VERSUS
FATANIR
SANELIA NUR FIANI
[Tantangan V1]
oleh: Kakarotomo
---
"DREAM THEATER"
Stage I
The Arrival
Seorang pria berjaket kulit merah gelap tampak berjalan menyusuri ruang bidang putih tanpa batas. Mata biru navynya menjelajah ke seluruh penjuru arah. Dengan teliti, ia memeriksa segala sesuatu yang mungkin akan memuaskan rasa ingin tahunya.
"Hey!"
Fokusnya terpecah saat suara tanpa rupa memasuki rongga telinganya tanpa permisi. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari asal suara tersebut.
"Di sini!"
Lelaki itu berhenti, menggerakkan kepalanya ke arah asal suara yang berada di belakangnya. Benar saja, sesosok makhluk berjas dengan kepala bantal lucu berwarna ungu tengah berdiri di hadapannya. Tubuhnya setinggi anak kelas lima SD, tak lebih tak kurang.
Si gondrong flamboyan sedikit terhenyak. Ia baru pertama kali melihat makhluk yang keanehannya melebihi makhluk lain di semesta. Kewaspadaannya menurun seiring sorot matanya yang mencoba mengajak bersahabat.
"Siapa kau, nak?"
"Namaku Ratu Huban, salam kenal.." Tangan Ratu Huban terulur mencoba bersalaman.
Adam langsung menerima jabat tangan Ratu Huban, "Adam Cainable, panggil saja Adam. Ngomong-ngomong di mana ini?"
"Alam mimpi," jawab Ratu Huban singkat.
"Alam mimpi?" Dahi Adam mengerut. "Jadi semua ini hanya khayalan belaka."
Ratu Huban berjingkrak-jingkrak mengelilingi tamu pertamanya sambil memutar tongkat berwarna pelangi miliknya. "Bisa dibilang iya, bisa juga nggak. Dunia ini bukan ilusi, semua ini nyata. Hanya saja tempat ini emang tercipta dari utopia semua makhluk. Khayalan, impian, cita-cita, lamunan dan juga trauma. Makanya wujudnya suka berubah-ubah."
"Pantas semuanya terlihat begitu abstrak. Tadi berisi, sekarang malah kosong," ujar Adam.
"Gitu deh, namanya juga mimpi." Logat Ratu Huban mulai terdengar seperti orang Betawi. "Betewe, apa mimpimu?"
Adam terdiam seribu bahasa. Kepalanya mendongak ke atas seolah mengamati sesuatu yang tak terlihat. Sorot matanya terlihat sayu dengan kelopak matanya yang sedikit menyempit. Otaknya menjelajah di memori yang telah berusia melebihi jagat.
"Aku ingin menjadi manusia," jawabnya polos.
"Bruakakakakakakakakakakak!!!"
Tawa Ratu Huban meledak begitu hebat. Ia jatuh berguling-gulingan ke segala arah. Bahkan air mata muncrat dari dua lubang di bantal ungunya. Ia memukul lantai berkali-kali seolah tak bisa menahan sensitivias humornya yang meledak.
Sementara Adam hanya terdiam sambil menatap kelakuan lebay si penghuni alam mimpi. Ia mencoba berpikir mimpi keduanya yang terlihat konyol. Menjadi manusia? Sehina itukah?
"Aduh..auh. perut aye kram," Sang Makhluk Mimpi mulai mencoba berdiri sambil memegang perutnya. "Ente kan sudah jadi manusia?"
"Ini hanya kulit."
"Eh?"
Adam mengangguk pelan. "Pada dasarnya aku bukan dari kalangan manusia, Ratu Huban. Kau tahu? Berkelana ke berbagai tempat di dunia fana ini. Melihat setiap kehidupan datang dan pergi." Pandangannya kembali diarahkan ke atas. "Sampai dua insan itu datang dari langit."
"Kau bicara tentang dua manusia pertama yang diceritakan dalam literatur suci, kan?" tebak Ratu Huban. Logatnya mulai normal.
"Yah, hanya darah dan daging yang menyusun tubuh mereka. Tapi para manusia bisa melalui semua itu dengan hanya mengandalkan akal dan kerja sama satu sama lain. Bukankah itu sangat indah? Mereka sungguh membuatku iri."
Ratu Huban hanya manggut-manggut. Perlahan ia mengerti kenapa makhluk berkulit manusia di hadapannya sangat mengagumi ras yang ditakdirkan menjadi khalifah bumi oleh Yang Maha Kuasa.
"Sorry, tadi aku lupa bilang. Ada aturan main di Alam Mimpi. Pertama, setiap jiwa yang mati di sini akan menjadi bagian dari Alam Mimpi. Kedua, jika jiwa tersebut berstatus masih hidup di semesta asalnya, maka ia harus menjalani tes untuk menunjukkan kualitas usaha mewujudkan mimpinya," kata Ratu Huban berusaha menjelaskan.
"Tes?" Dahi Adam mengkerut.
Si bantal mengangguk. "Yup! Tesnya akan disesuaikan dengan personalisasi setiap jiwa yang mampir ke Alam Mimpi. Jika sampai mati, maka jiwa-ragamu akan menjadi serpihan Alam Mimpi."
Ratu Huban mengarahkan ujung tongkatnya ke atas. Tiba-tiba benda kesayangan si Makhluk Mimpi itu menyemburkan sebuah kembang api yang menyebarkan kelap-kelap berwarna-warni. Secara ajaib, sisa cahaya kembang api itu berpusar menjadi portal dimensional berwujud pusaran lubang hitam.
"Oi! Aku masih banyak per-"
Ucapan Adam terpotong saat tubuhnya terhisap ke gerbang secara instan. Pada saat itu juga pusaran ciptaan perempuan berkepala bantal itu menghilang usai melaksanakan tugasnya.
"Sekarang waktunya nonton pertandingan," ucap Ratu Huban.

