Tampilkan postingan dengan label Setting G. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Setting G. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2016

[ROUND 1 - 7G] 11 - KURO GODWILL | APOCALYPSE―REVOLUTION?


oleh : Chou-3

--
ApocalypseRevolution?


めくるページは次の章
(meguru pe-ji wa tsugi no shou)
イメージはいつも優勝
(ime-ji wa itsumo yuushou)
勝てないことはない
(katenai koto wa nai)
今日こそ起こそう僕らの革命
(kyou koso okosou bokura no kakumei)
衝撃的な作戦が永遠に
(shougeki teki na sakusen ga eien ni)
昇り続けるステージ
(nobori tsuzukeru sute-ji)



Dibalik halaman terdapat bab selanjutnya
Gambaran sebuah kemenangan
Tak ada yang tak dapat dimenangkan
Mari wujudkan revolusi hari ini
Di sebuah pentas yang terus berlangsung
dengan strategi yang sensaional dalam keabadian
⊡・・・ÊYÍ・・・⊡


Sebuah bait yang tertulis pada dinding udara arktik tak kasat mata di sebuah negeri. Cuaca begitu cerah namun terasa dingin. Para pemimpi itu, masih berpijak di tempatnya, seolah dipaksa untuk membaca bait itu sebelum akhirnya diijinkan menjejakkan langkah lebih dalam, menjelajahi negeri awan-kristal nan surgawi itu.
⊡・・・ÊYÍ・・・⊡


Minggu, 10 Juli 2016

[ROUND 1 - 7G] 03 - FaNa | F.P

oleh : Bayee Azaeeb Via

Chp. 0 : Prepare for trouble
[Na's POV]

"Sjena, bangun!"

Kuguncangkan tubuh gadis kecil itu. Namun ia masih saja terus mengigau dan meronta tanpa sadar. Badannya panas, keringat dingin mengucur deras dari sisi wajahnya.

"Fa, kau bilang kekuatanku bisa membuat seseorang mimpi indah, bukan?!"

"Mana aku tahu, bodoh!? Memangnya aku terlihat seperti gurumu? Coba cubit Sjena, mungkin saja dia bisa bangun dari mimpi 'indah'nya."

Seperti biasa, jawaban Fa tak pernah menyelesaikan masalah. Yang ada hanya menambah masalah, ditambah emosi, sama dengan percuma.

Mungkin ada solusi lain. Bagaimana kalau aku melakukan hal yang sama untuk membalikkan sugestinya? Baiklah, tak ada waktu untuk bermain-main.

Kusentuh pipi Sjena dengan kedua tanganku. Lalu dengan sekali hentakan, kugunakan harapanku untuk menariknya kembali ke dunia nyata. Seketika, matanya membelalak dan nafasnya kembali. Begitu ritme pernafasannya kembali, ia langsung memelukku erat.

"Apa yang terjadi barusan, Sjena?"