oleh : M. Da'i Kuncoro
--
Rinai Purnama
Semilir
angin dingin dari jendela apartemen mengusik dua makhluk indah yang saling
bertindihan di atas kasur. Suasana terasa makin panas di kamar itu meskipun
udara malam sedang dingin-dinginnya. Desah-desah kecil mewarnai petualangan mereka.
Petualangan indah yang selalu didambakan oleh setiap insan. Dan petualangan
penuh dosa bagi yang belum menjalani upacara sakral bernama pernikahan.
“Ahh,
baumu masih tetap sama seperti tujuh belas tahun yang lalu, pas nggak sengaja
aku jatuh dan kamu yang tangkap,” ujar si wanita yang tengah ditindih dengan
suara bergetar.”
“Namanya
juga laki, Jess. Tapi kamu masih tergoda kan?””
“Kalau
sekarang sih malah tambah nafsu. Dasar Hutcher jelek.”” Jess membenamkan
wajahnya diantara dada bidang Hutcher---yang masih sibuk dengan urusan gua
elastis Jess. Benda tumpulnya makin ganas menjelajahi gua dengan desahan yang
mengiringi.. Sedangkan kedua tangan Hutcher riang menjelajahi bukit kembar yang
mencuat indah di dada Jess.
“Gimana
kalau aku ngelamar kamu sekarang? Aku takut setelah ini malah kamu menjauh.””
“Ummpphhh....
yang benar saja. Kamu terlalu buru-buru, seperti gerakanmu saat ini.””
“Terserahlah,
aku bakalan tetep ngelamar kamu.”
“Jessica
Romanoff, maukah kau”—“
Kalimat
Hutcher terputus saat potongan plafon apartemen beserta semen dari lantai atas
menimpa tubuhnya. Jess menjerit histeris, namun kemudian terhenti karena
pecahan kaca yang menyerbu wajahnya. Berbagai material terus menghujani tubuh
telanjang mereka. Potongan batu bata bercampur semen menghajar punggung Hutcher
yang membelakangi Jess. Keduanya tewas mengenaskan. Lantai ikut runtuh, memaksa
mayat Jess dan Hutcher untuk jatuh ke bawah. Kedua raga tanpa jiwa itu mendarat
bertindihan, bernodakan darah yang mengalir perlahan dari tubuh keduanya.
Memori
yang harusnya tak pernah ada.
***



