Senin, 12 Desember 2016

[ROUND 3] 05 - SHERAGA ASHER | YETZER HARA

oleh :Ahran Effendi
--



 [Perhatian: mengandung konten dewasa.]


“Memangnya siapa kau ini, menyangka semua orang terlalu peduli kepadamu sehingga begitu membencimu?”

- 1 -
Tiga bulan sejak mendadak lenyapnya Ibukota Batya, kepanikan senantiasa meraja. Bak direngkuh Hari Akhir, anomali beranjak menggila. Warna hitam mengerumit Yisreya dengan perlahan namun pasti. Membunuh segenap makhluk yang dilalui. Dan belum cukup dengan tanah air, laut di utara ikut lesap bersama jutaan asa. Tiada lagi jalan bagi bangsa Dayan untuk menghindar menyaksikan tumbuhnya benih kehancuran tepat di depan mata.

Tinggal menunggu seluruh Benua Barat lebur bersama kehampaan.

Betshev Eliezer menjadi saksi atas mengikisnya semangat hidup di seluruh penjuru negeri. Doa-doa terus dipanjatkan, tetapi sahutan tak pernah datang. Pengorbanan dijalankan, namun dijawab sunyi. Seiring bergulirnya masa, kian banyak Dayan merayau-rayau di jalanan. Tangis dan jerit keputusasaan serupa melodi abadi yang tak pernah surut.


Pengampunan Tuhan bagai fatamorgana di tengah hamparan pasir.

Di antara dera cobaan demi cobaan, seberkas kenangan turut menggempur benak Betshev. Ingatan jelas atas dosanya yang begitu besar kepada seorang pemuda.

Sang alkemis wanita terus membisikkan nama-nama agung Tuhan, tetapi tidak jua hilang gundahnya. Alih-alih, rasa bersalahnya membuncah. Kebekuan dan sunyi yang sama, malam ini tepat dua tahun sejak peristiwa memilukan itu.

Apa kamu ... masih hidup?

Dihelanya napas panjang. Tanpa beranjak dari kursi, dia memandang kosong pada jendela yang terbuka. Mengungkap langit kelam, tanpa kehadiran sepasang bulan—Ushna dan Mahra.

Terdengar tiga kali ketukan dari luar wisma, disusul tutur salam seorang pelayan. Betshev mempersilakannya masuk, seraya membukakan jalan. Pintu berderit membuka, menampilkan pelayan wanita berikut sekumpulan orang dalam balut jubah cokelat.

Sosok misterius yang berdiri paling depan maju, sementara kawanannya tidak beranjak dari tempat. Lantas, dia membuka tudung jubah. Mengungkap figur yang Betshev kenali benar. Seketika itu sang alkemis wanita terperangah.

“A-anda ....” Betshev tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya. Seharusnya Dayan tua di hadapannya sudah meninggal. Pengumuman waktu ajalnya telah menyebar luas bagaikan wabah. “Tuan Amram Yirmi. Bagaimana—”

“Ceritanya panjang.”

Baru Betshev hendak membungkuk pertanda hormat pada kawan lama sekaligus mentornya, Amram menghentikan.

“Kau tidak perlu melakukan itu.” Dan dia langsung mengutarakan niatnya, “Aku mendengar tentang langkah-langkah yang kaucanangkan. Jalan keluar dari rangkaian bencana ini.”

Betshev mengerjap, kikuk bercampur berang. Yang baru saja dibicarakan sang Okultis bukanlah gagasan yang pernah diperlihatkannya kepada siapa pun. Penemuan yang masih prematur, yang bahkan belum berani dibicarakannya, kecuali ....
               
Namun sebelum Betshev sempat angkat suara, Amram menuturkan, “Aku tahu kau pasti bertanya-tanya mengenai kedatanganku dan bagaimana aku mendapati penemuanmu. Tapi ketahuilah, penjelasannya terlalu rumit untuk kupaparkan.”

“Tuan Amram.” Betshev mendengus. “Saya tidak—“

Amram Yirmi menyergah, “Yang Mulia telah menitah kita. Dunia ini dalam bahaya dan kau serta akulah satu-satunya yang bisa diharapkan.” Dia terbatuk pendek. “Kita ... harus bekerja sama sekarang juga, atau sesuatu yang lebih buruk dari kematian akan melanda bukan saja bangsa kita, tetapi ... seluruh muka bumi dan isinya. Takkan ada masa depan.” Dia menyerahkan tabung bersepuh emas. Berisi surat titah dari sang Raja.

Betshev tertegun. Takdir dunia ada di tangan orang penuh dosa seperti dirinya; sosok yang pernah menghalalkan segala cara demi memperoleh tujuannya, termasuk menjatuhkan putra sang Raja. Bagaimana bisa?

Masih dengan ketidakpercayaan, dia menanggapi, “K-kenapa saya?”

“Karena Yang Mulia paham kau mampu.” Amram menyeringai, tetapi kesedihan mendalam meriap dari matanya yang lelah. “Tapi, aku akan memberitahumu ... satu hal. Putra Raja tengah mempertaruhkan kelangsungan nasib dunia ini. Kekalahannya berarti kemusnahan kita. Tidak patut kita biarkan beban seberat itu hanya ditanggungnya seorang diri. Kita harus membantunya.” Dia berdeham singkat.

Sheraga Asher. Ada kelegaan menguar dalam batin Betshev, ketika mendengar pemuda itu masih hidup. Terlepas pada takdir apa yang tengah menjeratnya. Namun berikutnya, Betshev terbayang kembali pada perbuatannya; apakah kesalahan itulah penyebab peristiwa yang menimpa Asher? Dan di manakah dia saat ini?

Betshev memantapkan tekadnya. Tiada lagi kebimbangan. Tuhan telah menunjukkan setitik rahmat-Nya, melalui dirinya, dengan sangat jelas. Mulai detak jantung ini, dia harus kukuh. “Saya mohon diri sejenak,” pintanya. “Ada yang perlu saya perlihatkan.”

Wanita itu melenggang ke ruang bawah tanah. Tatkala kembali ke hadapan Amram dan para pengikutnya, alkemis wanita itu sudah membawa dua buah gulungan sepanjang setengah depa.

Dengan hati-hati, Betshev membentangkan satu di atas meja terdekat sehingga orang-orang di sekelilingnya ikut mengamati. Di dalam perkamen raksasa itu, terhampar simbol-simbol rumit dari tinta darah, yang tersusun dari gugus aksara lama. Satu yang utama berupa gabungan lambang alkimia mewakili kehidupan dan kematian. Simbol yang juga merepresentasikan perpindahan dan ketetapan.

Berusaha tetap yakin, Betshev memaparkan hasil penelitiannya selama setengah dekade. Apalagi, sesuatu yang disugestikan sering bertajuk kebenaran, maka dia harus percaya diri.

“Ini merupakan alkimia yang memadukan pengetahuan dengan seni sihir dan semiotika,” terangnya seefektif mungkin. “Dengan ini, kita bisa melakukan banyak hal. Mulai dari mengubah satu unsur menjadi unsur yang lainnya; menjerat makhluk gaib; sampai dengan perpindahan, bukan saja di kehidupan ini, melainkan alam yang lebih tinggi—katakanlah, dunia jin. Dan kemungkinan berhasil tertingginya adalah mutlak tiga berbanding lima.”

Tepuk tangan membahana.

“Kau sangat berbakat. Tidak salah menjadi kepala para peneliti.” Amram takjub. Demikian pula dengan orang-orang yang menyertainya. Jelas dia lebih dari paham dengan apa yang tersurat pada kreasi Betshev.

“Saya tersanjung,” Betshev merespons, “walau sesungguhnya saya masih belum percaya—“

“Apa itu dapat membawa kita ke Alam Mimpi?” Amram memotong.

Betshev mengerutkan alisnya. Alam Mimpi, tak saja memiliki makna harfiah. Itu berarti dunia yang berupa batas antara Kehidupan dengan Kematian. Para cendekiawan luhur berusaha menyingkap misteri alam tersebut, tetapi berujung pada kegagalan dan aib.

“Jadi, tempat yang hendak Anda tuju adalah alam mimpi?” Sejenak, Betshev mempertanyakan kewarasan mantan mentornya—juga sang Raja.

“Benar.” Amram mengangguk. “Terdengar sinting, memang. Tapi itulah yang terjadi. Alam Mimpi mengerip benua kita perlahan-lahan. Sebagian dunia ini terperangkap di sana.”

Betshev hampir mengusir, kalau saja Amram tidak mengimbuh, “Nama Tertinggi Neraka mengilhamiku, bulan sabit ini adalah momen paling tepat untuk menembus lapisan pelindung semesta, sebab penguasanya tengah melemah.” Dia menatap lekat. “Percayalah padaku, Nak. Aku tidak gila.”

Meskipun pandangannya mengenai iblis masih berseberangan dengan mentornya, Betshev menyanggupi. “Semoga saya mampu,” jawabnya sambil menyeka dahi. “Kami akan memerlukan banyak tenaga dan sumber daya untuk menciptakan simbol transmutasi raksasa.”

Amram mengangguk lemah. “Bagaimana dengan perkiraan masanya?”

“D-dua hingga ... tiga hari,” balas Betshev terbata. Pikirannya berputar selagi bicara. “Itu waktu paling cepat yang bisa saya perhitungkan.”

“Lakukan secepatnya. Berikan usaha terbaik!” perintah Amram, lalu terbatuk panjang. Warna merah meloloskan diri dari sela jemarinya. “Yang Mulia menuntut ... kinerja lebih ringkas dan kita hanya punya ... sedikit waktu.”

“A-anda tidak apa-apa?”

Amram tidak menggubris dan balik menghadap para pengiringnya. “P-persiapkan ... segala sesuatunya mulai detik ini. Demi umat kita, aku akan mengarahkan ... p-para penyihir terbaik dan apa pun yang kauperlukan, bahkan segenap jiwa ragaku ... bila dibutuhkan. Salam damai, Nak. Sampai jumpa.” Setelah itu, dia bertolak bersama pengikutnya.

Betshev tidak membantah. Segera, dia beranjak ke ruang pribadinya. Seluruh keraguan dienyahkan. Akal pikir dijernihkan. Yang paling penting adalah mencoba. Di sisi lain, samar-samar, dia mendengar kesah.

Sang Okultis tengah berduka. Begitu Betshev memandangnya, beban yang begitu berat seolah menggelayuti bahu ringkih lelaki tua itu.


- 2 -
Enam belas, termasuk dirinya, setelah sebelumnya terdapat sembilan puluhan kontestan.

Dua jam lalu, di tempat konyolnya, Huban mengumpulkan peserta Turnamen Antarsemesta yang masih dianggap layak. Namun Odin tidak lagi menemui beberapa sosok familier di antara mereka. Sang Penari Belati, rambut tiga warna, pria cemerlang keemasan, bahkan si Robot Mata Satu.

Tidak juga, Nessa.

Secercah kerinduan Odin pada gadis itu merekah di dalam dada. Venessa Maria, si gadis berambut jeruk. Figur satu-satunya yang menarik perhatian pada ajang yang penuh darah, sekeras apa pun Odin menampiknya.

Akan tetapi secepat perasaan itu muncul, seringkas itu pula sirnanya. Itu tidak benar, pikir Odin. Misinya menjalankan pertarungan silih berganti ialah kebangkitan sang ibu. Tidak boleh ada seorang pun lagi di dalam kepalanya. Maka sepatutnya Odin mensyukuri terangkatnya satu beban itu.

“Hei, hei, Kak Odin~” Sekoci Huban tiba-tiba menjauh dari semua peserta turnamen yang masih kebingungan, mendekat pada Odin seorang. “Aku sudah menentukan lawanmu di Museum Semesta nanti, lho~”

Odin terperanjat. Nyaris membalik perahu di atas lautan susu karamel. Segera terbayang lima sosok yang dikutuk menjadi tembikar buruk rupa.

“Eish, jangan takut,” kata Huban yang berhasil membaca gelagat Odin. “Kali ini berbeda. Tidak ada ancaman Kehendak. Ini dalam rangka kunjungan yang me-nye-nang-kan, anggap saja nostalgia masa sekolah. Kakak bukan saja akan menemui pertarungan dan misi yang menegangkan, tetapi juga ... melihat-lihat koleksi museum terbesar di seluruh jagat! Ada patung, lukisan, koleksi bantal dan boneka yang lucu, bahkan koleksi permen—“

“Dari tadi kamu ngomong apaan sih?” bentak Odin. “Ya, ya, aku tau Museum Semesta kayak gimana. Aku paham harus bertarung, bla bla bla, tapi aku benci pake pendahuluan. Tau nggak?”

Huban menggaruk kepala empuknya. “Err, oke. Kalau begitu, dengar baik-baik misi untuk Kakak, ya~” Dia membuat tanda damai dengan jemarinya.

Bagi Odin, Huban tidak lebih dari ornamen pelengkap absurditas Alam Mimpi. Makhluk itu memenuhi semua kriteria olok-olok penciptaan, sekalipun Odin tidak memercayai eksistensi tuhan maupun para dewa.

Akan tetapi mulai detik itu, dia sadar si Kepala Bantal lebih dari sekadar kelip di tengah kekejaman.

Huban bukan makhluk bodoh. Dia punya taktik, dan Odin patut waspada pula.

“Lawanmu yang sekarang adalah Sheraga Asher,” Kepala Bantal menyampaikan. Nada bicaranya serius, seolah bukan dirinya. “Mirabelle pernah berpesan padaku, agar orang itu segera dibunuh. Tapi, kamu harus cermat. Jangan sisakan celah, sebab musuhmu sangat berbahaya.”

Berikutnya, Huban menawarkan kesepakatan menggiurkan.

“Emangnya Asher itu siapa sih? Dia peserta biasa, ‘kan?” Odin memprotes. “Maksudku, aku nggak keberatan bertarung sama dia. Yang aku sebal bukan main, kenapa kalian sampai repot-repot bersikap kayak gini demi dia?”

Sang Penggembala Domba Putih bergeming saja.

Tidak heran Odin sangat berang. Dia curiga Huban bermaksud menggoyahkan kejiwaannya sebelum perang, dengan mengatakan lawan begitu tangguh dan istimewa sampai-sampai panitia turun tangan demi membunuhnya. Itu salah satu taktik penghilang semangat yang Odin pahami.

Dalam kehidupan, tidak ada yang namanya kejujuran, termasuk pada sebuah ajang. Para penyelenggara pasti memiliki kecenderungan mendukung pihak tertentu, dan berusaha memenangkan pilihan mereka dengan berbagai jalan dan alasan.

Kesimpulan tersebut terbukti dari lenyapnya para peserta, yang dinilai Odin memiliki potensi tempur luar biasa. Menyisakan mereka yang tidak pernah menonjol.

Kalaupun benar Sheraga Asher semengerikan yang tersirat, dugaan Odin mengenai ketidakadilan sistem juga tidak meleset.

Akan tetapi, Odin lega mendengar keterangan mengenai calon musuhnya. Terlebih dengan “pemberian” Huban yang sangat praktis dan menjanjikan. Ternyata bukan Sheraga Asher itu, melainkan diri Odin-lah yang spesial. Melayangkan nyawa seorang kontestan menjadi ujian pertama kelayakannya.

“Gunakan itu jika Kakak terdesak,” Huban memberitahu, kembali riang. “Tapi lebih bagus kalau tidak~”

Dan setidaknya, lawan yang Odin hadapi adalah manusia laki-laki. Bukan gumpalan organ acak manusia disertai tentakel hitam.

Tidak ada yang perlu Odin takutkan selama musuh seorang fana. Sebagai pembunuh bayaran, dia sudah berpengalaman mengentaskan nyawa. Hanya butuh satu gerakan efisien, dan lawan terkapar. Dan apabila ternyata musuh sedikit melampaui perkiraan, Odin tinggal menyingkap jurus lainnya. Parasit dalam dirinya selalu siap untuk itu.

Lagi pula, tak ada yang kuasa menampik kenikmatan di selangkangan. Sekalipun itu pribadi yang paling lurus.

Maka di sinilah si pemuda, mengikuti arahan Kepala Bantal menuju latar pertempuran. Seakan mengawasinya, ialah sederet lukisan menampilkan potret seragam dari sebuah semesta. Berbekal pengalaman menjadi pelukis dengan estetika cukup tinggi, Odin mampu membaca pesan dari dalam tiap pigura.

Mereka bicara mengenai penderitaan, ketidaksetaraan, dan macam-macam tragedi kemanusiaan. Bodohnya, makhluk-makhluk menyedihkan yang berdiam di sana berusaha menyangkal kenyataan tersebut. Justru berlindung di balik kesucian palsu. Itulah dunia yang direngkuh dusta sejak awal peradaban. Melebihi kebobrokan Pomupeii.

Di sanalah tempat tinggal pemimpi bernama Sheraga Asher.

Sayup-sayup, alunan petik dawai melintasi koridor megah Museum Semesta. Pada salah satu sudut galeri, seorang pria berpakaian monokrom sedang duduk memainkan harpa.

Baru Odin berniat mencabut pisau, dengan tanpa suara, si pria berambut hitam sebahu menoleh dan berdiri. Sebilah pedang kelam dihunuskannya. Dia tersenyum simpul.

Rupanya dewi fortuna tengah memihak pada Odin. Lawannya semata pria pasi sekurus ranting. Manusia stereotip, yang pernah menyalak-nyalak menyebut Mirabelle dengan panggilan aneh. Jordan sekalipun lebih dari sanggup untuk menggebuk pingsan si pria.

Tetap saja, Odin menggeram. Langkahnya patah sejak kesempatan pertama. Dia menyesal tidak bisa menumbangkan musuh dengan seringkas mungkin.

“Salam, Bocah,” sapa Asher, sinis. “Ingin kulantunkan melodi apa? Ah—bagaimana kalau perkabungan bagi kematianmu?”

Jawaban yang Odin berikan berupa terjang serangan. Hadiah pantas bagi sambutan angkuh hanyalah kematian.


- 3 -
Pada dasarnya, alkimia meyakini seluruh alam semesta sesungguhnya bergerak menuju kesempurnaan. Seperti transmutasi timah menjadi emas, yang diyakini sebagai zat sempurna karena sifatnya yang tidak bisa rusak. Dengan transmutasi logam biasa menjadi emas itulah, para ahli percaya bahwa mereka sebenarnya tengah membantu alam semesta meraih eksistensi tertinggi.

Berlandaskan prinsip tersebut, tidak mengherankan apabila Sheraga Asher berpikir, bagaimana bila masih ada misteri lain untuk disingkap?

Memahami rahasia ketidakberubahan emas, bisa jadi dia akan menemukan pemecahan atas masalah lain. Seperti bagaimana menangkal penyakit dan pembusukan hayat. Bahkan, memberikan hidup abadi hingga mengubah manusia menjadi wujud yang lebih kompleks. Layaknya alam dengan berbagai anomalinya, segala kemungkinan terbuka luas.

Manusia merupakan makhluk yang rapuh dan ceroboh, tulis Sheraga pada halaman jurnalnya. Bibirnya bergerak selagi tangan kanannya sibuk menari.

Dalam teks-teks kuno dan kisah-kisah terdahulu, dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna, entitas ciptaan tertinggi. Namun bukti belum mengakui keabsahannya. Setiap kerjapan mata, jiwa manusia tercerabut dari tubuh. Dan akal mereka sendiri yang menyebabkan dunia semakin sakit.

Sheraga mencelupkan pena bulunya ke dalam wadah tinta. Dia meneruskan, manusia tercipta dari empat elemen dasar. Api, air, tanah dan udara—merah, biru, kuning dan hijau. Seperti halnya materi fana di dunia ini. Namun kita tak pernah berani menyentuh unsur yang lain, yakni unsur putih dan hitam. Dua unsur yang kekal.

Bila aku menggabungkan empat elemen dasar itu, dengan ekstrak salah satu dari dua unsur yang kusebut, atau bahkan mencampurkan seluruhnya .... Memusnahkan aspek buruk masing-masing dan mempergunakan sihir serta semiotika kuno, aku yakin mampu membuka pintu yang menjadi batasan-batasan pengekang manusia.

Dengan kata lain, membantu manusia mencapai wujud yang lebih tinggi lagi.

Putih membentuk daya untuk bertahan, mementahkan penyakit dan kerusakan internal, serta membatasi nafsu. Sedangkan hitam memberikan daya untuk melawan ancaman dari luar.

Hasilnya, kita bisa menghindari degradasi dini, memanfaatkan sumber daya tanpa mengacaukan siklus lingkungan, dan menyetarakan diri dengan makhluk pada dimensi atas. Sehingga kehidupan dapat berjalan dengan ideal.

Sebagai tambahan atas penjelasannya, Sheraga menggambar tabel dan simbol-simbol. Tepat menyertai tulisan. Sebuah heksagram—lambang yang merepresentasikan keenam elemen, di tengahnya—memenuhi halaman. Lantas alfabet lain mengelilinginya.

Kilat di luar jendela ruangan menyinari wajah pucat sang Alkemis. Gelegar guntur yang menyusul membuyarkan konsentrasinya. Merasa cukup, dia meletakkan pena dan menutup jurnalnya.

Tentu, apa yang barusan ditulisnya semata konsep belaka. Yang sama sekali belum terealisasikan. Bagaimanapun juga, transmutasi tak bisa diterapkan pada makhluk berhayat.

Perlu waktu dan kondisi yang tepat bahkan semata-mata untuk mewacanakan pemikiran semiring itu. Oleh sebab itulah, segera alkemis muda itu mengambil jurnalnya dari meja, dan memindahkannya ke brankas khusus yang diliputi sihir istimewa.

Tak seorang pun yang boleh membacanya. Atau pengasingan akan jadi permohonan Sheraga yang paling giat. Sebagaimana para cendekiawan yang terjerat hukuman inkuisisi, hanya karena ide-ide mereka berseberangan dengan doktrin agama.

“Selamat untukku,” ucap Sheraga lirih. “Satu langkah menuju kegemilanganku.”

Rasanya seperti pada hari kemarin ayahnya, Natan Asher, memberikan pada putranya kenyataan mengenai masa depan. Engkau akan mengubah dunia, begitu ujaran sang Perdana Menteri, dan aku memastikannya. Engkau adalah putraku, anak yang begitu istimewa yang Tuhan karuniakan padaku.

Kiat Sheraga untuk memulai perubahan itu kandas prematur di bidang agama. Sekarang, dalam bidang ilmu pengetahuan, tiada lagi yang mampu menghentikannya. Imannya boleh dipertanyakan, tetapi tidak dengan kepandaiannya.

“Akan kubuktikan pada semua orang, mengenai eksistensiku.”

Sehabis itu, dia mengunci ruangan pribadinya usai mematikan perapian dan obor-obor yang tersisa.

Dia tidak menyadari sesuatu.

Sebuah rajah dari darah terlukis di pintu, perapian, rak-rak buku, hingga dekat meja. Mengawasi gerak-gerik Sheraga sejak dua hari yang lalu, termasuk bagaimana dia berlatih menyampaikan pendapat-pendapat sinting dan kegiatannya mengekstrak intisari makhluk hidup. Simbolnya begitu tersamarkan oleh lingkungan. Perlu kejelian khusus untuk membedakan dengan medannya.

Di antara amukan badai, meluncurlah suara-suara itu.

Pada belahan lain Ibukota Batya, beragam luapan emosi memenuhi ruangan tempat berlangsungnya sebuah pertemuan tertutup. Tiga puluhan peneliti penting Urim Ushnashar berkumpul. Ada yang berteriak marah, menyumpah serapah, pun tertawa disertai tepuk tangan. Tujuan mereka sama, dan semakin dekat untuk tercapai.

“Dasar bedebah!” seru salah seorang pria sambil menggebrak meja. “Bahkan dia benar-benar  menjalankan niatannya. Mau berlindung pada siapa lagi dia?”

Peneliti senior bidang sihir menimpal, “Ya. Berani-beraninya memiliki niat menyamakan diri dengan makhluk gaib. Kuharap dia dibakar hidup-hidup atas kejahatan menodai ilmu pengetahuan ini!”

“Kalau Pimpinan masih berminat melindungi anak itu,” sambar pria dengan turban berapi-api, “kucelupkan mereka berdua sekalian ke dalam air keras!”

Tensi di tempat itu semakin naik. Dalam momentum tersebut, udara dipenuhi dengungan oleh banyaknya gerutuan tanda setuju.

“Tidak usah cemas, Shoshan, jelas takkan ada yang mengampuni orang semacam itu,” sambung seorang pemuda berambut kecokelatan, pada pria yang sebelumnya bicara. “Kujamin, dia pasti akan memohon atas kematiannya sendiri.”
               
“Dan dengan begitu, kaubisa maju sebagai pimpinan kami, Chanan,” Shoshan mendukung. “Putra perdana menteri itu ... dialah beban yang paling menyusahkan bagi kita. Ayahnya selalu menjadi pelindung baginya!” imbuhnya dengan suara meninggi.

Lawan bicaranya balas tersenyum.

Nah, Keparat, kau sendiri yang menggali lubang kuburmu, pikir pemuda yang diketahui bernama Chanan Raivah itu. Mata biru safirnya melirik pada informan kepercayaannya, sang Pembuat Rajah. Sekarang tinggal memastikan kau tidak bangun lagi dari sana.

Malam itu, putra sulung Ezar Raivah tersebut merayakan nyalanya sumbu kembang api kemenangan. Akan tetapi bagi Sheraga Asher, itulah hari yang menjadi ambang puncak kariernya. Karena seterusnya, senandung kedukaannya terlantun. Mengisi otaknya bukan dengan motivasi, melainkan kegilaan serta amarah.
Benar-benar rapi. Benar-benar dramatis. Benar-benar sakit.

Satu-satunya orang yang Sheraga anggap sebagai “sahabat”, Orim, ternyata bermaksud menghentikan tujuannya mengubah peradaban. Orim tidak saja menculiknya, pria itu bahkan memupus ingatan dan kemampuannya.

Sheraga pernah mendengar reputasi sang klerik sebelumnya. Pria itu, sama seperti Sheraga, merupakan yang terbaik dalam pendidikannya. Kecerdasannya diakui melampaui banyak orang. Dan oleh karena itulah suatu hari Orim berkata, dia juga ingin melakukan pembaharuan.

Semestinya Sheraga menyadari kejanggalan Orim sejak awal. Pria itu memang selalu membantunya dalam setiap kesulitan, menawarkan jalan keluar yang tidak disangka-sangka. Namun sebagaimana makhluk berakal, setiap perilaku bukanlah tanpa maksud.

Selalu ada tujuan, sebab begitulah manusia. Merusak bila tanpa aturan. Saling tikam jika berbenturan kepentingan. Diri sendiri merupakan yang utama. Kecenderungan jahat bahkan Tuhan ciptakan dalam hati tiap insan. Lagi pula, Tuhan memang jahat.

“Jangan pernah percayai siapa pun,” Natan Asher pernah berpesan, “termasuk dirimu sendiri.”

Itulah yang selalu Sheraga yakini dalam hidupnya. Dayan maupun Helev sama-sama makhluk egois yang sukar ditebak.

Yaal Yifrach, Dayan kecil yang pertama kali mengakui Sheraga sebagai teman, ternyata memprakarsai percobaan penenggelaman atas dirinya. Para guru di pendidikan, yang diam-diam mengharap kegagalannya. Aliyah Shefar, calon istrinya, yang memilih lelaki lain setelah pertunangannya. Betshev Eliezer, perempuan munafik yang menendangnya dari majelis penelitian. Kemudian ayahnya sendiri, Natan Asher, memilih menuruti kemauan fitnah dan mengusir putranya keluar dari kerajaan.

Dan Orim. Sheraga pun tertawa.

Seketika dia terkenang pria malang bernama Ganzo Rashura. Betapa ingin dia mengucap terima kasih pada sang nabi palsu atas pembebasan dari sihir Orim, ingin mengajaknya sama-sama memandang dunia dengan cara baru dan menjadikannya pengikut. Kesahajaan pria itu sama sekali tidak dibuat-buat, dan dia jelas takkan berkhianat. Namun dalam ajang yang mempertaruhkan keutuhan semesta, hal itu tidak memungkinkan. Sheraga terpaksa membuatnya mati.

Seluruh kekecewaan Sheraga tumpahkan dalam permainan harpa. Diiring lagu pengantar kematian yang paling sendu. Sampai kehadiran seseorang menghentikan alunan melodinya.

Sheraga berpaling, dan geli.

Nasib sedang berbaik hati dengan mendermakannya lawan jenaka. Musuhnya, yang Huban beritahukan bernama Odin, adalah Helev anak-anak. Tubuhnya setengah terbuka, mengumbar berahi tiada alang, seperti penjaja kenikmatan duniawi. Tidak ada tanda-tanda kekuatan besar, yang ada justru alamat keterbelakangan pikir.

Sang Alkemis menghunus senjata, meliputi bilah hitamnya dengan api tak kasatmata. Begitu si bocah menerjang maju, sambutan hangat telah benar-benar siap. Akan tetapi—

Memanfaatkan bobot tubuhnya yang ringan, Odin memelesat ke kiri. Membuat Sheraga kebingungan mengikuti pergerakannya. Odin lantas melompat ke arah sebaliknya, lalu kembali ke kiri, dan ke kanan lagi, terus begitu sehingga Sheraga tidak yakin pada pertahanannya. Laju bocah itu betul-betul mengungguli daya tangkap indra. Sejurus kemudian, bagai hantu, keberadaannya sungguh sirna.

Sheraga rasakan hawa kehadiran di belakang. Hendak menggorok tengkuknya. Ketika dia berbalik, denting ringan memeriahkan kelengangan Museum Semesta. Pedangnya berbenturan dengan belati milik Odin dan walaupun kedua senjata tidak seimbang, si bocah sama sekali tak terganggu.

“Rupanya kau tidak lemah,” desis Sheraga setengah sadar. Giginya menggemertak, berang sekaligus tertarik minatnya.

“Heh, sama-sama, Pemilik-Nama-Jelek. Ngomong-ngomong, itu tadi lumayan juga,” si bocah memuji. “Tapi tetap payah—“

Sheraga menyeringai. “Siapa bilang kau boleh bangga?”

Tak mungkin dia mati di tangan seorang bocah, dan tidak seru jika langsung memberangus dengan menghantamkan pijar. Maka Sheraga memilih mundur. Selubung api tipis dienyahkannya. Sudah lama dia tidak mempraktikkan keterampilannya seperti ini.

“Ayo ma—“

Odin lenyap lagi dari muka. Sheraga berputar, mengedarkan pandangan. Dia terus mundur. Merapat ke dinding penuh bingkai demi mengamankan diri. Tatkala terdengar tapak halus dari barat daya, segera difokuskannya perhatian. Hanya untuk dibuat kecewa oleh kekosongan. Di arah yang sama, lukisan Shimon Shalafar—seorang rabi yang menjual jiwanya pada kegelapan—yang sedang berkhotbah, sempat menarik atensi.

Bayangan si bocah terpantulkan oleh alas mengilap Museum Semesta. Seakan mengejek hukum gaya tarik bumi, Odin melayang di udara. Pisaunya terhunus ke bawah, siap membocorkan kepala musuhnya.

Dalam waktu sempit Sheraga menjatuhkan badan ke samping. Membiarkan bahu kanannya mencium lantai pejal. Tidak ada momen untuk mengaduh. Abai pada rasa sakitnya, dia bergegas bangun. Sepersekian detik setelah itu barulah Odin menapak. Tanpa jeda, langsung dilancarkannya serangan frontal. Satu kakinya menolak lantai sebagai permulaan. Tawanya meriap membelah kesenyapan.

Bangsat!

Dipandu kesal, Sheraga melibaskan pedangnya. Sekalian saja menyongsong terjangan. Sayangnya kali ini dia belum belajar dari kesalahan. Odin mengeluarkan dengus sinis, dan Sheraga tidak sempat mengantisipasi maknanya. Sementara kedua lengannya terangkat, tanpa penjagaan pada titik-titik vital, Odin memulai aksi pamungkas.

Lagi-lagi dia beringsut ringkas, berpindah dari hadapan. Belatinya menyasar jantung lawan. “Mamp—“

Terlambat satu tarikan napas saja, nyawa Sheraga melayang. Persis momentumnya, dia mengentak kasar bagian kiri tubuhnya ke belakang. Menyisakan sisi belati Odin yang semata merobek rompi hitam berikut kemeja. Samar-samar, serapah si bocah meluncur.

“BRENGSEK!”

Sheraga terengah-engah. Napasnya sesak. Seraya mundur, dia mengutuk kondisinya habis-habisan. Bisa-bisanya dia sempat terpojok oleh manusia hina hingga sedemikian rupa. Dia adalah putra Raja Yisreya. Orang yang terpelajar dan berbakat. Mustahil takluk oleh pelacur laki-laki.

Daripada menjemput risiko, lebih baik mengentaskan bakal ancaman sedini mungkin. Dirapalkannya mantra pengendalian elemen panas. Tak ayal, desing pembentukan sihir menguar dari belakangnya. Tujuh bola api terbit dari ketiadaan. Empat sontak melayang ke arah Odin.

Odin menghindari keempat-empatnya dengan kasual. Tidak gentar atas terciptanya kawah leleh di sekeliling. “Cih, kukira kamu bukan pengecut. Masa pakai sihir?” cibirnya. “Heh, kenapa nggak pake gaun aja?”

Itu umpan yang bagus, tetapi Sheraga bukanlah ikan biasa. Keadilan perang adalah hal sekian dibanding kemenangan. Sambil meluncurkan ketiga api yang tersisa, dia mendaraskan mantra lainnya untuk membuat tujuh kawanan sihir baru.

Bara bertebaran ke segala arah. Menghantam potret-potret peristiwa penting di dunia Sheraga sejak zaman Raja Pertama. Meninggalkan lubang-lubang hangus yang mencoreng keelokan salah satu galeri Museum Semesta.

Ruang lukisan itu terbakar sebagian, lantak perlahan-lahan, dan akan terus menjangkit. Sementara itu, si bocah berpenutup mata satu masih menyambung hayat. Dia terus berkelit seolah akhirat begitu membencinya.

Sheraga betul-betul murka. Gejolak api membungkus dirinya seutuhnya, merangkai rupa iblis tengah mengamuk. Di belakangnya, lukisan pidato pertama Natan Asher yang dikerip nyala membingkai manifestasi kemarahan tersebut.
Keturunan campuran sekaligus cendekiawan terkemuka, Hilai Shefar, hadir pada pertemuan khusus yang diselenggarakan Chanan Raivah. Semata sebagai penghormatan terhadap undangan putra pejabat itu. Sendirian, Hilai duduk di sudut ruangan. Tidak berminat ikut bermaksiat sebagaimana yang lainnya.

Mar Hilai, kuperhatikan sejak tadi kau diam saja,” ujar Shoshan, imigran dari Hagashah, seraya menghampiri. Tangannya menyodorkan kendi. “Ayolah, ini malam yang indah untuk bersenang-senang. Para malaikat bernyanyi mengiringi kebahagiaan kita.”

Hilai mendelik tajam padanya. “Terima kasih,” sahutnya menahan tangannya yang terkepal ingin menghajar. “Habiskan saja sendiri.”

Shoshan yang setengah teler mengangkat kedua alisnya. “Ah, tak biasanya. Tapi, sama-sama.” Melihat Hilai bergeming, dia menambahkan, “Tidak sekalian dengan wanitanya?”

“Ambil, amnil semuanya!” Hilai sontak menjawab, amat muak.

Sekalipun dalam keadaan mabuk, si imigran masih bisa ditekan oleh bentakan si pemuda setengah manusia. Tergopoh-gopoh, dia meninggalkan Hilai. Berkali-kali kakinya menabrak meja berpenyangga pendek.

Keparat! Hilai mengernyit jijik memandangi kumpulan ilmuwan di depannya, atau setidaknya mereka yang ingin disebut demikian.

Awalnya Hilai memang berada di pihak Raivah. Sheraga Asher, putra Perdana Menteri yang tiba-tiba meraih keanggotaan istimewa di Majelis Penelitian, terlalu angkuh dan tidak kompeten untuk memperoleh posisi tersebut. Sikap dan gagasannya yang kontroversial mengubah para pendukung menjadi pembenci, ditambah masalah perbedaan latar belakang.

Namun, sekalipun kontra, menjatuhkan seseorang ke dalam kesengsaraan bukanlah jalan yang benar. Apalagi bersenang-senang di atas kegagalan orang lain. Binatang amoral macam apa para “cendekiawan” ini?

Lebih jauh, mereka merayakan keberhasilan dengan perbuatan mengikis otak dan organ dalam. Juga diiringi tarian wanita. Kini siapa yang lebih hina?

Apabila Hilai sadar akan begini jadinya, dia takkan datang memenuhi undangan ini.

Mereka dikendalikan sentimen, simpul Hilai. Lalu meludah ke lantai. Tidak tahan dengan pesta jahiliah yang berlangsung, dia berdiri dan menyingkir.

Di belakangnya, Chanan menyadari pergerakan Hilai. Akan tetapi belum sempat menahan, air dari gelas-gelas di ruangan itu tersesap menuju rekannya. Menyungkup sang Pengendali Air, melunturkan keberadaannya.


- 4 -
Untuk pertama kali sejak mengikuti Turnamen Antarsemesta, Odin menyesal mengenakan atasan bolero saja. Keringatnya mengucur pesat, membasahi dadanya yang telanjang. Dia seperti hendak memasuki alam kematian, dengan kecamuk  di mana-mana. Namun, dia belum berniat membereskan ujiannya.

Kalau bisa, Odin ingin menunda lama mengeluarkan jurus terbarunya. Jika “hadiah” dari Huban itu dia gunakan lebih dini, rasa penasarannya takkan pernah padam. Kematian musuh adalah pasti, dan itu tidak menggairahkan.

Odin masih bertanya-tanya mengapa jajaran panitia menjadikan Asher sebagai tes awal. Padahal, mereka tidak saling mengenal.

Asher sendiri hanyalah reverier biasa. Bakat mengendalikan apinya memang tak dapat dipandang sebelah mata, namun dia tidak selevel monster tentakel yang mengamuk di Bekasi. Odin punya banyak kesempatan membantainya.

Boleh juga, Odin membatin. Tapi tetap nggak pantas ditakuti.

Akan jauh lebih masuk akal bila rintangan bagi Odin berupa jelmaan Tuan, atau salah satu “teman-teman”-nya di wisma, atau bila perlu ... ayahnya.

[Sebaiknya kau jangan lari terus darinya,] ujar parasit dalam tubuh Odin—incubus, [gunakan kemampuan kita begitu ada kesempatan. Aku mau jiwanya.]

Momen kelengahan Odin terputus. Sepasang bola api menarget dirinya dari kedua sisi. Dia menarik langkah dalam waktu tepat, membiarkan terjadinya benturan sihir persis di depan hidung.

Dari balik asap akibat letupan tadi, sebuah bola api menjurusnya. Bersamaan dengan tiga serangan sepadan dari sudut berbeda.

Tak memiliki bakat sihir, Odin sebatas mengelik. Ke kanan, kiri, kemudian mundur menyamping. Terpaksa menahan sementara umpatan-umpatan di pangkal tenggorokan.

Tiada seorang pun yang pernah meragukan kecepatannya. Dan anggapan itu membuahkan bukti. Dua puluh satu lontaran sihir lawan, tak satu jua berhasil mendaratkan pengaruhnya terhadap Odin.

Asher meliputi dirinya dengan neraka di berbagai sisi. Menutup jalan mana pun bagi Odin untuk melampiaskan balasan.

Punya ide? Odin bertanya pada incubus, sembari menghindari tebaran sihir. Sebentuk lukisan seukuran dirinya jatuh di hadapan. Serpihan pigura nyaris mengenai kakinya.

[Tentu dengan memberikan jiwanya padaku,] incubus menjawab, terdengar tidak sabar berliput nafsu lebih. [Buat dia menatap matamu. Aku akan mengarahkan kekuatan ekstra untuk memastikannya terjerat.]

Odin tak berminat mengikuti saran menggelikan itu, tetapi perkataan incubus memberinya gagasan bagus.

“Tunggu!” teriaknya saat frekuensi gempuran menipis. Dia meminta perhatian dari pojok aman.

Ajaibnya, Asher betul-betul menghampirinya seraya menyusut api. Menyisakan beberapa sihir saja di atas kepalanya. Merasa lawan memberi sedikit kelonggaran, Odin meneruskan, “Baik, baik. Aku nggak idiot. Aku masih mau hidup. Aku nyerah, deh.”

“Buang belatimu,” Asher menyuruhnya, dingin.

Mempertaruhkan nasib, pisau dicampakkan Odin jauh-jauh. Seketika, api menyambar benda itu. Meleburnya bersama keramik.

Alih-alih tertekan, Odin malah bersukacita. Lagi pula risiko adalah tak terelak, dan dia yakin semua ini akan terbayar lebih dari lunas. Sambil menahan rasa muaknya, dia meminta, “Jangan bunuh aku! Aku bakal melakukan apa saja buatmu! Kumohon!”

Asher menunggu. Tidak ada kecurigaan.

Dan Odin perlahan-lahan mencopot penutup mata, lantas mendongak. Tilikannya beradu dengan lawan yang berjarak setengah meter saja darinya.

Sontak, terdengar denting keras. Asher menerjunkan pedang miliknya, yang langsung Odin renggut.

Di hadapannya, Asher terperangah tanpa daya. “A-apa yang ... kaulakukan?”

Odin berkacak pinggang. “Heh, kamu di bawah kendaliku,” jelasnya. “Setiap perintahku adalah keharusan buatmu. Kamu nggak bakalan bisa melawanku.”

Dia meludah, lantas tertawa. “Sekarang, hilangkan apimu dan keluarkan seluruh senjata yang kamu punya. Dan kalau kamu menyimpan sihir tersembunyi, jangan gunakan. Jangan lepas tatap mataku.”

Dengan ekspresi ketakutan, Asher memupus api yang tersisa di tubuhnya. Sertamerta mengempaskan sarung pedang. Odin lekas memakaikannya pada diri sendiri, dan mengamankan senjata barunya.

“Bajingan kotor,” Asher mengumpat lirih. “Kau ... akan membayarnya. Akan kupastikan kau menderita pada tiap jengkal tubuhmu.”

“Coba saja kalau memang mampu,” cemooh Odin, kemudian menjulurkan lidahnya. “Mending kamu diam aja, deh.” Jarinya mengerap, alamat suruhan.

Asher menutup mulutnya rapat-rapat, tetapi tak membendung gelombang kebencian dari sepasang mata kelabunya.

“Ayo kita pergi dari sini,” perintah Odin. “Aku benci Galeri Semesta-mu yang monoton.”

Setelah itu, dia memimpin berlari. Sesekali mengawasi musuh di belakangnya demi menyambung efek spider’s web. Asher juga bergegas tanpa perlawanan, bagai pengikut setia yang tidak mendamba apa-apa.
Museum Semesta, sesuai namanya, sungguh tiada berjumpa habis. Waktu berlalu lama, dan Odin belum menemui akhir dari galeri sebuah semesta belaka. Usai melewati ruang lukisan, dia melalui pameran yang lebih luas lagi. Penyimpanan patung-patung, beragam seni rupa lain, dan saat ini dia tengah berada di ruangan penuh manuskrip dan catatan-catatan sejarah.

Kelelahan, Odin memutuskan menjeda di dekat penyimpanan bidang tulisan dari tanah liat. Jangan sampai staminanya habis oleh perpindahan. Dia berbalik dan mengomando musuhnya, “Sebutkan semua kekuatanmu dan bagaimana caraku menangkalnya!”

Diselingi berbagai sumpah serapah, Asher menjabarkan segenap kemampuannya. Pengendalian api, kemahiran menggunakan beragam senjata, dan yang paling berbahaya ialah pemanggilan iblis tingkat atas. Seluruhnya tidak memiliki jalan untuk dihentikan, hanya batasan-batasan.

“Kalau begitu, coba jelaskan padaku, apa yang membuatmu merasa spesial? Apa mimpimu sampai kamu bisa berada di sini?”

Asher menerangkannya, dari motivasi sampai “mahakarya”-nya. Pada tiap kalimat dari pria itu, Odin tertawa terbahak-bahak. Dia tidak habis pikir, mengapa masih ada manusia dungu yang berniat memetakan masa depan. Visi yang begitu polos, serupa omong kosong. Ujung-ujungnya, impian mustahil semacam itu selalu takluk oleh realitas.

Misteri tersingkap sudah. Mirabelle dan Huban terlalu berlebihan dalam memaknai ambisi seorang reverier.

“Aku heran kenapa panitia begitu pengecut barang buat nginjak cecunguk kayak kamu,” sembur Odin seraya memegangi perut. “Kamu betul-betul orang yang bikin prihatin. Cita-citamu itu nonsens. Pikir aja pakai logika. Satu orang kayak kamu bisa apa? Kamu mirip seekor ikan yang coba membelokkan arus!”

Odin memberi aba-aba agar Asher berlutut.

“Dengar aku, budak,” lanjut Odin. “Kamu belum punya tuhan, ‘kan? Kalau begitu, lihat aku! Akulah Tuhan-mu! Senyata kenaifanmu!”

Dia melipat tangan di depan dada. “Sebelum malaikatku menjemputmu, camkan ucapanku baik-baik!” serunya. “Orang bodoh itu nggak pantas hidup. Soalnya mereka suka buang-buang tenaga dan pikiran buat sesuatu yang nggak real, lalu nyalahin keadaan pas mereka gagal. Itu konyol dan denial namanya. Kasihan sekali wanita malang yang melahirkan manusia macam begitu. Asher, kamu itu termasuk, lho.”

Rahang Asher menegang. Setengah hidup menahan dampak spider’s web sekaligus incubus trap yang merongrong otaknya. “Aku akan mengebiri dan mengulitimu,” lontarnya, pelan dan dibuat-buat misterius, “lalu mendorongmu ke dalam neraka. Manusia hina, kau akan menderita, lebih pedih dari—”

Odin mengibaskan tangannya. “Esssh ... iya, ya, bualan klasik. Ngomong aja terus, toh kamu nggak bakalan lepas,” cibirnya, agaknya terheran mengapa spider’s web bekerja lambat sekali.

Dia memastikan tidak ada jebakan di ruangan itu. “Oh, ya, apa kamu nyimpen siasat? Sebutin detailnya dan langkahku buat ngadapinnya.”

Jahan—Nadav,” sebut Asher, “dia siap membunuhmu ... kepar—di galeri selanjutnya, atau menunggu aba-aba dariku. Lebih baik kau menghindarinya.”

“Manis sekali,” Odin tergelak. Kemampuan pemberian iblis perlahan namun pasti menggencet kesadaran lawan. “Ngomong-ngomong, jujur aja, aku nggak terlalu senang menang mudah. Tapi aku juga nggak merasa kamu layak dapat waktuku yang berharga, Asher.”

Dia menghunus pedang rampasan. “Jadi, kamu harus mati—“ Odin mengernyit. “—Anjing. Ini klise.“

Aroma yang khas menguar dari jauh. Dahulu, Tuan juga menempa dirinya sehingga indranya cukup terlatih untuk mewaspadai bibit-bibit bahaya. Baru terpikir mengambil langkah antisipatif, agresi musuh membayang jelas. Desingan terdengar, membelah udara, menuju ke arahnya.

Pemuda itu pun melompat, dan mendarat di atas sebuah rak kaca penyimpanan perkamen. Belum mengetahui apa yang menyerang, dia sudah berpindah lagi. Sementara itu, pijakan sebelumnya pecah berkeping-keping.

Ketika menengok ke belakang, sebentuk mata logam telah mengarah kepalanya. Dia mencondong tubuhnya lekas-lekas. Dan panah yang datang menggores sampai tulang pipinya.

Odin merintih tertahan. Racun berhasil menyusup ke dalam tubuhnya. Tinggal menantikan eksekusi. Itu tadi jenis apa?

[Entahlah. Aku juga tidak yakin.]

Ancaman menampakkan dirinya dengan cara yang tidak terduga. Tiba-tiba saja, seseorang mengonfrontasi Odin dari depan. Bukan Asher, melainkan figur dalam balut jubah hitam. Tinggi tubuhnya sungguh di luar nalar.

Beruntung, Odin sama gapahnya dengan si orang asing menyebalkan. Terlebih dahulu dia mengukuhkan pertahanan dengan pedang curian. Kemahirannya memberdayakan senjata panjang tersebut tidak sebaik penggunaan pisau, tetapi cukup dapat diandalkan.

Pedang beradu dengan pedang. Bunga-bunga api bertebaran akibat benturan yang terlalu intens. Denting logam melibas kesenyapan. Telinga Odin berdenging dibuatnya.

Kroni musuh—Nadav—jauh lebih merepotkan. Kecepatan Odin nyaris diunggulinya mentah-mentah. Pedang lengkungnya bergerak lekas, makin deras, sangat tak terprediksi, terus-menerus, seakan sudah takdirnya memagas leher Odin.

Pemuda itu kewalahan bukan main. Tangan dan kakinya serasa kebas. Urat-uratnya bagai hendak pecah. Akan tetapi, secercah kemujuran menyertainya, sebab racun belum juga bekerja. Di dalam benaknya, incubus mengaba-aba, [Inilah saatnya!]

Sebelah mata Nadav bersirobok dengan mata iblis Odin, tetapi tidak berakibat apa-apa. Tiada sentakan hasrat, erangan, atau apa pun. Pria itu tetap beringas. Dan pada suatu titik, dia sukses menyayat dada lawannya. Menyadari semangat Odin menipis, Nadav terkikik di balik penutup muka, disertai desisan panjang menjijikkan.

Firasat buruk menggentayangi Odin. Barulah dia sadari, Nadav sedang mengetes semata. Rangkaian terjangan ini belum setengah dari kecepatannya. Saat itu pula incubus mengeluh, [Ada tabir yang melindunginya dari pengaruhku. Kau benar-benar sial, Bocah. Dan bukankah sudah katakan padamu untuk beri makan jika kau punya kesempatan? Sekarang, kau sendiri yang kelimpungan.] Ada getaran tak normal pada kalimat sang iblis, seolah-olah sangat gelisah.

Berisik! ‘Kan kamu tau, aku nggak begitu minat sesama jenis!

Odin berlari mundur. Sekali lagi, Nadav lebih tangkas. Dia bersalto di atas tubuhnya. Ujung pedangnya diniatkan menebas kepala Odin.

Pemuda itu maju sembari merunduk. Selisih beberapa senti dengan ujung tajam. Ternyata, Asher juga sudah menunggunya. Gerbang neraka terpantul di mata hijau Odin.

You bastards!

Mengeliklah Odin, nyaris putus asa dan kecapaian. Bola api tak diundang itu tipis sekali dari ujung rambutnya, dan berakhir berdentum kuat dari balik punggung. Meluluhkan pilar-pilar penyangga galeri. Adrenalin mendesir begitu deras sehingga terasa mengaduk-aduk darahnya. Mengandalkan segenap sisa tenaga di kedua tungkai, dia mengambil langkah seribu.

Odin masih ingat betul mantra pemberian Huban. Dia pun merapal. Lirih, namun dijalar kesumat. Anepithými̱to Paidí est nomen meum. Nomine Voluntatum et vocavi te omnibus regnis apostolorum—“

“—Nam tempus a mortuis resurgere—“

Suara Nadav bergema di dalam kepalanya, seperti mendaraskan sesuatu, tetapi Odin tidak menjeda inkantasinya.

“—Et factus est mihi militum secura!”

Kala itu, tinjauannya mulai terdistorsi. Rona-rona Museum Semesta menggelap, dan perlahan beralih suatu senja yang dingin di Pomupeii. Presensi incubus sirna.


- 5 -
Pengendali air tidak selamanya mencintai air. Benak Hilai mengawang ke satu kenangan buruk bersama adiknya. Peristiwa itu merupakan perjalanan pertama mereka keluar dari Ibukota Batya. Akibat sebuah kecelakaan, adik perempuannya—Aliyah—terhanyut di sungai dan baru diselamatkan pada senja harinya.

Malam ini, di tengah hujan, Hilai merasakan kegelisahan yang sama.

Penyebabnya tidak jelas, tetapi Hilai dapat menangkap aura ganjil dari arah barat daya. Bertepatan dengan tujuannya sendiri. Barangkali, itulah alasannya.

Selama beberapa saat, malam dipenuhi suara kecipak nyaring. Perisai air memang menaungi Hilai dari terpaan hujan, namun tidak dengan kakinya. Perasaan tertekan dari masa lampau kembali menghantui.

Dalam hati Hilai berharap, tindakannya ini lurus. Dia akan memperingatkan rencana Raivah dan kroni-kroninya kepada putra Perdana Menteri sekaligus orang yang dikasihi oleh adiknya. Bagi sebagian besar orang, mungkin malam ini amat ditunggu-tunggu. Kemerosotan lelaki arogan yang jelas sudah tidak waras itu boleh jadi adalah peringatan Tuhan baginya.

Sayangnya, sejak dulu, Hilai bukanlah orang yang langsung menerima suara umum.

Menurutnya putra Ezar dan para pendukungnya sedang membesar-besarkan perkara yang sebetulnya dapat diatasi dengan perundingan. Pemikiran Sheraga Asher tidak dapat dituding begitu saja sebagai sebuah bidaah.

Bukankah hal yang wajar bagi seorang cendekiawan untuk menemukan sebuah jalan keluar suatu masalah, setidak wajar apa pun caranya? Sheraga bahkan belum, atau mungkin tidak akan mengumbar idenya sama sekali!

Terkenanglah Hilai pada perseteruan lama keluarga Asher dengan Raivah. Memori itu pun menggerakkan pemikiran sang pengendali air, sekonyong melimpahkan pemahaman menyesakkan.

Mengingat kemungkinan kegilaan ambisi Raivah yang dapat meluas, termasuk barangkali dapat menumbangkan Perdana Menteri, Hilai semakin miris. Selama ini dia telah salah memilih sekutu. Dia telah dimanfaatkan demi tujuan yang biadab. Andai saja hatinya terbuka bertahun-tahun lebih awal.

Hilai memintasi gang-gang sempit untuk memotong rute. Kian lama, jalanan semakin tak ramah penglihatan. Makin banyak yang menanggalkan penggunaan obor di depan rumah. Sering kali Hilai nyaris tersandung atau menabrak.

Terpaksa Hilai memutar ke jalur lainnya. Dan setengah jam berikutnya, ditemukanlah tujuannya itu.
Mengesampingkan prinsipnya untuk tidak memercayai siapa pun, pada dasarnya, Sheraga sebetulnya selalu memberi pengampunan. Berbeda dari manusia yang sebagian besar pendusta tak tahu diuntung, dia adalah pemurah dan pemaaf. Karena memang begitulah semestinya “manusia”.

Akan tetapi, sesuai dugaan, seharusnya Helev tidak diberi kesempatan. Mereka baru akan tunduk, ketika dibayangi kesengsaraan. Laki-laki lacur bernama Odin justru meludah ke wajahnya. Mengabaikan kemurahan hatinya.

Nadav datang tepat waktu menghukum pengkhianat itu. Dengan mudahnya dia membalikkan posisi genting kepada musuh. Sungguh orang yang tepat dijadikan sekutu.

Bersama keberpihakan yang tiba-tiba itu, Sheraga paham si lelaki ular menyimpan sebuah siasat. Terlebih, dia orang kepercayaan Ezar Raivah—figur yang paling paling berambisi menjadi Raja, dan menghendaki takluknya Natan Asher. Nadav mungkin berpikir rencananya berjalan mulus, tetapi sesungguhnya dialah yang tengah diakali.

Ketika Sheraga ingin bertindak, gambaran-gambaran tak patut mengenai Gal Raivah seketika menjalar dalam pikirannya.  Ada kerinduan yang janggal dalam batinnya terhadap gadis itu. Ketidaksabaran untuk menemuinya kembali, mencumbuinya, menikmati kemolekan tubuhnya, dan—tidak. Makin lama, Sheraga dibuat sakit karena hanya bisa mencitrakannya.

Apa pun yang terjadi, ini amat tidak wajar. Dia selalu mampu mengendalikan diri untuk urusan semacam itu.

Frustrasi pada hasrat yang datang tak pada tempatnya, Sheraga berusaha menemukan sumber masalah. Dia pun teringat daya aneh yang menekan pergerakannya. Setelah menatap mata Odin, sesuatu langsung melilitnya. Tidak mengizinkannya berbuat apa-apa kecuali bila lacur itu memerintahkan kepadanya.

Sebelum keadaan bertambah pelik, Sheraga harus mengakhiri semua. Maka dikerahkannya segenap pikiran demi mencipta sihir penghabis. Sepasang bola api menyertakan kemarahannya lantas memelesat mengincar satu arah. Kali ini, tidak mungkin bagi Odin untuk menyisih.

Kematian belum siap ambil putusan. Memanfaatkan sisa tenaganya, Odin meluput diri. Terjangan kejutan tadi melewatinya semata, dan gentas menghajar pilar keemasan di satu sudut pameran. Sheraga mengumpat keras-keras.

Berkat hantaman itu, dinding merekah, mempertanyakan nyali siapa pun yang mendengar. Sheraga mundur beberapa langkah mengantisipasi runtuhnya Museum Semesta. Nadav telah bersiap mengamankannya.

Akan tetapi, yang dinanti tak kunjung terjadi. Sedangkan dari tempat Odin berdiri, terbit galur-galur cahaya putih menyilaukan penglihatan. Bocah itu, beserta pengaruh sihirnya pada Sheraga, melesap sepenuhnya.

Itu bukan pertanda bagus. Kewaspadaan Sheraga timbul kembali saat guncangan melanda galeri. Sensasi serupa momen kutukan lima pemimpi pertama menggantung di udara.

“Ssh, kita dalam masalah,” sergah Nadav. Lelaki itu kemudian memberi tanda untuk bersiepat. Sheraga pun mengikutinya tanpa keraguan.

Secara tak terduga, Nadav menyiagakan busur. Dia membubut dua anak panah, lalu berpaling sigap ke belakang. Sebelum Sheraga mencerna apa yang terjadi, sepasang makhluk serupa Dayan sudah terkapar. Dibinasakan dengan panah menembus kepala. Belum cukup, Nadav menembak empat kali lagi. Menyisihkan sosok manusia dalam jumlah yang sama.

Seorang perempuan berambut biru sontak berteriak, menggemakan galeri, tetapi tidak mendekat melainkan membidik dari jarak sepuluh tombak. Ujung lempengan besi dalam genggamannya bersinar kebiruan, seperti mengumpulkan daya sihir, dan mengarah pada Nadav.

“Apa i—“

Cahaya berkelebat dari dalam lempeng logam, yang berhasil Nadav hindari tanpa arti. Sedangkan di baliknya, tembakan sinar tadi menghantam dinding berornamen. Sheraga menoleh, dan napasnya tertahan.

Terjadi letusan hebat yang begitu keras hingga menyebabkan telinganya berdenging menyakitkan. Pasir dan serpih kaca beterbangan. Lengan Sheraga menghalangi wajah dari tebaran. Ketika dia membuka mata, dilihatnya Nadav telah berhasil memenggal si pengacau. Lelaki itu berikutnya menginjak-injak tengkorak si gadis sampai hancur.

“Mereka pemimpi, bukan?” tanya Nadav, tak sedikit pun bergetar takut. “Ssh, aku sudah akrab dengan nuansa ini. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan begitu saja meremehkan musuh.”

Sheraga memilih diam, tak merespons orang yang lupa diri.

Terjadi guncangan yang kedua. Lebih kuat daripada sebelumnya. Namun Sheraga memutuskan tak acuh. Mengekor Nadav, dia menghindar sejauh-jauhnya dari lokasi semula.

Mendadak ruang galeri dipenuhi kilauan-kilauan debu yang terbit dari ketiadaan, membawa serta hawa dingin yang mencucuk, lalu berpencar ke seluruh penjuru. Lambat-lambat, sinar itu membentuk puluhan wujud manusiawi.

Memahami artinya, Sheraga membeliak. Transformasi di sekitarnya membiakkan sosok-sosok yang diakrabinya. Dia pun mengadakan api dan melontarkannya sebelum ancaman termanifestasi utuh.

Nahas, terlambat.

Entah bagaimana Odin melakukannya, empat puluhan pemimpi sudah dihadirkan kembali.

Sebagai awalan, seorang manusia bersirip dan bocah katak dijadikan Sheraga bubur darah. Api menumbuk muka sebelum pergerakan pertama, melelehkan mereka tanpa kompromi. Ketewasan itu juga mengejutkan perempuan dengan sepasang kaca bundar di depan matanya. Pekikannya menyemarakkan kakacauan.

Sheraga paham, pengepungnya berupa jasad hidup. Tidak ada pengampunan, tiada pertimbangan. Perempuan tadi lantas menyusul dua rekannya ke dalam baka. Tangisannya menjelang ajal menjadi pengingat bagi dua orang di belakangnya. Dengan perpindahan ajaib, mereka melarikan diri.

Di sisi lain, Nadav menyimpan busurnya dan beralih menggunakan pedang. Menyongsong serangan tiga mantan pemimpi. Seorang pemuda menyerupai Dayan berambut putih merangkai senjata yang sama, berbekal energi sihir. Berikut seorang pengguna belati dan gadis berambut merah menyala, dia menerjang si lelaki ular.

Tanpa disadari ketiganya, seorang kesatria wanita melepaskan tembakan panah dari jauh.

“Menyingkir!” Sheraga memperingatkan.

Nadav mengelak mundur, sementara tangannya menyentak lengan musuh. Menyeretnya ke depan menggantikan posisi awal Nadav. Alhasil, si pemuda berambut putih rebah. Sebatang panah membobol kepalanya dari telinga ke telinga. Nadav kemudian mencampakkan tubuh tak bernyawa itu ke depan, pada gadis berambut menyala.

Selagi kedua penyerang tersisa terpana, Nadav tidak menyia-nyiakan kelengahan itu. Pedang terayun, menyasar pinggang si perempuan. Malaikat kematian tak memberi kesempatan padanya untuk berkesah. Tubuhnya terbelah menjadi dua bagian. Darahnya mengotori jubah Nadav.

Pada saat bersamaan dua orang, pria dan wanita, memelesat ke arah Sheraga dari sisi yang berlawanan. Sheraga mengenal satu di antaranya—budak Baron, bernama Arca. Sekilas memerhatikan, pandangan pria itu hampa. Demikian pula dengan wanita pasangannya.

Tak ayal, Arca menggandakan diri. Tiga tiruannya meluncur dari nihil, turut serta dalam pertempuran. Mereka melompat, dan masing-masing lengan berancang melayangkan jurus bela diri.

Sheraga memfokuskan sihir api hanya pada lawan di hadapan. Tidak memperhitungkan pergerakan si wanita. Terang saja sebuah tapak berliput tenaga dalam menghantam dari belakang, mengempasnya ke depan dengan kekuatan yang tidak dapat dipercaya.

Sihir api buyar, dan keempat Arca telah menyambut Sheraga dengan rentet terjangan. Kesemuanya menghajar sang Alkemis, layaknya sasaran latihan fisik, mengingatkannya pada suatu momen familier dari masa lalu.

Dan secara mengejutkan, keempat Arca berganti rupa, menjadi kawanan Dayan yang mengelilingi. Sheraga mengerjap, tetapi pemandangan tak kunjung berubah. Tidak dibiarkan menikmati perubahan yang ada, sosok Yaal Yifrach menumbukkan kepal ke rahangnya.

Sheraga terhuyung. Arca satu, dalam rupa salah satu musuh Sheraga, lantas meninju wajahnya dari samping, untuk selanjutnya diumpan pukulan mentah menyasar hidung. Sheraga merintih, nyaris ambruk. Mulutnya bersimbah merah. Rasa sakit tiada peri tak mengizinkannya berkonsentrasi memicu sihir dasar. Cengkeraman sang mair seakan makin erat.

Gambaran sosok Orim memenuhi kepalanya, dan dia menggeram. Aku tidak butuh bantuanmu.

Paham takkan ada yang menolong, Sheraga memaksa kesadarannya. Pijakan diperkuat, tetapi musuh melibaskan sepakan lagi. Mendorongnya ke muka. Sheraga memuntahkan air.

Dalit tak membiarkannya tersungkur. Dari depan, pada bagian dada, dia menendang Sheraga. Memaksanya mendongak demi melihat Dayan yang lain tengah melayang di udara, bersiap menyikutnya dari atas.

Namun sekali lagi, tentu saja, Sheraga takkan menyerah. Diambilnya tindakan cepat, tak peduli risiko yang mungkin akan merenggut nyawa. Melawan sakit di sekujur fisik, dia menjatuhkan diri, lalu meluncur di lantai pualam. Persis ketika Yifrach sampai ke permukaan dan menerpa temannya sendiri.

Suara gedebuk nyaring terdengar, disusul erangan. Sheraga sedikit mengembuskan napas lega, walaupun dia menyadari ancaman belum usai. Selagi tercipta celah, dia melingkupi tiap jengkal tubuhnya dengan api. Yang sontak membakar seorang Dayan terdekat. Sosok itu kembali ke figur Arca sementara panas lamat-lamat mengerumitnya.

Tiruan Dalit menjerit pilu. Bersamaan, parasnya beralih menjadi wanita pendamping Arca. Tersisa empat lawan, yang berikutnya berkurang sepasang.

Sesuatu menjebol inti kehidupan mereka. Tanpa jeda, satu kepala meletus lagi. Menghamburkan ceceran otak.

Terungkaplah Nadav menghadapkan sebuah benda dengan ujung berasap, kepada para korban. Dia mengerjakan gerakan tertentu terhadap benda tersebut, menimbulkan bunyi klik keras. Pertunjukan fungsi benda itu Nadav hadirkan dengan mengarahkan larasnya pada pemuda berambut jeruk.

Dua kali salakan. Pemuda itu terkapar dengan dada koyak.

Darah bertumpah entah untuk kali keberapa. Begitu sadar, Sheraga dapati dua puluhan jasad para pemimpi bergelimpangan. Sebagian besar dalam kondisi mengenaskan. Potongan tubuh mereka mencemari galeri.

Nadav tertawa singkat dari balik pelindung wajahnya. “Ssh, segini saja kemampuan orang-orang yang digadang wakil sebuah semesta? Menyedihkan.”

Arca yang diduga asli beringsut menyamping, tersengal-sengal. Nadav menempelkan ujung senjata barunya ke depan dada Arca. Tatkala senjata akan menyalak, lelaki ular itu sontak terpental. Sebentuk tongkat keemasan mendesaknya hingga melantak lemari kaca. Kemudian jarum-jarum es menghunjamnya. Nadav tidak bergerak lagi.

Seseorang berkomentar, “Banyak bicara. Aku benci sekali.”

Suara, persis Ru Ashiata, menambahkan, “Yang satu itu, dia menjadi kapten dalam timku. Seharusnya dia orang yang ... lucu.”

“Benarkah?” sahut suara perempuan yang riang. “Menarik. Kalau begitu, jangan biarkan dia mati mudah. Pasti asyik sekali melihatnya menderita!” Dia pun terkekeh lantang.

Sheraga mengedarkan pandangan, bermaksud menemukan para bajingan. Tak lama, ada yang menepuk pelan bahunya. Pria plontos yang meremukkan tenggorokannya sendiri. Akan tetapi, tiada lagi rona keimanan, maupun pendar keemasan dari kulitnya. Yang tertinggal adalah gurat-gurat angkara.

Berang sebab mengakrabi figur di hadapan, Sheraga beranjak lurus. Dia berbalik, memusatkan perhatiannya untuk membunuh. Mengorbankan sisa tenaganya, dia menghadirkan puluhan bola api. Kesemuanya terarah pada Tanpa Rambut.

Namun sasaran tidak mati.

Dari balik asap, terungkaplah sosok pelindungnya. Seorang wanita merentangkan kedua tangan, matanya terpejam, dan ... dia selalu tersenyum. Berkat tindakannya, sihir yang begitu besarnya lesap sama sekali. Menyisakan asap semata.

Dari balik kepulan itu, belasan pemimpi yang gugur berdatangan. Seolah menjadi pelindung bagi si plontos, Ganzo Rashura.

Sheraga gemetar, didekap imaji liar mengenai pembalasan dendam.

Ganzo menyipitkan mata. “Mati!

Awal dari gertakan itu adalah debuman yang menggemakan koridor museum. Geraman yang saling bersahut-sahutan menjadi awal kemunculan deret rumus-rumus sihir, merangkai lingkaran. Kian lama, semakin menelan ruang. Selama beberapa detak membutakan penglihatan, menciut keberanian.

Sebuah cakar merobek udara, sebelum menapak kuat-kuat di atas pualam. Sheraga terhuyung akibat debuman. Instingnya menyuarakan bahaya yang paling murni. Kehadiran tersebut disusul oleh semburan api ke segala arah.

Naga.

Seekor makhluk mistis, serupa dalam kisah-kisah bangsa Helev dari Utara. Selalu menyertainya, dalam hikayat-hikayat kuno, adalah musibah bagi alam semesta.

Sejurus berikutnya, naga itu memperlihatkan wujudnya yang utuh. Kulitnya sewarna malam, dipertegas dua buah tanduk dan telinga serigala. Bayangannya menenggelamkan Sheraga.

Makhluk itu mendekatkan moncongnya, sengaja mendenguskan api. Sementara manik matanya terpaku pada sang Alkemis, seakan mengejek betapa menyedihkan si pemuda dibandingkan kebesarannya.

Sheraga berkelit, tertatih. Seringai menghiasi mukanya, dan dia melanjutkan dengan tawa ringan. Dia bergumam lirih, “Aku memanggilmu, Temanku, untuk andil membantu tujuanku.”
Sang pengendali air membuka matanya. Terlihat pertama kali olehnya adalah figur yang familier. Iris kelabunya, suram dan berkabut, balas menatap tanpa perasaan bersalah. Rambutnya hitam pendek, dengan kulit sepucat kapas. Itulah pemuda yang memukulnya di jalan, melesapkan kendali dirinya, kemudian menjebaknya di ruangan remang ini.

Menyadari kekeliruan langkahnya, Hilai ingin mengamuk. Namun niatnya kandas, begitu sadar tangan beserta kakinya lumpuh. Di atas kursi tinggi, tanpa pembebat apa-apa, dia tidak mampu bergerak. Lebih gawat, tidak ditemukannya mantra sihir dalam lautan kenangnya.

“Selamat malam, Calon Kakak Ipar,” sapa Sheraga Asher dengan sarkastis. Tangannya dilipat di depan dada. “Aku memberimu kesempatan meninggalkan wasiat.”

Hilai terkesiap. Sayang, lidahnya kelu sekadar untuk berkata-kata.

Sheraga menarik satu sudut bibirnya. “Mengapa kau kaget begitu? Bukankah kau telah mendengar dari kawan-kawanmu mengenai hal apa saja yang hendak kulakukan?”

Tidak ada tanggapan. Kekecewaan telah merongrong batin Hilai hingga sedemikian hancur. Membisukannya.

“Tapi mungkin, otak kolotmu itu masih terlalu berat untuk mencerna agendaku. Maka biarlah kujelaskan dengan bahasa yang paling sederhana.” Sheraga menyayat jemarinya sendiri, meneteskan darah di atas sigil-sigil di sekeliling kursi Hilai.

Sambil melukiskan simbol-simbol baru menggunakan darahnya, dia meneruskan, “Hei, hei, Kak, jangan menyimpan dendam terhadapku. Aku orang yang baik, aku punya visi, dan berbahagialah kalian karena ... aku tidak akan melibatkan siapa-siapa dalam usahaku. Tapi tentu saja, kau merupakan pengecualian. Anggap saja kemalanganmu hari ini akan berbuah manis. Namamu akan dikenang semua orang.”

Hilai terenyak. Apakah selama ini, kami memasukkan orang gila ke dalam jajaran peneliti? Apakah selama ini, Ezar Raivah merupakan pihak yang benar, dan merupakan kesalahan besar sang Raja memilih Natan Asher?

“Apa yang hendak kaulakukan?” Pada akhirnya, Hilai angkat bicara.

“Haruskah kukatakan terus?” Sheraga membalas datar, dan berikutnya mendongak. “Aku ingin mengubah dunia ini. Dunia yang begitu rusak dan menyedihkan ini. Dan yah, kau pasti sudah menerkanya—sebagai permulaan, aku memerlukanmu untuk menjalin ikatan dengan Raja Iblis. Kuharap, kau sedikit mengenyahkan ego pribadimu demi kepentingan bersama.”

Ritual kontrak dengan iblis. Penghabisan bagi Hilai.

“Apanya yang kepentingan bersama, tolol?” bentak Hilai sengit, tidak habis pikir dan rasanya ingin mencakari diri. “Asher, dengarkan aku. Aku kemari untuk membelamu, dan restuku terbuka bagimu untuk mendekati adikku. Aku melihat sendiri betapa bejat musuh-musuhmu di Majelis. Tapi itu tidak membuktikan bahwa seluruh dunia sebagaimana yang kaukira!”

Sheraga berdiri, dan mendekat. “Ya, tugasku memang mengenyahkan kekejian seperti itu. Mengapa kau berpikir ingin mempertahankannya jika ada yang bisa kita lakukan untuk membuat sesuatu lebih baik lagi?”

“BANGSAT!” Bila ada yang memancing amarah Hilai lebih dari apa pun, itu adalah kepicikan akal. “Kau dan rencanamu ... sama gilanya! Setan sinting macam apa yang tengah merasukimu, putra Perdana Menteri?! Keluar, keluarlah dari penjara delusi! Dunia ini tidak sesederhana yang kaukira! Pemanggilan yang kau—“

Jemari Sheraga yang anyir memaut bibir Hilai. “Tutup mulutmu,” ujarnya.

“Jangan mengomentari apa yang tidak kaumengerti. Lagi pula, bila dipikir-pikir, mereka yang kausebut gila itulah yang membawa perubahan. Kami berani. Sebab, orang-orang semacam kalian lebih memilih untuk diam saja, bukan? Teruskan tradisi, pelihara kepercayaan, lestarikan ekslusivitas masing-masing. Kalau begitu caranya, kebencian sesama makhluk akan terus berkembang!”

Sheraga mendesis, “Kalian menjunjung moral rendah seperti itu?”

“Kau menyimpang begitu jauh, Asher.” Hilai tersenyum pahit. “Jangan sebut dirimu makhluk berakal. Kau tidak punya otak.”

“Kenyataannya, kaulah yang bebal. Kau terlalu lama hidup nyaman. Tak pernah memikirkan nasib orang lain.” Sheraga menjentikkan jari. “Kalau kau tidak punya permintaan, aku akan membunuhmu. Sebelumnya, aku meminta maaf yang sedalam-dalamnya. Tiada rasa benci atau ketidaksukaan apa pun dalam hatiku. Tindakan ini semata-mata kulakukan demi kebaikan kita.”

Hilai mengerti. Bagaimana pun juga, hidupnya akan tamat di tangan si pemuda tak waras. Dan perkataannya sama sekali takkan berdampak bagi orang gila. Namun satu hal yang membuatnya mengulaskan senyuman.

Tidak ada api tanpa asap. Setiap perbuatan akan diganjar.

“Asher, kau tidak akan berbahagia,” Hilai menyumpah. “Tidak, kau tidak akan memperoleh kesenangan sepanjang hidupmu. Jika pernikahanmu dengan adikku berlangsung, kau yang akan menderita. Kau akan dikutuk, oleh kekhawatiran dan kegelisahan. Kehancuran yang akan mendatangimu tidak lama kemudian.”

“Sudah?”

Sebagai jawaban, Hilai meludah. Mengenai wajah lawan bicaranya. Sheraga tertegun selama beberapa tarikan napas, sebelum akhirnya mengangguk penuh arti.

“Sungguh, aku kasihan pada kaum sepertimu. Pandanganmu begitu sempit.” Pemuda itu mendekatkan jarinya ke mata Hilai, memaksa kelopaknya membuka lebar-lebar. “Ketimbang digunakan percuma, sebaiknya dermakan saja nyawamu kepada Raja Iblis. Selamat tinggal!”

Pekikan teredam menjadi undangan bagi sang kematian ...

... sekaligus Nama Tertinggi Neraka.


- 6 -
Rangkaian ledakan, bantingan, semburan api, dan teriakan-teriakan. Odin baru menangkapnya begitu sudah jauh dari lokasi pertempuran Asher dengan para reverier. Tiga kali kehadiran naga, dan kekacauan yang ditimbulkan makhluk-makhluk itu menyebar. Terlalu berisiko jika memantau dekat-dekat.

Pendengaran Odin menumpul, kepalanya pening. Kebisingan tiada henti bertamu ke telinganya. Diperparah dengan kilasan-kilasan seputar momen silam.

Dalam situasi genting seperti itu, dia masih bersedia membayangkan reaksi Zainurma atas kerusakan museumnya. Kurator itu mungkin berang tak kepalang, dan Odin sedikit berkhayal bahwa pria itu akan lekas menamatkan turnamen sinting ini.

Bisa nggak, kamu buat dirimu berguna? Odin berkomunikasi dengan parasit dalam jiwanya. Gimana pun juga, kalau aku kerepotan, kamu juga dalam bahaya.

[Sadar atau tidak, akulah yang mengurangi efek racun manusia ular. Kau mampu bergerak normal, bukan?]

“Kembalikan staminaku,” tuntut Odin.

Dengan intonasi mengejek, incubus merespons, [Kalau itu sih, berikan aku jiwa dulu.]

Odin memutar bola mata. Mendengar kerusakan berkembang ke dekatnya, dia terus berlari. Menghindari kemungkinan kejaran Nadav. Ruang naskah dunia Asher menemui ujung. Bersebelahan dengan galeri senjata—masih berasal dari jagat yang sama. Segera Odin berbelok, demi menghindari empasan angin dan debu pijar.

Merasa cukup aman untuk menepi, Odin bersandar pada dinding bersepuh emas. Tak sanggup menahan lebih lama letih pada tungkainya, tubuhnya merosot. Dia terduduk. Kedua tangannya memegangi kepala yang berdenyut-denyut menusuk.

Dan sekali lagi, sesuatu berdebum dari kejauhan. Gelombang energi yang timbul memencar serpihan. Pengaruhnya sampai ke tempat Odin. Panas menjilat kulitnya.

Ledakan barusan semestinya takkan bisa meloloskan manusia normal ....

Odin mengepalkan tangan. Bertanya-tanya kapan dipungkasnya pertandingan. Huban berkata, apabila musuh telah mati, domba akan muncul memberi ungkapan selamat.

Nyatanya Museum Semesta masih remang. Portal cahaya tidak datang. Tiada embikan.

Memikirkan peluang Asher belum mati, usai konfrontasi dahsyat barusan, Odin digerogoti ketakutan bahwa lawannya immortal. Atau yang lebih buruk, memiliki kekuatan mengerikan tertentu. Menjelaskan mengapa panitia secara tidak adil memberi Odin kemampuan untuk menaklukkan orang itu.

Bajingan. Pemandangan beralih kembali. Halusinasi belum usai.

Sudah tidak terhitung lagi, sihir ilusi menginvasi pantauan Odin. Selama itulah dia merasa cukup beruntung sebab yang ditampilkan bukanlah memori-memori traumatik.

Akan tetapi kali ini, dia tidak yakin apa yang bakal dilihatnya berupa pengalaman kanak-kanak tak berkesan yang lain, atau salah satu petualangan seksualnya.

“Ibu,” panggil seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun. “Kenapa Ibu belum tidur?”

Dia bertanya sambil terus menatap lekat sosok di pojok ruangan, khawatir akan keadaannya. Ibunya tampak sibuk belakangan itu. Berkali-kali dia menambah bukit sampah kertas, bergumam tak menentu, dan memegangi keningnya. Lingkar hitam di bawah matanya pun kian kentara.

“A-aku, sudah terbiasa seperti ini, Odin,” jawab sang ibu, seraya menorehkan semakin banyak tulisan. “Ini pekerjaan yang membosankan. Makanya, Ibu berkata kepadamu untuk tidur saja, bukan?”

“Ibu, ‘kan, tahu aku lagi susah tidur. Tiap mau merem, panas mataku.” Odin cemberut. Dia menjulurkan lehernya tanda ingin tahu, namun tidak beranjak dari tepi pembaringan. “Memangnya nulis apa, sih, Bu? Sampai serius begitu.”

“Sebuah surat,” jawab ibunya singkat, juga datar.

Odin mendadak bersemangat, merangkai imajinasi manis dalam benaknya. Dia pernah mendengar, anak-anak sering mengirim surat pada paman gemuk pengendara kereta rusa. Berharap dibalas dengan kado pada akhir tahun. Sungguh, keinginan anak-anak itu terkabul. Dan Odin ingin bergabung dalam kegembiraan yang setara.

“Apa itu surat buat paman pembawa hadiah?” tanya Odin penasaran. “Ah, ah, Ibu! Aku tahu. Tulis ini buat paman, ya. Aku mau—“

Ibu Odin membalikkan kursi, dan langsung berhadapan dengan putra kecilnya. Pandangan matanya begitu menakutkan. “Bukankah aku sudah katakan bahwa hal-hal ajaib semacam itu tidak nyata?” tandasnya, penuh ketegasan tidak wajar. “Nak, jangan buat ibumu kecewa dengan jadi anak yang bodoh!”

—bertemu Ayah.

Odin tertohok. Dan dia mulai terisak tanpa kata.

“Ah, maafkan aku.” Suara ibu Odin melembut, campur cemas, seiring wanita itu menyadari kekalapannya. Dia maju perlahan dan memeluk erat-erat putranya. “Maafkan ibumu ini, Odin.”

“I-iya, Ibu,” Odin membalas. “Bu, tidurlah. Temani Odin. Ibu pasti capek.”

“Nanti aku menyusul,” sahut ibunya tanpa berhenti membelai rambut Odin. “Bagaimana kalau kubacakan dongeng?”

“Aku nggak mau Ibu cerita,” rengek Odin. “Aku mau Ibu tidur. Aku nggak mau kayak kemarin, Ibu nggak ada di sampingku. Emangnya sebegitu sibuk, ya?”

Sang ibu tersenyum sejenak, lalu menyeka matanya. “Begitulah. Apa yang ibu lakukan adalah keharusan. Supaya kamu ... jadi orang yang benar. Dan kalau aku tidak begini, kita tak bisa makan enak.” Dia pun mengecup dahi putranya.

Setengah yakin, Odin mendengar ibunya berbisik, “Jangan jadi seperti aku.”

“Tidur ya, Sayang. Nanti kuturuti apa yang kamu mau, termasuk menonton sirkus.”

Odin terkikik kecil. “Hihihi, kalau begitu, jangan marah lagi. Sekarang Ibu pasti mau jawab pertanyaanku yang waktu itu!”

Hening.

Tanpa menyadari ada yang salah, Odin melanjutkan, “Aku bingung gimana jawab pertanyaan teman-teman. Semua bangga sama ibu ayah mereka. Ada yang jadi kesatria, anak dewa, pengacara, pemain teater—kalau nggak salah begitu, sih, temanku menyebutnya.”

“Ibu, sebenarnya apa nama pekerjaan Ibu?”

Pertanyaan Odin tidak direspons. Terdengar bunyi ketuk pintu. Daripada membuka mulutnya, sang ibu lebih memilih menggubris tamu pada malam hari. Dengan gerutuan-gerutuan, sesekali berlapis kata-kata yang aneh sekali dan tidak Odin berani tanyakan maknanya.

“Odin, tolong dengarkan ibu, ya. Kamu tidur sekarang, jangan begadang,” desah ibu Odin. “Apa pun yang kamu mau, akan ibu kabulkan. Tapi tidak sekarang, besok saja. Aku janji.”

Dia menyediakan jari manisnya, yang segera Odin sambut sebagai pertanda kesepakatan.

Sekali lagi, sang ibu mengecup kening putranya, lantas memakaikan selimut kepadanya. “Selamat tidur, Pangeran Kecil.”

Pada masa yang berbeda, Odin yang berusia lima belas tahun terlonjak dari ilusi. Pandangannya masih buram, namun dia tahu pelupuknya sembap. Dia menyeka wajahnya. Dadanya kembang kempis. Kenangan paling buruk itu akan bertandang. Tak kuasa menyaksikannya untuk kesempatan kedua, Odin bermaksud menyudahi ronde tiga.

Selagi kenangan belum membayang, Odin berpikir cepat. Dia melihat beragam senjata di sekeliling. Sebagian dipamerkan dengan penataan khusus dalam kotak kaca, lebih banyak yang disematkan ke dinding. Tidak satu pun berupa senapan atau pelontar modern, melainkan aneka perkakas perang tradisional sejauh memandang. Kurang konvensional.

Menimbang tingkat kemudahan, Odin menyambar busur silang dari emas, di sebuah bantalan. Abai pada keterangan, dalam bahasa alien, mengenai senjata. Tak lupa pula dengan anak-anak panah dari material sama. Setengah berharap alat pertahanan tersebut mengandung keistimewaan khusus. Namun kilasan terkutuk itu bertandang lagi.

“Hentikan! Hentikan! Hentikaaan!”

Dini hari, Odin kecil terbangun oleh dorongan tak tertahankan untuk buang air. Seperti yang telah diduganya, ibunya tidak mendampingi tidurnya. Odin sendirian ditemani beku.

Bocah itu segera teringat “kesepakatan”, dan tidak tebersit pun niat melanggarnya. Akan tetapi, dia tak kuasa lagi membendung rasa pejal dalam perutnya. Hawa dingin juga menambah-nambah alasannya untuk bergerak.

Ibu sedih kalau Odin mengompol. Daripada merepotkan ibu dengan pipis, lebih baik anak itu berinisiatif sendiri.

Pelan-pelan, dia membuka pintu kamarnya. Ingin secepat mungkin meraih satu-satunya toilet. Sampai suatu ketika, ada hal yang memancing keingintahuannya.

“Goblok! Ular bangsat!” Odin mengumpat. Air matanya berlinang. Bantu aku! Jangan Cuma jadi parasit! Hilangkan pengaruh racunnya!

Incubus tidak menjawab, menyulut api pada sumbu kemarahan inangnya.

Tiada waktu bercekcok sendiri. Hidup Asher harus disudahi secepatnya. Sehingga, Odin beranjak menjemput ajal bagi pria itu.

Odin tak perlu membuang energi lebih banyak. Seekor naga biru tua sepanjang lima meter melayang di dekatnya, menandakan Asher berada dalam posisi yang tidak jauh.

Sayangnya, Odin keliru.

Tak ayal dia menelan ludah. Makhluk raksasa tadi bukannya sedang terbang, tetapi terpelanting oleh daya tolak luar biasa. Tubuh besar itu pun bersua dengan lantai. Pendaratannya yang penuh keterpaksaan berdampak dentum. Properti-properti museum lantak, beralih menjadi hujan beling.

“Sebenarnya, makhluk yang kuhadapi itu apa?” Odin mulai getir. “Bukannya ... dia orang juga?”

Jawaban yang tersaji berupa kilas balik.

Seseorang menangis, suaranya sangat familier. Kala Odin kecil menyimaknya kian lama, suara itu semakin mirip ibunya. Maka dia mencari sumber masalah, yang berasal dari gudang bahan-bahan mentah.

Namun suara itu juga diiringi gemerisik janggal. Siapa tahu, itu adalah paman gemuk dari kutub yang membawa hadiah, sekalipun hari ini tidak termasuk penghujung tahun. Sedangkan ibu Odin tengah menjamu paman itu.

Odin tidak bisa hanya mengandalkan panca indra. Bagaimana pun juga, serangan ini bersifat konstan.

Mengandalkan instingnya, abai pada risiko, dia coba lurus mengambil langkah seribu, tindakan yang tidak ditempuhnya sejak awal. Akan tetapi, putusan tersebut terasa percuma. Pelariannya seolah tak berujung, dan panorama di hadapannya senantiasa bergulir. Odin bahkan mampu memahami jalan pikir dirinya yang masih murni.

Tidak ada satu bagian rumah pun yang dilengkapi kunci, terkecuali pintu utama. Ini berlaku juga untuk gudang, mengungkap binar lemah yang merembes keluar dari celah pintu.

Di dalamnya temaram, barang dilimpah sinar redup dari sebuah lentera usang. Tidak ada orang, tetapi Odin kecil menyadari satu hal. Bukan suara tangisan yang dia dengar, melainkan semacam ... lenguhan. Seperti hewan hendak disembelih.

Rona emas menyapa. Odin memperhitungkan, setengah menit untuk masing-masing pertukaran, dan akan semakin singkat. Tersisa dua puluh delapan detik.

Usahanya beranjak tidak benar-benar tanpa hasil. Dari jarak sekitar dua puluh meter, dia mendapati target. Beberapa pemimpi, termasuk di antaranya robot mata satu dan perempuan pengendali naga, serempak berjibaku melawan Asher.

“Hah?”

 Dengan sekali sepakan, manusia berkaki laba-laba di punggung melambung ke langit-langit, kepalanya menancap, dan tidak kembali lagi. Sepasang reverier pengendali es menemui mimpi buruk sepadan. Pada Asher, kemampuan mereka berujung sia-sia, sebab api melingkupi si pernyihir berpakaian hitam-putih. Selubung es yang hendak mengungkungnya mencair. Tak mengasung momen untuk terkesima, kedua lawannya terjalar api yang muncul dari bawah pijakan mereka. Tatkala api padam, kepulan abu menggantikan posisi kedua pemimpi.

Bukannya ..., bukannya dia cuman pengendali api yang naif?

Pemanggil naga menyembulkan diagram magis dari udara kosong di sebelah telapak tangan. Menelurkan dua ekor naga dengan sekali usaha. Seorang nenek bungkuk mendadak menggandakan tinggi tubuhnya berkali-kali lipat hingga nyaris kepalanya menyeruduk langit-langit. Sementara itu, warna merah meriap dari visor utama robot mata satu. Itu belum termasuk belasan pemimpi gugur lain. Segenap mereka berancang-ancang, siap mengeluarkan jurus terbaik.

Tampaknya mereka telah lupa pada sentimen semasa hidup terhadap satu sama lain, dan masing-masing, atas perintah Odin, kini bahu-membahu demi menumbangkan seorang lawan.

Pria yang tidak menonjol pada awalnya. Yang muncul di Museum Semesta, untuk pertama kali, dengan air muka penuh kesenduan. Yang semestanya dipenuhi kepahitan, dan terlalu bermimpi untuk mengendalikan kejahatan.

 Orang yang terlalu idealis, mereka itu mestinya lemah. Ya, ibu selalu berkata begitu. Mereka nggak terbiasa menerima kenyataan, mereka bahkan menolak. Tapi kenapa?

“Aaaahhh!!” Odin memegangi dahinya, yang terasa seakan-akan baru saja dihantam palu godam. Dan entah dengan alasan apa, dia menjambak rambutnya sendiri. Sambil memohon dalam hati agar disudahi efek halusinogen aktif.

Odin kecil baru ingin berbalik, namun rasa penasaran mencegahnya pergi. Alih-alih, dia mendekat pada tumpukan kardus kosong yang tidak dilipat. Kebisingan malam-malam kelihatannya berasal dari situ.

Suatu hari ibunya pernah berpesan, “Jika kau takut, maka hadapilah sumber kengerianmu.”

Itulah yang sedang dilakukan Odin. Benak polosnya sekaligus berkhayal, barangkali dia bakal bersahabat dengan hantu. Mengingat anak-anak lain di pasar sangatlah tidak ramah kepada Odin.

Memanfaatkan susunan batu bata, dia meraih kardus-kardus teratas. Memindahkannya dengan hati-hati dan rapi, ke posisi lain.

Di balik misteri itu terdapat sebuah jendela. Tentu saja bukan Odin namanya jika tidak mengintip.

Begitu Odin berpijak pada realita yang asli, dia langsung disuguhkan pemimpi wanita yang terlempar, telak menabraknya. Alhasil, kedua-duanya rebah. Odin menjerit. Tengkorak belakangnya menggabruk lantai. Tulang-tulang depannya serasa bergeser dari sendi.

Odin menyeret tubuhnya keluar dari tindihan jasad wanita necis, mati-matian menjaga kontrol diri. Hidungnya patah, mimisan. Dunia di hadapannya berputar-putar. Kesadarannya terisap sedikit demi sedikit, tetapi dia terus bertahan.

Begitu mendongak, ketakutan hebat melanda jiwanya. Perutnya bagai diremas dari dalam.

Robot raksasa—kelihatannya si mata satu yang berfusi dan mengalami transformasi—dirambah api. Nyala dengan cepat menggerogot, dan dalam sejurus menelan segenap raga logam. Bunyi melengking panjang membahana, diperseram kilatan-kilatan elektrik. Odin merangkak, lantas berderap tertatih paham pertanda.          

Kurang lebih lima detak jantung kemudian, letusan hebat itu terjadi.

Odin menahan napas. Pasrah pada takdir. Gelombang ledakan mengempaskan dirinya dan belasan reverier. Menceraiberaikan semuanya. Odin jatuh tersungkur, hampir menabrak lemari tinggi. Tembok dan pilar-pilar hancur lebur akibat daya tadi. Retak satu berakibat kerusakan pada yang lainnya. Pemimpi yang tidak beruntung berubah jadi onggokan organik tertimpa reruntuhan.

Dari balik kobaran api yang menggila, sosok Asher melenggang santai. Tangannya menodongkan revolver. Tiga puluh meter jauhnya, membidik Odin.

Sebelumnya, Odin kecil tidak pernah tahu ada kamar lain bersebelahan dengan gudang. Dia berjinjit demi memperoleh pemandangan lebih memadai.

Apa yang disaksikannya malam itu adalah tragedi. Sertamerta, dia berkemih di tempat. Isi perutnya bergolak minta dikeluarkan.

Ruangan sempit itu hanya berisi sebuah dipan, dipancari sinar seadanya dari lampu minyak. Namun itu cukup untuk mengungkap dua sosok yang bergumul di atas pembaringan. Kedua-duanya telanjang, saling menderu dan menekan-nekan. Sebentuk lengan kekar menumpu kepala ibu Odin mencium dipan. Sementara si pemaksa tampak menikmati perbuatan itu, wanita di bawahnya justru mengeluarkan erangan sakit.

Odin kenal pemilik lengan itu. Orang yang begitu ibunya benci hingga tidak pernah disebut-sebutnya. Pria yang pernah satu kali menyambangi rumahnya untuk urusan yang tak Odin mengerti. Ayahnya.

“Jangan melawanku, dasar pelacur rendah! Di atas kertas kita memang sudah berpisah, tapi kau tetaplah milikku!”

Si anak laki-laki menangis, dalam kebisuan yang bagai selamanya. Kedua orang tuanya, dalam irama terus memuncak, saling melempar perkataan-perkataan kasar. Saling menyalahkan, saling tuduh, dan berujung dengan cekcok hebat. Sang ayah pun memukul mantan istrinya, membuat wanita itu terbatuk pilu. Kemudian dia menghentikan tunggangannya, menyambar lampu minyak di dinding, dan melumeri isinya di atas punggung sang ibu yang limbung.

Kejadian itu berlangsung cepat, tak terelakkan. Ayah Odin menyulut sumbu yang masih terbakar ke atas dipan. Pada sang ibu yang menggeliat dalam kengerian. Memulai parade jeritan Odin pada masa tersebut berikut dari masa depannya.

“Pagi, Bung. Bagaimana mimpimu?”

Odin membuka pelupuknya yang hangat, oleh darah, dan terperangah. Asher sudah berdiri di hadapannya. Menempelkan ujung senjata api ke dahi Odin. Pria itu berjongkok.

“Masih ingat kata-kataku?” tanya Asher dengan tenang. “Aku akan membuatmu merasakan kepedihan melebihi mati.”

Odin hampir berserah pada keadaan, namun sejurus berikut dia menanggalkan akal sehat. Pilihan apa pun, risiko kematian adalah nyata. Lebih baik bertindak daripada tidak. Pemuda itu menyergap Asher. Menjatuhkan pria itu, menyingkirkan revolvernya, dan mempertemukan pandangan mereka.

Asher bergeming. Pandangannya nanar. Mulutnya menganga. Incubus trap berfungsi. Yes!

Tidak ingin membiarkan lawan mati mudah, Odin memagut bibir Asher. Mengadu lidahnya dengan lidah pria itu. Sementara tangannya coba meraih—tidak.

Odin merasakan panas pada bibir dan bagian dalam mulutnya. Lidahnya terbakar, gusinya meleleh. Asher sengaja  makin merekatkan ciumannya, memperbesar kobaran dalam tubuhnya.

“Aa ... aaa .... aaahhhHHH!!”

Odin menarik diri mundur, menangis tanpa bunyi. Lantas memuntahkan darah dan sebagian besar giginya.

Riwayatnya perlahan terhapus.

Panas merambat ke dalam lubang pernapasan, saluran pencernaan, dan tiba ke otak. Organ-organ dalamnya robek, dagingnya terpanggang. Isi perutnya bergemuruh. Gabungan dari seluruh kerusakan itu melahirkan rasa sakit tiada peri, yang sejenak namun terasa bagaikan abadi. Tak mengizinkannya menyesal. Eksistensinya menyerpih.

Hal terakhir yang Odin dapati sebelum napas terakhir bukanlah kebahagiaan. Tidak ada senyuman sang ibu, tiada malaikat pelindung, tidak ada keajaiban apa-apa.

Kecuali peralihan ke ilusi masa lalunya. Ayah Odin melemparkan putra kecilnya ke ranjang. Dia menjilat bibir, sementara tangannya sibuk mencabik pakaian Odin. Tanpa menyisakan sehelai benang pun.

- 7 -
Jauh sebelum mengenal mistisisme, Sheraga adalah pemuda yang bersahaja. Dia dibesarkan oleh salah seorang Dayan yang begitu dihormati di seluruh benua. Tidak ada yang meragukan daya tangkapnya. Dan karena kedalaman pikiran Sheraga tersebut, benaknya bekerja lebih giat dibandingkan anak sebayanya.

Pada usia empat belas tahun, kerap Sheraga gelisah atas kemungkinan-kemungkinan masa depan atas dirinya. Begitu sering disaksikannya penderitaan, yang menjerumuskan semua bangsa ke dalam lembah kekejian dan permusuhan. Bukan saja orang-orang dewasa, rekan-rekannya pun tak luput. Berlandas kedengkian, mereka menampik keberadaan anak laki-laki itu dan berusaha menyingkirkannya.

Sheraga selalu menjunjung moral yang diyakininya. Kekhawatirannya ialah melebur bersama kebanyakan manusia. Menjadi makhluk yang turut andil menggelincirkan dunia. Terlebih, ujian demi ujian yang mendera kian menggoyahkan prinsipnya.

Dengan benak yang masih begitu murni, terus direnungkannya peradaban yang semakin sakit. Tidak bisakah kesengsaraan menyisakan keinginan untuk berkembang saja? Apa salahnya saling bahu-membahu mengentaskan kesulitan? Bukankah tujuan semua orang adalah selaras, untuk sama-sama memberangus penderitaan? Pun, bukankah Tuhan memerintahkan ciptaan-Nya untuk saling mengasihi?

Mengapa orang lain tidak bisa berpikir sesederhana ini?

Akan tetapi, beberapa waktu kemudian, dia sadari kepercayaannya merupakan hal yang naif. Setitik cahaya tidak berarti dalam menaklukkan kuasa gulita. Kebaikannya ditepis keangkuhan. Kesabaran membuahkan petaka. Dan kekukuhannya berujung pada percobaan pembunuhan.

“Itu karena kau seorang Helev,” salah seorang di antara Dayan kecil itu, yang sempat benar-benar Sheraga percayai, berkata. “Kami adalah bangsa pilihan Tuhan, dan kamu sepatutnya berada di bawah kami.”

Bersama ucapan tersebut, anak-anak itu mengempaskan Sheraga ke dalam lautan. Peristiwa yang tidak merenggut nyawanya, melainkan ketabahannya.

Perlahan namun tentu, kebencian Sheraga bertumbuh. Ketidaktulusannya mulai mengambil alih.

Prinsipnya sejak mula tidak luntur, tetapi motivasinya bergeser. Demi berbeda dengan “makhluk berakal” yang dianggapnya penuh kecacatan, tak pernah dia balas perbuatan musuh dengan setimpal. Idealime munafik, tidak ada bedanya dengan yang lain, dia tahu itu. Namun itu jauh lebih baik ketimbang menyuarakan penegakan moral sementara hati menjunjung hawa nafsu.

Suatu ketika, dalam masa kemarahan dan kesedihan tanpa peri, Sheraga bermimpi. Dia berada di , diperlihatkan pemandangan kosmis. Matahari, Ushna dan Mahra, serta bintang-bintang mengelilinginya. Mengaku menyembah pemuda kurus itu. Tak alang, dia tersentak bangun dengan jantung berdentam tegas. Seketika terpikir bahwa jiwanya telah dikutuk, dan hatinya berlumur keangkuhan.

Berminggu-minggu setelah mimpi tersebut, dia memisahkan dirinya dari dunia nyata. Terbenam dalam perenungan panjang dan menyakitkan. Apakah memang pribadinya sombong? Apakah sebetulnya, dalam lubuk hatinya yang paling tulus, dia menginginkan hal seperti dalam bunga tidurnya? Dipuja dan dielu-elukan?

Sheraga membantah. Kalau memang dia arogan, takkan dia biarkan lawan-lawannya melenggang dengan tenang. Dia tinggal mengadukan mereka pada ayahnya. Maka pada keesokan harinya, para Dayan kecil itu sudah hilang entah rimbanya. Kemudian Sheraga akan menggertak yang tersisa dengan ancaman nyata. Memaksa mereka membuang martabat untuknya.

Namun Sheraga tidak pernah melakukannya. Dia selalu memilih untuk berserah. Percaya kemurahan hati merupakan dasar segala-galanya.

Tidak menemukan jawabannya, dengan kemuakan yang teramat pada kehidupannya, Sheraga hendak bunuh diri. Dia sudah menerima fakta, bahwa Tuhan tidak menyayanginya dan dunia tidak diciptakan untuk orang seperti dirinya.

Untuk meneguhkan putusan, Sheraga memberanikan bicara pada sang Perdana Menteri, “Ayah, apa menurutmu aku bukan putra yang berharga?”

“Tentu saja itu tidak benar.”

“Mengapa Ayah mengangkatku sebagai putra?” tanya Sheraga dengan sedih.

Biar bagaimana pun, ayahnyalah yang mengajarkan untuk tidak memercayai siapa pun. Alasan pengangkatannya sebagai anak pastilah memiliki maksud politis. Atau jangan-jangan sebenarnya Sheraga putra pembelot kerajaan, atau penjahat besar, sehingga orang-orang terus melawannya?

“Aku hanya menjadi beban bagi Ayah. Aku tidak semestinya hidup, terlebih di sini. Aku sangat tidak pantas berada di bawah istanamu.”

Tanpa disangka-sangka, Natan Asher menjawab, “Jangan bergundah. Itu semata kecemasanmu. Kenyataannya, aku menyayangimu bukan saja karena engkau adalah putraku—karunia yang Tuhan hadirkan lima belas tahun yang lalu.”

Sheraga terperangah.

“Aku bisa melihat masa depan dan harapan di matamu. Engkau berbeda, dalam arti yang baik. Dan aku mampu melihat, suatu saat nanti ... engkau akan melakukan perubahan. Tidak saja bagi dirimu sendiri dan ayahmu ini, melainkan untuk banyak orang pula.”

Mengarahkan masa depan, mimpi itu, penolakan-penolakan yang menimpanya .... Semua terasa masuk akal. Sekarang, dengan semua pemahaman ini, untuk apa tetap menjadi orang bodoh?

Sheraga mengamini pernyataan ayahnya. Membayangkan ranah yang lebih baik berkat usahanya.

Sayangnya, persepsi pemuda itu makin tak keruan. Dia mulai melawan, dengan anggapan apa pun yang dilakukannya takkan mengubah ketetapan atas dirinya.

Ada yang menantangnya, dia ladeni dengan tangan terbuka. Orang-orang mengancam akan membuatnya keluar dari pendidikan, dia terima senang hati. Permusuhan demi permusuhan silih berganti menemuinya. Selama itu pula, Sheraga semakin senang. Itu membuktikan padanya bahwa perkataan sang ayah akan menjadi kenyataan.
Aku menang. Ya, aku menang. Tidak dengan bantuanmu.

Pemanggilan iblis selesai. Sang Petinggi Neraka telah berpulang.

Sheraga tertawa, menerawang langit-langit Museum Semesta. Menyaksikan sosok imajiner Orim di atas sana.

Pemuda itu berbalik menghadap para pemimpi. Tersisa tujuh yang masih bernapas di antara mereka, termasuk Ganzo dan perempuan pengendali naga. Kesemuanya dalam keadaan terpuruk, sebagian tidak mampu berdiri, dan penuh luka. Babak ketiga telah berakhir, tetapi mereka tak jua luruh.

“Ahahaha ... kau yang berkata akan menyakitiku, ‘kan?” Sheraga menuding Ganzo dengan senjata barunya, yang begitu praktis. “Masih mau menantangku?”

Ganzo, dalam posisi telentang dengan kaki tertimpa reruntuhan, tidak menjawab.

“Kenapa?” tanya Sheraga seraya memandangi satu per satu pemimpi bergantian. Dia menyimpulkan mereka masih menyimpan kesadaran. “Kenapa kalian melawanku? Setahuku kita tidak punya masalah pribadi. Atau kalian memang budak tanpa akal yang diperintah seorang lacur?”

“Kau tidak pantas di sini,” seorang pemimpi berkata, sementara sebelah kakinya remuk redam. Suaranya serupa Hilai Shefar, figur dari masa lalu Sheraga. “Bahkan hidupmu adalah kesia-siaan.”

Sheraga bergidik.

“Kau pembunuh,” yang lainnya menyambar. Anehnya dengan suara yang sama.

Seseorang menuding Sheraga. “Bukankah kau berkata bahwa kau ingin berbeda dari orang lain—masyarakat yang kauanggap sampah? Nyatanya kau sama saja. Kau lebih rendah dari mereka.”

Sheraga tidak bisa tenang. Bagaimana mungkin para pemimpi yang tidak tahu apa-apa tentang hidupnya dapat berbicara seperti itu? Terlebih—ah, ini pasti ulah seorang penyihir ilusi.

“Kau adalah paradoks,” suara Hilai mengimbuh, keluar dari mulut pemuda sipit berkulit kuning. “Tidak. Tepatnya, kau munafik. Kau menampik apa yang tidak ingin kaudengar.”

Ganzo mendesis, masih bersuara Hilai, “Apanya yang membawa perbaikan? Kau membuat segalanya lebih buruk.”

“Kau juga hitam. Kau bersalah. Kau bagian dari kegelapan.”

Sang pengendali naga menyambung, “Kesalahanmu timbul akibat pilihan-pilihanmu. Gabungan dari dosamu berakibat kehancuran. Jangan salahkan orang lain.”

Perempuan sundal itu pun tewas. Senjata baru Sheraga menyalak memuntahkan timah panas. Meledakkan kepalanya. Tembakan beruntun menyusul beberapa detik kemudian, merenggut napas lima sosok manusia. Jatuh pada tarikan pelatuk yang ketujuh, terdengar bunyi klik. Sejenak mengisi kelenggangan museum.

“Kau beruntung,” ujar Sheraga pada Ganzo. “Kematianmu tertunda beberapa detik.”

Dia mengambil pedangnya, yang tergeletak di atas abu Odin, dan menghunuskannya di depan hidung Ganzo. “Tapi—“

“Itukah yang orang baik lakukan?” Ru Ashiata, dengan kepala terkoyak, melantangkan. Sheraga lantas mengurungkan niatnya.

Lalu tawa merebak di mana-mana, bagaikan suara ribuan orang yang tidak terlihat. Sheraga beringsut mundur. Mukanya semakin pucat. Ada sisi dalam dirinya yang menghendaki pelarian, tetapi sebagian lain menyuruhnya menantikan sesuatu. Jadi dia semata berdiri. Menunggu si pengacau menampilkan rupa.

“Ini tidak akan ada gunanya!” seru Sheraga pada kekosongan, padahal tubuhnya menggigil hebat. “Keluar kau! Hadapi aku, jangan jadi pengecut!”

Museum Semesta bersilih temaram. Mayat-mayat para pemimpi lenyap. Menyisakan Sheraga seorang.

“Memangnya, kamu sendiri ... berlaku adil?”

Sheraga menoleh. Kejutan yang tersaji membuatnya gemetar. Ketakutan menguasainya sampai-sampai dia terjungkal.

Dia melihat Orim duduk di atas mayat seseorang. Matanya membuka, menyiratkan kebencian yang dalam, tetapi dia tersenyum sendu. Sang Alkemis mengenali jasad di bawah pria itu. Mulut pemuda itu menganga, dan kedua matanya dicungkil. Ekspresinya begitu mengenaskan seolah menceritakan rasa sakit yang dialaminya menjelang ajal.

Mayatnya.

Ada yang menepuk bahunya. Dan seketika itu, Sheraga kembali pada kenyataan. Rasanya ketakutan menyusut secepat kerjap. Ternyata Ganzo Rashura.

Sheraga berdiri, terheran.

Ganzo berkomat-kamit, sebelum Sheraga sempat melakukan apa-apa, dan kalimat lelaki menggema begitu saja dalam otak lawan bicaranya. [Terlalu mengandalkan pemanggilan, akibatnya bisa terus-menerus seperti tadi. Kau bisa gila, fana.]

“Siapa kau?” Sheraga merespons, paham betul ada yang berbeda.

[Identitasku tidak penting. Intinya, siapa pun kau, aku kagum kaumampu menjalin kontrak dengan salah seorang petinggi neraka—Menteri Agung yang sangat tertarik dengan manusia. Bahkan untuk memanggil seorang iblis rendahan, perlu usaha yang begitu panjang. Tapi kau .... Ah, ini pasti sebuah tanda.] Pada kalimat akhir, Ganzo lebih seperti bicara pada diri sendiri.

“Alamat semacam apa?”

Ganzo tidak menjawab, hanya menarik sudut bibirnya. [Turnamen ini semakin rumit. Dan aku telah mengetahui beberapa faktanya.]

Sheraga memiringkan kepala. “Ya?”

[Apa yang dilakukan Odin terhadap pemimpi lain, itu akibat pemberian Huban, dan atas perintah Mirabelle—sang Putri Surga. Aku tidak tahu apakah Zainurma terlibat dengan kedua betina itu. Pada dasarnya, Huban dan Mirabelle tidak menghendaki keberadaanmu.]

Putri sur—hah?”

[Aku sedang tidak punya cukup tenaga untuk memberitahumu,] Ganzo mengakui. [Tapi pesanku, berhati-hatilah. Odin mungkin bukanlah apa-apa untukmu. Pemanggilan yang dilakukannya terbatas menyisakan seperlima kekuatan asli para pemimpi. Bayangkan jika lawanmu berikutnya jauh lebih tangguh, dan bantuan yang diberikan kepadanya jauh lebih merepotkan. Dan kalau mau tetap waras, kau tidak bisa terus mengandalkan bantuan dari bangsa kami.]

Ganzo bak tersengat sesuatu. [Atau, bisa jadi memang itulah tujuan Huban, atau siapa pun, yang ingin kau tumbang. Mereka ingin kau terus mengandalkan kemampuan pedang bermata duamu.]

Makin lama mendengar celotehan sang iblis, Sheraga semakin tidak percaya. Hari ini dia telah diperdaya, dan tidak akan mempersilakan kali kedua. Meskipun demikian, dia masih sedikit bersabar. “Apa aku bisa memercayaimu? Apakah aku harus membayar informasi ini?”

Sepintas tawa nyaring membahana dalam pikirannya. [Sebenarnya, sih, aku juga tidak perlu kau memercayaiku. Itu terserah padamu. Aku tidak rugi. Dan yah, pembicaraan ini gratis. Toh kau sendiri telah memberikanku tontonan yang menarik.]

Ganzo pun menjauh, dan membelakangi Sheraga. [Selamat tinggal, fana. Kali ini aku membantumu. Tapi tidak ada lain waktu. Waspadalah!] Setelah itu, raganya terpuruk.

Sheraga menjadi satu-satunya manusia yang berdiri. Di tengah saksi kekacauan. Domba betina miliknya belum menampakkan rupa.

Dia memandangi sekeliling, dan sadar Museum Semesta tidak selamanya mengenai pertarungan. Ruang naskah dari semestanya sebagian besar lantak. Api masih berkobar di beberapa sudut, dan banyak catatan-catatan sejarah yang hancur. Dia bermaksud menyelamatkan beberapa koleksi untuk dibawanya secara diam-diam.

Sang iblis tidak sepenuhnya bisa dipercaya, tetapi pembicaraan barusan cukup bisa diterima akal sehat. Jika benar penyelenggara ajang omong kosong ini ingin menantang Sheraga, dia tidak keberatan untuk melayani mereka. Namun serangannya terhadap mereka takkan bersifat terang-terangan.

Sebaliknya, Sheraga akan berpura-pura patuh, menurut pada keinginan mereka. Dan apabila mereka sudah merasa menang nanti, dia akan melancarkan balasannya dengan telak.

Bukankah kekalahan yang tidak terprediksi akan jauh lebih sakit?

Berlandas tujuannya yang mulia, Sheraga percaya. Seribu tangan ingin menjatuhkannya, takkan berdampak apa-apa.

Satu hal yang luput dari perhatiannya, Nadav telah terjaga. Terus mengawasi, seraya menimbang-nimbang informasi dari kolam ingatannya.

“Misi kita berhasil.”
Ritual selesai. Ayat-ayat telah didaraskan. Seluruh persiapan masak.

Sheraga tinggal menunggu hasil pertaruhannya. Dalam lubuk hati, dia merasa amat terpukul dengan keputusannya malam ini, mengorbankan orang lain demi tujuan. Terlebih, meskipun Hilai jelas berpihak pada musuh-musuhnya, dia tidak pernah secara langsung mengusik kehidupan sang Alkemis.

Apakah yang dikatakannya tadi sungguhan? Selama ini dia membelaku?

Memikirkan kemungkinan tersebut, Sheraga mengembuskan napas berkali-kali. Berharap kegelisahannya lekas sirna. Terus diyakinkannya diri bahwa serangkaian usahanya ini takkan sia-sia. Di atas sana, jika Tuhan memang menciptakan surga, Hilai akan berbangga. Pengorbanannya berbuah manis bagi semua orang.

Itu tidak berhasil. Peluh membanjiri kulit. Ketakutan yang janggal dengan cepat mengendalikan Sheraga. Membuat langkah-langkahnya goyah. Dia jatuh terduduk sehingga harus melayangkan pandangan lagi pada kengerian nyata di tengah ruangan, yang sebisa mungkin dihindarinya dalam detik-detik penantian.

Di atas kursi, jasad Hilai terpaku, menghadap ke arahnya. Bola matanya hilang, menyisakan rongga kosong yang terus mengucurkan darah.

Teror itu berlangsung sekejap saja, karena tiba-tiba Hilai bangkit dari kursinya. Hawa yang mencekam meluap-luap dari posisinya, menggerakkan nyala-nyala kecil pada deret lilin. Menandakan keberhasilan Sheraga.

Jasad hidup itu bertutur, “Untuk apa engkau memanggil Nama Tertinggi Neraka?”

“Tunggu.” Sheraga mengerutkan alisnya. Tak terlintas ide untuk menjura, dia memprotes, “Kau bukan Raja Neraka?”

“Bukan.” Hilai melangkah keluar dari kepungan lilin dan simbol, menghampiri Sheraga. “Aku salah seorang petinggi. Dan perlu engkau ketahui, tidak semua fana dapat memanggil begitu saja Yang Mulia. Terlebih engkau hanya manusia biasa. Apa memangnya, yang engkau kehendaki?”

Sheraga sampai terlalu bosan mengulanginya. Sertamerta dia paparkan cita-citanya, “Kejahatan dan konflik merebak di mana-mana, aku ingin menghentikan semuanya. Tumpah darah harus segera disudahi, atau manusia akan punah berkat tindakan mereka sendiri.”

Hilai terdiam. Balas “menatap” Sheraga dengan matanya yang berongga.

“Kau mungkin bukanlah pihak yang kutuju, tetapi tolong sampaikan ini pada pemimpin kalian. Aku tahu, kalian bukan makhluk-makhluk perusak seperti yang digambarkan peradaban. Aku paham kaum malaikat yang dipuja semua oranglah bencana sesungguhnya. Karena itu, kalian semestinya menghendaki juga apa yang kuinginkan.”

“Engkau manusia yang baik dan tak awam, tetapi naif.” Pernyataan Hilai mengguncang Sheraga. “Bagaimana mungkin engkau menyimpan niat mengatur dunia sesuai harapanmu? Tuhan menjadikan kalian wakil bagi semesta, dan kalian diberkati samudra kerumitan benak. Permintaanmu di luar kesanggupan.”

Sheraga mendesah. Firasat buruknya terbukti. “Kalau begitu, aku tidak akan melibatkan kalian,” pintanya. “Tapi berilah aku kekuatan. Bantu aku dalam tiap langkahku. Dan izinkan aku menemui rajamu.”

“Engkau mengetahui bayarannya, bukan? Pertimbangkanlah dengan akal jernih.”

Sheraga tidak langsung menanggapi. Merangkai kesunyian panjang dan tak tertaklukan. Derasnya hujanlah yang bersedia mendendang, dan memberinya keyakinan kukuh.

“Ya, aku paham apa yang kulakukan. Demi semua orang. Ya, demi kebaikan yang lebih besar, aku bersedia menanggung akibatnya.”


- 8 -
Bersama lemahnya kekang sang Kehendak, Zainurma memanfaatkan kesempatan untuk pergi ke tempat yang begitu ingin dikunjunginya selama beribu-ribu tahun tempo fana.

Puluhan milenium silam, dia pernah menjejak alam ini. Pada suatu area di dalam matahari. Dunia bagi kaum terbuang, yang dikhianati oleh kebenaran yang mereka junjung sendiri.

Sang Kurator melewati setapak lahar tanpa terganggu. Kekuatannya memastikan keselamatan. Selubung pada sekeliling tubuh menghindarkan dirinya dari udara busuk dan paparan panas di luar akal sehat. Di kanan-kirinya, tulang belulang berbagai makhluk bergelimpangan. Hewan-hewan pemangsa bergelayaran. Sejauh mata memandang, bukit-bukit kerangka makhluk menyapa.

Namun, Zainurma tetap tenang. Panorama tersebut adalah hal yang familier sekali baginya. Mengesampingkan penampilannya, para penduduk neraka yang melihatnya segera bertekuk lutut menyambut sang insan, seiring langkahnya menuju gerbang istana Ceruk Jahanam.

“Aku ingin bertemu dengan Nama Tertinggi Neraka,” Zainurma mengutarakan maksud kedatangannya, sebelum sepasang penjaga berwajah setengah mengajukan tanya.

Mengetahui identitas terdahulu sang Kurator, satu penjaga dengan enam tangan berujar, “Ikuti saya, Tuan Zai.”

Tanpa keragu-raguan mereka mengarah langsung ke kastel utama, yang dinding-dindingnya tersusun dari kumpulan acak rangka makhluk hidup. Koridor-koridor panjangnya menyerupai bagian dalam tubuh binatang yang berongga. Sekali-kali, tanah di bawah mereka beriak-riak menampilkan mata dan mulut.

Beberapa saat berselang, Zainurma sampai di ruang takhta raja. Bagian atap ruangan itu terbuka, memperlihatkan langit yang penuh kegaduhan. Nama Tertinggi Neraka tengah duduk di singgasana, tanpa pendamping. Penuh kuasa dengan diliputi jubah api kelam. Tubuhnya tiga kali lebih besar dibanding tamunya, tetapi tidak membuat Zainurma gentar. Empat pasang sayap hitam makhluk itu mengepak. Rambutnya yang berupa ular-ular hitam seluruhnya mendesis senang.

“Anakku,” sambut sang Raja—Barkiyal—dengan simbolis, tentu saja panggilannya tidak harfiah. Suaranya bagai gemuruh derita menjelang ajal bila didengar manusia biasa. “Kamu sudah sangat berbeda sekarang. Pakaian yang begitu asing, dan apa itu di depan matamu yang kamu pakai?”

Kedua pengawal meninggalkan sang Kurator dan raja mereka berdua saja. Lalu Zainurma melepas kaca mata hitamnya. Mengungkap mata yang menyipit benci.

“Selalu penuh kejutan,” sebut Barkiyal, “sifatmu tidak banyak berubah, Zai.”

Dia tertawa singkat, namun berikutnya deret gigi tajamnya tak lagi tampak. Air mukanya khawatir. “Nak, ada apakah gerangan? Aku paham sikap kamu sejak dahulu, dan mengerti kedatangan kamu pasti menandakan sesuatu yang sangat penting—kalau tidak, menggelisahkan hati kamu.”

Makhluk berkulit putih pucat itu menambahkan, “Aku melihat dunia-dunia fana terus berkembang. Baik dengan cara yang benar maupun salah—walau keburukan itu tak terhindarkan. Para malaikat sungguh-sungguh menjalankan dengan baik kewajiban mereka sebagai pengatur masing-masing semesta. Tidak ada yang salah, dan aku memercayai mereka semua sebagai pilihan Tuhan. Lantas, apa yang membawa kamu kembali ke tanah air kami yang muram ini?”

“Setelah sekian lama keabsenanku mengunjungimu,” Zainurma menahan luapan emosinya, “kau tidak menyadari apa-apa?”

Barkiyal bergeming. Tiga dari lima matanya terpaku ke depan. “Kamu benar, Nak. Kamu tetap hidup, namun menghilang dari penglihatan kami. Tiada seorang pun rakyatku yang mendapati keberadaan kamu.”

“Dan kau tidak berusaha mencariku?”

“Aku menyesali atas hal itu.”

“Itu sajakah yang bisa kaukatakan?” Suara Zainurma meninggi. Tidak habis pikir menghadapi kawan pertamanya di neraka. “Semua sudah benar-benar terlambat. Jiwaku terjerat. Aku bahkan tidak mampu menghadapi Raja Surga yang terus-menerus mengusik rencanaku untuk bebas!”

Terperangahlah sang Raja Neraka di atas singgasana bangkainya. “Apa yang kamu maksud? Apa yang Raja Surga lakukan terhadap kamu? Dan siapakah yang menjerat kamu?”

Zainurma menyingkap semuanya. Mulai dari pelariannya, kegagalannya untuk merdeka dari tanggung jawabnya, hingga terkurung kembali dalam kekang yang jauh lebih berdaya. Nama Tertinggi Neraka, untuk pertama kali dalam keabadian yang tiada akhir, benar-benar terluka.

“Datanglah padaku untuk apa pun. Tetapi apa yang bisa aku lakukan untuk kamu?” tanya Barkiyal prihatin. “Dan seumur hidupku, tidak pernah kusangka demikian adanya keinginan Raja Surga. Aku tiada menampiknya, tetapi tiada pula menerimanya selama Yang Mahabenar tidak disertakan olehnya.” Dia menghancurkan jemari tangan kanannya sendiri akibat kemarahan, tetapi membiak kembali dalam sekejap.

“Tapi kita tidak perlu begini lebih lama lagi,” ujar Zainurma, penuh keyakinan dan pengharapan. “Aku telah menemukan ... salah satu kunci bagi kita.”

Barkiyal terpaku. Kelima mata di wajahnya terbuka lebar penanda perhatian penuh. Tak lama kemudian, kedua sudut bibirnya menggapai telinga. Sejenak, dia memandang khusyuk pada angkasa berliput kabut darah dan hujan panah pijar.

“Sayangnya, ini tak sebahagia yang kauduga,” sesal Zainurma. “Sebab Dia adalah—“

Kalimat sang Kurator takkan pernah dipungkas. Dari tanah di bawah pijakannya, sulur-sulur logam mencuat ke atas. Mulai membelit pergelangan kakinya erat-erat, lalu bergulir hingga ke sekujur tubuhnya. Kala dia coba berteriak, seutas kawat menghantam mulutnya. Mengoyak kesadarannya dengan mengerikan. Nahas dia tak mati.

“Nak!” Barkiyal bangkit dari kursi takhta, bermaksud menolong.

Sesuatu yang melilit Zainurma makin erat dan berkobar. Sang Kurator berkesah, berusaha membebaskan diri dengan sisa kekuatannya, namun percuma. Mantel bulunya tersulut api, yang berikutnya membungkus raganya. Kulitnya mulai membuih, sebelah matanya leleh, dan jelas hidupnya di ambang batas. Rasanya bagaikan matahari mencair dan ditumpahkan dari atas kepalanya. Dalam penderitaan itu, dia menitikkan air mata darah.

To ...”
“... long.”

Zainurma pun meledak, seiring kecamuk nyala panas yang menggila. Para pengawal berdatangan, demi menyaksikan kebakaran hebat yang tidak biasa. Namun, sedikit demi sedikit api di tengah ruang takhta padam. Beralih debu berkilauan yang bergulung-gulung menuju ke atas. Sedangkan pekikan terakhir sang Kurator menyebar sampai ke seluruh penjuru dalam bentuk gema. Para iblis tak kuasa mendengarnya sehingga mereka jatuh terpuruk.

Sementara itu, Nama Tertinggi Neraka tidak henti-hentinya mendaraskan doa perkabungan bagi kawannya, dan sekaligus puji syukur atas berita kembalinya sang Penyelamat.

Mahabenar tidak pernah hengkang dari janji-Nya.

[?]

1 komentar:

  1. maaf baru bisa komentar sekarang...mumpung belum mulai menulis untuk babak selanjutnya.

    As usual, istimewa dengan diksi yang nggak biasa buat sebuah entry pertarungan. Tai saya nggak maslaah dengan itu, memang ciri khasnya Ahran ukan, dan writing style itu suda seperti sebuah signature. tadinya saya ikir itu juga akan berlaku ketika menulis Odin, ternyata saat penggambaran masa lalu Odin diksinya agak berubah seperti sederhana, meski surealisnya masih terasa.

    yang mengejutkan, mungkin karena sya alama nggak baca entry Asher, adalah character development Asher yang mulai menyasar ke arah antagonis... rasanya pemuda ini beralih jadi "jahat" ya, tapi saya suka ke-abu-abuan itu. Dan serasa kelihatan banget maskulinitasnya si Asher. Menarik... dan canon yang disediakan ke depan juga menarik.

    battle royale 4 arahnya bakalan seru ini...


    regards,
    Rakai A
    OC Shade

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.