Minggu, 15 Mei 2016

[PRELIM] 03 - WEISS NACHT | REQUIEM

WEISS NACHT
oleh : YaTaBe

---


I

Zainurma terbang bebas menembus ratusan awan mimpi. Pria berkacamata hitam itu menyeringai lebar. Dia tidak pernah menduga kalau Sang Kehendak mau-maunya menerima ide yang dia lontarkan. Tapi hal itu sangat dia syukuri. Mungkin siapapun yang menciptakan seluruh semesta yang ada sedang menganugerahkan berkat padanya untuk mempercepat rencananya: menghancurkan patung otak bernama Sang Kehendak itu.

"Tu-tuan Zainurma, tolong terbangnya jangan terlalu cepat."

Zainurma berputar dan melirik sesosok makhluk berkepala bantal terbang mendekat dari arah kakinya. Kepala bantalnya tampak kembang kempis dan basah. "Terbangmu lambat, Ratu Huban. Bukannya ini masih bagian dari dimensimu?" kata Zainurma kepada makhluk kepala bantal itu.

"Tetap saja, tuan. Jika Anda bersemangat, bahkan saya pun tidak akan bisa mengikuti," kata Ratu Huban.

Zainurma menghela napas panjang. Dia terpaksa mengikuti kecepatan Ratu Huban. Cara terbaik mengumpulkan para petarung, seperti yang direncanakannya, adalah melalui mimpi mereka. Dan sang penguasa mimpi, Ratu Huban, terbang lebih lambat darinya. Apabila dia menginggalkannya sendirian, bisa-bisa dia tersesat dalam alam mimpi seseorang yang tidak jelas.

"Oke, kalau begitu tolong kau terbang duluan. Lagipula yang tahu semua mimpi para entitas tangguh di segenap jagad ini hanya kau saja," kata Zainurma.

Beberapa saat kemudian sang Ratu pada akhirnya berhasil menyusul. Kepala bantalnya kini tidak tampak kembang kempis lagi. "Apa tuan sudah bawa stempelnya?" tanya sang Ratu.

"Stempel?" balas Zainurma.

"Iya, stempel. Tanpa stempel resmi dari Museum mereka tidak akan diakui sebagai pengunjung, kan?" kata Ratu Huban.

Zainurma tersenyum. Dia merogoh kantung dalam dari jas mewahnya dan mengeluarkan benda serupa silinder seukuran jari. "Sebagai sang Kurator saya tidak mungkin melupakan ini," kata Zainurma dengan bangga. Sesaat kemudian dia merasa menyesal sampai mati telah merasa bangga pada jabatan yang disandangkan paksa padanya itu. "Apa kau sendiri bawa, Ratu?"

Ratu Huban tidak menjawab. Makhluk itu menghadapkan kepala bantalnya ke bawah, seolah sedang memandangi kakinya sendiri. Tangannya tampak sibuk bermain dengan jari-jarinya. Dan Zainurma kembali menghela napas panjang begitu melihat geliatnya.

"Kau mau kupinjamkan cadangannya?" kata Zainurma sambil mengambil sebuah stempel lagi dari balik jas mewahnya. "Jangan dihilangkan, ya?"

Ratu Huban segera melompat dan mengambil stempel itu dari tangan Zainurma. Sosok mungil sang ratu dunia mimpi itu kini melompat-lompat berkeliling di sekitar Zainurma.

"Terima kasih banyak, Tuan Zainurma," kata Ratu Huban girang, "seandainya tidak ada ini entah bagaimana saya bisa bekerja."

Zainurma hanya bisa menggaruk kepala menanggapi tingkah Ratu Huban. Bukan kali pertama dia ceroboh seperti ini. Tapi kecerobohan kali ini bisa saja lebih fatal dari semua kecerobohannya. Stempel adalah wujud pengakuan dari Museum Semesta. Hanya mereka yang telah memiliki tanda dari Stempel yang berhak untuk masuk ke dalam museum itu. Siapapun yang tidak memiliki stempel dan mencoba untuk masuk dengan paksa pasti akan segera musnah. Jika saja mereka membawa seorang petarung yang paling tangguh sekalipun, tanpa tanda dari Stempel dia akan menjadi menjadi serpihan debu semata.

"Ingat, kita hanya menandai yang tangguh saja. Carilah yang tangguh dan segera tandai mereka. Aku mencari ke kiri, kau mencari ke kanan. Ah, jangan. Sebaiknya kita pergi bersama. Bahaya kalau aku malah tersesat di sini," kata Zainurma.

Ratu Huban mengangkat tangan kanannya dan memberi hormat. "Siap, Tuan Zainurma. Silakan Anda mengikuti saya!" katanya dengan nada riang. Sang ratu pun mulai terbang kembali dengan santai, sedang sang Kurator hanya bisa mengikuti dengan tidak sabaran.

~~~

II

Di sebuah dunia yang beku, malam telah mencapai puncaknya. Angin malam berhembus membawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Di tengah angin itu
bau darah menguar ke udara, bercampur dengan bau dari karat pedang yang patah dan berserakan di padang salju. Warna darah yang mengering dan salju yang terus turun membuatnya tampak seperti sebuah permadani indah yang dihiasi kilauan baju zirah dan mayat-mayat bergelimpangan. Di tengah perpaduan aneh keindahan dan kengerian itu berdirilah seorang anak kecil dengan tas selempang abu-abu yang nyaris menyentuh lututnya. Rambut dan kulitnya berwarna putih, nyaris berbaur dengan warna lingkungan sekitarnya. Mata peraknya menatap tumpukan mayat di depannya dengan tatapan dingin. Dilihatnya ekspresi-ekspresi terakhir dari mereka yang beberapa menit lalu ingin membunuhnya itu. Ketakutan, ngeri, amarah. Tiga ekspresi yang selalu dilihatnya pada mayat manapun yang bertumpukan di depannya.

Beberapa menit lalu dia berjumpa dengan pasukan malang ini. Dengan beragam ekspresi mereka. Dengan penuh kehidupan dan semangat. Bersama pekik perang seolah mereka akan menghadapi pasukan besar. Padahal lawan mereka hanyalah seorang anak kecil yang sendirian berdiri menunggu mereka di padang bersalju. Seorang anak kecil, melawan seratus prajurit beraneka pangkat dan senjata. Pedang, sorakan, teriakan berpadu dengan ledakan, pukulan dan tangisan melolong dari mereka yang sekarat. Dua puluh menit berlalu, lalu semuanya kembali hening seperti saat sebelum pasukan itu ada di sana.

Anak kecil itu menatap tumpukan mayat di depannya dengan satu ekspresi: bosan. Darah mengering di wajahnya, mengotori ves dan celana pendek hitamnya, tapi dia tampak tidak peduli.

"Arnold," seru anak itu dengan suara nyaring.

Tiba-tiba tumpukan mayat di depannya hancur menjadi tulang dan debu. Di tengah debu berserakan itu muncullah sesosok pria paruh baya berambut hitam dengan sebuah monokel di wajahnya. Kumis dan cambang  yang terawat membuatnya terlihat elegan di tengah tulang dan debu yang berjatuhan di sekelilingnya. Pria berbusana layaknya pelayan pria itu menunduk hormat pada anak kecil yang memanggil namanya.

"Tuan Weiss," kata Arnold.

"Ayo pergi," kata Weiss, si anak berambut putih. "Jangan lupa ambil topiku." Weiss berbalik dan melangkah tanpa menunggu balasan sang pelayan. Sedangkan sang pelayan berjalan menuju sebuah tombak yang ujung tajamnya telah hancur dalam sebuah ledakan dan mengambil topi berwarna hitam yang menyangkut di sana.

Beberapa langkah kemudian Arnold telah menyusul Weiss dan mengenakan topi itu kembali ke kepala sang pemilik. "Selanjutnya kita ke mana, Tuan?" tanya Arnold setelah sengaja memperlambat langkahnya.

"Terserah," kata Weiss. "Ah, tapi sekarang lebih baik kita ke kota terdekat dulu. Aku ingin minum susu."

"Baik, Tuan," kata Arnold.

Salju masih terus turun. Jejak langkah keduanya perlahan menghilang.

~~~

Weiss memasuki kota saat matahari pagi sudah bersinar. Kali ini bukan Arnold yang bersamanya. Sebagai gantinya seorang gadis muda berambut sebahu dengan sebuah rajah berbentuk bunga mawar di sepanjang tangan kanannya yang kini mendampingi dirinya. Tatapan semua orang memandang ke arah mereka dengan beragam ekspresi.

"Mereka memandangi kita sejak tadi, ya, Tuan?" kata gadis itu dengan suara yang serak-serak basah. Dengan sengaja dia merapatkan dirinya pada Weiss. "Pasti mereka iri pada tuan karena ditemani gadis montok sepertiku."

Weiss cuma melirik sekilas pada gadis berambut cokelat di sampingnya. "Sebaiknya kita perlu memperbaiki selera berpakaianmu, Terra," katanya singkat.

"Hee? Padahal rok pendek seperti ini menarik, kan?" kata Terra.

"Jika kau mau melepasnya jangan tanggung-tanggung. Biar semua orang melihat ke arahmu. Asal jangan menggangguku," kata Weiss.

Terra merengut. "Rugi aku kalau mereka yang melihat," katanya dengan suara nyaris berbisik.

"Begitukah? Bukannya kau suka perhatian pria-pria itu?" kata Weiss.

Terra melirik tuannya. Senyum nakal mengembang di wajahnya. "Tuan cemburu?" godanya. Dengan sengaja dia menyenggol anak lelaki itu dengan pinggulnya. Di sekitar mereka terdengar decak kagum saat Terra melakukannya.

"Kau tahu, kan, kalau menurut hukum yang kau lakukan ini ilegal?" kata Weiss.

"Sejak kapan tuan peduli pada hukum?" balas Terra.

Weiss menyeringai. "Benar juga," katanya. "Aku tidak pernah peduli hukum manusia. Sama seperti aku tidak peduli nyawa-nyawa manusia yang ada di sini."

"Ah, Anda mau melakukan alkemi di sini?" tanya Terra.

Weiss berhenti menyeringai. "Benar juga. Aku butuh susu untuk mengisi energiku," katanya.

"Kalau susu aku―"

"Susu sapi!" seru Weiss sebelum gadis di sebelahnya mulai melontarkan candaan mesumnya lagi.

"Segera cari dan bawakan padaku!" seru Weiss sebelum berjalan memasuki sebuah gang gelap. Dia tidak peduli bagaimana cara Terra membawakannya susu, yang terpenting dia harus minum banyak susu untuk menggantikan tenaganya yang terkuras dalam pembantaian semalam.

~~~

Terra tidak hanya membawakan susu pada Weiss. Dia juga membawa seorang pria muda yang tampaknya seperti saudagar kaya. Pria malang itu menurut saja saat gadis itu mengajaknya menuju gang tempat Weiss menunggu. Dikiranya dia bakal mendapat sebuah 'pelayanan' dari sang gadis pelayan yang menggodanya saat di pasar.

"Ah, jadi kau ingin melakukannya di sini, nona?" tanya pria muda itu dengan napas yang mulai menggebu-gebu.

"Hm, bagaimana, ya?" goda Terra dengan suara nyaris mendesah. Matanya melirik nakal sementara jarinya sibuk memainkan rambutnya. Dia merapatkan buli-buli berisi susu hangat dalam dekapan tangan kanannya ke dadanya.

Pria malang itu tampak semakin menggebu. "Kalau yang kau inginkan adalah emas, aku punya emas yang banyak. Kalau kau mau, datanglah ke rumahku di tengah kota ini. Bukan hanya susu dan emas, setengah kota ini pun akan kuserahkan padamu!" katanya tanpa melepaskan pandangan dari dada gadis di depannya. Sudah terbayang surga duniawi yang akan dinikmatinya malam ini bersama gadis berpakaian aneh namun membangkitkan hasrat itu.

"Oh, ya? Kau punya banyak emas?" kini Terra tersenyum. Diangkatnya dagu si pria malang sehingga dia menatap matanya dalam-dalam.

Bagaikan tersihir, pria malang itu mengangguk. "Tentu saja! Aku adalah pedagang terkenal di negeri ini. Aku yang menggerakkan bisnis di kota ini. Kau mau bukti? Ini, ambillah!" katanya sambil mengeluarkan sekantung emas dari saku jubah beludru yang dia pakai saat ini.

Dengan cepat Terra menyambar kantung uang itu dan melemparnya ke dalam gang. "Terima kasih, tampan," katanya sambil dengan cepat mencium bibir si pria malang. Di saat bersamaan tangan kirinya menghantam perut pria itu dengan sangat keras. Tidak ada teriakan kesakitan yang keluar dari pria malang itu. Hanya ekspresi kesakitan yang terukir di wajahnya saat tubuhnya jatuh perlahan ke tanah bersalju.

"Tuan dapat emasnya?" tanya Terra ke arah gang yang gelap.

"Kau bawa susunya?" balas Weiss dari dalam gang. Suara emas yang bergemerincing terdengar bersama suaranya.

"Mau susu yang ini atau―"

"Tampaknya bukan hanya cara berpakaianmu yang perlu diganti, tapi kebiasaanmu juga, ya?" potong Weiss.

Terra merengut. Dengan kesal dia berjalan membawakan buli-buli susu kepada sang tuan yang bersembunyi di kegelapan gang.

~~~

Kabar seorang gadis yang merampok saudagar kota merebak dengan cepat. Pasukan bersenjata digerakkan dengan cepat menuju ke tempat saudagar malang itu terbaring pingsan. Tapi saat mereka sampai di sana, tidak ada siapapun yang mereka temui.

Jauh dari kota, Weiss tampak berjalan bersama seorang gadis lain dengan rambut sepinggang berwarna merah. Berbeda dari Terra, gadis ini tampak anggun dengan rok hitam yang menjuntai hingga ke mata kaki dan baju berlengan panjang berwarna sama. Seperti Terra, gadis itu juga memakai sebuah celemek yang tersampir di pinggangnya.

"Bagaimana dengan pasukan yang mengejar kita, Rubina?" tanya Weiss pada gadis itu.

"Tidak akan ada yang mengejar, Tuan Weiss," jawab Rubina dengan nada lembut. "Para pria baik hati itu mungkin sedang beristirahat dengan tenang di tengah hutan saat ini."

Weiss menyeringai. "Semoga mereka tidur dengan nyenyak. Selamanya," katanya.

Rubina tertawa dengan suara pelan. "Saya kira mereka sedang bermimpi berada bersama para bidadari di tempat sejuk saat ini," katanya. "Sesuatu yang setimpal untuk mereka yang dengan baik hati mau membantuku menyerahkan energi mereka pada tuan."

"Bidadari yang akan memeluk mereka dalam dekapan yang dingin hingga tulang mereka beku, ya?"

Mereka tertawa. Salju kembali turun siang itu.

~~~

Weiss memutuskan untuk bermalam di dalam sebuah gua. Arnold dengan sigap 'menyiapkan' sebuah gua dengan menghantam sebuah dinding batu hingga membentuk gua. Dengan sigap pula dia mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api unggun di dalam gua itu.

"Anda butuh hal lain, Tuan?" tanya Arnold.

"Tidak perlu. Sekarang kembalilah, Arnold," balas Weiss.

Arnold membungkuk hormat. Tubuhnya berubah menjadi gumpalan cahaya yang melesat masuk ke cincin di jari telunjuk tangan kanannya. Di saat nyaris bersamaan, Weiss mencium sebuah cincin di jari tengah dan dua cincin di jari manisnya.

"Rubina, Terra, Aura, aku memanggil kalian," kata Weiss.

Dalam sekejap dari ketiga cincin itu melesat tiga bola cahaya yang membentuk tiga sosok gadis di depannya. Rubina, sang gadis berambut merah. Terra, gadis berpenampilan menantang dengan rambut cokelatnya. Lalu ada seorang gadis lain yang tampak setara dengan Weiss. Dialah yang paling kecil di antara semua makhluk panggilan Weiss. Rambutnya berwarna emas sepinggang yang dikepang menyatu. Sama seperti Weiss, dia pun memiliki tas selempang.

"Akhirnya kau memanggilku, juga, Pendek," kata gadis berambut emas itu pada Weiss.

"Aura, tidak sopan bicara seperti itu pada tuan kita, kan?" kata Rubina sambil tersenyum pada gadis berambut emas itu. Nada suaranya terdengar lembut, tapi gadis berambut emas itu langsung bergidik dan mundur selangkah saat melihatnya memamerkan sebuah pisau di tangan.

"K—kak Rubina?"

"Sudahlah, biarkan saja. Namanya saja bocah. Tidak usah ditanggapi serius, Rubina," kata Terra sambil memamerkan lekuk tubuhnya pada Aura.

"Kh! Monster dada besar! Jerat nista pria hidung belang!" seru Aura saat melihat Terra.

"Ohoho. Ada apa? Iri? Mungkin kau harus meniru tuan kita untuk minum susu yang banyak. Biar bisa cepat besar," kata Terra sambil menunjuk-nunjuk tubuh Aura.

Gadis kecil itu segera mendekap dirinya sendiri. Mukanya merah seperti udang rebus. "Ti—tidak sopan! Ku—kupotong-potong kau sekarang!" teriaknya sambil mengambil sebuah pisau berbentuk cakram dari dalam tas selempangnya.

"Hoo? Mau bertarung? Mau merasakan cambuk cinta nona Terra yang mengguncang para pria dan wanita?" balas Terra.

"Kalian berdua, berhenti bercanda!" seru Rubina tegas. Baik Terra dan Aura segera menghentikan aksi provokasi masing-masing dan berdiri tegak.

"Tuan Weiss sedang tidur," kata Rubina. Dengan perlahan dia duduk di samping Weiss dan membaringkan kepala sang tuan ke pangkuannya. Tangannya membelai lembut rambut sang tuan. "Sebaiknya kalian menjaga mulut gua. Biar aku yang menjaga tuan di sini."

Kedua 'saudaranya' tidak berani membantah. Meski mereka juga ingin menyentuh tubuh sang tuan secara langsung, tapi perintah Rubina sama tegasnya dengan perintah Arnold. Mereka berdua tidak akan berani melawan perintah tegas semacam itu.

Malam itu Weiss bermimpi melihat sesosok makhluk aneh. Suaranya seperti gadis kecil, tetapi tidak seberisik Aura. Kepalanya seperti bantal yang empuk. Weiss jadi berpikir mau mengambilnya menjadi peliharaan. Tapi sosok aneh itu melihat Weiss dan malah berlari menjauh. Dalam mimpinya Weiss mengejar sosok aneh itu. Dan tanpa sadar dia sedang menjauh dari dunianya sendiri.

~~~

III

"Tu-tuan Zainurma!"

Sosok Ratu Huban terbang sekencang-kencangnya ke arah Zainurma yang sedang menghitung foto-foto makhluk yang telah dia seleksi.

"Ada apa, Ratu Huban?" tanya Zainurma nyaris tidak menoleh pada makhluk berkepala bantal yang tampak ketakutan itu. "Apa ada monster mimpi yang kau temui? Apa kau sudah memberi dia tanda?"

"Bu-bukan! Ada yang mengejarku ke sini!" kata Ratu Huban. Dengan cepat dia berputar dan meringkuk di belakang jas mewah Zainurma.

Zainurma menoleh ke arah datang Ratu Huban. Perlahan sesosok anak kecil berambut putih tampak menembus lapisan awan mimpi. Zainurma bersiul, "Wah, tangkapan yang bagus, Ratu Huban," katanya. Sebagai seorang kurator, matanya bisa menilai semua hal dengan mudah. Dan dari dalam diri anak kecil yang mendekati mereka terasakan sebuah kekuatan yang mumpuni, layak untuk ditangkap.

Zainurma mengambil Stempel dari balik jasnya. Dengan secepat kilat dia menekan Segel yang menempel di ujung Stempel hingga terlepas, dan diarahkannya benda itu kepada sosok yang semakin mendekat ke arahnya itu. "Sang Kurator memilihmu, wahai makhluk petarung! Jadilah, maka jadilah!" seru Zainurma.

Cahaya terang memancar dari ujung Stempel sang kurator. Sosok anak kecil yang berlari ke arah Zainurma tampak terkejut, tapi dengan sigap dia menghindar. Sayangnya Stempel tak bisa dihindari. Pancaran cahaya itu meliuk-liuk bak naga mengejar si anak kecil hingga dirinya berhasil tertangkap. Anak kecil itu pun tersegel dalam sebuah bola cahaya raksasa, tanda dari Stempel yang telah berhasil mengurung targetnya.

Ratu Huban yang melihat dari balik Zainurma tampak terkagum-kagum. "Wooow. Cahaya cinta perlahan menyilau…"

"Jangan dilanjutkan, Ratu Huban. Makhluk semesta lain bisa menuntutmu membayar dengan seluruh duniamu ini kalau mereka tersinggung karena syair lagunya kau pakai," kata Zainurma.

Ratu Huban memang tidak melanjutkan kata-katanya. Tapi sebagai gantinya dia malah menyenandungkan lagi itu tanpa syair. Zainurma menghela napas. "Entah sudah berapa kali aku menghela napas melihat tindakanmu. Ini memang alam mimpi, tapi tidak ada kehidupan kedua di sini," katanya.

"Ada!" sahut Ratu Huban tiba-tiba. Suaranya yang kekanak-kanakan terdengar sangat tegas. "Siapapun yang berhasil akan kuanugerahi apapun yang dia impikan! Termasuk kehidupan kedua!"

"Kau tahu apa yang kau katakan, bukan?" tanya Zainurma.

Ratu Huban mengangguk mantap. Tak hanya sekali, tapi dua kali, dengan kedua tangan mengepal di depan dada.

"Kalau begitu terserah kau saja," kata Zainurma. "Peserta nomor 39 ini akan kudaftar. Tunggu sebentar, akan kuambil fotonya dengan telepon pintar semestaku."

"Tuan punya banyak barang seperti itu, ya? Beli di mana?" tanya Ratu Huban.

"Sebuah kedai antardimensi menjualnya. Cukup mahal, karena ini termasuk barang selundupan. Dan lagi hanya bisa dipakai selama baterainya masih bagus," kata Zainurma sambil mendekati sosok anak kecil yang masih terperangkap dalam bola cahaya. "Tapi berapapun biaya yang kukeluarkan untuk rencana ini bukan masalah besar. Imbal hasilnya lumayan tinggi. Investasi yang tidak buruk juga, terutama karena fotonya bagus."

"Wah, Tuan Zainurma ternyata berkelas sultan," kata Ratu Huban, terpukau oleh bahasa tinggi yang diucapkan pria itu. Entah mengapa dia memilih kata 'sultan' untuk menunjukkan kebesaran seseorang, tapi di sebuah dunia dia mendapati banyak penghuninya memakai istilah itu untuk menyebut orang kaya. "Apa tuan juga memakai benda itu untuk mengambil foto tuan?"

"Tentu saja! Untuk apa beli mahal-mahal kalau tidak dipakai foto duluan?" kata Zainurma. "Apa mau foto sama-sama, Ratu Huban? Lumayan, memori penyimpanannya masih banyak."

"Mau! Mau!" sahut Ratu Huban. Dia pun melompat gembira ke arah Zainurma yang bersiap menata gaya dengan si bocah malang sebagai latar belakangnya.

~~~

IV

Mimpi yang aneh. Itulah yang dipikirkan Weiss saat dia terbangun dengan tubuh basah karena keringat. Sosok anak kecil berkepala bantal, pria berpakaian bak bangsawan dengan serangan yang mirip alkemi namun bukan sama sekali. Lalu cahaya yang mengunci dirinya meski berusaha dihindarinya berkali-kali. Dan meski tak terlalu melihat apa yang mereka lakukan dengan jelas, Weiss bisa mendengar sayup-sayup apa yang mereka bicarakan.

Reverier.

Mahakarya.

Alam mimpi.

Weiss tidak tahu mahakarya apa yang sedang mereka bicarakan. Pun mengenai Reveriers. Bahkan tahu kata itu adapun tidak. Tapi Weiss paham apa itu alam mimpi. Dia sering bermimpi. Dia berharap hidup dalam mimpi dan tidak perlu bangun lagi. Dalam mimpi dia melihat yang indah-indah, kenangan saat dia masih manusia yang hidup di sebuah tempat yang dipenuhi salju. Rumah-rumah bercerobong yang selalu berasap. Bau ragi dari roti panggang yang menguar dari sela-sela pintu. Anak-anak kecil bermain bola salju. Para pria dewasa pulang dengan senyuman di wajah mereka sambil membawa rusa gunung yang nyaris sebesar diri mereka. Juga lentera yang menerangi malam-malam mereka yang damai.

Weiss tidak terlalu menyukai musim dingin, tapi dia tidak keberatan tinggal dalam rumah hangat bersama keluarga yang menyenangkan di tengah musim dingin. Itu lebih baik daripada berada sendirian di tengah reruntuhan bangunan bersama mayat-mayat yang hangus terbakar.

Mendadak Weiss tersadar. Sesuatu yang aneh sedang terjadi selama dia tidur. Dia melihat berkeliling dan menyadari ini bukan lagi gua buatan Arnold. Tidak ada bekas api unggun atau ketiga makhluk panggilannya.

"Arnold! Rubina! Terra! Aura!" seru Weiss. Tapi tidak ada siapapun yang menyahut.

Weiss mengedarkan pandangannya. Reruntuhan itu tampak seperti sebuah rumah. Atapnya telah berlubang. Langit yang terlihat di atas sana masih gelap. Salju pun masih turun. Pintu dan jendela ruangan itu hancur menjadi arang. Dinding-dindingnya pun dipenuhi jelaga hitam. Masih ada asap yang keluar dari onggokan yang tampak seperti sisa kursi dan meja. Lantai batu di bawah kaki Weiss tampak lebih terang, sedangkan lantai di reruntuhan itu sehitam dindingnya. Beberapa langkah di depannya, empat mayat yang hangus tergeletak begitu saja. Meski tak dapat melihat ekspresi mereka, bahasa tubuh mereka menunjukkan kengerian luar biasa. Salah satunya yang diduga Weiss sebagai pria dewasa menunjuk ke arahnya. Sedangkan tiga mayat anak kecil di sekelilingnya tampak seperti sedang berusaha melarikan diri.

"Itu monsternya!"

Weiss mengangkat wajahnya dan melihat puluhan orang membawa tombak dan obor telah mengelilingi reruntuhan rumah itu. Gusar dan sedih, marah dan takut, tampak sangat jelas di wajah-wajah mereka. Tak hanya pria dewasa, para wanita dan anak-anak pun datang mengepungnya.

"Dia yang membunuh keluarga Pith! Dia membunuh orang yang sudah mau menolongnya!" seru seorang pria yang disambut sorakan setuju orang-orang yang lain.

"Kita seret saja dia keluar!" seru pria lainnya. Bersamaan dengan itu belasan pemuda menerjang masuk ke dalam reruntuhan rumah. Mereka berusaha menangkap Weiss, namun anak itu hanya menjentikkan jarinya saja dan mereka semua telah terpelanting mundur.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Sebaiknya biarkan aku pergi," kata Weiss.

"Kau membunuh mereka, Monster! Kau meledakkan mereka hanya karena kau tidak dihidangkan susu! Aku lihat sendiri saat kau membakar tubuh mereka dengan api yang keluar dari mulutmu!" seru seorang wanita tua dengan suara bergetar.

Weiss tidak mengingat telah apa yang dituduhkan. "Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan!" sahutnya.

"Sudahlah! Kita lumpuhkan saja dia, lalu kita bawa ke Ordo Preister! Dia seorang alkemis yang layak mati!" seru seorang pria paruh baya. Orang-orang yang lain pun setuju. Mereka kembali mencoba merangsek maju, namun sekali lagi tubuh mereka terhenpas hanya dengan satu jentikan jari Weiss.

"Sialan! Mati kau!" Seorang pemuda mengarahkan senapan ke arah Weiss dan menarik pelatuknya.

"Aku tidak akan diam untuk hal ini," kata Weiss. Dia mengangkat tangan kanannya ke arah datang peluru. Sebuah peluru timah berhasil menyentuh tangannya, namun peluru itu berhenti begitu saja.

"Ti-tidak mungkin!" pemuda itu tampak sangat ketakutan melihat peluru, senjata paling mematikan yang telah membunuh banyak orang dalam beberapa dekade penemuannya, tampak seperti batu biasa yang tak bergerak di tangan Weiss.

"Timah, ya? Mudah sekali untuk dibentuk," kata Weiss sambil menyeringai lebar. "Nigredo, albedo, citrinitas. Rubedo, ballista!"

Peluru timah di telapak tangan Weiss mencair, berputar-putar, dan membentuk bola dalam sekejap. Dan saat dia meneriakkan kata "ballista" bola itu melesat dalam sekejap pula menembus kepala pemuda yang menembakkan peluru itu pada Weiss hingga pecah berantakan. Seketika teriakan para wanita pecah. Anak-anak berlarian bersama para wanita yang menjadi kecut hatinya melihat kengerian yang diciptakan Weiss.

"Sialan!" pekik seorang pria tua berambut kelabu. "Kau membunuh anakku!"

Pria tua itu mengarahkan tombak kayunya ke arah Weiss dan berlari maju. Mata Weiss metotot tajam menatap ujung tombak itu. Badannya bergetar. Dia menggeram. Sedetik kemudian dia berteriak sangat keras dan berlari ke arah pria tua itu. Dengan lincah Weiss menangkis tombak si pria tua dan membalas serangannya dengan sebuah hantaman pukulan di perutnya. Pria itu terhempas mundur, namun berbeda dari orang yang dihempaskannya dengan sekali jentikan jari, dari tempat Weiss memukul muncul puluhan es runcing yang mencuat keluar dari tubuhnya. Seluruh isi perut pria tua malang itu pun terburai.

Orang-orang mulai berteriak ngeri dan berlari menjauh. Namun Weiss tidak ingin mereka tetap hidup. Dalam gerakan lincah Weiss mengejar dan menyerang semua orang yang memegang tombak di tangannya. Beberapa terburai perutnya karena es runcing yang dimunculkan Weiss dari dalam tubuh mereka. Beberapa lainnya mati dengan kepala pecah berantakan hingga tak bersisa. Sedangkan yang sedikit lebih beruntung mati dengan leher patah atau muntah darah akibat seluruh organ dalamnya hancur dihantam tinju Weiss.

Para wanita yang berusaha melarikan diri pun tak lepas dari serangan Weiss. Dengan menggunakan mata-mata tombak dia menghantam kepala tiap wanita, tua maupun muda, hingga hancur berantakan.  Beberapa yang mencoba bersembunyi diseretnya keluar, lalu satu persatu dia menghancurkan leher mereka dengan sekali remas.

Darah mengalir bagaikan sari buah tomat dari tubuh-tubuh malang yang terbunuh karena kegilaan Weiss. Saat Weiss berhasil menenangkan dirinya, yang tersisa hanya tatapan ketakutan dari anak-anak yang tak berani beranjak dari tempat mereka berdiri. Tak satupun dari mereka yang tidak menangis. Seorang gadis kecil akhirnya memberanikan diri berlari ke salah satu mayat wanita tanpa kepala. Seorang anak laki-laki mencoba menghentikannya, namun tak berhasil. Anak gadis itu menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh wanita itu. Dia tak peduli darah mayat yang dipeluknya kini mengotori jubah putih kulit beruang yang dia kenakan.

"Sekarang kau puas, kan?!" pekik anak laki-laki yang mencoba menahan si gadis kecil. Tubuhnya bergetar ketakutan, namun suaranya menolak untuk terdengar takut. Air mata mengalir deras dari mata birunya yang menatap Weiss dengan kebencian mendalam. "Kau sudah membunuh orang tua kami! Sekarang apa lagi!? Kau juga mau membunuhku dan adikku!?"

Weiss terdiam. Dia berusaha mengatur napasnya. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat semua orang dewasa telah menjadi mayat mengerikan. Kini beberapa anak mengikuti si gadis kecil. Mereka memeluk tubuh-tubuh tanpa kepala sambil terisak-isak. Beberapa mendekati tubuh-tubuh pria yang isi perutnya terburai.

"Mama! Mama!"

"Papa! Bangun, Papa!"

"Apa yang mau kau lakukan sekarang, hah!?" seru si anak laki-laki bermata biru. Dia mengangkat sebuah ujung tombak yang berlumuran darah. "Kau tidak suka pada benda ini, kan? Ayo. Kutantang kau membunuhku sekarang. Kau membunuh semua orang yang memegang tombak, kan?! Ayo! Bunuh aku sekarang!" teriaknya. Anak itu mencoba melangkah maju, namun kakinya terlalu gemetar untuk menopang tubuhnya. Dia terjerembab ke atas salju. Dia mencoba bangkit, namun kembali dia terjatuh.

"Sial! Sial!" teriak anak laki-laki itu. Air matanya kembali mengalir deras. Dia meraung-raung sambil memukul-mukulkan ujung tombak di tangannya ke salju. "Mama! Mama!"

Weiss menatap berkeliling. Mayat-mayat orang dewasa bercampur dengan tangisan kesedihan. Rasa kehilangan yang memenuhi udara malam. Mata-mata para anak kecil yang memancarkan ketakutan saat melihat kepadanya. Suara-suara mereka yang menangis sedih memenuhi kepalanya. Dadanya menjadi sesak. Napasnya kembali memburu. Saat ini dia berharap sekali Arnold ada bersamanya. Dia berkali-kali menciumi cincin-cincin di tangan kanannya, memanggil nama-nama makhluk panggilannya satu per satu. Namun tak satupun yang muncul.

Lalu tiba-tiba sekelebat ingatan Weiss kembali. Dia mematung di tempatnya. Dia melihat dirinya sendiri di diri anak-anak itu. Dulu dia sama seperti mereka. Kehilangan keluarga oleh pasukan Ordo Preister yang sedang berburu penyihir. Dulu dia sangat membenci pasukan itu hingga mencoba menyerang mereka. Namun salah satu jenderalnya melemparkan tombak yang menembus telapak tangan kanannya dan menancap di lehernya. Ingatan yang tidak ingin lagi dia ingat, namun ingatan itu kembali saat ini. Dia menjelma menjadi serupa dengan pasukan yang dibencinya.

Weiss melangkah mundur. Suara tangisan anak-anak yang kehilangan keluarga terdengar semakin keras. Rasa sakit di leher dan telapak tangan kanannya kembali terasa. Kesepian. Sendirian. Rasa bersalah. Weiss tenggelam dalam penyesalan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Yang pasti dia tidak mau berada di tempat itu lagi. Dia berbalik dan segera berlari tanpa arah.

"Raaagh! Haaaarg! Huaaaaa!!" Weiss berteriak sejadi-jadinya. Dia berusaha mengenyahkan rasa bersalah itu. Namun pada akhirnya rasa bersalah itu malah semakin menerkamnya. Jauh di tengah hutan pinus yang meranggas, jauh dari desa tempatnya membantai, Weiss akhirnya terjatuh. Dinginnya salju segera menyergap tubuhnya. Sekali lagi Weiss tenggelam ke alam mimpi. Kali ini dia berharap tidak perlu bangun kembali.
~~~

V

Zainurma berdiri menatap sebuah bingkai dengan lukisan yang bergerak-gerak di dalamnya. Matanya menatap serius saat melihat sesosok anak berambut putih membantai warga yang ketakutan padanya. Dia melihat penyebabnya adalah kegilaan sesaat si anak kecil saat melihat tombak. Sang kurator terlalu serius menyaksikan adegan di dalam bingkai itu sampai-sampai tak sadar seorang wanita berbaju perang muncul di belakangnya.

"Anda terlihat sangat serius, Tuan Zainurma," kata wanita itu.

Zainurma, berpura-pura tidak terkejut, membalas dengan batuk kecil. "No-nona Mirabelle. Kukira Anda berada bersama Sang Kehendak saat ini," katanya.

"Tadinya begitu. Tapi kulihat ada hal menarik di sini, jadi aku minta permisi. Siapa yang ada di dalam Bingkai Mimpi ini?" tanya Mirabelle si dewi perang.

"Seorang anak kecil bernama Weiss Nacht. Seorang alkemis, tepatnya meister alkemis. Dan dia bukan manusia," kata Zainurma.

"Kalau bukan manusia, dia ini apa?" tanya Mirabelle.

"Necromunculus," jawab Zainurma, "makhluk yang diciptakan dari jiwa orang mati dan boneka daging. Aku tidak tahu detilnya, tapi dari data-data dunia asalnya begitulah yang dikatakan."

"Dan apa yang membuat Anda sangat tertarik melihat Bingkai Mimpi miliknya?" tanya Mirabelle lagi.

Zainurma kembali menatap Bingkai Mimpi milik Weiss. "Entahlah," katanya, "aku sendiri juga tidak tahu. Mungkin cuma perasaanku saja, tapi aku melihat sebuah potensi dari anak ini?"

"Potensi?"

Zainurma menoleh ke arah Mirabelle. "Ah, tidak. Itu cuma perasaanku saja. Tolong dilupakan," kata Zainurma. Dia kembali menoleh ke Bingkai Mimpi, tidak lagi menoleh atau bahkan menganggap ada orang lain di sampingnya. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan dia tidak mengharapkan sang dewi perang berada di sana.

"Baiklah, aku pergi," kata Mirabelle.

Zainurma tidak menoleh. Dia mendengarkan secara seksama sampai langkah kali sang dewi tak terdengar lagi. "Weiss Nacht, sang maut berwarna putih," gumamnya sambil menyeringai, "kau akan melihat banyak tombak mencuat dari tubuh Sang Kehendak, Nak."

~~~

VI

Hal terakhir yang diharapkan Weiss adalah terbangun dari tidurnya. Meski tidur tak lantas membawanya ke dunia mimpi, setidaknya tidur membawanya pergi dari kenyataan bahwa dia kembali lepas kendali dan membantai tanpa ragu. Tetapi suara keras seseorang memaksanya kembali tersadar.

"Air! Api! Udara! Tanah!" Seorang pria berteriak keras sambil mengelilingi tubuh Weiss yang mulai terasa hangat. "Selama ribuan tahun kaum alkemis menguasai mereka, memperalat mereka demi kepentingan pribadi. Tapi semua berubah saat Ordo Preister hadir di dunia ini."

Mendengar nama ordo yang dibencinya disebut, Weiss seketika terbangun. Dengan cepat dia menyadari bahwa hutan pinus tempatnya pingsan kini tidak lagi diselimuti salju. Tidak ada pepohonan meranggas. Dan yang paling penting dia melihat sepasang sepatu bot perak berdiri tak jauh dari mukanya.

Salah satu kaki itu mengayun ke arah mukanya, tetapi dengan sigap Weiss berguling. Setelah menjauhkan jarak dia melompat bangkit kembali. Dia melihat siapa orang yang mencoba menyerangnya. Dan seketika itu juga dia terkejut dan ketakutan.

"Halo, Meister Weiss Nacht. Akhirnya kita bertemu," kata seorang pria muda berambut cokelat yang tersenyum ramah kepada Weiss. Dari kepala sampai kaki tubuhnya berbalut zirah dari perak. Di sebelah kanannya terdapat tombak perak yang dia jadikan sandaran badan. "Kurasa kau sudah mengenalku, kan?"

Weiss menggeram. "Jenderal Magnus!" jawabnya dengan nada rendah. Matanya nyalang menatap sang jenderal perang pasukan elit Ordo Preister.

"Wah, ternyata masih, ya?" Magnus menegakkan tubuhnya dan bertepuk tangan. "Menjadi mayat hidup tak membuat ingatan manusiamu lenyap ternyata. Ah, bagaimana dengan tuanmu. Siapa namanya? Nigredis?"

Mendengar nama itu disebut sebuah ingatan lain berkelebat di dalam kepala Weiss. Sosok Nigredis, sang Meister alkemis yang telah melanggar batasan dengan membuat necromunculus bernama Weiss. Sosok itu hanya samar-samar dikenalnya. Namun kebersamaan dengan sang Mesiter cukup untuk menganggapnya sebagai pengganti ayah. Dan jenderal pasukan elit yang berdiri di depannya kali ini telah merenggut sosok itu darinya.

Weiss merogoh kantung tasnya dan mengambil sebuah pisau. Dengan cepat dia melemparkan pisau itu ke arah Magnus. Namun sang jenderal hanya tersenyum dan menampiknya.

"Mudah sekali mengalahkan orang sepertimu," kata Magnus. Pria muda itu tersenyum mengejek. "Pertama-tama karena alkemi tak berguna melawan baju zirah Ordo Preister. Selanjutnya karena aku telah membunuhmu sekali. Bagaimana kabar tangan kanan dan lehermu? Kau sengaja menyembunyikan bekasnya, kan?"

Weiss kembali melempar pisau ke arah Magnus. Kali ini sang jenderal menangkisnya dengan tombak peraknya.

"Sia-sia! Kau tahu aku bisa membunuhmu saat ini, bukan? Apa kau tidak punya mainan lain?" seru Magnus.

"Diam kau!" balas Weiss. Dia melemparkan sebuah pisau terakhir yang bisa dia dapatkan  dari dalam kantung tasnya. Seperti sebelumnya, pisau itu pun dengan mudah ditangkis Magnus.

Magnus kembali tersenyum mengejek. "Kalau begitu giliranku, ya?" Dia menghunus tombaknya ke arah Weiss. "Kau tahu betapa kami membenci makhluk rendahan seperti kalian?"

Mata Weiss kembali melotot melihat ujung mata tombak yang diarahkan padanya. Tubuhnya kembali merasakan ketakutan, dingin, dan kengerian saat tubuhnya ditusuk tanpa ampun oleh sang jenderal.

"Nigredo, albedo, citrinitas. Rubedo, Sanctum Longinus!"

Weiss tersadar sesaat sebelum tombak di tangan Magnus sempat menusuknya. Dia melompat beberapa meter ke belakang. "Transmutasi?" katanya dengan bingung.

Magnus tertawa. Tombak di tangannya meliuk-liuk seperti ular sebelum kembali ke bentuk asalnya. "Kau terkejut?" tanyanya.

"Kupikir pemerintahan Ordo Preister membenci alkemi," kata Weiss.

Magnus mengedikkan bahu. "Yah, anggap saja… ini adalah anugerah yang diberikan Sang Agung, dewa kami, pada orang-orang pilihan seperti kami," kata Magnus.

"Munafik!" teriak Weiss.

"Kau pikir bagaimana kami melakukan berbagai mukjizat itu, heh? Transmutasi dan alkemi sangat berkuasa. Manusia bisa melakukan apapun asal tahu bagaimana menggunakan unsur alam dengan baik. Tapi kalau berada di tangan yang salah, itu akan menjadi sesuatu yang berbahaya. Akan lebih baik kalau kami, abdi dari Sang Agung ini, yang menjadi satu-satunya pemegang pengetahuan ini," kata Magnus bangga.

"Kalianlah orang-orang berbahaya itu! Kalian yang sesuka hati mengambil harta orang lain dan membunuh siapapun yang tidak kalian sukai! Kalian yang menculik para gadis dan memperlakukan mereka dengan tidak manusiawi tanpa peduli usia mereka! Kalian makhluk munafik!" teriak Weiss.

"Diam kau, makhluk jahat! Kau membantai orang-orang tidak berdosa! Untuk itu kau harus menerima hukuman dewa ini! Sanctum Longinus!" teriak Magnus. Kembali tombak peraknya meliuk-liuk bagaikan ular. Dia mengarahkan tombak itu pada Weiss. "Patuk dan hancurkan dia!" serunya. Mata tombak Magnus berubah menjadi kepala ular yang melesat ke arah Weiss. Anak kecil itu menghindar, tapi dengan gesit ular perak itu mengejarnya.

"Kau pikir produk transmutasi tak bisa dihancurkan?" sahut Weiss yang sibuk menghindari serangan tombak suci Magnus.

"Apa? Kau mengatakan sesuatu?" balas Magnus sambil memasang telapak tangan di telinga seolah tak mendengar sahutan Weiss.

"Ya," kata Weiss, "aku mengatakan sesuatu. Dan itu adalah requem kematianmu!"

"Kupikir makhluk sepertimu membenci apapun yang berkaitan dengan Ordo Preister. Dan kau menyebutkan requem?" sahut Magnus yang masih belum beranjak dari tempatnya.

Weiss berhenti mengelak. Dia memasang kuda-kuda. Kaki kiri ke depan, tangan kanannya mengepal. "Reverso! Nigredo, reducto! Atomos!" serunya. Tangan kanannya memancarkan cahaya berwarna kemerahan. Tombak suci Magnus kini hanya berjarak beberapa senti darinya. "Hancurlah dan kembali ke asalmu, Sanctum Longinus!" Weiss melayangkan tinju bercahayanya ke arah tombak yang mengejarnya itu. Saat tinjunya menyentuh tombak itu, saat itu pula benda itu hancur menjadi debu perak.

"A-apa?" seru Magnus. Dia masih tak percaya, tombak yang ditempanya sendiri dengan memakai darah ratusan anak-anak hancur begitu saja menjadi debu.

"Masih belum selesai!" seru Weiss. Dia melompat dan menghunjam tanah hutan itu dengan tinju kanannya yang masih bersinar. Seketika tanah terbelah ke arah Magnus. Pria itu mencoba berlari menghindar, tapi retakan tanah yang terbelah lebih cepat dari larinya. Magnus pun jatuh dan terhimpit retakan tanah.

"Sial!" seru Magnus berang. Dia berusaha keluar dari dalam tanah, tapi baju zirahnya yang berat menghalangi.

"Anggap saja kita impas, Jenderal. Kau menjadi seorang munafik dan aku menghina kemunafikanmu," kata Weiss sambil mengambil sebuah batu. "Nigredo! Albedo! Citrinitas! Rubedo! Petra Sarcophagus!" serunya. Batu di tangannya berputar, menarik beragam batu yang ada di sekeliling Weiss hingga membentuk sebuah peti batu.

"Mau apa kau dengan benda itu!" seru Magnus.

"Memberimu tiket sekali jalan bertemu dewamu," kata Weiss. "Tangkap dan remukkan dia!" seru Weiss pada peti batu yang dibuatnya.

Dengan cepat peti itu melesat ke atas kepala Magnus dan menjatuhkan dirinya ke atas jenderal yang masih terjebak itu. Weiss tidak peduli saat sang jenderal berteriak ketakutan saat ajalnya mendekat. Dan dia tersenyum puas saat melihat darah mengalir keluar dari bawah peti batu itu.

"Sudah selesai," kata Weiss. Memakai kekuatan penghancuran dan melakukan transmutasi sungguh membuat tubuh Weiss melemah. Dia pun belum mendapat asupan susu sebagai sumber energi selama seharian ini. Perlahan kantuk menguasainya. Badannya lunglai, dan dia pun tersungkur ke tanah.

Kali ini Weiss menyerah. Apapun yang terjadi dia tidak peduli lagi. Terserah apakah ini mimpi dalam mimpi atau kenyataan. Yang penting dia ingin tidur saat ini.

~~~

VII

Ratu Huban melompat kegirangan. Dia baru saja melihat seorang anak kecil melawan pahlawan munafik yang ternyata penjahat. Dia senang melihat angkara murka dikalahkan.

"Tuan Zainurma, ujiannya sudah selesai, bukan? Kapan kita bisa menjemputnya?" tanya Ratu Huban tidak sabaran.

"Tunggu dia bangun dulu," kata Zainurma. 

Kepala Ratu Huban tampak kembang kempis. "Saya mau masuk ke sana sekarang!" katanya dengan suara nyaring.

Zainurma mendecak. "Bagaimana kalau kau mengajak Mirabelle saja. Ah, kebetulan dia ada di sini," katanya sambil menunjuk ke sosok dewi perang yang baru saja datang.

"Aku sudah melihat semuanya. Kupikir sebaiknya aku tak pergi," kata Mirabelle.

"Kenapa?" tanya Zainurma. "Kau bertugas memulihkan peserta, kan? Rasanya pas jika kau yang pergi ke sana."

"Yang bisa memulihkan dia, berdasarkan data pengamatanmu, adalah susu segar. Tidak ada yang lain. Dan kurasa aku tidak bisa memberikan bantuan saat ini karena dia belum menjadi peserta," jawab Mirabelle. Zainurma baru saja hendak membalas saat Mirabelle kembali melanjutkan perkataannya, "Dan sebelum kau melakukan pelecehan di sini sebaiknya kau berhenti, Tuan Kurator. Ingat kalau kau adalah pria terhormat."

Zainurma berdecak saat melihat sosok sang dewi perang pergi dari situ. "Padahal masih ada yang harus kulakukan. Yah apa boleh buat. Akan segera kusambut dia," katanya.

"Tuan Zainurma, aku bawa dombanya," kata Ratu Huban.

"Oh? Kau pergi ke kandang domba, ya?" tanya Zainurma.

Ratu Huban mengangguk-angguk. "Ini hadiah karena dia jadi pemenang," katanya.

Zainurma tersenyum. "Kalau begitu aku juga punya hadiah untuknya," katanya. Dia mengambil sebuah botol dari balik jas mewahnya.

"Itu apa, Tuan?" tanya Ratu Huban polos.

"Ini teh penghilang ingatan. Kubeli dari kedai antardimensi," jawab Zainurma.

"Barang ilegal, kan?" tanya Ratu Huban lagi.

Zainurma hanya tertawa. "Ayo, kita masuki mimpi Weiss," katanya sambil mengulurkan tangan kepada Ratu Huban. Ratu Huban mengangguk dan meraih uluran tangan sang kurator. Bingkai Mimpi milik Weiss pun berubah bentuk menjadi gerbang. Keduanya masuk ke dalam alam mimpi sang Meister alkemis dengan riang gembira.

~~~

Museum Semesta berguncang hebat. Mirabelle yang berdiri di depan artefak bernama Sang Kehendak hanya diam saat melihat artefak itu mulai membesar. Dia mendesah pasrah. "Satu lagi dunia jatuh ke dalam tanganmu?" bisiknya. "Apa tak ada yang bisa menghancurkan benda ini?"

~~~~~



24 komentar:

  1. settingnya musim dingin. salju. bisa2 kuro pingsan duluan sebelum bertanding. hahaha. ceritanya lucu. dan bisa mendalamin OC nya admin gitu? katalog OC admin dimana ya? pengen tau juga. hanya ada sdikit salah ketik. 9

    OC: Kuro Godwill

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katalog karakter panitia ada di sini~
      http://battle-of-realms-6.blogspot.co.id/2016/02/katalog-karakter-daftar-karakter-panitia.html

      Hapus
  2. Alkemis, bocah rambut putih, susu. Seikon no Qwaser?

    Dibanding Stallza 2 taun lalu, keliatannya Weiss bakal lebih friendly buat dilawan, meski saya masih ngeraba" beda 2 OC ini apa, karena keliatannya secara tema belum keliatan jelas. Tapi dengan banyak munculin Zainurma dkk, kayaknya plotnya ga jauh" dari defy the ultimate tyranny aka Sang Kehendak, ya

    Nilai 8

    BalasHapus
  3. -Keputusan untuk menyorot juga reaksi Zainurma ke Weiss ini cukup... menarik. Bisa menyajikan versi OC panitia dengan twist. Saya juga bakal pakai itu sih.

    -Konsekuensinya, saya rasa Weiss malah jadi nggak sempat nampang terlalu banyak di sini. Porsi spotlightnya malah dibagi sama OC panitia. Pertimbangkan buat entry berikutnya: mending jangan sorot OC panitia kecuali mereka emang lagi berinteraksi sama Weiss.

    -Chaotic Neutral: Typically though, Chaotic Neutral characters do whatever the hell they like and damn the consequences (unless they're too noble or hurtful, watch out for that part!). Some say they're the ultimate free spirits, others that they're just crazy. Either way, there's no telling what they'll decide to do next — their main, and often only, concern is their own freedom. Whose side are they on? It's doubted that they even know themselves. Nobody else does.

    -Saya rasa, Weiss cukup mewakili deskripsi alignmentnya.

    -Kesannya Weiss terlalu sibuk ngurusin musuh rendahan di sepanjang cerita, jadi porsi ngelawan true enemy-nya malah terasa singkat, LOL. tapi tetap, penampilan Weiss terasa oke dan kebayang kira-kira seperti apa kekuatannya.

    Saya beri cerita ini nilai 8/10

    Fahrul Razi

    OC: Anita Mardiani

    BalasHapus
  4. Mumpung tadi baca, cerita ini cukup menyegarkan dan mudah dinikmati.
    Jika dinilaikan, 8/10.

    ttd
    Pembaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apakah bisa lebih didetailkan lagi review-nya? Misal, menyegarkannya pada bagian mana dan mudah dinikmatinya karena apa. Jika tidak maka komentarnya akan dianggap tidak valid.

      Hapus
  5. GHOUL mampir nich. ada yang memanggil?… :=(D

    Haha, ada adegan lucu dibayanginnya tuh OC-OC panitia. Ngena lucunya, jadi bikin gemes sendiri ama ratu bantal itu (kebetulan lagi baring-baring).

    Dan sang penguasa mimpi—Ratu Huban—terbang lebih lambat darinya (em dash bukan koma2)

    Prolog utamanya bagus, napa ga paling awal saja? Prolog utama OC-mu maksudnya bukan prolog OC panitia karena lebih menggigit rasanya kalo baca prolog yang lebih panas, itu lebih cocok dijadikan prolog agar pembaca langsung melek kalo baca pagi-pagi. Tapi gak apalah karena alur prolog OC panitianya singkat saja.

    Blurpnya bikin penasaran. Ini kubilang lebih keren dijadikan prolog. Hm dah deh berikutnya, gaya bahasanya ringan dan ngalir, cruncy banget tuk dibaca dalam hati tentunya. Jadi ga banyak istilah ribet yang bikin mulut juga ikut lafalin dengan nada bertanya.

    Story tellingnya masi polos, murni, gak ganas, mungkin OC nya penikmat susu jadinya kurang mengeksplor keganasan pada kalimatnya.

    Aku beri 8 botol susu aja yah… :=(O

    BalasHapus
  6. Entah memang disengaja atau tidak, yang jelas tanda titik bertebaran di entri ini. Lebih baik gunakan koma di beberapa kalimat.
    Dengan memasukkan chara panitia, membuat entri ini cukup bikin penasaran buat diikuti tapi sayangnya porsi dari sang MC jdi lebih sedikit. Selain itu untuk pertarungannya, terutama untuk lawan si jendral itu. Kesannya jadi kaya buru-buru buat nyelesaiin entri ini, kurang keliatan gregetnya. Mungkin bisa dinaikan lagi atensi pertarungannya ketimbang fokus bunuh manusia tak berdosa lainnya.

    Nilai : 7
    Mahapatih Seno

    BalasHapus
  7. Banyak bawa barang ilegal ya ini haha. Pionir juga buat yang mau coba langsung libatin Oc panitia di entri prelimnya.
    Setengah bagian cerita kayanya digarap dengan lebih teliti ya, karena di setengah bagian itu mau dari segi adegan keren atau karakternya kerasa lebih apik. Setengah bagian lagi, apalagi bagian akhir pas lawan Jenderal Magnus sambil bahas sebab musababnya Weiss bisa jadi sosok yang seperti sekarang ini, lumayan kerasa buru-burunya.
    Tapi keseluruhan rapi, seru, dan menghibur. Pokonya entri-entri awal di prelim sekarang keren-keren deh haha~ 9/10

    Oc: Namol Nihilo

    BalasHapus
  8. Mau susu? =))

    Jalan ceritanya menghibur dengan melibatkan panitia dan memunculkan Arnold, Terra, Rubina. Karakterisasi Weiss belum terlihat, tapi sangat menarik di bagian Weiss melawan Magnus. Sama seperti komentar di atas, bagian sabab musabab terkesan terburu-buru. Padahal bagian itu sangat bagus untuk diceritakan kembali.

    Saya menyukai Terra :*

    Nilai 8
    Merald

    BalasHapus
  9. Prelimnya mantep juga.

    Kalau dibandingin ama yang punya Geiger tahun lalu, Weiss lebih deliver konsepnya dibanding Geiger. Ceritanya juga ga se-belibet Geiger.

    Kesan saya juga kurang lebih sama sih kayak rekan-rekan di sini, Enjoyed the first half, but it goes a bit down di second half karena terlalu cepatnya penyelesaian konflik dengan Magnus. Padahal kan, Magnus adalah musuh "terbesar" Weiss yang harusnya lebih intensif pertarunganya.

    Enjoyable read, jadi saya kasih 8/10 untuk entri ini. Semoga bisa bertemu Sub-OC Weiss yang cantiq-cantiq nanti u,u

    Salam Sejahtera dari Enryuumaru dan Mbah Amut

    BalasHapus
  10. #03 WEISS NACHT
    Bagian "air api udara tanah"-nya bikin entri yang serius ini jadi komedik untuk sesaat. Lalu untuk stempelnya ... saya kira bakal dicap beneran. Ternyata jadinya tabir magis. Dan perihal mewujudkan mimpi, sebenarnya yang nanti akan mewujudkan mimpi--mahakarya--dari tiap peserta adalah kemampuan mereka sendiri. Bukan Ratu Huban atau bahkan bukan Sang Kehendak. Itu bocoran, sekaligus koreksi, yang bisa saya berikan.

    NARASI : B+
    Tak ada masalah berarti. Narasi tak terlalu berat, mudah dibayangkan. Mungkin pada paragraf deskriptif saja yang terkadang terlalu banyak baris sehingga terkesan boros (beberapa akan menyebutnya sebagai Wall of Text). Kemudian, karena ini temanya masih alkimia, barangkali perlu ada sedikit-banyak penjelasan proses alkimia/transmutasi dalam dunia Weiss ini. Misal dari bahan, proses dekonstruksi, lalu energi yang dibutuhkan, proses rekonstruksi, dan semacam itu. Bisa diakali juga agar penjelasan tersebut tidak menjadi info dump.

    TATA BAHASA : A-
    Mungkin hanya terdapat sejumlah kesalahan. Seperti "bertumpukan", apakah kata dasarnya "tumpu" atau "tumpuk"? Maka pembentukan katanya akan berbeda. Kemudian ketepatan posisi kata ganti, misal pada kalimat ini: [Arnold membungkuk hormat. Tubuhnya berubah menjadi gumpalan cahaya yang melesat masuk ke cincin di jari telunjuk tangan kanannya.] -nya pada kata terakhir itu mengacu ke siapa? Semestinya kata ganti mengacu ke orang yang disebutkan tepat sebelumnya, berarti itu Arnold masuk ke cincinnya sendiri? Mestinya bukan, tentu. Perhatikan lagi hal seperti ini.

    Lalu requem ... mestinya requiem, 'kan?

    KARAKTERISASI : B+
    Untuk karakter Weiss sendiri, masih belum begitu terasa karakterisasi dia selain "rage" saat melihat tombak--sebagaimana yang tertulis di lembar karakter. Namun kesukaannya terhadap susu cukup menambal karakterisasi yang bolong. Tinggal motivasi dan sejenisnya yang belum dimunculkan pada karakterisasi si Weiss ini. Di sisi lain, keempat necromunculus Weiss tampak lebih berkarakter, atau tepatnya, lebih ekspresif. Sehingga dengan kemunculan yang sedikit saja sudah menimbulkan kesan. Sedangkan untuk antagonis di entri ini, Jenderal Magnus, tak tampak megah. Hanya seperti kroco saja, kurang motivasi yang dalam. Sebaliknya, sosok anak kecil yang "menantang" Weiss malah tampak lebih berkarakter daripada si Jenderal.

    PLOT DAN BATTLE : B+
    Secara naratif sudah tergambar jelas setiap adegan pertarungannya. Bahkan adegan pembantaian di sini lebih hidup daripada narasi pada, misal saja, cerita Iris Lemma. Namun seperti kata komentator sebelumnya, pertarungan melawan Jenderal Magnus mungkin bisa lebih ditingkatkan lagi intensitasnya jika itu memang diniatkan sebagai klimaks dari entri prelim Weiss. Untuk plotnya sendiri, tampaknya masih lurus saja tanpa lika-liku berarti. Mungkin bisa dimunculkan dulu di bagian awal cerita tentang sosok Jenderal Magnus dan pembantaian yang dia lakukan kepada Weiss pada masa lalu sehingga ketika si Jenderal muncul kembali di klimaks terasa lebih mengesankan.

    TANTANGAN : B-
    Tantangan alignment-nya itu adalah "defy the tyranny", 'kan? Tirani itu lebih ke keseluruhan sistemnya. Tapi di sini, yang ditampilkan hanya seorang Jenderal saja. Jadinya terasa kurang memuaskan. Kemudian kurang ada penjelasan tentang batasan Bingkai Mimpi yang menghilangkan kemampuan spesial Weiss. Andai pembaca tidak membaca lembar karakter, mereka bahkan tak akan menyadari kalau Weiss ini ternyata hanya menggunakan kemampuan dasarnya ketika bertarung, juga bahwa Weiss sesungguhnya memiliki kekuatan seperti memento mori dan lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. =================
      OVERALL RATE : B+
      =================
      Saya menyarankan agar di R1, ketika Weiss mencoba mengingat kembali inspirasi jurusnya, dia akan mengingat dulu teknik summoning Necromunculus sehingga pada babak berikutnya entri dia bisa lebih "ramai". Dan memang, keempat Necromunculus milik Weiss belum banyak beraksi di babak prelim ini.

      ==

      Untuk prelim, semua peserta yang mengirimkan entri mendapat modal nilai 10 dari admin.

      Hapus




  11. Ini cerita enjoyable banget. narasinya mudah dicerna dan menggambarkan setting dengan jelas.

    poin plus di cerita ini adalah interaksi antar sub-OC dengan Weiss itu sendiri. mereka berinteraksi dengan natural. tapi sayangnya hampir di tiap interaksi malah sub-OC nya yang mengcuri spotlight. sedangkan karakter Weiss sendiri terlihat sebagai pelengkap di awal-awal.

    Porsi OC panitia cukup banyak tapi penulis berhasil misahin tiap bagian Weiss dengan bagian OC Panitia sangat baik. perpindahannya mulus jadi gak ganggu dan malah nambah nilai cerita.

    Battlenya sendiri saya lebih suka ngeliat pembantaian Weiss di awal-awal. tapi battle dengan Magnus meskipun gak terlalu berkesan cukup ngeliatin bagaimana Weisss menggunakan kekuatannya. bagus buat perkenalan.

    8/10
    Bian Olson

    BalasHapus
  12. Halo, salam dari sesama alkemis--tapi alkemis yang ini prelimnya cuma bisa swordfight u.u

    Saya dah baca dari lamaa, tp bru komen. Hehe. *sungkem*

    Hmm ... secara teknis narasi, yah, sama lah kayak yg di atas". Gamblang dan enjoyable. Tapi bahasanya kurang dramatis gitu ya. Kayak istilahnya gak main-main perumpamaan atau gimana. Langsung jleb cepat gitu istilahnya.

    Karakternya sendiri sy kurang suka, jujur aja. Saya malah nganggepnya Weiss tipikal karakter anime yg sok cool pake segala emotionless ngeliat pembantaian. Demikian juga dgn summonnya. Kalo cewek badan bagus pasti agak mesum, yg badannya agak 'lurus' pasti pinter dan ada bocah tsundere--ngingetin ama sesuatu. Kenapa gak dituker stereotipnya. Jadi si bocah yg mesum gitu? //slapped

    Battle utamanya kurang banyak dan terkesan begitu aja. ._.

    Ah ga tau dah mo ngmg apa lagi. Tanpa byk cincay saya titip 8 dngan gembira :3

    -Sheraga Asher

    BalasHapus
  13. Hm...

    Battlenya kelihatan terlalu mudah dan singkat. Meskipun Magnus ini terkesan archenemy (not that melodic death metal band) dari Weiss, dia tidak terlihat terlalu menantang, dan Weiss juga tidak terlalu menonjol emosinya saat melawan Magnus.

    Meanwhile, narasinya lumayan ringan dan enak dibaca. Soal karakterisasi, cukup bagus, meski saya ragu ada bocah 12 tahun dengan pola pikir seperti ini. Pergantian pov cerita ke panitia lumayan menarik, alurnya juga cukup enak diikuti. Tapi saya rada sebel sama stereotipe karakterisasi dari para gadis summon milik Weiss~

    The brat can get 8 points from me!
    Asibikasshi

    BalasHapus
  14. Susu?

    Oh well, banyak joke tentang susu di sini.. XD bikin senyum" sendiri karena aku juga suka bikin joke tentang susu *plakk

    Un... aku lumayan enjoy bacanya, Narasinya juga rapi, tapi agak kecewa karena battle ngelawan musuh utamanya malah terkesan singkat, dibanding dengan saat ia membantai penduduk malah lebih seru itu kaya'nya...

    From me, it's 8

    Sign,

    Lyre Reinn

    OC : Eve Angeline

    BalasHapus
  15. cerita yang bagus dan menarik. tapi porsi untuk Weiss terkesan dibagi rata dengan OC panitia, sehingga kesan battlenya Weiss kurang menonjol. padahal battle OC yang ditunggu para pembaca.

    menurutku, kehilangan inspirasinya terlalu cepat. Weiss tidur dan bangun-bangun tidak bisa memanggil summon. jadi summonnya terkesan nggak bisa dipake buat battle.

    kemampuan summon si arnold yang bisa bikin gua dengan kekuatannya masih bisa dinikmati.

    well, 7 dari saya. semoga sukses..

    Dwi Hendra
    OC : Nano Reinfield

    BalasHapus
  16. Ide : Sangat Baik = 2
    Plot : Sangat Baik = 2
    Tingkat kemudahan di cerna : Sangat Baik = 2
    Usaha : Sangat Baik = 2
    EYD : Sangat Baik = 2

    Tulisan ini benar-benar membuat saya iri. Bagaimana kau bisa membuat tulisan serapi dan semenarik ini?

    Nilai : 10

    Newbiedraft / Revand Arsend

    BalasHapus
  17. Entah kenapa kombinasi jenis font dan gaya tulisannya bikin enak dibaca. Bukan cuma tampilan tulisannya, tapi gaya narasinya mudah dipahami.

    Tapi dialog para warga entah kenapa ada kensannya kurang natural.

    Tapi ane suka sih.

    ----------------
    Rate = 7
    Ru Ashiata (N.V)

    BalasHapus
  18. Saya ngakak sendiri
    Such jokes from Leader of Tavern, eh?

    Tak jauh dari Susu dan montok dan gadis xD



    Plus :
    + Karakterisasi
    Saya suka Weiss disini. Awalnya saya kiea dia agak lebay karena bosen liat darah dan mayat, tapi baru tau kalai dia udah pernah mati dan hidup lagi. Setengah zombie, jadi emosinya juga setengah-setengah. Selain yang berhubungan langsung dengannya, sepertinya dia juga ga gitu peduli dan emang ga rasa apa-apa

    + Bahasa
    Bahasanya lebih ringan ya bang, dan lebih singkat. [Bersyukur buat yang ini] ketimbang sama si Stallza di Final BoR 4L dulu hihi. Asik buat diikutin aja.

    + Cerita
    Awww suka sama setting, plot dan konfliknya. Gamblang dan jelas, jadi saya ga perlu bertanya-tanya kenapa dia begini dan begitu. Dan yang terpenting saya ga perlu bolak balik untuk mengulang demi mencari maksud. Ngalir aja gitu.

    + OC Panitia
    Tbh, kayaknya baru abang yang bisa dengan bagus menjelaskan porsi OC panitia itu sendiri. Jadi buat saya, itu nilai tambah tersendiri. Saya ga ngerasa OOCnya berlebihan sih, jadi good.



    Minus :
    - Battle
    Sejujurnya saya lebih senang dan lebih asik ngikutin Weiss vs warga kota ketimbang Magnus. Yang sama Magnus buat saya terlalu singkat jadi ga sempet ngebangun tensi yang pas buat ngikutin battle-nya. Padahal harusnya Magnus jadi sorotan utama kan ya? :(


    Rasanya liat kekalahan Magnus pengen bilang.. "Kau tau, tiruan ga bisa menang lawan yang asli" #plak xD

    Oh ya bang, sedikit catatan, mestinya pas si Weiss berseru manggil Arnold, jangan pake koma di akhir dialog. Tanda bacanya salah hehehe. Kesannya dia berseru lempeng wkwkwk
    ga ganggu tensi keseluruhan sih, cuma sempet bikin alis mengkerut aja.




    SCORE :

    Basic : 5
    Plus : 4
    Minus : 1


    Total Score : 8


    -Odin-

    BalasHapus
  19. Hmmm saya suka pake banget konsep 'Servant' yang dipake Weiss untuk memanggil Arnold, Rubina, Aura dan si Susu xD

    Penulisan pun mudah dicerna, sehingga ceritanya mudah masuk dan cukup menghibur!

    Selain itu sang author menerapkan parodi yang baik, dan potensi dari cerita ini untuk kedepannya sangatlah luas.

    Hanya saja mungkin masalah selera, alur nya begitu biasa saja meski banyak hiburan disana sini, termasuk pertarungannya.

    Tapi tetap saja entri ini condong pada positiveness nya so nilainya 8

    Walakhir
    Ganzo Rashura

    BalasHapus
  20. Saya suka interaksi Huban dan Zainurma dari awal sampai akhir! Gemas gitu, rasanya. Saya juga suka bagaimana servantnya diperkenalkan satu-persatu. Adegan pertarunganya seru, 'rapalan sihir' yang digunakan juga unik.

    "Air! Api! Udara! Tanah!" Seorang pria berteriak keras sambil mengelilingi tubuh Weiss yang mulai terasa hangat. "Selama ribuan tahun kaum alkemis menguasai mereka, memperalat mereka demi kepentingan pribadi. Tapi semua berubah saat Ordo Preister hadir di dunia ini." <-- Pfft Avatar

    9/10 dari saya
    OC: Adolf Castle

    BalasHapus
  21. Buseet, banyak joke Oppai yang bikin saya ngekeh~
    XD

    OC panitia ikut ngaso di sini ya, perannya juga signifikan,nggak cuma sekadar numpang lewat aja.
    ._.

    Om Yatabe balik lagi pake konsep "party" dari sub OC untuk menemani sang OC
    XD

    Saya gak terlalu suka battle yang bak bik buk tanpa kejelasan sebab dan akibat.
    Jadi untuk porsi adegan gebuk di sini, rasanya pas sesuai takaran, terlebih nggak meluber seperti susu keluar dari cangkirnya. (apasih)

    Kembali teringat dengan joke Susu, saya tetiba baca komen SAM.
    Seikon no Qwaser, bener juga. Weiss ini kecanduan susu.
    wakakakak

    Overall, saya enjoy membaca ini. Meski "party" yang terbentuk agak menyulitkan proses membaca. (IMO, cerita yang ringan itu cerita yang hanya melibatkan Prota, sidekik, sama villain aja.)

    Point : 9
    OC : Maria Venessa

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.