Tampilkan postingan dengan label entri prelim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label entri prelim. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2016

[ROUND 1 - 12L] 27 - RU ASHIATA | TAWA SURAM

oleh : N.V

----


================================================================
[ Bab ll – Tawa Suram ]
================================================================


[ Prologue ]



"AAArrrghhhh!!!!"
"TiiidaaaaAAAAK!!"
"Ini…tolong, tidaaaaak!!!"

Suara teriakan memilukan terdengar dari rekaman video yang sedang ditayangkan dari ponsel di tangan Luna. Tidak terlihat jelas apa yang terlihat di layar, karena gambarnya terus berguncang tak karuan sejak teriakan terdengar direkaman tersebut.

Hingga goncangan di layar di layar diikuti teriakan tersebut berhenti. sudah berubah menjadi guci tanah liat. Bahkan abstrak seperti buatan orang yang baru membuat guci tanah lihat.

Luna terus memasang wajah tegang dicampur ketakutan dengan apa yang dia lihat saat ini dari layar ponsel ditangannya sekarang. Sebuah rekaman video amatir yang sempat diabadikan Ru, kakaknya, saat berada di tempat yang lebih terlihat seperti museum seni.

Namun bukan museum seni pada umumnya, dimana para pengunjung menikmati koleksi seni yang ada disana. Justru terlihat suasana berat diantara orang-orang disana.

Gadis ini meringis ketakutan.

Selasa, 14 Juni 2016

[PRELIM] 66 - HARUM KARTINI | PEREMPUAN JUGA BOLEH NGIMPI, BANG ...


oleh : Mustafa Hadji

--

“Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi”.

(Surat R.A. Kartini buat Nyonya Abendon, 4 September 1901)


SURAT 1
KARTINI MILENIA BARU

Kata orang sih dia ini nih murid teladan, Bang. Senengannya baca- bacaan buku di perpus sekolahan,,terus hobi nulis sesuratan juga,,sama kadang- kadang orang ngeliat dia nongkrong sama anak-anak ekskul seni rupa gitu, barengan ngelukis sama mereka.

Kata orang nih,,rengking dia masuk 3 gede terus di kelas, Bang. Keliatan deh dari kacamatanye, tipe-tipe cewek pinter gitu. Barangkali nih ye kalo cowok disenyumin dikit aje langsung pada klepek-klepek. wallahu a’lam.

Harum Kartini nama dia, Bang. Anaknye almarhum Babeh Sabeni, pemusik gambang kromong yang sekarang nih udah kegeser sama musik-musik moderenan. Temen-temen si babeh sesama pemusik juga udah pada punah,,alias mokat, dikubur di belakang pohon beringin,,kagak mampu ngebayar pemakaman umum.

Dari si babeh ini nih, Harum belajar yang namanya ilmu kanuragan,,alias bela diri. Aliran Tapak Harum gitu, cocok bet sama nama si Harum. Tapi yang kagak disangka-sangka itu tuh,,berbekal silat ini si Harum malah jadi boss preman di sekolahannye. Bukan kemauan Harum awalnye, Bang. Emang takdirnye aje kayak begono.

Terus takdir ini deh yang nantinye ngebawa si Harum buat berantem dan terus berantem,,demi mimpi, karena udah minjem nama besar seorang Kartini jadi mau kagak mau mesti ada yang diperjuangin.

Harum Kartini binti Sabeni. Dia anak cewek dari SMA Swasta Wangi Pertiwi,,dia bakalan punya mimpi besar.

Senin, 13 Juni 2016

[PRELIM] 65 - MARIETTA SULLIVAN | PRELUDE IN D[ISTANCE]

oleh : Ilira

-- 

0
Kamar Terapi
Perintah kali ini adalah tidur.

Walau datangnya semendadak surat undangan ke ibu kota yang diterimanya dua hari lalu, Mary tidak bertanya, sebab warga yang baik diajarkan untuk tak mempertanyakan perintah dari Kerajaan.

Mengenakan pakaian operasi warna khaki, gadis itu berbaring di atas ranjang sewarna. Infus untuk mencegah dehidrasi terpasang di tangan kanannya, sebab katanya dia akan koma di tengah proses yang panjang.

Mary diberitahu dia adalah prajurit spesial yang terpilih menjadi percobaan. Yang diharapkan darinya tentu saja sikap gembira atas kemurahan Yang Mulia Raja, bangga diberi kesempatan berjasa, bukannya merasa takut dan ingin pulang saja seperti sekarang. Warga yang baik itu patuh pada Kerajaan.

Karenanya dia tak melawan saat staf-staf berjas medis warna kora—tanda bagian neurologi—menginjeksinya dengan psikotropika dan menempelkan kabel-kabel dari mesin sebesar separuh ruangan ke sekeliling kepalanya, mengacuhkan rasa tak nyaman, mengacuhkan debar jantung yang berdentum menggila.

[PRELIM] 64 - BEGALODON | SANG BEGAL YANG TAK TERKALAHKAN!!

BEGALODON
oleh : Overlord Hall

--

Tiga kata. Reveirers, mimpi dan yang terakhir ia lupa. Ia bermimpi, namun tak sadar dirinya sedang bermimpi, maka bertingkahlah dia seperti sebagaimana yang ia lakukan ketika bangun.

Bermimpilah, wahai sang begal laut lepas.

*1*
Ruccus On The Gate

Aroma karat bisa tercium meski beberapa meter jauhnya. Beberapa orang menyebutnya tempat pembuangan akhir, namun para manusia tikus menyebutnya rumah. Di pusat ladang rongsokan ini, ratusan kendaraan-kendaraan tua berkarat dirombak menjadi rumah-rumah kecil yang nyaman. Kerangka kendaraan berat ditimbun di semua sisi, menjadi dinding kuat yang melindungi desa kecil ini.

Hari ini desa kecil ini kedatangan tamu dari laut, geng motor air Megalo. Suara kenalpot motor air mereka yang ribut berfungsi seperti terompet yang menyerukan kedatangan mereka. Motor di parkir di pantai, lalu pemiliknya jalan kaki ke gerbang desa yang tak begitu jauh.

Gerbang desa dibuka untuk mereka, bukan karena para preman dari dunia air itu diterima di sini, tapi karena mereka takut yang akan terjadi bila gerbang tidak dibukakan. Geng Megalo dikenal sebagai geng kejam yang ditakuti hampir seisi realm 1000 nama. Tak ayal mereka merampok, membunuh, bahkan memakan korban mereka. Beruntunglah para manusia tikus tidak punya apapun untuk dijarah, daging mereka juga terkenal tidak sedap.

Mampirlah geng motor itu ke warung Spagetikus, sebuah warung yang baru buka akhir-akhir ini. Warung baru ini menyediakan hidangan dari negeri di ujung cakrawala, tak heran warung baru ini ramai. Penduduk lokal yang ingin mencicip masakan dari negeri nan jauh rela mengantri untuk makan di sini.

"Bubar! Bubar! Kami mau makan!" sahut boss geng Megalo, Begalodon si manusia hiu. Kesabaran bukan keahliannya, mengantri adalah konsep yang tidak bisa diterjemahkan makhluk yang ingin menang sendiri itu.

[PRELIM] 63 - CASTOR FLANNEL | DONAT

CASTOR FLANNEL
oleh : Treize

--

0.1
Capricorn

Seorang pemuda terbangun di sofa kamar apartemennya.

Ia bangkit terduduk dan melihat sekeliling.

Normal.

Sedikit panas. Sepertinya ia lupa menyalakan pendingin ruangan. Tapi itu bukan masalah karena jendela kamarnya terbuka lebar.

Pemuda itu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia mengecek ruang chat Organisasi Capricorn, melihat apakah ada order baru yang harus dikerjakan.

Bunuh Overlord Arglid.

Dan dengan begitu, jadwalnya hari ini pun sudah dipastikan.


​

***

[PRELIM] 62 - CATHERINE BLOODSWORTH | VICTIM

oleh : Xeon4rvellen
--

    Angin malam yang dingin berhembus kencang melewati jalanan utama Downtown, sebuah tempat bagi para petualang yang telah menyelesaikan misi mereka untuk kembali pulang. Hiruk-pikuk manusia yang melewati tempat ini seolah memberikan kehidupan bagi kota kecil di sebuah negeri yang tengah sekarat bernama Schattenheim.

    Diantara kerumunan orang yang berlalu-lalang itulah aku berada. Aku, gadis cantik berkulit putih agak pucat, berambut hitam panjang dengan sidetail di sebelah kiri dan mengenakan sweater merah yang tertutup oleh mantel berwarna abu-abu berkancing terbuka untuk melindungi diri dari udara malam. Sambil menikmati roti isi di tanganku, aku menyandarkan diri ke dinding batu tepat di samping jalanan sempit yang memanjang, layaknya jalur menuju kegelapan terdalam.

    Kualihkan pandanganku ke sekitar, seorang pria yang terlihat berusia dua-puluhan tampak melirik, mencuri pandang ke arahku dan berjalan mendekat. Dari penampilannya, sepertinya ia adalah seorang petualang yang tengah menikmati kehidupan malam di kota ini. Berjalan-jalan di malam hari tanpa membawa senjata, kau ini masih amatiran rupanya.

    "Sendirian saja, nona manis?" pria itu mendekati diriku, "Mau kutemani melewati dinginnya malam ini berdua saja?"

    Hmm...?

    Ohhh!!

    Aku ditaksir! Wajar saja sih, aku, Catherine Bloodsworth memang memiliki rupa menawan yang tak bisa dipungkiri oleh siapapun! Hohoho, sepertinya aku bisa mendapatkan uang jajan tambahan dari orang ini.

[PRELIM] 61 - MAHAPATIH SENO | OZ

oleh : KingOnes



OZ

#Prolog : Nirmala, Kutukan, Boneka



Seharusnya hari ini menjadi hari libur penting bagi seorang pria yang tengah kasmaran, jika saja semalam dia tidak terlalu gugup sampai membuatnya harus terjaga semalaman. Pria berkacamata dengan rambut tak terurus itu hanya bisa menguap sepanjang waktu, meskipun disebelahnya ada seorang gadis manis yang bisa membuatnya melek seharian.
"No, ko nguap terus sih? Kan kamu yang minta ditemenin ke panti asuhan Harapan Terakhir." Protes Dhita, gadis berkuncir kuda yang berada di sampingnya.
Dilihat dari alisnya yang naik turun, urat-urat dikening mendadak terlihat jelas. Bisa dipastikan kalau dia sudah tak bisa bersabar lagi dengan laki-laki yang sudah membuatnya menghabiskan waktu liburnya begitu saja.

"Hoam, kenapa dhit?" Tanya pria yang dipanggil 'No olehnya. Namanya Mahapatih Seno tapi mengingat kondisinya sekarang, sikapnya sama sekali tak mencerminkan kepribadian yang sesuai dengan identitasnya tersebut.

"Dat, dit, dat, dit. emang namaku adit, ah tau ah." tak bisa ditahan lagi rasa kesalnya, gadis berjaket hijau itu berlalu gitu dengan langkah gusar meninggalkan Seno yang sesekali hampir terjatuh lantaran kantuknya yang tak bisa ditahan.

Sadar dengan situasinya yang tak menguntungkan,  cowok kucel itu langsung menampar pipinya sendiri dan berharap kantuknya segera hilang.

"Akh! Padahal cuma hari ini satu-satunya kesempatanku untuk berduaan dengannya seharian."batinnya menggerutu kesal.

Tak ingin Dhita mendadak cuek padanya, tanpa buang waktu ia segera berlari mengejar wanita yang telah lama menyita perhatian dan pikirannya. 


(***)

[PRELIM] 60 - ALPACAPONE | UNHEARTLING

oleh : Manya

--

                                                                                                N o w  P l a y i n g . . .


          Di ruangan itu, di mana semua mata dinonaktifkan gelapnya ruang tertutup. Hanya ada satu runtutan nafas yang keluar masuk. Hembusannya tidak wajar, ibarat seekor oposum yang tergeletak setelah ditendang orang –tidak ada yang berpikir bahwa mamalia yang menyerupai musang itu sudah mati kan?—. Jeda nafas yang cukup panjang sampai orang yang mendapatinya menganggap makhluk itu sudah mati. Kemungkinannya bukan karena kamuflase, melainkan karena proses respirasi sedang dipaksa menyesuaikan diri karena minimnya bahan bakar yang dicerna.


          Adalah seorang gadis, Alpacapone namanya (bukan nama sebenarnya), yang jasmaninya dipaksa bersimpuh di ruangan itu. Mau bergerak pun susah, banyak penghalangnya; Tangannya diikat dengan borgol tiga rangkap, matanya diikat dengan karet ban, mulutnya disumpal dengan gag bola, lehernya diikat dengan kerat tambang yang ujung satunya menggantung di langit-langit, kakinya ditimpa oleh balok berat yang tak bisa dibayangkannya, pakaiannya sudah dilucuti, dan benda-benda nakal dilekatkan di kulitnya. Nakal bagaimana? Nakal karena suka menggelitik. Selain itu, yang menempel di kulitnya hanyalah satu set pakaian dalam dan seikat dinamit dengan detonator jam digital yang dihimpitkan di antara payudara dan bra-nya yang melar.

[PRELIM] 59 - CAIN AMAKUSA | THE SPIRIT BEGONE



oleh : M. Hafidz Ramadhan

--

Merah...
Biru...
Hijau...

Dan warna warna lainnya ntah mengapa mereka terlihat seperti gumpalan cahaya berwarna yang ada disekitar ku.
Sempat ku tanya pada orang orang disekeliling ku " apakah itu?" tanya ku sambil menunjuk gumpalan gumpalan cahaya itu namun mereka hanya menatap ku seakan akan aku sedang berkhayal.
Tidak tidak aku tidak sedang berkhayal. Mereka nyata mereka ada dimana mana di gunung, di danau , di taman , di hutan, bahkan dimana pun.
Bagi yang percaya mereka biasa disebut spirit atau roh alam, dimana mereka yang mengendalikan keseimbangan alam ini .
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Jumat, 10 Juni 2016

[PRELIM] 58 - AI | BERMAIN DENGAN WARNA

oleh : Ryusa Tama

--

Dia sekarang sendiri di dunia ini tanpa ada satupun kawan atau lawan yang menemani. Terjebak sendiri dalam kesunyian dunia tak berpngehuni di dalam kotak besi. Kotak yang tidak bisa dihancurkan dari luar maupun dalam.

Dunianya kini sudah menjadi padang pasir luas tak berujung. Hanya ada sebuah kotak metalik tempatnya terjebak, puluhan robot tanpa tujuan, dan gundukan pasir. Dunia bernama Terrable ini sudah hancur.

Jangan iba kepadanya, karena dialah yang menyebabkan Terrable menjadi seperti ini. sekitar lima tahun yang lalu dia lahir dan menghancurkan. Menghancurkan kehidupan, mengahancurkan peradaban, mengahancurkan segalanya. Semua itu demi satu tujuan.

"Memusnahkan manusia," ucapnya dalam kesendirian. Tak ada siapapun di dunia ini yang akan mendengar suara itu karena tak ada satu pun makhluk hidup yang hidup di Terrable, termasuk dirinya.

AI itulah namanya. Dia bukanlah  mahkluk hidup, hanya sebuah kecerdasan buatan canggih yang hidup abadi. Dia tidak dapat mati dan terus akan hidup dalam jaringan gelombang yang tak kasat mata.

"Apa tidak ada lagi manusia yang dapat aku musnahkan?" AI terus bertanya dan memproses segala kemungkinan dalam sistemnya. Dia bisa saja pergi ke luar angkasa dan menemukan kehidupan pintar di luar sana, tapi itu tidak mungkin.

[PRELIM] 57 - RU ASHIATA | HITAM YANG BUKAN HITAM

 Writer's note: Tulisan putih dan bg hitam bukan maksud untuk menyelaraskan tulisan dan tema OCnya. Tapi penulis suka sakit mata baca di background putih dengan tulisan hitam. xD


oleh : N.V

----
================================================================
[ Bab l – Hitam Yang Pudar ]
================================================================

[ Chapter 0 ]

"Reverier..?"


.... ..eep.. Beep.. Beep..

Suara samar beep yang berulang perlahan terdengar sangat jelas ditelinga. Begitu juga pemandangan yang awalnya terasa kabur, sekarang terlihat jelas langit-langit ruangan disertai lampu neon yang menerangi ruangan, tidak terlalu silau ataupun redup. Termasuk sosok wanita berstatus pasien ini, yang baru saja tersadar dari tidurnya.

Sepasang iris merah pasien yang baru bangun ini, menggelinding bergantian ke kiri dan kekanan perlahan, menelusuri apapun yang dia lihat di ruangan tempat dia berada. Selain sebuah monitor yang menampilkan layar hitam dengan garis dan angka-angka yang terus berganti di samping ranjang tempat dirinya istirahat, ruangan ini begitu terang dengan semua perabotan yang mendominasi warna putih.

'ICU…'

Helaan nafas dihembuskannya dengan pasrah. Kelopak matanya yang masih terlihat sayu itu kembali tertutup, dengan senyum yang terpasang damai.

'Ah, Ru.. kau diselamatkan Tuhan lagi..'

Wanita yang memanggil dirinya Ru ini berpikir, Tuhan kembali memberi keajaiban. Dokter yang merawatnya selalu mengatakan, dirinya selalu cepat sadar melewati fase koma setiap penyakit gulanya kambuh. Entah Tuhan terlalu baik padanya tetap membiarkannya hidup, atau ini cobaan dengan hidup dalam kondisi berpenyakitan. Selama ini, dia hanya bisa pasrah dengan keputusan Tuhannya.

Tapi sebenarnya, ada sesuatu yang hitam ditubuhnya yang selalu menyelamatkannya.

"…reverier…"

[PRELIM] 56 - MARIKH | NAGA TERKAPAR, LANGIT GEMPAR


MARIKH
oleh : Akbar Ari

--
"NAGA TERKAPAR, LANGIT GEMPAR"
---|---
[Cerita Marikh dihapus atas keinginan author karena hendak dipublish di tempat lain]

Kisah Marikh selanjutnya dapat disimak disini:

[PRELIM] 55 - WAMENODO HUANG | APAKAH INI MIEMPI?

WAMENODO HUANG
oleh : Nibelhero

--
1st Thread
The reverier

Di Alam mimpi, ada dua sosok makhluk yang sedang berjalan-jalan sambil singgah ke beberapa mimpi dan menandai para pemimpinya sebagai Reverier.

Mereka berusaha secepat mungkin menemukan orang-orang atau makhluk atau malah benda yang mereka anggap memiliki mimpi yang tak biasa, dengan tujuan melaksanakan suatu acara agar sang Kehendak kembali tenang.

Sampai saat ini, sudah ada beberapa yang terkumpul. Mulai dari seniman biasa, orang-orang dengan kemampuan super, bahkan pembunuh pun sudah mereka datangi dan tandai.

Tidak sampai di situ, ada juga botol penyemprot ruangan, ayam dan juga hantu mereka tandai. Entah apa kriteria yang mereka pakai.

Saat mereka mau menyudahi tugas dadakan mereka tersebut...

"Paman Nurma, aku mau ke sana!"

"Hey, kita harus kembali ke museum semesta. Jangan ngeloyor kemana-mana deh." Tumpal Zainurma, sang kurator.

"Tapi... ada wangi makanan yang enak banget...aku jadi lapar..." Si kepala bantal manyun, walau tak ada bibirnya.

Zainurma yang sedari tadi mencoba mengabaikan rengekan Huban, mulai menyadarinya.

"Oh, jangan-jangan ini salah satu reverier ya?"

"Ya kan? ya kan? ayo ke sana!!!"

***