Tampilkan postingan dengan label Group 9 The Thinker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Group 9 The Thinker. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2016

[ROUND 1 - 9I] 12 - MIA | BLOOD AND STEEL NATION

oleh : meridianna

--
Blood and Steel Nation


Maafkan aku...
Bukan aku musuh kalian...
Gunakan kesempatan ini untuk membuat diri kalian kuat.

"Selamat pagi, Mia. Cuaca cerah sekali hari ini."

"Apa ini? Deja vu..?"

Mata Mia perlahan-lahan membuka dengan susah payah. Dia terbangun di sofa yang ada di depan TV miliknya. Dia menimbang-nimbang untuk terus tidur. Tapi jika dipikirkan itu akan percuma dengan apa yang baru saja dia terima, dia tidak jadi melaksanakan idenya itu. Sebelumnya dia diberitahu bahwa dia adalah suatu karya yang berada di suatu museum, harus menghadapi tantangan jika ingin kekuatannya kembali, di tempat lain dengan menggunakan sebuah domba. Lalu dia dikembalikan di tempat yang disebut Bingkai Mimpi, tempat yang mirip dengan tempat asalnya, oleh sebuah makhluk berkepala bantal. Dia bahkan tidak yakin makhluk itu laki-laki atau perempuan. Walau dipanggil sebagai Putri Huban, bisa saja dia adalah laki-laki yang menyamar jadi seorang putri. Mia terlalu sering melihat hal seperti itu di game-game yang dia mainkan. Bahkan karakter bernama Bridget saja ternyata laki-laki.

[ROUND 1 - 9I] 10 - SATAN RAIZETSU | PION DI ATAS PAPAN PERMAINAN

oleh : Hyakunosen
--
Pion di Atas Papan Permainan

Bagian 1

Dalam ruangan yang remang, hanya ada satu sumber yang menjadi penerangan kamar ini, sebuah lampu dinding yang memancarkan cahaya jingga seperti senja.

Aku tak begitu menyukai tempat terang, jadi suasana seperti inilah yang paling cocok denganku. Hanya dengan menenggelamkan diriku pada sofa, seluruh otot di kepala dan tubuh mengendur, membuatku merasa tenang.

Aku yang sekarang sedang mengharapkan ketenangan lebih dari siapapun. Aku hanya ingin bisa pulang ke rumah dan melanjutkan game Little Busters yang belum sempat kuselesaikan, lagi.

Tapi, sepertinya itu akan menjadi tujuan yang sangat panjang bagiku. Terlebih karena kejadian barusan yang mungkin akan meningkatkan kadar kegilaan dari dunia yang mereka sebut sebagai "Alam Mimpi" ini.

"Siapa nama dewi yang tadi? Umm ... Mirabelle, bukan?" gumamku sembari menghela napas. "Kenapa semua dewa seperti itu? Mereka selalu merendahkan kami manusia, dan menganggap dirinya lah yang paling kuasa."

Aku bukanlah orang yang menentang konsep "dewa", karena bagaimanapun ini kedua kalinya aku melihat "makhluk" seperti itu. Tapi, kedua "makhluk" itu meninggalkan kesan buruk dalam diriku.

Aku melirik orang yang sedang tertidur di atas kasur yang tak jauh dari sofa yang kududuki. Dia mungkin adalah salah satu orang yang mendapat kesan paling buruk terhadap makhluk bernama dewa.

Minggu, 17 Juli 2016

[ROUND 1 - 9I] 06 - LUCAS MASOLEUM | PENYELAMATAN DI STARBRIGHT.INC


oleh : R.J. Marjan

---

The Dream

Aula Museum Semesta, lebih dari enam puluh orang tak sekalipun membuatnya sesak. Mereka berkumpul di atas karpet merah dengan kebingungan dan keterkejutan. Di dinding, di atas permadani berhiaskan benang merah dan emas, berjejer lukisan-lukisan luar biasa. Emas membingkai tiap kanvas besar yang memuat laga-laga penuh drama dan aksi. Para Reveriers.

Lucas berdiri disana, tak memperhatikan apapun selain lukisan yang memuat gambaran dirinya, baru saja menembakan pisau, dan kabel listrik jatuh di depannya. Garis listrik kekuningan yang memercik terasa begitu nyata. Disana, dengan detil terlukis gambaran dari sosok yang tengah menjulurkan tangan, menggeliat. Daniel. Lucas jelas tak menikmatinya. Juga tak menyesalinya.

Ketika mengedarkan pandangan ke sekeliling, dia menyadari tiga sosok di dekat pintu tengah mengamati orang-orang yang kebingungan ini. Salah satu dari mereka terus menjawab tanda tanya dari para reverier. Mereka tau banyak.

Dari ketiga sosok itu, Lucas mengenal salahsatunya, Ratu Huban. Kali ini, dia geram akan mereka yang menahannya dalam mimpi ini. Untuk apa? Dia tak menemukan gagasan masuk akal di benaknya.

"Apa ini? Apa maksudnya semua ini? Siapa kalian?" Dia mengeraskan suaranya.

Mirabelle, Sang Dewi Konservasi sempat menjawab sebelum gempa bumi dan pekik kesakitan melingkupi aula. Beberapa orang menatap langit-langit dengan nanar sementara tubuh mereka perlahan menjadi tanah liat. Lucas menatap Sang Dewi dengan kengerian dan tanda tanya. Yang didapatnya hanyalah kata maaf dari mulut Mirabelle. Pria necis di sampingnya tak berhenti berkilah sementara Ratu Huban, si kepala bantal malah tertawa dibelakangnya.

Kesewenang-wenangan. Sebenarnya Lucas tak begitu peduli. Dia tak peduli pada orang yang kini telah menjadi tembikar. Tapi kekhawatirannya berpusat pada dirinya. Bahkan saat rasa sakit menyelimuti semua reveriers. Lucas mengerang sakit, hingga cahaya membawanya pergi. Dia cemas.