Rabu, 18 Mei 2016

[PRELIM] 08 - DAYTONA FORT | A BLAST FROM THE PAST

oleh : Supernovablaze

---

Episode 1 : A BLAST FROM THE PAST

Part 1

Wanita muda itu berdiri di balkon sebuah ruang dansa mewah dengan segelas sampanye di tangan kanannya, menikmati pemandangan dan angin malam Texas yang tumben kering dan sepoi-sepoi . Padahal biasanya pengap dan lembab. Hotel Belmont Ballroom memang terkenal akan pemandangan Dallas Skyline-nya yang strategis. Gedung-gedung pencakar langit yang berpendar warna-warni di kegelapan malam menarik perhatiannya. Ia bahkan bisa melihat gedung apartment-nya dari sini.

"Mengapa kau menyendiri di sini? Padahal kalau ingin melihat pemandangan indah kau seharusnya tinggal bercermin saja, Nona Fort".

Wanita muda tadi berbalik perlahan saat mendengar namanya disebut. Cahaya lembut dari lampu gantung di ruangan menerangi setengah profilnya, sementara yang setengahnya lagi diselimuti kegelapan yang misterius. Ditambah dengan gaun koktail berwarna rose gold yang kontras dengan rambut gelapnya yang tergerai ditiup semilir, ia terlihat seperti femme fatale dari film-film noir lama.

Beautiful, yet deadly.

"Pemenang divisi terbaik tiga tahun berturut-turut seharusnya dikerumuni para pengagum."

Yang berbicara adalah Camden Scott, CEO dari Texas Electric Company (disingkat Tex-El)  di mana Daytona bekerja sebagai salah satu eksekutif senior. Malam ini adalah malam yang istimewa karena merupakan agenda pesta  tahunan perusahaan. 

Malam ini juga untuk ketiga kalinya, Divisi Marketing yang dipimpin Day dianugerahi penghargaan Divisi terbaik.

"Ah, tidak apa-apa. Lagipula, seperti yang Anda lihat, Tuan Scott, aku tidak begitu dikagumi."

Day memberi isyarat halus ke arah gerombolan wanita yang berbisik-bisik sambil memandangnya sinis, persis sekawanan hyena yang memandang sirik kepada kawanan singa. Jelas sekali membicarakan dirinya.

Sembari menghela napas ia berkata maklum, "Yah, bukan salahku kalau mereka tidak cukup kompeten dalam bidangnya."

Cam tertawa pelan seraya mendekat sehingga Day dapat mencium Sandalwood di aftershave-nya. "Aku rasa mereka juga tidak menyukaimu karena kau tidur dengan CEO secara rutin", bisiknya iseng.

"Hey!", bantah Day main-main. Matanya berkilat jenaka. "Menggunakan batu loncatan itu tidak ada salahnya selama bisa dipertanggungjawabkan. Bukan salahku juga kalau mereka tidak punya cukup nyali untuk berusaha maksimal menuju puncak "

Lagipula...", Daytona mendekatkan bibirnya ke telinga bosnya, tersenyum , dan berbisik dengan suara altonya "Bukan salahku juga kalau kau menginginkanku".

Camden berdeham karena tenggorokannya tiba-tiba kering. Tengkuk dan wajahnya sedikit merona sementara Day hanya tertawa renyah penuh kemenangan.

Setelah pulih dari kikuknya, Camden ikut tertawa. Sekali lagi, Daytona Fort menang.

"Dengar, aku menyewa salah satu suite di lantai atas. Kau mau menginap? Kebetulan besok weekend."
Day bisa melihat bahwa ia berusaha untuk terlihat kasual, namun matanya yang penuh harap itu tidak bisa bohong.

Day tersenyum.

"Naaah...lain kali saja. Aku mau pulang", ujarnya seraya menenggak habis minumannya dan menaruh gelasnya di meja terdekat. Gadis itupun berlalu menuju pintu keluar, tetapi sebelumnya ia mendaratkan kecupan di pipi Camden Scott di tengah hadirin pesta. Kode universal untuk 'persetan kalian semua yang sirik kepadaku'.


Ketika Day sampai di apartmentnya di Dallas Skyline, jam telah menunjukkan pukul 23.25.

Dengan gontai ia pun menghempaskan bokongnya di sofa. Hampir saja ia menendang lepas sepatunya sebelum teringat kalau sepasang pump yang ini adalah Jimmy Choo Salt Flatform seribuan dollar hadiah dari Cam.Ia pun melepas mereka dengan lebih hati-hati sebelum meregangkan kakinya di karpet.

Oh, yeah, tidak ada yang lebih baik daripada merasakan kaki di atas karpet lembut setelah belasan jam berjinjit di atas hak 12 cm.

Day merasa tegang. Seharian ini ia uring-uringan. Seperti ada bola energi yang membuncah di dalam tubuhnya. Panas bergelora. Ia ingin sekali melampiaskannya. Ia ingin menggerakkan tempatnya berpijak, ingin menggeser tembok beton. Ingin menggeram dan melepaskan tenaganya bersama teriakan dan hentakan kaki dan menyaksikan tanah di sekelilingnya menggelombang seperti ombak di lautan.

Tetapi pengacaranya sudah mewanti-wanti bahwa satu pelanggaran lagi dan ia tidak akan bisa lolos dengan jaminan dan harus mendekam di penjara. Day akan menurutinya kali ini. 

Bukannya ia menghormati hukum yang mengekang kebebasan berekspresi itu, tetapi penjara akan mencegahnya bekerja dan jika ia tidak bekerja ia tidak akan bisa menyingkirkan dan menggantikan Jones sebagai CFO.

Lalu ia memikirkan Cam. Cam dengan rambut blonde-nya, mata hijau dan lesung pipi yang hanya timbul saat ia tertawa lebar. Cam yang sepakat dengannya bahwa yang ada di antara mereka berdua hanyalah kesenangan badaniah semata, tetapi sering membawanya makan malam dan memberinya banyak hadiah, dan menatapnya seperti anak anjing dimabuk cinta.

Well,

Day menjalin hubungan ini hanya untuk seks, hadiah, dan liburan ke Eropa. Oh, dan untuk memuluskan jalan menjadi CFO.

Day  tidak boleh menumbuhkan perasaan dengan bosnya. Ia tidak boleh mencintai. Begitu Day mulai mencintai,ia menjadi rentan dengan semua kelemahan dan kesengsaraan di dunia yang diluar kendalinya. Kekecewaan, penghianatan, penolakan,

Kematian...

Tanpa sadar Day mengusap loket perak yang menggantung di lehernya. Tidak, ia tidak akan menumbuhkan feeling apa-apa atas apapun atau siapapun. Camden Scott hanyalah alat untuk meraih tujuan hidupnya.

Ia bangkit dari sofa dan menenteng sepatunya ke kamar tidur di mana ia akan menanggalkan semua atribut perangnya, mandi berendam dan merawat diri seadanya sebelum tubuhnya ambruk di ranjang.

Part 2

 "Piyamanya cantik..."
"Shh.."
Suara-suara itu membangunkan Day, tetapi tidak meyadarkannya. Saat ia membuka mata yang ia lihat hanyalah dua sosok bayangan samar bergelombang seperti jika kau tenggelam di kolam renang dan berusaha melihat dari dalam air orang-orang di atasmu. Antara ia tenggelam atau sedang makan 'jamur'di rumah Camden si CEO lagi.

Mungkin malah dua-duanya. Waduh!

....Reverier", salah satu bayangan itu bersuara

"Huh? Apa?" Bahkan suara yang terdengar pun seperti keluar dari mulut orang yang dibekap bantal, atau rekaman yang diperlambat. Tebal,  tidak terartikulasi dan benar-benar tidak masuk akal. Ia hanya dapat mendengar beberapa  kata.

"....Mahakarya....."

"....Alam Mimpi...."

Yup. Sudah pasti sedang fly oleh jamur. Mimpi Day selalu punya plot yang jelas dari awal.

Entah mengapa ia menganggap itu lucu dan mulai cekikikan.

"Hey, Cam, kau harus mengatakan kepadaku di mana kau dapat jamur ini. Aku sangat teler sekarang." Ia terus cekikikan tidak jelas sampai akhirnya kembali kehilangan kesadaran.

Kedua sosok yang mendatanginya terdiam, mungkin karena sedikit bingung.

"...Paman?"

"Ya, Ratu Huban?"

"Kenapa ia tertawa?"

"...Sepertinya ia mengira ia sedang dalam pengaruh halusinogen. Ayo lanjut, kita tak bisa lama-lama di sini".


Di saat ia membuka mata dan berdiri  lagi yang Day lihat di atasnya adalah langit-langit cembung berwarna gading. Ia melihat di sekelilingnya dan mendapati dirinya diatas panggung berkubah setengah lingkaran. Di area depan adalah undakan-undakan dari konkrit yang di susun melingkari panggung tersebut. Sebuah amphitheater terbuka.

Sebuah amphitheater terbuka di tengah gurun pasir, lebih tepatnya.

Hal terakhir yang ia ingat adalah mimpinya semalam tentang dua sosok samar memberinya pesan samar. Tiga kata yang ia tangkap adalah Alam mimpi, reverier, dan mahakarya.

Terdengar seperti omong kosong dan mungkin sama-sekali tidak berhubungan dengan yang terjadi sekarang ini.

Day pun memeriksa dirinya. Tidak ada luka, tidak ada rasa nyeri apapun. Ia bahkan tidak merasa gerah dan berkeringat mengingat di mana ia berada dan apa yang ia pakai. Setelan kerja lengkap dengan blazer lengan panjang berwarna hitam, dan, oh, sepatu kerja favoritnya, Louboutin ungu terong dengan hak metal 10 cm.

Yang membuat ia memperkirakan bahwa ia baru berada di sini paling lama sepuluh detik?!

"Apa kabar, Daysie?",

Darah Day berdesir dingin sampai ubun-ubunnya. Suara itu? Dan tidak ada orang lain yang memanggilnya dengan nama itu kecuali...

Ia berbalik, "Kau.."

Seorang lelaki tinggi berotot seperti Seperti Superman melayang kira-kira setengah meter dari lantai. Botak licin dengan otot yang menonjol dari rompi kulit yang dikenakannya. Mata hitam dengan alis gelap menatapnya lekat-lekat dan cengiran itu terlihat asing sekaligus familiar.

Ia telah banyak berubah, namun Day tidak akan pernah melupakan wajah Leonard Snow. Superhuman yang bisa terbang. Suka terbang. Saking sukanya, terbang menjauh adalah hal pertama yang ia lakukan saat tahu bahwa Day hamil dan aturan bahwa dua supers tidak diijinkan negara untuk menikah, apalagi punya anak.

Gigi Day gemeretak. Amarahnya mendidih, merah dan panas.

"Di mana aku, Snow? Apa maumu membawaku ke sini?"

Snow mendarat tanpa suara dan berjalan mendekat. Secara insting Day mundur dan menyelipkan tangan di balik rok nya untuk mengambil sesuatu dari garter belt-nya. Tunggu. Apa yang ia cari? Tidak ada apa-apa di situ. Ia merasa bodoh. Entah mengapa ia mengira kan menemukan senjata si situ.

"Ayolah Daysie, sudah berapa lama? 13 tahun? Bagaimana kalau sebuah pelukan?"

"Kau tidak berhak mendapatkan pelukan dariku",Day mulai berkeringat. Tubuhnya terasa lengket dan menjijikkan.

Sebuah cengiran lagi. Day ingin sekali menghapusnya.

"Jangan dingin begitu, kita menciptakan sebuah  kehidupan baru bersama. Ingat?"

Kehidupan yang berakhir beberapa  jam setelah dimulai. Day hanya ingin melupakannya. Namun apa dikata, memori tidak dapat lenyap begitu saja, begitu juga kalung perak di balik blus kerah tingginya.

"Jawab pertanyaanku. Apa maumu? Untuk apa kau membawaku ke sini?"

"Kau tumbuh menjadi wanita dewasa yang luar biasa. Lihat dirimu, dengan pakaian mahalmu itu. Ibu Korporat". Di matanya campuran antara kerinduan dan ejekan.

Bukan hanya Day saja yang sudah tumbuh. Leonard berusia 17 tahun adalah bocah kerempeng dengan mohawk yang di cat biru dan attitude bocah punk anti kemapanan. Sekarang ia persis lelaki yang selalu dikhayalkan Day jika ia sedang galau dan bertanya-tanya seperti apa cinta pertamanya sekarang.

Huh, sama persis seperti khayalannya. Mencurigakan.

"Kau juga sudah berubah. Tampaknya kau mewarisi gen kebotakan dari ayahmu".

Lelaki tinggi besar itu tertawa sampai dadanya yang bidang bergoncang. Ia kembali mendekat dan Day segera mengambil ancang-ancang. Sepasang kakinya ia tekuk, tangan menggantung santai.

"Kau masih menggemaskan. Sayang sekali aku harus MENGHABISIMU!!!

Snow melayang dan melesat secepat kilat  sambil menarik tinjunya untuk impact yang maksimal.

Berpikir cepat seperti yang diajarkan di kelas MMA-nya, Day membungkuk menghindar dan saat lawannya melesat melewatinya ia menangkap salah satu kaki dengan kedua tangannya, lalu dengan momentum memutar tubuhnya seolah sedang melakukan olahraga lempar martil dengan tubuh Snow sebagai martilnya. Ia terus berputar dengan sangat cepat dan akhirnya melepaskan tubuh yang berat itu ke udara. Berharap lawannya akan kehilangan kendali dan jatuh.

Tetapi semua gerakan berputar barusan membuatnya sempoyongan dan terduduk. Sementara itu, dengan kecepatan yang nyaris tidak mungkin Snow kembali tanpa kekurangan suatu apa.

"Mengapa?!Mengapa kau lakukan ini?!" Day bangkit berdiri dengan susah payah karena rok sempit dan hak tingginya.

Sialan! Siapa yang memutuskan aku harus menjadi modis di saat-saat begini, sih? Batinnya kesal.

"13 tahun berlalu dan sampai segitu saja kemampuanmu? Kau melempar orang yang bisa terbang ke udara." Snow menyeringai mengejek. Tubuhnya mengapung rendah.

 "Apa kau yakin kau adalah seorang super? Kapan terakhir kalinya kau menggunakan kekuatanmu selain untuk mendongkrak mobil mogok, hmm?"

Day mendengus kesal. Seharusnya dia yang pintar berbicara, tetapi ia tidak bisa memikirkan apapun yang dapat ia katakan kepada Snow yang tidak akan membuatnya terdengar seperti mantan pacar yang marah dan cengeng, dan ia tidak suka dianggap cengeng.

Day mengepalkan dan  merentangkan kedua tangannya. Sepersekian detik kemudian terdengar suara seperti sesuatu yang retak dan sepasang potongan balok konkrit segi empat jatuh dari atap kubah dan melayang tepat di atas masing-masing kepalan tangannya. Snow menoleh ke atas dan benar saja, ada sepasang lubang berbentuk kotak sempurna di kubah panggung, debu dan remah-remah semen berjatuhan.

Day mengacungkan kedua tangannya yang terkepal ke arah Snow dan potongan semen  tersebut terbang ke arahnya. Snow berhasil mengelak.

"Seriously, inikah putri dari James "The Wall" Fort? Kau membiarkan orang-orang lemah mengubahmu menjadi seperti mereka 'ya?"

Ini tidak baik, ia terlalu dekat. Day harus berada di tempat terbuka di mana tidak ada resiko sesuatu menimpanya. Ia berbalik dan ngacir dari panggung dan
amphitheater.

Untung saja ia sudah terbiasa berlari dengan sepatu hak tinggi. Salah satu skill yang  wajib dimiliki wanita karir manapun .

Sementara berlari ia dapat mendengar Snow dibelakangnya, tak diragukan lagi melayang mengikutinya.

"Kau tidak akan bisa kabur."

Ia bukannya mau kabur. Tetapi Snow tidak perlu tahu hal itu
.
"Kau menyedihkan, Day. Kau membiarkan hukum orang-orang itu mengendalikan hidupmu. Menukarkan jati dirimu dengan pekerjaan dan status sosial."

Akhirnya Day merasakan pasir di bawah hak sepatunya. Lembek dan tak stabil. Bagus, sekarang yang harus ia lakukan hanyalah--

Sisa napas dalam paru-parunya terhembus paksa saat Snow menerkamnya dan ia jatuh telungkup di pasir yang panas membakar tangan, wajah dan kakinya. Mereka melekat di sebagian wajahnya berkat keringat. Day meringis.

Tangan yang kuat dan keras membalikkan tubuhnya  dan membuatnya berhadapan dengan pria yang menindihnya. Snow menduduki pahanya dan menahan kedua pergelangan tangannya. Ia terjebak dan sekilas teringat bahwa belasan tahun yang lalu, mereka berdua pernah dalam posisi yang mirip seperti ini,tengah malam di atas atap mobil ayahnya.

Sekarang bukan saatnya nostalgia, Day menyadarkan dirinya sendiri.


Snow menyeringai sembari menekan tangannya lebih erat sehingga ia tak dapat bergerak. Untuk sejenak yang terdengar hanyalah napas kedua superhuman itu. Terengah-engah dengan ritme tak beraturan. Day berusaha mengingat gerakan MMA yang dapat menolongnya dalam situasi ini.

Ia tak dapat mengingat satupun. Ada apa ini?

"Pemerintah takut kepada orang macam kita, Day. Mereka berpura-pura menerima kita di dalam masyarakat dan menciptakan ilusi seolah-olah kita diperlakukan setara. Nyatanya mereka melarang kita bereproduksi, mengawasi semua gerak-gerik kita, membatasi gerak kita-

"Apa pedulimu?" Day bertanya. Ia memperhatikan bahwa sekarang Snow hanya berbicara asal-asalan dan memberikan monolog yang tak perlu. 

Bagus, biarkan ia bicara. Sepertinya si botak ini lupa bahwa kekuatan Day tidak selalu memerlukan anggota badan yang bebas.

"Aku hanya sedikit sedih untukmu, Day. Mengorbankan identitasmu demi mengikuti hukum dan aturan manusia yang lebih rendah dari kita."

Bagus, tetaplah bicara omong kosong.

Snow menarik napas seolah sedih dan menyatukan kedua tangan Day di atas kepalanya supaya ia dapat menahannya hanya dengan satu tangannya yang besar.

Tangannya yang lain ia lingkarkan di sekitar leher Day dan mulai meremas.

Shit! Maki Day dalam hati. Ia akan mencekikku.

"Kau adalah lelucon bagi kaum superhuman."

Pasir menyambar wajah Snow dari belakang dan menariknya lepas dari Day. Memasuki matanya dan membuatnya terjerembab jatuh ke belakang. Meronta dan mengucek matanya dengan marah.

Day menggunakan kesempatan rersebut untuk bangun dan berlari menjauh, sejauh yang diijinkan oleh Louboutin 10 senti dengan hak yang terus tenggelam dalam pasir. Muak, ia pun berdiri dan mengambil ancang-ancang melebarkan kakinya seperti di atas papan seluncur.

RRIIPP!...roknya robek di bagian samping. Dia tidak peduli lagi. Ia ingin setidaknya keluar dari gurun ini supaya dapat meminta bantuan.


"DAYTONNAAA!!!"

Whew, si botak terdengar marah. Day memfokuskan energi ke daerah kaki dan merasakan butir-butir pasir mulai menjadi padat dan bergabung bersama untuk membentuk papan seluncur sederhana. Dengan satu ayunan tangan ke belakang, ia pun meluncur di pasir. Ia tidak bisa melakukan yang lebih karena ia harus menghemat energi sekaligus selalu waspada.

Benar saja. Setelah kira-kira hampir tiga kilometer, Snow menyusulnya di udara, mencari waktu yang tepat untuk menerkamnya lagi. Day menambah kecepatan, tetapi ia mulai lelah. Tenggorokannya kering karena haus dan keringat yang terus mengucur membuatnya khawatir akan dehidrasi. Ia juga kepanasan minta ampun.

Mereka melewati sebuah amphitheater.

Tunggu, itu ampihtheater yang tadi. Ini tak masuk akal, sepertinya dari tadi Day hanya berputar-putar saja. Itu dan fakta bahwa Snow belum juga melakukan apa-apa. Ia terus terbang di atasnya seolah-olah tahu kalau usaha lawannya sia-sia. Sial, Day dipermainkan. Tempat ini mungkin sudah dimanipulasi atau apalah.


Menyadari bahwa usaha kaburnya tak membuahkan hasil, Day memutuskan untuk kembali melawan. Ia tak mau kehabisan tenaga untuk hal yang sia-sia jika dia punya kesempatan untuk bisa menang.

Di satu titik ia pun berhenti meluncur. Ia lalu melepaskan blazernya dan mengikatnya di pinggang, menyisakan blus sifonnya yang tipis. Ia juga mengangkat rambutnya dan menggulung helai-helai bergelombang itu di atas kepalanya. Meninggalkan beberapa yang terlalu pendek membingkai wajahnya yang berkilau karena alas bedak yang terkena keringat.

Ia siap.

Leonard Snow mendarat dengan keras kira-kira lima meter dari Day. Terlihat dari bagaimana ia harus berjongkok sedikit untuk menahan tubuhnya dan debu pasir yang dibuat.

Ia tersenyum ketika ia melihat lawannya mulai serius. Walaupun matanya merah dan berair karena serangan pasir tadi.

"Hoo kau mulai serius ya. Bagus sekali. Aku mulai bosan dengan atraksi skateboard-mu tadi."

Day tersenyum balik. Senyum manis yang biasa ia berikan saat memasarkan produk Tex-El.

"Sebelum kau membunuhku maukah kau menjawab pertanyaanku?"

Senyum Snow memudar. Wanita yang tersenyum di saat genting selalu mencurigakan.

"Saat aku bertanya mengapa kau melakukan ini tadi, mengapa kau terus menghindar untuk menjawabnya?"

"Bukankah aku bilang kau lelucon bagi para Supers-"

"Aku juga bertanya mengapa kau peduli". Day tidak akan mau disela.

"Maksudku, aku bahkan tidak tahu menahu di mana keberadaanmu setelah kau kabur setelah menghamiliku. Aku bahkan tidak tahu kau hidup atau mati. Kita benar-benar terpisah. Kau sama sekali tidak punya alasan untuk membunuhku."

Hampir komikal bagaimana pria yang tadinya berdiri tegak dan waspada melipat tangannya di depan dada dan mengkerut sedikit. Sebuah gestur yang defensif.

Oh hell yes! Inilah kemampuan Day sebenarnya. Mind games untuk membuat lawannya lengah sementara ia membuat perangkap di belakang mereka. Day menyeringai.

"Untuk apa repot-repot membunuhku kalau kau bisa saja  terus menganggap aku mati. Hal yang sudah kau lakukan selama 13 tahun ini karena kau seorang pengecut!"

Yup. Pengecut. Kata yang selalu memanggil reaksi dari para pria super-alpha yang merasa kejantanannya diancam. Saat inilah mereka harus dipojokkan.

Day maju dan mendekati Snow yang terlihat naik pitam dari tangannya yang mengepal.

"Aku bukan-"

"Kau pengecut. Banci. Itulah dirimu. Lelaki macam apa yang menghamili kekasihnya pada usia 17 lalu pergi begitu saja apalagi dalam keadaan dimana bayi mereka dianggap ilegal dan mungkin tak akan lahir. Huh,  Leonard? Atau Leona sekarang? Leony?"

Mata Snow yang merah melebar pupilnya sampai hampir  terlihat hitam semua. Lebih murka  lagi dan Day mungkin bisa melihat asap keluar dari puncak  kepalanya yang licin.

Tunggu, kepalanya benar-benar terbakar. Sunburn. Snow lupa memakai sunblock sepertinya. Ewww...

"JALANG!!" Ia meraung, lalu bergerak untuk menerkam sang mantan.
Kakinya tidak dapat bergerak.

Snow menunduk dan yang dilihatnya adalah sepasang kaki yang sudah tenggelam dalam pasir padat sampai bawah lutut. Ternyata selama pidato tadi Daytona Fort bukan hanya merebut kelelakiannya, tetapi juga mobilitasnya. Ia melakukannya dengan sangat lembut dan pelan sehingga lawannya tidak mendengar suara pasir yang bergesekan.

Wanita yang dimaksud sedang tertawa menikmati kemenangannya.

Dan yang membuat lebih buruk, gundukan pasir itu terus merambati
kakinya. Semakin keras ia meronta, semakin cepat pula ia terkubur. Snow hanya bisa mengutuk dan memaki. Marah bukan main karena dikalahkan seorang  wanita. Lebih buruk lagi, mantan pacarnya.

Lawannya telah terkubur sampai dada saat Day tiba-tiba merasa pusing dan limbung. Sepertinya dehidrasi dan terik matahari telah menguras staminanya jauh lebih cepat. Sial.

Padahal ia berencana untuk mengubur Snow sampai leher agar efek tidak berdayanya lebih poten dan lebih mudah bagi Day untuk memaksanya memberi tahu bagaimana keluar dari sini.

Yah, sampai dada sudah cukup. Ia akan beristirahat sebentar, sekedar menghilangkan pusing.

Day mendudukkan diri di pasir yang mulai mendingin karena hari sudah mulai gelap dan matahari sudah mulai turun ke barat dengan warna jingga keemasan. Jika yang ia baca di buku pelajaran SMA-nya dulu benar, maka dua jam lagi cuaca akan sangat dingin dan ia tidak mau membeku di tanah antah berantah ini.

Setelah bersusah payah menelan ludah demi membasahi tenggorokannya yang kering, ia bicara kepada Snow yang sudah berhenti bergerak dan diam dengan pasrah.

"Seseorang menyuruhmu kan? Seseorang membuatmu melakukan ini."
Tidak ada respon dari pria di depannya, tetapi diamnya sudah merupakan jawaban bagi Day.

"Kau tahu betapa ironisnya ketika kau menyebutku lemah dan dibatasi oleh hukum manusia sementara kau mungkin diperintah orang lain untuk menghabisiku? Kau menyedihkan."

Setelah cukup yakin bahwa ia tidak akan ambruk, Day kembali berdiri dan menghampiri lawannya yang terbungkus dalam pasir seperti burrito.

Astaga, ia mulai lapar.

"Asal kau tahu, human atau superhuman sama sekali tidak masalah. Yang memegang kuasa di dunia ini adalah uang dan jabatan. Pekerjaanku memberiku gaji seratus ribu dollar setahun. Berapa gajimu, Leonard?"

Yang ditanya cuma menunduk. Day tertawa kecil.

"Kalau aku mau aku bisa saja menyewa 10 orang sepertimu. Jadi, berapa?"

Day membasahi bibirnya yang kerontang dengan lidahnya.

"Berapapun yang dibayar oleh orang yang mengutusmu, akan kubayar dua kali lipat jika kau membantuku pulang. Aku bahkan tidak akan bertanya siapa dalang di balik semua ini. Bagaimana?"

Namun Leonard Snow sudah melejit terbang ke angkasa. Shit! Karena kehabisan tenaga penjara pasir yang dibuat Day kurang padat sehingga seiring waktu daya cengkramnya semakin longgar.

Selanjutnya Day merasakan seseorang mendekapnya dari belakang dengan sangat erat. Tubuhnya terasa ringan dan ia pun menyadari bahwa Snow telah membawanya terbang. Kepalanya berputar dan telinganya berdenging. Seluruh tubuhnya terasa kencang diterpa deru angin. Kalung loketnya melayang-layang memukul wajahnya. Matanya tertutup rapat dan wajahnya mengkerut melawan angin keras.

Setelah kira-kira beberapa menit, semuanya berhenti. Gemetaran, Day membuka mata dan mendapati dirinya berdiri terapung di udara dan sepasang tangan yang besar dengan bisep menonjol membungkus pinggangnya. Ia merintih.

Leonard Snow berbisik di telinganya, lembut seolah mereka masih sepasang kekasih, "Aku rasa kau harus lebih banyak makan. Beratmu hampir tidak terasa."

Day ingin membantah dengan cerdas, tetapi ia takut yang akan keluar dari mulutnya hanyalah muntah.

Lagipula, sedang memikirkan sebuah rencana.

"Kau tahu seberapa jauh kita dari permukaan? 1700 kaki. Kira-kira setinggi menara kembar. Jauh dari elemenmu.  Aku penasaran apa yang akan terjadi kepadamu jika aku menjatuhkanmu dari sini begitu saja."

Day sudah mengambil keputusan.

"Kau mau tahu bagaimana aku akan keluar dari sini? Seseorang akan menjemputku saat matahari terbenam setelah aku membunuhmu. Aku akan mendapatkan upahku sementara kau terkubur di pasir."

 Setelah itu sunyi sejenak sampai akhirnya Day menyeletuk.

"Hei Leo?"


"Hmm..."

"Kau memakai ikat pinggang kan? Gespernya terbuat dari apa? Besi?"

Leonard Snow membelalak saat ia menyadari kesalahannya.

Terlambat, ia merasakan ikat pinggangnya lepas, dan berpindah tempat ke lehernya. Sebuah kekuatan tak terlihat mengunci gespernya kencang, dan secara refleks ia menjatuhkan muatannya untuk melonggarkan napasnya yang sesak.

Dengan gesit Day menangkap salah satu kaki Snow. Membuatnya kehilangan keseimbangan dan mereka berdua sama-sama terjatuh dengan tidak terkendali.

Walaupun harus mati sekalipun, Daytona Lewis Fort  harus mati secara fabulous.

Memanfaatkan momentum, Day mengayunkan tubuhnya sehingga tubuh Snow berada telentang di bawahnya. Pria itu terus meronta, tetapi ikat pinggang yang terkunci rapat di jalan napasnya sepertinya mulai membuatnya lemah.


Day sama sekali tidak yakin dengan ide ini, tetapi tidak ada ruginya mencoba.

Sembari berusaha menahan posisinya di atas tubuh lawannya dengan cara menekan tubuhnya sekeras mungkin, ia memproyeksikan energi tambahan dari adrenalin ke arah tanah. Cukup sulit mengingat ia tidak bisa melihat dan mendengar  apa-apa karena gravitasi menarik mereka dengan cukup kuat dan cepat.

Di gurun, semakin dekat Day ke permukaan, pasir tempatnya mendarat menyeruak naik membentuk gundukan yang semakin lama semakin tinggi dan lebar. Ya, Day sedang berusaha membuat semacam kantung pasir yang akan meredam dampak dari pendaratannya.

Kira-kira 100 kaki, dan Day semakin putus asa. Gerakan lawannya semakin lemah. Jika  ia belum mati sekarang, mungkin impact ke tanah akan membunuhnya. Ia pun menggenjot segenap tenaganya yang tersisa.

Thud.

 Itulah bunyi dari sesuatu yang jatuh dari langit ke atas matras darurat dan itulah bunyi yang terdengar saat dua orang mendarat di pasir yang lembut.

Pendaratan barusan jauh dari mulus. Tubuh Day masih menghantam dasar dengan cukup keras.

 Untunglah ada Leo yang berperan menjadi 'matras' tambahan.

Mendadak merasa seluruh sendinya seperti terbuat dari agar-agar, Day bahkan tidak punya tenaga untuk menyingkir dengan normal dan ia pun menggulingkan badannya melewati bukit pasir mini dan membiarkan dirinya berbaring di tengah gurun begitu saja.

Setelah beberapa lama, gemetarnya pun berkurang dan ia merangkak ke arah lawannya yang terbaring tak bergerak.

Day mengira Snow sudah mati, tetapi saat dihampiri ia masih bernapas.
Dadanya masih naik turun. Rupanya di satu titik, ia berhasil melepaskan ikat pinggang yang mencekiknya dan hanya tidak sadarkan diri. Bekas memar berwarna ungu melingkari lehernya dan selain itu tampaknya tidak ada patah tulang maupun organ yang bergeser. Bajingan beruntung.

Day sangat haus, ia sangat-sangat haus. Pada titik ini minum urinnya sendiri pun ia mau. Tetapi ia sedang tidak kebelet.

Pandangannya terpaku ke leher Snow. Di balik memar yang kebiruan, ia melihat denyut nadi yang mengalirkan darah.

Day merangkak mencari-cari Louboutinnya yang terlepas saat ia berguling tadi. Ia menemukan keduanya tidak jauh dari tempat mereka mendarat.

Membawa salah satu sepatunya ke tempat Leonard Snow terkapar,Day menatap tumit metal 10 cm yang melekat pada ujungnya.

Hmm...karena ini pumps untuk kerja maka heel-nya bukanlah stilleto yang ekstrim. Day harus...memodifikasinya sedikit dengan sisa-sisa kekuatannya.

Day  memanipulasi hak metal Louboutin ungunya  yang sebelah kiri menjadi sangat runcing.

Setelah di rasanya cukup tajam, ia pun menempelkan bagian heel tersebut di leher Leonard tepat di nadinya.

Kereta kenangan tiba-tiba menghampiri Day. Musim panas setelah tahun ketiga SMU. Bercumbu di bawah pohon Willow di taman. Tekstur rambut mohawk di genggamannya, keras sekaligus licin karena hairgel. Lalu malam itu, sama-sama melepas keperawanan di track NASCAR yang sepi. Di atas Nissan butut milik ayah Day. Delapan kata dibisikkan. I love you, I will never leave you.

Alat tes kehamilan. Positif. Keluarga yang marah besar. Pengusiran. Leonard menghilang. Ia sendirian. Rumah singgah.

Ia masih sendirian, namun tidak kesepian. Ada seorang malaikat menemaninya. Tumbuh di dalam tubuhnya. Graham Arnorld Fort.

Lalu semuanya menjadi gelap. Ruang dokter. Osteogenesis Imperfecta tipe II. Terminal. Caesarean. Graham. Terlalu mungil dan terlalu biru. Malaikat yang pergi terlalu cepat. Dadanya sesak dengan tangis. Sendiri lagi. Semua orang meninggalkannya.

Day menyayat leher yang lebam itu.

Air merah kehidupan muncrat dari lubang menganga di jugular Leonard Snow, mengingatkan Day akan sprinkler.

Ia menempelkan bibrnya ke luka itu dan menghirup sepuas hatinya.


Part 3

Setelah semuanya selesai, Day  kembali berguling di pasir sambil mendekap sepatunya, mengambil yang satunya dan memakai mereka kembali, ia juga mengenakan blazernya karena udara sudah mulai dingin. Kemudian, ia membaringkan diri secara sembrono di gurun dan menatap matahari terbenam.

Tubuhnya terasa sangat menjijikkan. Pasir ada di mana mana. Rambutnya, bajunya, baju dalamnya...

Ia tidak ingat pernah berkeringat sebanyak ini, pakaian yang dikenakannya lengket di kulit dan penuh dengan debu, pasir, dan percikan darah. Ewww jijik.

Dan yang paling buruk, yang ia minum barusan sepertinya mulai mengental di tenggorokannya. Membuat lapisan seperti dahak tersangkut. Ia terus berdeham-deham.

Day  meraih kalungnya, membuka loketnya, dan menatap foto di dalamnya
Ia bertanya-tanya jika Graham tahu bahwa mommy-nya membunuh lalu mengisap darah ayahnya seperti vampir, apa yang akan ia katakan.

Day tidak ingat berapa lama ia sudah melamun ketika sebotol air elektrolit disodorkan ke wajahnya.

Ia mengangkat kepalanya dan  melihat bahwa tangan yang menyodorkan botol itu adalah milik seorang pria yang berdandan seperti germo kelas atas dari New York, dengan sunglasses dan mantel bulu.

"Minumlah".

Tanpa pikir panjang ia langsung duduk dan merebut botol air itu, membuka tutupnya, menenggak isinya dengan brutal dan menghabiskannya dengan sekali teguk.
Yang paling Day syukuri adalah bagaimana air minum itu memenuhi mulut dan tenggorokannya. Menyapu bersih jejak dari apa yang ia konsumsi sebelumnya.

"Kau terlihat sangat berantakan, Nona." yang berbicara kali ini adalah makhluk asing berukuran mini berkepala bantal. Ia mengenakan apa yang bisa digambarkan Day sebagai bencana fashion dalam balutan warna pisang, atau warna muntah. Ia melirik sepatu bot hujan berwarna kuning kehijauan norak dan bergidik.

Jika makhluk itu melihat tatapan merendahkan dari Day, ia tidak peduli. Dengan antusiasme seperi anak-anak ia terus mengoceh.

"Kau sangat keren, Nona. Dulu kau mungkin masuk klub debat ya, kau sangat pintar bicara. Aku paling suka pertarungan di udara tadi! Seru sekali!"

Kemudian mood-nya tiba-tiba terlihat sedikit turun, "Tapi bagian di saat kau membunuh dan meminum darahnya, itu agak menyeramkan"
.
Day meringis ketika diingatkan hal itu. Ia memandang lelaki yang berpakaian seperti germo itu dengan penuh tanda tanya.

"Aku yakin kau punya banyak pertanyaan. Jangan khawatir, semua akan kami jelaskan." Suaranya tenang.

Day teringat akan kata-kata terakhir Snow dan ia langsung mundur beberapa langkah dan menatap kedua sosok di hadapannya dengan penuh curiga.

"Kalian, kalian adalah orang yang mengutus Leonard Snow untuk membunuhku?!"

"Well, sebenarnya--" Si kepala bantal berbicara

"Kami ke sini untuk menolongmu." Laki-laki itu menyela. " Kami tidak kenal siapa itu Leonard Snow."

Day menegakkan diri. Walaupun secara fisik ia merasa seperti korban tabrak lari yang ditinggalkan di tengah jalan saat hujan, ia tidak akan menyerah tanpa perlawanan.

"Me-mengapa aku harus percaya kepada kalian?"

Pria yang kira-kira sebaya dengan Day itu menghela napas, "Well...itu terserah padamu sebenarnya. Mau ikut kami, atau tinggal di sini dan membusuk. Pilihanmu."

Ia berbicara kepada makhluk aneh berkepala bantal itu, "Ayo kita pergi, Ratu Huban."

"Tunggu!"

Kedua orang tersebut berhenti dan menatapnya. Setidaknya begitulah yang dirasakan Day, mengingat satu orang memakai kacamata hitam dan satunya lagi bahkan tidak punya mata.

Ia menarik napas, lalu menghembuskannya untuk menenangkan diri. "Baiklah. Aku ikut."

Lagipula dari pakaiannya, tempat paling buruk yang didatangi pria ini mungkin rumah bordil.

"Bagus sekali". Si mantel bulu tersenyum.

"Eh, aku hampir melupakan sesuatu. Ada hadiah untukmu!", makhluk yang dipanggil Ratu Huban tadi terdengar bersemangat. Ia mengayunkan tongkat aneh yang dibawanya dan oh, sebuah gumpalan putih seperti awan berkaki empat muncul di depan Day.

"Baa..."

"Oh!" Day memekik kaget, matanya berbinar. Namun sesaat kemudian alisnya berkerut.

"A-apa maksudnya ini?"

"Domba ini mulai sekarang kuberikan padamu. Kau bisa menungganginya atau mendandaninya sesukamu. Pakaikan ia topi atau syal mahal dari Armandi atau apalah."

"Maksudmu Armani." Day bingung, ia hampir meregang nyawa dan yang ia dapatkan cuma hewan piaraan?

"Ya, ya, terserah". Si muka bantal itu berbalik dan mengacungkan ujung tongkatnya ke udara. Percikan kembang api keluar dari ujungnya yang kemudian berubah menjadi semacam lubang gelap. Sebuah portal. Day pernah melihatnya.  Temannya saat SMU memiliki kemampuan yang sama yaitu membuat portal antar-dimensi.

Jenna anak yang baik, tetapi kekuatan supernya dianggap pemerintah terlalu "mencemaskan". Suatu hari, ia menghilang begitu saja tanpa kabar dan semua orang dewasa di lingkungan maupun sekolah bertindak seolah tidak terjadi apa-apa.

Ratu Huban telah masuk lebih dulu.

"Kau duluan, Nona Fort". Pimp McShades  tersenyum. Well, setidaknya walaupun benar ia seorang germo,  ia seorang gentleman.

Saat Day dan domba barunya melangkah ke dalam Portal, satu-satunya yang ia pikirkan adalah berendam di air panas dan pergi ke spa.


END OF EPISODE 1

22 komentar:

  1. Oooh, saya suka ini. Penuturannya enak, khas gaya cerita barat tapi fleksibel dan bener-bener ngeflesh-out karakter Daytona jadi kegambar jelas. Saya juga iri sama perbendaharaan kata"nya yang lumayan banyak, bikin saya ngerasa nemu sesuatu yang baru sepanjang baca

    Karakter wanita kuat emang gampang ngasih daya pikat, ya

    Nilai 9

    BalasHapus
  2. Wah, ini cerita komplit. Karakterisasi terasa unik, limitasi limitasi Bingkai Mimpi dimasukin dengan pas, battlenya seru dengan ending yang klimaks.Salah satu potensi rookie of the year BoR VI sepertinya.

    Saya beri nilai 9

    Fahrul Razi
    OC: Anita Mardiani

    BalasHapus
  3. huo pertarungan sesama super human. lalu knp mantannya harus botak? yg kebayang malah saitama. maafkan imajinasi yg smakin liar ini. yg paling ngeri tuh pas minum darah jd krasa kaya kanibal. nggak mau byangin deh. hmm...hasilnya 9

    Kuro Godwill

    BalasHapus
  4. Altem - Po

    Entri ini bener2 fresh buatku, selama ini jarang ada yg bisa mengeksplor gaya cerita modern gaul nyaris teenlit tapi malah memadukan itu dengan tema aksi dan superhero/meta-human. Ini aja udah twist yg luar biasa buatku.

    Pengenalan sifat2 karakter dilakukan dengan sangat smooth, permainan gertak mental pake dialognya asik, dan pemanfaatan skill earth-bendingnya juga nggak jor-joran tapi tepat banget.

    Meski kurasa trik earth-bendingnya ke besi perlu dijelasin lebih gamblang. Mungkin perlu tambahan satu kalimat lagi utk ngejelasin bahwa earth-bendingnya Day itu berlaku jg ke besi. Aku jg agak heran, apa yg bikin Daytona naksir sama Saitama in the first place, kyknya kecerdasan Saitama ngalahin Day dalam adu ejekan kerasa agak kurang natural sebagai penyebab, dalam artian karakter si mantan ini kurang halus build-upnya sebagai org yang witty.

    Twist darahnya juga asik. Mudah2an cerita Daytona masih nyimpen kesegaran sepanjang perjalanannya di BoR ini, dan selektif untuk ngeluarin twist2 yg paling nonjok di momen2 babak yg betul2 menentukan.

    Nilai 10/10

    BalasHapus
  5. Jujur saja, impresif. Sepertinya tidak ada yang bisa saya kritisi selain penggunaan kata tak baku yang terasa sangat kontras dengan keseluruhan tulisan.
    Gaya tulisannya tertata apik, dengan beberapa kosakata yang terkesan baru bagi saya. Bagian yang saya suka ketika Day mengalami kilas balik saat akan mengiris leher Snow dan ketika mendekati ending saat Day dihampiri oleh Zainurma dan Ratu Huban.
    Nice work!

    Overall score : 8

    At last, greetings~
    Tanz, Father of Adrian Vasilis

    BalasHapus
  6. GHOUL: “Baru paragraph awal, dah ada yang ngegombal. Posisi pertarungannya mengingatkannya pada posisi di atas-atap-mobil?” (langsung pik-tor) :=(0 “Kalo aku bertarung dengan wanita ini, bisa jadi aku jadi cowok mesum kalo posisinya begitu!”

    SHUI: “Hm soal hubungan orang dewasa dan karir bukan tipe bacaan favoritku sih, jadi aku hanya baca setengah. Tapi kayaknya bagus meski alurnya lamban2 kayak nonton film barat ajah. Bisa jadi ini agak membosankan bagiku…” (nguap dikit).

    SUNNY: “Aku suka kalimat gombalnya dan juga gaya bahasanya. Tapi ada awalan di yang sebagai kata pasif malah dipisah jadi kayak kata depan tempat. Hm, banyak tipo nih, baca review di entri2 sebelah ya soal kata ‘dan’ yang dipisah koma.”

    GHOUL: “Alurnya sih dramatis, mengalir kayak angle kamera di cinema2. Hm, tapi ada banyak tipo ditemukan oleh Sunny. Kita kasih 8, deh!” :=(D

    BalasHapus
  7. Saya suka!
    Gaya penceritaan yang oke, dialog yang asyik, pertarungan yang seru. Detail ada dan takarannya pas, tidak berlebihan dan tidak kurang juga. Day bukan hanya brute, tapi bisa memutar otak juga buat mengalahkan lawannya.

    10/10 dari saya
    OC: Adolf Castle

    BalasHapus
  8. Saya juga suka!
    Wanita dewasa yang kuat memang mengagumkan, apalagi dengan karakterisasi yang halus dan ngena. Pertarungan yang diberi kilasan masa lalu menambah kenikmatan saat membaca. Mungkinkah Day masih cinta dengan mantan pacarnya?

    Paling suka saat mereka bercinta di atap mobil. Tapi laki-laki memang menyebalkan ya. Delapan kata yang diucapkannya juga menyebalkan

    Nilai : 10
    Merald

    BalasHapus
  9. Wow...
    Mendapatkan nilai sempurna dari para senpai dan peserta lainnya, ini sebuah kebanggan tersendiri bagi author*bahkan sayapun tak prnah lbih dri angka 8(klo dirata2). Jadi selamat untuk anda, semua nilai diatas benar-benar cocok untuk diberikan ke entri ini. Pembawaan narasi yang smooth namun tetap terkesan elegan sesuai dengan daytona yang notabenenya seorang wanita dewasa nan glamour.
    Semuanya terkonsep secara utuh, pembukaan sekaligus pengenalan tentang siapa daytona, penceritaan kehidupan sehari-harinya bahkan sampai konflik percintaan yang melibatkan sebuah pertarungan yang epic.
    Entah ini bisa disebut kekurangan atau bukan, saya hanya tidak paham dibeberapa istilah, terutama jenis pakaiannya jadi saya harus googling dlu biar dpet imajinasi tentang pakaian yg ia pakai dan sobek ditengah pertarungan. *_*

    Nilai : 9
    Mahapatih Seno

    BalasHapus
  10. Ketika para veteran mendiskusikan Daytona, saya sempat penasaran kenapa Entri Daytona begitu... fenomenal.

    Dan sepertinya saya udah gak perlu ngejelasin lagi.

    Semua aspeknya dapet. Dan sama seperti orangnya, karakterisasi Daytona begitu kuat. Benar-benar wanita tangguh.

    Battle dan adu mulutnya juga intensif. Sangat bisa dinikmati.

    Saya tidak perlu panjang lebar lagi, karena entri ini sudah menunjukkan kenapa ia pantas mendapat nilai 9/10

    semoga saya bisa menyaksikan Mbah adu jotos dengan Daytona

    ttd.

    Enryuumaru, author Mbah Amut

    BalasHapus
  11. gaya bahasa menarik dan lain drpd yg lain, ditambah bbrp produk dan kata2 import yg agak nyess sewaktu dibaca

    benar2 menggambarkan kehidupan seorang sales wkwkwk, kemampuan dalam berkata2

    dan yg agak menakutkan dan aneh adalah di bagian 'saat menempelkan bibir di leher, lalu menghirupnya sesuka hati' gw jadi berpikir kalau dia minum lewat hidung... dihirup -_-

    nilai 9
    Samara Yesta

    BalasHapus
  12. gaya bahasa menarik dan lain drpd yg lain, ditambah bbrp produk dan kata2 import yg agak nyess sewaktu dibaca

    benar2 menggambarkan kehidupan seorang sales wkwkwk, kemampuan dalam berkata2

    dan yg agak menakutkan dan aneh adalah di bagian 'saat menempelkan bibir di leher, lalu menghirupnya sesuka hati' gw jadi berpikir kalau dia minum lewat hidung... dihirup -_-

    nilai 9
    Samara Yesta

    BalasHapus
  13. Nagih utang komen karena dah lama baca.

    Gaya penuturan modern, seperti yang saya suka. Tidak perlu banyak penjelesan tak penting, langsung sikat to the point. Apalagi ditambah oleh sisipan-sisipan inggris, pas banget deh jadinya.

    Dan, yah, yang paling memorable dari entri ini adalah Daytona yang bener-bener menghisap darah Leonhard dengan lahapnya sampai kerongkongannya serak karena darah. Bener bikin saya kaget but epic af!

    Semoga di entri-entri selanjutnya bisa bikin kejutan-kejutan seperti itu lagi.

    Nilai 10, karena juga memberi saya sebuah inspirasi.

    OC: Alexine E. Reylynn

    BalasHapus
  14. Ide : Sangat Baik = 2
    Plot : Sangat Baik = 2
    Tingkat kemudahan di cerna : Sangat Baik = 2
    Usaha : Sangat Baik = 2
    EYD : Sangat Baik = 2

    Ini cerita yang benar-benar keren. Pembendaharaan katanya luar biasa jangan2 sang penulis cerita ini kamus berjalan.

    Nilai : 10

    Newbiedraft / Revand Arsend

    BalasHapus
  15. bersetting cerita barat seperti nonton film Hollywood. saya suka dengan penggambaran ceritanya. mantan botak mengingatkanku pada Saitama atau Lex Luthor. alur ceritanya yang halus dan mulus membuat saya tidak berhenti membaca sampe habis.

    "Day mengepalkan dan merentangkan kedua tangannya." ini yang membuat saya agak nggak ngeh. untuk akhiran -kan, menurut saya mending digunakan di kata kedua. kalo digunakan di kedua kata jadinya terkesan boros..

    oke nilai dari saya 9. semoga sukses..

    Dwi Hendra
    OC : Nano Reinfield

    BalasHapus
  16. well, sebagai entri full action.. ini salah satu yang terbaik.

    pemaparan konfliknya cukup seru, BGnya Day juga punya potensi besar untuk digali lebih dalam lagi. dan yang terbaiknya tentu saja porsi battlenya.

    yah ada sedikit kesalahan minor di penarasiannya, tp itu gak terlalu berpengaruh

    9

    BalasHapus
  17. Hm...

    Nemu beberapa kesalahan penulisan kecil, but it doesn't matter, saya suka penulisannya, narasinya, dan adegan pertarungannya.

    Geh, konflik fisik dan batinnya dengan si botak juga cukup berkesan, though kinda hoped you can spend more time in editing this piece.

    This stunning lady deserves 9 points from me!

    Asibikaashi

    BalasHapus
  18. Great scott! Ada beberapa tanda baca yang nyasar, entah itu terdampar di balik tanda kutip atau engga ada sama sekali. Tapi masalahnya itu engga ngaruh ke pembawaan di cerita ini. Mulus dan witty. Pemilihan katanya semanis sekaligus segalak peran Meryl Streep di TDWP. Kalimat-kalimat pendek tentang masalah masa lalunya mbak Day, pas. Yiph, kedepannya agak dirapihin aja naro tanda bacanya dan semua bakalan lebih perfect'. 10/10

    Oc: Namol Nihilo

    BalasHapus
  19. sebenernya udah baca lama... tapi... pas itu blom sempet komen dan baru bisa buka leptop setelah sekian lamma //slapp

    astaga keren ini bayangan pertama setelah baca, narasinya saya enjoy bacanya, ga ada bosennya... err.. sedikit sih tapi untuk adegan battlnya ini sumpah saya ga bisa berkata apa2... ITS OVAA AMAAAZEEEENNNNNGGGG

    9/10
    Kagero Yuuka
    OC Airi Einzworth

    BalasHapus
  20. Walaupun harus mati sekalipun, Daytona Lewis Fort harus mati secara fabulous.
    >> FAB ALL THE WAY


    Plus :
    + Konsep
    Konsep superhuman model gini ngingatin saya sama film-film Hollywood yang emang lagi naik daun macam Avengers, apalagi bekerja "untuk pemerintah". Saya rasa di turnamen yang based on Dream ini, kehadiran superhuman jadi variasi tersendiri. At least, di 7 OC pertama saya baca cukup variatif sih.

    + Bahasa
    Bahasanya, novel barat, banget. Tapi saya suka. Hahahaha. Saya juga suka beberapa bahasa Inggris yang di-Indonesia-kan macam Jalang, Bajingan beruntung. wkwkwk
    Meski saya bacanya pake bahasa Inggris.

    + Battle
    Battle saya bedakan dengan konflik. Battle disini cukup intens ya. Si Snow yang akan mendapat upah kalau berhasil bunuh si Day, dan Day yang ngamok karena ditinggal mantan. Daytona Fort : Amarah sang Mantan #bukan
    Terus, saya liatnya macam IronMan vs Hulk atau Civil war kemaren. Para superhuman beradu kekuatan. hehehe

    + Konflik
    Tadinya, saya pikir Day tipe cewe pemarah, seandainya kereta kenangan itu ga ada. Karena ini di daerah barat (bukannya mau rasis sih) saya sempet mikir 'Halah, hamil ditinggal, move on laaa'. Tapi pas ada kereta kenangan dan apa yang dirasakan Day, saya mendadak paham dengan amarahnya terhadap Snow. Laki-laki gitu harus dihajar emang sih hahaha


    TBH ini ngingatin saya sama Hancock, tapi bedanya, di film Hancock si cewe yang kabur dari suaminya dan nikah dengan manusia biasa, dan mereka berdua bener2 tinggal berdua di bumi. Ada typo, tapi ga bikin tensi saya turun. Hal yang ga penting, judul ini mirip tema chorus battle yang pernah saya ikuti Orz


    Seriusan ROOKIE OF THE YEAR ini mah

    Congrats


    SCORE
    Basic : 5
    Plus : 4
    Minus : 0

    Total Score : 9


    -Odin-

    BalasHapus
  21. Ini ... saya sebenernya bingung mau nanggepinnya gimana. Di satu sisi kurang suka sama gaya-gaya yang terjemahan bgt (soalnya gaya saya lokal banget, hehe), tp mesti diakui saya banyak belajar dari entri ini. Terutama buat bangun tokoh yang ... keren dan, apa yha istilahnya, berkelas. Yha seriusan, ada rasa kagum yang sulit dijelaskan. Walau jujur, kurang suka sama gaya yg barat banget--apalagi saya emang gak tahu menahu kalau berhubungan dengan karakter tipe Daytona ini.

    Yah walau bukan selera, kalau secara objektif saya titip 9 karena perfect (ada sih gangguan minor, tapi tak apa).

    -Sheraga Asher

    BalasHapus
  22. YEEESSHHH AKHIRNYA KETEMU JUGA ENTRI PERTAMA YANG SESUAI BANGET DENGAN SELERA SAYA!!!

    Ehm, plot serta background western yang dibangun sangat kokoh. Sekali lagi saya katakan, entri ini sangat mewakili selera saya jadi menurut saya entri ini flawless!

    Komedi yang diusung pun datang dan pergi secara enak dan halus, salute!

    Entah apakah faktor selera dapat dijadikan nilai plus, tapi akan tetap saya jadikan nilai plus soooooo......

    Walakhir 10 !
    Ganzo Rashura

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.