Tampilkan postingan dengan label withdraw. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label withdraw. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2016

[PRELIM] 51 - LILIA FIENNES | SUPERBIA

oleh : Suihei Yugure

-- 

Satu lagi hari yang sempurna bagi Lilia Fiennes. Yang mana sempurna bagi gadis itu adalah ia menghabiskan hari liburnya dengan membaca grimoire di perpustakaan keluarganya.

Lilia hanya meninggalkan perpustakaan dua kali untuk pergi ke toilet. Selebihnya, ia habiskan dengan membaca ulang buku-buku yang seluruhnya setidaknya sudah pernah ia baca dua sampai tiga kali. Sesekali beberapa pelayan masuk mengantar makanan dan teh.

"Nona Lilia."

Lilia yang terlalu fokus membaca tidak pernah menyadari kehadiran orang lain sampai orang itu menyapanya, ia menoleh dan mendapati salah seorang pelayan membungkuk hormat di sampingnya.

"Malam semakin larut. Sebaiknya anda tidur agar tidak terlambat besok pagi," lanjut pelayan itu.

Lilia mengeluarkan dan membuka jam sakunya, "Ah sudah selarut ini..." Gadis itu menutup buku yang tengah ia baca dan membawa buku itu beserta dua buku lain dari tumpukan buku di atas meja bacanya.

[PRELIM] 48 - ALEXINE ELIZABETTH REYLYNN | THE BEGINNING OF MY FIRST SURREAL ADVENTURE EVER

oleh : Kaleodoscope

--

Duh, mulai lagi deh. Perutku serasa sakit namun bukan sakit yang membuatku kesakitan. Lebih seperti apa ya? Mual? Tapi bukan mual, perutku sehat-sehat aja dari minggu kemarin. Jadi, apa ya? Lucu? Lucu mungkin ya? Habisnya rasa ini aneh, isi perutku seperti kaya diaduk-aduk oleh sendok kayu besar tak terlihat yang sudah diraciki semacam rempah-rempah.
           
            Tapi aku sudah kenal betul dengan perasaan ini. Ini perasaan setiap kali kalau aku terlalu excited.

            Kali ini pastinya yang terparah. Sampai bisa membuatku seluruh tubuhku bergoyang-goyang sendiri semakin aku coba menahannya.

            Untungnya sih, diriku ini sedang duduk di atas pasir pantai malam dekat dengan api unggun, jadinya tak terlalu kelihatan. Coba kalau berdiri, kan ngga lucu kalau aku goyang-goyang sendiri tanpa alasan.

            Tapi, aku punya alasan kenapa tubuhku, terutama perutku bisa seperti ini. Pastinya karena dari kedua orang itu—dua orang gila—yang putih kusam lagi asik memetik gitar, yang coklat tua lagi asik menabuh cajon. Sudah lama kita bertiga tak berkumpul dan menikmati suasana malam bersama.

            Sedangkan aku, cukup saja aku menikmati nyanyian mereka dan musiknya. Sebenarnya, ingin sih aku juga ikut bernyanyi, tapi—

            "Hellooo? Can i hear some of your fucking voices Lex?!"