Tampilkan postingan dengan label V1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label V1. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2016

[FBC] 028 - ADAM CAINABLE

VERSUS
FATANIR
SANELIA NUR FIANI
[Tantangan V1]
oleh: Kakarotomo

---


"DREAM THEATER"



Stage I

The Arrival


Seorang pria berjaket kulit merah gelap tampak berjalan menyusuri ruang bidang putih tanpa batas. Mata biru navynya menjelajah ke seluruh penjuru arah. Dengan teliti, ia memeriksa segala sesuatu yang mungkin akan memuaskan rasa ingin tahunya.

"Hey!"

Fokusnya terpecah saat suara tanpa rupa memasuki rongga telinganya tanpa permisi. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari asal suara tersebut.

"Di sini!"

Lelaki itu berhenti, menggerakkan kepalanya ke arah asal suara yang berada di belakangnya. Benar saja, sesosok makhluk berjas dengan kepala bantal lucu berwarna ungu tengah berdiri di hadapannya. Tubuhnya setinggi anak kelas lima SD, tak lebih tak kurang.

Si gondrong flamboyan sedikit terhenyak. Ia baru pertama kali melihat makhluk yang keanehannya melebihi makhluk lain di semesta. Kewaspadaannya menurun seiring sorot matanya yang mencoba mengajak bersahabat.

"Siapa kau, nak?"

"Namaku Ratu Huban, salam kenal.." Tangan Ratu Huban terulur mencoba bersalaman.

Adam langsung menerima jabat tangan Ratu Huban, "Adam Cainable, panggil saja Adam. Ngomong-ngomong di mana ini?"

"Alam mimpi," jawab Ratu Huban singkat.

"Alam mimpi?" Dahi Adam mengerut. "Jadi semua ini hanya khayalan belaka."

Ratu Huban berjingkrak-jingkrak mengelilingi tamu pertamanya sambil memutar tongkat berwarna pelangi miliknya. "Bisa dibilang iya, bisa juga nggak. Dunia ini bukan ilusi, semua ini nyata. Hanya saja tempat ini emang tercipta dari utopia semua makhluk. Khayalan, impian, cita-cita, lamunan dan juga trauma. Makanya wujudnya suka berubah-ubah."

"Pantas semuanya terlihat begitu abstrak. Tadi berisi, sekarang malah kosong," ujar Adam.

"Gitu deh, namanya juga mimpi." Logat Ratu Huban mulai terdengar seperti orang Betawi. "Betewe, apa mimpimu?"

Adam terdiam seribu bahasa. Kepalanya mendongak ke atas seolah mengamati sesuatu yang tak terlihat. Sorot matanya terlihat sayu dengan kelopak matanya yang sedikit menyempit. Otaknya menjelajah di memori yang telah berusia melebihi jagat.

"Aku ingin menjadi manusia," jawabnya polos.

"Bruakakakakakakakakakakak!!!"

Tawa Ratu Huban meledak begitu hebat. Ia jatuh berguling-gulingan ke segala arah. Bahkan air mata muncrat dari dua lubang di bantal ungunya. Ia memukul lantai berkali-kali seolah tak bisa menahan sensitivias humornya yang meledak.

Sementara Adam hanya terdiam sambil menatap kelakuan lebay si penghuni alam mimpi. Ia mencoba berpikir mimpi keduanya yang terlihat konyol. Menjadi manusia? Sehina itukah?

"Aduh..auh. perut aye kram," Sang Makhluk Mimpi mulai mencoba berdiri sambil memegang perutnya. "Ente kan sudah jadi manusia?"

"Ini hanya kulit."

"Eh?"

Adam mengangguk pelan. "Pada dasarnya aku bukan dari kalangan manusia, Ratu Huban. Kau tahu? Berkelana ke berbagai tempat di dunia fana ini. Melihat setiap kehidupan datang dan pergi."  Pandangannya kembali diarahkan ke atas. "Sampai dua insan itu datang dari langit."

"Kau bicara tentang dua manusia pertama yang diceritakan dalam literatur suci,  kan?" tebak Ratu Huban. Logatnya mulai normal.

"Yah, hanya darah dan daging yang menyusun tubuh mereka. Tapi para manusia bisa melalui semua itu dengan hanya mengandalkan akal dan kerja sama satu sama lain. Bukankah itu sangat indah? Mereka sungguh membuatku iri."

Ratu Huban hanya manggut-manggut. Perlahan ia mengerti kenapa makhluk berkulit manusia di hadapannya sangat mengagumi ras yang ditakdirkan menjadi khalifah bumi oleh Yang Maha Kuasa.

"Sorry, tadi aku lupa bilang. Ada aturan main di Alam Mimpi. Pertama, setiap jiwa yang mati di sini akan menjadi bagian dari Alam Mimpi. Kedua, jika jiwa tersebut berstatus masih hidup di semesta asalnya, maka ia harus menjalani tes untuk menunjukkan kualitas usaha mewujudkan mimpinya," kata Ratu Huban berusaha menjelaskan.

"Tes?" Dahi Adam mengkerut.

Si bantal mengangguk. "Yup! Tesnya akan disesuaikan dengan personalisasi setiap jiwa yang mampir ke Alam Mimpi. Jika sampai mati, maka jiwa-ragamu akan menjadi serpihan Alam Mimpi."

Ratu Huban mengarahkan ujung tongkatnya ke atas. Tiba-tiba benda kesayangan si Makhluk Mimpi itu menyemburkan sebuah kembang api yang menyebarkan kelap-kelap berwarna-warni. Secara ajaib, sisa cahaya kembang api itu berpusar menjadi portal dimensional berwujud pusaran lubang hitam.

"Oi! Aku masih banyak per-"

Ucapan Adam terpotong saat tubuhnya terhisap ke gerbang secara instan. Pada saat itu juga pusaran ciptaan perempuan berkepala bantal itu menghilang usai melaksanakan tugasnya.

"Sekarang waktunya nonton pertandingan," ucap Ratu Huban.

Jumat, 26 Februari 2016

[FBC] 005 - ALISTAIR KANE

VERSUS
FATANIR
LAZUARDI
ALSHAIN KAIROS
[Tantangan V1]
oleh: Andry Chang

---

"DI ATAS SEMESTA, ADA SEMESTA"


Hidup Alistair Kane adalah sebuah pencarian tanpa henti.

Baru saja beristirahat sejenak setelah kembali dari sebuah dimensi antah-berantah, ada saja yang harus Alistair kerjakan untuk memastikan segala sesuatunya kembali ke jalur semula. Tepatnya, segala sesuatu yang sempat ia ubah untuk suatu tujuan atau misi tertentu. Kali ini, yang harus diluruskan pria berambut, berkumis dan berjanggut serba putih padahal memiliki fisik setara manusia berusia genap empat puluh tahun ini adalah nasib dan takdir seorang manusia.

Seorang pria muda berambut hijau panjang bernama Raditha Ananta.

Untuk itulah Alistair sengaja "hadir" saat Radith kembali ke ranahnya sendiri. Radith telah menyelamatkan dirinya yang terjebak dan jadi lemah bagai manusia biasa di sebuah ranah asing. Dengan menggunakan sebuah mustika bernama Kotak Laplace, Radith mengembalikan kekuatan sejati Alistair sehingga keduanya dapat kembali ke ranah mereka masing-masing. Kebetulan Alistair memutuskan "mampir" sejenak di Bumi, menuntaskan pelbagai urusan penting termasuk satu yang terpenting, memastikan Vajra, pahlawan super dalam diri Radith bangkit kembali.

Namun, masih ada satu ganjalan terakhir.

Ganjalan itulah yang membuat Alistair Kane berujar, "Radith, mengingat kondisimu sekarang ini, sebaiknya kau menyerahkan Kotak Laplace padaku."

"Apa!?" Radith menggeleng tak mengerti. "Bukankah aku yang seharusnya menjaga kotak pengacau itu agar tak ada lagi yang bisa menyalahgunakannya? Itu keputusan Mima Shiki Reid, pemegang Laplace sebelumnya yang menyerahkan benda itu padaku lewat undian."

"Aku tahu. Hanya saja, kekuatanmu yang kini telah berkurang separuhnya saat kau tiba di Bumi ini takkan cukup untuk membendung daya Laplace bila benda itu sampai beraksi lagi kelak. Lagipula, penggunaan Laplace di Bumi pasti akan mengundang kutukan berupa maut abadi dari Yang Maha Kuasa. Tentunya kau tak ingin itu terjadi padamu, bukan?"

Radith terpaku seketika. Ia memang baru sadar bahwa ia bukan pemilik sejati kotak penentu takdir yang menampung kekuatan mahakuasa itu. Lagipula, Bumi bukan tempat yang cocok bagi Laplace, yang sebenarnya adalah sebuah pelanggaran terparah, baik terhadap hukum alam mauapun hukum ilahi.

Jadi, uluran tangan Alistair Kane itu malah menerbitkan satu pertanyaan dari bibir Radith, "Lantas, mengapa harus kau yang mengemban Laplace? Siapa kau sebenarnya, Alistair?"