Tampilkan postingan dengan label Setting H. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Setting H. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2016

[ROUND 1 - 8H] 40 - MARIKH | HITAM JATUH, MERAH RUNTUH


"HITAM JATUH, MERAH RUNTUH"
oleh: Coffee Energy
[Cerita Marikh dihapus atas keinginan author karena hendak dipublish di tempat lain]

Kisah pertama Marikh dapat disimak disini:
NAGA TERKAPAR, LANGIT GEMPAR

Kisah selanjutnya dapat disimak disini:

TANPA TANDING, TIADA BANDING

Senin, 01 Agustus 2016

[ROUND 1 - 8H] 28 - TAKASE KOJOU | GESU NO KIWAMI OTOME


oleh : Nakano

--

Museum semesta.

Sebuah tempat berupa penyimpanan karya seni dengan dinding dan pilar bernuansa putih, bercahaya emas, dan beralaskan karpet merah darah. Dari ujung ke ujung nampak lukisan-lukisan surealis berjejer, dipajang tinggi-tinggi. Luasnya gila-gilaan, bahkan rasanya mustahil melihat pintu keluar, selalu ada pintu disana dan disini yang berisi ruang pameran karya seni.

Itulah tempat Takase dipanggil setelah menyelesaikan tantangan dari bingkai mimpinya. Dan, ia tidak sendiri. Minus Zainurma dan Huban, ada 67 orang asing disana. Satu di antaranya adalah seorang wanita berambut merah dengan perisai dan tombak, persis karakter Athena dari game monopoli online.

Lainnya, masih didominasi manusia, namun terdapat beragam mahluk hidup lain sejenis hiu berkaki dua, iblis, juga robot. Kaleng pengharum ruangan di ujung sana termasuk? Di mimpi semuanya bisa terjadi ‘kan?

“Ini … aku yang sedang bertarung? Di lukisan ini? S-siapa yang membuatnya?” ujar salah satu reverier yang wajah mabuknya segera sirna. Zainurma menyeringai, “Judulnya adalah ‘Naga Terkapar, Langit Gempar’. Sedikit berlebihan kurasa judulnya, untuk ukuran karya yang biasa-biasa saja. Tapi yah … bukan aku yang membuat judul itu. Bisa dikatakan sebagian besar karya kalian cukup memuaskan. Biarpun masih jauh dari kualitas mahakarya, tentu saja.”

Setelah itu, para pemimpi lain mulai mencari-cari lukisan milik mereka.

“Be-benar! Ini aku!”
“Lukisan ini boleh aku ledakkan?”
“Jangan, bangsat!”
“Toilet dimana? Dimana toiletnya!?”

Komentar-komentar dilayangkan, Takase akhirnya menoleh kearah lukisan di depannya, tampak jelas. Pria bermantel hijau dengan palu, itu dirinya.

“He-hello…..Sleepwalkers?” Takase agak terbata. Judul lukisannya menjiplak nama band jepang. Ada benarnya juga sih, karena ia bertarung dalam mimpi, mungkin ini dimaksudkan sebagai ‘ucapan selamat datang bagi pemimpi’, siapa tahu?

Kehebohan belum surut, para Reverier melayangkan pertanyaan-pertanyaan bertubi kearah Zainurma, Huban, dan dewi perang. Seperti biasa, Takase cuek bebek dan makan cemilan sembunyi-sembunyi.

Namun, hal pelik lagi-lagi terjadi. Museum semesta berguncang dahsyat. Takase syok, keripik kentangnya berceceran di karpet. Alasan lain, lima orang reverier mengerang keras. Bagai ditarik jiwanya, mereka berteriak kesakitan. Air muka penuh rasa siksa dan sengsara. Cahaya memancar dari tubuh mereka.

“—!“

Takase masih tergemap, tak mampu berkata-kata. Kenapa mereka?

Jawabannya ada pada lima buah lukisan beraura suram. Karya gagal. Bernilai rendah.

Zainurma menjentikkan jarinya, kelima reverier terbang di udara bagai kapuk diterpa angin. Sedetik kemudian, mereka berubah menjadi patung haniwa, tembikar.

Apa yang menjadi faktor penilaian karya museum semesta? Kenapa yang karyanya rendah akan menerima hukuman semacam ini?

“Huban si Kepala Bantal yang sedari tadi hanya berdiri diam di pojok aula ini akan membawa kalian kembali ke Bingkai Mimpi. Kalian akan menetap di sana sampai mendapatkan instruksi untuk proses penciptaan karya berikutnya.”

Mafia necis itu kembali berlisan. Para reverier hanya dapat menggeram sebagai balasan.

“Mungkin kalian tak percaya tapi … pada dasarnya aku dan Mirabelle sama saja seperti kalian. Tak punya kebebasan lagi. Dan satu saja saran dariku. Gunakan kesempatan ini untuk membuat diri kalian menjadi kuat.”

Setelah mengucapkan itu, Zainurma meninggalkan aula pameran, disusul dewi perang di belakangnya. Huban? Ia berjingkrak gembira, sangat tak pantas mengingat apa yang baru saja terjadi.

“Ayo~ saatnya kalian kembali~ Domba-domba kalian bisa kesepian kalau terlalu lama ditinggal di sana~~”

Ratu Huban pun melempar ke-66 Reverier ke portal ajaib, satu demi satu. Yang dilempar hanya bisa pasrah. Tiba giliran Takase.

“C-cih….”

Sebelum terserap penuh ke portal itu, Takase melihat sebuah patung gigantik dari tumpukan badan manusia, membentuk sesuatu yang kita sebut dengan – otak.

Itulah entitas yang disebut dengan ‘Sang Kehendak’.