Tampilkan postingan dengan label fight/withdraw?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fight/withdraw?. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2016

[PRELIM] 54 - ZIA MAYSA POASEA | KHAYALAN

oleh : A.K.A. Fai


"Did you ever feel you aren't supposed to be exist? Being in the twilight between dream and reality? At the dawn  of truth and lie?"

Unsur 1H – Imajinasi

Pemimpi. Ada sangat banyak pemimpi. Gadis kecil itu kini tidak hanya mengamati impian yang ada dalam kepalanya, tetapi ditemani pria berjanggut berkelana dari satu mimpi ke yang lainnya. Menandainya satu persatu sebagai tamu yang diundang ke Alam Mimpi

Puluhan mimpi dan sekitar dua puluh pemimpi yang ditandai sudah mereka hampiri lalu mereka memutuskan untuk kembali ke Alam Mimpi terlebih dahulu sebelum perjalanan panjang lainnya. Gadis berkepala bantal itu melompat keluar dari mimpi seorang petarung dan mendarat ke pulau kue cookies dengan coklat chips yang mengambang di atas lautan susu putih, bersama pulau pulau cookie lainnya.

Kalau diperhatikan di atas pulau pulau itu juga terlihat bulatan bulatan putih kecil. Bukan topping seperti chochochips melainkan domba domba yang sedari tadi mengeluarkan suara mengembik ketika gadis itu tiba

Disusul oleh pria berambut klimis dengan setelan jas hitam ala elit politik, yang langsung memutuskan untuk telentang di atas pulau kue coklat itu sambil bergumam "Kau adalah Reverier... dan kau dapat membuat Mahakarya..."

Sabtu, 04 Juni 2016

[PRELIM] 35 - GOLD MARLBORO | KEPING MIMPI YANG TERLUPAKAN

GOLD MARLBORO
oleh : Jester

--

KEPING MIMPI YANG TERLUPAKAN


"Mengapa kita bermimpi?" Gadis itu bertanya retoris. "Karena kita memiliki kenangan."
"Manusia begitu akrab dengan konsep mimpi, begitu dekat dan menjadi bagian dari budaya. Namun seperti halnya fenomena yang manusia kira telah mereka pahami betul, mimpi adalah misteri. 'Keinginan bawah sadar yang tak terealisasi,' kata Freud. Ya, itu mungkin saja. Atau pola tidur menyebabkan beberapa daerah di otak aktif. Entahlah.
Kita hanya bisa menyimpulkan dari kedua hal itu, bahwa apapun mimpi itu ia dibangun dari kenangan."

Gold bertanya dalam hati, lalu bagaimana ia—yang bahkan kehilangan seluruh ingatannya—dapat bermimpi segila dan senyata ini?



Kedua orang itu masih setia meringkuk di bawah gerbang benteng Vredeburg, menatap hujan yang turun seperti dicurahkan. Gold dapat melihat beberapa tukang becak pulang, atau satu-dua mampir di sebuah warung seberang jalan. Ia juga dapat merasakan titik air membasahi kulit dan membuat lengannya meremang karena dingin. Sulit dipercaya, bahkan hampir tak mungkin semua yang ada di sekitarnya ini adalah mimpi.
Lelaki itu menoleh, melihat gadis di sampingnya meniup-niup kedua telapak tangan yang ia tangkupkan di depan mulut demi kehangatan. Uap tipis terlihat mengepul dari cuping hidungnya. Mendadak gadis itu menoleh, "Kamu nggak kedinginan, to?"
Gold menggeleng.
"Padahal kamu ini, lho, hanya pakai kaos oblong." Gadis itu kembali menatap jalanan. Mengambil sebatang rokok dari sakunya, memantik, lalu menghisapnya dalam-dalam. "Kenapa lihat-lihat?"

"Aku bener-bener masih penasaran dengan yang kamu bilang," Gold menjawab sejujurnya. "Lebih tepatnya, aku nggak percaya."
"Bahwa ini adalah mimpi?"
Mengikuti sang gadis, Gold menyalakan rokok juga. Ia mengangguk. "Ya."
"Sebenernya aku juga sedikit bingung, bagaimana mimpi yang ini bisa begitu solid, bahkan sensasi dunia nyata juga terbawa sampai sini," ucap gadis itu. Ia membenarkan ikatan rambut sebahunya, baru kembali bicara. "Dan setahuku, kecuali seorang yang bermimpi itu sadar bahwa ia bermimpi, impiannya nggak akan sejelas ini."

Gold menatap gadis itu tengah terlihat berpikir keras. Dan ia mencoba menyimpulkan ekspresi frustasi itu, "Maksudmu, terlalu nyata untuk disebut mimpi?"


***

Selasa, 31 Mei 2016

[PRELIM] 26 - OLIVE | KNIGHTS, HORSES, AND ALL

OLIVE OF LA ERCILLA
"Knights, Horses, and All"
oleh: lordobimikel_12

[Cerita Olive dihapus dari blog atas keinginan authornya
karena dalam proses untuk dijadikan novel sendiri]

Sabtu, 28 Mei 2016

[PRELIM] 23 - SATAN RAIZETSU | KUTUKAN SATAN

oleh : Hyakunosen

---

Kutukan Satan

Satu malam yang sangat dingin, dengan dilapisi lembaran-lembaran selimut aku berusaha memejamkan mataku. Malam di bulan Januari yang menghembuskan angin putih, disertai butiran-butiran salju yang terus jatuh dari langit, terlihat begitu lambat dari jendela kamarku.

Apa yang membuatku masih terjaga di malam yang tak bersahabat ini? Mungkinkah aku akhirnya merasakan yang namanya "kekhawatiran" dalam hidupku ini? Lalu, apa yang sebenarnya aku khawatirkan? Aku tak tahu. Kukira, itu sudah tak lebih dari sebuah masa lalu.

Aku mencoba memejamkan mataku sekali lagi. Kulemaskan setiap inchi bagian dari tubuhku. Seperti kata orang, aku juga mencoba menghitung setiap domba yang melompati pagar. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk tertidur. Walaupun aku tahu, aku tak akan pernah lagi mendapati diriku untuk bermimpi.

"Reveriers..."

Ketika kesadaranku hampir saja meninggalkan raga ini, telingaku menangkap suara yang belum pernah kudengar sebelumnya. Suara itu, tidak, suara-suara itu terdengar bergema lalu seolah menjadi satu. Mau tak mau, kini aku harus terfokus pada suara yang membuat hatiku terasa tak nyaman.

"Mahakarya..."

Aku mencoba mencari darimana datangnya suara itu. Aku tak bisa meyakinkan diriku sendiri untuk memastikan darimana suara itu berasal. Apakah itu suara seorang manusia? Apa itu suara makhluk mimpi buruk yang siap menghantuiku? Atau mungkin itu suara dari alam bawah sadarku yang terdalam ... isi hatiku?

Mencoba mengelak pun tak bisa, terlebih untuk menerima suara siapa itu. Hingga aku sadar, terdapat dua sosok yang mengawasi diriku dari kejauhan. Sosok yang pertama terlihat seperti bayangan manusia yang biasa kulihat dimana-mana. Tapi, sosok yang kedua membuatku terpatung tanpa makna. Tubuh mungil dengan kepala yang berbentuk persegi panjang, ditambah dengan tongkat yang melengkung di salah satu ujungnya. Membuatku bertanya-tanya siapa dia—siapa mereka?

"Alam Mimpi..."

Apa? Apa yang mereka daritadi katakan? Aku tak bisa mendengar suara mereka dengan jelas. Mulut mereka terbuka dan tertutup beberapa kali, tapi yang dapat kudengar hanyalah "Reveriers", "Mahakarya", dan "Alam Mimpi".

Apa maksud dari ketiga kata itu? Siapa sebenarnya kalian? Apa tujuan kalian? Apa yang kalian ingin sampaikan padaku? Ingin aku melontarkan pertanyaan itu, namun mulutku hanya bisa terbuka tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Apa ini mimpi? Apakah akhirnya aku dapat bermimpi kembali? Jika iya, apa arti dari mimpi yang sedang kualami ini? Aku terus bertanya pada diriku, pada pikiranku, pada hatiku fenomena macam apa ini? Sembari terus bertanya, aku terlambat menyadari bahwa ini bukanlah mimpi yang sudah hilang dari diriku, melainkan pertanda dari langkah awal untuk mencari arti sebuah "mimpi".

****** 

Rabu, 18 Mei 2016

[PRELIM] 09 - NAMOL NIHILO | SATU

NAMOL NIHILO
oleh : Aesop Leuvea

--

SATU

Bukan Dia Pahlawannya
Seperti ledakan atau dentuman paling terkenal yang terjadi sekitar dua puluh lima ribu juta tahun lampau, (ketika itu mungkin alam semesta mulai bosan akan kekosongan dan memutuskan untuk—sayangnya—hidup dengan cara melempar jasad-jasadnya ke segala arah; menciptakan galaksi) kisah Namol dimulai.
Ya. Kisah Namol dimulai dengan cara yang sama seperti kisah terciptanya alam semesta ini. Kecerobohan.
Sebuah rumah besar terombang-ambing di dalam dimensi tanpa nama, tak terlacak, dan tak masuk akal. Semuanya tampak hitam pekat sekaligus terlihat jelas sampai ke detail terkecilnya, terdistorsi total tapi jernih bahkan memperkaya pembentukan sudut-sudutnya yang terus bergerak dalam hitungan cahaya, dimensi abstrak ini—menggunakan analogi terdekat—seperti kumpulan pecahan kaca yang kesemuanya dilumuri jubah hitam keajaiban dan ditiup secara konstan oleh kekuatan yang sangat besar. Dan rumah besar itu sendiri, yang mengambang di antaranya, adalah rumah Namol.