oleh : Wildan Hariz
--
PRELUDE
TO A DREAM
ALPHA
WAVE
Riuh melanda hamparan luas pematang sawah. Semarak
para petani menyambut musim panen terdengar. Asep mendengar kalau tahun ini
adalah salah satu panen terbesar dalam sejarah. Ia sama sekali tak ingin
melewatkan perayaan besar nanti malam di Balai Desa. Sudah dua bulan hujan dan
cuaca tak mendukung aktivitas melanda Desa Karikil. Tak menguntungkan memang
bagi para pekerja. Namun ada berkahnya bagi ladang yang dahaga akan air setelah
kemarau panjang.
Tali sepatu Asep ikatkan kuat-kuat. Ia tak mau
terlihat konyol oleh teman-temannya kalau jatuh karenanya. Muka Asep sudah
menor benar dengan bedak yang dibubuhkan ibunya. Begitulah ibu. Anak ingin
bermain saja penampilannya harus prima, seperti akan mengantri giliran sunat.
Kendati Asep bukan salah satu di antara antrian itu, ia tetap pakai bedak itu
dengan bangga.
“Mah. Asep main dulu yah! Nanti udahnya mau nginep di
rumah Rudi. Jam 8 pagi pulangnya!” seru Asep seraya membanting pintu tak
sabaran.
“Iya! Hati-hati ya, Sep! Jangan ngerepotin ibunya Rudi
di sana!”
Ibu Asep bahkan tak perlu repot menoleh lantaran ia
asyik menonton sinetron Turki. Entah pula kata-katanya sampai telinga Asep atau
tidak. Yang penting, ia percaya bahwa kata-katanya selalu diindahkan oleh Asep,
seberapa kalipun ia pernah memberontak.
Dengan sarung diselendangkan pada bajunya, Asep memacu
langkah sandal jepitnya ke balai desa. Cuacanya cukup dingin bagi Asep yang
memakai celana pendek, jadi ia mulai memakai sarungnya untuk melindungi bagian
bawah berharganya yang kedinginan.

