Selasa, 17 Mei 2016

[PRELIM] 06 - ADOLF CASTLE | UNSHACKLED

oleh : toomuchidea

---
     Adolf menemukan dirinya terbangun dan tersadar, berdiri di dalam sebuah ruang operasi. Seorang lelaki berdiri di sudut ruangan, mengenakan pakaian yang sama dengan dikenakan para dokter dan suster. Tertidur di atas meja operasi, seorang wanita cantik dengan rambut cokelat yang diikat kebelakang. 
    Mimpi? Pikirnya. Adolf mengelap pipinya yang basah, dan teringat bagaimana ia menggunakan kompres es untuk mengobati memar di pipinya tersebut. Sebelumnya ia berada di kamarnya, di atas ranjangnya sebelum terlelap tertidur.

    Ia mendecakkan lidahnya, hendak pergi ketika apa yang nampak seperti proses operasi bedah melahirkan. Tapi ada sesuatu yang menarik Adolf, memaksanya untuk menonton. Wanita itu. Wajahnya nampak letih dan pucat, tapi di matanya menyala tekad yang membara. Ia nampak tabah menunggu, sementara dokter dan suster, dengan jas hijau dan masker mereka, sibuk membedah perutnya. "Bayinya!" Seru si dokter tiba-tiba, dan seketika suasana di dalam ruang operasi berubah menjadi lebih riang dan gembira.

    Seorang bayi, masih berselimutkan lendir dan tali pusar yang masih menyambung, digendong dengan perlahan-lahan oleh si dokter dan diserahkan ke seorang suster. Si dokter mengambil sebilah gunting, lalu memotong tali pusar si bayi. Tapi kebahagiaan si ayah berlangsung singkat, dipotong oleh suara mesin meraung-raung dengan nyaring. Tim dokter dan suster panik, menyadari terjadi sesuatu yang salah dengan kondisi si ibu. Di tengah kekacauan itu, seseorang menepuk pundak Adolf. Ia mengenalinya sebagai ayahnya, James Castle. Ia nampak muda dan tampan, dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan. 
    Dan seketika Adolf tahu dan ingat, pada cerita yang diceritakan kepadanya oleh ayahnya berulang-ulang. Mereka menonton bersama, bagaimana mereka mencoba menyelamatkan wanita itu. Lalu bersamaan dengan monitor yang menunjukkan garis datar, bahunya dicengkram erat-erat. Adolf menoleh dan melihat wajah ayahnya menua, menampilkan kemarahan dan kebencian yang begitu mendalam sebelum berbisik, "Ini semua karenamu."

    Adolf di dorong olehnya, dan terjatuh ke dalam sebuah lubang yang sebelumnya tidak ada disitu. Dan dia menemukan dirinya di dalam lemari pakian di kamarnya, bersembunyi. Ayahnya masuk ke kamarnya, mukanya merah karena mabuk dan sebotol bir ada di genggaman tangannya. Ia menyibakkan selimut kasurnya, mengumpat ketika melihat dia tidak ada di situ. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan Adolf, menyeretnya keluar sebelum menghajarnya unntuk melampiaskan stressnya.
    "Hendrik brengsek!" 
    "Perhitunganku yang benar, bukan dia!" 
    "Kenapa mereka tidak menerima penemuanku?!" 
    "Aku yang tercerdas!"
    "Kenapa kau lahir!?"
    "Jess, oh, Jess sayangku! Kau membunuhnya!!"
    Dan dengan setiap pukulan, dan dengan setiap tendangan, Adolf menangis sambil meminta maaf. Ayahnya mengayunkan botol birnya. Adolf mengernyitkan matanya dan ketika ia menyadari bahwa kini ia sedang berjalan menuju ke atas panggung, disorot dengan lampu yang terang. Sambil berjalan, menerima tepuk tangan dari hadirin yang duduk di kiri dan kanannya, mencari sosok ayahnya.

    Mimpi, sebuah mimpi buruk lainnya. Bisiknya dalam hari, sembari menaiki tangga. Ia merasakan senyumnya mengembang, sembari ia berjalan menerima penghargaan. Juara ketiga kontes piano. Ketika ia pulang, ayahnya meremat sertifikatnya dan memukulinya dengan pialanya. "Bodoh, begitu saja tidak bisa!" Serunya. Adolf berdiri di luar jendela, menonton bagaimana ia memukulinya hari itu. Ia menonton bagaimana dia meringkuk di lantai, melindungi kepalanya dengan tangannya. Ayahnya, Professor Doktor James Castle, selalu merasa bahwa Adolf seharusnya sepandai dirinya atau jauh lebih pandai darinya. Atau setidaknya memiliki kemampuan khusus di bidang yang lain. Musik, olahraga, seni, akting. Apa saja. Tapi sayangnya, Adolf bukanlah seorang yang spesial.

Kemudian tiba-tiba, ia dibawa kembali ke beberapa waktu yang lalu.

    James Castle memukul anaknya, seperti yang biasa ia lakukan ketika ia merasa marah dan kecewa dengannya. Sekali, kemudian lagi dan lagi hingga merah dan perih pipinya. Dan dengan setiap pukulan, Adolf melihat bagaimana wujud James Castle membesar. 
    "Kau harus ke Cambridge!"
    "Untuk apa kau tiba-tiba ingin ke Oxford!?"
    "Untuk pertama kalinya kau melakukan sesuatu yang membuatku layak memanggilku anak!"
    "Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
    Wajahnya menjadi lebih buas, matanya menjadi liar, setiap pukulan menjadi rantai berat dan kuat yang ia ayunkan berulang-ulang. Adolf mencoba mengangkat tangannya, untuk melindungi kepalanya, tapi tak bisa. Ia melirik ke bawah dan melihat tangannya terborgol, terantai oleh rantai yang besar dan berat. Ayahnya berubah menjadi sesosok penjaga raksaksa. Dua kali lebih tinggi darinya dengan tubuh yang tegap dan besar, mendorongnya masuk ke sebuah ruang bawah tanah yang gelap dan pengap dengan sebuah dorongan kasar. Tawa puas ayahnya menggema ke seluruh penjuru dunianya, mengunci dirinya di dalam dengan jeruji tebal dan besar.

    Gelap dan pengap, begitulah yang Adolf rasakan selama bertahun-tahun.

    Terjebak, ditahan oleh ekspetasi dan impian ayahnya. "Kau harus masuk Cambridge! Jangan sampai kau gagal, seperti aku!", kata ayahnya berulang-ulang seperti sebuah mantera. Bisikan ayahnya yang penuh dengan bisa dan racun mengikatnya lebih erat lagi, ejekannya menjatuhkan dan menyakitkan.
    "Apa kau benar anakku?"
    "Ini gampang sekali, kenapa kau tidak bisa?"
    "Kenapa kau tidak bisa menang?"

    Dan hal-hal inilah yang membuat Adolf membenci dari orang-orang yang... penuh dengan mimpi. Senyum mereka begitu indah, mata mereka penuh dengan optimisme, suara mereka penuh dengan kepercayaan diri. Begitu positif, begitu bebas, begitu mengontrol, begitu cerah hingga Adolf merasa muak melihatnya. Dan dari mereka semua, tidak ada yang Adolf lebih benci selain Alice Grant. Begitu murni, begitu sempurna. Gadis yang baik dan cantik, dari keluarga bahagia, nilai dan prestasinya luar biasa, populer dan dicintai semua orang. Ia sudah mendapatkan apa yang banyak orang inginkan, apa yang banyak orang harapkan. Dan dia masih bermimpi. Bukankah dia begitu serakah?

    Di tengah kegelapan itu, Alice Grant bersinar layaknya sebuah lilin. Kecil, tapi apinya cukup memberikan sinar. Ia tersenyum, menghampiri Adolf yang membawa piala juara utama.
    "Selamat!" Ucapnya riang, dengan suaranya yang merdu.
    "Untuk apa?" Adolf bertanya, bingung dan heran. Ini pertama kalinya seseorang memberikannya selamat, memberikannya ucapan, dan disaat yang sama untuk pertama kalinya Adolf berhasil meraih apa yang ayahnya inginkan darinya, harapkan darinya. 
     "Aku baru saja mengalahkanmu, bukan? Dengan ini, kau tidak bisa pergi ke Cambridge, bukan? Kau ingin ke sana, benar?"
    Alice terdiam, dan dengan senyuman yang manis menjawab, "Ya."
    "Lalu kenapa kau tidak marah padaku? Membenciku?" Adolf bertanya lagi. "Bukankah aku menghancurkan impianmu? Keinginanmu? Orang tuamu tidak kecewa? Tidak marah?"
    
    Alice menatapnya dengan ekspresi terkejut, seolah mengerti sesuatu. Ia tersenyum dan menggeleng, "Tidak, tidak sama sekali. Memang aku tidak bisa ke Cambridge, tapi bukankah masih banyak pilihan lain? Misalnya... Oxford?"
    "Tapi kau selalu ingin ke Cambridge, kenapa kau harus memilih yang lain?"
    "Adolf Castle," Panggil Alice Grant. "Hidup itu tidak se-simpel itu. Hidup kita itu seperti langit malam yang bertabur bintang. Begitu banyak pilihan, begitu terbuka dan begitu indah!"

    Ucapan-ucapan ayahnya menghilang, bisikannya digantikan dengan suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, Adolf tahu apa yang ingin ia lakukan. Ingin ia lihat. Ingin ia capai.

    Alice Grant, ketika mimpi-mimpinya hancur dan bintang-bintangnya menghilang. Apakah dia akan putus asa? Apakah dia akan kehilangan semangat? Apakah dia akan tertelan gelapnya malam, terbelenggu seperti dia saat ini? Dan untuknya, ia melawan kehendak ayahnya. Ia harus keluar dari penjaranya sendiri.

    Maka Adolf berdiri tegak, menghentakkan kakinya dan mengayunkan tangannya, melepaskan rantai yang mengikatnya. Ia menghela nafas, dadanya terasa ringan dan tanpa merasa takut ia menerjang ke depan. Jeruji penjaranya terjatuh ke depan, seolah membukakan jalan baginya. Dan Adolf berlari, menyusuri lorong gelap menuju ke cahaya di ujung. Kakinya menyentuh pasir yang dingin, sebuah area pertarungan di tengah bangunan yang nampak seperti koloseum.
  
    Dipandangnya ayahnya dengan berani di mata, sesosok raksaksa yang berdiri menantangnya. Ayahnya mengayunkan rantainya, Adolf melompat ke samping untuk menghindar. Ia terjatuh ke pasir, dan tangannya menyentuh logam. Di tariknya keluar sebilah pedang panjang, beratnya pas dan seimbang di tangannya. Senyum Adolf mengembang.

    Ia membalik badannya, dan sekali lagi mulai berlari. Mudah bagi Adolf untuk membaca serangan ayahnya. Semenjak dahulu, ia menggunakan senjatanya dengan cara yang sama. Diayunkan dari atas kebawah, kiri dan kanan. Pukulan dan tendangan yang sama, umpatan dan ejekan yang sama. Ia sudah menghafalnya, ia sudah mengingatnya, semuanya bak terpahat di tubuh dan pikirannya.

    Ia bukan atlet terbaik di dunia, tapi ia cukup baik untuk mampu menghindar dari serangan-serangan ayahnya. Berhenti sebelum rantai tersebut jatuh di atas kepalanya, lalu menggunakan debu pasir yang berterbangan kemana-mana untuk mendekat ke ayahnya. Diperhatikannya bagaimana ayahny, menyadari apa yang ia lakukan, menjatuhkan rantainya ke tanah lalu mengayunkannya ke samping bak pemain golf yang akan memukul bola. Melihat rantai besar yang menuju ke arahnya dengan cepat, Adolf berhenti berlari dan memegang ganggang pedangnya erat-erat... Lalu menyabitkannya kedepan, memecah rantai ayahnya seolah itu terbuat dari gelas kaca yang rapuh.

    Dilihatnya bagaimana mata si raksaksa membesar, terbelalak tidak percaya. Mungkin ia bingung, menerka-nerka apa yang Adolf rencanakan dan bagaimana caranya menghentikannya dan membuatnya kembali patuh kepadanya. Kembali menjadi seorang robot yang hidup hanya untuk meraih apa yang James Castle tidak bisa capai, sebuah boneka yang digerakkan dengan benang tali. 

    "Cukup." Adolf mengangkat tangannya, sebelum ayahnya dapat menyerangnya kembali. "Cukup."
    "Kau berani menantangku? Anak durhaka, jangan lupa kau banyak berhutang padaku!" Ayahnya menjawab. Ia meyusut, dengan setiap kalimat yang ia lontarkan padanya. "Banyak sekali, termasuk nyawa ibumu."
    "Aku tahu." Adolf menjawab.
    "Lalu kenapa kau—"
    "Karena..." Adolf tercekat. "Aku bukan kau. Aku tidak sepandai kau. Aku tidak mau masuk Cambridge, hanya karena kau dahulu tidak berhasil masuk ke sana. Aku tidak bisa bermain piano, seindah yang kau inginkan. Aku tidak pandai sepak bola, hanya karena kau pemain yang jago sewaktu muda."
    "Omong kosong!" James Castle menjerit. Ruangan bawah tanah itu perlahan memudar, berganti menjadi ruang keluarga rumah mereka. "Ini tak masuk akal!"
    "Memang tidak."
    "Apakah kau tahu, seberapa malunya aku?" Ayahnya menepuk dadanya. "Tidak seperti ayah-ayah lainnya, aku tidak bisa bercerita mengenaimu! Kenapa? Tidak ada yang bisa diceritakan! Tidak ada prestasi! Tidak... Tidak..."
    "Tidak berharga?" Adolf melengkapi, ayahnya mengangguk seolah mengiyakan. "Itu sesuatu yang harusnya aku tentukan sendiri."

    "Aku tak ingin menjadi cerminmu lagi." Bisiknya, dan ia kembali ke rumahnya. Ia berdiam, menonton bagaimana wajah tua ayahnya yang penuh duka dan kepahitan menghilang, digantikan dengan wajah tampan yang ia miliki waktu ia masih muda. Begitu penuh semangat dan harapan, seperti orang-orang yang Adolf benci. Ayahnya yang mati, bersama dengan ibunya delapan belas tahun yang lalu.

    "Aku kalah." Untuk pertama kalinya, Adolf melihat ayahnya tersenyum. 
    "Dan aku salah." Dan lagi, untuk pertama kalinya Adolf mendengar ayahnya meminta maaf.

    "Dan aku menang." Adolf berkedip tak percaya. Ia menghembuskan nafas lega, menjatuhkan pedangnya yang menghilang sebelum menyentuh tanah. Adolf terdiam,  "Aku akan mencari mimpiku sendiri."
    Ayahnya mengangguk.
    "Aku akan mencari tujuanku sendiri."
    Ayahnya mengangguk lagi. Adolf ingin melanjutkan, mengucapkan sesuatu, mengatakan sesuatu, menyampaikan sesuatu. Tapi apa? Begitu lama ia diberi naskah, berakting sesuai yang ayahnya inginkan hingga ia kesulitan menemukan kata-katanya sendiri.

    "Sudah waktunya." Ayahnya tiba-tiba berkata, seolah mengingatkan bahwa semua ini... Hanyalah sebuah mimpi. Ia akan terbangun, dan kembali ke dunia yang gelap dan pengap itu. Tapi ia jika ia bisa melawan bayangan ayahnya, seharusnya ia bisa melawannya juga ketika ia terbangun. Sekali lagi, sekitarnya berubah. Menjadi lebih sempit, dengan sebuah pintu di belakangnya. Adolf berbalik dan mendorongnya terbuka, kemudian kakinya terjatuh ke sebuah ruangan hampa. Ia meremat ganggang pintu dan hendak meraih daun pintu, tapi sebelum ia sempat pegangannya terlepas dan dia terjatuh jauh, jauh sekali ke bawah... Dan ia mendengar suara tepuk tangan, dua sosok orang yang berdiri di sudut matanya.

    "Siapa?" Ia menoleh, bertanya dengan penuh tanda tanya. Bukankah dia terjatuh tadi? Kenapa dia sekarang merasa seperti terduduk di sesuatu yang solid? Kenapa bisa ada orang disini, di dalam mimpinya? Apakah dia bertemu dengan mereka sebelumnya? Kalau tidak salah, ada penelitian yang mengatakan bahwa wajah orang yang muncul di dalam mimpi adalah wajah dari orang-orang yang pernah dilihat atau dikenal oleh kita. Tapi setelah dilihat baik-baik, mana mungkin dia pernah mengenal seorang... wanita... berkepala bantal?

    Adolf mengamati sosok aneh itu, si kepala bantal yang bergerak mundur bersembunyi di belakang seorang lelaki berkacamata hitam dengan jubah bulu dan jas formal.
"Paman Nurma, dia bukan orang porno kan?" Tanya si kepala bantal.
"Tentu saja bukan, dia hanya kebingungan melihatmu."
"Oh iya ya."
"Ya iya lah." Orang yang di panggil Nurma itu menjawab seenaknya, lalu berjalan menghampirinya dengan seringai di wajahnya. "Adolf Castle, bukan? Kami memperhatikan mimpimu sedari tadi. Luar biasa, akhirnya kau berani melawan, membebaskan dirimu dari tirani— Ayahmu sendiri!"

"... Siapa?" Tanya Adolf, mencubit-cubit pergelangan tangannya tapi tak ada yang terjadi meskipun terasa benar sakitnya. "Ini... Aku... Bermimpi?"
"Benar sekali! Nih, tangkap!" Si kepala bantal melemparkan sesuatu ke arahnya, yang Adolf tankap dengan hati-hati. Seekor domba hidup, mengembek di pelukannya. Ia menatap penuh tanya ke si kepala bantal dan lalu Nurma, yang dengan segera menjelaskan. 

    "Namaku Zainurma, dan si kepala bantal ini bernama Ratu Huban," Ia memperkenalkan diri, sebelum melanjutkan. "Kami sedang mencari para pemimpi... Dan kau, seorang pemimpi yang masih mencari alasan untuk apa ia bermimpi, mencari tujuan dan impiannya sendiri..."
"Alasan untuk mencintai dan dicintai... Untuk, siapa gadis itu tadi— Alice Grant? Oh! Begitu romantis!" Si kepala bantal menjerit gembira.
"Untuk menghancurkannya." Adolf membenarkan. "Untuk melihatnya jatuh dan menangis putuh asa."
"Ya, ya, terserah kau." Zainurma memotong. "Dengar, kami tak punya banyak waktu... Kau mau ikut, atau tidak?"
"Apa untungnya jika aku ikut?"
"Ada banyak orang yang mengikuti kompetisi ini. Banyak sekali. Dan mereka semua datang dari berbagai dimensi, berbagai dunia, dengan berbagai cerita, berbagai kekuatan dan membawa berbagai mimpi dan harapan." Zainurma membuka kedua tangannya dengan dramatis. "Kau, yang baru saja terbebas... Tidakkah kau ingin belajar lebih banyak? Supaya kau bisa mengerti?"

Itu, diluar dugaan, terdengar seperti sebuah tawaran yang sangat menggoda. Memang benar, Adolf ingin tahu lebih banyak lagi. Mengenai mimpi, harapan, dan cinta. Mempelajari orang lain, mengamati orang lain, lalu perlahan-lahan membentuk dan memiliki miliknya sendiri.

"Baiklah." Dan untuk ketiga kalinya, Adolf mengambil keputusannya sendiri.

21 komentar:

  1. Sama kayak entri Anita, entri ini banyak main di pergolakan batin - dan kebetulan dengan setting mimpi gini, bikin jadi kerasa pas sama tema defy the tyrannynya. Mungkin masalahnya sederhana, ayah yang pengen anaknya nerusin mimpi yang gagal, tapi presentasinya lumayan bagus - meski saya ga nangkep Adolf ini bisa apa kalo ditemuin sama lawan" aneh nantinya

    Nilai 8

    BalasHapus
    Balasan
    1. "meski saya ga nangkep Adolf ini bisa apa kalo ditemuin sama lawan" aneh nantinya"

      Sebenernya rintangan utama Adolf adalah melawan hal yang berbau supernatural/paranormal. Kalau masih sama-sama manusia, Adolf masih bisa membalik keadaan dengan mudah.

      Hapus
  2. Wow!
    Defy the tyranny nya sudah cukup dapat dimengerti dengan permainan batin yanv asyik,sejauh ini tidak melihat typo,intinya sih cerita ini berpotensi serta mudah dipahami

    Nilai 8

    BalasHapus
  3. Ini adalah kisah sinetron. Tapi tidak seperti sinetron, tokoh utamanya punya cukup resolve dan nyali untuk menghadapi masalahnya sebelum berlarut larut menjadi banyak episode. Lol.

    Narasinya lancar dan ceritanya asyik. Pembangunan konfliknya mantap. Yang bikin saya nggak ngasih 9 hanya karena resolusi konflik sama bapaknya terasa terlalu cepat. Mungkin setelah pembangunan konflik seperti itu saya ingin struggle dan rasa puas yang lebih besar waktu Adolf menyingkirkan kekuasaan bapaknya atas dirinya.

    Skor: 8/10

    Fahrul Razi
    OC: Anita Mardiani

    BalasHapus
  4. Ini adalah kisah sinetron. Tapi tidak seperti sinetron, tokoh utamanya punya cukup resolve dan nyali untuk menghadapi masalahnya sebelum berlarut larut menjadi banyak episode. Lol.

    Narasinya lancar dan ceritanya asyik. Pembangunan konfliknya mantap. Yang bikin saya nggak ngasih 9 hanya karena resolusi konflik sama bapaknya terasa terlalu cepat. Mungkin setelah pembangunan konflik seperti itu saya ingin struggle dan rasa puas yang lebih besar waktu Adolf menyingkirkan kekuasaan bapaknya atas dirinya.

    Skor: 8/10

    Fahrul Razi
    OC: Anita Mardiani

    BalasHapus
  5. Untuk kisah drama, yang berfokus pada pergolakan hati tokoh, 2200 kata sepertinya terlalu sedikit. Pada awal, masalah yang dialami tokoh cukup intense, namun kian kesini semakin cepat mengendur, dengan masalah yang cukup berat tiba-tiba terselesaikan begitu saja. Apalagi Adolf yang terkesan biasa saja walaupun masalah utamanya dengan ayahnya telah terselesaikan.

    Namun, disamping hal itu. Dari awal hingga akhir naskah benar-benar lancar. Cerita enak sekali diikuti membuat saya tak menyangka bahwa telah selesai membaca kisah Adolf ini.

    Nilai 8

    OC: Alexine E. Reylynn

    BalasHapus
  6. GHOUL: “Adolf Castle itu merek dagang yang selalu dipakai komikus menggambar, kan :=(O? Eh meja oprasi? Aku juga pernah berada di sana, di sanalah igaku dicuri (terkenang masa lalu dengan mata berkaca-kaca, sambil megang sisi perut). Duh ayahnya abuse banget, ayahku sangat lembut padaku. Ntar aku cerita betapa lembutnya ayahku itu di entriku, so tengok ya, Castle. Kalo aku ampe bertarung ama doi, paling aku akan ungkit-ungkit masa lalunya yang suram digebukin ama bokapnya hahaha…!”

    SHUI: “…” (enjoy banget membacanya sambil merokok santai dari awal ampe ting!).

    GHOUL: “Baru baca baris pertama, duh dah bikin mata ini pindah ke baris-baris berikutnya dan… (menitikkan air mata begitu membaca adegan berikutnya T0T). Oke! (sambil menghapus air mata), gak ada yang ngebosenin di entri ini, alurnya juga ga lamban dan pertarungannya simple-simpel aja hingga mudah dimengerti. Meski konfliknya sih dah biasa, tapi imajinatif mimpinya tinggi n kayak film aja ngeliatnya sih. Aku gak heran napa Shui ga ngedumel membacanya soalnya semuanya mudah banget dimengerti—ngalir bangetlah!” b^0^d

    SUNNY: “Tapi tunggu dulu! Baru paragraph pertama, aku dah nemuin beberapa typo. Tuh kan masih ada kata ‘dan’ yang didahului koma padahal hanya 2 frase di sana, koma sebelum kata ‘dan’ boleh digunain kalo lebi 2 frase. Typo-nya itu, loh!”

    GHOUL: “Mimpinya bagus dan imajinatif banget. Shui kasih 8, tapi aku sih beda. Kami terenyuh menyaksikannya hingga kami berani mengeluarkan angka 9 tuk entri ini. (focus ke Shui lagi) Shui, kau kok baca ulang, sih? Pasti lagi nyari-nyari cacatnya di mana ya karena ga bisa kasih kritikan pedasmu? Ato doyan? Udah, ayo ngereview entri di sebelah gih!” (narik-narik tangan Shui dan Sunny)…

    \(^0^)/

    BalasHapus
  7. Pergolakan batin yang dijabarkan dengan bagus. Bagaimana awal mula ayahnya menyalahkan Adolf karena istrinya meninggal saat melahirkan Adolf. Kemudian semakin lama membentuk karakter Adolf sesuai dengan yang diinginkannya. Sedikit romantis dengan Alice, akhirnya Adolf berhasil defy the tyranny

    Temukan kehidupanmu sendiri, Adolf....

    nilai 8
    Merald

    BalasHapus
  8. Ini seperti drama, sebuah drama yang menarik dan mengharukan. Perjuangan adolf untuk terus bertahan hidup meski kehidupannya berada di tangan besi sang ayah, kisah romantis juga sedikit terjadi di sini antara adolf dan iris. Pandangan Adolf terbuka dengan pemikiran dari gadis seceria alice. Bisa dibilang, Alicelah penentu kisah kehidupan Adolf selanjutnya.

    Nice...
    Nilai : 8
    Mahapatih Seno

    BalasHapus
  9. Saya sempat mengira saya sedang membaca naskah sinetron dalam bentuk cerpen hueheuheuehuehuheu.

    Tapi serius, untuk ukuran jenis-jenis drama/sinetron, Adolf dan pemeran-pemeran lainnya apik dalam menyampaikan konflik cerita. Tidak terburu-buru, walau saya rasa sebenarnya cerita ini bisa dipanjang-panjangkan layaknya sinetron yang sesungguhnya #eh

    Karena tidak ada unsur fantasiyah yang banyak, saya cukupkan penilaian saya di narasi, karakterisasi, dan alur cerita.

    Saya beri 8/10 karena Adolf yang seorang manusia biasa bisa memperlihatkan pergolakan luar biasa di bingkai mimpi.

    Salam Super dari Mbah Amut atas titipan Enryuumaru

    BalasHapus
  10. entri yg berbeda diantara yang lainnya. konflik batin itu sesuatu yang agak sulit dikerjakan menurut saya. tapi bisa di entry ini bs disampaikan secara runtut. 8

    Kuro Godwill

    BalasHapus
  11. Drama yang cukup banyak dialami kita-kita. Impian yang diwariskan. One Piece! Bukan. Jadi sedikit review, Adolf adalah seorang anak yang terjebak dan akhirnya bisa bebas. Emosi di cerita ini sendiri beneran kerasa, dan saya nge-feel gatau kenapa di kalimat ini: "Ayahnya yang mati, bersama dengan ibunya delapan belas tahun yang lalu." Demhn. Selamat berjuang Adolf, selamat datang di kubu kebebasan. 8/10

    Oc: Namol Nihilo

    BalasHapus
  12. pergolakan batin yang bagus dari adolf. awalnya nggak begitu mengerti, tapi setelah baca jadi ngerti maksudnya.

    nilai 8. semoga sukses.

    Dwi Hendra
    OC : Nano Reinfield

    BalasHapus
  13. Ide : Sangat Baik = 2
    Plot : Sangat Baik = 2
    Tingkat kemudahan di cerna : Sangat Baik = 2
    Usaha : Sangat Baik = 2
    EYD : Sangat Baik = 2

    Dengan nilai sempurna seperti ini apa yang bisa saya komentarin?

    Nilai : 10

    Newbiedraft / Revand Arsend

    BalasHapus
  14. errm.. kayaknya udah banyak yang ngupas deh

    ejauh ini pergolakan batin emang paling seru dijadiin bahan konflik dalam cerita. saya liat author udah berhasil membawakan tema tsb dengn baik dan gak pake alur bertele-tele.

    cuma ya kok ngerasanya cuma gitu doang.. abis, selesai trus apa lagi.. ane harapkan konflik buat ke depannya jauh lebih seru dari prelim ini

    8

    BalasHapus
  15. Hm...

    Konflik batin antara Adolf dan sang ayah. Sudah cukup oke sih, sayang perlawanan dari sang tiran kok hanya gitu aja. Kesannya semudah itu, dan kalau dari dahulu Adolf mau melawan mungkin sang ayah akan oke saja. Sang tiran jadi kurang berasa tiran di sini.

    Ah well, meski agak kurang puas di bagian konflik, setidaknya dari segi penulisan sudah baik dan bisa saya nikmati~

    This Lost Boy can get 8 points from me!

    Asibikaashi

    BalasHapus
  16. Oh ya ... saya udah baca dari lama tapi ternyata belum komen ._.

    Saya hampir-hampir lupa gimana ceritanya alhasil buat bacaan kedua, saya ngeskim (yang pertama saya nggak ngeskim sama sekali). Ya, penyampaiannya oke dan mudah dicerna. Cuma ada kesandung-sandung dikit di beberapa bagian. Mungkin karena pengetahuan saya yang kurang perihal BG si OC. Sekali lagi, nemu drama pergolakan batin. Dan yang melegakan, itu bisa nyampe dalam jumlah kata yang bisa dibilang sedikit (kelemahan saya). Cuma yha ... masih kurang menggigit konflik batinnya, IMO. Pas selesai, yah kurang meninggalkan kesan, gitu.

    Jadi ... saya titip 8.

    -Sheraga Asher

    BalasHapus
  17. "Untuk pertama kalinya kau melakukan sesuatu yang membuatku layak memanggilku anak!"
    >> Mich, ini typo nggak sih? Sorry, saya mikire ini bapak yang ngomong, si James. Tapi kenapa 'memanggilku' bukan 'memanggilmu' ya?


    Plus :
    + Konflik dan Battle
    SATU KATA : UNIK. Battlenya full dengan perang batin. Konfliknya juga rapi. Mulai dari awal kelahiran yang mestinya ditunggu tapi jadi bencana karena mamanya mati, mulai dari si Bapak yang depresi jadi single parent, sampai akhirnya si Adolf sadar bahwa dirinya adalah milik dirinya sendiri. Mimpinya juga kerasa banget hahaha

    + Bahasa
    Ringan. Saya senang baca yang ringan-ringan ditambah temanya ga gitu berat. Asik aja gitu, ngalir


    Kalau boleh kritik, kekurangannya satu : Kurang panjang xD
    Sempet "Loh, abis?" Orz
    Tapi ga jadi nilai minus sih, terlalu trivial alasannya



    SCORE

    Basic : 5
    Plus : 2
    Minus : 0


    Total Score = 7


    -Odin-

    BalasHapus
  18. konflik batinnya ngena banget @3@, cuma beberapa bagian translasiscene err.. kyag bermimpi itu saya ada yg kurang nangkep tapi meskipun gitu saya masih puas bacanya meskipun kudu pelan-pelan biar paham.

    err.. 8/10
    Kagero Yuuka
    OC: Airi Einzworth

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.