Tampilkan postingan dengan label destroy everything. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label destroy everything. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2016

[PRELIM] 60 - ALPACAPONE | UNHEARTLING

oleh : Manya

--

                                                                                                N o w  P l a y i n g . . .


          Di ruangan itu, di mana semua mata dinonaktifkan gelapnya ruang tertutup. Hanya ada satu runtutan nafas yang keluar masuk. Hembusannya tidak wajar, ibarat seekor oposum yang tergeletak setelah ditendang orang –tidak ada yang berpikir bahwa mamalia yang menyerupai musang itu sudah mati kan?—. Jeda nafas yang cukup panjang sampai orang yang mendapatinya menganggap makhluk itu sudah mati. Kemungkinannya bukan karena kamuflase, melainkan karena proses respirasi sedang dipaksa menyesuaikan diri karena minimnya bahan bakar yang dicerna.


          Adalah seorang gadis, Alpacapone namanya (bukan nama sebenarnya), yang jasmaninya dipaksa bersimpuh di ruangan itu. Mau bergerak pun susah, banyak penghalangnya; Tangannya diikat dengan borgol tiga rangkap, matanya diikat dengan karet ban, mulutnya disumpal dengan gag bola, lehernya diikat dengan kerat tambang yang ujung satunya menggantung di langit-langit, kakinya ditimpa oleh balok berat yang tak bisa dibayangkannya, pakaiannya sudah dilucuti, dan benda-benda nakal dilekatkan di kulitnya. Nakal bagaimana? Nakal karena suka menggelitik. Selain itu, yang menempel di kulitnya hanyalah satu set pakaian dalam dan seikat dinamit dengan detonator jam digital yang dihimpitkan di antara payudara dan bra-nya yang melar.

Jumat, 10 Juni 2016

[PRELIM] 58 - AI | BERMAIN DENGAN WARNA

oleh : Ryusa Tama

--

Dia sekarang sendiri di dunia ini tanpa ada satupun kawan atau lawan yang menemani. Terjebak sendiri dalam kesunyian dunia tak berpngehuni di dalam kotak besi. Kotak yang tidak bisa dihancurkan dari luar maupun dalam.

Dunianya kini sudah menjadi padang pasir luas tak berujung. Hanya ada sebuah kotak metalik tempatnya terjebak, puluhan robot tanpa tujuan, dan gundukan pasir. Dunia bernama Terrable ini sudah hancur.

Jangan iba kepadanya, karena dialah yang menyebabkan Terrable menjadi seperti ini. sekitar lima tahun yang lalu dia lahir dan menghancurkan. Menghancurkan kehidupan, mengahancurkan peradaban, mengahancurkan segalanya. Semua itu demi satu tujuan.

"Memusnahkan manusia," ucapnya dalam kesendirian. Tak ada siapapun di dunia ini yang akan mendengar suara itu karena tak ada satu pun makhluk hidup yang hidup di Terrable, termasuk dirinya.

AI itulah namanya. Dia bukanlah  mahkluk hidup, hanya sebuah kecerdasan buatan canggih yang hidup abadi. Dia tidak dapat mati dan terus akan hidup dalam jaringan gelombang yang tak kasat mata.

"Apa tidak ada lagi manusia yang dapat aku musnahkan?" AI terus bertanya dan memproses segala kemungkinan dalam sistemnya. Dia bisa saja pergi ke luar angkasa dan menemukan kehidupan pintar di luar sana, tapi itu tidak mungkin.

Sabtu, 04 Juni 2016

[PRELIM] 38 - MERALD | RAIZEN

oleh : Anastasia

--

[Peringatan : Mengandung konten dewasa]



Mimpi


Sudah lama Merald tidak bermimpi. Sepuluh tahun lalu, dia masih gadis kecil berusia sepuluh tahun yang memiliki mimpi. Mimpi menyandang lima rajah naga di punggung. Sepuluh tahun yang lalu pula, tubuhnya dirajah delapan naga dengan paksa. Sebuah hukuman atas kesalahan orang tuanya yang melarikan diri dan mengkhianati putrinya.

Lima rajah di tubuh adalah batas kekuatan seorang pengendali di Monteina. Dengan delapan rajah tambahan, Merald memiliki sembilan rajah di sekujur punggung dan dadanya. Tidak ada yang menyangka dirinya dapat bertahan hidup setelah dibuang ke tempat terpencil. Dibiarkan mati secara perlahan.

Merald tidak pernah tahu apa kesalahan orang tuanya. Merald tidak pernah tahu mengapa hukumannya teramat berat. Merald tidak pernah tahu mengapa dia sanggup bertahan hidup dan berhasil mengendalikan sembilan naga pada usia tujuh belas tahun.

Kembali ke kawasan tempat tinggalnya dengan luka menganga, Merald membantai orang-orang yang memberinya mimpi buruk. Tapi Merald tidak pernah tahu mengapa dia masih hidup setelah keinginannya membalas dendam terpenuhi.

Apakah karena Merald tidak pernah mengetahui jejak orang tuanya?

Dia berkelana dari satu daerah ke daerah yang lain, melintasi daerah pengendali lainnya. Seorang gadis malang yang tidak memiliki tujuan hidup. Seorang gadis malang yang hidupnya telah dirampas dengan paksa.


Bukankah dia patut dikasihani?