Sabtu, 24 September 2016

[ROUND 2] 26 - SONG SANG SING | YANG LALU DAN TERAKHIR KALINYA

oleh : Hinata Ummi
 
--
 
~ Prolog ~

Renggut. Mati. Nyawa. Lampau. Kini. Ubah. Janji.


***


Anyeong Song Sang Sing-shi?

Noen, gwenchananika? Niga, Andwae! Pogosipoyeo, Song-Si. Zi-shi, Anyeong? Noen, gwenchana? Zi-shi Pogosipoe. Wae, Song-shi? Wae, Zi-shi. Wae gurae?

Niga wae? Noen Wae, Song-shi? Zi-oppa wae? Wae Song-shi! Wae?

Ah, aku lupa kalian tidak mengerti bahasa Korea. Aku ingat ketika Preliminary kemarin, beberapa orang memprotes bahasa tanpa subtitel ini. Mari kita ulangi sekali lagi.

Hai, Song Sang Sing?

Apakah kamu baik-baik saja? Aku tidak! Aku merindukanmu, Song. Zi, apa kabar? kau baik-baik saja? Zi, aku merindukanmu. Kenapa Song? Kenapa Zi? Kenapa harus begini?

Kenapa aku? Kenapa harus kamu, Song? Kenapa harus Zi? Kenapa?

Song, ah tidak, Oppa, jawab aku Oppa. Jawab aku! Kenapa semuanya menjadi begini. Jawab aku Oppa! Aku, ingin Zi kembali. Aku hanya ingin kita kembali seperti sedia kala. Hanya itu, Oppa!

Ha… nya… itu…

***



"Pa-paman, kenapa jadi begini?" Si Kepala Bantal menatap Zainurma dengan pandangan bingung dan panik. Seperti ada yang aneh dengan penglihatannya. Bertahun-tahun ia di Alam Mimpi, baru kali ini perubahan besar benar-benar terjadi di sana.

"Brengsek! Kehendak brengsek!" Maki Zainurma sambil memukuli meja di bawahnya. Ia kesal setengah mati.

Bagaimana tidak di depan Zainurma dan Huban, terpampang distorsi dunia para reverier dengan Alam Mimpi. Perlahan, satu persatu bagian dari dunia para Reverier menghitam, gelap. Sedangkan Alam Mimpi perlahan berubah warna.

Dari ketiadaan, muncullah warna-warni abstrak yang kemudian mewujud. Sejengkal demi sejengkal, Bingkai Mimpi para Reverier melebar. Mencaplok dunia asli mereka dan memindahkannya ke sini, Alam Mimpi.

Nasib mereka akan sama dengan mereka. Dengannya, Mirabelle, dan Huban. Tentu saja, hal itu merupakan hal buruk untuk kelangsungan rencana mereka.

"Kalau begini, dunia para Reverier akan    sama nasibnya dengan kita, paman! Berpindah tangan kepada [Sang Kehendak]," ujar Huban semakin panik malah menyuarakan kenyataan yang ada di dalam kepala Zainurma," kita harus segera memberitahu para Reverier, sebelum terlambat."

"Tunggu!" Zainurma melirik ke arah Huban dengan pandangan berbeda. Ada beberapa kalimat yang diucapkan Huban yang memberikan secercah harapan untuk Zainurma. Perlahan senyum Zainurma kembali mengembang. Hanya sudutnya saja, tapi cukup untuk membuat kita semua paham, bahwa ia merencanakan sesuatu.

"Kau benar Huban, kenyataan ini harus kita beritahu pada mereka."

"Maksud Paman apa sih? Aku ga ngerti! Jangan kayak cewek deh, Paman!" Huban mulai kesal dengan tingkah Zainurma yang memainkan kode. Bahkan gadis sepertinyapun tidak paham apa yang dimaksudkan oleh Zainurma, apalagi kalian? (atau kalian paham?)

"Errr…. wanita lebih sulit dari itu, Huban!" Ucap Zainurma pada Huban sambil melirik pada Mirabelle yang sedang tertidur," kau butuh seribu decoder Alam Mimpi yang digabungkan decoder-nya Alan Turing untuk paham apa yang mereka inginkan. Untuk menambah informasi, decoder Alan Turing sudah musnah saat ini."

"Paman jangan OOT deh, cepet jelasin, aku bingung nih," bosan mendengar penjelasan tidak  nyambung Zainurma.

"Kalau mereka mengetahui dunia asalnya sedang dalam bahaya, mereka akan memiliki motivasi lebih untuk melawan [Sang Kehendak]. Jika begitu, kita akan lebih mudah menjalankan rencana kita, Huban!"

Mendengar itu, Huban hanya bisa menatap Paman Nurma sambil memutar bola matanya, "iyain aja, deh! Heran cowok jaman sekarang kok kebalik sama cewek."

… dan Zainurma hanya bisa melongo mendengar penuturan Huban. Jauh di lubuk hatinya, ia mengenali suasana ini. Suasana pertengkaran kecil dengan seorang gadis jauh di semesta raya sana.

Tapi, seperti biasa, Zainurma hanya menganggapnya angin lalu. Paling permainan Alam Mimpi. Seperti biasa, begitulah batinnya berkata.

Untuk sementara mari kita tinggalkan pasangan tidak jelas ini dan kembali ke tokoh utama kita.  (^_~) \/

***

~ Secercah Kisah ~




Kembali kepadamu Song, yang tentu saja tidak tahu menahu kejadian dibalik layar tadi.

Matahari masuk perlahan melalui salah satu jendela di kamarmu. Hangat. Membuatmu sempat sedikit terlena dengan keindahan sinarnya. Sebelum akhirnya rangsangan sakit di sekujur tubuhmu bekerja.

Hari ini, kesadaranmu pulih. Sudah dua hari lamanya, sejak ronde satu selesai, kau tidak sadarkan diri. Opung Hariba hanya bisa menghela nafasnya setiap kali melihatmu.

Ah, Song. Lihatlah. Ketampananmu sedikit hilang. Senyummu tak lagi menawan. Kau sungguh terlihat lesu. Tatapan matamu tak lagi bersinar seindah kala kau menatap si Hijab Putihmu.

Tidak seperti biasanya, suasana Bingkai Mimpimu sedikit lebih ramai kali ini. Kau tak paham tapi memang ada sedikit perubahan yang terjadi dengan Bingkai Mimpimu. Tempat ini, terasa lebih berisik dari sebelum pertarungan kemarin.

"Eh, Song, bangun kau dulu! Kau lihatlah keluar cobak. Makin pening aku ngelihatnya."

Kau melihat ke arah luar jendela. Sesuatu yang disebut Opung Hariba-pun tidak masuk di akalmu. Apalagi sekarang? Begitu pikirmu. Kau sudah mulai bosan dengan segala tetek bengek turnamen ini.

Lihatlah, di luar jendela kamarmu, Bingkai Mimpimu semakin meluas. Membesar. Tadinya Bingkai Mimpimu hanya sebatas Gang Sempit, yang menyatukan antara Rumah Opung Hariba dengan Opung Bertha, juga pajak (atau kalian mungkin menyebutnya sebagai Pasar).

Namun, sekarang semuanya berbeda. Hampir seluruh kota utama Sibolga ada di dalam Bingkai Mimpimu. Benar-benar luas. Pak Sitompul yang biasanya menjadi tengkulak untuk ikan asinmu pun muncul secara tiba-tiba di tengah tokonya. Padahal, dia tidak ada di cerita yang lalu.

Jangankan Pak Sitompul, tokonya saja tidak dimention. Datang tak dijemput, semoga nanti mereka pulang tak harus diantar. Sungguh repot jika harus mengantarkan mereka satu persatu nanti.

Sekilas kau ingat bahwa Zainurma dan Huban dalam cerita pertamamu di Battle of Realms sempat menyebutkan bahwa orang-orang ini, juga Bingkai Mimpi dan pertarungan kalian, tidak nyata.

Segala kejadian di ronde satu kemarin membuatmu berpikir lebih banyak.

Pertarungan, Reveriers ...

… dan, salah satunya adalah tentang si Hijab Putih.

Selama ini, kau mengira, gadis itu dan cincinnya hanyalah sepenggal permainan mimpi, walau kau mempercayainya. Tapi sekarang? Setelah mimpi yang lalu? Bagaimana mungkin kau mempercayai hal itu kembali?

Kau ingat dulu, Ucok pernah berkata, "Hijab Putih itu punya nama Song." seolah Ucok tahu dengan pasti, siapa si Gadis Hijab Putih di dalam mimpimu. Tapi Ucok hanya tersenyum saat kau menanyakan namanya. Sama dengan reaksi si Hijab Putih.

Tidak.

Tapi apa yang terlewat olehku? Apa?

"Tunggu dulu, biasanya kan aku mimpi di dunia nyata. Jadi yang kumimpikan, itu kebalikan dari dunia nyata. Alis, alah pake typo pulak lagi. Alias Dunia Mimpi. Tapi sekarang, aku di dunia tidak nyata, jadi yang kumimpikan itu, kebalikan dari yang tidak nyata. Hukum De Morgan! Dengan kata lain, benar, mimpiku kemarin adalah Dunia Nyata."

Jika memang mimpi yang kau alami adalah nyata, maka segalanya menjadi jelas. Terutama, pada bagian, bagaimana mungkin cincin itu menjadi nyata. Pikirmu dalam hati.

Sungguh tidak jelas dirimu ini, Song. Kau sungguh telat sekali mengetahuinya. Sungguh.

***

Kau keluar dari kamarmu. Menatap lemah kamar sebelah yang berisikan Steiner yang masih juga belum pulih. Keadaannya sungguh parah saat kau bawa dia ke Bingkai Mimpi.

Setelah bom dari Castor yang terlalu berlebihan di ronde lalu. Kau kini, hanya bisa menatap bekas luka yang masih basah di seluruh tubuhmu. Kau ingat dengan sangat jelas bagaimana bom itu meledak. Tepat di antara kau dan VanArt.

Ledakan yang tidak menimbulkan kematian, namun tetap saja berbahaya. Steiner yang saat itu tepat berada di dekatmu, kini tangannya terbebat. Bagaimana lagi? Seniman tak laku itu, dengan bodohnya mencoba menghalangi ledakan darimu.  Untung pergelangan tangannya cukup kuat. Kalau tidak, mungkin saja tangan itu sekarang sudah menjadi bubur daging yang muncrat kemana-mana.

Sedangkan si Olive, dan Mary Sue, bukan, maksudku Marietta, entahlah. Seharusnya dia kini berada di Bingkai Mimpinya. Menunggu dipanggil ke pertarungan berikutnya, sama sepertimu. Seharusnya.

"Eh… eh… nantilah ya kita lanjutin lagi ceritanya! A-aku… aku... sesak beol… ," nafasmu tertahan, keringatmu mengucur deras. Tanpa menunggu persetujuan kami, kau langsung ngibrit ke WC.

***



~ Si Pucat Hijab Putih & Zi ~




Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 Waktu Alam Mimpi yang selalu terdistorsi. Bingkai Mimpimu Song, sudah banyak yang bertambah di kanan dan kiri. Inilah yang tadi sangat dipusingkan oleh Opung Hariba. Bukan apa-apa, sekarang orang-orang yang terserap masuk ke dalam Bingkai Mimpimu pada bertamu dan bertanya pada Opung Hariba, kemana mereka sudah dibawa. Tak ada yang mengenal tempat yang terdistorsi ini.

Kau sendiripun tidak mengerti. Bagaimana kau tahu? Sedangkan Bingkai Mimpi itu apa saja kau tak paham.

"Eh Song, kudengar kau yang bikin kami jadi kek gini, tanggung jawab lah kau!" kata yang satu.

"Cemanalah ini, anak ayamku belom makan," kata yang lain.

"Bisanya kau pindahkan juga sawah Opung?"

Sungguh, kau sendiripun bingung menjawabnya. Apa yang harus kau katakan kalau sudah begini? Bahkan kau baru tahu dunia ini bisa sebegini menyebalkannya. Seolah tak cukup ia merenggut gadi Hijab Putihmu, kini ia harus melemparkan pengganggu pula di dunia yang tidak kau kenal ini. Rasanya sial bertubi-tubi.

"Hai Paman Song," sapa seorang gadis, kalau ia bisa kau sebut gadis, yang sangat kau kenali.

"Wae? Ngapain kau manggil-manggil? Siapa lagi yang kau suruh aku bunuh?" dengan malas kau duduk di sebuah batu besar. Bertopang dagu.

"Kok paman ngomongnya gitu sih? Aku kan cuma negur." Gadis itu, atau kita sebut saja dia Huban, memanyunkan bantalnya. Kerutan aneh. Begitulah respon hatimu saat melihatnya.

"Aku bukan Pamanmu," balasmu malas.

"eh paman, ngomong-ngomong," balasnya tak menghiraukan protesmu," Paman Nurma bilang semua peserta harus ngumpul. Yuk, ikut aku ke padang tengah Bingkai."

Kau tahu benar, itu bukanlah sebuah ajakan yang dapat ditolak. Karena itu, kau pasrah saja ketika akhirnya lenganmu dirangkul mesra oleh si Gadis Bantal.

Mikir apanya aku ini, muka aja ga punya. Cemana pula hatiku tergelitik melihatnya?

***

Inilah yang paling tidak mengenakkan dari cerita ini. Akupun sebenarnya sulit menceritakan hal ini pada kalian.

"Berkumpullah kalian hai Reverier," Zainurma menatap para Reverier dengan matanya yang menyalang. Penuh dengan semangat. Kau menatap jijik setiap loncatan semangat yang muncul di mata Pria berpakaian necis itu.

"Muak pulak aku melihat manusia satu itu. Banyak kali tingkahnya."

Disanalah kalian dikumpulkan. Di tempat aneh mirip dengan kuil-kuil Yunani Kuno yang sering kau baca dalam mitos Yunani di buku pemberian eomma.

"Ini adalah Bingkai Mimpi-ku," kalimat yang sungguh membuatmu shock. Sebuah kalimat dari seorang Dewi Perang yang melegenda, Dewi Mirabelle. Seorang Dewi yang baru kali ini menampakkan wujudnya di depanmu, Song.

Selain itu pula, ada hal lain yang membuatmu khawatir, "anjinglah, kalau kayak gini ceritanya, opung, Tulang yang ada di Bingkai Mimpiku harus segera dibereskan. Nyusahin aja pon. Mending main Jelangkung, datang ga dijemput, pulang ga diantar. Ini, udahlah datang ga diminta, nanti pulang harus diantar pula. Dasar Babi!"

Kau tidak terlalu memperhatikan, apa yang dibicarakan Zainurma pada para Reverier lainnya. Kau hanya menangkap bagian di mana, nanti, para Reverier akan dipinjamkan hasil karya mereka di ronde yang lalu.

"Bodat! Siapa pula yang mau lihat karya bunuh-bunuh kayak gitu," kau semakin jijik dengan permainan Alam Mimpi ini. Nurani dan empatimu dipermainkan.

Para reverier terdiam. Kaupun begitu.

Sang kurator kini berdiri di mimbar menunjukkan kesombongannya. "Oke, sebenarnya alasanku memanggil kalian ke sini adalah untuk memperlihatkan ini." Lalu dia menjentikkan jari dan muncullah bingkai besar keemasan berukir indah dengan ukuran panjang 10 meter dan tinggi 3 meter.

Bingkai yang indah, batinmu tidak tepat waktu.

Bingkai itu melayang vertikal seperti layar sinema. Kemudian di dalam bingkai tersebut muncul suatu adegan layaknya film … namun film ini jauh dari kata menghibur. Yang ditampilkan adalah adegan saat sejumlah semesta berpindah ke Alam Mimpi dan penghuninya direnggut—dan dikutuk—oleh Museum Semesta.

"Kalau kalian kalah di turnamen ini, bakal sial deh nasib semesta kalian," ungkap Zainurma dengan entengnya.

Film ini tidak menarik perhatianmu, kalau saja tidak ada dia disana.

Matamu membelalak ketika melihat apa yang ditunjukkan layar di depan. Di sana, terbaring seorang gadis pesakitan terbalut infus dan pakaian Rumah Sakit. Di sampingnya, seorang pria berperawakan dewasa dengan janggut tipis di dagunya, dengan telaten merawat dan menjaga Gadis itu.

"Dia … nyata?"

***

Kau terdiam. Membisu. Matamu melihat fakta, hatimu mengatakannya sebagai kebohongan. Tak kuasa, tanganmu bergerak menyentuh cincin itu. Cincin harapanmu.

Perlahan kau melangkah ke depan. Ke tengah para Reverier yang terus menerus menyuarakan ketidaksetujuan mereka. Kau tidak lagi acuh dengan alam sekitarmu. Marah, kesal, sedih, bercampur jadi satu.

Matamu terpaku pada salah satu bingkai. Bingkai milikmu. Bingkai yang menampilkan dengan jelas duniamu yang perlahan melebur. Kepanikan yang muncul pada diri manusia yang tinggal di sana.

Tapi tentu saja, bukan itu yang menjadi pusat perhatianmu. Gadis pesakitan yang kau lihat di Bingkai, adalah Gadis Hijab Putih. Kau juga ingat dengan jelas sekarang siapa namanya juga nama pria yang sedang menggenggam tangan Gadismu.

"Umi, Zi … " bisikmu tak kuasa dengan banjir kenangan yang melimpah deras dari pikiranmu.

Sekarang kau ingat. Kau ingat segalanya. Siapa gadis Hijab Putihmu. Siapa Zi. Siapa Zainurma. Juga siapa pemilik sesungguhnya dari cincin yang tergantung di lehermu.


***

Sementara itu, yang kaget dengan isi Bingkai Mimpimu bukan hanya kau.

Di sana, di paling depan kerumunan, ketiga Makhluk penting Alam Mimpi juga berdiri mematung. Bukan apa-apa, sosok pria yang dengan lembut menggenggam jari-jemari gadis koma itu, tak lain dan tak bukan adalah Zainurma.

"Paman, itu … paman?" Huban menyuarakan isi bantalnya. Satu lembar bulu angsa melebur keluar.

"Akupun … tidak tahu," Zainurma menjawab pertanyaan Huban dengan mata yang tak kalah membelalaknya dari Mirabelle.

"Tidak mungkin, kau ada di dunia-nya?" Sahut Mirabelle dengan pandangan tajam ke arah Zainurma.

"Sungguh Nona Cantik, aku tidak tahu."

"Inikah penyebab Paman sensian sama Paman Song?" Huban kembali bertanya.

"Teman-teman, percayalah padaku, aku tidak tahu. Bagaimana mungkin aku ada disana sementara aku ada disini."

"... dan bagaimana mungkin kau bisa sebaik itu?" Lanjut Mirabelle menatap hampa pada video itu.

"Cinta memang bisa mengubah segalanya," Huban membalas tidak tepat waktu.

Satu yang tidak disuarakan Zainurma. Ia merasa sangat mengenal gadis itu. Juga pria yang ada di sana. Setitik bagian hatinya lembut menyuarakan, Istriku.

Lalu ia menatap ke arah Song, si Pemilik Bingkai. Tidak mungkin! Apa yang salah?

Ketika matanya tertuju pada sebongkah cincin tergantung di leher Song, Cincin itu ...

"psssttt… Paman, kau belum menyelesaikan pengumumannya," bisik Huban padamu.

Zainurma kembali pada kenyataan," ah iya, aku hampir lupa."

Dan begitulah, kalian semua dikembalikan ke Bingkai Mimpi masing-masing.



***
~ Setitik Masa Lalumu ~





Aku menatapmu Song. Aku menatapmu dari tempat yang tidak menarik ini. Aku ingat ketika pertama kali melihatmu. Kau mengatakan aku adalah gadis manis yang pernah kau temui.

Ingat saat kita akhirnya melakukan perjalanan pertama kali ke Medan? Mencari baju kembaran yang memang hanya ada disana? Kabur dari rumah dan pergi tanpa bilang-bilang? Saat itu kau mengatakan bahwa aku adalah gadis terbaik yang pernah kau kenal.

Ingat ketika kita duduk manis dipinggir Danau Toba? Mentertawakan dan melawan mitos bahwa duduk di atas Batu Gantung dapat menghancurkan hidup sepasang kekasih? Janji pertamamu yang juga menjadi pengikat kita berdua untuk selalu bersama.  Tak kusangka mitos itu berlaku pula untuk sepasang sahabat.
Ingatkah kau ketika dua hari kemudian, kau akhirnya pergi meninggalkan Indonesia. Kembali ke negaramu. Melepaskan janjimu. Tepat dua hari setelah janji itu terucap. Perbedaan kitalah alasannya.  

Aku ingat Song. Saat pertama kali kita bertemu dan kau menawarkan persahabatan manis itu padaku. Aku ingat Song.

Kita bahkan saat itu tidak bersama. Perasaanku memang ada padamu saat itu. Sebelum Zi muncul. Kau harapanku meski kau tak mengetahuinya. Kau yang membuatku melakukan ini itu. Memperbaiki ini itu. Kau yang selalu melagukan cinta juga masa depan. Dengan segala candamu dan tawamu. Hingga aku perlahan membangun dan merajut masa depanku, dan kau ada di dalamnya.

Namun kepergianmu, sungguh benar menghancurkan mimpiku saat itu.

Lalu, Zi datang. Menyusun kembali pecahan retak itu tanpa mengeluh. Ia datang memberikan senyum juga tak bertanya tentang lukaku. Ia memeluk hatiku yang tersayat, lalu menyembuhkannya dengan kelembutan. Ia datang dan melakukannya begitu saja.

Mengobatinya.

Mengecup lembut setiap luka dengan penyembuh.

Meniup lembut setiap racun dengan penawar.

Perlahan, sangat perlahan ia berhasil mempersatukan kembali semuanya. Tanpa cela. Tanpa paksa. Kau, saat itu, di sana. Di Korea. Eomma sengaja memisahkanmu denganku.

Kau tahu kenapa? Karena kita berbeda. Tentu saja kau tahu perbedaan apa yang kumaksud.

Kini, semua telah berubah Song.

Sayangnya perubahan itu, membuatku dan Zi menyeretmu dalam pusaran turnamen gila ini. Aku … yang tak pernah alfa mengikutinya. Zi yang berhasil mempersekutukan karakternya dengan pemimpin dari turnamen sebelumnya. Thurqk.

Ah … aku tidak menyesal Song. Sedikitpun tidak. Turnamen itu mempertemukan kami. Turnamen itu membuatku dan Zi, saling mencintai. Tapi kau? Aku tidak menyangka [Sang Kehendak] akan menarikmu serta.

Ah, mungkin kalian masih bingung dengan awalan syahdu ini. Karena itu, mari, kuceritakan kisah sejati mengenai kami. Kisah yang sesungguhnya tak ingin kuceritakan. Namun rasanya akan sungguh lama untuk menunggu Song menceritakan segalanya.

Karena … waktuku sudah tidak lama lagi! Begitupun juga denganmu, Song!

..
.

***

~ Buah Manis Masa Lalu~




4 tahun yang lalu, di pinggir Danau Toba.

"Oppa, kau tahu? Ternyata Zi-oppa adalah pemenang Turnamen Kepenulisan antar Dimensi Loh. Itu yang diadakan di BOR!"

"Apa? Turnamen yang sering kau ikuti itu? Yang cuma nulis-nulis itu?" Wajahmu berkerut mendengar bahwa mereka berada dalam satu wadah kedekatan. Sama-sama suka nulis. Itu membuatmu tak nyaman.

"Nee, Zi-oppa keren banget yah? Dia menang dia Turnamen BOR 4 pula. Keren banget loh Oppa."

"Hmm ..."

"Oppa, bagaimana kalau aku menikah dengan, Zi-oppa. Bagaimana menurutmu?" Umi, si Gadis Hijab Putihmu akan menikah dengan Zainurma. Zi, adalah panggilan sayang Umi padanya.

"Mwo? Andwae!"

"Mwo? Wae? Zi itu baik Oppa. Dia ngajarin aku nulis dengan bagus. Zi-oppa nulisnya bagus banget."

"Kelen kan baru kenal! Jangan sekaranglah, Mi," Bohong, bukan karena itu kau menolaknya. Iya kan, Song?

"Tapi, Zi-oppa sudah melamarku. Aku juga sudah menerima lamaran Zi-Oppa."

"MWO!?"

"Jangan teriak-teriak Oppa. Aku masih bisa mendengarmu!"

Kau menarik nafas dalam sebelum akhirnya membalas kembali pernyataan Umi, "Kau serius? Kau tidak ingin menungguku? Kau mencintainya?"

AKu ingat, saat itu, aku terdiam dan menunduk sebelum menjawab, "Aku memilih Zi, Oppa. Kau tau apa alasanku."

"Tapi kau baru mengenalnya, Umi."

"Aku mencintai, Zainurma. Kau hanya sahabatku, tidak lebih."

"Ah, Mollaseoyo. Terserahmulah!"

Kau pergi begitu saja. Tanpa mengatakan apa-apa padaku. Setetes air mataku terjatuh saat itu. Tapi aku tak mengatakannya. Karena aku tahu, jika aku mengatakannya, kau akan berbalik dan menghapus tangisku.

Sedang yang kubutuhkan adalah Zi-oppa. Bukan kau Song!

***



~ Anita, Gadis Berkerumun Gurita ~




Kau kembali ke Bingkai Mimpimu.

Hampa. Tak ada yang bisa kau lakukan. Kau menunggu saja duduk di bilik bambumu. Di luar, sudah terlihat bahwa apa yang dikatakan Zainurma atau Zi, adalah benar.

Ya, kau ingat. Setelah pernikahan Umi dan Zi di duniamu dulu, kau sempat berharap agar mereka hancur. Agar mereka dipisahkan. Agar kehidupan mereka tak bahagia. Agar mereka berantakan.

Dan keinginanmu terkabul.

Sebuah rahasia Zainurma muncul ke permukaan. Dia bukan berasal dari dimensi yang sama denganmu atau Umi. Ia berasal dari dimensi lain. Dimensi yang berbeda.

Ia merupakan pembunuh bayaran. Dan Zainurma diperintahkan oleh ketua klan mereka untuk membunuh seorang Gadis bernama Hinata Umi dari pemesan berkode Thurqk.

Namun, cinta tak dapat dicegah. Begitu bertemu dengan Umi, hatinya terpaut. Walau saat itu, Umi sedang menyukai pria lain. Perlahan tapi pasti, Zi, berhasil merebut hati Umi hanya menjadi miliknya.
Sayang, persatuan antara Umi dan Zi mengundang masalah. [Sang Kehendak] yang sedang mencari tempat naungan agar memiliki wujud fisik yang lebih sempurna, menemukan kesamaan identitas antara dia dan Zi.

[Sang Kehendak] menunggu kesempatan untuk mengambil alih tubuh Zi.

Saat itulah, saat kecemburuan melihatmu bersama Umi, membutakan hati dan logika Zi, saat itulah [Sang Kehendak] mengambil alih. Untung ada kau saat itu. Namun sebagai efeknya, kamu hilang ingatan Song. Guncangan saat itu begitu keras. Kau gegar otak.

Aku, koma, dan hanya bisa bercerita saja pada pembaca dengan cara seperti ini.

Dan Zi …

Ia terbagi menjadi dua. Jiwa dan fisiknya terbagi dua. Satu, yang bersifat baik dan lembut, tertinggal di dunia nyata. Sedang yang satu lagi, yang bersifat jahat, terbawa [Sang Kehendak] ke Alam Mimpi dan terjebak di sana.

***

Sekarang, Bingkai Mimpimu sudah bertambah luas, persis seperti kata Zainurma, atau Zi. Kau tidak tahu apakah Zi mengingat semuanya. Tapi melihat reaksi Zi tadi, setidaknya Zi tidak lupa-lupa amat.

"Song, Song! Cepat kau kemari! Ada pulau lain yang merapat!" Teriakan dari Opung Hariba mengalihkan perhatianmu dari sebuah kertas dan Karya yang baru saja dikirimkan Zainurma tepat ke Bilik Bambumu.

Hah? Kau terkejut, berdiri mematung. Setengah berlari kau keluar.

"Aih mak jang, apapula itu!"

Di hadapanmu, terdampar Bingkai Mimpi peserta lain. Bingkai Mimpinya terlihat sangat menyeramkan. Berisi ribuan tentakel aneh yang menggeliat dan tampak sangat berbahaya.

"ANJING!!"

Kau langsung berlari ke arah pulau itu demi melihat tentakel-tentakel itu mulai menggerogoti lingkunganmu dan menusuk dengan sadis orang-orang yang tak berdosa di sekelilingmu.

"HEH Kau apakan warga kampungku, Gurita!"

"euhm, maaf, kamu yang bernama Song?" seorang Gadis Manis bertubuh tinggi,berambut sebahu muncul dari balik Gurita.

"Ya, aku Song! Ada apa?"

"Mbeeeekkkkk" Dombamu mengembik, dia di belakangmu sedang bertarung melawan seekor domba berwarna hitam yang kau tak tahu datangnya darimana.

"Apa-apaan ini, ngapain kalian disini!?"

"Oh, kau tidak tahu? Ronde kedua, sudah dimulai."

Tanpa aba-aba, gadis itu langsung menyerangmu. Dengan segera kau merunduk. menghindari pukulan yang sepertinya sangat berbahaya itu.

"EH, cewek! Kau yang betol ajalah, udah ga berjilbab, gila pula! Monconglah."

Dengan satu gerakan, kau ambil pisau daging di punggungmu dan mulai membalas.

Ia memukul ke arah wajahmu, kau menangkis dengan pisau.

Ia menendangmu, kau melompat menghindar ke samping.

Tiga pukulan, hap. Kau berhasil mengenai bahunya.



Kau berhasil melancarkan serangan pertama terhadap Anita menggunakan pisau ikan asin yang dibawanya. Anita marah, namun tetap dalam keadaan tenang. Ketengannya itu begitu mengganggumu.

"Siapa kau? Kenapa kau langsung menyerangku?"

"Aku Anita, lawanmu pada pertarungan ronde ini!"

"Aku belum mendapat pemberitahuan dari Zi, ah maksudku Zainurma."

"Mbeeeekkkk," Mbing memberikan padamu surat dari Zainurma. Dan itu saja sudah cukup untuk menjelaskan semuanya padamu.

Saat itulah, Anita melancarkan serangan balasan. Satu sentakan, Song rubuh. Serangan Anita tidak berbahaya. Namun cukup untuk melumpuhkan Song.

Tidak sampai tiga pukulan, Song tergeletak tak berdaya.

"Hei Nona Canti, bagaimana kalau kau bunuh saja aku,"

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Cintaku sudah menikah dengan orang lain. Sekarang ia koma dan terpisah dari orang yang dapat membahagiakannya. Dia koma selama 2 tahun lebih, dan aku melupakannya. Padahal akulah penyebab ia menjadi seperti itu. Sekarang aku terjebak di sini. Menarik, orang-orang yang tinggal di sekitar rumahku ke tempat ini dan terjebak. Bukankah lebih baik jika aku mati saja?"

"Aku sangat membenci manusia yang mudah menyerah."

"Aku tidak bisa apa-apa, Nona. Aku hanya bisa bernyanyi. Kemampuan itu saja, tak cukup untukku memenangkan turnamen ini. Juga tak cukup untukku bisa menyelamatkan orang yang membahagiakan gadisku. Jadi, aku sudah tidak ada gunanya."

"Baiklah, jika itu kemauanmu. Kukabulkan permintaanmu."

Anita mendekati Song, perlahan dan ….

Darah mengucur deras ke sisi tubuhmu. Mengalir pula dari tanganmu. Deras.

"Aku, masih ingin menyelamatkan, Umi dan Zi. Nona Anita."

Kau meninggalkan Tubuh Anita. Perlahan, Tubuh itu melebur bersama tanah. Sedangkan Bingkai Mimpi miliknya, menjauh dan meninggalkan Bingkai Mimpi milikmu.

Kau segera ke tempat Mbing. Domba kecil itu mulai compang camping bulunya digigiti orang Domba hitam. Entah dari mana asal mereka.

***

Bagitulah, tidak berapa lama setelah itu, Zainurma datang bersama Huban.

"Huban, sana kau ajak pacarmu pergi. Aku mulai bosan dengan kebodohannya. Dikiranya mudah melawan [Sang Kehendak]."

"Dia bukan pacarku!"

"Ah terserahmulah!"

Sementara kau, menatap Zi dengan pandangan yang berbeda. Zi, sahabatmu. Zi suami dari sahabat terbaikmu. Disini, ia sungguh tampak sangat berbeda. Kelembutan dan kasih sayang tak lagi tampak di matanya.

"Kenapa kau melihatku?" Hardiknya melihatmu memandangnya lekat.

"Sampai sekarang, aku ga pernah tahu, Zi. Kenapa Umi memilihmu. Tapi, demi dia, demi kebahagiaan Umi, aku akan membawamu pulang. "

Begitulah kau meninggalkan Zainurma.

"Heh! Song, cincin itu bukan punyamu!" teriaknya padamu. Seketika teringat kembali dengan cincin pengganggu hatinya tadi pagi.

"Ya, aku tahu. Tapi ini juga bukan milikmu, Zi!"

***

Dan begitulah, seperti biasa, satu huruf lagi, muncul di bagian dalam cincinmu.


" S "



***




~ Epilog ~


Song, terima kasih sudah mengingat semuanya. Aku sangat menghargai itu.

Sayang, bertahanlah, sebentar lagi kita akan bertemu kembali.

Aku, akan berusaha untuk segera sadar. Sebelum [Sang Kehendak] juga menarikku ke tempat itu.

***




>Cerita selanjutnya : -

13 komentar:

  1. Wah, entri baru. Saya kira entri r2 berhenti di itungan 25, eh ternyata masih ada ya. Salut ternyata pengantin baru yang satu ini batal WO #plak

    "Nasib mereka akan sama dengan mereka."
    ^huh? Emang kalimat selanjutnya ngejelasin mereka kedua maksudnya siapa, tapi entah kenapa liat kalimat ini lucu aja

    Sama kayak entri Venessa Maria, entri ini berasa kayak penutup buat karakter yang bersangkutan. Dari awal saya udah ngerasa kalo ini ga diniatin battle, dan begitu direveal soal Hijab Putih dan Zainurma, saya cuma ngebatin dalem hati, 'as expected'. Meski Song bilang masih pengen nyelamatin Zi dan Umi, saya pribadi ngerasa ini titik bagus buat ngasih titik tanpa koma di cerita Song

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good instinct, as expected from Mbah :3

      Dari segi lawan aja udah mood down duluan, King woooiiii lawannya T~T

      Well, ini entri memang sengaja ngereveal semuanya. Rahasia yang masih di keep buat R4 *rencananya* memang dibuka, karena naga-naganya kesempatan Umi lolos tipis setipis sutra.

      Nikmati saja entry Song ini, in case lolos, alhamdulillah, kalau ga ya sudah xD Umi kalah terhormat xD

      Hapus
  2. Salut sama mba umi yang nggak WO dan tetap maju melawan King!

    Saya rasa ini mba Um all-out ya? Semuanya langsung dikeluarkan. Bukan sekadar turning point aja rasanya kalau udah kayak begini.

    Teknis ga perlu saya komentarin, saya puas sekali. Dan porsi Dramanya mengimbangi battle-nya yang kurang.

    Revelationnya sih yang jujur bikin saya tertarik sama Kanon Song.

    Hmm, apa lagi ya? Bingung juga sih apa lagi yang mau digali, tapi kalau boleh jujur, Song memberikan perlawanan yang sepadan saat melawan Anita melalui entri ini. Meski berbanding jauh spek karakternya, penulis lah yang menentukan. Hehe.

    Segitu aja sih kayaknya.

    Salah Sejahtera dari Enryuumaru dan Mbah Amut

    BalasHapus
    Balasan
    1. dibilang All out rasanya juga ga pantes sih, Yus ._.

      Lebih ke, kayaknya cerita King keren dan Umi ga pede sama cerita sendiri, jadi memang di pol-polin dramanya. Well, seperti yang sesama kita ketahui, drama is my thing ._.

      Dan, ini memang bukan turning point ._. tadinya ini mau dikeluarin di R4, well belom-belom udah ketemu King :v daripada turning point, lebih cocok kalau dibilang point of revealation.

      Jadi kalau ga lolos, pembaca ga gantung ceritanya :(

      "Teknis ga perlu saya komentarin, saya puas sekali. Dan porsi Dramanya mengimbangi battle-nya yang kurang." <-- Suc a sarcastic comment :v

      That is why, spec karakternya Anita itu super IMBA kalau dibanding sama Song yang cuma bisa nyanyi ._.

      again, makasih sudah baca ya Mbah :)

      Hapus
  3. Iyep, saya pun salut karena Kak Umi yang lagi sibuk-sibuknya aja masih bersedia nggak WO. T~T

    Dan ... saya sependapat sama Kak Sam. Udah 'as expected' dari awal kalau kanonnya bakal berujung begini, jujur aja. Apalagi di R1 udah dibuat semacam foreshadow juga terkait Zi. Bukan hal yang gimana bangeet gitu, cuman karena saya pernah ketemu sama "tokoh-tokoh yang bersangkutan" ... rasanya saya agak tergelitik aja. xD

    Terus, karena entri ini mungkin udah ngupas sesuatu yang kayaknya jadi misteri terbesar alurnya Song (dan sekarang kita tau Jilbab Putih utu siapa) dan dari judulnya aja udah bikin merinding, saya jadi bingung mau nge-point out apa. Paling kenapa Anita-nya cuman muncul dalam beberapa paragraf. ._.

    Tapi satu hal yang bikin saya paling mesem-mesem. Di prelim, saya inget huruf misterius di akhir itu H, di R1 itu U, dan sekarang S. Nha ... roman-romannya saya tau inisial dua yang pertama :"D

    -Sheraga Asher

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu, Umi pernah marahin Sam karena WO ataupun siapapun yang WO. Terus, sekarang panitianya udah jadi suami :v Umi diteror tiap hari disuruh nulis.

      lagi beresin rumah, ditanyain "Kapan nulisnya?",

      lagi masak, ditanyain, "lagi ngapain? Masak ya? Nulisnya kapan?"

      baru bangun tidur, "R2 Um,"

      gimana ga horor kalau begitu? :v

      Well, kayaknya bagian 'as expected' Umi kurang pinter nyajiinnya, karena ketemu Anita aja udah di luar ekspektas Umi. ._.

      kenapa pake judul itu, well, sederhananya, Umi khawatir Umi ga lolos di sini, dan cerita Song gantung. Ga ada yang lebih mengesalkan daripada membuat pembaca Umi merasa ceritanya gantung ._.

      Soal inisial, kemungkinan akan di reveal kalau SOng ga lolos :v

      kalau lolos, Umi masih punya kartu trup buat alur Song, dan yes! POV-nya bakal ganti TvT

      Hapus
  4. Senada sama komen atas saya, kagum sama authornya yang masih sempet nyelesein entri Song Sang Sing. Saya kemarin juga hampir nyerah, tapi syukurlah masih bisa posting entri sehingga kanonnya nggak putus ditengah jalan. Itu sudah termasuk personal achievement :D


    Yah, kenapa Song nggak nyanyi padahal kan bagus juga kalo Song berhasil menidurkan si monster gurita.

    Hmm, Setidaknya revelation-nya tentang siapa itu Zi sebenarnya dan penjelasan mengapa 'om-om mafia' bisa menjadi sangat jerk memuaskan juga.

    TTD
    Dewa Arak Kolong Langit

    BalasHapus
  5. Song yang di sini bukanlah yang di sana~

    Duh...battlenya gitu aja ya, Um?

    Roman-romannya entar romantis nih, hihihi...

    Masih ada typo tersebar. Penulisan kalimat langsung juga ada beberapa yang salah.

    Di luar battle yang kurang ternyata ada kisah menarik terkuak. Bang Heru adalah alien!!! #plak

    Untuk pengantin baru yang tentu masih sibuk tapi masih sempat submit entri saya kasih jempol. Tambah lagi ceritanya lumayan asyik untuk diikuti.

    BalasHapus
  6. Saya salut dengan Umi yang tetap lanjut, dan jujur...saya lebih nikmatin entry ini daripada Anita, sebelum membaca endingnya tragis buat Song. Mungkin masalah selera, saya merasa pendekatan 3rd POV itu menatik dan lancar, ngalir aja bacanya... hampir kepikir untuk vite Song saja, sebelum baca ending.

    Tapi, seperti entry Venessa, akhir yang elegan. Mungkin memang author akan segera menjalani petualangan baru di RL bersama sang kurator *eh

    Pokoknya good job, Umi.

    Regards,
    Rakai A
    OC Shade

    BalasHapus
  7. ....ini kayak udah baca komik yang berpeluang gede untuk peringkat 10 besar, tapi harus segera di axe sama penerbit.


    Revealing plot twistnya juga bikin, "wogh, kepala sampe muter ini".

    Aye suka narasi lawak-lawaknya.
    Humornya emang cocok sama orang medan wkwkwkwk

    Tapi dua hal yang bikin aye ga bisa pilih ini buat lanjut.

    1. Banyak gak konsistennya dan bikin pengen ngomong "harus dimaklumi." Contohnya...
    Di paragraf dia mau ambil pisau daging.
    Berikutnya jadi pisau ikan asin.
    Jangan2 song salah beli piso?

    2. Ini loncatan per scene nya udah berat banget buat dihubung2kan. Karena kayaknya udah bingung juga mau lanjutinnya, jadi bener2 dipercepat.

    Tapi...dimaklumi. karena memang situasi ye.

    BalasHapus
  8. Saya baru pertama baca entri song, tapi dari yang saya liat disini plot twistnya bagus banget. Tulisannya rapi, drama nya juga bagus. Adegan fightingnya buat saya kurang memuaskan, tapi overall saya cukup suka sama entri ini.

    BalasHapus
  9. akhirnya nggak jadi WO #plak

    ceritanya simple kontras daripada entrynya Anita. tapi untuk emosi bisa berimbang. dramanya bagus mungkin karena si Song udah gemeteran liat lawannya.

    oke. votenya buat Song aja deh. soalnya walau battlenya nggak seepic Anita, tapi secara overall entrynya lebih bagus dari Anita

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.