari kejauhan sebelumnya. Dilihat dari sikapnya, Mia tidak tampak seperti wanita yang menggunakan tubuhnya untuk menggoda lelaki. Bisa dibilang karena tubuhnya tidak memadai, atau kurang menggairahkan. Namun sebaliknya, Mia juga tidak terlihat sebagai seseorang yang naïf dan tidak tahu apa-apa soal seks. Atau minimal bagaimana penampilan seorang gadis bisa membuat laki-laki terangsang. Tiba-tiba tersirat ide yang berada di ujung kepalanya. Mungkinkah Mia hanya tidak peduli?
"Ngomong-ngomong dimana kita sekarang?"
"Aku tidak tahu. Saat aku sadar, aku tiba di tempat seperti ini."
"Bah~ ini pasti ulah si putri permen itu, eh bantal. Sekarang apa lagi yang akan terjadi. Duh."
"Kamu.. suka sekali menggerutu ya?" Tanya Shade.
"Eh? Bukannya orang lain juga begitu?"
"Tidak seperti itu. Kamu sepertinya akan menggerutu pada apa pun, pada siapa pun. Seperti kamu menilai segala hal dan patut dicela."
"Hey! Setidaknya aku tidak mencacimu kan?" Mia bertanya balik pada Shade.
"Itu lagi! Kau sedang membantahku sekarang."
"Begitukah? Hm… kamu ada benarnya. Aku pikir manusia selalu menilai manusia yang lain, sadar atau tidak, mencela atau tidak. Jadi aku melakukan apa yang sudah biasa dilakukan manusia saja."
Shade merasa aneh dengan perkataan Mia. Memang seperti itukah manusia? Shade pun baru bangun dari tabung di laboratorium itu jadi dia pun tidak bisa berkomentar banyak tentang apa yang biasa dilakukan oleh manusia. Tapi yang dia tahu, orang-orang di sekitarnya jarang yang menggerutu. Setidaknya, gurunya sendiri tidak begitu.
Tiba-tiba muncul sosok hitam yang membawa sekumpulan domba yang sama-sama hitam. Itu adalah Oneiros. Mia dan Shade sadar akan kemunculan Oneiros. Mereka segera bersembunyi di sebuah pillar, berharap tidak ditemukan. Berdasarkan pengalaman dan insting, ditemukan oleh Oneiros bukan hal yang bagus.
Oneiros sepertinya tidak sadar jika ada orang lain di sekitarnya. Dia terus berbicara sendiri, memaki Zainurma dan Mariabelle karena kejadian baru-baru ini. Dia tidak terima ditinggalkan seperti ini. Domba-domba di sampingnya hanya mengembik, tidak peduli dengan makian Oneiros.
Setelah Oneiros pergi agak jauh, Mia menunjuk arah di mana Oneiros berada.
"Setidaknya aku tidak separah dia kan?"
Shade memandang Mia dengan tidak percaya. Dia hanya mengiyakan saja, tidak mau berdebat lebih panjang.
"Ya… jika kamu bilang begitu."
 Diam-diam Mia terpikirkan sesuatu. Menurut yang apa yang dikatakan Cotton, Oneiros tidak suka dengan para reveriers dan akan selalu berusaha menghancurkan mereka. Karena itu semuanya menghindari dia. Tapi dihindari seperti ini, Oneiros juga marah karena merasa tidak dianggap penting. Tidak jelas maunya apa. Tipe yang merepotkan.
'Tsundere? Tapi tidak ada dere-dere(cinta)nya. Berarti 100% tsun(marah) ini.'
Untung tidak ada tahu apa yang dipikirkan Mia. Karena dia memakai istilah unik dari internet.
Setelah beberapa lama mereka terdiam, berjalan menyusuri lorong yang panjang. Pertama lorong itu hanya berwarna abu-abu suram, tidak ada sesuatu yang berarti. Hanya ada pillar-pillar tinggi yang membosankan. Mia ingin mencari sesuatu pun, tidak ada hal yang berarti. Lama-kelamaan lorong itu berubah berwarna-warni cerah, dengan gambar-gambar lucu. Mirip seperti di taman kanak-kanak. Lalu akhirnya menjadi taman hiburan.
Suasana taman hiburan itu ramai. Banyak terdengar suara tawa dan musik yang ceria di sana. Namun semua itu terasa jauh dan ganjil. Tidak ada satu sosok manusia pun yang terlihat.
"I-ini?!"
Tanpa pemberitahuan, sebuah surat muncul tiba-tiba dan dibawa oleh kupu-kupu merah, satu persatu berhenti pas di depan mereka, meminta untuk dibuka. Yang pertama kali membuka adalah Mia, dia sudah biasa melihat yang seperti ini. Lalu dilanjutkan oleh Shade. Ekspresi mereka langsung berubah serius. Isi surat itu adalah tantangan selanjutnya, dengan lawannya adalah mereka sendiri.
Yang pertama bertindak adalah Shade. Dia langsung menodongkan pisau dari balik bajunya, ke arah Mia. Mia yang mulai familiar dengan sensasi seperti ini, hanya bisa mengangkat tangannya. Bagaimana pun dia sendirian dan tanpa senjata, refleksnya hanya bagus untuk kabur. Melawan Shade yang jelas terlihat seperti tentara, walau terlalu polos untuk itu, dia sadar tidak akan menang melawan Shade.
"W-whoaa! Tunggu, tunggu dulu! Aku tidak membawa senjata, kamu sendiri sudah tadi lihat dengan jelas kan? Jadi turunkan senjatamu… okay?"
Shade memang melihatnya nyaris tanpa baju, saat itu juga dia tidak melihat benda yang menyerupai senjata seperti apapun. Shade akhirnya memasukkan kembali pisaunya.
"Benar, benar seperti itu. Tenang, aku bukan musuh… eh salah, aku masih tetap lawanmu di tantangan ini sih."
Shade mengamati gadis yang ada di depannya ini. Dia merasa konyol mengira gadis dengan tangan sekurus itu bisa menang melawannya. Tapi dia mendadak sadar akan sesuatu. Jadi Mia sendiri tahu kalau dia tadi berjalan nyaris tanpa baju.
"Kamu…tidak malu dengan tindakanmu sendiri?"
"Yang mana? Saat aku mengangkat tangan tadi?"
"Bukan, tapi itu." Shade menunjuk arah dimana paha Mia terpapar tanpa sehelai benang.
"Oh ini. Haruskah?" Mia mengangkat jaket, yang mana memperlihatkan bagian bawah tubuhnya. Shade secara refleks memalingkan muka.
"Iya itu! Gadis macam yang bisa dengan tenang membuka baju seperti itu!"
"Iya ya. Perempuan manapun pastinya malu ya. Tapi aku sendiri tidak paham kenapa harus malu. Dietrich juga selalu menyuruhku memakai baju di rumah."
Shade kaget dengan kata-katanya. Yah dia sendiri memang memiliki pengalaman dimana ada wanita telanjang di dekatnya. Tapi itu karena memang terdesak. Bukan seperti ini!
"Yah sudahlah. Kalau kamu merasa terganggu dengan penampilanku, aku akan ganti baju lagi. Walau sebenarnya baju lengket itu membuatku gatal."
Shade mulai merasa lelah dengan gadis satu ini. Dia pun menyarankan sesuatu.
"Disini taman hiburan, seharusnya ada toilet kan? Aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini tapi dulu sepertinya ada seseorang yang menceritakan kepadaku tentang tempat ini."
Entah itu gurunya atau orang lain, Shade tidak ingat dengan pasti.
"Ah kamu benar. Aku bisa saja ganti begitu saja, tapi aku butuh air untuk menghilangkan lengket-lengket ini. Aku cari dulu kalau begitu."
Mia berjalan pergi dan Shade mengikutinya dari belakang.
"Apa?! Kenapa kamu mengikutiku?!"
"Agar kau tidak berbuat aneh-aneh dan mencelakakanku." Jawab Shade.
"Geez, kenapa juga aku tanya tadi."
Tidak jauh dari tempat mereka sebelumnya, benar ada toilet dengan air yang mengalir. Tidak ada orang di dalamnya, jadi Mia masuk begitu saja dan mengganti bajunya. Shade menunggunya di luar pintu. Tidak lama berselang, Mia keluar dengan… baju yang basah. Branya nyaris terlihat dari balik kaos yang dipakainya sebelumnya. Shade melihat hal itu dan masih tetap terganggu.
"Kau… bisa menyimpan jaket itu?"
"Hua, benarkah? Thanks~ kebetulan aku mulai merasa dingin disini."
Shade hanya bisa menggeleng kepala. Mia memakai kembali jaket Shade.
Setelah itu, mereka berjalan mengitari taman hiburan itu. Tidak ada manusia yang terlihat walau jelas-jelas ada suara tawa yang terdengar. Mereka memutuskan untuk gencatan senjata dulu dan memfokuskan untuk mencari jalan keluar sembari mencari sesuatu tentang museum ini. Namun dengan situasi yang seperti itu, mereka tidak menemukan apa-apa.
Mia mulai berpikir dengan cukup keras. Dia hanya mau berpikir keras saat lawan boss kuat, jadi untuk yang seperti ini, usahanya tidak bisa dibilang yang terbaik. Dia tahu bahwa Museum Semesta tidak berasal dari dunianya. Lalu dengan perubahan imaji seperti tadi, dia mengira museum ini abstrak, terdiri dari pikiran-pikiran yang terpusat. Lalu mengingat perkataan-perkataan dari orang-orang yang ditemui selama ini, mungkinkah museum ini hanya ada di dalam impian? Lalu Sang Kehendak. Sebenarnya apa itu. Mia juga lalu mempertanyakan kenapa orang-orang dari berbagai dunia dikumpulkan dan bertarung. Demi apa sosok yang disebut Zainurma dan Mariabelle melakukan hal ini.
Ini terlalu abstrak, pikirnya. Mia juga tidak percaya dengan alat pengabul keinginan yang super. Baginya, keinginan harus setara dengan harga yang dibayar. Bisa dibilang itu adalah pengalamannya sendiri.
Diam-diam, Shade mengamati wajah Mia yang serius berpikir. Wajahnya memang cantik, walau baginya masih tetap lebih cantik Mrs. Zaitsev. Kalau gurunya diibaratkan kecantikan seorang wanita dewasa yang keibuan, kecantikan Mia seperti bunga lily merah. Menarik siapa saja yang melihat namun beracun. Itu bisa dilihat dari sikap Mia yang serampangan. Iya, gadis ini sangat serampangan. Shade setidaknya sangat setuju dengan hal ini.
Mereka tiba di sebuah rumah kaca. Rumah kaca dengan ratusan cermin yang memantulkan sosok-sosok yang ada di depannya. Intuisi Mia mengatakan ada yang aneh dengan rumah ini tapi dia tidak bisa mengatakan dengan pasti apa yang aneh. Dia pun masuk ke rumah itu, dan membuat Shade ikut dengannya.
"Aku masuk dulu." Katanya tegas.
"O-oi! Jangan tiba-tiba pergi begitu!" lanjut Shade. "Ini… rumah kaca?"
"Oh, kamu tidak pernah masuk kesini?" Tanya Mia balik.
"Aku bahkan tidak tahu seperti apa taman hiburan itu. Dan ya, ini pertama kalinya. Rasanya menakjubkan… dan aneh."
"Hmm aku juga sih, tidak pernah masuk ke taman hiburan. Cuma tahu dari TV."
Ratusan kaca itu memantulkan bayangan mereka dengan dingin. Seakan memantulkan sisi sebenarnya dari mereka. Mia merasa tidak nyaman namun dia merasa harus masuk ke dalamnya.
Di depan mereka ada dua cermin besar. Dua cermin itu sama besarnya, terlindungi dengan bingkai kayu.
"Cermin?"
Namun sebagai ganti memperlihatkan sosok mereka, cermin-cermin itu memperlihatkan apa yang tidak pernah mereka duga.
"Guru…?"
"Nenek…?"

++++

The dawning sky tells the people who cast mourning shadow
That what they desire doesn't exist here2

Dengan bantuan Cotton, Dietrich sampai di Museum Semesta. Seakan ingin mengisi kekosongan, tiba-tiba dia berbicara tentang Mia yang pertama kali ditemuinya.
"Mia yang dulu, tidak mengenal emosi dan perasaan. Karena itu dia tidak merasa sedih atau marah ketika dipanggil dengan julukan yang sangat buruk. Hanya satu hal yang membuatnya tergerak, neneknya sendiri. Itu juga salah satu penyebab dia memanggil saya."
"Dengan berjalannya waktu, dia mulai memahami perasaan yang seharusnya ada pada manusia. Kepribadian terbentuk di dalam dirinya. Oh saya berusaha cukup keras waktu itu." Dietrich kembali memakai bahasa sopan lagi.
"Namun begitu, masih ada satu emosi yang tidak mampu dia pahami." Lanjut Dietrich.
"Apa itu?" Tanya Cotton, tidak tahan untuk diam.
"Cinta."
Dietrich kembali menjelaskan tentang Mia.
"Dia tidak bisa mengerti kenapa ada orang yang begitu mencintai sehingga rela melakukan apa saja. Seperti membunuh dan bunuh diri. Dia juga tidak habis pikir kenapa perasaan yang diagung-agungkan oleh manusia seperti itu bisa menjadi sangat berbahaya. Di satu kesempatan membuat orang terlihat seperti malaikat, di kesempatan lain membuat orang jauh lebih kejam dari setan. Dia terus mempertanyakan itu."
"Tapi karena itu, dia terlihat lebih berarti dari manusia-manusia lain yang selama ini saya temui."
Kata-kata terakhir itu diucapkan oleh Dietrich dengan lembut. Senyum samar tersungging di wajahnya yang tampan.
Kembali di rumah kaca itu. Shade seakan sedang dalam keadaan tidak sadar, berjalan ke arah salah satu cermin.
"Guru… itu tidak benar bukan? Aku bukan pengganti, aku adalah aku…katakan itu yang benar!"
Kata-katanya polos dan langsung dari hatinya. Dia ingin diakui sebagai dirinya sendiri. Bukan sebagai pengganti.
Mia segera tahu ada sesuatu yang tidak beres, padanya dan pada Shade. Tapi sebelum dia sempat memperingatkan Shade, dia mendengar suatu suara yang sangat familiar.
"Mia…"
Itu adalah suara neneknya, satu-satunya orang yang peduli dengannya.
"Nenek… tidak mungkin. Nenek tidak mungkin berada di sini karena dia… dia sudah…" Mia tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.
"Kenapa kamu bilang seperti itu, sayangku? Aku benar-benar Nenekmu."
"Benarkah… benarkah ini Nenek? Nenek…!" Mia berjalan menuju cermin itu dan menyentuhnya. Seperti Shade tadi.
"Benar sekali, sayangku. Aku adalah Nenekmu. Datanglah bersamaku dan meninggalkan dunia penuh penderitaan ini. Ke tempat yang lebih baik dan tanpa kesengsaraan…" Suara itu sangat lembut dan menenangkan.
Mia menatap cermin itu. Memang, disana ada sosok wanita tua dengan wajah yang lembut dan baik. Perlahan-lahan, pipi Mia basah oleh air mata. Dia menggenggam tangannya, dan lalu memukul cermin itu sampai pecah! Dia tidak memperdulikan pecahan kaca yang menancap di tangannya.
"…jangan… mencoba menipuku… Museum brengsek! Cepat tunjukkan sosokmu yang asli!!" Mia berteriak, tanpa memperhatikan darah yang mengucur dari tangannya.
Wajah wanita tua di cermin itu berubah menjadi jahat. Kelembutan dan kebaikan yang sebelumnya menghilang tanpa sisa. Perlahan namun pasti, sosok manusia di dalam cermin keluar dari bingkai walau cermin itu retak. Seperti asap yang keluar dari celah retakan cermin dan membentuk wujud manusia. Manusia itu berubah menjadi sosok yang mirip Mia, baik rambut dan bajunya. Semuanya sama persis, tanpa terkecuali.
"Aah~ ketahuan kah? Padahal aku sudah berhati-hati tadi. Akan tetapi itu tidak penting lagi." Dia tersenyum pada Mia, membuat Mia muak. Namun dia tetap diam.
"Ajakanku akan tetap sama, sayang. Tinggallah bersamaku disini. Kau bisa bertemu kembali dengan nenekmu. Dan tidak akan ada lagi yang memanggilmu 'monster'."
"Tidakkah sangat berat untukmu? Dipanggil sebagai 'pembunuh'. 'Monster'. 'Anak terkutuk'. Padahal yang berbeda darimu hanyalah tubuh itu." Lanjut Sosok itu.
"Tidak!"
"Kau tidak pernah memintanya bukan?" kata-kata itu sangat manis.
"Tidak akan!"
"Nah, ayolah pergi bersamaku." Manis dan menghipnotis.
"Jangan… berusaha menipuku!"
Sosok itu mengatakan hal yang begitu manis dan menggoda. Mengatakan persis apa yang diinginkan oleh seseorang. Tidak terkecuali dengan Mia. Mia tahu itu hanya bualan. Hatinya sendiri ingin mempercayai bahwa keinginan itu dapat tercapai.
Namun ada satu hal yang tidak akan diabaikan olehnya.
"Apa yang kau tunggu? Tidak ada orang yang menunggumu, apalagi peduli denganmu."
"Diam…"
"Saat kau menghilang, tidak akan ada yang mencarimu."
Sosok itu tetap berusaha membujuk Mia. Mia hanya terdiam, tidak mengatakan apa-apa.
"Tunggu apa lagi, ikutlah bersamaku."
"… tidak…"
"Kau masih menolakku..?"
Mia berteriak dan mengeluarkan apa yang selama ini dia pendam.
"Aku tahu kalau aku selama ini hanya sendirian! Aku juga tahu kalau aku menghilang, tidak ada yang peduli!"
Dia menangis. Dia sadar selama ini hanya hidup sendiri. Dia menerima hal itu sejak dulu. Mungkin ada seseorang yang akan menyesal jika dia tidak ada, tapi dia tidak yakin. Dia tidak pernah yakin dengan apapun yang ada di dunia ini. Tidak satupun.
"Tapi… tapi… aku tidak akan terima dengan kebahagiaan palsu seperti ini!"
Mia mendorong sosok itu ke arah cermin.
Di kejauhan terdengar suara pria yang menjawab Mia.
"Bagus sekali, Mia."
Sosok dari cermin itu langsung terbakar. Semuanya terjadi tiba-tiba sehingga si sosok itu tidak mampu menanggapinya. Mia tercengang melihat api hitam yang menghanguskan segalanya itu.
"Eh…?"
Pria itu adalah Dietrich. Dia meminta Cotton untuk membawanya ke Museum Semesta. Untungnya, dia tepat waktu. Penampilan Dietrich tetap seperti biasanya, tenang, tampan, akan tetapi mencengkeram.
"Dietrich… kenapa kamu ada disini…?"
Dietrich tidak menjawab apa-apa, hanya memeluk Mia dan menutup matanya yang basah. Mia menjadi lebih tenang dan bersandar di dada Dietrich. Tangisannya mulai berhenti.
Cotton yang berada di belakang mereka hanya bisa menyaksikan itu semua. Sekarang dia tidak mendapatkan peran apa-apa. Dia melihat dan merekam apa yang terjadi di depannya. Dia berpikir hubungan mereka tidak pantas disebut sebagai hubungan antara sepasang kekasih. Juga bukan antara majikan dan pelayan. Hubungan mereka jauh lebih sederhana dari itu.
Itu adalah…

++++

~A certain time long before~

An innocent heart which believed in miracle,
Just like a far away myth2

Seorang gadis duduk sendirian, di antara simbol-simbol magis dan lilin-lilin berwarna hitam di sebuah ruangan yang cukup besar. Sebagai ganti lampu yang dimatikan, lilin-lilin menyala. Gadis itu mengenakan jubah hitam yang menutupi wajahnya. Wajah dan bahkan rambutnya tidak terlihat. Menurut penampilan tubuhnya, dia berumur tidak lebih dari 15 tahun. Sambil berbicara lirih, dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia manapun, gadis itu menggenggam pisau. Perlahan-lahan, dia mulai berdiri, dan menyayat tangan kanannya sendiri. Darah menetes, mengenai lantai dan simbol yang ada di bawahnya.
Awalnya suasana tenang. Tapi, asap mulai muncul. Asap yang sepertinya bukan berasal dari dunia ini. Asap itu berwarna ungu bercampur merah, memenuhi ruangan. Semua makhluk akan setuju jika asap itu membawa sesuatu yang buruk. Tapi gadis itu tetap tenang dan perlahan mundur. Dia seakan-akan tidak peduli jika asap itu adalah sebuah mimpi buruk. Bahkan mungkin dia tidak peduli jika dia mati karenanya.
Lalu, seperti yang bisa diduga, sesuatu muncul. Gadis itu mengira yang muncul adalah monster yang wujudnya mengerikan. Tidak disangka, yang muncul adalah seorang pria muda. Wajahnya tidak terlihat karena asap pekat itu. Sosoknya nyaris tidak terlihat, hanya terlihat seringai dari wajahnya. Lalu, dengan sikap seperti seorang pria baik-baik, dia bertanya pada si gadis.
"Apakah kau yang telah memanggilku?"
Si gadis diam sebentar dan menjawab,
"Benar."
"Lalu, apa yang kau inginkan? Aku bisa memenuhi semua keinginanmu."
Pria itu tiba-tiba mendekati si gadis dan menyentuh wajahnya. Si gadis terkejut dan tudung kepalanya jatuh, memperlihatkan wajahnya. Si gadis adalah gadis yang cantik dengan rambut keemasan, pirang tapi nyaris putih seperti perak atau platina. Si gadis menampik tangan pria itu. Pria itu hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak merasa sakit atau pun terkejut.
"Tidak kusangka, gadis sekecil ini sanggup memanggilku. Hebat sekali." Katanya sambil tetap tersenyum.
Si gadis menatapnya dengan tajam, seperti pisau yang menusuk.
"Jangan sentuh aku." Katanya dengan lirih tapi nadanya mengancam.
"Kenapa? Apa kau takut aku akan mengotorimu? Atau takut aku akan mengutukmu?"
"Bukan… Hanya saja… siapa saja yang menyentuhku akan mati…"
Pria itu tertawa, tawanya terasa sarkastik dan dingin. Seperti seorang raja yang tertawa saat ada seorang rakyat jelata menuntut dirinya untuk turun dari tahtanya. Tawanya dingin, tanpa perasaan, dan sombong serta ada setitik kekejaman di dalamnya.  Seakan menertawakan manusia yang selalu bertindak bodoh.
"Lucu, kau mengkhawatirkan aku? Yang seorang setan ini?" Dia terus tertawa.
Dia hanya diam mendengar pria itu tertawa.
"Ah, maafkan aku. Rupanya aku sudah bertindak tidak sopan. Baiklah, kita kembali kepada urusan yang belum selesai tadi."
Pria menatap si gadis dengan maksud tersembunyi dan sedikit meremehkan walau tidak menyembunyikan ketertarikannya.
"Aku bertanya sekali lagi. Apa keinginanmu?"
Si gadis diam cukup lama, seperti sedang bimbang. Bukan bimbang karena telah memanggil setan, tapi bimbang karena takut ditertawakan lagi. Akhirnya dengan suara terbata-bata, dia menjawab pria itu.
"---------------------"
Mendengar jawaban si gadis, pria itu sekarang benar-benar kaget. Dia mulai menganggap gadis ini sangat menarik, untuk dipermainkan tentunya.
"Kau yakin dengan keinginanmu itu? Ingat, aku adalah setan."
Gadis itu hanya mengangguk. Mata si gadis menyimpan rasa sepi dan sedih yang teramat sangat. Walau di permukaan, wajahnya tetap datar dan tanpa perasaan.
"Baiklah, akan kupenuhi keinginanmu. Tapi karena aku adalah setan, aku menuntut bayaran yang sesuai."
"…kalau begitu ambillah jiwaku saja." Kata si gadis tiba-tiba.
Senyum pria itu semakin lebar. Senyum puas, seakan senang mendapat makanan yang enak dengan cara yang amat mudah. Ini adalah tawaran yang sangat menguntungkan baginya. Jarang sekali ada manusia yang rela jiwanya sebagai bayaran. Apalagi hanya untuk permintaan semudah itu, hanya untuk itu saja. Manusia adalah makhluk yang egois. Biasanya yang diminta adalah harta, kekuasaan, atau cinta. Ya, cinta juga perlu bantuan dari setan.
"Baik, saat kau mati jiwamu menjadi milikku. Ini sebuah kesepakatan. Janji. Kontrak." Kata-kata terakhir terasa sungguh mencekik.
Pria itu mengulurkan tangannya yang dingin untuk berjabat tangan. Si gadis menerimanya tanpa ragu. Si gadis merasa ada percikan api saat memegang tangan pria itu. Tapi dia tidak bisa melihat atau merasakannya lagi. Mungkin hanya halusinasi saja. Atau mungkin itu benar terjadi?
Asap yang memenuhi ruangan itu hilang dalam sekejap. Lampu ruangan hidup seketika. Simbol-simbol magis terhapus. Api lilin-lilin mati. Ruangan itu kembali saat pemanggilan ini belum dilakukan. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Seakan tidak pernah ada setan yang datang. Dalam suasana yang kembali normal itu, wajah pria itu akhirnya terlihat. Pria itu memiliki wajah yang tampan, seakan bukan dari dunia ini. Walau memang benar dia bukan dari dunia ini. Rambutnya panjang diikat dan hitam, sehitam gagak. Dan matanya, berwarna ungu. Secara keseluruhan, dia terlihat seperti seorang pria tampan pada umumnya. Kecuali fakta bahwa dia bukan manusia.
"Sebelumnya, saya belum tahu nama anda. Dengan apa saya memanggil anda?" Tanya pria itu tiba-tiba.
"Lamia. Itu satu-satunya nama yang diberikan kepadaku saat lahir di dunia."
"Hm… nama yang cantik, walau itu nama setan juga." Pria itu berhenti sesaat, melihat reaksi Lamia. "Tapi, saya pikir akan lebih baik kalau kupanggil Mia. Bagaimana?"
"Terserah." Lamia ingat sesuatu dan bertanya kepada pria itu. "Tapi, kamu kupanggil dengan nama apa?"
Pria itu hanya mengangguk dan menjawab.
"Nama saya bisa bervariasi, tergantung orang ingin memanggil saya seperti apa. Tapi dulu manusia mengenal saya sebagai Asmoday atau Asmodeus. Anda bisa memberi saya nama selama kontrak berlangsung."
Gadis itu berusaha memikirkan nama yang cocok untuk si setan.
"Kalau begitu, aku panggil sebagai Dietrich. Entah kenapa aku merasa nama itu cocok untukmu."
Pria itu, mulai sekarang di kenal sebagai Dietrich, kembali tersenyum.
"Terima kasih, nona."  Jawab Dietrich.
"Tunggu, kenapa dari tadi kamu memakai bahasa sopan kepadaku?"
"Karena saya pikir, mulai sekarang saya menjadi pelayan anda."
"Konyol."
Dan itulah pertemuan pertama mereka.

1Torikago ~ in this cage ~ oleh Tsuki Amano,translirik: http://www.animelyrics.com/game/ff5mbw/torikagointhiscage.htm
2Ruri no Tori oleh Haruka Shimotsuki, translirik: http://shiranehito.blog.fc2.com/blog-entry-236.html
Author's note: seriously, Trails of Azure (aka Ao no Kiseki) is so damn great.

2 komentar:

  1. Meskioun ada kemungkinan autololos, saya pingin masukkan impresi saya buat entry ini:

    Sama seperti entry Shade, di sini Mia juga lebih banyak membahas masa lalu Mia ya. Dan saya suka dengan kepolosan Shade, cuma sayang kayaknya dia keluar pertempuran terlalu cepat,padahal bagus juga kalau kalian berkenalan lebih jauh, wkwkwkwkk..

    Dan sama dengan Shade, di sini ending pertouran juga lebih ke resolusi, dimana adegan Mia vs Shade (atau setidaknya Mia diwakili Dietrich) tidak ada. Dan seluruh cerita fokus ke reveal Mia, masa lalunya dan Dietrich.

    Dietrich mengingaykan saya sama Black Butler... keren.

    Regards,
    Rakai A
    OC Shade

    BalasHapus
  2. Meskioun ada kemungkinan autololos, saya pingin masukkan impresi saya buat entry ini:

    Sama seperti entry Shade, di sini Mia juga lebih banyak membahas masa lalu Mia ya. Dan saya suka dengan kepolosan Shade, cuma sayang kayaknya dia keluar pertempuran terlalu cepat,padahal bagus juga kalau kalian berkenalan lebih jauh, wkwkwkwkk..

    Dan sama dengan Shade, di sini ending pertouran juga lebih ke resolusi, dimana adegan Mia vs Shade (atau setidaknya Mia diwakili Dietrich) tidak ada. Dan seluruh cerita fokus ke reveal Mia, masa lalunya dan Dietrich.

    Dietrich mengingaykan saya sama Black Butler... keren.

    Regards,
    Rakai A
    OC Shade

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.