Tampilkan postingan dengan label Anita vs Song. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anita vs Song. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 September 2016

[ROUND 2] 26 - SONG SANG SING | YANG LALU DAN TERAKHIR KALINYA

oleh : Hinata Ummi
 
--
 
~ Prolog ~

Renggut. Mati. Nyawa. Lampau. Kini. Ubah. Janji.


***


Anyeong Song Sang Sing-shi?

Noen, gwenchananika? Niga, Andwae! Pogosipoyeo, Song-Si. Zi-shi, Anyeong? Noen, gwenchana? Zi-shi Pogosipoe. Wae, Song-shi? Wae, Zi-shi. Wae gurae?

Niga wae? Noen Wae, Song-shi? Zi-oppa wae? Wae Song-shi! Wae?

Ah, aku lupa kalian tidak mengerti bahasa Korea. Aku ingat ketika Preliminary kemarin, beberapa orang memprotes bahasa tanpa subtitel ini. Mari kita ulangi sekali lagi.

Hai, Song Sang Sing?

Apakah kamu baik-baik saja? Aku tidak! Aku merindukanmu, Song. Zi, apa kabar? kau baik-baik saja? Zi, aku merindukanmu. Kenapa Song? Kenapa Zi? Kenapa harus begini?

Kenapa aku? Kenapa harus kamu, Song? Kenapa harus Zi? Kenapa?

Song, ah tidak, Oppa, jawab aku Oppa. Jawab aku! Kenapa semuanya menjadi begini. Jawab aku Oppa! Aku, ingin Zi kembali. Aku hanya ingin kita kembali seperti sedia kala. Hanya itu, Oppa!

Ha… nya… itu…

***

Selasa, 16 Agustus 2016

[ROUND 2] 01 - ANITA MARDIANI | UNPLEASANT TRUTH

oleh : Fachrul RUN 

--
Volume #3: Unpleasant Truth

Previous Stories



Prolog


Gunung Salak, 2001


Gumpalan hitam besar itu menyerang hampir semua orang di ruang altar. Belasan tentakel kuat mencuat dari makhluk itu, meraih Sharif dan para kultisnya. Hanya dalam hitungan detik kumpulan fanatik itu dicabik. Organ tubuh dan serpihan tulang mereka berceceran membasahi seluruh dinding dan lantai. Walau para kultis mencoba lari atau sembunyi, makhluk itu tetap dapat menjangkau mereka.


Satu-satunya sosok yang tak disentuh oleh makhluk itu hanyalah seorang pria tua berkemeja batik yang berlutut dekat pintu. Dia adalah Hariadi, si pensiunan polisi.


Hariadi menitikkan air mata. Pandangannya terus tertuju ke monster di hadapannya, meski wujud asli makhluk itu menyakiti benaknya. Seharusnya tidak begini, pikirnya. Kegagalan bukanlah hal baru bagi pria itu. Ia masih ingat setiap nama korban yang gagal ia selamatkan semasa bertugas. Tapi tetap saja yang ini terasa begitu berat.


Satu pekan lalu, Anita Mardiani menghilang. Hariadi sangat mengenal anak itu. Gadis itu memang baru diadopsi oleh tetangganya, Sharif Khoirudin, sekitar dua bulan. Tapi sifatnya yang supel dan ceria membuat anak itu disukai oleh mereka yang tinggal di Jalan Batu Ampar, Condet. Tak terkecuali Hariadi, yang merasa kesepian setelah kematian istrinya.