The Black Lambs
By Mocha_H
--
Prolog
Zainurma mengetuk-ketuk kesal lantai koridor musium dengan ujung sepatunya. Sebenarnya sang kurator berambut klimis itu cukup penyabar, bahkan dia rela menunggu peserta yang terlambat datang tiga jam. Hanya saja, kali ini ia sudah menunggu setengah hari.
"Mbeek~" embikan domba terdengar di ujung koridor.
Mata Zainurma berkelebat secepat kilat ke asal suara itu, seekor domba mimpi yang tengah menggendong sesuatu berbalut selimut hitam.
"Apa ini?"
Ketika Zainurma hendak menarik kain lusuh itu, ia merasakan perlawanan dari apapun yang diangkut si domba, mencengkram kuat selimut yang menutupnya. Maka detik itu kesabaran sang kurator habis, ia berputar ke samping si domba dan menendang domba sekaligus penunggangnya hingga jatuh.
Si domba berdiri kembali dengan cepat, langsung mengembik bernada marah pada sang kurator. Namun penunggangnya terkapar tak bergerak sedikitpun.
"Kamu masih hidup, kan?" tanya sang Kurator, kembali menendang si penunggang.
Si domba tak terima melihat sang tuan ditendang oleh Zainurma. Ia mengembik marah, menghadang sang kurator dan melanjutkan hitungan tendangan. Sebanyak tiga kali.
Sang kuratorpun membatu, penasaran apa yang terjadi antara si domba dan majikannya sampai si domba menendang si tuan, bahkan tampak begitu ceria setelah melayangkan tendangan keempat. Tidak, sang Kurator salah hitung, ini sudah ketujuh kalinya.
"L-Lapar..." suara rintihan terdengar dari balik selimut itu.
Tangan hitam sang reverier berusaha menggenggam apapun di sekitarnya. Hingga tertangkaplah kaki si domba.
"MAKAN!!!"
Bagai seekor hewan penuh amarah, sebuah cairan hitam merambat naik ke kaki si domba, menjalar ke tubuh lain si domba hingga ia terbungkus dalam cairan hitam itu.
"Selamat makan~"



