Tampilkan postingan dengan label Setting C. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Setting C. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2016

[ROUND 1 - 4C] 33 - STALLA | [A]NATOLIA

oleh : J. Fudo



Pada suatu kala di persimpangan dimensi, berdirilah sebuah bangunan maharaksasa yang tak terdefinisi oleh bilangan waktu maupun ruang.


Tiada yang tahu sudah berapa abad ia berdiri, tapi selama itu pula bangunan ini mengumpulkan berlaksa karya seni dari berbagai semesta hingga nyaris tanpa batas.


Entah siapa yang menamai pada mulanya, bangunan ini  dijuluki [Museum Semesta].


Semua seni yang terkoleksi itu dikelola oleh Zainurma sang Kurator dan Mirabelle sang Konservator. Keduanya tunduk oleh sesosok entitas yang berkuasa terhadap museum,


[Sang Kehendak].


Lalu pada suatu kisah, museum bergetar.


Sang Kehendak bangkit, pertanda dimulainya ekspansi museum dan akuisisi karya seni semesta. Semua gerbang menuju milyaran jagat tertutup kecuali satu.


Alam mimpi.


Senin, 01 Agustus 2016

[ROUND 1 - 3C] 25 - MBAH AMUT | MÉ:καᴎίᴢεδ MÉ:μοяϊζ

MBAH AMUT

oleh : Énryuumaru
--



Catatan: Mungkin akan ada kekerasan, sindiran keras, lawakan garis keras, atau mungkin adégan telanjang melebihi batas. Éntri ini jangan dibawa perasaan, karena hanya cerita karangan. Aslinya diniatkan untuk tertawa, tapi bisa jadi malah bikin kecéwa. Waspada sebelum membaca.




Hai,

Kamu.

Ya, kamu.

Apakah kamu adalah kamu yang kemarin?

Aku harap begitu. Jadi tak perlu penjelasan panjang lébar lagi kenapa kita ada di sini. Kalau kamu bukan yang kemarin, kamu kesini dan ikut duduk saja. Mari kita nonton sama-sama.

Kamis, 28 Juli 2016

[ROUND 1 - 3C] 16 - ASIBIKAASHI | MEREBUT ANATOLIA


By: Zoelkarnaen
Group 3 The Alien - C. The Colony of Rising Sun

---
MEREBUT ANATOLIA

Hawa dingin, langit yang berwarna pelangi, dan gedung-gedung dengan bentuk tak beraturan kembali menyambut penglihatanku. Kami semua dikembalikan ke tempat terkutuk ini, batas mimpi mereka menyebutnya. Segera setelah mereka menunjukkan kekuatan Sang Kehendak—memastikan kalau kami tak memiliki keinginan untuk kabur—dan memastikan tak ada di antara kami yang akan memberontak, mereka mengirim kami semua ke tempat pertarungan awal.

Bagiku dan Asibi, tempat inilah tujuan kami sebelum tempat pertarungan berikutnya.

 Setelah menemukan dataran yang cukup lapang tanpa puing atau reruntuhan gedung, kami mulai duduk. Si Brurung Hantu tua, Asibi, aku, dan Wendigo yang baru saja dipanggil oleh Asibi. Namun ada yang aneh dengan Wendigo, tubuhnya terlihat agak transparan.

Aku yang menyadari Asibi baru saja memanggil Wendigo pun bertanya, "Asibi, kukira kau kehilangan semua kemampuanmu?"

"Aku memang memanggilnya, tapi hanya jiwanya. Entah mengapa aku masih bisa memanggilnya secara fisik."

"Kenapa kau memanggilku?" tanya Wendigo tanpa basa-basi. "Aku bukanlah bagian dari grup ceria kalian."

Sabtu, 16 Juli 2016

[ROUND 1 - 3C] 05 - NAMOL NIHILO | DUA

 
oleh : Aesop Leuvea

---
 DUA





Meteor


"Museum ... Semesta ...!" Namol tersedak napasnya sendiri.

Tidak sengaja menyebut dua kata itu, ingatannya otomatis memainkan kejadian semenit lalu.

Pilar berlapis emas, lautan karpet sewarna darah, lantainya yang berundak-undak artistik, lalu sebelas dinding setebal empat jengkal yang mengitari enam puluh enam makhluk bingung. Namol merupakan satu di antara mereka.

Para Reverier.

Dikumpulkan untuk menyaksikan hasil karya masing-masing, dan beberapa kenyataan yang takkan bisa dilupakan.

Patung itu ....

Namol langsung membuka matanya. Terkesiap dan mengumpat seperti pelaut. Sesaat, ia benar-benar merasa masih ada di sana. Keringat dinginnya jatuh, degup jantungnya berpacu.

Betapa saat ini ia sangat menghargai kegelapan dan suasana familier di dalam kamarnya.

"Namol, oi, goblok," sebias suara cempreng memanggilnya dari balik pintu. Suara Puppis, si peri kecil bersayap empat. "Keluar. Makan."

Namol menyahut serak, "Sebent—"

"NAMOL, BANGUN! AYO MAKAN SAMA-SAMA!"

Kegaduhan dari jebolnya tembok kamar Namol mengiringi jeritan kekanakan barusan. Heppow, si cacing-raksasa berkaus kaki, lantas mengintip polos dari lubang hasil sundulannya.

"Sebentar—oh ayolah, Hepp! Jangan mentang-mentang rumah ini punya sistem reparasi otomatis," sambung Namol sambil mendesah panjang. Jengkel.

Tapi kemudian, setelah melihat baik-baik dua makhluk di depannya, ia tersenyum. Peri dan cacing. Meski aneh dan menyebalkan, mereka adalah penjaganya. Atau lebih baik dari itu: mereka adalah sosok yang akan selalu ada.

"Apaan?" Puppis menuntut, ketus. Merasa risi dipandangi. Meski rona pipinya mengatakan hal lain.

"Bukan apa-apa, Pupp. Oh, ya, apa pesannya sudah datang? Belum? Bagus!" Namol bersiul melodius. Berjalan kikuk menembus dinding, langsung ke arah dapur. "Ayo, makan."

Setidaknya menurut Namol, setakut apa pun situasi mampu membuatnya, ia tidak akan pernah sendirian menghadapinya.



***

Jumat, 01 Juli 2016

[ROUND 1 - 4C] 01 - IRIS LEMMA | THE WORLD IS NOT ENOUGH

oleh : Sam Riilme

--

[Iris Lemma’s Entries Reading Guide For Dummies]
(If you’re not a dummy then no need to read this – just kidding)

1.       Entri Iris Lemma selalu terdiri dari 4 sub-chapter (babak) plus prolog dan epilog, dengan indikator ‘0%~’ di awal dan ‘~100%’ di akhir. Tiap babak itu sendiri terbagi lagi menjadi beberapa part, tergantung sepanjang apa sebuah babak cerita berjalan. Hal ini mungkin akan membingungkan beberapa pembaca dalam membaca entri, namun karena memudahkan penulis dalam menulis poin-poin ide menjadi sebentuk cerita, jadi siapa peduli?
2.       Di dalam entri akan tersebar banyak sekali kata dengan furigana(phonetic guide), yang mana sebenarnya tidak wajib untuk dibaca karena tulisannya terlalu kecil dan hanya akan membuat sakit mata. Tapi karena kelihatan keren dan penulis senang memasukkan tafsir lain dari suatu kata, jadi kebebasan(suka-suka) penulis lah ya.
3.       Di penghujung entri akan ada semacam segmen tambahan bertajuk [Extra Sequence ~ <Another Dream> : Side x, Part y], yang sifatnya opsional untuk dibaca dan tidak berkaitan langsung dengan entri yang bersangkutan, tapi berhubungan dengan canon Iris Lemma. Kalau pembaca yang budiman tidak begitu peduli dengan dia dan kawan-kawan, skip saja bagian itu.
4.       Terakhir, materi (sok) berat dan (sok) dalam - seolah hendak menguliahi pembaca (dan memang demikian adanya) - akan selalu ada di setiap entri Iris Lemma. Bila kurang berkenan atau tidak suka, tidak perlu memaksakan diri untuk membaca. Anak kecil saja bisa menolak makan sayur karena tidak enak di lidah, apalagi orang dewasa yang punya kebebasan memilih. 
5.       Maaf sudah menghabiskan 250 kata untuk peringatan tidak penting di atas. Akhir kata, selamat membaca.

*****

==Starting_Up_System_[PRAE.SCRIPTUM]==

Ketakutan.

Itulah alat yang paling ampuh untuk mengendalikan semua mahluk yang memiliki rantai pengekang bernama perasaan dalam ketundukan absolut.

Dan saat ini, Iris Lemma telah belajar hal baru. 61 sosok yang disebut reverier(peserta), termasuk dirinya, dikumpulkan di satu tempat bernama [Museum(Pameran) Semesta(Mahakarya)], menyaksikan bagaimana sekelompok mahluk gagal dihukum oleh tangan tak terlihat secara mengerikan. Hampir semua yang hadir di sana seketika itu juga merasakan ketidakberdayaan melawan entitas maha tinggi penguasa tempat ini.

[Sang(The True) Kehendak(Mastermind)].

Mereka semua tahu, saat ini mereka kehilangan inspirasi, dan mungkin di saat yang sama juga kehilangan nyali. Melawan berarti mati. Hanya dengan satu pertunjukan singkat yang efektif, mereka menurut untuk melakukan keinginan dia yang wujudnya bahkan tidak dapat dilihat di depan mata mereka.

Tapi bagi Iris Lemma yang tidak disibukkan dengan impresi pemicu emosi, hal ini membuktikan sesuatu.

Sosok yang ia cari, menjadi tujuannya sejak ia dapat mengingat dunia terpampang di depan matanya. Sosok Tuhan(pencipta). Konsep ini ternyata bukan buah pikiran belaka dan benar adanya. Perjalanannya keluar dari dunianya sendiri, sebagaimana yang diarahkan oleh Mira Slime, sudah berada pada garis yang benar. Iris Lemma meyakini hal ini dengan sepenuh hati, sekalipun ia tidak punya hati.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana ia bisa menemui Sang Kehendak ini?

“Ayo, saatnya kalian kembali~. Domba-domba kalian bisa kesepian kalau terlalu lama ditinggal di sana~.”

Suara riang dari sosok mungil dengan payung permen – dalam kepala Iris Lemma telah ditandai dengan nama [Ratu(Kepala) Huban(Bantal)] – kembali terdengar, mengantar para peserta yang telah pasrah dengan nasib mereka diseret ke dalam suatu ajang membingungkan ini kembali pada kenyataan, kenyataan dalam bentuk [Bingkai(Realita) Mimpi(Terbatas)].

*