SERILDA ARTEMIA
VERSUS
MIMA SHIKI REID
[Tantangan N7]
VERSUS
MIMA SHIKI REID
[Tantangan N7]
oleh: Naurah Deatrisya Gitany
---
Prolog: Sebelum Ia Tertidur
Dari ruang rapat parlemen, seorang wanita muda keluar. Penampilannya tegas dan berwibawa. Mahkota emas yang berada di puncak kepalanya menandakan jabatannya yang tinggi, seorang ratu. Di belakangnya ada seorang dayang muda yang memiliki rambut seperti untaian perak.
Dari air mukanya, bisa dibilang kalau wanita yang bernama Serilda itu baru saja "mengamuk" di depan para menteri soal masalah yang tidak ujung tuntas. Wanita berambut perak di belakangnya hanya menatap majikannya maklum. Segala umpatan dan omongan sarkastik Serilda sudah ia dengar sejak hari pertama ia menjadi sekretaris sang Ratu.
"Griselda, tolong masuk sebentar! Aku ingin berdiskusi sebentar denganmu," pinta wanita muda yang bernama Serilda itu setelah mengganti pakaiannya dari dalam kamarnya.
"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Griselda yang duduk di dekat Serilda.
"Kamu tahu tadi apa yang dibicarakan oleh menteri-menteri sialan itu di rapat? Masalah-masalah yang sama lagi dengan rapat terakhir! Aku tahu aku ini ratu Khilyra Baru, pemimpin mereka semua. Tapi, bukan berarti aku mau memberikan jawaban yang sama terus menerus mengenai masalah yang sama. Kalau bukan karena mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di Khilyra Lama, mungkin aku sudah mengacungkan jari tengah di depan mereka semua dengan percaya diri. Dasar makhluk-makhluk sialan," omel Serilda yang diakhiri dengan umpatan yang sarkastik.
"Emm… sebaiknya Anda jangan mengumpat, Yang Mulia, itu tidak baik. Untuk soal para menteri, apa perlu saya meminta tolong kepada beberapa teman saya untuk mengamati tingkah mereka?" usul Griselda.
"Gri, aku tahu kalau mengumpat itu tidak baik. Makanya aku hanya mengumpat di kamar karenakedap suara dan kamu sudah memahami kepribadianku yang kalau lagi kumat bisa keluar kalimat-kalimat sarkastik. Untuk soal pengamatan, sebaiknya jangan dulu. Jika tidak ada perubahan baru aku akan meminta bantuan orang lain," kata Serilda menjawab usulan-usulan Griselda.
"Baiklah, Yang Mulia. Ngomong-ngomong, ini sudah malam dan esok hari Anda akan berkuda bersama Nyonya Epona sehingga lebih baik jika Anda segera tidur, Yang Mulia. Selamat malam," pamit Griselda sebelum memadamkan lampu dan pergi menuju kamarnya.
Diam-diam, Serilda mengambil sebuah kotak perak kecil kesayangannya. Kotak Kenanganlah nama kotak itu. Di dalamnya terdapat beberapa figurin kecil yang model-modelnya merupakan beberapa orang paling berarti dalam hidup Serilda: kedua orangtuanya yang sudah meninggal, adiknya, yang berambut perak, yang mungkin ahli nujum istana tidak mampu melacaknya, dan figurin seorang lelaki muda yang seharusnya seusia dengan Serilda saat ini, yaitu, cinta pertamanya.
Andai aku dapat bertemu mereka lagi walau hanya dalam mimpiku yang paling gila, batin Serilda.

