Selasa, 20 September 2016

[ROUND 2] 24 - NAMOL NIHILO | TIGA

oleh : Aesop Leuvea
 
--
 
TIGA



Hansel dan Gretel


Beberapa tahun lalu

Coba perhatikan itu, gumpalan lumpur kecil berambut senja! Menjijikkan setiap hari! Gretel memaki tanpa suara. Makian yang dilandasi sepenuhnya rasa benci di sisa-sisa serpihan hatinya. Sangat intens pula, silabel per silabel dari makian tersebut, sampai-sampai bisa menyamai ibtida para pendoa yang sedang menjalankan ritus dan menganggap dunia sekelilingnya tidak ada, terhalau khusyuk.

Karena sesungguhnya, akhir-akhir ini, dalam konsep waktu yang sudah kian mengabur dan nyaris tak lagi diketahuinya, Gretel memang hanya bisa melakukan sebatas itu saja.

Dulu, gadis berambut pirang bernama Gretel ini berprofesi sebagai fotografer, yang juga hobi jalan-jalan. Gretel hidup pada belahan bumi yang berbeda di setiap akhir pekan. Ia berpetualang berdua.

Bersama Hansel, sahabat laki-lakinya yang berprofesi sebagai tunakarya, atau lebih suka disebut sebagai pujangga idealis; karena Hansel lebih senang menulis apa yang dilarang untuk dipikirkan khalayak, daripada menulis jurnal rata-rata yang membahas suhu planet, adat, tokoh penting, atau novel-novel menggugah.

Apa pun, pokoknya, jenis tulisan yang mampu mendatangkan cukup koin ke pundi-pundi, seolah Hansel hindari. Dan Gretel memilih keliling bumi bersama jenis laki-laki pembawa masalah itu—tak heran kalau mereka bahagia.

"Kita berhasil menemukannya, Gretel! Gerbang! Itu pasti jalannya! Jalan menuju beragam misteri yang baru!" seru Hansel di perjalanan terakhir mereka. Gretel masih ingat setiap kalimat bersemangat yang diutarakan sahabat baiknya itu, juga pemandangan setiap tetes darah yang merembes dari lubang di tubuh mereka. Menggantung dan menetes melalui ujung stalaktit gua terlarang di pedalaman Afrika, seperti air mata.

"Anak-cucu kita," kata Hansel, sekarat tapi bersemangat, berkumur darah tapi tetap fasih, "demi anak-cucu kita! Ini semua ... oh, bisa kubayangkan, sangat indah! Masa depan mereka ... bernapas di luar atmosfer ini, berenang menembus nebula, bersalaman dengan mitos-mitos yang mungkin hidup dan tumbuh di antara cahaya, di kejauhan yang telah terjangkau sana. Gretel ... katakan, apakah aku berhasil menjadi satu yang berguna untuk dunia? Apa—apakah kau menyesal berada di sini bersamaku?"

Gretel ingat, saat itu ia tersenyum. Menangis menahan sakit setengah mati, tapi tersenyum. Dan gadis itu berkata, lirih, "Aku sayang kamu, apa pun yang terjadi."

Hansel tersenyum lega dan membalasnya, tanpa kurang satu kata pun. Setelah itu keduanya menutup mata. Siap untuk tidur panjang. Bersebelahan tersalib di langit-langit gua. Beberapa stalaktit menembus tubuh mereka, menjaganya dari jatuh dan bencana lain yang mungkin jauh lebih buruk dari sekadar kematian.

Karena tepat di bawah mereka, di antara tumpukan kristal merah pekat yang tak lazim, sebuah kolam berair ungu kehitaman berpendar mengancam. Bayang-bayang gerbang batu solid dari abad pertengahan membias di permukaannya.

Sebelumnya, Hansel tahu tentang gua terlarang ini, terima kasih untuk sejawatnya. Seorang idealis lain yang berhasil meretas sistem cabang pemerintah bersangkutan. Setelah mencetak koordinasi lokasi anomali yang terprediksi berada di pedalaman Afrika, berikut keterangan lengkap seputar probabilitas dari berbagai reaksi yang dapat ditimbulkan; salah satunya adalah pembentukan portal dimensi, ia segera mengirimnya ke Hansel.

Dan Hansel segera berangkat ke tempat yang dituju. Mendahului agen-agen pemerintah, melakukan ekspedisi bersama Gretel. Tanpa tahu bahayanya. Mereka berdua berhasil menemukan akses tangga rahasia di antara retakan patung agama domestik kuno. Tangga itu membawa mereka cukup jauh ke bawah tanah, ke gua terlarang, di mana kristal-kristal alien tumbuh subur. Menerangi keseluruhan ruang dengan pendar sepucat racun.

Di ujung jalan, Hansel dan Gretel menemukan sebuah gerbang batu yang tenggelam di dasar kolam berair aneh. Warnanya ungu gelap, aromanya seharum bunga-bunga berwarna cantik, dan masanya berat ketika Hansel mencoba meraupnya. Dan ketika itu pula, ketika tangan Hansel menyentuh permukaan air, pijakan mereka naik. Cepat seperti darah yang terpompa. Hansel dan Gretel menabrak telak langit-langit berstalaktit keras.

Beruntung, nyawa keduanya tak langsung putus. Sempat terkatung-katung selama beberapa detik. Seolah mengizinkan ucapan selamat tinggal, maaf, dan semua lisan lainnya untuk diutarakan. Selesai itu semua, Hansel dan Gretel berpasrah menunggu kematian. Tidak terlalu banyak yang harus disesali di hidup mereka berdua.

Bagi Hansel, ia telah mengirim pesan khusus untuk sejawatnya secepat setelah ia menemukan tangga rahasia. Situs ini akan menjadi milik publik dalam waktu dekat. Gerbang antardimensi, yang diduganya sendiri, akan mampu dinikmati oleh penghuni bumi tanpa terkecuali. Perubahan besar-besaran, itulah warisan dan harapannya.

Sementara bagi Gretel, gadis mandiri yang selalu berharap bisa memotret berbagai objek dengan mulutnya sendiri, bisa mengembuskan napas terakhir di samping sahabat baik yang sangat menyayanginya, sambil dikelilingi kristal asing yang cantik-misterius, itu sudah cukup romantis. Akhir yang layak untuk sebuah perjalanan singkat, tapi mampu menjadi abadi di bawah tanah tanpa cahaya jelas sekalipun.

Meski ternyata, Gretel harus selamat dan melanjutkan hidup.

Bocah-lumpur cengeng! Kenapa lagi sekarang? Menangis terus! Manja!

Sendirian, terpisah dari Hansel.

Hey, cengeng, sampaikan ini pada si lumpur tua, biarkan aku mati!

Terpenjara di dalam tubuh asing. Tinggal di tempat yang tidak ia kenali.

Aku ingin mati! Mati! MATI!

Jauh, segalanya sangat jauh dari apa pun yang ia tahu sebagai manusia.

Kumohon ... bunuh aku. Biarkan ini berakhir ....

Karena di hari itu, hari yang seharusnya menjadi hari kematiannya, Gretel dipertemukan dengan sosok penyelamat, sekaligus paria; nantinya, untuknya. Waktu itu gerbang batu di dasar kolam berair ungu membuka lebar, dan muncullah ke permukaan: sesosok berkulit gelap berambut oranye. Sosok yang patut dinasehati, ditertawakan, atau dikasihani kondisi fisik serta selera berbusananya di waktu yang lebih baik.

"Messier Hamal, salah satu Juvas dari Regaia." Singkat saja sosok itu memperkenalkan dirinya menggunakan nada tegas-simpatik. Lalu Messier menarik tubuh sekarat Gretel dari cengkeraman stalaktit, menggendongnya di depan dada, membiarkan Hansel, dan kembali ke dalam gerbang batu.

Sejak hari itu, Gretel harus hidup sebagai sesuatu yang lain. Yang bahkan tidak diketahuinya. Sejak hari itu, Gretel harus melewati kehidupan barunya—yang berkeadaan paralisis total—dengan melemparkan makian pada apa saja.

Lumpur-kecil berambut konyol, hey! Dengarkan aku! Ambil pedang aneh itu lalu tebas kepalaku! Cepat! Gretel berseru putus asa di dalam pikirannya sendiri. Berharap makhluk kecil berkulit hitam, berambut oranye, dan sedang menangis meringkuk di hadapannya, mampu memahaminya.

Terdengar desisan suara pintu yang membuka. Seketika, hal itu membuat makhluk kecil di depan Gretel bangkit seperti robot, mengelap wajahnya sendiri dengan ujung baju.

"Ah, Namol? Jangan main di sini. Ini bengkel Ayah. Banyak benda penting di sini. Cepat, keluar! Kembali ke kamarmu, Nak," kata sosok yang baru datang. Sosok yang sangat dikenali Gretel. Si lumpur-tua, Messier Hamal.

Sementara Gretel melihat si lumpur-kecil, Namol, keluar ruangan, Messier menghampirinya dengan senyum hangat mengembang di wajah.

"Proses transisinya akan selesai dalam waktu dekat," ujarnya sambil mengoperasikan beberapa tablet kromium sekaligus. "Kau sudah berjuang dengan sangat mengagumkan, Puppis." Messier diam, fokus dengan tablet.

"Tapi setelah ini semua selesai," lanjutnya, "mungkin akan terjadi beberapa kerusakan memori lagi. Aku akan menambalnya dengan berbagai pengetahuan Regaia, dan hal lainnya. Selain, tentu saja, pengetahuan tentang planet asalmu. Untuk saat ini, kenangan di kehidupan masa lalumu hanya akan memicu masalah. Trauma sebesar itu akan langsung membuat stabilitas tubuh barumu kolaps. Dan ...."

Messier terus saja mengoceh di depan Gretel. Pendar biru menerangi wajahnya dan menjadikan kacamatanya mengilat di sudut-sudut tertentu.

Gretel memperhatikannya dengan kebencian mutlak. Aku enggak peduli sama omong kosongmu, Profesor Sakit. Dan sekali lagi, namaku adalah Gretel. Bukan Puppis. Sekarang cepat, bunuh aku. Aku ingin mati.

Hansel sudah terlalu lama menungguku di surga sana.





Konstelasi, Pinata, dan Adonan Biang


Saat ini

Di dalam redup kamarnya yang dihiasi oleh seratusan cermin, Namol Nihilo merana sendirian. Bersedih dan bertakut-takut di atas tempat tidur. Ada empat hal yang sedang dipeluknya saat ini: totem berbentuk peri kecil berambut jabrik, totem berbentuk cacing merah muda berkaus kaki, pinata karet pemberian ayah yang kerap dijadikan guling, dan kecemasan.

Ini adalah fase di mana Namol merasakan sebentuk lelah yang menghampakan, tapi lelah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kondisi tubuh yang kurang fit atau semacamnya. Namol selalu mengira, di fase ini, jiwanya pasti sedang berdarah-darah. Mati dari dalam. Sangat perlahan, dan pasti.

Warna merah di kedua matanya meredup kosong, terpecah seperti sampah kaca. Kumis melingkarnya tampak turun dan layu, persis tanaman tertentu yang lama mendambakan cahaya matahari. Rambut ikalnya yang berwarna oranye dibiarkan mengembang acak-acakan di atas bantal, sementara selurus rambut hitamnya menempel di pelipis. Ada bulir-bulir keringat di sekujur tubuh rampingnya yang berkulit gelap, yang menitik dingin dan anehnya melemahkan. Lalu, tanpa ada sehelai benang pun yang melapisi keberadaannya kini, Namol, benar-benar telanjang luar-dalam di tengah dunia besar yang saling berfusi—yang mana sesaat lagi harus dihadapinya mau tak mau.

Dalam semua keadaan itu, satu lagi—dari lima terakhir yang berurutan menyerang sejak beberapa menit lalu—dapat dirasakan sebuah guncangan besar yang asalnya dari luar sana. Guncangan yang juga seolah membuat dunia berkedip. Kehebohan tersebut berhasil mengganggu keheningan kamar ini, dan Namol sendiri.

Deretan cermin di dinding, lemari, dan interior lain dibuat bergetar dan berayun. Langit-langit sesaat menghujani sekeliling dengan repihan materi bangunan bercampur debu. Dan seperti yang sudah-sudah, Namol langsung bangkit, turun dari tempat tidur. Takut-takut sekaligus kepayahan, berjalan ke depan salah satu jendela.

Pemandangan di luar sana tidak lebih baik dari suasana hatinya. Langit senja milik Bumi bercampur langit merah pekat milik Regaia. Perkawinan dua dunia yang menciptakan berbagai anomali.

Semacam lautan abu-abu dari gravitasi yang menipis dan menebal, mengangkat bangunan-bangunan, jalanan, beserta beberapa aset alam sampai jauh ke udara. Mereka berpusar dan tercampur bersama makhluk-makhluk langit lain.

Burung raksasa dari Regaia, yang surainya terdiri dari pelesatan spektrum warna-warna fobia, yang dari sayap-sayap berduri kelabunya mampu menghujani daratan dengan semacam kristalisasi serpihan panas bintang-bintang mati; kapan pun dikepakkan, terbang begitu saja melintasi sebuah stasiun dan sekelompok manusia yang menunggu kereta pulang. Tapi tidak ada keributan dari pihak mana pun setelahnya.

Tidak ada respons heboh terhadap keberadaan stasiun yang terapung ribuan kaki di udara, atau pemandangan rel kereta yang terpuntir sedemikian rupa sampai membentuk simpul-simpul rumit. Semuanya normal ketika gedung-gedung terburai sesaat sebelum saling bertabrakan. Ketika daratan membangkitkan tanah-tanahnya, kemudian sosok kolosal itu berjalan seperti raksasa akhir zaman, melewati elemen-elemen lain yang ikut berevolusi.

Mereka semua tercampur tapi tetap bergerak dan hidup sendiri-sendiri.

Di tengah semua abnormalitas itu, Namol secara dingin terpaku. Masih di depan jendelanya. Anehnya, merasa semakin kesepian.

"Tujuh ... delapan ... sembilan," ia menggumam sambil mencengkeram gorden, menghitung jumlah guncangan, dan tirai gelap pekat yang selama sepersekian detik seolah menelan dunia ke dalam dimensi tanpa cahaya. Interval datangnya semakin tak menentu.

Namol berspekulasi, semua guncangan dan kegelapan ini pasti berasal dari proses menyatunya Bingkai Mimpi. Demikian yang disampaikan oleh Sang Kurator beberapa saat lalu. Sebagai tantangan di pembuatan karyanya sekarang, Namol harus berhadapan satu lawan satu dengan pemimpi lain. Bertarung, dalam artian bebasnya, di dalam dua Bingkai Mimpi yang dijadikan satu.

"... tiga bel—" Namol berhenti tiba-tiba, sendi kakinya goyah dihantam guncangan mengentak, berkali lipat lebih keras dari yang sudah-sudah. Disusul kemudian oleh tirai kegelapan yang kali ini bertahan lebih lama. Membekap semua bentuk.

Mustahil untuk berdiri tegak, Namol memutuskan untuk mengumpat dan bersimpuh sambil sebelah tangannya mencengkeram lis jendela. Guncangan ketiga belas ini berlangsung selama hampir semenit penuh. Terdengar beberapa cermin jatuh berserak, dinding dan lantai terbelah, retak bercabang-cabang.

 Setelah guncangan mereda, kegelapan menguap, dan pijakan kembali menjadi cukup aman untuk dipakai menegakkan tubuh, Namol berdiri. Sekilas, ia perhatikan kinerja dari sistem reparasi otomatis rumah besarnya yang segera memperbaiki semua jenis kerusakan. Dinding, lantai, langit-langit, interior, semua pulih dan tampak seperti baru hanya dalam hitungan beberapa tarikan napas saja. Lalu Namol kembali melihat keluar jendela, dan segera mendapati masalah.

Sekitar seratusan sosok-sosok yang mengenakan bermacam jenis zirah, dan kesemuanya mengangkat senjata masing-masing dengan sikap syahdu, berbaris di halaman rumah besarnya. Namol menelan ludah. Ia mundur perlahan dari ambang jendela sambil bertanya-tanya, kapan sepasukan perang itu tiba di sana? Dengan cara apa mereka menerobos sistem keamanan berupa energi pelindung semitransparan, yang seharusnya mampu menahan apa pun?

Jeda sedetik setelah pertanyaan mental itu terpikirkan, jawabannya langsung muncul. Sepasukan berzirah abad pertengahan itu bisa masuk sampai ke halaman rumah besarnya, berdiri melumat taman logam ibunya, karena sistem keamanan memang tidak diaktifkan. Namol bisa melihat dari tempatnya berdiri gemetar, tidak ada bayang-bayang atau pendar samar dari energi pelindung semitransparan di langit teritorial rumahnya, atau sebagian wilayah pagar yang terlihat.

"Si-siapa yang mematikan sistemnya?" bisik Namol, pelan. Karena seingatnya, dan sesadarnya, ia tidak, dan memang tidak akan pernah mau mematikan jenis keamanan apa pun di masa-masa seperti ini. "Apa yang harus kulakukan?" lanjut sosok berambut oranye itu, dalam keadaan masih telanjang bulat, sambil meremas-remas sisi kepalanya dengan tingkah frustrasi.

"Apa yang seharusnya bangsa Juvas dari Regaia lakukan," kata sebentuk suara di balik punggungnya. Suara berat yang terdengar tegas-menyenangkan. "Analisa, serap, dan bertindak. Ah, ini—"

Namol tersengat. Suara itu memberikan sebuah efek kejut yang lebih membekukan darah, dari sekadar pemandangan seratusan sosok berzirah di luar jendela sana. Karena suara itu adalah suara familier yang selalu memintanya untuk menjauh, di berbagai kesempatan, di masa lalu. Suara itu milik ayahnya.

Namol balik badan seperti mainan antik yang digerakkan oleh roda gigi. Ayahnya, Messier Hamal, ternyata memang berdiri di sana. Ada, berkacamata, nyata. Tak sampai dua meter jarak yang memisahkan.

Lantas, sang ayah tanpa basa-basi melempar semacam jubah mandi pada anaknya. Dan si anak, kelihatan kikuk, menerimanya dan segera mengenakannya.

"Kecuali," sambung Messier, kasual, dengan sikap seolah-olah obrolannya yang terhenti tadi sangat sayang jika tidak dilanjutkan, "kalau taman logam Ibumu terlibat, dan Ibumu ada di tempat."

"Hah?" Namol nyaris berbisik, rasa tidak percaya dan kebingungan sekaligus beradu di kepalanya seperti domba yang memperebutkan kekuasaan.

Messier tersenyum, menunjuk keluar jendela menggunakan dagu. "Namol, Nak," katanya, lugas, "pertanyaanmu tadi, tentang apa yang harus dilakukan di situasi seperti ini? Sebagai Juvas dari Regaia, jawabanku adalah menganalisa, menyerap, dan bertindak. Tapi kuralat itu, karena kondisi yang kita hadapi ternyata lebih unik dan sederhana. Dapat?"

Saat ini Namol sudah kembali memandang keluar jendela. Dan ia merasa langsung mengerti makna lelucon aneh yang dilontarkan ayahnya sebagai pengganti salam barusan.

Dari jendela yang tak terlalu besar itu Namol menyaksikan semuanya. Tepat di bawah langit senja milik Bumi yang kian menggelap, yang ditingkahi bercak-bercak besar dari pekatnya merah langit Regaia, dan benda-benda yang bercampur beterbangan di antaranya, sepasukan berzirah di halaman rumah besarnya dibantai dengan sangat brutal. Dihabisi, diremukkan, oleh satu sosok.

Wanita seksi berambut emas, berkulit biru.

"Hubble Meissa-ku," siul Messier, penuh damba. "Kangen sama Ibumu, Nak?"

Namol, meski sudah berkali-kali melihat ibunya mengamuk, tetap terpukau dan akhirnya hanya bisa merespons, "Ibu gemukan, eh?"

"Sebaiknya jangan disinggung," bisik Messier was-was dan buru-buru. "Apa pun selain itu, Nak. Apa pun selain itu!"

"Oh, y-y-ya! Tidak—maaf! Maksudku, aku hanya bercanda!"

"Hah! Tentu, tentu. Ayo, Nak, kita tunggu bidadari itu di ruang makan."

Messier menuntun Namol, yang masih sangat meragukan beberapa kejadian terakhir, sampai keluar kamar. Sementara di halaman sana, sang ibu masih bergerak secepat kilat, menyisir setiap jengkal taman logam miliknya, menghantam apa saja yang mengenakan zirah. Gemeretak besi-besi yang patah dan hancur sampai terdengar jauh ke bagian dapur terdalam. Tempat akhirnya Namol dan sang ayah menetap, menyantap beberapa roti hangat. Mengobrol dan meluruskan sebagian masalah di antara mereka.



***



"Jadi, akulah Sang Kehendak," kata Messier santai sambil menggigit baguette berlapis debu bintang Herkules.

Sang ibunda, Hubble Meissa, yang belum semenit bergabung dengan Namol dan Messier di dapur luas bernuansa hutan; dengan sederet kursi kayu panjang dan konter hitam setengah lingkaran, sudah sibuk melinting segaris penuh dedaunan kering dari ekstrak vegetasi planet mati, mencampurnya dengan bubuk berkomposisi zat adiktif racikan, lalu membakar dan mengisapnya dalam-dalam.

"Dia benar, loh," katanya, menggunakan nada dalam yang sangat kental dan seksi, dan sudah sangat akrab di telinga Namol. Terutama ketika ibunya itu sedang memerintahkan agar taman logamnya disiram sesuai porsi setiap setengah hari. "Messier Sang Kehendak, pffft, itu nama lahirnya, famnya," tandas sang ibu. "Serius konyol, huh? Selangkanganku langsung gatal."

"Hey, Sayang, jangan bocorkan isi leluconnya!" geram Messier, kacamatanya melorot sampai ujung hidung.

Hubble membentuk asap rokoknya jadi segitaga sama kaki sebelum membalas dengan lugu, "Ah, tadi itu sedang melucukah, Matahariku? Sayang sekali, ya, aku batal ketawa sampai mati."

"Kadang, kau menjadi sangat cantik ketika sedang diam, Hubble Sayang."

"Hm, ya?" Dua garis alis tajam Hubble terangkat. Kedua matanya yang selalu tampak sayu menyipit menggoda. Sambil menjatuhkan bokongnya di kursi tinggi di sebelah suaminya, Hubble bersedekap, mencondongkan tubuh ke samping. Tapi ia tak bisa menunduk terlalu dalam karena dadanya mengganjal di permukaan konter. "Mau bercinta?" desisnya lalu.

Messier mengecup pipi istrinya itu. "Tapi jangan rusak rumahnya, oke, Seksi? Kita masih harus mengobrol dengannya."

"Tentu, Kejoraku." Hubble melempar rokoknya ke pojok dapur. "Tentu, Manis."

Dan mereka pun saling serang. Hubble menendang kursi panjang Messier, sementara suaminya itu segera melompat ke atas konter dan melayangkan tendangan balasan. Mereka juga saling pukul, menciptakan gelombang kejut di setiap benturannya. Mereka terseret menyeberangi ruangan, memecah belah lebih banyak interior.

Dapur ini seketika berasap karena rokok buatan yang masih menyala di pojokan seperti suar bocor, dan berisik karena pertempuran kedua orang tuanya—rutinitas bercinta yang sudah sangat menjadi biasa. Tapi meskipun begitu, kepala Namol jauh lebih berasap dan berisik lagi.

Kedatangan pasukan misterius yang mengenakan zirah, lalu kedatangan kedua orang tuanya. Ini terlalu banyak untuknya.

Seharusnya, saat ini, ia sedang memikirkan cara untuk memperbaiki Puppis dan Heppow, atau bertarung melawan pemimpi lain demi menciptakan karya yang cukup layak; berusaha selamat dari babak ini, agar eksistensinya tidak disulap menjadi pajangan abstrak, sampai bahkan lebih buruk dari sekadar itu: semestanya, Regaia yang bercampur dengan Bumi, dilenyapkan.

Hanya ada satu jalan yang terpikirkan. "Ayah," kata Namol, ragu, sambil menoleh ke tengah dapur yang dipenuhi kepulan asap dan patahan interior. "Ayah, aku butuh bantuanmu."

Tidak ada jawaban. Suara benturan dari pukulan kedua orang tuanya, yang sanggup mengentak-entak udara pun lenyap. Hening yang ganjil dan mendadak. Hanya ada sisa asap, dan dapur rusak yang kosong. Namol buru-buru berdiri, sekali lagi matanya mengecek sekeliling ruangan. Dan, ya, kedua orang tuanya memang tidak ada di mana-mana.

"Ayah! Ibu!"

Namol terbang rendah, melesat keluar dapur, menelusuri koridor temaram; pintu kamar-kamar kosong di kanan kirinya tertutup rapat. Ia melewati dua aula besar yang satu di antaranya dipenuhi oleh rak-rak tinggi berisi sari buah dari berbagai galaksi jauh, dan satu lagi diisi oleh keberadaan semacam buku batu raksasa; bersandingkan kapsul tinggi besar berwarna hitam.

Sampai akhirnya tiba di kamarnya lagi, Namol belum menemukan tanda-tanda keberadaan kedua orang tuanya. Bahkan asap tidak bisa melenyapkan diri secepat ini, pikirnya.

Sama sekali belum selesai dengan kebingungan itu, kepanikan baru menghantam tanpa aba-aba, terjadi ketika Namol melihat ke arah tempat tidur. Di sana, di atas seprai putih yang awut-awutan, dua totem yang masing-masing berbentuk peri kecil dan cacing berkaus kaki, menghilang.

Namol merasakan panas dan dingin sekaligus menggerayanginya dari pinggang sampai ke puncak kepala, sementara dari bawah pinggang sampai ke ujung jempol kakinya seolah sedang dicor sekeras-kerasnya.

"I-ini ... tapi ..., ke mana semuanya pergi ...?"

Seolah menjawab, terdengar tiga kali ketukan benda tumpul, lalu dinding kamarnya sendiri yang bicara. Menggunakan suara ayahnya: "Cepat ke atap, Nak. Kami semua sudah hampir tua menunggumu."

A-atap? Tapi ... kenapa? Sebenarnya apa yang terjadi?

Jelas saja, bukannya membantu, instruksi barusan justru menumpuk kebingungan si rambut oranye menjadi semakin tinggi. Tapi yang tadi ia dengar memang benar suara ayahnya.

Jadi ... atap, ya?

Tanpa memiliki pilihan lain, Namol terbang keluar kamar. Setengah menerawang. Mencari akses tangga atau lift pelontar terdekat menuju puncak. Dan bertanya-tanya, keanehan apa lagi yang akan menyambutnya di atas sana.



***



Di sebagian langit utara, sedikit jauh di sebelah kanan Namol, gelap malam yang kurang tenang tampak sudah menyelimuti daratan berkelip di bawahnya. Dentuman teredam jarak, cahaya ledakan yang membentuk setengah lingkaran, sekawanan makhluk nokturnal yang mengepak terbang karena terusik, masing-masing muncul dan menghilang di beberapa titik daerah tak menentu.

Ada kompleks gedung-gedung tinggi yang tertata, dan kini menjadi deretan siluet persegi panjang raksasa dengan sedikit pencahayaan dari dalam; ada pula permukiman benderang dan gaduh yang lebih sederhana di dataran rendah, yang arsitekturnya hedonis dan tata letaknya simetris; dan permukiman di bukit-bukit yang lebih kumuh, dibangun asal berdekatan, berkotak-kotak atau beratap runcing, saling tumpang-tindih.

Aliran sungai besar membelah tempat-tempat yang seharusnya sudah tertidur itu menjadi tiga bagian, dengan kastel kolosal bermenara banyak yang berdiri di zona eksklusif, dikelilingi beberapa hektare hutan buatan, sebagai sentralnya. Sisanya, di kejauhan yang hanya samar terlihat, merupakan paduan cakrawala berbintang yang bertemu dengan rimba reruntuhan.

Dari puncak atap rumah besar Namol, itu semua bisa terlihat. Sejelas kristal. Dan itu tadi, semuanya, bukan merupakan pemandangan dari Bingkai Mimpinya.

Semesta milik Reverier lain!

Kedua Bingkai Mimpi telah menyatu sepenuhnya, dan memiliki perbatasan berupa membran violet semitransparan yang terkadang menguarkan asap hitam pekat. Wilayah Bingkai Mimpi Namol berakhir di semacam jalan tol yang berbelit mengambang di udara seperti puluhan naga batu, dan monster-monster Regaia; bersayap atau menapak, tampak berkerumun di dekatnya seperti prajurit yang siap berperang.

Kemudian mata Namol beralih ke selatan, arah yang berlawanan. Di mana terbentang sampai cakrawala di keterbatasan sana, hanya semestanya saja yang terlihat. Regaia, sebuah lubang hitam berpenghuni, yang bercampur dengan Bumi, planet muda yang berpendar selayaknya campuran berlian, safir, dan zamrud.

Tentang kondisi keseluruhannya, ternyata jauh di luar dugaan. Karena ketika Namol melihatnya dari jendela, semua memang tampak kacau. Tapi dari atas sini, kekacauan mungkin sudah tidak pantas untuk mendefinisikannya lagi. Karena anehnya, setelah melihat semesta campurannya sendiri dari sudut pandang yang lebih luas, hal pertama yang terpikirkan dan terucap olehnya adalah:

"Ini ... enggak terlalu buruk, eh?"

"Cantik, pemandangannya!" Terdengar Messier berseru dari tepi atap. Ia sedang duduk bersebelahan dengan Hubble, yang sedang sibuk menyegel rokok baru dengan ujung lidah. "Tapi tidak secantik Ibumu, jelas." Messier tertawa sambil mencubit pipi istrinya, yang kemudian dibalas dengan kecupan singkat nan galak. "Kemarilah, Nak!"

Menahan senyum melihat adegan familier itu, Namol beranjak melayang ke sana. Duduk di tengah-tengah.

Bertiga mereka memperhatikan—yang juga baru Namol sadari—hasil ekspansi tertentu sebuah Bingkai Mimpi. Illinois-Chicago, tidak pernah kelihatan serusak, sekacau, dan seindah ini sekaligus. Pilar air yang berasal sebagian dari Danau Michigan, serta dua sungai Chicago dan Calumet, sisanya mungkin air dari alam liar di lubang hitam, menyembur ratusan meter ke udara dengan sangat kompak, seperti tangga nada; meski letak satu sama lain saling berjauhan.

Dan karena mungkin Bumi bagian ini seharusnya sudah memasuki waktu malam—di mana hal tersebut sulit diketahui karena langit tidak sepenuhnya hitam berbintang, tapi dihiasi pula dengan ratusan robekan warna merah sekelam darah, dan ramai dikelilingi satelit berupa bangunan, sampai raksasa angin juga petir yang giat menandak-nandak selayaknya okultis—glamor cahaya kota begitu menyorot, hingga nyaris terlalu menyilaukan untuk disaksikan.

Dari gedung, menara, perumahan, taman, daerah-daerah ramai seperti sekolah atau bandara, sampai kendaraan di jalanan, mereka mengukir bentuk terangnya sendiri-sendiri. Cepat, lambat, konstan terhadap perubahan.

Manusia, binatang, alien, dan monster, memenuhi setiap jengkal darat dan langit dengan kesibukan mereka. Berisik, hidup. Dan tetap tidak saling sadar akan semua fenomena atau keberadaan satu sama lain.

Namol menoleh mencari The Old, kantor percetakan koran tempatnya bekerja. Ia langsung menemukannya, melayang di antara sesosok Barlaghart—salah satu entitas kolosal, dan terkuat, yang mendiami zona liar lubang hitam. Otomatis, ia juga tercengang ketika melihat, tidak terlalu jauh di belakang The Old dan si entitas kolosal, hutan asing tumbuh mengelilingi kompleks bangunan-bangunan tinggi.

Lätreyyi'ellé urm Vindhila. Atau Hutan Penghakiman Vindhila. Itu adalah salah satu jenis hutan di Regaia. Namol sempat menebak, kalau ekspansi Bingkai Mimpi artinya juga sama dengan menambah elemen dari tempat asalnya. Kini hal tersebut terbukti kebenarannya. Hutan Vindhila dipenuhi tetumbuhan unik yang bisa tumbuh berlarut-larut di ruang hampa sekalipun. Jadi Namol tidak merasa terlalu asing ketika melihat pohon raksasa yang berjajar di sekeliling gedung milik perusahaan-perusahaan ternama, membentuk kanopi spiral, labirin, atau semacam altar, dan tumpukan piramida.

Berani taruhan, pasti ada beberapa Lutie-Horderoth juga yang kebawa barengan hutan itu! Namol tersenyum kecil, membayangkan gerombolan kaum kikuk yang sudah menempati Vindhila selama ia bisa mengingatnya. Mereka makhluk-makhluk menyenangkan.

"NAH-NAH!" Tiba-tiba saja Messier berseru.

Mengagetkan Namol dan membuat Hubble tersedak asap rokoknya sendiri. "Haha, maaf-maaf," ujar Messier yang tak kelihatan menyesal, sembari membetulkan posisi kacamatanya. "Maaf, Satelitku Sayang, dan kau, Nak, jangan terlalu kagetan. Baiklah—langsung saja, hm, dengar, kami berdua adalah mimpi burukmu, Nak. Jangan lompat."

Namol tidak melompat. Karena ia tidak mengerti maksud pernyataan terburu-buru barusan.

"Aku dan Ibumu yang sempurna ini, adalah mimpi burukmu," Messier mengulang lebih pelan. "Dapat?"

"Ya," kata Namol, khawatir. "Tapi ... bukankah kalau itu aku memang sudah tahu?"

Muncul jeda yang menyedihkan, lalu tanpa aba-aba, Hubble memeluk Namol. Menaruh kepala oranye anaknya di antara dada. "Oh, ayolah, Namy, aku ini masih Ibumu, kan?" ejeknya. Suara tomboinya benar-benar dirindukan. "Dan maksud perkataan Ayahmu yang jelek itu tadi," sambung sang ibu, "adalah: kami berdua tidak benar-benar ada di sini saat ini. Kami cuma mimpi burukmu. Kami datang bersama mimpi buruk lainnya, sepasukan yang mengenakan pakaian perang, ingat? Semuanya mimpi buruk."

"Mungkin tepatnya, salah satu rintangan. Yang berupa mimpi buruk. Rintangan dari apa pun misi yang sedang kaukerjakan sekarang." Messier merogoh kantung jas laboratoriumnya, mengambil sepotong kibbled dengan parutan dua belas bulan hitam, lantas menggigitnya sedikit-sedikit. "Siapa pun yang menciptakan sistem ini, hm—enak, mereka bukan entitas biasa."

Meski agak lambat, Namol akhirnya mengerti. Sebagai pemimpi—Reverier—yang telanjur mengikuti semua misteri soal penciptaan karya-karya, dan masuk ke dalam sebuah sistem besar yang melibatkan banyak sekali dunia, mendapatkan rintangan adalah sesuatu yang memang semestinya. Sekarang ia tahu, dan memang seharusnya ia sudah tahu, kalau mimpi buruk adalah tantangan yang harus dilewati selain berhadapan satu lawan satu dengan Reverier lain.

Selesai menyimpulkan dan memahami itu, pelan-pelan Namol melepaskan diri dari pelukan ibunya. Ia menunduk, lalu memulai, "Sebelum kalian datang, Sang Kurator memang sudah menjelaskannya. Tapi, errr, mungkin aku lupa atau apa. Intinya ... karyaku yang sekarang memang harus melibatkan dua Bingkai Mimpi yang disatukan, dan juga bertahan dari kemungkinan serangan wabah mimpi buruk. Jadi ... apa yang harus kulakukan pada kalian berdua?"

"Soal itu, Nak." Messier merangkul anaknya, sambil diam-diam mengelap sebelah tangannya yang berlepotan sisa cokelat bulan hitam di punggung jubah mandi Namol. "Jangan khawatir. Karena kami yang sekarang sudah bukan hadir sebagai mimpi buruk. Terima kasih banyak untuk sistem reparasi otomatis yang kutanamkan di rumah ini. Ya-ha! Sistem pemulihan itulah yang, hm, sebut saja memfilter segala yang buruk dan menyisakan apa saja yang baik." Messier berkedip.

"Dan alasan kita membawamu ke atas sini," Hubble yang melanjutkan, "adalah untuk mengulur waktu. Sekarang, sih, kayaknya sudah selesai. Meteor-ku, apa dia boleh turun sekarang?"

"Tentu, Bintang Jatuh-ku." Messier mengangguk bersemangat. "Tapi biar kujelaskan dulu sisanya, karena kita memiliki anak yang harus serba kronologis! Jadi, Nak, aku sudah memperbaiki Puppis dan Heppow. Mereka berdua pasti sedang menunggumu di kamar. Dan, jangan tanya bagaimana caranya, atau kapan aku melakukannya. Karena semua proses itu terlalu jenius untuk dijelaskan sekarang! Yang jelas, aku melakukannya untukmu." Sebentuk cahaya lembut menyinari sebelah wajah Messier yang tersenyum.

"Jenius-bokong. Ayahmu memperbaikinya setelah dia menyelinap dari dapur. Caranya cukup menekan tombol reset tersembunyi pada dua totem, dan—hey!" Hubble protes ketika penjelasannya diganggu oleh serangan gelitikan dari Messier. Mereka berdua langsung bergulingan dan mengikik.

"Dasar mulut lubang putih!" Messier menggeram, sambil menindih istrinya.

"Pergi sana, Namy," kata Hubble di antara tawa dan protes. "Semua sudah siap. Kalau mau pakai ideku, gunakan saja roket hitam di aula prasasti, dan itu adanya di dekat aula tempatku menyimpan sari-sari buah. Gunakan roket, langsung datangi wilayah lawanmu. Lalu tolong sampaikan terima kasihku untuk Puppis dan Heppow, karena mereka sudah pernah berhasil melindungi anakku! Jangan lupa."

"Ya, pergilah, Nak," imbuh Messier. "Dan ketahuilah, aku adalah sosok ayah yang cukup kecewa melihat perkembangan hidup anaknya sendiri. Tapi setelah melihat dua hasil karyanya di ruang depan, aku merasa cukup bangga sekarang. Pergilah."

Tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan dikatakan, Namol hanya mengangguk sambil berterima kasih. Ini semua terlalu tidak masuk akal, setidaknya untuk disebut sebagai mimpi buruk.

Puppis dan Heppow sudah diperbaiki. Ayah dan ibunya melihat hasil karyanya yang tergantung strategis di ruang terdepan rumah ini, dan mungkin menyukainya. Lalu di atas itu semua, bagian yang paling baik untuk Namol, adalah jumlah waktu yang diberikan oleh keduanya. Hanya untuknya.

Namol terbang menjauh, menuju pintu yang akan membawanya ke bawah.

"Nak!" panggil sang ayah. Namol seketika mengerem dan menoleh. "Pulanglah dengan selamat," katanya. "Akan kujelaskan semuanya nanti. Tentang alasan kenapa aku mengirimmu ke sini, dan membiarkan Regaia tercampur dengan Bumi."

Sekali lagi, Namol hanya bisa mengangguk. Dan segera setelahnya, lanjut terbang melewati tangga-tangga yang tak terpakai. Turun melewati jalan pintas dari lantai teratas rumah besarnya, melesat sekuat tenaga, langsung ke kamarnya sendiri.

Belum-belum, senyumnya sudah terkembang, dan tanpa disadari, pipinya yang lembap oleh air mata sejak tadi menjadi basah lagi. Itu karena di ujung koridor—memblokir akses pintu menuju kamarnya—terdapat seekor cacing merah muda yang gemuk dan tingginya mencapai langit-langit. Lalu peri kecil berambut jabrik yang melayang di depannya, meneriakkan dua kata: "Namol, goblok!"

"Kurang ajar!"

"NAMOL!"

Ketiganya bertabrakan tak lama kemudian. Heppow si cacing nyaris meruntuhkan koridor dengan tarian konyolnya, dan Puppis tak hentinya berusaha membuat Namol tuli dengan tangisan bercampur teriakan euforia berbahasa peri.

Kehebohan reuni itu berlangsung selama lima menit penuh dan tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti, jadi Namol terpaksa buru-buru menjelaskan pada peri dan cacingnya perihal misi baru yang harus dituntaskan. Juga, tentang ide ibunya seputar penggunaan roket hitam.





Quest


Puppis dan Heppow menyetujui rencana itu. Menginvasi langsung wilayah lawan menggunakan roket, lalu memulai semuanya dari sana.

Tapi tidak sebelum Namol mengganti jubah mandi berlepotan cokelatnya dengan baju putih polos; yang dilapis sweter hitam bertudung, memakai celana jin bermodel belel dan sepatu semi-bot krem kulit, kemudian menjemput domba putihnya dari kamar khusus yang telah disediakan, roket sewarna arang sebesar lapangan sepak bola itu dihidupkan.

Namol duduk di kursi kopilot, celingak-celinguk. Seperti bebek yang diberikan granat. "Ng, semuanya masih berfungsi, kan? Apa yang bisa kubantu, Pupp?" tanyanya, meringis.

Di kursi pilot, Puppis menoleh sambil memberi Namol ekspresi sudahlah-diam-saja. "Tua dan jarang kepakai enggak berarti rusak, bodoh! Apalagi ini ciptaan Tuan Messier, pasti hebat," sengit si peri kecil bersuara cempreng. "Dan jangan sentuh apa pun. Biar aku saja. Hey, jangan sentuh apa-apa! Itu juga jangan!"

Namol angkat tangan sambil ketawa grogi. Mengurungkan rasa penasarannya untuk memukul tombol merah bertuliskan eject-the-pilot-now-or-tomorrow.

Akhirnya, setelah pengecekan selesai, roket pun dinyalakan. Namol berdoa sambil melirik Heppow dan domba putihnya yang terlihat di layar pemantau. Dua hewan ajaib itu menumpang di bagian kargo, dan keduanya tampak sedang bernyanyi bahagia tanpa beban hidup.

Lalu tiba-tiba seluruh ruangan bergetar, dan Namol merasakan sensasi melar yang menyengat. Raganya seolah tertinggal jauh di bawah. Mesin-mesin mengentak keras, diiringi ratusan desisan. Terlihat di layar yang lain, langit-langit aula prasasti membuka sampai terus ke puncak, dan tak lama berselang, roket hitam sudah melesat jauh mengudara di angkasa Bumi-Regaia—hitam berbintang dengan sorotan terang merah darah. Pergi meninggalkan rumah besar.

Rumah yang memang benar-benar besar, pikir Namol, menelan ludah, setelah melihat versi utuhnya dari atas sini.

Dalam mode penyamarannya, rumah empat ratus tiga puluh dua lantai itu—dengan enam sayap, empat jembatan menuju bengkel Messier, kebun-labirin di sentral konstruksi, taman logam Hubble, danau dan sungai buatan—terlihat seperti paduan gaya Queen Anne dan Gothik Viktoria. Memiliki kubah-kubah runcing, atap yang curam, menara-menara batu di sudut, beranda yang luas serta teduh, lalu dinding sewarna gading dan cokelat kayu; halus tapi bertekstur.

Tampilan detail itu mengerdil dengan cepat. Perjalanan berkecepatan maksimum berlangsung lancar dan aman. Dari layar atau jendela, pemandangan-pemandangan baru setengah mengabur datang silih berganti. Awan-awan yang berkelebatan—pesepeda di trotoar apung yang menabrak penanda parkir—beberapa monster reptilia dan primata yang berkelahi memperebutkan daging—lalu beberapa adegan lainnya yang tak sempat terlihat.

Tak lama, dengan sangat tenang, horizontal dan stabil, roket hitam menembus membran perbatasan dua Bingkai Mimpi. Tak lupa sebelumnya Puppis menarik tuas perak bertuliskan ninja-mode-is-ninja-mode. Menjadikan keberadaannya tak terdeteksi, berbaur dengan kegelapan malam milik dunia baru.

"Baiklah ... kita sampai. Mendarat di sana saja, Pupp," pinta Namol. Tangannya menunjuk ke satu layar dengan indikator koordinasi yang berkedip hijau, menunjukkan tampilan muka hutan kecil di tepi sungai, dan pinggiran kota padat di sebelah kirinya.

"Kau bosnya." Si peri kecil segera menurunkan roket hitam. Mendarat dengan mulus. Juga, seharusnya, tidak diketahui siapa-siapa.

Serempak, empat makhluk asing pun keluar dari kendaraan besarnya. Namol langsung menjejakkan botnya dalam-dalam, sampai solnya terbenam di tanah gembur, dan rumput-rumput basah menggesek ujung jin belelnya. Ia hirup dalam-dalam udara malam pertamanya di Bingkai Mimpi milik Reverier lain ini, rasanya sungguh menyegarkan meski sedikit berbau mesiu dan ... sihir.

Gemerencik air sungai kecil yang menabrak bebatuan licin bersahutan dengan suara gegap gempita dari sebuah kota tak jauh di seberangnya. Namol perhatikan garis-titik cahaya yang berasal dari sana, sambil sesekali terkesiap oleh bunyi ledakan yang berdentum-dentum—yang juga berasal dari arah kota. Sementara hutan dengan deretan pohon besar, dan ragam semak, yang seolah tak memberikan celah bagi siapa pun untuk berjalan ke dalam, berdiri kokoh di balik punggungnya. Tampak gelap dan mati.

Tapi justru dari arah situlah, sambutan pertama untuk Namol serombongan muncul.

Keluar dari sedikit celah pada batang pohon berduri dan semak tinggi, seorang pemuda mungil berpenampilan rapi sekaligus eksentrik. Kemeja dan celana pendek putih sutranya tanpa cela, jas merah dua kantungnya tetap licin, fedora yang menutupi rambut pendek klimisnya tampak elegan dan berada di tempat yang pas.

Keadaan pemuda itu, dilihat dari mana pun, tidak seperti keadaan seseorang yang baru saja keluar dari belantara padat. Dan yang paling menakutkan darinya, terutama untuk Namol yang segera menyadari kehadirannya secepat setelah pemuda itu muncul, adalah tali yang tersimpul di leher. Memanjang, menjuntai sampai ke tanah. Simpul yang bahkan Namol pun tahu, terkenal digunakan untuk gantung diri.

"KAMU SIAPA?" Heppow, si cacing raksasa, bertanya keras-keras pada si pemuda sambil menggeliat mengambil posisi defensif. "Mau serang Namol? Hadapi Heppow dulu!"

"Ssst, Hepp!" Namol buru-buru menenangkan. Teriakan itu jika berlanjut pasti bisa membangunkan setengah penghuni hutan. "Pelan dan damai!"

"Sebutkan identitas dan tujuanmu, muka-boneka!" Gantian Puppis yang sekarang bertanya. Peri kecil itu sudah terbang di depan sosok yang harus dilindunginya.

"D-d-dia pasti mau bunuh diri!" Malah Namol yang menjawab dengan gumaman skeptis. "Benar ...?"

Respons si pemuda adalah tertawa. Sangat lepas sampai badannya tersentak ke belakang. Tawa yang melengking dan dingin.

Bulu halus di sekujur tubuh Namol meremang. Siapa sebenarnya pemuda misterius itu?

"Wahai Namol Nihilo, tali ini hanya dekorasi konyol! Tidak lebih!" Si pemuda menyunggingkan senyum yang melebar sampai ke ujung rahang. "Dan jangan khawatir, Kawan," lanjutnya sambil sedikit membungkuk, "aku bukan musuhmu!"

Semuanya melompat terkejut, terlambat menyadari. Pemuda itu bergerak dengan sangat cepat ketika sedang berbicara, seolah berteleportasi, langsung ke samping Namol—merangkul pundaknya.

Dalam kepanikan, Puppis merapal sihir peri, dan Heppow mengambil ancang-ancang untuk menyundul. Sementara Namol sendiri membuat dirinya menjadi antimateri, lolos dari rangkulan, dan melompat-menjauh ke samping.

"Oh, Namol Nihilo." Si pemuda kelihatan sedih sekarang. "Aku, bisa membantumu untuk mengalahkan Maria Venessa! Tenanglah dulu. Begini saj—"

"Traperta!" Puppis meneriakkan sihir perinya sambil terbang ke depan. Rantai-rantai dan lingkaran bersimbol rumit seketika bermunculan, menerangi malam, mengikat keberadaan si pemuda. "Sekarang, cacing-bego, terkam dia!"

"IYA!" Heppow mengaum, kemudian menyundul pemuda yang sudah tidak bisa ke mana-mana itu menggunakan kekuatan penuh.

Si pemuda sontak terpelanting sampai masuk ke dalam hutan. Meremukkan dahan-dahan, dan tulangnya sendiri, ketika terus terdorong semakin jauh.

Atau begitulah seharusnya—yang sempat terlihat oleh semua.

"Sayang sekali ... metode tiba-tiba muncul dan menjadi misterius itu, kadang bisa sangat kurang efektif, huh?" Si pemuda berujar semuram kuburan. Ia sudah berdiri di atas aliran sungai. Dan keberadaannya tak tergores sedikit pun. "Maaf soal kesan pertamanya, Kawan. Bisa kita mulai dari awal? Kumohon?"

Semuanya memperhatikan ketidakmungkinan itu, dan sepakat membisu.

Setengah detik. "Baaa ...!" Terdengar embikkan sember milik domba putih Namol. Bunyi yang menyudahi atmosfer singkat tanpa bla-bla-bla dari kedua pihak. Juga, seolah ingin memberitahukan kalau ia masih ada, sibuk melahap rumput di tepi sungai yang agak jauh dari keramaian tadi.

"Baik. Baiklah—aku," Namol buka suara, hati-hati dan tak lancar, "jadi, aku akan mendengarkan dengan baik sekarang. Ya. A-apa maumu?"

Si pemuda langsung kembali kelihatan senang. Sambil tersenyum tak wajar dan berpindah ke depan Namol dengan sangat cepat—tanpa menciptakan sedikit pun riak di permukaan air sungai yang kelam, atau menggeser helai-helai rumput yang tampak keemasan ditimpa cahaya kota, ia berkata, "Membantumu, Namol Nihilo. Ayolah! Apalagi memangnya tugasku?"



***



Pemuda misterius itu memperkenalkan dirinya dengan nama Timiel Isadore, dan mengaku sebagai salah satu informan profesional yang bekerja langsung di bawah pengawasan Sang Kurator.

Timiel juga mengetahui semua tentang ketentuan penciptaan karya di babak ini. Tentang Bingkai Mimpi yang semakin meluas; karena ekspansi sendiri, atau hasil penyatuan. Lalu tentang wabah mimpi buruk.

Sampai tentang ancaman lain yang tidak diketahui Namol—yang memang hampir tidak terprediksi siapa pun, yaitu: kedatangan sang penggembala domba hitam dari Alam Mimpi.

Dan, tentang metode satu lawan satu di antara dua Reverier. Lengkap dengan ketentuan sederhana yang harus dipenuhi untuk menjadi sang pemenang.

"Mengalahkan Reverier lainnya," desis Timiel kemudian tertawa terbahak-bahak. "Sesederhana itu saja untuk bisa menyelamatkan dirimu dan semestamu sendiri, Kawan! Bayangkan! Oh, tapi tidak—tunggu. Maaf. Jika dipikir lebih dalam, ternyata semuanya tidak sesederhana itu."

Timiel melepas topinya kemudian menunduk sedih. "Kemenanganmu tidak bisa berdiri sempurna tanpa kekalahan Reverier lain," ia berbisik. "Dan selain tidak mudah pastinya, mengalahkan pejuang-pejuang pilihan di ajang seperti ini, bisakah kau tertidur nyenyak keesokan harinya, mengetahui sebuah semesta—oh, semesta, kuulangi—lenyap karenamu?"

Di tepi sungai, Namol mendelik sambil menelan ludah. Ingatannya jauh memutar tentang pemandangan aula emas Museum Semesta, penampakan patung beraura kematian ... lalu yang baru-baru ini terjadi: ingatannya tentang pemandangan Sang Kurator yang sedang duduk di antara patung dewa-dewi kolosal, Bingkai Mimpi Mirabelle si Dewi Perang yang terletak di kuil megah, di puncak gunung yang menembus lautan awan. Dan terakhir, tentang pengumuman perihal ancaman, berikut risiko kekalahan. "Tidak ... bukan aku yang melenyapkannya!" Namol memprotes pelan ke arah rumput-rumput basah. "Kita semua tahu risikonya, dan pada akhirnya tetap bertarung."

"Bertarung untuk melindungi, eh?" Timiel tersenyum kecut, dahinya berkerut seolah sedang berpikir keras. "Tapi dari sudut pandang lain, Namol Kawanku, siapa pun bisa menilai dengan mudah kalau semua ini adalah pertarungan untuk saling menghancurkan!"

"Oh, tutup mulutmu, muka-boneka!" Puppis menginterupsi. Si peri kecil terbang sampai ke depan Namol, lalu mencolek-colek rambut ikal oranyenya. "Jangan bikin dia tambah bingung. Lagian, kayaknya dari tadi kau hanya mengoceh tentang hal-hal yang sudah kami ketahui? Berguna, dong! Berhenti mengulur waktu. Katanya mau bantuin?"

Timiel, seperti langsung melemas mendengar semprotan itu, menangkupkan kedua tangannya ke depan dada dengan sikap menyesal. "Peri yang manis, kau benar," katanya. "Kau sangat benar. Maaf sudah membuang waktu berharga kalian, Kawan. Aku hanya terlalu bersemangat mengeluarkan isi kepalaku—"

"Bicara!" sambar Puppis tak sabaran. "Bukan basa-basi!"

"Yayaya, tentu!" Timiel lantas berjalan penuh semangat ke depan Namol, yang segera mundur ketakutan dan nyaris tergelincir ke dalam sungai. "Oh, rileks, Namol Nihilo. Sekarang, apa kau memercayaiku?"

"Ng ... ya?" jawab Namol, serak. "Ya, aku percaya. Mungkin?"

"Itu sudah cukup bagus. Kita mulai sekarang!"

Dan hal yang berikutnya terjadi adalah: Timiel menjentikkan jarinya tiga kali, lalu kelebatan-kelebatan cahaya yang membutakan tiba-tiba mengurung tepi sungai itu selama beberapa detik. Semuanya terpaksa terpejam. Bahkan domba putih Namol yang sedang asyik bermain seluncuran di tubuh Heppow, ikut menutup mata.

Setelah gelombang cahaya selesai menyilaukan, dan keremangan malam kembali menguasai penerangan tempat itu, terdengar seketika suara genjrang-genjreng gitar akustik—model klasik dan terbuat dari kayu berkilau. Juga suara gedebak-gedebuk dari sarung gitar tadi, yang terbuat dari kulit tebal berwarna putih.

"Akrạ thiez méreshi, akrạtie zelôu?! Kenapa jadi gini? Muka-boneka! Apa-apaan ini?" cerocos si gitar akustik yang menggelepar-gelepar, serta anehnya, memiliki suara cempreng dan bisa bahasa peri seperti Puppis.

"Heppow berubah! BERUBAH!" timpal suara besar nan jenaka milik Heppow si cacing, yang berasal dari sarung gitar.

"Timiel ... apa yang telah kaulakukan pada mereka, hey, Timiel?!" Gelagapan, Namol memegangi sisi kepalanya. Kemudian dari situ ia menyadari, suaranya tadi terdengar asing—tidak lagi bariton dan berkesan seperti kacang-kacangan. Dan ternyata, penampilannya juga ikut berubah.

Buru-buru ia meraba bagian-bagian wajah dan memperhatikan sisa tubuhnya yang terlihat. Tidak ada lagi kumis melingkar, atau janggut. Wajahnya bersih, halus, dan berkacamata bulat. Rambutnya lurus, hitam pekat, panjang sebahu. Bahkan sekarang kulitnya menjadi putih-kekuningan, tidak lagi gelap dan memiliki pori-pori kasar khas bangsa Juvas. Tinggi badannya tak lebih dari satu meter setengah. Lalu bukannya mengenakan sweter hitam dan baju putih, sekarang ia malah mengenakan jubah besar seperti ponco, semata kaki, berwarna hijau gelap. Syal merah pekat membebat di leher.

"Penyamaran, Kawanku, penyamaran," kata Timiel. Gelagatnya tenang sekaligus puas. "Karena, dengarkan ini baik-baik," ia melanjutkan serius, "kalian sekarang berada di wilayah lawan. Exiastgardsun, namanya! Negeri yang indah! Bingkai Mimpi tempat Venessa Maria, targetmu, berada. Oh, dan ini bagian terpentingnya, menurut kabar terakhir yang berhasil kuperoleh: Negeri ini sudah mengetahuinya dari Maria sendiri! Bahwa satu-satunya jalan keselamatan mereka adalah dengan mengalahkanmu!

"Mengerti, Kawan? Maria juga memiliki informan yang dikirim Sang Kurator. Dan sekarang satu negeri akan memburumu! Menyamar di dalam negeri seperti itu adalah pilihan pertama yang paling waras untuk dilakukan, eh?"

"Ya ... kau benar," bisik Namol, masih sambil menggerayangi tubuhnya sendiri.

"Aku mengubah suaramu, dan penampilanmu. Sekarang aku akan memberimu nama. Ingat, Kawanku yang tampan, jangan pernah gunakan atau menyebut nama Namol Nihilo lagi. Demi masa depan yang lebih baik. Oke, jadi namamu sekarang adalah ... Harry Jackson!" Timiel memberi penekanan lebih pada dua kata yang menjadi nama baru Namol.

"Lalu," sambungnya, "soal peri dan cacing milikmu, yang sekarang sudah berubah menjadi gitar dan sarungnya, beri mereka nama Everdeen dan Skywalker—kalau kau memang ingin, atau harus, menamai dan memanggil mereka nantinya. Karena hanya kau, Kawan, yang masih bisa mendengar celotehan mereka. Orang luar hanya akan mendengar suara gitar biasa yang berbunyi sendiri, dan akhirnya menganggap itu semua perbuatan sihir. Di dunia ini, itu merupakan hal yang wajar."

Namol mendengarkan semuanya dengan baik.

Tapi lalu ia sadar, ada sesuatu yang kurang. "Domba putihku?" tanyanya, memperhatikan sekeliling.

"Dari tadi ada di belakangmu, Kawan." Timiel menunjuk sesuatu di antara rerumputan gelap. "Sehat seperti kuda."

Kedua alis baru Namol yang tebal dan gemuk otomatis terangkat. "A-apa ini ...?" katanya, setelah melihat hasil transformasi si domba.

Seekor anjing kecil bermata besar, yang sedang mengendus-endus rumput dengan penuh semangat, kemudian mengencinginya.

"Beri dia nama Wolverine," usul Timiel.

"Oh ... ya, baiklah. Jadi, apa ini saja? Maksudku, terima kasih sebelumnya. A-atas semua bantuan ini!" Buru-buru Namol mengangkat Wolverine yang nyaris mengencingi jubahnya. "Apa masih ada yang harus kuketahui, atau ingin kauberikan, Timiel?"

"Ada. Satu lagi."

Timiel menyunggingkan senyum khasnya, merogoh bagian dalam jasnya, kemudian menyerahkan pada Namol gulungan perkamen tua.

"Di situ tertulis tentang detail kemampuan lawanmu," ia mendesis dingin. Senyum di wajahnya kini berubah menjadi seringai. "Di situ juga, akan tertulis berbagai instruksi akurat dariku. Sebisa mungkin, Kawan, ikuti semua perintahnya. Dan ingat, jaga perkamen ini baik-baik. Jangan sampai ada orang lain yang membacanya!"

Namol mengangguk sampai pusing, lalu menyimpan perkamen tua di balik jubah.

Timiel membentangkan kedua tangannya dan tertawa lega. "Kurasa itu sudah semua!" ujarnya. "Senang akhirnya kau memilih untuk bekerja sama sepenuhnya. Ini akan sangat-sangat menyenangkan! Bukan begitu, hey, Harry?"

Lima detik jeda. "Oh, ya! Ya ampun! A-aku. Namaku Harry. Harry Jackson."

"Bagus sekali! Dan, Harry, sekarang pergilah ke kota. Temukan tempat bernama Tavern of the Black Alley. Kudengar mereka sedang kekurangan pegawai."

"Tavern of the Black Alley. Kurang pegawai," Namol membeo.

Timiel tersenyum sekali lagi, menyalami Namol, kemudian mundur ke arah hutan. Di sana, sebentuk cahaya membutakan memecah keberadaannya sampai hilang tak bersisa.

"Sejak kapan si muka-boneka jadi bosnya?" tanya Puppis, menggunakan nada C minor tinggi. "Kau benar-benar lebih idiot dari idiot jika menelan semua perkataannya mentah-mentah!"

"Ya, mungkin," kata Namol. Canggung, diangkat olehnya Puppis si gitar, kemudian dimasukkan ke dalam sarungnya. "Pupp—maksudku, Everdeen. Kita lihat saja perkembangannya sambil jalan. Mungkin dia memang hanya ingin membantu? Fiuh. Baiklah. Sudah nyaman di sana? Semua?"

"HEPPOW BERUBAH, NAMOL!" pekik Heppow. "HEPPOW JADI PRESIDEN!"

"Sarung gitar, Skywalker," Namol membenarkan. "Sarung gitar. Dan panggil aku Harry."

Maka berjalanlah rombongan aneh itu. Laki-laki berjubah besar, dengan gitar bersarung tersampir di punggung, dan anjing kecil yang aktif berlarian di antara kakinya.

Meninggalkan roket hitam mereka, menyusuri tepi sungai di bawah langit malam Exiastgardsun. Menyeberangi jembatan batu yang melengkung, masuk ke hutan kecil. Mengikuti cahaya keemasan dan kegaduhan yang berasal dari kota besar di depan sana.





Bapak Penis dan Ibu Vagina


Ketika Harry Jackson tiba di pinggiran kota, ia akan menemukan dua pedagang yang sedang membenahi kios. Bertanyalah, karena pertanyaan yang bagus tidak pernah merugikan siapa pun.

Untuk yang kesekian kalinya, Namol membaca instruksi pertama di dalam perkamen tua. Ia sendiri sudah hampir tiba di pinggiran kota. Setelah melalui jembatan batu dan hutan kecil tadi, pohon dan semak mulai jarang terlihat. Jaraknya pun semakin saling berjauhan.

Sambil menapaki seruas jalan berkerikil yang menanjak, dikelilingi padang rumput dan semilir angin malam—rute yang akan membawanya ke jalan besar terluar, Namol juga berusaha mengingat apa-apa saja mengenai lawannya. Semua yang tertulis dengan cukup lengkap di perkamen.

Lawannya bernama Maria Venessa.

Dari semacam foto yang tercetak di sana, Maria merupakan sesosok wanita paling cantik yang pernah Namol lihat.

Rambutnya panjang berwarna oranye, tapi tidak seperti oranye pada rambut di wujud Namol yang sebenarnya. Karena oranye pada rambut wanita itu tampak begitu lembut dan kaya. Seingatnya, warnanya persis seperti detik-detik terakhir gelombang ledakan yang dipancarkan sebuah bintang.

Wajahnya, yang seolah dipahat oleh seribu malaikat tercantik, memiliki dua mata yang menyorot bosan sekaligus memenjarakan. Lehernya jenjang, kulitnya diberkahi warna-warna dari salju paling murni. Dan lekuk tubuhnya, yang dibalut sebentuk busana klasik-anggun kemerahan, seolah tidak memiliki arti lain selain kesempurnaan.

Maria juga bukan manusia seutuhnya. Ia blasteran. Setengah Succubus—makhluk berwujud malaikat-terusir, hidup di malam-malam yang dipenuhi mimpi bergairah.

Tapi yang paling membuat Namol khawatir setengah mati pada lawannya itu, selain fakta bahwa ia harus berhadapan dengan sosok yang mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, adalah serangkaian kemampuan mengerikannya.

"Ciuman dan pelukan yang mampu merebut jiwa, sampai energi kehidupan, eh?" Namol menggumam. Setengah menggigil, setengah bersemangat. "Itu kemampuan yang sangat mengerikan. Kabar buruk. Tapi ... mungkin, jika bisa mencium atau memeluk wanita seperti ini ... kalau hanya jiwa atau energi kehidupan saja, aku ...." Ia menerawang keluar Bingkai Mimpi.

"Hey, tolol, fokus!" Puppis si gitar membentak dari dalam sarungnya yang memang tak tertutup rapat. "Kita sudah sampai, hey!"

Terlalu sibuk membayangkan dirinya berada di ruangan terkunci, hanya berdua dengan Maria, Namol nyaris ditabrak kendaraan besar yang melaju cepat. "Lubang pantat!" maki si pengemudi, suaranya keras dan dengan cepat berlalu.

Namol mengelus dada, kemudian berterima kasih pada Wolverine karena anjing itu tadi membantunya mengerem; menggigiti bagian bawah jubahnya. Ia telah tiba di jalan raya terluar. Dan terbentang di seberangnya: sebuah kota padat bermandikan cahaya terang. Dari tempatnya berada, sebagian besar wilayah memang bisa terlihat jelas. Banyak sekali yang bisa dinikmati dan diduga-duga pada pemandangannya.

Bagian barat kota seolah dipenuhi oleh hamparan rumah-rumah penduduk yang dibangun berdekatan. Ke bagian tengah, ada gedung-gedung yang menjulang seolah saling susul-menyusul. Dan di timur, terdapat banyak sekali reruntuhan—bangunan-bangunan hangus atau tinggal separuh, seolah baru saja terjadi perang besar di daerah itu.

Sambil melihat kanan-kiri, Namol menyeberangi jalan besar terluar. Ia lalu menuruni tangga batu ke sebuah blok yang dipenuhi kios. Sebuah tempat yang sangat ramai dan menyilaukan. Pedagang dan pembeli berbaur di sini. Udara dipenuhi berbagai percakapan yang tumpang-tindih. Lentera beragam bentuk, atau bohlam-bohlam yang tersusun, terpasang di tiang-tiang kayu. Bahan mentah, makanan jadi, alat-alat elektronik, dan banyak lagi, tergerai dijajakan di semacam terpal-terpal atau panggung kecil.

Poster-poster berisi foto Maria Venessa, bertuliskan "Messiah Exiastgardsun" di bawahnya, tersebar hampir di setiap senti dinding-dinding rapuh. Hampir sama banyaknya—Namol menelan ludah—adalah poster berisi fotonya sendiri. Alien dengan rambut bergelombang berwarna oranye, kumis melingkar, kulit gelap, dan kedua mata merah. Ditulis di bawahnya, "Ancaman Nomer Satu".

Pengumuman dari kerajaan seputar protokol keamanan tertempel juga di satu-dua tempat, diiringi slogan-slogan (Selamat Beraktivitas Seperti Biasa) yang meyakinkan penduduk bahwa kerajaan bisa mengatasi wabah mimpi buruk.

Dan di antara semua itu, ada satu kios terasing yang terlihat sedang bersiap-siap untuk tutup. Dua pedagangnya, seorang kakek dan nenek, tergopoh-gopoh berbenah. Si kakek menurunkan kain tenda dan memasukkan kayu-kayu penyangga ke gerobak, sementara si nenek mengepak barang dagangan berupa buku-buku.

Mengingat instruksi pertama pada perkamen tua, Namol menghampiri mereka.

"Permisi?"

"Oh maaf, Bung, kami sudah tutup, nih. Bisa lihat, kan?" kata si kakek, ketus, tanpa menoleh. "Datanglah lagi, kapan saja asal jangan sekarang!"

"Ng ... ya. A-aku hanya—"

"Maafkan dia. Pikirannya sedang jauh dari kepala," potong si nenek, pelan. Wanita yang sudah tak lagi tegak itu tersenyum ramah, lantas menuntun Namol ke depan tumpukan buku yang belum dirapikan. "Cucu kami adalah salah satu penyihir-penjaga yang ditugaskan untuk menumpas makhluk-makhluk sial sore tadi. Belum ada laporan dari kerajaan, atau darinya. Jadi, kecemasan memang selalu berhasil mengambil semua yang terbaik dari kita, bukan begitu? Oh, ya, maaf. Maafkan orang tua ini. Buku apa yang kaubutuhkan?"

"Bukan, maafkan aku," kata Namol, lesu. "Aku mungkin ke sini hanya untuk menanyakan alamat."

"Oh, silakan bertanya kalau begitu." Si nenek masih tersenyum. "Semoga kami bisa membantu."

"Terima kasih. Um, di manakah aku bisa menemukan Tavern of the Black Alley?"

Senyum si nenek terhapus dari wajah keriputnya seperti kerang yang terbawa ombak. Dan pada saat ini, si kakek yang sedang menutup gerobaknya tiba-tiba berbalik cepat. Laki-laki itu menatap Namol seolah sedang mencermati gelagat pencuri.

"Tavern of the Black Alley, katamu?"

"Ya," gumam Namol, setelah susah payah menelan ludah. Entah kenapa, atmosfer seakan berubah menjadi lebih berat. "A-apa tempat itu dekat dari sini?"

"Turis," kata si kakek, dengan cara seseorang mengomentari peliharaan tetangga yang diam-diam buang air di pekarangannya. "Apa keperluanmu mendatangi tempat itu?"

"Ng, mencari pekerjaan ...?"

"Oh, aku yang sedang bertanya di sini, anak muda. Jadi jangan balik tanya!" bentak si kakek.

Namol sampai mundur selangkah sebelum akhirnya berkata dengan lebih yakin: "Mencari pekerjaan."

"Dia kelihatan jujur. Bawa dia, mereka memang sedang butuh pegawai untuk misi itu, kan?" si nenek berbisik cemas di telinga kiri si kakek.

Dan si kakek mendengus. "Semua bajingan bisa berlagak jujur di zaman gila ini. Tapi sudahlah! Lewat sini!"

"Ikuti dia," kata si nenek, lembut, sambil mengusap pundak tegang Namol. "Kami akan membawamu ke sana."



***



Si kakek dan si nenek berjalan di depan sambil berpegangan tangan. Dan di sepanjang blok berisi kios-kios terang ini, si kakek terus saja menggerutu. Awalnya hanya tentang membeludaknya jumlah pemuda-pemudi seperti Namol, yang dianggap buang-buang nyawa karena gemar berurusan dengan hal konyol. Sampai akhirnya, ia lanjut mengkritik segala hal yang dilihatnya—bahkan bulan dan bintang di langit sana.

Si nenek sabar saja, kadang hanya mendengarkan sambil tersenyum, kadang bertindak menenangkan. Namol takjub dan hormat pada wanita tua itu. Mereka lalu keluar dari daerah pedagang kecil, menyeberangi persimpangan jalan besar bersama sekumpulan orang-orang malam lainnya, dan berjalan di sepanjang trotoar bersih. Gedung-gedung pencakar langit berdiri gagah di kanan-kiri mereka, beberapa masih tampak sangat sibuk di jam-jam ini, dimasuki beragam jenis pekerja lembur, sementara beberapa gedung lagi sudah tampak sekosong rumah peribadatan di masa-masa sejahtera.

"Maaf," kata Namol tiba-tiba. "Sebagian wilayah kota ini, aku melihatnya, hancur berantakan. Apa yang terjadi? Apa ... itu disebabkan oleh 'makhluk-makhluk sial' yang tadi sempat disinggung?"

Si kakek menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti dasar anak muda kurang bergaul, kurang aktual. Sementara si nenek menjawab dengan jelas, "Bukan. Kalau maksudmu kerusakan yang ada di wilayah timur, itu akibat pertempuran Yang Mulia Ratu Sanelia dan Tuan Putri Saya."

Tidak familier dengan dua nama yang ternyata menjadi alasan kehancuran sebagian wilayah kota, Namol pun melanjutkan, "Jadi, siapa itu 'makhluk-makhluk sial'?" Meski sebenarnya ia sudah mempunyai tebakan sendiri.

Si nenek menjawab muram, sambil sedikit menunduk, "Mereka adalah mimpi buruk."

Tebakan Namol tidak salah.

"Sore tadi, tidak sampai empat jam yang lalu, bencana itu datang. Sebuah mimpi buruk, demi Yang Suci, mereka mewujud menjadi penyihir-penyihir tua berjubah kelabu," si nenek melanjutkan pelan. "Sangat disayangkan, bukan begitu? Bencana seperti itu harus datang ke tempat ini. Tempat yang sudah dihantam cukup banyak masalah, tapi hanya diberi sedikit waktu untuk bangkit memperbaikinya."

"Aku ... turut berduka." Namol ikut menunduk, memperhatikan Wolverine yang berjalan mundur dengan lidah menjulur.

Ia juga mencoba mengingat, kejadian empat jam yang lalu. Waktu itu ia sedang berada di rumah. Baru pulang dari Bingkai Mimpi Mirabelle. Kemudian ia dikunjungi Sang Kurator dan mengobrol singkat dengannya, seputar ketentuan yang harus dilewati untuk menciptakan karya selanjutnya. Setelah itu, terjadi guncangan dan dunia seolah berkedip.

Itu pasti tandanya, guncangan itu, Namol membatin, keringat menetes dari ujung-ujung poninya yang meruncing. Kepalanya mulai terasa panas, harus berpikir dan berspekulasi sejauh ini. Selain penggabungan Bingkai Mimpi, mimpi buruk juga dimulai dari sana!

"Ng, apakah pihak kerajaan yang mengonfirmasi kalau wabah itu berasal dari mimpi buruk?" Namol mengorek lebih dalam.

"Bukan. Tak lama setelah bencana tersebut mewabah, seorang gadis muda yang sangat cantik, bernama Maria Venessa—terberkatilah dia dengan umur panjang—memberitahukan semuanya tentang keadaan kami. Tentang wabah mimpi buruk, dan tentang satu cara untuk menghentikannya. Dia juga menjelaskan tentang penyusutan dunia, yang disebut sebagai Bingkai Mimpi. Katanya, di situlah kami terjebak sekarang."

"Be-begitu ...."

"Ya." Si nenek menoleh setengah wajah, tersenyum letih. "Awalnya memang sulit sekali untuk dipercaya, ya? Tapi lalu, apa lagi memangnya yang bisa menjelaskan semua fenomena hebat ini selain hal-hal mustahil? Ditambah, Maria Venessa mendapat dukungan dari kerajaan. Pernyataannya merupakan pegangan untuk kami semua. Maria Venessa, merupakan satu-satunya harapan kami, yang telah ditakdirkan, untuk membuat segalanya kembali ke sediakala. Exiastgardsun yang indah dan tentram. Dan orang tua ini, secara pribadi, percaya kalau gadis cantik itu bisa melakukannya."

Tanpa sadar, Namol tersenyum mendengar itu semua. Di awal-awal, semua rencana atau harapan memang seperti akhir sebuah dongeng. Sampai, pelan-pelan, senyum itu memudar. Menjadi ketakutan dan kelemahan. Di antara lampu-lampu jalan yang berpendar kuning-putih, dan silau cahaya satu-dua kendaraan yang melintas, Namol harus menerima kenyataan itu.

Satu negeri sedang memburunya.

Ia benar-benar merasa berada di tempat yang salah sekarang. Degup jantungnya berubah tak beraturan. Kedua matanya melirik curiga pada celah gelap di antara gedung-gedung, jendela, atau pada semak tertata dan ayunan kecil di sebuah taman yang baru saja ia lewati.

Setiap langkah yang diambil, semua suara di sekitarnya terdengar semakin salah. Semua benda tampak mengancam. Ketakutan berkembang biak di dalam pikirannya seperti parasit. Ia kesulitan mengatur napasnya.

Tapi lalu Wolverine menyalak nyaring dan tajam. Ekornya mengibas kegirangan. Namol membiarkan anjing kecil itu berlari melewati si kakek dan si nenek. Berhenti, lalu melompat-lompat di sisi persimpangan yang seolah dialiri oleh sungai manusia, dan ditumbuhi oleh pilar-pilar bercahaya.

Sesaat, kegelisahan Namol teralihkan.

Tampak seperti jantung, persimpangan di hadapannya seolah menjadi muara dari puluhan jalan kecil atau besar dari seluruh penjuru kota. Bangunan-bangunan tinggi yang kebanyakan merupakan tempat makan dan penginapan, menjulang di titik-titik di mana suatu jalan berakhir. Penjual bermacam aksesoris, dan kafe-kafe berserambi, tersebar di sekitarnya.

Juga, tidak ada kendaraan satu pun di sini. Semuanya terparkir di luar persimpangan. Ke mana pun Namol menoleh, hanya ada cahaya lampu-lampu, dan manusia yang berjalan di trotoar, menyeberang, atau duduk di kursi-kursi panjang. Bercengkerama, dan damai.

Si kakek dan si nenek berjalan ke salah satu jalan besar, bergabung bersama lautan manusia selama beberapa saat, kemudian berbelok ke salah satu gang yang lebih redup. Namol bisa melihat sisi gedung dan cat merah-hati pada dindingnya yang mulai terkelupas. Puluhan bagian mesin pendingin ruangan di sepanjang tangga darurat, tong sampah besar, dan sekumpulan manusia berpakaian kumuh yang sedang mabuk sambil mengelilingi api unggun kecil ("Terkutuklah alien bajingan itu, Namol Nihilo!" Salah satu dari mereka meludah muak. "Semoga kerajaan segera membakarnya!").

Mereka terus berjalan, sedikit-sedikit berbelok. Dari gang gelap, ke gang terang yang dipenuhi wanita-wanita berpakaian minim ("Kemarilah, penyihir muda, mainkan gitarmu. Atau tongkatmu boleh," bujuk wanita pirang sambil mengelus pipi Namol). Lanjut menuruni tangga, lalu memasuki lorong. Namol mulai mendapat sensasi liar, kalau ia sekarang sudah berada di sentral wilayah-terbelakang kota. Yang dari tadi semakin mengular rutenya seperti labirin.

"Berhenti di situ," kata si nenek tiba-tiba.

Namol menghentikan langkahnya dengan canggung. Berdiri di antara dinding cokelat kusam, dan tempat sampah berasap. Kanopi berlampu di atasnya nyaris tidak menerangi apa pun lebih jauh.

"Oh, kalian—" kata sebentuk suara baru yang begitu dalam, dan terlalu tiba-tiba, sampai-sampai menjadi menakutkan. "Bapak Penis, dan Ibu Vagina."

Si kakek menggerutu.

Hal berikutnya yang diketahui Namol adalah: sesuatu bergerak cepat dari bawah tanah, melesat ke permukaan. Tapi itu hanya pengalih. Seseorang yang lain menyergapnya dari belakang. Ia terlambat merespons. Orang itu lebih dulu membungkus kepalanya dengan kain gelap bersedatif.

Namol ambruk, lemas.

Gitar, sarungnya, dan anjing kecilnya, seketika tak berhenti bersuara untuk menyuarakan protes masing-masing.

"Pelamar." Terdengar suara lembut si nenek. "Ini laporannya."

"Terima kasih."

Lalu Namol merasakan tubuhnya diseret ke bawah. Dalam situasi ini, imajinasi liarnya mengambil alih. Ia menjerit membayangkan neraka. Jauh di kedalaman sana. Sebuah gua merah yang sangat panas, hamparan kawah-kawah berisi api cair, dan iblis-iblis bengis yang menyeringai sambil menggenggam trisula.





Dunia Tanpa Nama


"Penyihir bergitar, komedian bertopeng, dan pemburu yang pesakitan," seorang laki-laki bertubuh kekar berujar dengan nada sebal. "Standar kedai ini turun lebih cepat dari kotoranku sore tadi. Ya, ketika penyerangan pertama berlangsung. Bisa kaubayangkan? Hey, Yapet? Buang air itu kegiatan yang soliter, seharusnya!"

"Ya. Dan tolong pertahankan agar tetap seperti itu, Tuan Hewan," gumam laki-laki dingin bernama Yapet. Sosok berkemeja putih, berompi beludru hitam, dan berdasi kupu-kupu merah. Ia melirik jam tangan perak di pergelangan kirinya, menggeleng pelan, kemudian berseru, "Baiklah, seseorang panggil Nyonya Venessa Maria ke sini. Perempuan itu. Menjadi messiah tidak memberinya wewenang untuk terlambat."

"Meski sudah cukup lama menetap di sini, Maria merupakan anggota terbaru kita," kata seorang wanita berwajah cerah, keibuan. Ia mengenakan jubah putih bertudung, dan ia sedang menggendong bayi. "Jangan terlalu keras padanya, Yapet. Butuh waktu baginya untuk mengikuti jadwal kegiatan organisasi."

Yapet berubah muram. "Waktu memiliki arti yang lain di masa-masa seperti ini, Nyonya Umi." Ia menelengkan kepalanya pelan, melihat keluar jendela. Masih gelap. Bulan belum jatuh. "Mungkin kita tidak akan pernah bisa melihat pagi."

"Baiklah." Umi, si wanita berwajah cerah, tersenyum menenangkan. "Biar aku yang menjemputnya. Hm, Beib—" wanita itu beralih ke si laki-laki bertubuh kekar. "Tolong jaga Keenan. Jangan sampai dia bangun. Bersikaplah seperti seorang ayah. Oke?"

"Kapan aku bersikap selain itu?" Si laki-laki kekar, Hewan, tersenyum lebar sambil menerima bayi yang diberikan. Ia menggendongnya seakan-akan sedang membawa kristal paling indah sekaligus paling rapuh. "Ayo-ayo ...," cicitnya, "siapa jagoan kecil yang mau main helikopter sama Ayaaah?"

Setelah Umi keluar, ruangan berdinding bata merah dan berlantai kayu gelap itu menjadi sunyi. Namol ada di sini, lengkap dengan gitar bersarung dan Wolverine. Ia baru setengah sadar beberapa saat lalu, tapi segera tersadar sepenuhnya ketika mendengar nama Venessa Maria disebut.

Semua yang bisa terlihat di ruangan ini terbuat dari jenis bata merah dan kayu gelap yang sama. Di sudut yang menjorok keluar, terdapat satu pintu yang memperlihatkan anak tangga teratas. Perapian yang menyala ada di sebelah kiri, lengkap dengan pahatan kepala babi hutan besar di atasnya. Empat jendela panjang membuka di depan ruangan. Terus ke balkon beratap langit dengan dua patung di kedua sisi, dan, di antaranya, meja-meja bulat berteleskop.

Tapi yang paling dekat dengan Namol sekarang, bagaimanapun, hanya merupakan ornamen-ornamen kayu berbentuk potongan tubuh yang menempel di dinding.

Dan, dua keberadaan berpenampilan ajaib. Namol duduk di tengah-tengahnya.

Di sebelah kirinya, ada seseorang yang terlihat seperti wanita bertopeng. Rambut wanita itu hitam panjang, kaku, dan agak berantakan. Topengnya berbentuk persegi dan digambari simbol-simbol aneh. Jubah merahnya dipenuhi tambalan stiker.

"Um, halo?" Namol mencoba menyapanya, nyaris berbisik.

Wanita bertopeng itu menoleh dengan sangat tajam. "Skull," desisnya, suaranya serak teredam. Setelah itu ia diam seribu bahasa.

Namol bergidik. Beralih ke sosok di sebelah kanannya. Seorang gadis manis berkulit gelap, berambut hitam sebahu. Gadis itu mengenakan ikat kepala merah, pakaian putih ketat tanpa lengan, dan celana jin sepaha. Ia membawa busur dan beragam jenis anak panah.

Namol juga mencoba menyapanya. "Halo ...? Kira-kira, kita sedang ada di mana, ya?"

Gadis yang ditanya malah melongo, kemudian terbatuk-batuk sampai membungkuk.

"H-hey? Kau baik-baik saja?!"

"Tavern of the Black Alley," kata seseorang di depan ruangan. Yapet. Laki-laki dengan pembawaan dingin itu langsung menatap Namol di mata. "Kau ke sini bersama Bapak Penislea Curtis dan Ibu Vaghi Nahambe, benar?" tanyanya. Dan tanpa menunggu jawaban, ia melanjutkan, "Apa kepalamu cedera, penyihir? Karena siapa saja yang berminat untuk memasuki lingkaran kami, seharusnya tahu prosedur apa yang harus dilewati. Dua rekrut di kanan-kirimu contohnya. Dan—tunggu, menurut laporan ini ...."

Namol melihat Yapet berdiri, kemudian berjalan sambil membaca semacam dokumen.

"Apa kepalamu cedera?" tanyanya lagi. Ia sudah berdiri di depan kursi Namol sekarang.

"Ti-tidak."

"Sebutkan identitasmu."

"A-aku ... namaku Harry Jackson," Namol terbata. Otak dan lidahnya seolah dibebani jangkar. "Gitarku ini bernama Everdeen, sarungnya bernama Skywalker. Dan ... peliharaanku ini namanya Wolverine."

Yapet menaikkan sebelah alis. Dibakar olehnya sebatang rokok. Lalu ia cermati lagi sosok berjubah dan berkacamata bulat yang sedang duduk-gugup di depannya.

"Dengar, aku sangat menghormati Bapak Penislea dan Ibu Vaghi," ia memulai pelan. "Meski laki-laki tua itu selalu menggerutu, sebenarnya dia sangat memperhatikan generasi muda. Ya. Intinya aku mengagumi dedikasi mereka untuk organisasi ini. Dan merekalah yang membawamu ke sini, benar? Laporan mereka cukup menarik. Penasaran dengan isinya?"

Namol mengangguk kaku. Lehernya seperti dilapisi tembaga.

"Mereka bilang kau ini cukup jujur. Kelihatannya." Yapet tersenyum. Tapi belum sedetik lewat, ekspresi bersahabat itu berubah drastis menjadi tatapan pembunuh. "Dan asing. Menurut mereka, pengetahuanmu tentang dunia ini patut dipertanyakan. Caramu berbicara memang fasih, tapi aku juga menyadarinya, aksen asing itu. Jadi, penyihir muda, kukatakan sekali lagi. Sebutkan identitasmu."

"A-aku, identitasku tadi—"

"Ya?"

"Aku sudah mengatakannya tadi!" Keringat Namol jatuh ke mata. Pedih. Tapi ia terlalu takut untuk mengerjap. Ia bisa melihat bunga-bunga api bergerak liar di perapian.

"Tidak mendengarnya," kata Yapet, datar.

"Nama ... namaku—"

"Jujurlah, penyihir." Yapet mendelik. Tatapan yang seolah mendistorsi seisi ruangan. "Atau aku akan melakukan banyak hal selain bertanya demi mendapatkan jawabannya." Ia melirik tajam ornamen-ornamen di dinding. "Dan itu sama sekali bukan hal yang kurekomendasikan. Jujurlah."

Seluruh kehangatan di dalam darah Namol menguap tak bersisa. Hawa intimidasi dari laki-laki di hadapannya begitu kuat dan tak terbantahkan. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Karena jika harus memikirkannya jauh ke belakang, alasan ia bisa berada di sini saat ini memang berawal dari sebuah ketidakpastian. Instruksi yang tertulis di perkamen tua, pemberian Timiel Isadore. Sosok yang nyaris tak dikenalinya lagi.

"Cepat menghilang, kepala-angin!" Puppis, yang sedari tadi membisu, memekik tiba-tiba. "Jangan tertangkap di sini!"

"Heppow bakal melindungi Namol!" timpal si sarung gitar.

Wolverine ikut menyalak tajam.

Tapi Yapet bergeming. "Penyihir," gumamnya. "Disiplinkan instrumenmu, dan mulailah menjawab."

"Yo, Yapet," Hewan menginterupsi, "berhentilah menggoda para rekrut."

Yapet mengisap rokoknya dalam-dalam, dan baru saja mau balik badan untuk menanggapi Hewan di depan ruangan, ketika terdengar jeritan horor dari bawah.

"MEREKA DATANG!"

Suara Umi.

Bersamaan dengan itu, selama sesaat, tirai hitam seolah membungkus semua pemandangan ke dalam kegelapan. Dunia kembali berkedip. Dan Namol merasakannya. Lantai kayu di bawah kakinya bergetar, memanas, kemudian meledak.



***



Arus api ledakan menyebar dengan sangat kuat seperti binatang-binatang yang mengamuk. Mengambil bentuk pilar, serangan itu terus memanjang ke atas. Mendesis, meraung-raung. Sebagian besar lantai hancur, beserta kursi, meja, beberapa ornamen kayu di dinding. Dan tanpa jeda, langsung menerobos menggilir langit-langit. Dalam hitungan sepersekian detik, atap ruangan pun dijebol. Berlubang dan membara. Sebagian panorama angkasa malam yang berubah menjadi sangat ramai terlihat dari sana.

Namol bersama gitar bersarung dan anjing kecilnya selamat. Dalam ketergesaan itu, ia berhasil membangkitkan satu lagi kemampuan Hellind yang sempat dilupakan. Kini ia kembali mampu untuk mengubah objek lain menjadi antimateri atau meloloskan segalanya. Ia peluk erat-erat semuanya, tadi, kemudian membiarkan elemen ledakan melebur dengan keberadaannya dan keberadaan yang bersentuhan dengannya. Ledakan pun berlalu begitu saja. Menjadi satu-kesatuan yang saling menghancurkan kemudian beregenerasi. Panas yang tak membakar, dan hantaman rasa sakit yang tak merusak.

Tentang nasib yang lain, Namol sama sekali tidak tahu apa-apa. Karena ia seketika terjatuh dari ruangannya berada, dan tiba di titik awal ledakan. Sebuah kamar di lantai dasar yang sudah hangus dan rontok dinding-dindingnya.

Sambil masih memeluk semua miliknya, Namol merangkak untuk bersembunyi di balik lemari setengah terbakar. Dunia seolah mendengung. Kepulan asap hitam terbawa angin ke arah yang berlawanan, dan keluar lewat celah di dinding rusak. Tapi hawa menyesakkan karena sedikitnya kandungan udara yang layak untuk dihirup tetap membuatnya megap-megap. Ia butuh beradaptasi selama beberapa detik.

Puppis terus mengoceh, Heppow meraung-raung, dan Wolverine sibuk menjilati wajahnya. Namol mencoba untuk mengabaikan semua itu. Ia menata pikirannya susah payah, kemudian menarik perkamen tua dari balik jubah.

Timiel ternyata sudah menulis instruksi baru:

Setelah dimakan api dan terjatuh dari tempatnya berpijak, Harry Jackson akan mengetahui kalau sedikit kebohongan tidak akan pernah merugikan siapa pun. Jangan lari, katakanlah tentang dunia asalmu, tapi bumbui itu dengan sedikit muslihat iblis. Berburulah bersama mereka.

Namol mengumpat pada segenap perasaan yang tidak bisa ia definisikan di kepalanya saat ini. Ia juga mulai merasa kalau Timiel bisa melihat masa depan. Yang jelas, mengetahui kalau ini bukan saatnya kebingungan, ia berdiri. Bergegas keluar dari salah satu lubang di dinding, dan ... tanpa persiapan, langsung berhadapan dengan kekacauan yang berpusar-pusar.

Sosok-sosok tua berjubah kelabu memenuhi darat dan langit. Mereka membombardir wilayah gang-gang sempit dengan macam-macam sihir. Namol mematung tak percaya. Ia melihat naga api sibuk melahap satu-dua bangunan kumuh. Langit malam yang memuntahkan petir-petir, terkonsentrasi pada satu titik. Pusaran angin hitam yang sudah berhasil mencabut beberapa rumah dan kendaraan. Gempa besar melongsorkan tiga bangunan tepat di sebelahnya. Dan manusia-manusia terluka yang berlarian panik.

"Mereka semua pasti mimpi buruk!" pekik Puppis si gitar, menggunakan nada F dan E minor balok. "Mundur, bodoh, kembali ke dalam!"

Tapi Namol tidak bergerak sesenti pun. "Li-lihat!" katanya, sambil menunjuk sesuatu yang sedang bergerak di antara sihir-sihir, di sisi reruntuhan gedung.

Venessa Maria.

Wanita sempurna itu ada di sana. Dipagari manifestasi mimpi buruk berupa penyihir tua berjubah kelabu.

Tidak jauh dari situ, berhamburan sosok berseragam sama (yang Namol duga sebagai penyihir-penjaga dari kerajaan), dan orang-orang aneh dari ruangan tadi (Yapet, Hewan, bersama dua sosok lainnya). Mereka semua tampak sekuat tenaga berusaha mendekat. Menghabisi satu per satu mimpi buruk. Demi meraih Maria.

Penyihir-penjaga bersatu dalam kor yang merapal mantra-mantra besar, menciptakan air bah dari ketiadaan. Beberapa manifestasi mimpi buruk seketika hilang tersapu gelombangnya. Tapi beberapa lagi membalas dengan sihir-sihir manipulasi. Mengubah sebagian air tadi menjadi minyak kemudian membakarnya. Atau sihir-sihir yang memohon bantuan langit, sehingga sisa air itu diangkat ke atas kemudian diturunkan dalam bentuk hujan badai yang menusuk.

Di arah yang lain, terlihat Yapet dan Hewan saling memunggungi. Sambil bergerak sedikit demi sedikit, keduanya menghajar mimpi buruk yang berdatangan menggunakan pisau dan tangan kosong. Dua sosok lainnya, si wanita bertopeng yang kini memegang senapan, dan gadis pembawa panah, membantu dari jauh.

"Jangan ikut campur, dan kembalilah ke dalam!" bentak Puppis tiba-tiba, pada Namol yang sudah mengambil satu langkah keluar dari bangunan.

Kilatan cahaya meledakkan rumah setengah rubuh di depan mereka.

Namol menunduk. Menyeka keringat di pelipis, lantas berujar gemas, "Ta-tapi ... Maria adalah lawanku!"

"Ya, dan biarkan saja dia kalah sendiri! Situasi ini terlalu berbahaya buatmu, bodoh!"

Puppis benar. Namol menyadari dan mengakuinya. Dengan situasi sekacau ini, semuanya mungkin akan selesai sebentar lagi. Ia tidak perlu repot-repot untuk maju. Ia akan menang tanpa bertarung. Mimpi buruk akan mengalahkan Maria untuknya.

Maka, Namol menunggu. Sampai akhirnya—

Gerbang berbentuk lingkaran hitam yang sekelilingnya dipenuhi simbol, muncul dan terbuka begitu saja di belakang keberadaan Maria yang masih terkepung mimpi buruk. Lalu dari dalam sana, bermunculan makhluk-makhluk jangkung yang sekilas terlihat seperti patung berbahan dasar batu permata. Namol harus melepas kacamata bulatnya, dan mengucek kedua matanya, untuk memastikan kebenaran yang sedang ia lihat.

Ia tahu makhluk-makhluk jangkung itu. Mereka adalah kaum Lutie-Horderoth, salah satu penghuni Hutan Penghakiman Vindhila di Regaia.

Dan saat ini, mereka sedang membawa Maria masuk ke dalam gerbang—portal.

Para penyihir-penjaga seketika berseru. Melakukan perlawanan gegabah, begitu pula dengan Yapet dan teman-temannya. Mereka mendesak membabi buta. Meneriakkan nama Maria di antara kebisingan.

Pasukan mimpi buruk, di satu sisi, memperketat pertahanan. Memusatkan kekuatan untuk menghancurkan apa saja yang bergerak mendekati gerbang selain Maria dan makhluk-makhluk pembimbingnya.

Namol ikut melesat. Terbang, tanpa tahu alasan apa yang membuatnya bergerak. Gitar bersarung dan anjing kecilnya ditinggal di bawah. Mereka menyuarakan protes. Namol tidak peduli. Fokus dan tujuannya hanya satu: Maria.

Angin-angin bersiulan di telinganya. Pemandangan sekitar mengabur bersama suara-suara lain yang tak jelas. Namol terbang secepat yang ia bisa. Tanpa melambat sama sekali. Meski beberapa kali ia nyaris menabrak arus-arus sihir yang melintang dengan liar. Dan pada akhirnya, ia memang menghantam semacam dinding api kemudian terjatuh. Tapi itu pun tak menghentikannya lama-lama.

Namol mengumpat, berdiri, membuat dirinya menjadi antimateri, lalu mulai berlari naik-turun melewati reruntuhan sampai napasnya membakar tenggorokan, dadanya berat seperti didesak karang tajam, dan kakinya menegang seolah dicengkeram kawat baja; sehingga hanya bisa bergerak konstan ke depan-ke belakang.

Ia melewati hantaman petir dari langit dan berbagai sihir lainnya. Menembus tubuh-tubuh pasukan penyihir-penjaga. Berlari melewati Yapet dan teman-temannya. Menerobos barisan terakhir pertahanan pasukan mimpi buruk di sisi reruntuhan gedung—

Lajunya berhenti. Kedua kakinya gemetar lemas. Akhirnya, ia tiba. Maria terlihat dengan sangat jelas. Beberapa langkah di depan.

Rambut panjang oranyenya yang seindah ledakan-ledakan bintang bergerak-gerak ke kiri. Setengah tubuh sempurnanya sudah masuk ke dalam portal.

Namol menghimpun sisa napas yang ada, kemudian berteriak keras-keras, "MARIA VENESSA! BERHENTI!"

Dan Maria berhenti. Ia berbalik untuk menatap Namol dalam samaran, tersenyum sedih, kemudian berujar serak, "Siapa pun kamu ... tolong selamatkan aku ... atau semuanya ... dunia ini ... selamatkan aku—" Beberapa tangan ramping dan berkilau seperti permata, mencuat dari dalam portal, lantas menariknya ke dalam.

Maria Venessa lenyap bersama dentuman suara gerbang yang menutup. Namol, dan perlawanan, membeku memperhatikannya.

Bersamaan dengan itu, dunia kembali berkedip. Hitam total menutup semua bentuk dalam hitungan satu detik penuh. Dan ketika semuanya kembali terlihat, terdengar sorakan gembira, yang mengatakan kalau pasukan mimpi buruk telah menghilang tak bersisa. Itu memang benar, Namol menyadari itu, tak terlihat satu pun penyihir tua berjubah kelabu. Lalu, muncul satu lagi jeritan yang kemudian ditimpali jeritan senada. Kali ini jerit kepanikan, yang menyatakan bahwa langit di atas sana menghilang.

Setengah tidak percaya, Namol mendongak pelan.

Langit memang menghilang. Tidak ada awan, bintang, bulan. Tidak ada malam.

Tidak ..., pikir Namol, berdebar, bukan menghilang. Tapi berubah menjadi ... cermin?

Refleksi. Dunia seolah terbagi menjadi dua bagian identik. Atas dan bawah. Tanpa langit. Namol hampir bisa melihat dirinya sendiri di atas sana, sedang berdiri mendongak di sisi reruntuhan gedung. Dan pemandangan di sekitarnya ... pertempuran tadi benar-benar telah nyaris meratakan permukiman yang diisi oleh seratusan gang ini.

Tapi kehancuran itu mungkin baru awalnya. Karena dunia di atas sana tiba-tiba meretak, seolah ada tangan-tangan raksasa yang menghantamnya keras-keras secara berulang.

Yang terburuk dari itu, setiap retakan yang diciptakan memberikan guncangan dahsyat pada dunia identik di bawahnya. Dunia tempat Namol dan semuanya berdiri, atau kini terjatuh dan teracak. Tidak jelas hidup atau mati.

Raungan misterius yang menulikan saling sahut-menyahut. Daratan terbelah tak beraturan, menyesuaikan dengan pantulan di atas sana. Kabut sewarna merah darah yang meledak-ledak menyembur dari setiap retakannya.

Dan, ketika akhirnya dunia di atas sana hancur berkeping-keping selayaknya cermin, kemudian memperlihatkan lagi panorama langit malam di baliknya. Dunia di bawah sini sudah dikepung oleh debu, api, kehancuran ..., keheningan.





Sang Penggembala


"Aku ... mungkin akan menghabiskan setengah hidupku ke depan untuk membenci Sang Kehendak," Namol mendengar samar-samar, suara familier yang rasanya bukan keluar lewat mulut. "Lebih-lebih dari sebelumnya—uh? Sudah sadar?"

Mengerjap pelan dan menahan pening, Namol bangun dari rebahnya di antara puing. Tapi ia tidak bisa berdiri. Ada sengatan linu di kaki kanannya, membuatnya seketika jatuh terduduk sambil mengerang. Wajahnya juga lengket oleh darah dan keringat. Sebelah matanya sulit untuk dibuka penuh.

Tapi ia tetap melihat. Jelas dan sedih. Akibat fenomena cermin besar di langit, sekelilingnya kini hanyalah warisan kehancuran. Wilayah yang tadinya padat, dengan jalan-jalan sempit, sekarang tak ubahnya lapangan luas berisi reruntuhan yang menggunung, kepulan asap yang hitamnya lebih kelam dari malam, dan semak-semak api.

"Kaki kananmu patah," kata suara itu lagi. Suara yang seolah teredam, serta berasal dari dimensi lain.

Dan ketika Namol menemukan pemiliknya, ia langsung mengira kalau ini semua hanya mimpi. Kemudian dengan bodohnya ia sadar sendiri, ini semua memang mimpi. Sosok di depannya merupakan makhluk mungil berkepala bola mata beriris ungu. Mengenakan jubah, sarung tangan, dan bot dengan warna sama, serta memiliki tubuh seputih tulang—karena tubuhnya memang hanya terdiri dari kerangka saja.

Makhluk itu duduk tafakur di ujung patahan genting rumah penduduk, sambil sesekali menggerakkan tongkat di tangan kanannya dengan pola memutar. Ia dikawal di kanan-kirinya oleh domba hitam yang lugu.

Entah kenapa, keberadaan si kepala bola mata yang tenang-misterius itu tiba-tiba mengingatkan Namol dengan sosok Ratu Huban, si kepala bantal yang energik. Bola mata dan bantal. Pasti ada relasi di antara keduanya. Ditambah, tadi ia juga menyebutkan, kalau tidak salah dengar, Sang Kehendak. Sebutan bagi patung beraura kematian yang mendiami Museum Semesta. Entitas Tinggi yang mampu merenggut dunia-dunia milik para Reverier kapan saja sesukanya.

Pasti salah dengar, Namol mencoba menghibur dirinya sendiri dengan tidak memikirkan patung mengerikan itu lebih jauh. Dan, mengingat tidak baik untuk menyinggung bentuk kepala suatu makhluk, ia juga memutuskan untuk diam soal kemiripan si kepala bola mata dengan si kepala bantal.

"Di sini juga, terlalu banyak mimpi buruk. Tidak ... belum. Tadi baru setengahnya. Kalau sampai meledak lagi—" Makhluk itu melompat dari patahan genting, langsung ke depan Namol. "Jangan salahkan dirimu," katanya. "Bersembunyilah. Hidup sedikit lebih lama." Kemudian ia melompat lagi. Menghilang ke balik sebuah bukit yang terdiri dari puing-puing.

Namol tercengang. Sama sekali tidak mengerti ucapan si makhluk ajaib barusan. Penasaran, ia menyeret dirinya sendiri. Terbang tak stabil. Sambil menggigit bibir menahan sakit di kaki kanannya, ia melongok melalui puncak bukit berupa gerobak hangus.

"Bukan Reverier. Hanya penduduk, atau mimpi buruk. Terlalu sulit untuk membedakannya," kata si kepala bola mata, kepada seratusan domba hitam yang mengelilinginya. "Kita cari ke tempat lain. Mereka harus diusir secepat mungkin. Ayo, berangkat!"

Sebuah pemandangan yang menakjubkan. Di atas kehancuran, di bawah gemintang langit malam, semua domba yang ada mengembik serempak seperti tentara terlatih. Si kepala bola mata lantas menunggangi satu yang paling besar sambil mengangkat tongkatnya meninju udara. Dan mereka pun pergi, bergerak dengan sangat gesit. Namol memperhatikan rombongan hitam itu sampai barisan terakhirnya menghilang dari jarak pandang.





Lelucon Jagat Raya


Namol mengutuk dirinya sendiri sampai stok sumpah serapahnya habis.

Setelah puas mengikuti keegoisannya untuk berhadapan langsung dengan Maria tadi, dan malah melihat parade seratusan domba hitam yang dipimpin makhluk berkepala bola mata setelahnya, sekarang ia langsung sibuk mencari keberadaan Puppis, Heppow, dan Wolverine.

Kepanikan, dan rasa takut akan kehilangan sesuatu yang sangat penting, membekap kepalanya begitu kuat. Sehingga linu di kaki kanannya yang patah nyaris tidak terasa penting. Mungkin karena mengaduh masih bisa dilakukan nanti.

"Ta-tadi aku meninggalkan mereka di sini!" Namol terbang memutar, sempoyongan, di atas reruntuhan bangunan yang ia duga merupakan reruntuhan Tavern of the Black Alley. "Pupp—oh, bukan, Everdeen! Skywalker! Wolverine! Di mana kal—"

BUGH!

Dari celah pada tumpukan patahan tembok, dengan sangat ajaib, juga tampak sangat marah, sebuah gitar akustik melompat sejauh dua meter ke udara. Hanya untuk menghantam sesosok berjubah besar yang sedang terbang tak tentu arah.

"Porsi kebodohanmu, Namol Nihilo! Atau Harry Jackson! Atau terserah apa pun namamu sekarang, criping ringsek!" pekik Puppis, suaranya bergetar di B minor karena diiringi tangis. Ia melompat lagi dan lagi untuk menumbuk perut Namol. "Porsi kebodohanmu, menjadikan porsi ambisi Hitler begitu kecil dan seolah kurang motivasi! Dasar jlegur mulhid! Wombat! Antropoda! Otak ultramikroskopiks! Puki mai! Kenapa sampai tega meninggalkan penjagamu, dan pergi ke pusat mara bahaya sendirian?!"

Namol meringis. Membiarkan tubuhnya terus ditabrak sebatang gitar, sampai akhirnya mendarat perlahan di atas puing. "Yah ... maaf, ya?" katanya. "Tadi itu refleks—"

"Refleks? Refleks apa?!" Puppis semakin keras menangis dan menumbuknya. "Kalau sampai kenapa-kenapa, tadi ... ugh, bodoh-bodoh-bodoh!"

Heppow si sarung gitar, bersama Wolverine si anjing kecil, merayap keluar dari celah reruntuhan dan bergabung bersama keributan itu.

"Namol baik-baik saja?" tanya si sarung gitar, polos kekanakan. "Heppow sangat khawatir!"

Guk-guk-guk! Wolverine menimpali dengan antusias di sampingnya. Tapi entah menyerukan apa.

Untuk pertanyaan Heppow, jika harus jujur, tentu saja Namol ingin menjawab kalau ia sedang tidak baik-baik saja. Lawannya, Maria Venessa, menghilang diculik salah satu kaum dari Regaia. Sebelum menghilang, Maria juga sempat meminta tolong agar dirinya diselamatkan. Lalu tiba-tiba langit malam berubah menjadi refleksi dunia di bawahnya. Fenomena yang akhirnya menyebabkan kehancuran merata. Ditambah setelahnya, kemunculan sepasukan domba hitam, yang dipimpin oleh sosok ajaib berkepala bola mata, diduga memiliki misi mengusir para Reverier.

Harus memikirkan itu semua, dan hal-hal lain yang masih mengambang mengantre untuk dipikirkan, tentu saja tidak menjadikan siapa pun baik-baik saja. Apalagi Namol. Hal-hal tadi, serta kondisi fisiknya yang kian melemah; kaki kanan patah, pandangan setengah berkabut biru. Tubuh dan pikirannya sedang terombang-ambing di sehelai benang tipis.

Tapi lalu Namol memperhatikan ketiga makhluk ajaib di sekitarnya. Ketiga makhluk itu baik-baik saja. Dan keadaan mereka yang seperti itu benar-benar cukup menghibur sekaligus mengobati, lebih dari apa pun.

Jadi ia tersenyum sok kuat, dan malah mengatakan, "Aku ... baik-baik saja. Seandainya Everdeen berhenti memukuli perutku!"

"Sudah kukatakan, disiplinkan instrumenmu, penyihir," seseorang menyahut di balik punggungnya. Intonasi familier, cuek, dan dingin itu kini terdengar lebih mematikan. Sangat kurang manusia. "Tapi syukurlah kau baik-baik saja," suara itu melanjutkan, "dan semoga tetap begitu sampai malam ini berakhir."

Namol menoleh. Mendapati Yapet berdiri tidak jauh di depannya. Darah ada di sekujur tubuh laki-laki itu. Kemeja dan rompinya sobek tak beraturan, dasi kupu-kupu merahnya miring ke satu sisi. Di sebelah kanannya, berdiri si wanita bertopeng. Dan di sebelah kirinya, si gadis pembawa panah tampak sedang terbatuk-batuk.

Sambil menggigit sebatang rokok, membiarkan si wanita bertopeng yang menyulut api, dan si gadis pemanah susah payah menjaga nyalanya dengan sebelah tangan, Yapet menaikkan dagu. "Dengarkan baik-baik ... ini kesempatan terakhirmu." Suara itu tidak lebih keras dari bisikan yang marah. "Sebutkan identitasmu yang sebenarnya, penyihir. Jujurlah!"

Dan hampir seketika, langit malam di sekitar wilayah reruntuhan ini kembali diramaikan pendatang.

Mereka adalah para penyihir-penjaga—bala bantuan. Melayang dengan memanfaatkan angin yang telah dimanipulasi mantra-mantra; tersebar seperti hantu.

Wajah-wajah mereka kelihatan muram, marah, dan tidak sedikit yang menangis. Sambil menyingkirkan puing dan penghalang lain, sebagian dari mereka mulai mencari sosok-sosok yang selamat. Sebagian lagi mengumpulkan jasad-jasad. Korban di pertempuran, serta fenomena pecahnya cermin-langit tadi. Entah itu penduduk malang yang terjebak, atau sejawat penyihir-penjaga yang tubuhnya rusak tercabik sihir pasukan mimpi buruk.

Namol melihat sosok familier di antara mereka yang gugur. Si laki-laki kekar dari Tavern of the Black Alley, Hewan. Bersama istrinya, Umi. Dan anak mereka, Keenan, yang masih bayi. Ketiganya terbaring bersebelahan. Sangat damai dan seolah tertidur. Meski mata mereka tampak setengah terbuka ke arah malam dan segenap penghuninya, Namol tahu mereka sudah tidak bisa melihat apa-apa. Mereka sedang memandang sesuatu yang lebih indah dan kekal dari itu.

Yapet yang berada tidak jauh di depannya, membuang muka dengan tubuh bergetar.

Akhirnya, dari memperhatikan proses pengumpulan tubuh-tubuh kosong tersebut, yang dibuat berbaris dan ditutupi semacam karpet sihir, ditambah sebagian mereka-mereka yang selamat dan segera ditangani medis, Namol menyadari satu hal. Jumlah yang gugur, meski tidak sedikit, ternyata juga tidak sebanyak yang ia imajinasikan. Dan itu agak aneh. Karena, korban yang selamat pun tidak lebih banyak dari itu.

Seakan-akan ada sekelompok korban, penduduk atau penyihir-penjaga, yang menghilang tanpa sisa.

Keanehan yang sama, tampaknya, juga sedang dipikirkan oleh Yapet. Karena ia tidak langsung mendesak Namol untuk menjawab pertanyaannya. Alih-alih, ia ikut memperhatikan proses pengumpulan jasad dan korban luka-luka sampai selesai.

Tak lama kemudian, seorang penyihir-penjaga mendatangi laki-laki berdasi kupu-kupu itu. "The Bartender. Saya ditugaskan untuk menyampaikan pesan dari Yang Mulia Ratu Sanelia untuk Anda," jelasnya, sambil membungkuk memberi hormat.

"Bicaralah," kata Yapet.

Namol ikut mendengarkan.

"Raja terluka, dan terpaksa mundur setelah menjadi pahlawan di perbatasan," penyihir-penjaga itu memulai. "Meski militer-mundane dan beberapa batalion penyihir-penjaga masih sanggup melakukan perlawanan sampai saat ini, sangat dikhawatirkan kekuatan tempur dari Bingkai Mimpi di seberang sana akan bertambah dalam waktu dekat. Ratu mengharapkan presensi semua divisi khususnya, untuk membahas jalan keluar terbaik. Maria Venessa harus diperkuat dan dikirim untuk menyelesaikan misi ini secepatnya."

Yapet mengisap rokoknya dalam-dalam, kemudian membuangnya asal. "Undangan ke istana, huh? Tepat sekali waktunya. Baiklah, katakan ini pada Ratu Sanelia. Tavern of the Black Alley akan datang setelah mengurus beberapa masalah internal. Minor, tidak akan lama. Dan ... jika beliau belum tahu, informasikan juga padanya tentang status Nyonya Maria sekarang."

"Status Maria Venessa?" ulang si penyihir-penjaga, ragu.

"Ya. Ratu harus tahu, dan mulai memikirkan cara alternatif untuk menyudahi mimpi buruk ini. Semuanya ... ini semua ... aku setuju—harus secepatnya berakhir." Yapet melirik penuh sesal, dengan tangan terkepal, ke arah Hewan sekeluarga yang terbaring kaku. "Katakan padanya ..., messiah kita menghilang."



***



Cahaya merah muda yang bergaris-garis, ditemani semburat ungu pekat, dan hitam yang kian memudar, mulai mewarnai ujung langit bagian timur Exiastgardsun. Sebentar lagi malam bersama udara bekunya akan berakhir. Digantikan oleh pagi yang misterius dan, mungkin, berkelimpahan kehangatan sinar mentari.

Di bawah langit yang sedang semu dan bertransisi tersebut, masih di sisa-sisa kehancuran wilayah terbelakang-kota, Namol memperhatikan Yapet menggeser patahan-patahan tembok milik reruntuhan Tavern of the Black Alley. Di balik salah satu puingnya, tampak semacam pintu kayu yang terbenam pada lantai.

Yapet masuk ke sana. Dan baru muncul lagi beberapa menit kemudian. Dari tempat lain—sebuah gerbang luas yang berkamuflase dengan permukaan tanah, di samping reruntuhan. Ia muncul sambil mengendarai semacam mobil jenis jip besar. Berwarna hitam beroda enam.

Kaca jendela depannya membuka sampai setengah, memperlihatkan si pria berdasi kupu-kupu yang duduk sigap di belakang setir. "Skull! Strawberry!" ia berseru tanpa menoleh. "Kalian ingin jadi tua di situ atau apa?"

Si wanita bertopeng yang bernama Skull, dan si gadis pembawa panah yang bernama Strawberry, seketika berlari kecil ke arah mobil.

Strawberry, ketika berlari melewati Namol, mengerling-tersenyum sambil mengatakan, "Ayo, ikut. Jangan lama. Soalnya bos kita lagi kurang bagus, nih, adatnya. Tapi aku ngerti, sih."

Sementara Skull hanya menggumam serak, "Ekualitas! Order!"

Kedua perempuan unik itu sudah duduk di kursi belakang, ketika Yapet tiba-tiba membentak Namol, "Aku yang mendadak tuli, atau kau memang belum memberikan jawaban apa-apa?! Tidak perlu disuruh, seharusnya. Penyihir, cepat masuk! Kau berutang identitas pada negeri ini!"

Setengah kelabakan, Namol memunguti gitarnya yang masih bergerak-berbunyi, memasukkannya ke dalam sarung, menggendong Wolverine, kemudian terbirit-birit sambil menyeret kaki kanannya yang mulai terasa linu lagi, naik ke dalam jip. Duduk terengah-engah di antara Strawberry dan Skull.

Yapet membawa mereka melintasi wilayah seratusan gang ini. Melewati tenda-tenda buram tim medis yang sibuk merawat luka-luka. Melewati sekelompok penyihir-penjaga yang menerbangkan ratusan karpet sihir berisi jasad-jasad; siap dikirim sebagai berita duka pada keluarga bersangkutan.

Mesin mobil meraung dengan halus ketika kecepatannya dipacu. Kali ini tiba di jalan raya yang tercungkil meretak sana-sini. Lautan pecahan kaca yang sekilas cantik dan tajam berhamburan di sekitarnya, bersama bongkahan-bongkahan beton, pohon-pohon tumbang, kobaran api, dan pipa-pipa bawah tanah yang mencuat rusak.

Sesekali, mereka juga menyusuri lorong-lorong. Tercipta dari gedung-gedung tinggi yang seolah membungkuk hancur. Dan di sepanjang itu semua, tampak pemandangan familier dari bala bantuan yang sedang menangani korban-korban bencana, hidup atau mati.

"Strawberry, Skull," kata Yapet, merobek keheningan di dalam mobil. "Kalian berdua resmi menjadi anggota terbaru Tavern of the Black Alley."

Kedua perempuan di kanan-kiri Namol mengangguk mantap dan berterima kasih.

"Dalam situasi ini, upacara penyambutan, sumpah, dan pengecekan keamanan dasar yang biasa organisasi terapkan pada semua rekrut, akan ditangguhkan. Kuharap kalian mengerti, dan tetap melakukan yang terbaik sebagai profesional baru, sebagaimana tindakan kalian di pertempuran tadi malam," Yapet melanjutkan. "Kuulangi di sini. Skull, laporanmu mengatakan, kau berasal dari kota Twilight. Bekerja sebagai pembunuh bayaran. Hidup dengan seorang kakak, yang belum lama ini meninggal karena suatu kecelakaan. Kau bergabung dengan Tavern of the Black Alley agar bisa membalas dendam pada satu sosok yang sangat dilindungi negeri ini. Itu bisa diatur, dan, jika tiba waktunya nanti, semoga keputusan tadi bisa membimbingmu pada kedamaian."

Skull menunduk dalam-dalam sambil berujar serak, "Absolut!"

"Lalu, Strawberry." Yapet melirik si gadis pembawa panah lewat kaca spion. "Laporanmu mengatakan, kau berasal dari kota Vanilla. Bekerja sebagai pemburu harta karun. Hidup bersama keluarga kecil berisi ayah, ibu, dan dua saudara. Kau bergabung dengan Tavern of the Black Alley agar bisa mencari informasi seputar pelaku yang akhir-akhir ini mengancam keselamatan keluargamu. Itu hal yang tidak terlalu sulit, dan, jika tiba waktunya nanti, semoga keluargamu bisa terselamatkan."

"Ya! Uhuk-uhuk-uhuk!" Strawberry terbatuk parah, tapi ekspresinya senang luar biasa. Gadis berambut pendek itu buru-buru mengeluarkan tabung kecil berisi butiran obat dari saku celana, kemudian menenggak empat buah sekaligus. Batuknya mereda secara bertahap. "Terima kasih, bos!"

Yapet menghela napasnya pelan. Menjadi lebih muram dan dingin ketika melanjutkan, "Terakhir untuk sesi pesan selamat datang ini ... Hewan, Umi, dan Keenan. Ingat-ingatlah mereka. Kalian berdua telah resmi tiba di lingkaran, dan lingkaran selalu menghargai apa pun yang berada di dalamnya. Sebelum, sampai sesudah. Selamanya."

Sambil bersikap sediam kotak tisu di dasbor mobil, Namol ikut mendengarkan semua itu.

Perjalanan berlanjut ke tempat-tempat yang lebih padat. Pusat kota. Pemandangan yang berkelebatan di luar jendela semakin menyesakkan. Kehancuran dan suasana berkabung ada di setiap sudut. Gelimangan jasad berserak di trotoar. Korban-korban selamat tampak sedang memeluk-menangisi orang-orang terdekatnya yang tidak selamat. Sekelompok penduduk berdiri murung, membentangkan poster Maria Venessa sebagai messiah kepada para penyihir-penjaga, seolah sedang menuntut sebuah keajaiban yang telah dijanjikan.

Setelah jeda hening yang menyengat. Yapet lanjut mengulas tentang insiden ledakan pertama di Tavern of the Black Alley, dan detik-detik penculikan Maria Venessa yang terjadi tepat di bawah hidungnya.

Ketika itu, Yapet bersama Hewan, Strawberry, dan Skull, ternyata masih bertahan di atas. Di balkon—tidak seperti Namol yang malah terjatuh ke kamar bawah. Tak lama setelah pilar api yang menghancurkan lantai dan langit-langit mereda, Umi mendatangi mereka.

Umi segera memberitahukan kalau Maria dibawa oleh sepasukan mimpi buruk. Lengkap dengan keanehan yang menyertainya.

"Dan keanehan itu adalah ...," jelas Yapet, sambil mengingat perkataan Umi dan ekspresi bingungnya tadi malam, "tidak adanya paksaan, atau perlawanan. Nyonya Maria pasrah. Bahkan, menurut Nyonya Umi, dia seolah sudah menantikan kedatangan mereka."

"Bos, mungkinkah Maria membuat kesepakatan dengan pasukan mimpi buruk sebelumnya?" tanya Strawberry.

"Ya. Itu juga yang kupikirkan setelah mendengar penjelasan dari Nyonya Umi. Dan jawabannya: mungkin," kata Yapet, mengkonsiderasikan. "Ada dua kesempatan di mana Nyonya Maria bisa melakukan 'kesepakatan' itu—saat-saat ketika dia sedang bergerak sendiri tanpa pengawasan. Pertama, ketika dia baru kembali dari suatu tempat (yang dia ceritakan) bernama Bingkai Mimpi Mirabelle. Kedua, ketika dia sedang dalam perjalanan pulang dari istana kerajaan; setelah dia mengumumkan pada seantero Exiastgardsun yang ada, tentang situasi yang sedang kita hadapi saat ini."

"Situasi yang mengerikan," Strawberry menambahkan pelan. Lalu ia terbatuk parah lagi, dan langsung minum obat lagi.

Di luar sana, fajar akhirnya mengusir malam. Langit mulai memucat dengan warna-warna adolesens. Tepat pada saat ini, jip besar beroda enam berbelok meninggalkan pusat kota. Menelusuri jalan rusak di daerah terluar. Pemandangan di kanan-kiri berubah seketika menjadi semacam campuran hijau dan cokelat. Sebuah hutan kecil yang porak-poranda. Di mana pohon-pohon besar tercerabut sampai ke akar, dan bangkai-bangkai fauna tersebar di antaranya.

"Sedikit demi sedikit, wilayah-wilayah Exiastgardsun akan terbawa ke dalam dimensi khusus ini. Bingkai Mimpi," Yapet menggumam lebih untuk dirinya sendiri. Lalu ia banting setir menjauhi wilayah aspal yang melongsor. "Dan menurut pengakuan Nyonya Maria, dia merupakan wakil kita. Reverier, messiah. Pihak kerajaan percaya padanya. Meski sempat ragu, akhirnya aku juga percaya padanya. Jadi kalian juga harus percaya padanya."

"Tanpa disuruh, bos," kata Strawberry, manis.

"Unifikasi! Kohesif!" kata Skull, serak.

"Bagus."

Teratur, Yapet menginjak rem. Kecepatan mobil berangsur menghilang, dan menghilang, sampai akhirnya berhenti. Hening. Hutan kecil masih membentang di kanan-kiri mereka. Tapi di depan sana, di ujung jalan, terdapat lengkungan awal sebuah jembatan batu besar. Dan di seberangnya, terlihat rute mengular yang langsung mengarah ke salah satu sudut kastel megah.

"Istana kerajaan," kata Yapet. Ia buka semua jendela, membakar rokok, kemudian iseng menyalakan radio yang langsung menyemarakkan suasana dengan berita-berita duka. "Sebelum kita ke sana ...," lanjutnya, menoleh ke kursi belakang, "Strawberry, tolong bidik kepala penyihir di sampingmu, dan tunggu aba-aba dariku."

"Baik, bos."

Strawberry menarik sebatang anak panah dari kotaknya. Ditempelkan pada busur, dan diarahkan dua senti dari pelipis target.

Namol yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara merintih seperti buruan yang mendadak terperangkap. Gitar, sarungnya, dan anjing kecilnya langsung mengambil posisi defensif.

"Kita akan melaporkan semua bentuk informasi tentang Nyonya Maria pada sang Ratu," Yapet memulai. "Presisi waktu terjadinya serangan di Tavern of the Black Alley. Tindakannya yang pasrah ketika dibawa mimpi buruk. Dan ... arti keberadaanmu untuknya, penyihir, atau sebaliknya." Yapet berhenti. Dalam jeda diam ini, dunia seolah meringan dan mengambang.

Tidak ada suara lain di sekitar mereka, selain suara renyah penyiar radio dan seorang informannya ("... sekawanan domba hitam yang memburu penduduk di wilayah perniagaan kota Twilight, katamu? Itu berita baru. Apa? Ada makhluk berkepala bola mata, juga? Tuan Penislea Curtis ... apa kamu sedang mabuk?" Si penyiar menyuarakan tawa muram. "Ya, tentu! Dimabuk  sikap intoleran kalian!" sahut suara ringkih, kesal, dan bergetar. "Aku tahu apa yang kulihat, anak muda! Mereka semua menyerang membabi buta! Makhluk-makhluk sial! Istriku, tadi ... keparat ... jasad istriku dicabik-cabik mereka—").

"Aku melihatmu tadi, penyihir, di pertempuran," Yapet memulai lagi. Kedua matanya menutup. Rahangnya mengencang. "Kau berlari melewati semuanya. Mendekati Nyonya Maria. Apa yang kalian bicarakan? Apa yang kauinginkan darinya? Dan ... demi Tuhan, aku akan langsung memilih untuk menggorok lehermu pelan-pelan daripada harus mengulang perintah ini lagi: sebutkan identitasmu!"

Namol menarik napas dalam-dalam. Kemudian memilih untuk bertaruh.

"Baiklah ..., namaku—"



***



Ratu Sanelia berdiri di depan sisa pembakaran pada perapian klasik. Memperhatikan satu per satu wajah perwakilan dari divisi khususnya—para jenderal terpilih. Semuanya tampak cemas. Duduk menantikan titah dan kesempatan berbicara. Melingkar di sebuah meja mahoni berhiaskan enam bola kristal yang melayang-layang (dan seolah memerangkap berbagai jenis cuaca di dalamnya), di aula-utama istana kerajaan.

Namol ada di antara orang-orang hebat itu.

Ketakutan, tegang, dan dorongan aneh yang mendesak untuk membuktikan kemampuannya sesegera mungkin, berkecamuk di kepalanya seperti tumpahan air terjun. Di mobil, tadi, semuanya sudah dikatakan. Tentang identitasnya—kejujuran berlapis muslihat iblis. Kebohongan. Ia telah memilih untuk terus mengikuti instruksi kedua dari perkamen tua Timiel Isadore. Bertaruh.

Berburulah bersama mereka ....

Ratu Sanelia mengangguk ke arah Yapet yang segera merespons. Pria berdasi kupu-kupu, yang tampak lusuh dan terluka itu, lantas beralih pada Namol di sampingnya. "Katakan tanpa kurang satu apa pun," ia berbisik, "paham, Harry? Katakan semua yang kaukatakan padaku, Strawberry, dan Skull di mobil tadi. Bersikaplah selayaknya anggota Tavern of the Black Alley. Kau sudah resmi menjadi salah satunya."

Namol mengangguk mantap. Hatinya siap. Ia segera berdiri, kemudian dikhianati tubuhnya sendiri. Yang malah linu di bagian kakinya yang patah, ditambah getaran canggung, dan mulut yang kelu. Mengatasi grogi, ia alihkan pandangannya ke sekitar.

Sebuah aula luas. Memiliki empat pintu masuk megah berpenjagaan ketat. Dinding-dindingnya sesempurna mutiara, pilar-pilarnya yang tebal sewarna emas menjulang di sudut-sudut. Dan pada langit-langitnya, terlukis pemandangan peperangan besar di masa lalu.

Ada tiga belas orang yang duduk di sekitar meja bundar mahoni, di sentral aula ini, termasuk dirinya, Yapet, Strawberry, Skull, dan sang ratu. Namol memilih untuk menatap salah satu bola kristal berisi badai salju ketika akhirnya mengulang semua pengakuan.

"Baiklah ..., namaku—Harry Jackson. Gitarku bernama Everdeen, sarungnya bernama Skywalker, dan anjing manisku ini ..., Wolverine." Jeda mengelap keringat. Ini adalah kebohongan pertama.

Reaksinya positif. Jika tidak menghitung celetukan jenderal berwajah baik dan agak gembil, yang isinya ... nama-namanya tidak asing. Penyihir ini pasti berasal dari distrik pop-culture! Lalu Namol melanjutkan.

"A-aku berasal dari Bingkai Mimpi di seberang sana."

Pada bagian ini, semuanya kecuali Yapet, Strawberry, dan Skull, terkesiap di tempat duduk mereka. Bahkan gadis cantik di samping sang ratu seketika berdiri; menyipitkan kedua mata indahnya, intens menyelidiki gelagat Namol.

Yapet mengisyaratkan agar pengakuan dilanjutkan.

Maka Namol melanjutkan.

"Aku ... bukan mata-mata," katanya, jujur. "Aku ke sini untuk membantu. Aku ingin agar peperangan dan kehancuran sia-sia secepatnya dihentikan. Dengan cara menemui Maria Venessa secara langsung, ya, dan—aku akan memintanya untuk menemui Namol Nihilo! Aku bisa melakukan itu, tadinya. Karena semua ini, mimpi buruk ini, hanya bisa dihentikan oleh mereka berdua. Tapi Maria tidak ada sekarang ... diculik. Rencanaku berubah. Aku bisa mengantar kalian ke seberang sana. Aku tahu semua hal tentang penculiknya. Sungguh. Ikutlah bersamaku!"

Para pendengar merespons tawaran itu dengan macam-macam komentar:

Jenderal berwajah baik dan agak gembil mengatakan sesuatu tentang lelucon, omong kosong. Yapet membela Namol.

Satu jenderal lainnya, yang seolah memiliki ekspresi tegang permanen di wajahnya, mengatakan hal-hal yang terdengar seperti ... mata-mata ... ini jebakan pihak seberang ... bisa jadi dialah manifestasi mimpi buruk. Yapet kembali membela Namol.

Dan jenderal terakhir, laki-laki tua yang sedang mengisap cerutu, mengatakan bahwa ia selalu memercayai intuisinya sejak masih berusia tujuh tahun. Dan kini instuisinya mengatakan bahwa Namol—atau Harry—sama sekali tidak bisa dipercaya. Sekali lagi, Yapet membela Namol, sambil mengingatkan sang jenderal kalau intuisinya hanya pernah benar satu kali.

"Tavern of the Black Alley terlalu melindungi alien ini!" bentak jenderal berwajah baik. Pipinya memerah kesal.

"Karena apa pun akan kulakukan untuk menghentikan kegilaan ini secepatnya, Jenderal Tabul!" Yapet menyalak tak kalah galaknya. Sikapnya yang meledak-ledak membuat Namol cukup terkejut, dan senang. Laki-laki dingin itu terus-menerus membelanya. "Harry Jackson bisa menyelamatkan messiah kita! Aku memercayainya, sebagai rekan satu tim, dan sesama manusia yang ingin terus berharap!"

Jenderal Tabul lanjut komat-kamit tanpa suara. Meski sedang gusar wajahnya tetap terlihat baik.

"Kalau saja Tavern of the Black Alley bisa menjaga Maria Venessa dengan benar," cibir si jenderal berwajah tegang, "kita tidak perlu memperdebatkan masalah ini! Menimang apakah orang luar itu bisa dipercaya atau tidak—jawabannya jelas! Penjarakan dia! Atau gunakan dia sebagai objek pertukaran tahanan! Kita bertarung secara mandiri! Exiastgardsun bukan negeri yang lemah!"

"Tentu saja, Jenderal Herman. Negeri kita negeri yang kuat, aku setuju itu," Yapet merespons tenang dan dingin. Tapi Namol bisa melihat buku-buku jarinya memutih-menegang. "Soal kelalaian Tavern of the Black Alley dalam menjaga Nyonya Maria, aku juga menyetujuinya. Mengakuinya. Pertahanan kami melemah, karena banyak anggota kami yang belum terdeteksi keberadaannya di Bingkai Mimpi ini.

"Tapi kuingatkan, Nyonya Maria berada di kedai kelompokku atas kemauannya sendiri. Maaf jika dia tidak memilih istana aman ini, atau benteng besimu, Jenderal, yang kudengar kokoh, dingin, dan tanpa hama di wilayah militer kota Twilight.

"Lalu terakhir, kuingatkan dengan segala hormat, tidak ada yang perlu diperdebatkan di sini, sebenarnya, karena kita tidak punya cukup waktu untuk melakukan itu."

Jenderal Herman hendak membalas argumen tersebut, jika saja ia tidak melihat tangan kanan sang ratu terangkat. Isyarat kekuasaan darinya, seketika dan serempak, menjadikan semua pembicaraan di aula-utama ini tertahan dalam satu kebisuan yang mendadak.

"Yapet," Ratu Sanelia memulai. Menatap lawan bicaranya dalam-dalam, penuh perhitungan. "Baiklah. Pergilah. Selamatkan Maria Venessa."

Aula-utama heboh oleh ekspresi terkejut tiga jenderal pilihan.

Yapet membungkuk memberi hormat, senyum kemenangan menghiasi wajahnya yang berlumuran memar dan darah kering. "Hanya yang terbaik akan kupersembahkan untuk negeri ini, Yang Mulia."

Sang ratu mengangguk memberi restu. Ia juga meminta agar Jenderal Idris, jenderal yang sangat membanggakan intuisinya dan selalu terlihat sibuk mengisap cerutu, untuk menemani Yapet dalam misi penyelamatan.

"Aku juga ikut," kata gadis cantik di samping sang ratu. Namol bisa melihat kemiripan di antara keduanya; rambut biru yang lurus-panjang dan sedikit bergelung di akhir, sorot mata teduh, dan sikap yang anggun-bersahaja. "Aku harus ikut!"

Untuk pertama kalinya, ekspresi sang ratu berubah. Emosinya yang terkendali berganti menjadi kekhawatiran. Wajah cantiknya begitu sedih dan terluka, sampai-sampai Namol yang tak bisa berpaling merasakan hatinya sendiri beku dan patah.

"Pergilah, Saya, putriku ... dan berhati-hatilah," kata sang ratu akhirnya. Suaranya indah dan bergetar seperti instrumentalia yang menceritakan kisah-kisah pengorbanan.

Ekspresi gadis itu, Saya, berubah jadi sedikit lebih cerah. Ia membungkuk memberi hormat, berterima kasih dan berjanji akan melakukan yang terbaik, kemudian sang ratu meraihnya dan memeluknya.

Pada saat ini, satu dari empat pintu aula-utama dibuka lebar-lebar. Seorang laki-laki besar, tubuhnya dipenuhi tonjolan otot, dan bekas luka yang mencoreng pada wajah, masuk ke dalam. Ia mengenakan semacam zirah sewarna biru langit yang sangat megah. Jubah hitamnya mengawang mengiringi setiap langkah setengah berlari.

"Sayangku, aku akan kembali ke perbatasan," kata si laki-laki besar untuk sang ratu. Tak diduga, sosok yang mungkin mampu membuat raksasa ketakutan itu, berucap begitu polos, lembut, dan beraksen mendayu. "Apa pertemuan ini sudah selesai? Apa keputusanmu?"

Ratu Sanelia melepas pelukannya dari sang putri, beralih memeluk si laki-laki besar. Harapan konyol berbunga di kepala Namol; mungkin ia juga bisa mendapat pelukan seperti itu nanti.

"Rajaku ... bagaimana dengan luka-lukamu?" gumam sang ratu. "Pertemuan ini sudah selesai. Kita akan berusaha menyelamatkan Maria."

Si laki-laki besar, sang raja, tertawa renyah.

"Sudah seharusnya. Dan jangan khawatir, Sayang, aku hanya sedikit tergores di pertempuran pertama. Aku pernah berhadapan dengan kuda api raksasa, ingat? Monster. Sama sajalah mereka semua. Binatang liar yang butuh pelatihan—beberapa tinju dari pria sejati."

Sang raja lantas menatap satu-satu sosok yang membungkuk memberi hormat di hadapannya. Tersenyum, kemudian berujar dengan lantang, "Malam nanti semuanya berpesta di alun-alun istana! Makan sampai perut kita meledak! Malam nanti semuanya selesai! Malam nanti kita bersulang untuk kemenangan bersama! Kita minum sampai jadi bodoh dan bahagia! Jadi jangan ada yang mati, rugi! Saudara-saudaraku, mari kita berlomba menuju malam itu! Ha-ha-ha!"

Maka semuanya dimulai.

Bersama Jenderal Tabul dan Jenderal Herman, beberapa batalion penyihir-penjaga, tentara khusus, skuadron, dan transportasi perang lain dari militer-mundane atau pasukan tempur tanpa sihir, sang raja berangkat lebih dulu ke perbatasan Bingkai Mimpi. Mempertahankan wilayah dari serangan monster dan kekuatan militer seberang, sekaligus membuka jalan untuk para penyelamat nantinya.

Sementara Namol, bersama Tavern of the Black Alley, Putri Saya, Jenderal Idris, dan seratus pasukan pilihan yang menyertai misi penyelamatan Maria Venessa, bersiap untuk mencapai lokasi roket hitam.

Namol, yang segera disetujui, merekomendasikan roket itu sebagai media menyeberang dengan cepat.

Matahari tiba di pertengahan, persiapan pun selesai—persenjataan, dan pemulihan. Rombongan penyelamat mulai bergerak. Hari ini begitu cerah. Biru-jernih. Satu lagi bahan bakar yang bisa dituang ke dalam jiwa-jiwa bersemangat. Memperkuat moral dan motivasi, sampai akhirnya bisa disebut sebagai pertahanan lapis kedua yang tak terkalahkan.

Tapi betapa semua sikap sempurna itu harus berubah dengan cepat.

Rombongan berhenti bergerak secara tiba-tiba. Tangan mereka terangkat kaku. Kepala mereka mendongak dengan ekspresi horor. Bersamaan, seolah membentuk ombak, mereka memelototi langit.

Warna biru yang luas, yang sedetik lalu masih ada di sana, kini tak ada lagi. Langit di atas sana kembali berubah menjadi hamparan datar yang merefleksikan dunia di bawahnya.

Menjadi cermin.

Semuanya terjadi bahkan ketika rombongan penyelamat belum sempat meninggalkan wilayah istana kerajaan.

Selama sesaat seisi dunia seolah berhenti berdetak. Lalu samar-samar, sambil berdiri gemetar di antara rombongan yang kini pucat-membisu, Namol mulai bisa mendengar teriakan-teriakan keputusasaan dari arah kota. Ketakutan. Trauma. Cermin-langit bisa pecah kapan saja, dan memantulkan kembali kehancurannya ke bawah sini.

Detik-detik berlalu. Dunia di atas sana ternyata tidak melakukan apa-apa. Tidak ada gedoran, retakan, kabut sewarna darah, atau jeritan menulikan dari makhluk misterius.

Tidak ada.

Karena cermin di langit tampaknya memutuskan untuk memberikan jenis kehancuran yang lain pada dunia di bawahnya.

Kehancuran yang lebih merusak.

Salam damai, wahai para penghuni Bingkai Mimpi, ujar sebentuk suara tipis-transendental yang tersebar di udara, dan seolah menggema langsung ke dalam kepala setiap pendengarnya. Perkenalkan ..., aku adalah, hm, terlalu sulit untuk lidah kalian. Jadi sebut saja, aku, sebagai mimpi buruk kalian semua. Salam kenal, sungguh sebuah kehormatan untukku.

Pesan langsung dari sang mimpi buruk. Namol menelan ludah.





Perang Saudara


Sebagai permulaan. Ahem! Maria Venessa, dan Namol Nihilo, aku melakukan ini untuk mereka berdua. Oh, dan tentu saja untuk kalian juga, para penghuni Bingkai Mimpi. Jadi tolong dengarkan aku baik-baik.

Sebentar lagi, semua kerusakan yang telah kuciptakan akan kutarik. Kubatalkan. Dan itu berarti, tidak ada lagi pemandangan kehancuran. Tidak ada lagi keluarga yang menangisi anggota-anggotanya yang tewas. Tidak ada lagi bencana. Semua kembali normal.

Memang, sedetik setelahnya, terlihat jelas pada cermin-langit: pemandangan restorasi dari setiap sudut negeri. Bangunan kembali tersusun lengkap seperti kepingan teka-teki, tanah yang meretak kembali merapat, titik-titik cahaya mengindikasikan jiwa-jiwa yang dikembalikan dari tanah makhluk-makhluk mati. Namol menganga, tersesat di antara kebingungan, rasa takut, dan takjub.

Bagaimana? Jika itu bukan kebaikan, aku tidak tahu apa namanya. Tapi tidak. Tunggu. Kalian pasti berpikir, ini tetap salahku. Salah si mimpi buruk. Karena, sejak awal, akulah sosok penghancur segalanya yang ada di sini, kenormalan kalian. Maka otomatis, seharusnya tidak ada perubahan status juga terhadap apa pun yang akan kulakukan setelahnya. Meskipun itu ... apa sebutannya ...? Bertobat? Ya, itu.

Sorakan keputusasaan dari kota mulai berganti menjadi pekik haru. Ucapan-ucapan syukur. Exiastgardsun nyaris pulih seratus persen dari kehancuran pascabencana pertama. Tapi Namol juga melihat, masih ada wilayah yang dikerumuni penduduk murung di beberapa sudut refleksi langit. Mereka semua kritis menanggapi pesan sang mimpi buruk.

Aku mengerti. Kalian akan tetap melihatku sebagai mimpi buruk penghancur. Bukan mimpi buruk yang memperbaiki sesuatu. Yah, cara mainnya memang begitu dari dulu, sih. Bukan salah kalian. Aku sudah hidup dari mimpi pertama pada kehidupan pertama yang diciptakan sang Pencipta. Aku cukup tahu bentuk jiwa terdalam dari apa pun yang bisa bermimpi.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang tentara muda di samping Namol. "Apa misi kita tetap dilanjutkan? Berikan komando! Keluargaku di Vanilla ... mungkin mereka juga hidup lagi. Yeah ... mungkin ... itu mungkin saja, kan?"

Namol melirik Yapet. Pria berdasi kupu-kupu termenung memperhatikan cermin-langit, diam seribu bahasa menanggapi opini-opini prajuritnya.

Lalu perhatian semuanya teralih pada tiga sosok yang terbang melesat dari arah kastel, dan mendarat tepat di tengah-tengah rombongan. Mereka adalah Ratu Sanelia, beserta dua pengawal pribadi.

Baiklah. Jadi, untuk melengkapi kebaikan tadi, kalian harus mematuhi satu saja hal sederhana. Karena timbal balik selalu berada di sisi koin yang berbeda dari kesempurnaan, setuju? Dan satu keinginanku itu, yaitu: jauhi Maria Venessa, dan jauhi Namol Nihilo. Biarkan kedua Reverier berada di Bingkai Mimpi masing-masing. Sendirian, terasing. Jangan sampai mereka bertemu satu sama lain, atau siapa pun.

"Pergi sekarang, Yapet, Jenderal Idris. Jangan berhenti," ujar sang Ratu, mendesak. "Siapa pun yang ada di balik ini semua ... dia tidak bisa dipercaya. Selamatkan messiah kita secepat mungkin. Kerajaan akan mengurus semua konsekuensinya."

"Iya, ayo!" timpal Putri Saya, bersemangat.

Yapet cukup lama hanya diam memandangi sang ratu, sampai akhirnya ia mengangguk dan memberi komando pada separuh konvoi untuk lanjut bergerak. Jenderal Idris mengomandoi setengah sisanya.

Namol bisa merasakan keraguan dan ketakutan yang mengambang di udara pagi ini seperti partikel racun. Ada beberapa prajurit yang menampakkan wajah protes, bahwa hati mereka lebih condong menuruti kemauan mimpi buruk untuk menjauhi Maria, hanya saja mereka tidak menyuarakannya.

Rombongan kembali bergerak. Keluar wilayah istana kerajaan. Sementara sang ratu, kini ditemani lebih dari dua pengawal, melesat ke arah kota untuk mengantisipasi apa pun yang sekiranya akan terjadi.

Di antara semua itu, sang mimpi buruk kembali bersuara:

Sederhana, bukan? Mudah. Karena satu hal lain yang kuketahui tentang kalian, makhluk-makhluk yang dikaruniai kemampuan bermimpi, adalah betapa mudahnya kalian mengasingkan sesuatu. Hal tersebut sudah dilatih dari generasi pertama, pendahulu kalian. Terlebih jika hal tersebut sudah menyinggung soal iman—oh, dosa pada harga diri! Kepercayaan kalian akan mati-matian menggapai semua jawaban pembenaran di setiap aspek kehidupan, di dalam pertanyaan benar dan salah, di antara opsi-opsi yang sebenarnya, semuanya, hampir tidak masuk akal dan berujung pada hal yang itu-itu saja!

Pada refleksi langit, tersaji pemandangan sekelompok pengawal sang ratu yang akhirnya tiba di pinggiran kota. Namol menyaksikan dengan saksama. Terjadi perbincangan. Sang ratu maju ke depan kerumunan penduduk yang letih tapi cukup senang karena semua kerusakan nyaris pulih, dan orang-orang terdekat mereka yang tadinya tewas kini hidup lagi. Namol menerka, mungkin sang ratu sedang menjelaskan tentang misi penyelamatan Maria, sekaligus memperingatkan bahwa suara dari langit sama sekali tidak bisa dipercaya.

Lalu tiba-tiba, terjadi kericuhan. Pengawal-pengawal segera berusaha melindungi sang ratu dari para penduduk yang mulai berteriak dan mendorong. Namol melirik Yapet, yang juga sedang melihat apa yang ia lihat. Tapi tidak ada respons apa-apa darinya.

Rombongan penyelamat terus bergerak. Kini menyusuri jalur tanah berbatu di antara hutan kecil dan aliran sungai. Di ujung sana, Namol mengingatnya, roket hitamnya terparkir menanti.

Kalian para makhluk yang merasa bebas. Kalian pikir untuk apa mimpi diciptakan? Dan untuk apa aku, segala keburukan yang mampu menyadarkan, ikut serta dimasukkan ke dalamnya?

Kalian hanya bebas ketika mata kalian terpejam. Ketika kalian berpikir jauh dari gua gelap di dalam kepala kalian. Tapi itu bukan kenyataan. Semua itu hanyalah hal-hal yang bisa diraih ketika kalian bermimpi. Lebih buruk dari itu, semua "hal benar" tadi adalah sesuatu yang ditanamkan secara paksa pada kalian. Singkatnya, masih palsu. Sesungguhnya, tangis awal dari saat-saat kelahiran kalian adalah pemikiran orisinal terakhir yang kalian lakukan. Setelah itu? Sistem penggembala. Status dan status. Ayolah ....

Hati-hati, Namol melirik lagi cermin di langit.

Sebagian pengawal yang menjaga sang ratu sudah disebar ke tiap sudut kota. Mendatangi stasiun televisi atau radio yang masih beroperasi. Menyampaikan pesan yang sama, menciptakan kericuhan yang sama, dan hanya sedikit yang terlihat berhasil diyakinkan bahwa suara di atas sana sama sekali tidak bisa dijadikan pegangan.

Sebagai mimpi buruk. Aku akan membangunkan kalian. Sebagai mimpi buruk, aku akan mengantar kalian pada kehidupan tanpa batas.

Rombongan penyelamat tiba di tempat roket hitam Namol terparkir. Satu per satu, dan agak setengah hati, mereka masuk ke dalam.

Yapet, Putri Saya, Jenderal Idris, dan Namol sendiri, duduk di ruangan pilot.

"Tekan tombol turn me on, Baby! Lalu tekan tombol home sweet home sebagai navigasi awal, dan cocokkan koordinasi Vindhila di radar ketika kita sudah melewati perbatasan Bingkai Mimpi," jelas Puppis si gitar, menggunakan jalur kunci A. "Bukan yang itu, goblok! Jangan yang blow me by myself, tapi yang turn me on, Baby! Salah, ih, kutu buduk—"

Akhirnya setelah menamatkan beberapa kesulitan dan hinaan lain, Namol berhasil menerbangkan roket hitam. Melesat mengarungi apa yang seharusnya menjadi langit Exiastgardsun, tapi kini berubah menjadi reflektor raksasa.

Dan di sekitar mereka, di udara, di dalam pikiran ... mimpi buruk masih terus bersuara.

Kunci terakhir menuju pintu kebebasan itu adalah, ironisnya, menuruti satu perintah sederhana. Satu lagi, bergerak terdikte. Kalian sudah tahu harus apa. Asingkan kedua Reverier. Selesai.

Atau ... jika kalian membangkang. Hm, bagaimana kalau kuhancurkan saja dunia sempit ini lebih daripada sebelumnya? Aku tidak ingin mengurangi kesopanan dan kerendahan hati pada percakapan ini, tapi percayalah, dunia ini milikku. Jadi aku bisa melakukan apa saja pada kalian.

Dan kenapa aku, pemegang kekuatan utama, sampai mau repot melakukan hal remeh seperti ini? Tanya Tuhan. Atau, jika kalian serius menanyakan itu, aduh, artinya kalian benar-benar tidak akan pernah bisa menyebut namaku yang sebenarnya. Silzillut Extcharioneard Xitgrn. Menyebut berarti memaknai, huh? Dalam bahasa luhur, namaku berarti ... evolusi. Aku ingin berevolusi. Menjadi lebih dari sekadar mimpi buruk.

Untuk itulah aku melakukan ini. Untuk memisahkan diri dari kalian. Langkah awal menjadi sesuatu yang baru.

Setelah laju dan rute terbang sudah masuk ke dalam tahap stabil, Namol pamit keluar ruangan pilot. Ia sangat ingin menyendiri, mengistirahatkan pikirannya sejenak. Beruntung, roket ini memang cukup besar untuk difungsikan sebagai sarana bersembunyi.

Ia masuk ke dalam ruangan kecil yang kosong. Langsung melorot di balik pintunya. Duduk lemas, kepala di antara lutut. Kacamata bulatnya dibiarkan jatuh.

Khawatir, Wolverine mulai menyalak. Heppow dan Puppis menimpali dengan ocehan senada.

Baiklah. Senja hari ini. Ingat-ingatlah, itu tenggatnya. Sampai cahaya terakhir pada senja hari ini berhenti bersinar, kalian harus mengasingkan kedua Reverier—dua pemimpi spesial ... puncak penentu evolusi kita semua.

Akhir kata ... selamat siang, selamat beraktivitas, dan semoga beruntung.

Mimpi buruk memadamkan suaranya. Hening yang ditimbulkan begitu menyengat dan hampir melegakan. Tapi hanya sesaat. Karena udara seolah kembali dijejali suara-suara baru.

Suara perpecahan.

Terhuyung-huyung Namol bergerak ke sudut ruangan. Mengintip dari jendela kaca berbentuk oval. Di bawah sana, kekacauan sedang mengambil tempat. Seperti panggung-panggung besar nan gemerlap yang dibangun terpisah pada pergelaran maha-akbar, wilayah-wilayah tertentu Exiastgardsun meledak dalam satu tindakan serupa.

Perang saudara.





Vindhila


Roket hitam semakin dekat dengan membran perbatasan Bingkai Mimpi. Dari ruangannya, melalui jendela oval, ditemani Puppis si gitar, Heppow si sarung gitar, dan Wolverine si anjing kecil, Namol melihat semua yang terjadi dengan napas tertahan.

Perang besar berkecamuk di bawah sana. Di perbatasan. Pasukan garis depan yang dipimpin sang raja telah tiba, dan segera membantu pasukan-pasukan lama yang tersisa dari pertempuran pertama.

Di antara barisan bangunan hancur yang kini bentuknya seperti deretan gigi-gigi kasar makhluk kolosal, kekuatan tempur Exiastgardsun berjibaku dengan invasi besar-besaran para monster Regaia.

Beragam jenis raungan dari pertempuran bercampur menjadi lengkingan mengerikan. Roket hitam, mode auto-pilot, terpaksa terbang lebih tinggi untuk menghindari rentetan serangan sihir yang mental ke segala arah.

Daratan tidak berhenti bergetar. Gumpalan tanah dan materi bangunan beterbangan ketika salah satu monster reptil melompat-lompat tak terkendali. Cerukan-cerukan besar tercipta, saling susul-menyusul, dari benturan arus petir pasukan penyihir dan gelombang kejut yang ditembakkan monster unggas bersirip.

Namol menggeleng frustrasi sampai nyaris menangis. Puppis menamparnya.

"Aw! Hey, buat apa itu tadi, Everd—"

"Jangan gila, dasar kulakasar melankolia!" potong Puppis, memakai kunci G minor. "Aku tahu banget ... kau sedang sangat lelah saat ini. Tapi siapa memangnya yang enggak lelah di situasi kayak gini? Kita lelah, sudah, cukup. Itu saja. Jangan ditambah cengeng! Sok sentimental!" Dari G minor, si gitar ajaib berganti ke kunci F. Seperti mendesah. "Lebih baik pikirkan hal yang lebih penting. Sadar enggak sadar, kita sudah bermain di dalam skenario si masokhis baal nan misterius bernama Timiel Isadore. Pikir, apa yang akan kaulakukan jika berhasil menyelamatkan Maria nanti? Lalu, apa tanggapanmu soal mimpi buruk yang berniat mengasingkan dua Reverier?"

Namol menjawab pelan dan menyedihkan, "Entahlah, Pupp—Everdeen. Serahkan pada takdir?"

Sebelum Puppis si gitar sempat menamparnya lagi, pintu ruangan terbuka. Dan masuklah ke dalam, kemudian bergabung bersama Namol di depan jendela oval, sesosok Strawberry.

"Semuanya akan baik-baik saja," ujar si gadis berambut pendek dan berkulit gelap itu, tiba-tiba. Entah kenapa kehadirannya cukup menenangkan. "Aku harus yakin soal itu. Tidak. Aku yakin soal itu."

Tapi benarkah begitu? Ingin sekali Namol menanyakannya. Dari mana asalnya optimisme seorang Strawberry? Yang begitu kuatnya sampai-sampai bisa mengatakan bahwa masa kelam ini akan berakhir dengan kebaikan? Tapi tidak mungkin; pertanyaan itu tidak akan mendapatkan jawaban yang pantas. Karena Strawberry tidak tahu yang sebenarnya. Gadis itu tidak tahu dengan siapa ia sekarang sedang berbincang. Ancaman nomer satu Exiastgardsun.

Namol sedang menyamar; mengikuti instruksi secarik perkamen; bergabung bersama tim penyelamat Maria Venessa—sosok yang harusnya ia hadapi atau dibiarkan saja kalah dengan sendirinya; diasingkan oleh mimpi buruk; menyaksikan perang besar yang ditokohi monster-monster dari kampung halaman. Dilengkapi semua bentuk kengerian dan kemungkinan terparah yang terus mengiringi, yang melumat habis sisa-sisa semangatnya yang sempat timbul tenggelam. Dari sudut pandang seperti itu, akhir yang baik rasanya memang hampir mendekati mustahil.

Tidak ada lagi yang terucap. Berdua mereka memandangi apa yang tersaji di luar jendela.

Perang. Korban. Monster. Sihir-sihir. Lebih banyak korban. Sang Raja. Lebih banyak monster. Misil-misil. Ledakan. Gaduh ....

Sampai akhirnya, cukup mulus dan stabil, roket hitam pun mulai menembus membran pembatas.

Seketika pikiran Namol teralih pada tanda tanya baru. Seperti apa keadaan Bingkai Mimpi-nya sekarang? Apakah bencana cermin-langit dari sang mimpi buruk juga berhasil menciptakan kerusakan merata di sana? Bagaimanakah kabar Mike sekeluarga?

Untuk tanda tanya terakhir, Namol langsung berusaha memikirkan hal-hal positif saja. Karena Mike sekeluarga—pemilik sekaligus pengelola percetakan koran The Old tempatnya bekerja—merupakan satu-satunya keberadaan yang ia kenal dengan cukup baik di dunia baru ini. Mereka telah menempati posisi penting.

Semoga mereka baik-baik saja ....

Setelah menyeberang sepenuhnya dari Exiastgardsun ke Bumi-Regaia, dan pemandangan sekitar bisa dilihat dengan lebih luas, Namol tersenyum. Tidak ada perubahan signifikan pada Bingkai Mimpi-nya. Semuanya, dalam definisi normal yang khusus, tampak baik-baik saja.

Tapi senyum itu hanya bertahan satu detik.

Kenapa semuanya baik-baik saja? pikir Namol, pada kenormalan yang memang kerap lebih mengecoh ketimbang kerusakan yang blakblakan.

"Ingat, ganti arah navigasinya, bodoh! Ke Vindhila," bisik Puppis.

"Ah ... ya. Benar." Maka Namol, kikuk seperti biasa, bergegas keluar ruangan.

"Tunggu," kata Strawberry. Kemudian gadis itu batuk, dan Namol harus menunggunya minum obat dulu. Baru setelah itu ia melanjutkan, "Mau ke mana?"

"Ruangan pilot. Um, tujuan kita bernama Vindhila. Semacam hutan. Yang culik Maria Venessa adalah salah satu pribuminya."

"Begitu?"

"Y-ya. Baiklah, dah—"

"Tunggu." Strawberry berjalan riang sampai ke depan Namol.

"Ya?"

Dan sebelum Namol bisa bereaksi atas kedekatan yang tiba-tiba ini, gadis itu sudah lebih dulu menyentuh kedua pipinya, membawanya mendekat sampai hidung mereka nyaris bersentuhan.

"Biar kulihat wajahmu, Harry," gumam Strawberry, memaju-mundurkan wajah keduanya. Namol bisa merasakan embusan napasnya yang hangat, berbau obat dan anggur. "Lucu," ia melanjutkan sambil tersenyum manis sekali. Baru sekarang Namol sadar: Strawberry, tidak, semua perempuan di Exiastgardsun sepertinya tidak ada yang gagal secara fisik.

"Lucu. Tapi ada kepalsuan juga di sana." Strawberry berubah serius. "Benar, enggak, Harry?"

Ditembak pertanyaan tiba-tiba dan sangat tepat sasaran seperti itu, Namol mati kutu. "A-a-apa maksudmu?"

Strawberry semakin merapat. Kali ini bibirnya sampai nyaris menempel ke telinga kiri Namol. Ia berbisik di sana, "Aku mencurigai Skull. Karena, kau tahu, insiden adu domba beberapa waktu lalu? Sebelum Bingkai Mimpi menyatu. Sebelum semuanya tahu soal kondisi penyanderaan berbasis mimpi ini. Insiden yang berhasil menghancurkan sebagian kota Twilight. Saat itu sosok bernama Ichsan, salah satu anggota Tavern of the Black Alley, berusaha melenyapkan keberadaan Yang Mulia Ratu dan sang Putri. Ichsan terbunuh ketika itu, oleh Maria.

"Tapi kudengar, ternyata Ichsan punya seorang adik perempuan. Dan kudengar juga, adiknya itu sedang berusaha membalas dendam pada Maria."

"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Namol, nyaris berbisik.

"Kalau benar Skull adalah adiknya Ichsan, dan dia dendam sama Maria, itu artinya dia ancaman buat Exiastgardsun. Ya, kan? Maria adalah messiah. Pembunuhnya sama saja dengan kriminal yang mencoba melenyapkan sebuah dunia, bahkan sebelum dunia itu sendiri disembuhkan oleh mukjizat nabi." Strawberry berhenti sejenak. "Dan kau, Harry, juga merupakan ancaman. Itu hubungannya."

"... aku?"

"Iya, dong? Soalnya enggak ada manusia sempurna yang alasannya membantu suatu pihak hanya karena demi perdamaian menyeluruh. Enggak ada. Karakter kayak gitu cuma ada di beberapa dongeng. Jadi, apa sebenarnya tujuanmu, Harry? Apa untungnya buatmu melakukan semua ini?"

"Perdamaian. Hanya itu," kata Namol, lumayan lancar. Karena ia memang jujur ketika mengatakan tujuannya membantu tim penyelamat.

Strawberry agaknya merasakan kejujuran itu. Ia menjauh-mundur dua langkah dari Namol. Keduanya pun tersenyum. Yang satu manis sekali, tapi bukan manis lucu atau imut, melainkan manis yang siap untuk membunuh kapan saja. Yang satu lagi kurang simetris dan bibirnya bergetar tak bisa menguasai panik.

"Baiklah. Semoga saja aku salah," kata Strawberry. "Semoga kau memang ada untuk menciptakan perdamaian."

"Ya ...."

Keduanya keluar ruangan bersamaan. Di depan pintu ruangan pilot, Strawberry menepuk pundak Namol sambil mengatakan, "Harry, buktikan kalau aku salah. Karena, kau tahu, harta karunku adalah keluargaku. Mereka tinggal di Exiastgardsun. Bersama banyak keluarga lainnya. Tanpa Exiastgardsun, tanpa tempat untuk pulang, semua keluarga pasti binasa. Maka otomatis, meski aku bukan messiah seperti Maria, menjaga sebuah negeri juga merupakan tanggung jawabku. Seorang anak bangsa yang sangat mencintai bangsanya."



***



Di ruangan pilot kini hanya tersisa Namol dan Putri Saya. Karena beberapa saat lalu, ketika Namol memberitahukan bahwa sesaat lagi mereka akan sampai, Yapet bersama Jenderal Idris segera keluar ruangan untuk mengoordinasikan pasukan.

Ruangan pilot merupakan sebuah kamar yang cukup luas. Dipenuhi oleh layar pemantau, panel-panel lebar berwarna perak, dan jendela kaca besar yang memperlihatkan bagian depan roket beserta panorama langit.

Langit siang Bumi-Regaia. Warnanya biru keemasan. Sangat cantik dan alien. Gedung-gedung masih berserak di udara. Elemen-elemen yang hidup sebagai entitas baru hilir mudik di sekitarnya. Manusia-manusia di dalam mobil yang tak sadar sedang melintasi jalan tol tegak lurus sembilan puluh derajat, tentara-tentara yang berjaga, serta monster-monster yang bergerak liar dan buas, semuanya beraktivitas bersebelahan.

Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kerusakan yang ditimbulkan mimpi buruk.

"Hey," sapa sebuah suara manis. Cukup mendadak dan mengejutkan.

Dari kursi pilot, Namol menoleh ke sumber suara. Tadi itu Putri Saya yang menyapanya. "Ya?"

"Berapa lama lagi kita sampai?" tanya sang Putri.

Namol melirik radar. "Ng ... sekitar lima menit lagi?"

"Bagus. Aku sudah enggak sabar." Putri Saya mengambil kursi kemudian mendorong dirinya sendiri sampai tepat ke samping Namol. "Namamu Harry, kan? Salam kenal. Maaf baru melakukannya sekarang. Berkenalan. Dan terima kasih banyak, ya? Bantuanmu benar-benar sangat berarti untukku."

"T-tentu," kata Namol, salah tingkah. Jika berdekatan dengan Strawberry tadi membuat hatinya berdegup tak keruan, berdekatan dengan sang putri sekarang membuat jantungnya berhenti total. Gadis berambut biru itu terlalu memesona (sensasi yang hampir sama ketika melihat foto Maria Venessa), dan terlalu menyakitkan untuk menjadi nyata—karena memperhatikannya saja mampu membuat hati siapa pun patah. "Melakukan hal yang benar—um," Namol melanjutkan, "memang merupakan hal yang, ng, benar! Huh? He-he."

Putri Saya tersenyum. Terdiam beberapa jenak, lalu mengatakan, "Mungkin aku bisa menceritakannya padamu. Karena bagaimanapun kau, kan, bukan penduduk Exiastgardsun. Harry, apa mulutmu seperti ember bocor?"

"Ember bocor? Duh ... kurasa enggak."

"Maksudku ... bisa jaga rahasia?" Putri Saya menoleh ke belakang, memastikan bahwa mereka benar-benar hanya berdua saja di ruangan pilot ini.

"Bisa," kata Namol.

Putri Saya menghela napas dalam-dalam. Mata cantiknya menerawang menembus panorama langit biru-keemasan. "Baiklah ...," mulainya, pelan. "Aku dan Maria, sebenarnya kami adalah kakak-beradik. Tapi kami memiliki ayah yang berbeda. Keberadaan Maria merupakan skandal untuk keluarga kerajaan, karenanya dia hidup terpisah—"

Dan terus berlangsung, selama lima menit penuh, Putri Saya menceritakan tentang hubungan kakak-beradiknya dengan Maria Venessa. Tentang insiden yang melibatkan tokoh revolusioner, Ichsan. Plot adu dombanya, memanfaatkan status Maria sebagai anak gelap demi mengakhiri masa-masa penyihir. Pertempuran sang putri dan sang ratu yang menghancurkan hampir setengah isi kota.

"Selalu ada satu kado misterius ketika aku berulang tahun. Tapi dulu aku masih terlalu kecil, jadi aku tidak pernah serius ketika menanyakan dari mana kado tanpa nama tersebut berasal." Suara Putri Saya pecah di sini. Dan Namol yang mendengarkan merasa hatinya sendiri tersayat sembilu. "Kado itu dari Maria. Kakakku. Aku tahu belakangan ini. Dia sangat memperhatikanku, Harry. Menyayangiku. Bukannya iri atau apa terhadap statusku di kerajaan, dia malah ... malah memilih untuk menjadi sempurna. Oleh karenanya aku, sekarang—aku ... harus menyelamatkannya. Harus. Tolong bantu aku, Harry ...."

Sang putri terisak, tak sanggup mengatakan lebih banyak.

Namol menunduk. Pikirannya teraduk tak menentu.

"Ya," katanya serak, akhirnya. Mencoba tersenyum menenangkan. "Kita ..., pasti akan menyelamatkannya."



***



Roket hitam mendarat di Vindhila. Hutan ajaib yang tumbuh di seluas kompleks gedung-gedung pencakar langit Chicago.

Tim penyelamat segera turun teratur. Berbaris di semacam atap gedung yang ditumbuhi rumput-rumput merah dan beberapa pepohonan berdaun spiral—semacam biji-bijian tampak melompat di antara daunnya, membentuk bidang-bidang unik.

Yapet, Jenderal Idris, Putri Saya, dan Namol, berdiri di hadapan seratus pasukan. Memberikan motivasi dan mengulas taktik yang harus digunakan pada situasi tertentu. Lalu terakhir, Yapet mempersilakan agar Namol membahas tentang geografis tempat ini, lengkap dengan informasi penting lainnya.

"Baiklah. Selamat datang, semuanya. Hutan ini bernama Vindhila," jelas Namol pada seratus pasukan, termasuk Strawberry dan Skull di barisan depan. Ia telan rasa grogi yang menggerogoti tungkainya, sambil terus berusaha berbicara dengan fasih. "Kalian mungkin sudah tahu, tadi malam Maria Venessa diculik oleh sekelompok makhluk jangkung. Dibawa masuk ke dalam sebuah portal besar ... yang terhubung ke sini. Aku tahu, karena aku mengenali makhluk-makhluk jangkung itu. Mereka dinamakan bangsa Lutie-Horderoth. Bangsa yang sudah mendiami hutan ini selama aku bisa mengingatnya.

"Beruntung, aku juga mengetahui seisi hutan ini seperti aku mengetahui garis di telapak tanganku. Tapi ... mengetahui sama sekali tidak sama dengan menaklukkan. Hutan ini terlalu kompleks. Hutan ini hidup. Hutan ini adalah hakim sejati. Dan hakim sejati selalu mengetahui hukuman apa yang pantas untuk terdakwanya.

"Kita adalah terdakwa itu. Dosa dan hasrat kita akan ditimbang. Kita akan menerima penghakiman. Dan kita harus bertahan. Sebagai gantinya, mungkin hutan ini akan memberikan jawaban pada kita tentang presisi keberadaan Maria Venessa, dan cara untuk menyelamatkannya. Sekali lagi, hanya mungkin.

"Jadi ... ayo. Kita mulai sekarang? Pertama kita harus melewati Ramh Entur. Gerbang detektor."

Sorakan kecil tercipta sebentar.

Dan bergeraklah tim penyelamat. Menyusuri atap gedung, efektif dan waspada. Langkah-langkah mereka pada rumput merah dan biji-bijian kering sebesar bola golf menimbulkan gemeresik yang seolah bernyanyi.

Di ujung jalan, atau pada spasi antara atap gedung satu dengan atap gedung yang lain, terbentanglah semacam taman hijau yang dipagari pepohonan padat. Masing-masing pohon terlihat seperti sesosok dewi yang sangat anggun. Dan semuanya seolah sedang benar-benar sedih, karena tanpa jeda, semuanya mengguyuri setiap sudut taman hijau itu dengan guguran daun berwarna-warni. Tepat di perbatasan taman, tempat rombongan tim penyelamat menghentikan pergerakannya atas instruksi Namol, berdirilah dua patung kembar.

Kedua patung itu tinggi-besar. Dipahat dari semacam batu keras berwarna hitam. Sekilas terlihat seperti manusia tua yang sangat keriput. Hanya saja minus mata, telinga, hidung, dan rambut. Wajahnya hanya diisi oleh empat mulut lebar yang selalu terlihat sedang menyeringai. Timbangan emas, kosong, menggantung di kedua tangannya. Dan kedua timbangan kosong itu bergoyang pelan, seolah ada sesuatu yang tak kasatmata iseng mendorongnya dari belakang.

"Ramh dan Entur," kata Namol, menggunakan nada nostalgia. "Sudah kuduga, mereka adalah penjaga pintu di sudut ini. Mau tumbuh di mana pun, Vindhila selalu memiliki pola yang sama. Ini pintu masuk kita ... yang paling mudah."

"Lalu, Harry, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya sang Putri.

"Menjawab pertanyaan Ramh dan Entur, tentu saja," jawab Namol, enteng. Ia maju sampai benar-benar dekat dengan kedua patung penjaga, menoleh cemas ke arah rombongan, lalu melanjutkan, "Jangan ada yang maju sampai kita diizinkan. Oke? Jangan masuk ke taman, atau melewati batas keberadaan Ramh dan Entur, atau membiarkan diri kalian tersentuh guguran daun di depan sana. Jangan. Tunggu izin. Dan ... izin itu cuma bisa kita kantungi kalau jawaban yang kita berikan benar-benar memuaskan."

"Memuaskan?" tanya Strawberry, tersenyum skeptis. "Biasanya, kan, jawaban yang benar?"

"Oh, ng ... tapi—benar belum tentu memuaskan!"

"Harry, setiap orang—baiklah, atau patung—punya tingkat kepuasan yang berbeda, kan? Mereka akan menanyakan pertanyaan macam apa? Hey, tunggu, apa ini benar-benar jalan masuk yang terbaik?"

"I-itu, ya ... mereka. Perhatikan—"

Kehabisan akal untuk menjelaskan prosedur gerbang Ramh Entur secara verbal pada Strawberry dan rombongan, Namol memutuskan untuk langsung mempraktikkannya saja. "Sidang!" ia berseru.

Seketika, kedua patung penjaga seolah hidup. Mulut-mulut di wajah mereka bergerak seperti gelombang, memperlihatkan deretan gigi serupa gergaji. "Diterima," ujar keduanya, harmonik.

Namol mengangguk, menelan ludah. "Ini dia. Siap-siap. Kalau ada yang tahu jawabannya, jangan langsung jawab. Biar kupertimbangkan dulu."

"Baiklah. Tapi, Harry, apa yang akan terjadi kalau jawaban kita tidak memuaskan?" Putri Saya berubah cemas.

"Dihakimi. Tapi tenang saja. Aku menghabiskan seperempat masa kecilku menyendiri di Vindhila. Masuk lewat pintu ini. Jawabanku selalu memuaskan." Namol tersenyum penuh percaya diri. Kemudian melanjutkan pelan, "Seharusnya ...."

"Pertanyaan awal!" bentak patung penjaga di sebelah kiri. Timbangan di kedua tangannya tidak lagi kosong. Tapi terisi oleh miniatur rombongan tim penyelamat. Semacam mata tombak merah terbang memutari miniatur itu seperti burung pemakan bangkai.

"Kenapa semua yang ada di langit selalu bergerak mengikuti semua yang ada di darat? Jawab!"

Kecuali Namol, semuanya terkejut. Ekspresi di wajah mereka seolah mengatakan: itu-tadi-pertanyaannya? Pertanyaan-macam-apa-itu?

"Sial. Ada yang bisa jawab?" tanya Namol, hati-hati. "Maaf ... tidak kuduga pertanyaan sulit keluar di saat seperti ini. Sialan. Bulan memang selalu terlihat mengikutiku ... awan dan bintang juga ... tapi kenapa? Bagaimana ini?"

Putri Saya beringsut mendekati si makhluk bingung, kemudian membisikkan jawabannya. Sebuah jawaban yang, sebenarnya, diketahui oleh hampir semua personel rombongan.

"Jawab! Jangan membuang waktu!" bentak Ramh dan Entur. Suaranya galak seperti guntur.

"Y-y-a ... um, kalian setuju dengan jawaban Putri Saya?" tanya Namol. Rombongan mengangguk tak peduli, sebagian menggumam mengiyakan, sebagian lain masih berpikir bisa menjawab dengan lebih baik tapi terlalu malu untuk mengutarakannya.

Namol menarik napas. Dan menjawab, sama persis dengan apa yang dibisikkan sang putri, "Ini jawabnya! Karena ... semua yang ada di semesta ini bergerak. Dan—dan sebenarnya tidak ada yang mengikuti siapa-siapa. Semuanya berjalan sendiri-sendiri."

Patung penjaga tersenyum. Jenis senyuman yang biasa muncul di wajah-wajah psikopat sadis, tepat sebelum ia menguliti korbannya hidup-hidup. "Selamat," ia berujar licin, "kalian telah berjasa. Selamat datang. Vindhila akan selalu hidup untuk menghakimi."

Tidak ada yang memahami ucapan barusan, sekali lagi, kecuali Namol. Dalam satu gerakan paling cepat, dan ekspresi paling panik yang bisa diproduksi olehnya, ia berbalik menatap rombongan, menjatuhkan diri dalam posisi tiarap, kemudian menjerit, "MENUNDUK! Berbahaya! Jawaban kita tidak memuaskan—"

Sayangnya, peringatan tadi terlambat tersampaikan.

Sebentuk pendulum-sabit besar, lebih cepat dari suara, melesat tiba-tiba saja dari arah kedua patung penjaga. Menebas mereka yang terlambat untuk menunduk. Tujuh puluh pasukan lebih, ambruk. Masing-masing menjadi dua potongan. Hal berikutnya yang diketahui oleh mereka yang selamat adalah: rerumputan merah di sekitar pijakan menjadi basah oleh semacam kolam berwarna sama.

Jasad-jasad yang terpotong itu lalu terpecah menjadi serpihan—seperti butiran pasir yang keluar dari jam kacanya. Mereka terus mengucur, sampai akhirnya menghilang tak bersisa.

Mengikuti pembantaian-pemusnahan itu, nasib buruk juga menyertai mereka yang selamat. Selain tidak memiliki waktu untuk menangisi korban yang gugur terlalu cepat, sebagian dari keberadaan mereka tiba-tiba saja berubah menjadi permata. Seperti kutukan. Berkilauan, dan rapuh.

Sebelah lensa pada kacamata bulat Namol, bagian bawah ponconya, dan sebagian poni rambutnya, berubah menjadi seperti rubin. Bahkan Putri Saya harus merelakan sebelah wajah cantiknya menjadi semacam berlian yang kaku. Dan Yapet, laki-laki dingin itu kehilangan kedua kakinya yang seolah berubah menjadi kristal tipis.

Tapi dari semuanya, Jenderal Idris tampak paling gusar. Cerutu yang sedang ia isap, lengkap dengan sisa stoknya yang tersimpan di kotak khusus pada saku celana, berubah menjadi semacam perak batangan.

"Ketidaktahuan adalah dosa. Pertanyaan akhir!" seru patung penjaga di sebelah kanan.

Hampir tidak ada yang menghiraukan pemberitahuan tersebut.

Terlebih sang jenderal. Wajahnya menggelap, kedua alis matanya seolah bertemu. Amarahnya yang memuncak—dan bukan hanya karena soal cerutu, tapi juga dari rasa keputusasaan; ketika tadi ia hanya bisa melihat lebih dari separuh pasukannya dibantai habis—akhirnya berbuah menjadi sebuah perintah: "Hancurkan patung itu! Intuisiku mengatakan pertanyaan mereka hanya tipuan! Serang! Buka jalan sendiri!"

"Oi ... oi! H-hentikan!" pinta Namol. Sia-sia.

Pasukan yang tersisa tidak berhenti. Perintah mereka jelas. Mereka yang bisa menggunakan sihir menembak serempak, menghujani kedua patung penjaga dengan bola api. Sementara para pasukan mundane menyerang sekuat tenaga menggunakan senjata terbaik mereka. Mata pisau dan bilah pedang berdentangan membentur tekstur keras. Peluru-peluru dari senapan berat berdesingan, bergantian.

Di antara kehebohan buta itu, Namol kembali menemukan suaranya. "Berhenti! BERHENTI! Atau ... atau semuanya akan memburuk. P-pintu bagian ini akan menutup dalam waktu yang tidak bisa ditentukan ... ini adalah pintu termudah ... berhen—"

Kehebohan berhenti.

Kelebatan-kelebatan itu begitu mengalir sampai seolah-olah menghancurkan batas waktu. Seolah-olah hanya mereka yang bergerak. Yapet, Putri saya, Strawberry, dan Skull. Keempatnya melumpuhkan, tanpa melukai, pasukan-pasukan yang sedang menyerang kedua patung penjaga.

"Pemandu kita bilang ..., berhenti," gumam Putri Saya. Menahan lima pasukan berpedang dengan semacam perisai angin. Kemudian ia menoleh ke arah Jenderal Idris, yang masih tampak gusar. "Berhentilah, Jenderal."

"Ya. Di tempat asing seperti ini," Yapet menimpali, "hal terakhir yang seharusnya kalian lakukan adalah bertingkah seperti monyet gila."

"Baiklah, Harry," kata Strawberry sambil memasukkan lagi anak panahnya ke kotak yang tersampir di punggung, "apa sekarang?"

Namol, menghimpun semua sisa ketenangan yang ada, menjawab, "Mendengarkan pertanyaan kedua. I-ini kesempatan terakhir. Jika kita tidak memuaskan—"

"Pesimis! Toksin!" Skull memotong serak.

Strawberry tersenyum. "Ya. Kita bisa, Harry. Pasti!"

Kemudian, seolah semuanya tetap berjalan tanpa ada keributan sebelumnya, patung penjaga di sebelah kanan memulai pertanyaan kedua. "Siapa yang lebih dulu ada? Aku, atau Ramh? JAWAB!"

"DEMI KUMIS BAPLANG BAPAK MAGI DI NERAKA! PERTANYAAN MACAM APA ITU?!" Jenderal Idris meledak.

"Baiklah. Jika itu jawaban kalian," kata dua patung bersamaan, "kami turut berduka cita—tiga puluh satu turis, telah mendapatkan izin untuk masuk lebih ke dalam. Cukup memuaskan! Kaarh, hembạ ... ferrèolm!"

Barisan pepohonan padat di ujung taman hijau seketika saling bergeser. Membentuk semacam pintu lorong yang dilapisi kegelapan terpekat. "Enyah!" bentak Ramh dan Entur kemudian.

Sesaat, semua tampak masih tercengang dengan akhir tes gerbang detektor ini. Tapi tak lama, mereka lanjut berjalan. Melewati taman hijau dan guguran dedaunan dari pohon-pohon yang tampak seperti Dewi Kesedihan.

"Aku baru tahu," gumam Namol, membiarkan beberapa helai daun jatuh ke telapak tangannya.

Gesekan daun-daun itu menonaktifkan status abnormal secara konstan. Semua bagian yang diubah menjadi permata kembali ke sediakala. Jenderal Idris tampak paling senang—ia memotong dua cerutu sekaligus, menyalakannya, kemudian mengisap kuat-kuat seperti anak kecil menyeruput jus favorit.

Dan Strawberry, yang berjalan tepat di samping Namol, mendengar gumaman tadi. Ia bertanya manis, "Tahu apa, sih, Harry?"

"Oh? Guguran daun ini. Biasanya ini termasuk sistem keamanan. Untuk mereka yang ingin masuk tanpa menjawab dua pertanyaan dari Ramh Entur ... begitu terkena guguran daun ini, mereka akan diubah menjadi permata mati. Cantik, memang. Tapi tak memiliki jiwa, jadi tidak terlalu berguna. Keberadaannya hanya ada untuk dikagumi. Diperjualbelikan. Dan parahnya, bisa jadi stok makanan Lutie-Horderoth juga."

"Jadi, tampaknya hutan ini jauh lebih mengejutkan dari apa yang kau ketahui, huh?"

Namol sedikit bergidik. Strawberry benar.

"Kurasa begitu."





Instrumen Intervensi


Di dalam kegelapan yang terus memanjang ke depan, tim penyelamat memecah lagi formasi mereka. Di paling depan, ada Putri Saya yang mengeluarkan sihir api; bentuknya seperti kunang-kunang. Penerangan yang terpancar darinya tidak lebih jauh dari dua puluh meter, tapi cukup. Di belakang sang putri, ada Namol dan Strawberry. Disusul Yapet, Skull, dan sepuluh pasukan mundane. Terakhir, berjaga di paling belakang, adalah Jenderal Idris bersama sisa pasukan.

Mereka bergerak nyaris tanpa suara. Langkah mereka teredam, seperti berjalan di jembatan asap. Mulut masing-masing hanya terbuka ketika, sesekali, mereka harus menarik napas panjang. Karena atmosfer atau kandungan udara di tempat ini benar-benar tidak stabil; berubah-ubah semaunya.

Selain itu, diamnya rombongan tim penyelamat juga merupakan ungkapan berbela sungkawa untuk mereka yang gugur. Tidak ada yang meresmikan tindakan tersebut, tapi semua memiliki ekspresi pucat yang sama; pikiran yang sama.

Saat ini, memang hanya sebatas itu yang bisa dilakukan. Meniadakan bunyi, merenung, dan berdoa.

Bagi Namol sendiri, khususnya, kehilangan lebih dari setengah pasukan di awal-awal sama sekali bukan hal yang bagus. Ia terus-menerus memikirkan itu.

Bagaimanapun, aku yang memandu mereka ....

"Cahaya di ujung jalan," kata sang Putri tiba-tiba. Suaranya menggema dan terasa asing—seperti seseorang yang sedang flu. Sebelah tangannya terulur ke depan menunjuk sesuatu.

Semua melihatnya. Setitik terang di ujung kegelapan sana.

"Kita maju lebih cepat!" instruksi Jenderal Idris.

Seketika rombongan bergerak dengan lebih cepat dan berisik. Hitungan beberapa menit, sampailah mereka. Menghambur keluar dari lorong. Intensitas cahaya yang berbeda, sangat terang sekarang, tanpa ampun membanjiri penglihatan. Sebagian mengerang, meringis selayaknya manusia gua. Tangan-tangan terangkat seperti memberi hormat, menaungi mata, mencermati sekeliling.

Dentuman lembut menyebar ke setiap sudut wilayah baru ini. Pintu lorong di belakang mereka menutup. Menyisakan semacam semak api yang mendesis-desis tajam.

"Di mana kita sekarang, Harry?" tanya Strawberry sambil menahan napas, takjub dengan pemandangan di hadapannya.

Masih sambil menyipitkan mata, Namol menjawab pelan, "Kita di ... Rosellite? Enggak mungkin. Lapangan ini ... gawat. Kenapa harus sekarang? Biasanya Ramh Entur mengirimku langsung ke permukiman Derinir, Ồlrilulle, atau Navareim ... sial! Padahal aku sangat mencurigai Navar—"

"Harry, tenanglah." Putri Saya berjalan mendekat, mengangkat dagu Namol perlahan; yang jatuh dalam posisi menunduk-panik. "Katakan, apa saja yang harus diantisipasi dari lapangan ini?"

Namol memperhatikan kedua mata bening sang putri, merasakan setengah kepanikannya menguap begitu saja, ia lantas beralih menatap lapangan ajaib tepat di sampingnya.

Rosellite.

Lapangan itu melayang beberapa puluh meter dari pijakan berumput biru, dengan pohon-pohon padat berduri membentengi di kejauhan. Dan lapangan itu sama sekali tidak datar. Bentuknya seperti kubus yang dibagi lagi menjadi beberapa bagian persegi kecil. Setelah mengetahui sedikit-banyak tentang Bumi, sekarang Namol merasa Rosellite sangat mirip sekali dengan permainan kubus rubik. Teka-teki kotak, memiliki enam sisi, dan enam warna.

Untuk Rosellite, perbedaan tiap sisi ditandai dengan vegetasi yang beragam—tumbuh kokoh mengabaikan gravitasi. Dan pada tiap bagian persegi kecilnya, terdapat semacam sulur semitransparan yang terhubung pada bermacam jenis benda. Namol bisa melihat artefak tengkorak besar, roda baja, semacam kotak pos, dan pedang berkarat. Semua benda random itu, seingatnya, adalah portal.

Dan itulah skenario terburuknya. Hal yang paling ditakuti dari lapangan terapung ini.

Terlalu banyak pintu ... ba-bagaimana kalau kita malah tersesat? Apa yang akan terjadi? Namol mulai berkeringat. Tiba-tiba saja, ia juga teringat pesan sang mimpi buruk:

Sampai cahaya terakhir pada senja hari ini berhenti bersinar, kalian harus mengasingkan kedua Reverier ....

Tapi sebenarnya ada apa setelah senja? Evolusi? Benarkah begitu? Atau mungkin, kehancuran total? Namol mulai tercekik paranoia, dan Putri Saya kembali mencoba menenangkannya.

"Jika kau tidak menyalurkannya, Harry, pikiran mengganggu itu hanya akan berputar-putar di tempat yang sama."

"Ya ... maafkan aku," Namol menggumam, menyeka keringat, dan mencoba berdiri lebih tegak. "B-baiklah. Dengarkan ..., Mallish dan Llokish, adalah jenis Lutie-Horderoth yang kulihat kemarin malam. Sebagian mengawal Maria Venessa, sebagian lagi membuka gerbang-portal. Dua jenis Lutie-Horderoth itu mendiami wilayah yang sama di hutan ini. Di Navareim. Seharusnya, biasanya, Ramh Entur membawaku langsung ke sana, atau setidaknya ke wilayah yang tidak terlalu jauh darinya.

"Sedangkan Rosellite, lapangan ini ..., berada di salah satu wilayah inti Vindhila. Wilayah terdalam. Perhatikan benda-benda di sekitar lapangan kubus. Itu adalah portal. Untuk bisa ke Navareim, kita harus memilih satu benda yang tepat—mungkin yang memiliki aura keunguan, mungkin juga tajam, karena Navareim identik dengan keduanya. Atau, kalau salah, kita akan tersesat lebih jauh ...."

"Itu benar sekali, neemoru~!" ujar sebentuk suara serak yang menggelegar. Perhatian satu rombongan seketika teralih ke satu arah yang sama.

Namol mencicit ngeri. Di depan sana, di tepi jembatan berupa batang pohon besar yang menghubungkan padang rumput biru dan lapangan kubus, berdiri sekelompok makhluk jangkung yang sekujur tubuhnya seolah tersusun dari permata putih.

"Kami sudah menunggu kalian, neemoru~!" seru salah satu makhluk jangkung yang berdiri paling depan. "Maria Venessa ada di Navareim. Silakan pergi ke sana untuk menyelamatkannya. Tapi ketahuilah, neemoru, di sana wanita setengah dewi itu tidak sendirian. Dia aman bersama dengan sang Inti dan pahlawan-pahlawan kami! Mallish ul'retoirŗe, retoirŗe, RETOIRŖE! Ayo kita mulai! Tidak ada yang bisa mengalahkan kemuliaan Lios!"

"Tsk! Bagus, mereka bermunculan dengan sendirinya. Menghemat waktu." Yapet tersenyum sinis, lalu melesat ke arah sekelompok makhluk jangkung di depan sana.

"Jangan, Yapet!" seru Namol. "Mereka kuat!"

Tapi Yapet berlari dengan sangat cepat, nyaris terbang, dan kini sudah tiba di tepi jembatan batang pohon, berhadapan dengan salah satu Lutie-Horderoth. Laki-laki itu menghunus pisau dari sarung di sisi pinggangnya, menunduk mengambil ancang-ancang, kemudian seolah menghilang—mengabur menjadi siluet, ia menebas ke depan.

Lutie-Horderoth yang menjadi targetnya tumbang. Kepala terpisah dari badan.

"Ya," kata Yapet, datar. Kuda-kudanya masih terjaga. Ia menoleh setengah wajah pada rombongan tim penyelamat di belakangnya. "Aku juga. Dan kalian juga. Kita semua, kuat! Atau kita tidak akan ada di sini saat ini!" Yapet bergeser ke samping untuk menghindari terjangan dua makhluk jangkung sekaligus. Pundaknya tercabik. "Tunggu apa lagi?!" lanjutnya, mengabaikan darah yang mulai membasahi kemeja putihnya. "Gempur monster-monster berkilau ini! Paksa mereka memuntahkan informasi; tentang benda mana yang harus kita pilih sebagai portal menuju Nyonya Maria! Messiah kita!"

Jenderal Idris menyeringai bersemangat. Ia isap cerutunya dalam-dalam, kemudian berkata dengan sangat lantang, "Jangan gentar! Jangan kalah! Kalian adalah manusia terpilih! Raihlah kehormatan dan kematian! MESKI HARI INI INTUISIKU HANYA MEMBAHAS SOAL KEMENANGAN! Angkat jalan kalian, saudara-saudaraku! Mengamuklah! DEMI EXIASTGARDSUN! M E N G A M U K L A H!"

—OOOOOOOOOOOO!!!

Pertempuran pecah di jembatan batang pohon Rosellite.

Sekitar seratus Lutie-Horderoth—dan jumlah mereka terus bertambah setiap detiknya, mengalir keluar melalui celah-celah di persegi kecil lapangan kubus—melawan tiga puluh satu personel tim penyelamat.

Sekujur tubuh Yapet dipenuhi luka cabikan, tapi ia tak hentinya bergerak dengan sangat cepat, tak bersuara, tak beremosi ketika memotong satu per satu kepala targetnya; seperti pembunuh yang lama hidup di dalam bayangan, terlahir hanya untuk mencabut nyawa. Di atasnya, Putri Saya terbang bagaikan bintang jatuh, mengacak-acak kerumunan lawan yang baru bermunculan dengan sihir-sihir cepat dan sangat kuat—sihir langit yang memanggil armada dari dunia spirit, pusaran api, puluhan tombak angin, tentara-tentara manusia-tanah berpostur kokoh, naga air, petir hitam yang bergulung-gulung menjadi senjata-senjata kolosal.

Di tengah formasi, Strawberry memanah ke segala arah. Meski bidikannya tak melulu kena telak, panah beraura spesial yang ia gunakan mampu menumbangkan lebih dari sepuluh Lutie-horderoth dalam satu pelesatan. Skull mengimbanginya dengan terus menembakkan bermacam peluru dari seluruh stok senapan yang ada.

Namol, diapit kedua gadis bersemangat itu, membantu pasukan sihir atau mundane menghindari terjangan-terjangan berbahaya. Dengan menjadikan mereka antimateri. Dan tak terduga, meski dalam wujud penyamaran, Puppis dan Heppow ternyata tetap mampu mengeluarkan kemampuan mereka. "Traperta!" seru si gitar menggunakan kunci D balok. Seberkas cahaya diiringi melodi yang berdimensi, mengikat pergerakan Lutie-Horderoth terdekat. "UWOOO! Heppow juga mau bantu!" sahut si sarung gitar, mengayunkan dirinya sendiri, dan dengan kekuatan cacing kekar sepanjang lima puluh meter, ia berhasil mengempaskan beberapa lawan sekaligus. Wolverine si anjing kecil menyalak heboh.

Di belakang formasi, ada Jenderal Idris. Terpisah dari yang lain. Tangan kanan memegang rapier, tangan kiri memegang cerutu. Selayaknya senapati berkarisma, ia tampak gagah menaiki semacam kuda-besi yang dipanggil menggunakan sihir. Ia teriakkan sumpah juangnya, negeri tercintanya, sangat keras dan panjang seperti auman agung. Sampai akhirnya, sekelompok Lutie-Horderoth membuatnya terjatuh dari tunggangan, kemudian mengepungnya dan menyerangnya bergantian tanpa ampun. Tapi tidak ada jerit kesakitan yang terdengar. Namol hanya sekilas melihat di antara kekacauan, cerutu berdarah terselip di bibir yang membentuk senyum, lalu berubah menjadi gerakan mulut tanpa suara, mengatakan, "Demi Exiastgardsun."

Cerutu setengah terisap itu jatuh ke antara celah kayu, lalu menghilang dari jarak pandang. Demikian juga pengisapnya. Jenderal Idris gugur. Jasadnya terus tergeser pergerakan kaos dari pertempuran, sampai akhirnya jatuh dari jembatan batang ke rerumputan biru di bawah sana.

Pada saat ini, personel tim penyelamat yang masih bisa menarik napas akhirnya mengetahui secara pasti persentase kemenangan mereka.

Nol.

Meski tekad dan semangat mereka seolah tak memiliki ujung sumbu, dan meski Namol sudah meneriakkan informasi vital mengenai lawan yang sedang mereka hadapi—Lutie-Horderoth berjenis Mallish; bertarung mengandalkan kekuatan fisik setara tiga puluh manusia dewasa; memiliki tinggi rata-rata sepuluh meter; dua tangan panjang semata kaki; bisa terbang menggunakan empat ekor di batas pinggang yang rangkaiannya persis kaki laba-laba; sepasang tanduk seperti mahkota berduri; dan hanya bisa dikalahkan jika kepalanya dipisahkan dari badan, atau sukses menebak-menghancurkan titik nyawa yang terus berpindah di bagian tubuh lainnya—faktor jumlah dan batas stamina adalah penanda kekalahan yang pasti.

Namol meracau, sangat panik dan merasa tidak berguna. Pasukan yang harus ia lindungi menjadi semakin sedikit dan terus berkurang. Tersisa hanya dua penyihir dan satu tentara mundane. Meski begitu, sebagai satu-kesatuan formasi tim penyelamat, mereka terus maju. Menerobos ratusan pertahanan makhluk-makhluk jangkung, tiba di ujung jembatan batang.

Yapet terkubur kepungan sekelompok lawan, Skull menerjang membantu. Keduanya hilang dari jarak pandang.

"Kumohon ... jika harus berakhir di sini, t-tetaplah di dekatku. Setidaknya aku tahu dengan siapa aku bersanding ketika terjatuh nanti," kata Namol pada Puppis, Heppow, Wolverine, Strawberry, dan tiga pasukan.

Semuanya mengangguk pelan.

Pertempuran berlangsung dan terus berlangsung, seolah tak pernah berakhir. Cakaran dan pukulan di sekitar mereka semakin membabi buta seperti badai. Lebih banyak lagi Lutie-Horderoth yang berdatangan. Lalu, akhirnya, tiga pasukan yang tersisa gugur satu per satu. Tumbang tercabik, atau berdiri terpotong-potong. Disusul Strawberry, yang diangkat tinggi-tinggi oleh beberapa lawan sekaligus, dan siap dibanting ke permukaan sampai tempurung kepala beserta tulang punggungnya remuk—

Tapi itu tidak pernah terjadi.

Cahaya biru langit terpecah dari ketiadaan. Melenyapkan semua bentuk selama beberapa saat. Lalu terdengar bunyi siulan bertempo cepat, dan untaian kata-kata yang begitu melodiusnya sampai-sampai tidak diketahui apa maknanya.

Namol mendongak, mendapati Putri Saya melayang di atas sana. Tenang seperti patung pemujaan. Keberadaannya bersinar, aurora biru di sekitarnya menciptakan garis teratur seperti pola sihir transmutasi yang sangat rumit.

Lalu semuanya kembali ditutup oleh cahaya biru langit yang membutakan. Tapi kali ini ikut diramaikan oleh lolongan kematian para Lutie-Horderoth. Dan secepat setelah cahaya meredup, Namol bisa melihat sebagian besar makhluk-makhluk jangkung itu menyerpih perlahan menjadi semacam sisa pembakaran bara, lalu lenyap tanpa bekas. Sedetik lewat, cahaya biru langit kembali datang. Tanpa ampun menghancurkan sebagian besar lainnya. Terus berulang. Seperti kilatan pada langit gelap yang sedang mengabadikan pemandangan basah di bawahnya.

Dalam kebutaan yang kesekian kali, Namol merasakan tubuhnya diangkat kemudian dibawa ke satu tempat yang lain. Pijakan batang kayu keras berubah menjadi semacam dedaunan empuk. Setelah mendapatkan penglihatannya kembali, ia melihat keberadaan-keberadaan familier berdiri-lemah di dekatnya.

Gitarnya kehilangan beberapa senar, tergolek di atas semak abstrak yang sekilas tampak seperti sekumpulan pemancing di danau kecil. Sarungnya sobek, dan Wolverine berjalan terpincang-pincang. Lalu ada Strawberry yang membungkuk, mengatur napas, terbatuk, kemudian meminum obat. Dan terakhir, ada Yapet bersama Skull, yang terluka sangat parah tapi masih hidup. Yapet menyeka darah di wajahnya, sementara Skull mengokang senjata dengan tangan bergetar; topengnya meretak dan nyaris lepas.

Saat ini mereka berada di salah satu persegi kecil pada lapangan kubus. Persegi yang bergerak pelan tak menentu, seolah keluar dari tatanan.

Putri Saya terengah-engah, melayang di atas mereka. Dan di bawah sana, di antara serpihan jasad bara ratusan Lutie-Horderoth yang dibinasakan sihir-luhur sang putri, seratus makhluk jangkung yang lain muncul menggantikan. Melompat dari setiap celah persegi—yang pada saat ini Namol sadari, ternyata semuanya keluar dari tatanan. Lapangan seolah ikut rusak akibat insiden tadi. Seperti kotak-kotak pada kubus rubik yang dicabut paksa dari porosnya.

"Pergilah, Harry!" terdengar suara Putri Saya dari atas sana. Lemah dan tipis. Dan Namol sangat sedih ketika mendongak, memperhatikan meski samar, wajah cantik sang putri meretak seperti porselen. "Mereka tidak ada habisnya ...," lanjutnya, "aku akan mencoba—"

Seratus bala bantuan Lutie-Horderoth berjenis Mallish tiba di tepi persegi. Menyerang kembali. Sang putri segera mempersiapkan sihir yang sama, tak peduli pada kondisi tubuhnya yang semakin merapuh—terforsir. Yapet, Skull, dan Strawberry, ikut menyerukan semangat terakhir. Dan semuanya seolah berputar. Bentuk dan suara menjadi satu. Namol merasakan dirinya dilempar dengan sangat kasar, membentur semacam selimut dingin, lalu terisap ke dalamnya.

"Pergilah ..., Harry. Selamatkan Kakakku. Kupercayakan padamu." Merupakan sekilas suara terakhir, di antara campuran jeritan horor pertempuran—atau mungkin pembantaian—yang Namol dengar.

Dan ketika akhirnya ia membuka mata, sadar sepenuhnya, pertempuran itu sudah berakhir. Tidak ada suara apa pun selain dengung di kejauhan dan isak tangisnya sendiri.



***



Puppis si gitar bergerak susah payah untuk menampar sosok cengeng di sampingnya. Sosok cengeng itu, Namol, seketika berhenti menangis. Bukan sepenuhnya tersadar karena sengat panas di pipi, tapi lebih karena pemandangan di sekitarnya. Hal itulah yang menariknya lagi ke dalam kenyataan, bukannya mengawang menyerah.

"Di mana kita sekarang, ya?" tanya suara manis yang familier. Strawberry.

Perutnya mencelos dingin. Tapi belum sempat Namol menoleh ke sumber suara, dua tangan berlumuran darah sudah lebih dulu mencengkeram bahunya. Mambantunya berdiri tegak, memutar tubuhnya sampai saling berhadapan. Si pemilik tangan itu, Yapet, berujar dingin seperti biasa, "Peringatan yang sebenarnya telat: prajurit, cobalah untuk tidak membungkuk sebelum masalah dituntaskan."

"Responsif! Fluensi!" suara serak Skull menimpali.

Namol mengucek kedua matanya kuat-kuat—kacamata bulatnya sudah menghilang entah kapan. Ia harus memastikan kalau sosok-sosok yang sedang ia lihat sekarang, berada di depannya, benar-benar nyata. Karena ada satu wilayah di Vindhila, Meraquell Biivu, yang dipenuhi oleh manusia-bunga penghasil kabut halusinogen.

Tapi lalu kesenangan, kelegaan, keletihan, dan rasa syukur meledak menjadi satu di kepalanya. Wilayah ini bukan Meraquell Biivu. Wilayah ini adalah Navareim, tidak mungkin Namol salah; ia terlalu sering berkunjung ke sini semasa kecilnya. Dan itu artinya, sosok-sosok yang berada di depannya adalah sesuatu yang nyata. Strawberry, Yapet, dan Skull, masih hidup.

Betapa bodoh dirinya tadi, sempat menyangka bahwa tidak ada lagi yang selamat. Bahwa ia tinggal sendirian.

"Putri Saya mendengarmu, Harry. Dia mencerai-beraikan lapangan untuk mencari portal yang benar. Sesuai dengan spesifikasi yang kausebutkan seadanya," Yapet menjelaskan datar. "Dia melempar kita semua bersamaan. Dan fakta bahwa dia tidak ada di sini bersama kita, saat ini, dia, sang Putri—pasti sedang bertahan di depan portal, mencegah lawan memasukinya. Jadi ..., sebaiknya kita tidak menyia-nyiakan waktu. Ayo, bergerak, kita belum selesai. Tunjukkan jalannya."

"Ya! M-mereka pasti ada di sentral. Rumah sang Inti."

Berlanjutlah misi penyelamatan Maria Venessa.

Empat personel yang tersisa, dengan keadaan mereka yang terdiri dari campuran pasien korban kecelakaan dan gelandangan, bergerak menyusuri Navareim.

Sebuah wilayah hijau berpendar. Dipenuhi pohon-pohon tak berdaun, melainkan aura yang menjulang di ujung-ujung dahan atau rantingnya, dan memiliki bentuk keseluruhan seperti bilah pedang keunguan. Navareim sendiri berada di sebuah puncak pohon raksasa berdaun datar; teksturnya sekeras berlian. Jadi, ada semacam pepohonan pedang spirit yang tumbuh di atas pohon super besar serupa cawan.

Sambil terus berjalan-bersiaga menuju kediaman sang Inti dan para pahlawan di sentral wilayah, Yapet meminta Namol menjelaskan apa-apa saja yang bisa diharapkan dari tempat ini.

Di sini, jelas Namol, sebenarnya merupakan permukiman utama Lutie-Horderoth berjenis Mallish dan Llokish. Pendengarnya sudah mengetahui seperti apa bentuk Mallish dan kengeriannya, jadi ia langsung ke Llokish—makhluk jangkung setinggi tujuh meter, tersusun dari permata keemasan bernama Nilis, memiliki empat wajah, satu keberadaan serupa bayi yang terperangkap di dada, dan kemampuan untuk memanipulasi permata menjadi energi sihir.

"Untuk ukuran permukiman utama, tempat ini cukup sepi, ya? Bukannya aku enggak senang atau apa, sih." Strawberry tertawa tragis, lalu batuk seperti biasa.

"Tradisi mereka menamakannya: Läluméia," kata Namol hati-hati, sambil refleks mengusap punggung Strawberry dalam upaya membantu meredakan batuknya. Lalu keduanya salah tingkah.

"L-lutie-Horderoth sangat menyukai tantangan dan pertaruhan, sangat," penjelasan dilanjutkan. "Mereka sama sekali tidak mau, atau tidak bisa, menolaknya. Ketika itu terjadi—adanya penantang atau pejudi yang menawarkan kompetisi—Läluméia akan diberlakukan. Dan itu adalah pengosongan lokasi, menjadikan seluruh teritorial mereka sebagai medan permainan."

"Hm, begitu." Yapet melirik barisan sempit pepohonan pedang-spirit di sebelah kirinya, kemudian mendongak menatap apa yang seharusnya menjadi panorama langit; tapi kini merupakan pepohonan kering serupa cakar yang mengambang-berjejalan. Dari Rosellite memang sudah seperti itu. Sensasinya seperti terpenjara di ruang tertutup yang memiliki wajah belantara asing. Dan serba hidup. Bagian-bagian hutan ini seolah bisa tumbuh di mana saja. "Pasukan mimpi buruk mungkin menantang Lutie-Horderoth untuk melawan dua Reverier," ia melanjutkan. "Tantangan terbesar yang bisa diberikan di dunia sempit ini."

"Probabilitas! Akuisisi!" Skull berseru.

"Lalu ... jangan lupa, kita juga belum tahu alasan Maria Venessa yang pasrah menyerahkan dirinya pada mimpi buruk dan Lutie-Horderoth." Namol menunduk. "Dan ... maaf. Aku—aku memang sudah memprediksikan adanya pertempuran. Tapi tidak sebesar itu. Pasukan-pasukan yang gugur, Jenderal Idris ...."

"Harry, jika kau memiliki kemampuan melihat masa depan, aku akan menusukkan pisauku ke bagian terdalam bokongmu sekarang juga. Tapi kau tidak memilikinya. Karena kau, kita semua, hanya manusia biasa. Jadi jangan menjadikan dirimu sepenting itu." Tanpa peringatan, tiba-tiba Yapet menggiring rombongan ke pepohonan yang berbaris memadat di sebelah kiri; membentuk hanya satu jalan menuju bangunan yang dituju. "Kita meraba semua hal yang belum terjadi dengan tangan-tangan yang senantiasa terus berharap," ia melanjutkan. "Terkadang, bukan cahaya kemenangan yang akhirnya kita raih di dalam kegelapan ketidaktahuan, tapi kotoran. Dan itu bukan hal yang baru. Itu hal yang bagus. Pengalaman yang menjanjikan hampir selalu menyengat dan meninggalkan bekas."

"Baiklah. Tapi, bos, kita mau ke mana? Jalur ini terlalu sempit," keluh Strawberry sambil menunjuk jalanan luas di belakang mereka, yang tidak terlalu dihalangi pohon beraura bilah pedang.

Namol juga bingung. Menurut Lutie-Horderoth di Rosellite, Maria Venessa berada di tempat sang Inti dan para pahlawan. Artinya mereka berada di kediaman terbesar, sentral wilayah. Banyak jalan menuju ke sana. Kenapa Yapet memilih yang ini?

"Soal Nyonya Maria," kata Yapet, kentara sekali sengaja mengabaikan protes kecil dan kebingungan yang mengambang di udara, "kesepakatan apa yang telah dia lakukan pada mimpi buruk ..., pada Lutie-Horderoth? Itu mungkin—menyebar sekarang!"

"BOS!" pekik Strawberry.

Semuanya berlangsung dengan sangat cepat.

Namol melihat semacam trisula yang terbentuk dari api, menembus pinggang Yapet. Tapi seolah sudah menantikannya, laki-laki dingin itu segera berbalik dengan pisau terhunus. Dan di sana, di belakang mereka, sekumpulan Lutie-Horderoth berjenis Llokish berlarian mendekat. Memenuhi udara dengan pelesatan sihir yang kemudian membentuk senjata-senjata lempar.

Skull membalas dengan memuntahkan peluru dari senapan terakhirnya. Strawberry mulai memanah. Yapet maju menghabisi empat makhluk jangkung terdekat. Namol mengiringi, menjadikan pimpinan Tavern of the Black Alley itu antimateri di saat yang tepat. Puppis dan Heppow ikut membantu semampu sisa tenaga mereka, sementara Wolverine mendengking patah-patah.

Kepala-kepala permata beterbangan, lepas dari badan. Yapet menyerang seperti sedang membelah mentega. Tapi lalu dua kapak baja terbang melewati pundaknya, melewati pengawasan Namol, penjagaan Skull, dan terus melesat—

Dua kapak itu sukses membacok perut Strawberry, gadis pemanah itu lengah, ia tumbang. Namol meneriakkan namanya sia-sia.

Skull yang paling dekat bergegas menghampiri, lalu ia gagal di langkah kedua. Semacam arus petir menghantam topengnya, menghancurkannya.

Dua gadis tumbang. Tak bergerak.

Yapet, Namol, bahkan Puppis, Heppow, dan Wolverine, mengamuk. Setelah jual-beli serangan berlangsung selama beberapa saat, gelombang pertama Lutie-Horderoth berhasil ditumbangkan. Tapi di kejauhan sana, di tepi Navareim, seratusan lebih mulai berdatangan. Yapet meludah darah, lantas memapah Skull—sementara Namol memapah Strawberry—berlari di sepanjang jalan sempit.

Tiba di ujung, laki-laki dingin itu tersenyum. Ia serahkan Skull pada Namol, dan memintanya untuk melanjutkan sendirian.

Namol protes. Yapet membentak.

Mereka diam selama beberapa saat. Lalu, dengan lebih tenang, Yapet mengatakan:

"Mereka menyukai tantangan, Harry. Mereka pasti makhluk yang meninggikan harga diri lebih dari apa pun." Ia meludah lagi, lalu tersenyum. "Aku memilih jalan sempit ini, atas pemikiran itu. Jika tantangan adalah yang mereka inginkan ... jika harga diri adalah yang mereka pertaruhakan ... maka mereka tidak akan pernah mau mengambil jalan memutar untuk mengepungku. Mereka akan berdatangan dari depan. Dan aku, akan menahannya.

"Pergilah."

"Ta-tapi!"

"Harry, bukankah tugasmu masih panjang? Bukankah, menyelamatkan Nyonya Maria hanyalah awal? Ingat, kau menginginkan perdamaian dua semesta. Kau masih harus meyakinkan Namol Nihilo. Pergilah ... atau ini semua menjadi sia-sia. Pergilah, heh, bocah pemimpi yang kurang waras."

Antusiasme Yapet, sampai akhir, terus terpancar di sorot matanya yang sedingin es. Ekspresi membara itu tak hentinya terbayang di setiap langkah menjauh yang diambil Namol dari ujung celah sempit barisan pepohonan beraura pedang.

Sambil menggendong Strawberry dan Skull, berlarian, sesekali tertatih-tatih, ia akhirnya masuk ke dalam pohon terbesar di wilayah sentral. Tiba di kediaman sang Inti, dan para pahlawan. Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah senyum letih dari sang messiah—Maria Venessa terikat tak berdaya, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh sempurnanya.



***



"Selamat datang, volinire~!" raung sang Inti. Lutie-Horderoth berdarah campuran. Setengah Mallish, setengah Llokish. Tingginya tidak kurang dari tiga puluh meter. Wajahnya seperti permata hijau yang dipotong dengan sangat mulus. Memiliki ceruk mata persegi, dan tatapan sehampa lorong bawah tanah. Sementara tubuh besarnya dilapisi zirah permata merah yang bertonjolan.

Di sebelah kanannya, berdiri satu pahlawan Mallish yang memegang tombak. Di sebelah kirinya, pahlawan Llokish bersiaga dengan tongkat berukir menuding ke depan.

"Jika aku tidak terlalu benar, volinire, kalian adalah tantangan utama kami!" sang Inti mendesis. "Datang ke sini untuk menyelamatkan peranakan setengah dewi. Maria Venessa, Reverier negeri Exiastgardsun. Bagaimana? Jangan diam. Jawab, ayo. Jawab! APA AKU BENAR ATAU SALAH, SERANGGA?!"

Namol bungkam, menekan sekuat-kuatnya rasa takut yang ia rasakan. Dulu, ia pernah sekali melihat sang Inti bertarung melawan Barlaghart—salah satu monster terkuat yang menghuni Regaia. Meski akhirnya kalah, sang Inti berhasil selamat. Dan berhasil melukai monster itu. Monster yang bahkan mampu melenyapkan tiga planet sekaligus; hanya dengan menggunakan ayunan sebelah tangannya.

Sekarang ia harus berhadapan dengan sang Inti yang sama. Atau ada cara lain? Melarikan diri? Menghimpun rencana baru? Sekilas fragmen cerutu berdarah Jenderal Idris, kekhawatiran mendalam Putri Saya terhadap Maria Venessa, tatapan intimidasi Yapet, dan perjuangan seluruh tim penyelamat ..., memenuhi kepalanya. Menjadikan tatapannya mengabur.

Tidak. Tidak ada cara lain. Rasa takutnya saat ini, sama sekali tidak sebanding sedikit pun dengan gelora api asing yang sedang membakar jiwanya.

Memikirkan cara lain selain terus maju, tidak menyelesaikan jalan yang ia pilih, hanya akan menjadikannya hantu di masa depan. Keberadaan tanpa tujuan, selalu menengok ke belakang melalui pundaknya, menyesali apa yang ia lewatkan di masa lalu.

"MAJULAH, VOLINIRE~!" bentak sang Inti, kemudian raksasa itu tertawa terbahak-bahak.

Namol maju selangkah. Lalu berhenti. Bukan karena takut, tapi karena terkejut. Ternyata ia tidak maju sendirian. Di belakang Puppis, Heppow, dan Wolverine, dua sosok berdiri susah payah. Mengikutinya.

Strawberry dan Skull.

"Sedikit lagi," si gadis pemanah berbisik lemah. Memaksakan senyum. "Ini semua akan berakhir."

"Aku ... tidak boleh kalah di sini. Tidak ketika aku bisa ... menggapainya. Tujuanku," kata Skull, serak. Namol dan Strawberry cukup terkejut karena gadis—yang tadinya—bertopeng itu mampu mengucapkan lebih dari satu-dua kata. Ia sangat cantik, seperti perempuan Exiastgardsun lainnya. Tatapannya kuat dan terfokus meski wajahnya berdarah-darah. "Demi mereka yang berguguran."

"Demi mereka yang berguguran," ulang Namol dan Strawberry.

Kemudian bersama-sama mereka maju. Bertabrakan. Saling serang.

Ruangan sang Inti dan para pahlawan yang seperti bagian dalam sebuah gua berlangit-langit tinggi. Dengan stalaktit dan stalagmit berbagai warna-kilauan yang tersebar acak. Lalu patung-patung kuno yang berdiri seolah mengawasi, dan ornamen-ornamen simbolisnya. Semuanya menjadi saksi yang tak akan pernah membicarakan pertarungan hari ini, tapi tetap tahu, di dalam sepanjang keabadian mereka, bahwa hari ini benar-benar ada.

Namol menjadikan dirinya antimateri, menghindari pukulan dari sang Inti yang mampu memecah gunung sekalipun, yang kemudian segera disertai entakkan-entakkan sihir berkecepatan sonik.

Pada sudut matanya, ia melihat Strawberry dan Skull sudah dijatuhkan. Sepersekian detik, ketika pukulan penyelesaian dilayangkan para pahlawan Mallish dan Llokish ... Puppis, Heppow, dan Wolverine menggagalkannya. Mereka melompat ke jalur serangan. Hasilnya, tidak ada yang tersisa dari pihaknya. Semua sudah jatuh. Kini, ia benar-benar sendirian.

Satu kesempatan—berikan aku satu kesempatan! Namol memohon sambil terus menghindar, dan mencoba, mendekati mereka yang terjatuh. Karena eksekusi kematian kembali menyalakan aba-aba. Aku harus melindungi mereka! AKU HARUS MELINDUNGI

Semacam kesempatan, keajaiban, yang telah dinanti-nanti ... tiba-tiba muncul begitu saja. Seperti hadiah dari langit. Para pahlawan Mallish dan Llokish mematung tanpa melayangkan serangan final mereka. Begitu pula dengan sang Inti, yang berhenti membombardir Namol dengan pukulan dan entakkan sihir tak masuk akal.

Memanfaatkan momentum itu, menggunakan adrenalin yang terpacu sepenuhnya, Namol melompat ke depan. Memasukkan tangannya, dalam keadaan antimateri, menembus kepala sang Inti—yang kini berdiri lemas seolah sedang tertidur dalam keadaan mata terbuka—kemudian menonaktifkan kemampuannya. Menjadikan tangannya kembali solid, lantas secepatnya meremas nyawa yang bersemayam di sana.

Sang Inti tumbang ketika sebelah tangan Namol dicabut. Ia menang. Tapi terlalu bingung untuk menyadari apalagi merayakannya. Maka ia berjalan kikuk ke arah para pahlawan, melakukan hal yang sama untuk mengalahkannya, kemudian membantu Strawberry, Skull, Puppis, Heppow, dan Wolverine, menyadarkan diri.

"Kita menang," kata Namol, pelan dan bodoh.

Strawberry tersenyum sambil terbatuk. Puppis, Heppow, dan Wolverine, bersorak dalam bahasa masing-masing. Sementara Skull membidik mereka semua dengan tatapan meminta maaf.

"S-skull?" tanya Namol, menggigil karena terkejut. "Turunkan senjatamu ..., h-hey? Kita sudah menang!"

Skull menggeleng lemah. Air mata mulai membasahi wajahnya, mengikis sebagian noda darah yang mengering.

"Ichsan!" tukas Strawberry di sela batuk parah. "Dia adalah kakakmu ... oh, Tuhan. Ternyata benar ..., jadi ...."

Namol menoleh ke arah Maria Venessa yang masih terikat, telanjang, di semacam altar di sudut ruangan. Perempuan itu menatapnya sendu, tapi tidak mengatakan apa pun.

"Maaf," Skull berbisik.

Sebelum siapa pun sempat bergerak mendekatinya, atau mengubah jalur serangnya, sebutir peluru ditembakkan. Meluncur lurus ke arah altar. Menembus dahi sang messiah Exiastgardsun.



***



Darah menetes dari lubang kehitaman di dahi putih itu. Pemiliknya tertahan dalam posisi terikat; menjadi selemah dan semati boneka. Maria Venessa telah tewas.

Skull menjatuhkan senapannya, menangis tersedu sambil sesekali tertawa melengking. Namol membeku di tempatnya berdiri. Tidak tahu harus melakukan apa.

Tapi tidak dengan Strawberry.

Nyaris tanpa ekspresi, gadis berkulit gelap itu menarik satu dari tiga anak panah terakhirnya. Memasangnya pada busur, lalu menembakkannya menembus dada kanan Skull.

Kejadian itu dengan sangat cepat mengembalikan Namol dari kekosongan. Ia tatap Strawberry, yang tidak balas menatapnya. Karena gadis pemanah itu sedang melihat ke arah altar menggunakan ekspresi yang tidak terbaca.

Jadi ia hampiri Skull buru-buru. Puppis, Heppow, dan Wolverine, mengikutinya. Sekilas pandang saja, ia tahu gadis itu masih hidup. Karena gadis itu masih menangis, masih tertawa seperti orang gila, meski nyaris lirih.

"Bertahanlah," kata Namol, serba salah. Ia berusaha melakukan sesuatu pada anak panah yang menembus tubuh gadis di hadapannya. Tapi akhirnya menyerah, tidak tahu tindakan yang tepat. "Strawberry, kumohon—"

Terputus.

Tanpa ada apa pun yang menyerangnya, Namol ambruk. Seperti lumpuh. Tubuhnya mati tapi pikirannya dipenuhi euforia yang sangat menggairahkan. Sensasi ganjil itu pasti menular, karena gitarnya, sarungnya, dan anjing kecilnya ikut terkapar tak lama kemudian.

Namol memandangi Strawberry—satu-satunya keberadaan hidup yang masih berdiri tegak di ruangan serupa gua berkilau ini—dengan sorot kebingungan yang kental.

Akhirnya, Strawberry balas menatapnya. Tatapan itu begitu sayu, begitu bosan, begitu menggoda. Begitu asing.

"Strawberry?" bisik Namol, di antara dorongan yang sangat kuat untuk menjadi mabuk dan tidak sadarkan diri. Wajahnya memerah, gairahnya memuncak dengan sangat tidak masuk akal.

"Halo ... Namol Nihilo," kata Strawberry, lembut.

Namol merasakan sebentuk godam petir menumbuk kepalanya. Apa ia salah dengar? Strawberry menyebut namanya.

"Penyamaranmu masih ada, kok," sambung si gadis pemanah, melihat Namol mati-matian berusaha meraba wajah; usaha yang bodoh. Lalu gadis itu merogoh saku celana jin pendeknya, mengeluarkan tabung obat dan secarik perkamen.

Sekali lagi Namol dihantam godam nausea yang sama. Dari mana Strawberry mendapatkannya? Perkamen pemberian Timiel Isadore yang selalu ia simpan di balik jubah? Sebelah tangannya buru-buru dimasukkan ke saku bagian dalam untuk mengecek ... darahnya berdesir dingin seketika. Ternyata masih ada di sana. Perkamen miliknya masih tersimpan, tak tersentuh pihak luar.

Strawberry tersenyum. Senyum yang terlalu manis dan menggoda untuk bisa dibiarkan begitu saja. Hasrat mengecup bibir sesempurna itu terlampau kuat, sampai-sampai Namol rela menukar nyawanya dengan satu kesempatan mencoba.

"Kita sama-sama punya satu," kata Strawberry.

"Hadiah dariku," sahut sebentuk suara baru, tapi familier. "Kawan baik kalian. Bukan begitu, eh?"

Namol berkedip, dan mendapati Timiel Isadore sedang berdiri tepat di sebelah Strawberry. Atau, tadinya Strawberry. Karena saat ini, menggantikan posisi gadis pemanah itu, adalah sesosok messiah Exiastgardsun. Yang seharusnya sudah tewas beberapa saat lalu.

Maria Venessa melambai pelan ke arahnya.

Tiba-tiba Namol ingin muntah, dan mati bahagia, dalam satu waktu yang sama.

"Minum obatmu, Kekasih," desis Timiel. Pemuda pemakai fedora, dan hiasan simpul tali untuk menggantung diri sendiri itu, menyeringai sangat lebar—menghancurkan batas wajar bentuk mulut seorang manusia. "Kawan kita tidak bisa menahan sensasinya."

"Biarin," kata Maria, sangat manja. Meski begitu, Namol hampir bisa melihat kesedihan di sudut bibirnya. "Biarin dia kalah dengan bahagia."

"Ups!" Timiel mengecup pipi perempuan sempurna itu. "Jangan sekarang. Oh, jangan sekarang, Kekasih! Kawan kita ini sudah jauh sekali berjalan. Dia butuh penjelasan. Biasanya sesuatu yang jelas juga merupakan kebahagiaan, loh."

Maria meragu selama sesaat, tapi akhirnya melakukannya juga. Ia menjelaskan pada Namol, dengan sangat merdu dan ironis, tentang kekalahannya yang sudah dipastikan sejak awal.



***



Secepat setelah kedua Bingkai Mimpi bersatu, Maria didatangi oleh manifestasi mimpi buruk. Dan itu adalah: Timiel Isadore. Mereka menciptakan semacam kontrak, mengikatnya kemudian dengan persetubuhan.

Sejak saat itu, Timiel resmi menjadi sekutu Maria. Iblisnya. Mereka saling membantu untuk mencapai tujuan masing-masing. Timiel, agar bisa berevolusi. Maria, agar mampu memenangkan babak ini.

Lalu seperti halnya Namol, Maria juga menyamar. Dan Maria juga diberikan secarik perkamen sebagai pembimbing.

"Aku juga punya dua instruksi. Sama kayak kamu, Namol." Maria membentangkan perkamen miliknya. "Yang pertama," lanjutnya, "berisi tentang semua yang dibutuhkan agar waktu kedatanganku sebagai penyamar-pelamar, bisa pas dengan waktu penculikan peran penggantiku—mimpi buruk yang dibikin mirip banget fisiknya. Hm, semua masalah momentum, sih. Kamu bahkan enggak melihatnya, kan? Jadi cukup sukses, ya? Terus yang kedua ... soal adiknya Ichsan, dan petunjuk terakhir tentang dirimu.

"Tahu enggak? Aku bahkan baru sadar kalau Namol Nihilo yang asli ada di rombongan tim penyelamat, setelah baca instruksi itu. Dan petunjuknya cuma: sosok terakhir yang bukan prajurit pembebas, atau adik yang mendendam. Puitis, ya, Timiel? Nah, tadi setelah Skull menembak peran penggantiku di altar, barulah aku yakin kalau kamu, Harry, adalah Namol Nihilo."

Maria masih terus menjelaskan skema perangkapnya, sementara Timiel bersenandung dan tampak gembira sekali.

Tapi Namol, saat ini, ia merasa kosong, bodoh, bingung, marah, dan bergairah sekaligus. Timiel tadi mengatakan, kebenaran adalah kebahagiaan. Betapa ingin sekali Namol terbebas dari lumpuhnya saat ini meski hanya untuk menendang wajah si manifestasi mimpi buruk.

Tidak ada kesenangan sama sekali setelah mendengar penjelasan tersebut. Karena apa senangnya, untuk Namol, mengetahui bahwa pertemuan pertamanya dengan Timiel di tepi sungai semalam, titik penentu perjalanannya kelak, merupakan skenario terancang? Dan apa senangnya berpetualang, mempertaruhkan nyawa, bersama sosok yang ternyata berbohong dari awal?

"Kita bertarung setiap hari, sebagai makhluk hidup. Dan inilah pertarunganku," Maria menutup penjelasannya. Ia terima sebutir obat dari Timiel, menelannya, lalu melanjutkan pelan, "Maaf, ya, Namol. Aku memikul beban satu negeri."

Namol tersenyum. Setelah Maria meminum obat aneh dari Timiel, rasanya sensasi bergairah konyol yang membuat selangkangannya terkocok tiba-tiba menghilang. Tapi ia masih lumpuh. Dan ia juga tidak tahu untuk apa senyum tadi. Karena situasinya sama sekali belum berubah.

"Oke ..., aku bakalan cium kamu," kata Maria, mesra. "Dan ini semua berakhir setelahnya."

Namol mengingat kemampuan perempuan paling cantik itu. Ciuman yang mampu menguras energi kehidupan. Dengan cara inilah ia akan kalah.

Maria bersimpuh, mendekatkan wajahnya. Sangat dekat sampai Namol bisa melihat pantulan wajah palsunya di sorot bola mata yang sangat indah tapi mematikan itu.

Lalu Timiel tertawa.

Cukup keras, tiba-tiba, dan mengganggu. Maria langsung menoleh protes, menyuruh si manifestasi mimpi buruk untuk diam. Tapi tawa itu terus berkumandang. Meski sudah berusaha menarik urat humor di sekujur tubuh untuk memahami situasi ini dengan cara yang sama gilanya, Namol tetap tidak menemukan sisi lucunya—

Kenapa Timiel tertawa?

—sampai akhirnya Maria tumbang. Menindih tubuhnya. Ekspresi perempuan itu tiba-tiba sangat kepayahan. Napasnya pendek-pendek, dan keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dengan cepat.

Timiel seketika memenuhi ruangan dengan tawa yang semakin meledak.

"DAN KAU BERPIKIR, AKU—SANG MIMPI BURUK, AKAN MEMBIARKAN INI SEMUA BERAKHIR SEBELUM SENJA MENGHILANG? PEREMPUAN NAIF!" manifestasi mimpi buruk itu meraung. Suaranya berubah-ubah. Semuanya menggambarkan hal-hal paling kejam yang pernah dituangkan ke dalam jeritan. "AKU MEMBUTUHKAN KALIAN BERDUA UNTUK TETAP ADA. SEIMBANG. SAMPAI TIBA SAATNYA ... AKU BISA MENCEKIK KALIAN MENGGUNAKAN KEDUA TANGAN INI! OH, KAWAN DAN KEKASIHKU! REVERIEEERRR!"

Masih memperhatikan ekspresi letih-mendadak milik Maria, Namol iseng berbisik, "Kurasa .., obat dari orang gila itu tadi bukan obat rasa jeruk normal, ya?"

Di antara penderitaannya sendiri, Maria tersenyum kecil. Namol langsung merasakan kelegaan yang membasuh. Memang benar, ia telah dimanipulasi oleh sosok cantik yang kini terkulai di atas tubuhnya. Tapi lebih dari itu ia sadar: semuanya terjebak di sini.

Ia dan Maria adalah pion putus asa yang ingin secepatnya meninggalkan papan permainan. Sangat putus asa, sampai akhirnya mereka berdua rela memilih untuk mengikuti kemauan dari lawan sesungguhnya.

Timiel menari-nari, melempar fedora dan menangkapnya, memainkan ornamen tali penggantung di leher, sambil terus mengatakan, "Kita tunggu senja berakhir di sini, Kawan dan Kekasih ... kita tunggu momen itu. La la la la la~ apa? Bagaimana kalau menunggu sambil melihat mimpi terburuk kalian? Walah! Ide cemerlang!"

Ornamen tali pada leher Timiel memanjang kemudian menjerat leher Maria. Tapi perempuan itu sudah terlampau lemah untuk memberi respons kesakitan. Sementara Timiel berjingkrak-jingkrak sambil menyerukan, aku bisa menyentuhmu~ aku bisa menyakitimu~!

Kemudian seperti proyeksi film, kedua mata Maria menembakkan semacam gambar-gambar bergerak. Mimpi terburuknya:

Ada seorang pemuda yang sangat tampan dan seksi, memiliki warna rambut yang sama dengan Maria, terlihat sangat tersiksa di sebuah ruangan temaram. Ratu Sanelia ada di sana, bersama sang raja, dan Putri Saya. Mereka terlihat kejam dan dingin. Maria meneriakkan satu nama, "Odin!" Dan pemuda tampan yang tersiksa segera mendongak, lalu tersenyum. Sang ratu maju untuk membakar wajahnya, Putri Saya—dengan sangat tidak masuk akal—maju untuk menikahinya. Terakhir sang raja, menghantam kepala pemuda itu sampai lepas dari badan. Maria menjerit, tampak kecil dan tidak bisa ke mana-mana.

Timiel tertawa puas. Tali lehernya melepas Maria, berpindah ke Puppis. Gitar itu terikat, lantas memproyeksikan mimpi terburuknya:

"Lihat apa dariku? Aku berdandan seperti gipsi, dan aku cerewet. Kenapa mencintaiku? Hansel?" tanya seorang gadis bernama Gretel. Pemuda yang ditanya, Hansel, hanya diam memandangi semacam lembah yang membentang di hadapan mereka. Gretel mengulang pertanyaannya, Hansel tetap diam. Terus begitu. Sampai akhirnya Hansel melompat ke dalam lembah, dan Gretel tidak bisa mengikutinya sekeras apa pun ia mencoba.

Tali leher beralih ke sarung gitar. Heppow memperlihatkan mimpi terburuknya:

Laki-laki tinggi bernama Jack, dan istrinya yang sangat penyabar bernama Jill, melakukan ekspedisi ke Antartika. Mereka sedang berkabung, karena Jill lagi-lagi kehilangan bayi yang ia kandung. Jadi mereka berlibur, lalu terjebak dalam suatu insiden. Kapal mereka karam. Jill sekarat. Jack bertemu dengan makhluk-asap yang selalu menjentikkan jari. Di antara es dan udara yang menggigit, makhluk itu mengubah Jack menjadi bayi kemudian menghilang. Tak lama, Jill tewas. Lalu makhluk asing dengan rambut bergelombang, berwarna oranye, muncul. Membawa Jack-bayi bersamanya, kemudian mengubahnya menjadi cacing raksasa.

Terakhir, tali terkutuk itu mencoba meraih Namol. Tapi Wolverine menghalanginya. Anjing kecil itu sama sekali tidak terpengaruh meski sudah terikat erat. Nyaris tercekik.

"Hentikan," kata Namol, lemah.

Timiel malah bernyanyi. Melempar Wolverine keras-keras.

Dan, kemudian, senja memang berakhir di sini ....

"Bangun, prajurit," kata Yapet. "Aku sudah cukup banyak mendengarkan omong kosong mimpi buruk."

Namol nyaris melompat karena terkejut mendengar suara laki-laki dingin itu. Dan ia memang melompat sedetik kemudian. Kelumpuhan yang mengurung pergerakannya menghilang begitu saja—terurai menjadi asap merah. Refleks, ia tangkap Maria yang melorot dari tubuhnya, lalu ia perhatikan ekspresi gusar setengah mati pada wajah Timiel.

Sebuah alasan kegusaran yang sukses menciptakan senyum lega di wajahnya sendiri.

Yapet memang ada di sini. Berdiri di antara stalagmit biru. Bersama Putri Saya, Ratu Sanelia, Hewan, dan Umi. Sosok-sosok yang seharusnya tidak mungkin bisa ada di Vindhila, di Navareim. Mungkin sebenarnya aku sudah mati, Namol membatin, dan ini adalah potongan harapanku.

Tapi tidak. Ini nyata.

Tanpa mengatakan apa-apa, sang ratu menciptakan kuda besi bersayap yang segera memaksa Namol menungganginya.

Setelah ia dan Maria sudah benar-benar naik, barulah sang ratu mengatakan, "Ke tempat aman. Tolong jaga dia."

Timiel merespons dengan raungan, kurang setuju dengan usul sang ratu. Kali ini, selain suaranya, wujudnya juga ikut berubah-ubah. Menjadi bentuk-bentuk paling mengerikan yang pernah terlahir dari imajinasi para pemimpi.

"Sekarang!" Ratu Sanelia berseru, final dan jelas.

Namol segera meluncur ke arah Skull, Puppis, Heppow, dan Wolverine. Mengangkut semuanya ke atas sadel yang cukup luas, lantas mengudara. Menembus atap kediaman sang Inti. Menembus langit-langit bercabang Navareim. Muncul ke permukaan, di mana awan pada akhir senja milik Bumi-Regaia segera menyapa.

Keempat kaki kuda mengejang, menambah kecepatan. Dua sayapnya mengepak menyeimbangkan.

Pelarian tak terduga, dari kejadian-kejadian terakhir yang juga tidak terduga tersebut, sudah mencapai jarak yang cukup jauh dari Vindhila. Ketika sebuah ledakan yang cukup besar tercipta di sana.

Pertempuran sengit antara kelompok baru sang ratu, melawan manifestasi mimpi buruk, pasti telah mencapai puncak.





Ad Infinitum


Tidak tahu harus membawa Maria ke mana, Namol memutuskan untuk pulang.

Secepat setelah ia memasuki teritorial rumah besarnya, efek penyamaran Timiel menghilang. Wujudnya kembali berubah, dari Harry Jackson yang putih dan kekanakan, menjadi Namol Nihilo yang memiliki kulit gelap dan rambut ikal berwarna oranye. Ponconya berganti menjadi sweter hitam polos, bersama pelengkap busana yang lain.

Wolverine berubah menjadi domba putih sekarat. Gitar akustik menjadi peri kecil yang terbaring tak sadarkan diri. Sarung gitar menjadi cacing besar, yang langsung jatuh ke taman logam di halaman rumah dengan suara berdentum, lalu tidak bergerak lagi.

Semuanya yang berhubungan dengan penampilan kembali ke sediakala. Menyisakan hanya luka, dan ekspresi lelah setengah mati—yang tetap ada, tak berubah sedikit pun. Namol hampir merasa seperti menderita luka-luka dari kehidupan orang lain; dan anehnya ia merasa pantas mendapatkannya.

Kedatangan itu segera disambut oleh Messier dan Hubble. Namol terlalu lelah, dan terkejut. Ia kehilangan kata-kata untuk menjelaskan pada orang tuanya tentang apa saja yang sudah terjadi.

Messier dan Hubble mengerti. Jadi tidak ada perbincangan. Hanya pergerakan; upaya memulihkan.

Heppow, Puppis, dan si domba putih, ditangani Messier di dalam bengkel pribadinya. Sisanya—Namol, Maria, dan Skull—dirawat Hubble di kamar tak terpakai.

"Jadi," kata Hubble, cuek, "yang mana yang bakal jadi pengantinmu, Namy?"

Namol yang sedang meminum semacam cairan obat pahit, tersedak parah. "Bukan yang mana-mana," ia menggumam kesal.

Hubble tertawa, lalu berjalan santai keluar kamar. Mengatakan sesuatu tentang bikin roti manis, dan upaya memberikan semacam privasi.

"Ibumu?" tanya Maria, lemah.

Namol mengangguk.

"Wanita yang menarik, he-he. Baiklah, Namol ... aku enggak bakal banyak basa-basi." Maria mencoba bangun dari rebahnya, tapi lalu tergelincir dan akhirnya hanya bisa duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Poni rambutnya menutupi mata ketika ia melanjutkan, "Kalahkan aku sekarang. Aku enggak akan bisa melawan—aku sudah mempertaruhkan semuanya lewat sandiwara penyamaran itu. Sekarang, kalau aku kalah, babak ini otomatis berakhir. Dan mimpi buruk, semoga saja, juga ikut menghilang. Buatku, itu yang terbaik."

Setelah semua yang terjadi, tawaran dari Maria barusan sudah sepatutnya diterima. Ini kesempatan terbaik. Ia bisa menang dan mengakhiri semuanya. Tidak perlu lagi menambah daftar korban karena pertempuran yang berkepanjangan. Tapi entah kenapa, ia merasa masih ada sesuatu yang tertinggal di dalam kegelapan. Sesuatu yang belum menemukan penjelasannya.

"M-maria?" tanya Namol, grogi. "Obat yang kauminum ... boleh aku tahu apa fungsinya?"

"Seharusnya, sih, untuk meredam semacam ... ledakan gairah, libido, yang biasa kukeluarkan. Upaya menekan kemampuanku ketika menyamar sebagai Strawberry. Karena penekanan itu juga, aku mampu menciptakan resep paralisis yang kuaplikasikan pada anak panah. Kamu tahu? Aku menggunakan cairan cin—intinya, aku bukan manusia biasa, kamu pasti sudah tahu itu. Tapi obat terakhir dari Timiel di Navareim ... entah buat apa. Yang jelas bukan untuk membunuh. Timiel terlalu membutuhkan kita, ingat?"

"Lalu ... Maria, kenapa tidak menggunakan kemampuan itu sekarang? Aku ... jelas enggak akan bisa melawannya. Setelah itu, kau—kau bisa membalik keadaan. Menang."

Maria tertawa. Dan Namol, kurang ajarnya, diam-diam jatuh cinta.

"Mau banget, ya, kupakai kemampuanku itu di sini sekarang? Supaya kita bisa ... hm-hm-hm?" Maria tertawa lagi, lebih ceria. "Enggak, Namol. Apa, ya ... kamu itu bukan tipeku."

Mengingat penampakan pria sangat tampan di mimpi terburuk Maria, Namol memang jelas tidak bisa bersaing. Jadi cintanya segera tenggelam secepat munculnya.

"Gagalnya sandiwara penyamaran, bukan satu-satunya alasanku mengaku kalah," sambung Maria. "Tapi perjalanan kita. Misi kita. Perjuanganmu, Harry Jackson? He-he. Semua itu menyenangkan. Semua itu memperlihatkan sosok seperti apa yang harus kuhadapi ... dan tindakan apa yang akan dia lakukan setelahnya. Menang, atau kalah. Entah bagaimana, aku percaya sekarang ... jika memang memungkinkan, kamu pasti bakalan pilih untuk menjaga Exiastgardsun daripada melihatnya dihancurkan Sang Kehendak."

"Tentu saja," kata Namol, tanpa pikir panjang.

Senyum yang diberikan Maria sangat manis sekali, sampai Namol nyaris menangis. "Makanya ... kalahkan aku sekarang. Aku percaya sama kamu buat jaga negeriku. Keluargaku. Gunakan apa saja ... tapi, jangan yang terlalu sakit, ya?"

Hening menyengat. Tiga detik paling lama di hidup Namol akhirnya diakhiri sebuah anggukan kecil. Ia siap mengalahkan Maria. Mungkin dengan membiusnya, atau membekukannya. Apa saja, yang penting tidak menyiksa.

Bersamaan dengan terciptanya keputusan, pintu kamar diketuk satu kali lalu dibuka. Tapi bukan Hubble atau Messier yang masuk ke dalam.

"Hey," sapa Yapet, sedikit mengejek. "Bagaimana keadaan kalian, Strawberry? Harry? Oh, Skull masih belum sadar, huh? Oh, ya, apa kalian sudah menyadari sihir-pemancar yang ditanamkan sang Ratu sebelum kalian meninggalkan Navareim?"

Hewan dan Umi masuk menyusul. Baru Hubble dan Messier ikut bergabung. Pintu kamar kembali menutup.

Maria menarik napas dalam-dalam, menatap Namol, kemudian mengatakan pada semuanya tentang keputusannya untuk menyerah, bersama alasan-alasan, dan harapannya. Setelah selesai, semua yang berada di kamar seolah berubah jadi patung. Tidak ada yang bergerak atau melakukan apa-apa.

Dan bukannya merespons pernyataan Maria, Yapet malah mengabarkan kalau manifestasi mimpi buruk berhasil dikalahkan. Ia juga mengatakan, bahwa nyaris semua pihak penting telah mengetahui tentang sandiwara penyamaran ini.

Bahwa sebenarnya, dari awal, mereka hanya dipermainkan mimpi buruk.

"Sebelum dihancurkan sang Ratu," jelas Yapet, "manifestasi mimpi buruk mengatakan banyak hal tentang cermin-langit. Kehancuran total di dua Bingkai Mimpi. Tapi sang Ratu sudah mengatasinya. Beliau akan menghancurkan langit itu menggunakan Voynich, satu dari empat meriam kolosal milik kerajaan. Aku pikir ... kalian harus tahu tentang hal ini secepatnya—ada apa, Nyonya Maria?"

Maria memucat, dan semakin memucat. Semua mengira kondisinya semakin melemah, tapi itu hanya setengahnya benar. "Jangan! Hentikan penembakan! Jangan rusak langitnya! Apa kalian bodoh? Cepat hentikan, siapa pun, jauhi langit!" perempuan cantik itu memekik, menangis, dan marah-marah seperti anak kecil. Tubuhnya menggigil.

"T-tapi kenapa, Maria?" tanya Namol, pelan.

Maria menatap Namol seolah sedang menatap anak kecil yang susah sekali diajari penjumlahan satu ditambah satu. "Bukankah aku sudah menjelaskannya?" ia bertanya, frustrasi. "Tidak ada yang nyata di dunia ini! Karena itu adalah salah satu kesepakatanku dengan Timiel ... menukar tubuh dan jiwa setiap kehidupan di dua Bingkai Mimpi. Jadi, apa yang ada di sini ... Yapet, Hewan, Umi, orang tua Namol, semuanya ... mereka enggak nyata. Selain aku dan Namol ... enggak ada yang nyata. Semua yang nyata adanya di balik langit!"

Yang lain mungkin menganggap pikiran Maria saat ini pasti sedang terganggu. Tapi tidak dengan Namol. Sepotong ingatan melintasi kepalanya. Tentang Strawberry yang begitu yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja ... bahkan setelah melihat begitu banyak korban bencana mimpi buruk di negerinya ... mungkinkah, itu karena hanya ia satu-satunya yang mengetahui kebenaran?

Kenyataan. Semua yang ada di bawah sini hanyalah cetakan palsu ciptaan sang mimpi buruk. Seperti peran pengganti Maria, yang begitu miripnya, begitu mengecohnya ....

"Percayalah padaku, kumohon. Keberadaan kalian di sini sama sekali enggak nyata. Jiwa yang ada di tubuh kalian hanya pinjaman. Tubuh asli kalian ada di atas sana. Situasi kalian sekarang seperti Maria Venessa palsu ... jadi kumohon. Hentikan penembakan!" jerit Maria, gemas, pada semua yang mendengarkan tapi tidak melakukan apa-apa.

"Aku percaya," kata Namol sambil menelan ludah. Ia perhatikan lalu wajah mereka yang ada di ruangan ini. "Tolong ...," lanjutnya, "biarkan kami berdua pergi."

"Tidak," kata Yapet. "Kami tidak akan hanya membiarkan kalian berdua pergi."

"Kami akan membantu!" seru Hewan, keras dan dalam.

Maria dan Namol saling bertukar pandang, tersenyum.

"Keluargaku dihidupkan lagi oleh mimpi buruk," kata Umi, pelan, "meski itu mungkin keluarga yang palsu, tapi jiwa kami ada di sana setiap detiknya. Melewatinya bersama-sama. Jadi, ayo, kita buat dia menyesal karena sudah menyatukan kembali Tavern of the Black Alley!"

"Itu baru Istriku!" Hewan tertawa terbahak-bahak. "Berangkat cepat, pulang cepat! Karena belum-belum aku sudah sangat merindukan Keenan di penitipan anak—percaya enggak percaya, ada domba putih yang menguik seperti babi di halamannya. Siapa yang menitipkannya di sana? Sudahlah, yang penting aku adalah Ayah yang baik!"

Umi tersenyum jengah.

"Maaf, pada ke sini naik apa, ya?" tanya Maria tiba-tiba. "Bisakah kalian lebih dulu memberitahukan tentang masalah langit pada pihak kerajaan? Aku punya ide lain. Hanya aku dan Namol yang bisa melakukannya. Maaf."

Tidak ada yang terlalu keberatan dengan usul itu. Maka secepatnya, Yapet, Hewan, dan Umi, kembali menaiki motor-sihir masing-masing. Melesat kembali ke kapal induk—tempat sang ratu berada saat ini.

Sementara Maria, setelah mampu berdiri dengan susah payah, meminta pada Namol agar mengantarnya ke tempat paling tinggi di rumah ini.

"Biar Cinta Mati-ku yang mengantarmu ke atap kalau begitu," kata Messier sambil bergeser ke depan jendela di ujung ruangan. "Aku ada sedikit keperluan dengan Namol—Nak, kemarilah."

"Oke ... aku tunggu di puncak." Maria tersenyum letih.

"Ya," kata Namol, lalu beringsut menghampiri sang ayah.



***



Alasan kenapa Bumi-Regaia tidak terpengaruh oleh bencana cermin-langit milik mimpi buruk, adalah rumah besar Namol. Karena sebenarnya, Bingkai Mimpi alien itu hanya sebatas rumahnya saja—dan bencana cermin-langit tidak ada apa-apanya dibanding sistem reparasi otomatis bangunan ini. Sisanya, seisi Bumi-Regaia, merupakan proyeksi; siasat sang ayah yang ditujukan untuk hal besar lain. Dan itulah, satu dari tiga hal yang dijelaskan Messier untuk anaknya di depan jendela.

Hal kedua, Messier menjelaskan tentang membran yang menjadi perbatasan dua Bingkai Mimpi. Ia mengatakan pada Namol, jika memang harus menghancurkan sesuatu selain mimpi buruk, hancurkanlah perbatasan itu. Karena selubung pemisah di sana bekerja selayaknya sesuatu yang menopang, dan menyuplai, energi untuk lapisan langit palsu. Tanpa penopang dan penyuplai, lapisan kepalsuan akan jatuh. Bukan hancur dan menciptakan kerusakan kolateral. Tapi menghilang, kemudian mengembalikan kenyataan.

Hal terakhir, sebelum Messier keluar kamar, ia mendiagnosiskan kondisi Maria. Ia juga menawarkan jalan keluar jika sesuatu memang berlangsung buruk.

Namol berterima kasih, sambil terus memikirkan ... bagaimana cara ayahnya menghimpun sebegitu banyak informasi vital?

Lalu ia membuka pintu kamar, dan harus tertahan sekali lagi sebelum melesat ke atap.

Sebentuk suara serak memanggil namanya.

"Namol," kata Skull, sepelan suara Maria. Gadis itu baru siuman. Kedua mata hitamnya mengerjap. "Jadi ... kau adalah Namol Nihilo. Ancaman nomer satu Exiastgardsun, dan Strawberry adalah Maria—objek balas dendamku?"

"... ajaib, eh?" Namol tersenyum jelek, menghampiri tempat tidur Skull, lantas duduk di tepinya.

"Hanya jika keajaiban memang ada. Karena ... bahkan kedatangan tiba-tiba sang Ratu ke Navareim pasti memilki alasannya sendiri. Sihir-pemancar, atau kasih sayang seorang ibu?" Skull berkedip. Namol tertawa. "Ya. Aku sadar saat itu. Saat Strawberry berubah menjadi Maria. Mereka sebenarnya sama, huh? Jadi kenapa aku ... begitu lancar bertarung di samping Strawberry, percaya padanya, tapi ingin sekali membunuh Maria? Membencinya karena sudah membunuh Kakakku?"

"Mungkin karena semuanya ... akan selalu memiliki mimpi buruk?"

"Absurd! Folklor!" geram Skull, bercanda. Namol tertawa lagi. "Pergilah," gadis itu melanjutkan. "Temui dia di atas sana."

"Um, bagaimana dengan balas dendammu?" tanya Namol sesampainya ia di ambang pintu.

"Misantrop! Brakiasi!"

"Ya." Namol tersenyum bingung. "Terserah. Cepatlah sembuh, Skull."

Dan dengan begitu, melesatlah Namol ke atap tanpa gangguan lain. Maria sedang duduk di tepinya, di tempat kedua orang tuanya duduk bertiga bersamanya kemarin.

Langit senja sudah tidak terlihat. Bumi-Regaia sudah memasuki waktu malam. Dan situasi di luar sana, khususnya di Bingkai Mimpi seberang, ternyata jauh lebih kacau dari apa pun yang Namol bayangkan. Atmosfer damai di dalam rumah selama beberapa menit terakhir telah membuatnya lengah.

"M-maria? Itu—" Namol menunjuk cermin-langit. Di sepanjang teritorial rumah besarnya, dan di seluas wilayah Exiastgardsun.

Cermin itu seolah bergolak, mendistorsi pemandangan yang terpantul. Daratan seolah berubah menjadi samudra dalam cuaca badai.

"Tahap pertama, Timiel hanya bisa menduplikasi dunia, dan menghasutnya. Termasuk menghasut kita," Maria bicara sendiri. Sangat rapuh, sangat cantik, dan sangat tenang. "Tahap kedua, Timiel bisa menyentuh kita, kayak waktu dia siksa kita di Navareim. Terus ... tahap terakhir, ini. Dia berhasil mencapainya karena kita terlalu banyak membuang waktu. Pada tahap ini, dia bisa bunuh kita semua. Tapi lihat—dia malah menggunakan kuasa sang Ratu, Ibuku, sebagai perwakilan penghuni Bingkai Mimpi yang akan menghancurkan sesama."

"Y-ya ... namanya juga mimpi buruk," kata Namol sekenanya. Ia tidak mengerti, kenapa Maria bisa sangat tenang di situasi seperti ini. Ketika langit seolah hendak turun untuk menghantam seluruh kehidupan di setiap sudut daratan.

"Bukannya mau sombong, ya?" Maria mengerling. "Tapi yang melumpuhkan sang Inti dan dua pahlawan Lutie-Horderoth adalah aku. Dan, kamu tahu ...? Jika ada satu hal baik yang diberikan mimpi buruk untukku, itu mungkin adalah obat penekan kekuatan. Dalam penekanan selama aku menyamar, kekuatanku bermutasi menjadi sesuatu yang ... lebih."

"Oh ... oke." Namol mengangguk, meski sebenarnya ia bingung. "Tapi, Maria, sebenarnya apa tujuanmu naik ke atas sini? A-apa fungsiku? Aku memang tahu beberapa hal soal kelemahan fatal Timiel. Um, contohnya hancurkan perbatasan. Itu pusat kekuatannya."

"Bagus! Sekarang peluk aku," kata Maria, sungguh-sungguh. "Lindungi aku selama aku melakukan tindakan kepahlawanan yang sangat keren!" Ia tersenyum simpul. "Tavern of the Black Alley enggak akan sampai tepat waktu untuk memperingatkan masalah sebenarnya. Dan, meski mereka tepat waktu, pasti akan ada perdebatan dulu. Repot, ya? Jadi tolong peluk aku. Lindungi aku dari Timiel. Dia pasti coba buat menghentikan kita nanti."

Di kejauhan sana, cermin-langit mulai meledak-ledak. Dan akhirnya, pada saat ini, Namol melihatnya. Di wilayah istana kerajaan, beberapa hektare tanah terbuka, menunjukkan keberadaan meriam kolosal yang sangat antik dan gagah. Meriam Voynich.

Namol masih sangat bingung dengan maksud Maria. Tapi setidaknya ia cukup mengerti: jika cermin-langit meledak, mereka kalah. Dan jika pihak kerajaan Exiastgardsun menembakkan meriam Voynich ke langit, mereka juga kalah.

"Peluk!" Maria tersenyum. Keindahan senyumnya terlalu kontras dengan kehancuran yang melatari.

Canggung, malu-malu meski sebenarnya mau, Namol pun melingkarkan tangannya ke pinggang perempuan paling cantik itu. Merapatkan tubuh satu sama lain. Mengaktifkan antimateri.

Lalu ....

"Ad infinitum," Maria berbisik, sambil masih menatap dua mata merah milik alien yang sedang memeluknya. "Nama yang cocok buat kemampuan yang munculnya enggak disengaja, heh?" ia menyeringai nakal. "Nah. Jangan lupa janji kamu. Negeriku, keluargaku, jaga mereka—"

Suara Maria menghilang. Perempuan itu jatuh menunduk, melemas seolah tertidur, atau pingsan. Dan bersamaan dengan itu, langit menjerit kalah: "HENTIKAN! PEREMPUAN JALANG! HENTIKAAAN!"

Cermin-langit di seluas kedua Bingkai Mimpi menunda ledakan. Alih-alih, energi besarnya kini dialihkan hanya pada satu target. Maria. Ribuan garis—seperti rentetan meteor berapi hitam—melesat menghantam puncak atap rumah besar Namol. Terus menggedor.

Kehancuran merata melawan sistem restorasi. Namol menyaksikannya dari sangat dekat, bahkan langsung dari dalam proses kehancuran dan pemulihan itu sendiri. Ia masih terus memeluk Maria. Bertanya-tanya apa yang sudah dilakukan perempuan itu sampai menciptakan murka Timiel sebegini parahnya?

Jawabannya terlihat nyaris seketika. Bulu kuduk Namol meremang. Samar terlihat pada cermin-langit, dalam bentuk segerombol titik dan pergerakan bersemangat, aktivitas menakjubkan dari para penghuni di bawahnya.

Penduduk Exiastgardsun berlari sekuat tenaga ke satu lokasi yang sama. Menuju meriam Voynich. Di sekitar senjata itu mereka kemudian menyerukan kata-kata yang berulang: "HANCURKAN PERBATASAN! HANCURKAN PERBATASAN! HANCURKAN PERBATASAN!"

Mungkinkah Maria yang melakukan itu semua? Menggerakkan para penduduk? Tapi dengan apa? Tertidur seperti sekarang ini? Namol benar-benar bingung dan senang.

Moncong meriam Voynich turun. Mengganti bidikan dari langit, menjadi membran pembatas dua Bingkai Mimpi.

"Kalau kau kebingungan, Nak, perempuan cantik itu menggunakan bom-orgasmik yang begitu dahsyatnya, sampai-sampai semua yang terkena efeknya merasa kalau mereka sedang berada di taman surga! Dan kemudian pikiran mereka terkoneksi satu sama lain," jelas Messier, gampang. Ia datang tiba-tiba, terbang di samping Namol dalam keadaan antimateri. "Mereka mulai berhitung! Ayo!"

SATU!

Penduduk Existgardsun bersorak. Peluru khusus meriam sudah menyala.

DUA!

Efek euforia itu bahkan sampai bisa dirasakan para penghuni Bumi-Regaia.

TIGA!

Meriam Voynich ditembakkan.

Sebaris arus kekuatan sihir yang diserap langsung dari sumbernya—bumi Exiastgardsun, dan atmosfernya—melesat dalam skala kolosal. Menabrak membran pembatas dengan suara menulikan. Kemudian menghancurkannya.

Seketika langit seolah terpotong secara horizontal, dan lapisan terluarnya mengerut sampai menjadi bola padat berwarna hitam—berdetak dan berdenyar. Bola itu bergerak pelan menuju wilayah Exiastgardsun, seperti misil dalam keadaan diperlambat berkali lipat.

Menyerahkan semua pada insting dan nalurinya yang payah, Namol melesat terbang ke arah bola itu. Dan tepat sebelum bola itu mencapai pijakan—wilayah kota Twilight yang hancur akibat pertarungan masa lalu—ia menelannya.

Sekarang semuanya benar-benar sudah selesai.



***



Seharusnya begitu, jika saja sepasukan domba hitam yang dipimpin langsung oleh makhluk berkepala bola mata tidak datang lantas mengepungnya.

"Akhirnya ketemu! Dua Reverier!" pekik si kepala bola mata.

"Akhirnya ketemu, sama kamu~ hue, Oneirooos!" pekik si kepala bantal. Yang entah kapan sudah ada di tengah-tengah semuanya.

Dan, bukan hanya si kepala bantal ternyata. Ada juga Zainurma, kurator berpenampilan necis. Lalu Mirabelle, mantan Dewi Perang.

Mereka semua saling bertatapan tanpa mengatakan apa-apa.

Kemudian, setelah beberapa gerakan rumit yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap oleh penglihatan Namol, entitas-entitas ajaib itu lenyap tak bersisa. Tidak ada siapa-siapa di reruntuhan kota Twilight selain dirinya yang masih terus memeluk Maria.

Ia bawa perempuan paling cantik itu pulang ke rumah. Sambil masih terus bertanya-tanya ... kenapa dia tidak bangun juga?

Sampai di rumah besar, Namol langsung menggendong Maria ke bengkel pribadi ayahnya. Melewati jendela-jendela koridor yang terbuka, memperlihatkan kegelapan malam Bumi-Regaia.

Messier menyambutnya dengan senyuman. Ia telah menjanjikan bantuan ini pada anaknya. Demi menghindarkan Maria dari nasib buruk serupa yang dialami Reverier tertentu pada akhir suatu babak, ia akan menerapkan sebuah prosedur. Operasi. Cara yang sama, seperti ia menyelamatkan Gretel, Jack, dan beberapa objek lain yang belum diketahui Namol.

Namol keluar dari bengkel ketika ayahnya memulai proses keajaiban itu. Sejenak, ia lega karena tersadar babak ini sudah selesai. Langit sudah kembali menjadi normal. Tubuh dan jiwa penghuni mimpi sudah kembali pada kenyataan. Seharusnya. Tapi kemudian masalah lain mendesak untuk dipikirkan. Apa yang akan terjadi dengan dua Bingkai Mimpi; yang kini menyatu?

Lalu tentang Puppis dan Heppow, apa kabar mereka? Apa yang akan mereka lakukan sekarang, setelah melihat mimpi terburuk masing-masing di Navareim, yang ternyata merupakan kilasan kehidupan mereka di masa lalu?

Memejamkan mata, bersandar pada dinding dingin. Namol berkata pada dirinya sendiri ... semua itu bisa menunggu.







Tiga

Selesai



>Cerita selanjutnya : -

8 komentar:

  1. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.....

    Narasi entry-mu seperti biasa begitu aduhai, bikin saya merasa inferior dari segala sudut.
    Deskripsi lokasi dan tempatnya sangat detail, tapi nggak bikin itu menjadi wall of text yang membosankan. Entah bagaimana, saya harus belajar banyak dari sini. Terlebih dengan penggunaan kosakata seluas samudera.

    Openingnya bikin penasaran sepanjang cerita, soal si Heppow tentunya. Juga tentang Kekonyolan nyokap dan bokap Namol, bercinta sambil bertukar tinju sebagai sapa. Semuanya absurd, tapi menyenangkan untuk dibaca.

    Exiastgardsun bisa menjadi megah di tanganmu, bayangan saya mengawang tinggi menciptakan imaji glamor akan kehidupan malam di sana. Semoga saya bisa ketularan style nulis penuh detail seperti ini.

    Lanjut ke bagian Tavern. Bibir saya senyum-senyum sendiri ketika muncul cameo akan penghuni Kedai IRL, terlebih dengan nyambungnya canon mereka (Hewan dan Umi). DUDE, MEREKA DAH PUNYA ANAK!

    Adegan kekacauan setelah di kedai bikin saya merinding. Seluruh ke'abssurd'an lokasi dan tempat yang penulis coba sampaikan berhasil terpatri kuat di benak saya. Mendadak saja saya membayangkan salah satu adegan di film Incepcion, di mana segala hal menjadi abstraksi, menekuk logka dan realita. Bedanya, seluruh kejadian di dalam Incepcion itu murni mimpi yang memiliki akhir kosong. Di sini, Namol harus menghadapi konsekuensi akan betapa hancurnya Exiastgardsun setelah diserang mimpi buruk ini. Jelas saya merinding membayangkannya.

    Lalu Nely....
    **mengelap air mata**

    Saya bahkan tak pernah membuat narasi Nely yang begitu dewasa dan berwibawa selayaknya ratu pada umumnya. Di sini, pembawaanmu begitu sempurna.

    Saya Maria Fransiska, karakterisasi dia dalam sekali. Kamu berhasil menggali banyak hal hanya dengan membaca prolog dari entry si Nessa. Well done~

    Perjuangan demi menyelamatkan Maria sungguh bikin saya terharu. Nuansa despair merasuk begitu jelas ke dalam benak saya selaku pembaca. Tentang bagaimana mereka mengorbankan diri demi sesama rekan, hingga Siska yang susah payah mengerahkan segenap tenaga demi meyakinkan semua orang baik-baik saja.

    Pertarungan terakhirnya kerasa Deus ex machina, tapi itu mungkin karena saya kurang bisa mencerna situasi yang terlalu kompleks. Tapi singkatnya, saya suka dengan bagaimana Maria (kembali) mengorbankan diri demi menyelamatkan semuanya.

    Aiiiih, kalau saja penilaian R2 ini menggunakan sistem point, saya tentu akan memberi nilai sempurna, plus dua puluh bonus lainnya.

    Terima kasih atas kerja keras serta dedikasi dalam pembuatan cerita ini. Sungguh ini amat mengibur sekali. Saya sampai merelakan tiga jam waktu kerja terbuang demi membaca tuntas keseluruhan kisah ini.



    OC : Maria Venessa

    BalasHapus
  2. Kadang saya bingung apa yang kamu baca sampe tulisanmu bisa begitu kaya akan segala macam rupa kayak gini. Plotnya kaya, karakternya kaya, dialognya kaya, pilihan katanya kaya, teknik tulisannya kaya. Ngeliat tulisanmu kayak ngeliat satu garis pembatas yang rasanya ga akan bisa saya sebrangin dengan level tulisan saya sendiri, entah sampai kapan. Ajaib, penuh imajinasi, dan luas seluas mata memandang dunia

    Meski agak royal dalam jumlah kata, tapi ga masalah deh. Saya jadi ngerasa konyol kalo nahan diri sementara kamu bisa bikin tulisan tumpah penuh kayak gini

    Di antara semua karakter baru yang muncul, saya paling suka Skull. Tiap kali ngomong cuma satu-dua kata non sequitur. Ayah-ibu Namol juga unik, kontras antara kehebohan mereka sama Namol yang cenderung pasif. Paling yang saya bingung cuma karakter macem si informan kenapa ada selain mungkin plot device, dan masa lalu Gretel-Puppis di awal buat apa diceritain

    Sementara momen paling memorable (di antara padetnya poin" apa aja yang terjadi sepanjang entri ini, panjang kalo ditulis satu") buat saya itu pas rombongan Exiastgardsun masuk gerbang Ramh Entur. Entah kenapa ngebekas aja, sementara yang lainnya kadang bikin saya mikir 'apa ga bisa dibikin lebih ringkas?', meski mungkin berarti bakal ngurangin impresi yang pengen disampein ke pembaca ya

    Bagian sebelum finalenya berasa berlapis" deception antara Skull dan Strawberry, dan lanjut ke Maria dan Timiel. Pun akhirannya rada ngingetin sama entri prelim Namol. Cuma saya jadi kepikiran, rasanya nemu paralel antara Namol sama Iris Lemma - mereka sama" kayak karakter yang diperalat external force tanpa punya opini solid soal apa yang mereka mau dan lakuin, lebih banyak diarahin buat gerak sepanjang cerita. Cuma bedanya Namol ga gitu berasa non-karakter karena punya begitu banyak karakter pendukung lain yang ngelilingin dia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh btw, sekedar formalitas
      VOTE Namol

      Hapus
  3. ggwp mas Namol.

    Banyaknya kata di sini berbanding lurus dengan kualitas tulisannya www

    Harus saya akui, ngebaca entri Namol ini butuh kerja keras dan usaha ekstra karena megah meriah kata-kata penuh warna ini punya makna.

    Worldbuilding, emosi, penokohan, pelataran, aspek dalam cerita ini ditata sedemikian apiknya dengan semua kata-kata yang ada. Butuh waktu buat ngebaca entrinya Namol. Tapi begitu udah baca, kesan dalam bacaan itu berbekas dalem banget.

    Apakah ini sudah peak performance? Susah nebaknya. Bisa jadi mas bebek masih menahan diri dan belum mengeluarkan full power dalam entri ini. Tapi soal maximum effort? Jelas kelihatan.

    Yang saya suka dari mas bebek juga adalah bagaimana ia menginterpretasikan kanon yang lain dengan caranya sendiri, dengan menambah beberapa penyesuaian di sana-sini yang, walau merubah konsep yang ada, tapi esensinya tetap sama, mungkin malah jadi lebih baik pengemasannya. Udah jelas terbukti bagaimana Anatolia versi Namol begitu wah.

    Epik. Satu kata yang bisa jadi summary ketakjuban saya saat membaca entri R2 Namol.

    Votenya menyusul ya (walau saya tahu Namol yang akan maju www) ;)

    Salam Sejahtera dari Enryuumaru dan Mbah Amut

    BalasHapus
  4. Entri ini banyak bgt worldbuildingnya. Di satu sisi, info2nya banyak dan melimpah. Paling kusuka adalah detil tentang guguran daun di hutan penghakiman. Tapi di sisi lain, petualangan Namol malah banyak makan porsi di sana, bukan menghadapi mimpi buruknya. Maria Vanessa jg munculnya di akhir2 dan kurang kerasa punya perjuangan atau story sendiri sepanjang cerita. Banyak efek spesial yg dimunculin di sini seperti cermin langit, lutie herderoth dsb, tapi kisah oneiros dan nightmare serta dombanya jadi kerasa seperti sampingan dibanding info2 dan makhluk2 yg beredar.

    Intinya utkku, cerita ini punya setting tempat yg unik dan luas, tapi fokusnya kurang kejaga. Karakter Namol juga malah kerasa kurang eksplorasi dibanding lainnya, kuharap ini bisa jadi feedback ke depannya.

    Vote NAMOL

    BalasHapus
  5. GHOUL: “Jadi ini toh yang namanya Namol?! Humph! Mum, mari kita acak-acakin lapak ini. Hyuk!”


    @_@:
    “Ghoul, kita ke sini buat ngevote, bukan tuk tawuran. Hem, kita mule ajah… eh judulnya bikin terkenang ama film dark fantasy setengah horror dari kor-sel sana ‘hansel dan gretel’…

    Sekarang, waktunya ngamuk…
    silabel per silabel? Istilah khusus dalam bidang apa?
    Ibtida, ritus= istilah khusus ini bagusnya dikasi makna

    Si lumpur-tua—Messier Hamal.
    Bersama Hansel—sahabat laki-lakinya yang berprofesi sebagai tunakarya (em dash, masa sih kau selalu dilupakan di mana2?).

    si lumpur tua (Lumpur Tua, kan sapaan pengganti nama orang).

    paria atau peria

    bagus kayak film nih… :=(D

    Konstelasi, Pinata, dan Adonan Biang? Istilah bidang apa? Bagusnya ada cat kaki tuk tu mua…

    bertakut-takut?
    totem?

    Hehe mua rata2 gempa bumi ya…

    Isitilah2nya aku penasaran tuh istilah khusus hidrologi, industry, pangan, susastra atau apa? Langsung keluar semua kamus2ku… tuh kan kamarku jadi berantakan lagi!!! Jangan2 tuh semua istilah alien?!

    Dahlah, kita kasih vote ajah deh sambil beresin kamar dari tumpukan kamus. Vote kami jatuh pada…”


    GHOUL:
    “Kamuuussss… eh salah ding! Votenya jatuh pada entri yang membuatku memporak-porandakan kamar sendiri dengan hujan kamus dari berbagai disiplin ilmu di mana2.
    Prolog entri Namol sangat ajaib dan bikin penasaran terus menggalinya, belum lagi adegannya dibawakan sebegitu dramatis dan lain daripada yang lain. Yah, ada sebuah keunikan tersendiri di entri yang membuatku berpaling dari Nessa. Entri yang secara fisik membuatku lebih bergairah lagi mengeksplorasinya. Hm, lawan yang berat tuk Nessa…”

    :=(D

    BalasHapus
  6. Gusti nu Agung. Kelar juga baca ini.

    Padat juga ini asupan informasi mengenai semesta asal Namol. Jadi berasa dibawa jalan-jalan... naek roller coaster!

    Plotnya yang naik turun ngingetin sama Zootopia. Adegan keluarganya sangat berkesan dan beautifully awkward karena diksinya. Pengikutsertaan penduduk Exiastgardsun juga bikin entri ini ramai sampe akhir.

    Ada penggambaran ratu huban yang kayaknya memang udah pernah ketemu lama sama oneiros ;)) lalu adegan homecomingnya Namol pas gendong kerasa melelahkan. Jadi pengen istirahat juga. Phew. What a ride!

    VOTE Namol

    BalasHapus
  7. Hola, Namol, gemes banget sama kepolosanmu, rasanya cocok kalau disandingkan sama Shade yang sama naifnya..
    Which is, memang butuh trik khusus supaya tokoh polos bisa kelihatan kuat karakternya. Itulah yang kuramg saya lihat di sini. Namol masih kalah bersinar dibanding yang lain (Yapet mencuri perhatian saya bangetttttttt), yang kukira, itulah tantanganmu di next round (kan jelas lolos kan ya... saya baru tahu setelah selesai baca Venessa). Bagaimana supaya Namol tetap bersinar tanpa kehilangan karakternya yang baik, murni,... (somehow justru para tokoh baik itu susah ngeksplornya, takut jatuh ke mainstream).

    Tapi itulah PR author... yang dimana ketika aku nulis review ini aku berusaha nggak tersilaukan oleh diksimu (Sialan, ajib bro..! Well written tenan...), dialogmu yang anti mainstream (Yapet, Venessa, I love yu both, ayah ibunya Namol juga, badass banget mereka), dan juga twist yang **jirrrrrr banget di akhir cerita... good job banget broooooo

    (Kalau saya ngumpat berarti pertanda baik yha)

    Vote NAMOL...

    Rakai A
    OC Shade

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.