Tampilkan postingan dengan label Fatanir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatanir. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2016

[FBC] 032 - ALEX ALDUIN

ASEP CODET (ALEX ALDUIN)
VERSUS
SANELIA NUR FIANI
FATANIR
LAZUARDI
[Tantangan NV6]
oleh: Dendi Lanjung

---

Peringatan: Cerita ini dibuat penulis tanpa melihat kembali charsheet OC yang bersangkutan. Semua OC ditampilkan berdasarkan gambaran kasar karakterisasi dan garis besar kemampuan khususnya.


[$1]
Semua Yang Terjadi Di Dunia Ini, Diawali Dengan Ledakan


DUAAARR!! Begitulah cerita ini dimulai.

Bersamaan dengan suara ledakan, sebuah lubang tercipta dari ketiadaan, menciptakan sebuah jalan tembus yang merobek ruang dan waktu.

Dari lubang tersebut, sesosok pria bertubuh besar, berambut kelabu, terlempar dengan kasar dari ujung sana.

Ah, ralat, rambutnya ternyata bukan kelabu, tapi ubanan.

Walau terlempar di tanah yang keras, si pria seperti tak merasakan apa-apa. Tangannya yang besar, menepuk-nepuk debu dan kotoran yang menempel di tubuh atasnya yang tak tertutupi kain apapun. Pria itu bernama Alex Alduin, atau lebih dikenal orang-orang dengan nama...

Asep Codet.

Minggu, 13 Maret 2016

[FBC] 028 - ADAM CAINABLE

VERSUS
FATANIR
SANELIA NUR FIANI
[Tantangan V1]
oleh: Kakarotomo

---


"DREAM THEATER"



Stage I

The Arrival


Seorang pria berjaket kulit merah gelap tampak berjalan menyusuri ruang bidang putih tanpa batas. Mata biru navynya menjelajah ke seluruh penjuru arah. Dengan teliti, ia memeriksa segala sesuatu yang mungkin akan memuaskan rasa ingin tahunya.

"Hey!"

Fokusnya terpecah saat suara tanpa rupa memasuki rongga telinganya tanpa permisi. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari asal suara tersebut.

"Di sini!"

Lelaki itu berhenti, menggerakkan kepalanya ke arah asal suara yang berada di belakangnya. Benar saja, sesosok makhluk berjas dengan kepala bantal lucu berwarna ungu tengah berdiri di hadapannya. Tubuhnya setinggi anak kelas lima SD, tak lebih tak kurang.

Si gondrong flamboyan sedikit terhenyak. Ia baru pertama kali melihat makhluk yang keanehannya melebihi makhluk lain di semesta. Kewaspadaannya menurun seiring sorot matanya yang mencoba mengajak bersahabat.

"Siapa kau, nak?"

"Namaku Ratu Huban, salam kenal.." Tangan Ratu Huban terulur mencoba bersalaman.

Adam langsung menerima jabat tangan Ratu Huban, "Adam Cainable, panggil saja Adam. Ngomong-ngomong di mana ini?"

"Alam mimpi," jawab Ratu Huban singkat.

"Alam mimpi?" Dahi Adam mengerut. "Jadi semua ini hanya khayalan belaka."

Ratu Huban berjingkrak-jingkrak mengelilingi tamu pertamanya sambil memutar tongkat berwarna pelangi miliknya. "Bisa dibilang iya, bisa juga nggak. Dunia ini bukan ilusi, semua ini nyata. Hanya saja tempat ini emang tercipta dari utopia semua makhluk. Khayalan, impian, cita-cita, lamunan dan juga trauma. Makanya wujudnya suka berubah-ubah."

"Pantas semuanya terlihat begitu abstrak. Tadi berisi, sekarang malah kosong," ujar Adam.

"Gitu deh, namanya juga mimpi." Logat Ratu Huban mulai terdengar seperti orang Betawi. "Betewe, apa mimpimu?"

Adam terdiam seribu bahasa. Kepalanya mendongak ke atas seolah mengamati sesuatu yang tak terlihat. Sorot matanya terlihat sayu dengan kelopak matanya yang sedikit menyempit. Otaknya menjelajah di memori yang telah berusia melebihi jagat.

"Aku ingin menjadi manusia," jawabnya polos.

"Bruakakakakakakakakakakak!!!"

Tawa Ratu Huban meledak begitu hebat. Ia jatuh berguling-gulingan ke segala arah. Bahkan air mata muncrat dari dua lubang di bantal ungunya. Ia memukul lantai berkali-kali seolah tak bisa menahan sensitivias humornya yang meledak.

Sementara Adam hanya terdiam sambil menatap kelakuan lebay si penghuni alam mimpi. Ia mencoba berpikir mimpi keduanya yang terlihat konyol. Menjadi manusia? Sehina itukah?

"Aduh..auh. perut aye kram," Sang Makhluk Mimpi mulai mencoba berdiri sambil memegang perutnya. "Ente kan sudah jadi manusia?"

"Ini hanya kulit."

"Eh?"

Adam mengangguk pelan. "Pada dasarnya aku bukan dari kalangan manusia, Ratu Huban. Kau tahu? Berkelana ke berbagai tempat di dunia fana ini. Melihat setiap kehidupan datang dan pergi."  Pandangannya kembali diarahkan ke atas. "Sampai dua insan itu datang dari langit."

"Kau bicara tentang dua manusia pertama yang diceritakan dalam literatur suci,  kan?" tebak Ratu Huban. Logatnya mulai normal.

"Yah, hanya darah dan daging yang menyusun tubuh mereka. Tapi para manusia bisa melalui semua itu dengan hanya mengandalkan akal dan kerja sama satu sama lain. Bukankah itu sangat indah? Mereka sungguh membuatku iri."

Ratu Huban hanya manggut-manggut. Perlahan ia mengerti kenapa makhluk berkulit manusia di hadapannya sangat mengagumi ras yang ditakdirkan menjadi khalifah bumi oleh Yang Maha Kuasa.

"Sorry, tadi aku lupa bilang. Ada aturan main di Alam Mimpi. Pertama, setiap jiwa yang mati di sini akan menjadi bagian dari Alam Mimpi. Kedua, jika jiwa tersebut berstatus masih hidup di semesta asalnya, maka ia harus menjalani tes untuk menunjukkan kualitas usaha mewujudkan mimpinya," kata Ratu Huban berusaha menjelaskan.

"Tes?" Dahi Adam mengkerut.

Si bantal mengangguk. "Yup! Tesnya akan disesuaikan dengan personalisasi setiap jiwa yang mampir ke Alam Mimpi. Jika sampai mati, maka jiwa-ragamu akan menjadi serpihan Alam Mimpi."

Ratu Huban mengarahkan ujung tongkatnya ke atas. Tiba-tiba benda kesayangan si Makhluk Mimpi itu menyemburkan sebuah kembang api yang menyebarkan kelap-kelap berwarna-warni. Secara ajaib, sisa cahaya kembang api itu berpusar menjadi portal dimensional berwujud pusaran lubang hitam.

"Oi! Aku masih banyak per-"

Ucapan Adam terpotong saat tubuhnya terhisap ke gerbang secara instan. Pada saat itu juga pusaran ciptaan perempuan berkepala bantal itu menghilang usai melaksanakan tugasnya.

"Sekarang waktunya nonton pertandingan," ucap Ratu Huban.

Selasa, 08 Maret 2016

[FBC] 026 - EMOAR CYANITH

EMOAR CYANITH
VERSUS
FATANIR
MIMA SHIKI REID
[Tantangan NV5]
oleh: Dimas Pamungkas
---

[Hari Penghakiman]

Prolog

Ketika kubayangkan kembali neraka yang telah kulewati demi mencapai keadilan paling sempurna, rasanya sangat mustahil kalau ternyata sekarang aku masih hidup.

Benar, aku semestinya mati—jiwaku, ragaku, seharusnya sudah mati pada saat itu.

Aku tidak melebih-lebihkan, tidak juga mendramatisir apapun yang terjadi beberapa saat yang lalu. Meski hanya sebatas satu kedipan mata, semua yang kualami terasa seperti sebuah keabadian. Bagaikan mimpi, walau jika saja memanglah mimpi, aku yakin itu adalah mimpiku yang paling buruk.

… Atau bahkan paling baik.

Yang manapun itu, aku rasa siapa saja bisa menilai sendiri esensi apa yang sebenarnya kudapatkan. Meski aku mengatakannya sebagai keadilan paling sempurna, bukan berarti itu sempurna sepenuhnya. Atau mungkin lebih tepatnya, alat yang kugunakan itu sendirilah yang sempurna.

Aku tidak sempurna. Aku yang menggunakannya tidaklah sempurna. Sama sekali tidak.

Jadi, apabila ada suatu kesalahan yang kubuat—kumohon beritahu aku.

Karena aku menginginkannya.

Karena aku menginginkan kesempurnaannya.

Sebab, apa yang kurasakan setelah menutup tirai yang akan aku buka kembali ini—


—bagaikan memimpikan sesuatu yang semu.


***

Minggu, 06 Maret 2016

[FBC] 021 - FATIMA DHU AL-QARNAYN

FATIMA DHU AL-QARNAYN
VERSUS
FATANIR
ROGER DANIEL
[Tantangan NV2]
oleh: Zoelkarnaen

---

That Damn Dream's Damsel


Jam dinding berdentang dua belas kali saat pintu kantor Biro Investigasi milik Dale mendadak terbuka, deru badai pasir pun bergemuruh mengiringi mengiringi masuknya sosok wanita bertubuh tinggi dan besar. Dari tangannya ia melemparkan sebuah karung yang berlumuran darah, lalu tanpa basa-basi ia segera merebahkan dirinya di atas sofa ruangan kantor tersebut.

Sementara itu di sisi terjauh ruangan dekat jendela, seorang pria paruh baya yang sebelumnya sibuk mengetik sesuatu kini berhenti sejenak. Pria itu menghela napas panjang seraya memijat keningnya sendiri.

"Fatima, bisa tolong jelaskan kepadaku, apa maksud dari semua ini?" tanya pria yang bernama Dale itu akhirnya.

"Itu buronan targetku," jawab Fatima langsung. "Kau tahu, pekerjaan yang kau berikan kepadaku minggu lalu, yang kliennya adalah pihak kepolisian?"

"Ya-ya aku tahu, karung kecil itu pasti berisi potongan tangan dan kepala dari si keparat malang, tapi bukan itu yang kutanyakan. Kenapa kau datang ke sini di tengah badai pasir, lalu mengotori karpet baruku dengan darah buronan?"

Dale pun berdiri sambil menunjuk ke mejanya. "Lihat ini, lihat ini semua! Mejaku, kopi ku, dan berkas-berkas yang baru saja kuketik, semuanya bertaburan pasir!"

"Brewok manja, jangan bawel, ah!" hardik Fatima yang kini berguling di sofa memunggungi bosnya. "Kalian bangsa Eydis terlalu banyak mengeluh, memangnya kau pikir semua orang yang kau temui itu dari bagian pengaduan?"

Biasanya Fatima akan lebih tahan dengan segala keluhan yang dimuntahkan Dale, tetapi rasa lelah yang ia rasakan saat ini membuatnya malas melayani segala ocehan si brewok itu. Hanya tidur nyenyak yang ia inginkan di siang hari berbadai ini.

Baru saja Fatima akan memejamkan kedua matanya, pintu ruangan kantor kembali terbuka, membawa deru dan debu masuk bersama dua sosok berjubah. Beruntung Fatima belum sempat melepas masker logam yang melindungi mulut dan hidungnya, atau saat ini mungkin ia sedang terbatuk-batuk seperti Dale.

Berusaha tak mengindahkan rentetan omelan Dale yang seperti senapan mesin, Fatima melepas rompi lalu memakainya untuk menutupi kepala. Fatima menduga kalau kedua sosok yang masuk barusan pasti Marreth dan Mirreth, putri kembar si bos.

Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Fatima terlelap, rasa penat yang dirasakan menyeretnya semakin jauh dari alam sadar. Suara omelan yang bercampur canda dan tawa pun terdengar semakin redup.

***

[FBC] 020 - FRANKA ZAITSEV


FRANKA ZAITSEV
VERSUS
MAHESA WERDAYA
BU MAWAR
FATANIR
(featuring MIMA SHIKI REID)
[Tantangan NV5]
oleh: Kay Rahayu
---

The Mysterious Man
  
[Cerita Franka Zaitsev dihapus dari blog atas keinginan authornya
karena dalam proses untuk dijadikan novel sendiri]

Kamis, 03 Maret 2016

[FBC] 014 - NOIDAL RAHIKA

VERSUS
FATANIR
BU MAWAR
EOPHI RASAYA
[Tantangan NV5]
oleh: Daka Prima Tanfiziah

---

Cerita Wredatama

Pada suatu hari, Noidal pernah mendengar mereka bertanya, "Kenapa kita bermimpi? Apa itu mimpi?"

Sungguh pertanyaan biasa.

Noidal langsung mendengar kalau beberapa dari mereka langsung mendapatkan variasi jawaban dari berbagai metode, sementara beberapa sisanya menghilang setelah bertanya. Mungkin menciptakan jawabannya sendiri, pikir Noidal. Sungguh tidak efektif.

Lalu satu pertanyaan muncul di benaknya.

"Mereka itu siapa?"

Lagi, sungguh pertanyaan biasa. Repetisi yang sia-sia.

Karena Noidal segera melanjutkan lelapnya setelah menyetel beker dan berkata dalam hati: tentu saja, siapa saja bisa bermimpi. Tanpa terkecuali, aku.

Dan mereka itu kita. Para pemain pentas ironi; bianglalanya ranah abstrak yang selalu siap dikejar atau mengejar.

***

Senin, 29 Februari 2016

[FBC] 011 - REA BENEVENTUM

REA BENEVENTUM
VERSUS
FATANIR
[Tantangan NV6]
oleh: Anastasia Inocencio
---

Kerajaan Dalam Mimpi

"Apakah ini pertama kalinya untukmu?" bisik Fata dalam desah tertahan.

Rea mengangguk. Aliran darah menjalar ke pipinya, melukiskan semburat merah pada wajahnya yang terpahat dengan begitu cantik.

"Apakah kau sungguh yakin bahwa kau menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu?" suara Fata yang dalam menembus dinginnya angin malam yang masuk melalui celah jendela.

Rea tidak menjawab. Matanya nanar menatap mata Fata yang berkilau diterpa cahaya lilin. Jemari lentiknya menyentuh bibir Fata, merasakan bibir itu menghangat, dan menciumnya dalam satu tarikan napas.

Kedua lengan Fata yang berotot berada di sisi wajah Rea, menekan ranjang dengan kuat seraya memperdalam ciuman yang semakin melenakan. Fata memejamkan mata, menikmati sensasi hangat ketika lidah mereka bertemu, menggeliat, dan saling mengait satu sama lain.

Tangan Rea menggapai ke bawah tubuh Fata, membelainya dengan lembut seolah menyulam sutra. Fata melepaskan ciuman, menegakkan tubuh untuk melepas kemeja dan celana yang dikenakannya. Mata hijau Rea memandangi tubuh Fata yang tanpa sehelai benang itu, mengagumi setiap lekuk tubuhnya yang tegap dan kokoh.

Fata merebahkan dirinya dengan punggung berada di atas ranjang, sementara Rea bergerak mendekati tubuh Fata. Rea mencondongkan tubuhnya untuk mengecup paha Fata bagian dalam, jemarinya membelai lembut paha bagian luar.

Kecupan hangat itu naik ke atas, berhenti pada pusar Fata untuk menjilatinya. Jilatan basah itu naik ke atas, mengeksplorasi dada Fata yang bidang hingga ke leher jenjangnya.

Kedua tangan Fata terulur untuk menangkup payudara Rea dan merasakan puncak dada yang mengeras di balik gaun. Jempolnya menekan puncak dada tersebut, diiringi dengan benda di pangkal pahanya yang semakin mengeras.

"Tanggalkan pakaianmu...." bisik Fata.

Jumat, 26 Februari 2016

[FBC] 005 - ALISTAIR KANE

VERSUS
FATANIR
LAZUARDI
ALSHAIN KAIROS
[Tantangan V1]
oleh: Andry Chang

---

"DI ATAS SEMESTA, ADA SEMESTA"


Hidup Alistair Kane adalah sebuah pencarian tanpa henti.

Baru saja beristirahat sejenak setelah kembali dari sebuah dimensi antah-berantah, ada saja yang harus Alistair kerjakan untuk memastikan segala sesuatunya kembali ke jalur semula. Tepatnya, segala sesuatu yang sempat ia ubah untuk suatu tujuan atau misi tertentu. Kali ini, yang harus diluruskan pria berambut, berkumis dan berjanggut serba putih padahal memiliki fisik setara manusia berusia genap empat puluh tahun ini adalah nasib dan takdir seorang manusia.

Seorang pria muda berambut hijau panjang bernama Raditha Ananta.

Untuk itulah Alistair sengaja "hadir" saat Radith kembali ke ranahnya sendiri. Radith telah menyelamatkan dirinya yang terjebak dan jadi lemah bagai manusia biasa di sebuah ranah asing. Dengan menggunakan sebuah mustika bernama Kotak Laplace, Radith mengembalikan kekuatan sejati Alistair sehingga keduanya dapat kembali ke ranah mereka masing-masing. Kebetulan Alistair memutuskan "mampir" sejenak di Bumi, menuntaskan pelbagai urusan penting termasuk satu yang terpenting, memastikan Vajra, pahlawan super dalam diri Radith bangkit kembali.

Namun, masih ada satu ganjalan terakhir.

Ganjalan itulah yang membuat Alistair Kane berujar, "Radith, mengingat kondisimu sekarang ini, sebaiknya kau menyerahkan Kotak Laplace padaku."

"Apa!?" Radith menggeleng tak mengerti. "Bukankah aku yang seharusnya menjaga kotak pengacau itu agar tak ada lagi yang bisa menyalahgunakannya? Itu keputusan Mima Shiki Reid, pemegang Laplace sebelumnya yang menyerahkan benda itu padaku lewat undian."

"Aku tahu. Hanya saja, kekuatanmu yang kini telah berkurang separuhnya saat kau tiba di Bumi ini takkan cukup untuk membendung daya Laplace bila benda itu sampai beraksi lagi kelak. Lagipula, penggunaan Laplace di Bumi pasti akan mengundang kutukan berupa maut abadi dari Yang Maha Kuasa. Tentunya kau tak ingin itu terjadi padamu, bukan?"

Radith terpaku seketika. Ia memang baru sadar bahwa ia bukan pemilik sejati kotak penentu takdir yang menampung kekuatan mahakuasa itu. Lagipula, Bumi bukan tempat yang cocok bagi Laplace, yang sebenarnya adalah sebuah pelanggaran terparah, baik terhadap hukum alam mauapun hukum ilahi.

Jadi, uluran tangan Alistair Kane itu malah menerbitkan satu pertanyaan dari bibir Radith, "Lantas, mengapa harus kau yang mengemban Laplace? Siapa kau sebenarnya, Alistair?"

Minggu, 14 Februari 2016

[KATALOG KARAKTER] FATANIR | TEKNOPATH

Ilustrasi oleh Sam Riilme
/1/ DATA KARAKTER
Penulis
:
Status Karakter
:
Juara [Battle of Realms 5 : Exiled Realm]
Nama Lengkap
:
Fatanir
Panggilan/Julukan
:
Teknopath
Jenis Kelamin
:
Laki-laki
Usia
:
20 tahun
Ras
:
Manusia