oleh : Manya
--
N o w P l a y i n g . . .
Di ruangan itu, di mana semua mata dinonaktifkan gelapnya ruang tertutup. Hanya ada satu runtutan nafas yang keluar masuk. Hembusannya tidak wajar, ibarat seekor oposum yang tergeletak setelah ditendang orang –tidak ada yang berpikir bahwa mamalia yang menyerupai musang itu sudah mati kan?—. Jeda nafas yang cukup panjang sampai orang yang mendapatinya menganggap makhluk itu sudah mati. Kemungkinannya bukan karena kamuflase, melainkan karena proses respirasi sedang dipaksa menyesuaikan diri karena minimnya bahan bakar yang dicerna.
Adalah seorang gadis, Alpacapone namanya (bukan nama sebenarnya), yang jasmaninya dipaksa bersimpuh di ruangan itu. Mau bergerak pun susah, banyak penghalangnya; Tangannya diikat dengan borgol tiga rangkap, matanya diikat dengan karet ban, mulutnya disumpal dengan gag bola, lehernya diikat dengan kerat tambang yang ujung satunya menggantung di langit-langit, kakinya ditimpa oleh balok berat yang tak bisa dibayangkannya, pakaiannya sudah dilucuti, dan benda-benda nakal dilekatkan di kulitnya. Nakal bagaimana? Nakal karena suka menggelitik. Selain itu, yang menempel di kulitnya hanyalah satu set pakaian dalam dan seikat dinamit dengan detonator jam digital yang dihimpitkan di antara payudara dan bra-nya yang melar.


