OZ
#Prolog : Nirmala, Kutukan, Boneka
Seharusnya hari ini menjadi hari libur penting bagi seorang pria yang tengah kasmaran, jika saja semalam dia tidak terlalu gugup sampai membuatnya harus terjaga semalaman. Pria berkacamata dengan rambut tak terurus itu hanya bisa menguap sepanjang waktu, meskipun disebelahnya ada seorang gadis manis yang bisa membuatnya melek seharian.
"No, ko nguap terus sih? Kan kamu yang minta ditemenin ke panti asuhan Harapan Terakhir." Protes Dhita, gadis berkuncir kuda yang berada di sampingnya.
Dilihat dari alisnya yang naik turun, urat-urat dikening mendadak terlihat jelas. Bisa dipastikan kalau dia sudah tak bisa bersabar lagi dengan laki-laki yang sudah membuatnya menghabiskan waktu liburnya begitu saja.
"Hoam, kenapa dhit?" Tanya pria yang dipanggil 'No olehnya. Namanya Mahapatih Seno tapi mengingat kondisinya sekarang, sikapnya sama sekali tak mencerminkan kepribadian yang sesuai dengan identitasnya tersebut.
"Dat, dit, dat, dit. emang namaku adit, ah tau ah." tak bisa ditahan lagi rasa kesalnya, gadis berjaket hijau itu berlalu gitu dengan langkah gusar meninggalkan Seno yang sesekali hampir terjatuh lantaran kantuknya yang tak bisa ditahan.
Sadar dengan situasinya yang tak menguntungkan, cowok kucel itu langsung menampar pipinya sendiri dan berharap kantuknya segera hilang.
"Akh! Padahal cuma hari ini satu-satunya kesempatanku untuk berduaan dengannya seharian."batinnya menggerutu kesal.
Tak ingin Dhita mendadak cuek padanya, tanpa buang waktu ia segera berlari mengejar wanita yang telah lama menyita perhatian dan pikirannya.
(***)



