Tampilkan postingan dengan label N7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label N7. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2016

[FBC] 033 - SERILDA ARTEMIA

SERILDA ARTEMIA
VERSUS
MIMA SHIKI REID
[Tantangan N7]
oleh: Naurah Deatrisya Gitany

---

Prolog: Sebelum Ia Tertidur

        Dari ruang rapat parlemen, seorang wanita muda keluar. Penampilannya tegas dan berwibawa. Mahkota emas yang berada di puncak kepalanya menandakan jabatannya yang tinggi, seorang ratu. Di belakangnya ada seorang dayang muda yang memiliki rambut seperti untaian perak.    

        Dari air mukanya, bisa dibilang kalau wanita yang bernama Serilda itu baru saja "mengamuk" di depan para menteri soal masalah yang tidak ujung tuntas. Wanita berambut perak di belakangnya hanya menatap majikannya maklum. Segala umpatan dan omongan sarkastik Serilda sudah ia dengar sejak hari pertama ia menjadi sekretaris sang Ratu.

        "Griselda, tolong masuk sebentar! Aku ingin berdiskusi sebentar denganmu," pinta wanita muda yang bernama Serilda itu setelah mengganti pakaiannya dari dalam kamarnya.

        "Ada apa, Yang Mulia?" tanya Griselda yang duduk di dekat Serilda. 
       
        "Kamu tahu tadi apa yang dibicarakan oleh menteri-menteri sialan itu di rapat? Masalah-masalah yang sama lagi dengan rapat terakhir! Aku tahu aku ini ratu Khilyra Baru, pemimpin mereka semua. Tapi, bukan berarti aku mau memberikan jawaban yang sama terus menerus mengenai masalah yang sama. Kalau bukan karena mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di Khilyra Lama, mungkin aku sudah mengacungkan jari tengah di depan mereka semua dengan percaya diri. Dasar makhluk-makhluk sialan," omel Serilda yang diakhiri dengan umpatan yang sarkastik.

        "Emm… sebaiknya Anda jangan mengumpat, Yang Mulia, itu tidak baik. Untuk soal para menteri, apa perlu saya meminta tolong kepada beberapa teman saya untuk mengamati tingkah mereka?" usul Griselda.

        "Gri, aku tahu kalau mengumpat itu tidak baik. Makanya aku hanya mengumpat di kamar karenakedap suara dan kamu sudah memahami kepribadianku yang kalau lagi kumat bisa keluar kalimat-kalimat sarkastik. Untuk soal pengamatan, sebaiknya jangan dulu. Jika tidak ada perubahan baru aku akan meminta bantuan orang lain," kata Serilda menjawab usulan-usulan Griselda.

        "Baiklah, Yang Mulia. Ngomong-ngomong, ini sudah malam dan esok hari Anda akan berkuda bersama Nyonya Epona sehingga lebih baik jika Anda segera tidur, Yang Mulia. Selamat malam," pamit Griselda sebelum memadamkan lampu dan pergi menuju kamarnya.

        Diam-diam, Serilda mengambil sebuah kotak perak kecil kesayangannya. Kotak Kenanganlah nama kotak itu. Di dalamnya terdapat beberapa figurin kecil yang model-modelnya merupakan beberapa orang paling berarti dalam hidup Serilda: kedua orangtuanya yang sudah meninggal, adiknya, yang berambut perak, yang mungkin ahli nujum istana tidak mampu melacaknya, dan figurin seorang lelaki muda yang seharusnya seusia dengan Serilda saat ini, yaitu, cinta pertamanya.

        Andai aku dapat bertemu mereka lagi walau hanya dalam mimpiku yang paling gila, batin Serilda.

Jumat, 04 Maret 2016

[FBC] 015 - GHOUL

GHOUL
VERSUS
MAHESA WERDAYA
[Tantangan N7]
oleh: Arieska Arief

---

UNDERGROUND CITY OF GENOCIDE,
29 Februari



Lash: Underground City of Genocide, 29 Februari


(*) We are, we are, we are made from broken parts
We are, we are, we are broken from the start
Our hearts, our hearts, they were beating in the dark
We are, we're, we are built from broken parts (*)


"Tangkap! Tangkap orang itu sekarang juga!"

Pemuda berambut kuning itu semakin mempercepat pelariannya begitu suara itu memecah keheningan malam. "Hosh! Hosh!"

Tap tap tap! Meski napasnya sudah di ujung tanduk sekali pun, ia masih saja terus berlari.

Bruk! Terjatuh untuk yang kesekian kalinya pun, ia akan terus memaksa otot-otot kakinya untuk menjauhi "neraka" itu sesegera mungkin.

Akhirnya tibalah ia di hadapan pagar kawat berduri yang menjunjung tinggi di hadapannya. Didongakkannya kepalanya mencari-cari puncak pagar berkawat yang berdiri angkuh itu. Tinggi… tinggiiii sekali baginya!

"Guk guk guk guk!!!"

Sekali lagi, ia langsung menolehkan kepalanya ke belakang. Tampak poninya yang melekat di keningnya karena mandi keringat. Samar-samar, tampak bayangan-bayangan yang tengah berlari kencang ke arahnya. Matanya yang merah dan bersorot tajam, melebar ketakutan. Kembali diluruskannya matanya ke pagar berbahaya tersebut. Tapi ia sudah tak punya pilihan lain lagi!

"Cara pernapasan kera!" Ia kemudian tampak mengumpulkan konsentrasinya hanya untuk mengatur napasnya. Dipejamkannya matanya sejenak kemudian menarik napas panjang selama 5 detik dan menahannya selama 2 detik kemudian mengembuskannya dengan kencang selama 3 detik. Segera dibukanya matanya dan mulai memanjat.

"Akh!" ia meringis kesakitan di awal panjatannya itu. Ia mendesis begitu melihat telapak tangannya mengucurkan darah segar.

"Guk guk guk guk grrrrrrrrr guk guk!!!"

Mendengar suara mengancam itu, ia lebih memilih untuk menahan sakit habis-habisan demi tujuan utamanya. Ia melanjutkan panjatannya—mengesampingkan rasa sakit di tangannya dan juga di telapak kakinya yang bertelanjang kaki. Hampir tak ada celah yang nyaman untuk tangannya berpegangan juga pada kakinya untuk berpijak. Ia juga tentunya tak sempat memikirkan kenyamanan karena harus bergerak cepat. Terpaksa ia harus berkorban dengan lecet sana-sini di tangan dan kakinya.

Sesakit apa pun itu, ia tak juga berhenti—membiarkan darah di tangannya mengalir di sepanjang lengannya. Ia harus memantapkan pegangannya agar tak terjatuh ke bawah sana—meski ia sadar betul, semakin kuat pegangannya akan membuat luka di telapak tangannya semakin melebar. Tapi ia tak boleh gagal sampai di puncak gerbang terkutuk itu. Tak boleh ada kesalahan di sini!

Dengan gerakan cepat, akhirnya tibalah ia di puncak pagar berkawat duri itu. Tanpa mau memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk menarik napas lega, ia segera melanjutkan pelariannya dengan melompat ke atap mobil terdekat dan melompat ke daratan. Jejak darah di telapak kakinya membekas di atap mobil itu.

Bruk. Ia kembali terjatuh karena pendaratannya yang tidak sempurna. Kakinya yang berdarah-darah masih perih. Dibiarkannya tubuhnya telentang sejenak—memandangi bulan di balik kabut. Tampaklah wajahnya yang rusak pada bagian kanannya dan luka gores di mata sebelah kiri yang masih memerah. Pandangannya sudah agak berputar-putar saking lelahnya meloloskan diri. Dadanya masih naik-turun dengan cepatnya. Ia memejamkan mata tajamnya—mengusir rasa sakit yang berdenyut dan lelah yang belum berakhir.

"Cara pernapasan kuda!" karena tahu perjuangannya belum selesai, ia kembali menarik napas sebanyak-banyaknya, menahannya selama 4 detik, mengembuskannya secara perlahan selama 5 detik…

"Guk guk guk guk guk!!!"

Tak lama, konsentrasinya itu segera direngut oleh suara-suara buas di sana, padahal ia belum menuntaskan kemampuan bernapas kudanya. Pemuda itu segera menarik kelopak matanya selebar mungkin. Saat ia terduduk, dilihatnya pintu gerbang berduri itu sudah terbuka lebar dan anjing-anjing kelaparan itu kembali memburunya.

"Astaga!" Buru-buru ditegakkannya tubuhnya dan kembali berlari meskipun paru-parunya harus pecah untuk itu. "Aku tak boleh berakhir di sini!"

***