Tampilkan postingan dengan label NV6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NV6. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2016

[FBC] 032 - ALEX ALDUIN

ASEP CODET (ALEX ALDUIN)
VERSUS
SANELIA NUR FIANI
FATANIR
LAZUARDI
[Tantangan NV6]
oleh: Dendi Lanjung

---

Peringatan: Cerita ini dibuat penulis tanpa melihat kembali charsheet OC yang bersangkutan. Semua OC ditampilkan berdasarkan gambaran kasar karakterisasi dan garis besar kemampuan khususnya.


[$1]
Semua Yang Terjadi Di Dunia Ini, Diawali Dengan Ledakan


DUAAARR!! Begitulah cerita ini dimulai.

Bersamaan dengan suara ledakan, sebuah lubang tercipta dari ketiadaan, menciptakan sebuah jalan tembus yang merobek ruang dan waktu.

Dari lubang tersebut, sesosok pria bertubuh besar, berambut kelabu, terlempar dengan kasar dari ujung sana.

Ah, ralat, rambutnya ternyata bukan kelabu, tapi ubanan.

Walau terlempar di tanah yang keras, si pria seperti tak merasakan apa-apa. Tangannya yang besar, menepuk-nepuk debu dan kotoran yang menempel di tubuh atasnya yang tak tertutupi kain apapun. Pria itu bernama Alex Alduin, atau lebih dikenal orang-orang dengan nama...

Asep Codet.

Minggu, 06 Maret 2016

[FBC] 022 - ELEANOR TIFFANY

ELEANOR TIFFANY
VERSUS
ROGER DANIEL
MLIIT
MIMA SHIKI REID
[Tantangan NV6]
oleh: Lazuardi Pratama

---

Suatu Hari dalam Drama Dinihari

Pada suatu hari, aku bermimpi mimpi yang tidak lazim. Biasanya aku bermimpi soal Papa Jack yang kehilangan giginya dalam balapan sepeda roda tiga. Atau soal seorang perempuan yang rasanya kukenal dekat, tapi wajahnya tidak ada, yang melenguh menggairahkan karena kunaiki pinggulnya. Biasanya mimpi-mimpi itu hanya sekejap saja muncul, hingga kemudian aku terbangun karena suara Harley Davidson milik Uncle Penny yang digeber setiap pagi.

Malam itu aku baru pulang dari kedai kopi. Akhir-akhir ini punggungku agak gampang encok setelah menendang pantat orang.

Senin, 29 Februari 2016

[FBC] 011 - REA BENEVENTUM

REA BENEVENTUM
VERSUS
FATANIR
[Tantangan NV6]
oleh: Anastasia Inocencio
---

Kerajaan Dalam Mimpi

"Apakah ini pertama kalinya untukmu?" bisik Fata dalam desah tertahan.

Rea mengangguk. Aliran darah menjalar ke pipinya, melukiskan semburat merah pada wajahnya yang terpahat dengan begitu cantik.

"Apakah kau sungguh yakin bahwa kau menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu?" suara Fata yang dalam menembus dinginnya angin malam yang masuk melalui celah jendela.

Rea tidak menjawab. Matanya nanar menatap mata Fata yang berkilau diterpa cahaya lilin. Jemari lentiknya menyentuh bibir Fata, merasakan bibir itu menghangat, dan menciumnya dalam satu tarikan napas.

Kedua lengan Fata yang berotot berada di sisi wajah Rea, menekan ranjang dengan kuat seraya memperdalam ciuman yang semakin melenakan. Fata memejamkan mata, menikmati sensasi hangat ketika lidah mereka bertemu, menggeliat, dan saling mengait satu sama lain.

Tangan Rea menggapai ke bawah tubuh Fata, membelainya dengan lembut seolah menyulam sutra. Fata melepaskan ciuman, menegakkan tubuh untuk melepas kemeja dan celana yang dikenakannya. Mata hijau Rea memandangi tubuh Fata yang tanpa sehelai benang itu, mengagumi setiap lekuk tubuhnya yang tegap dan kokoh.

Fata merebahkan dirinya dengan punggung berada di atas ranjang, sementara Rea bergerak mendekati tubuh Fata. Rea mencondongkan tubuhnya untuk mengecup paha Fata bagian dalam, jemarinya membelai lembut paha bagian luar.

Kecupan hangat itu naik ke atas, berhenti pada pusar Fata untuk menjilatinya. Jilatan basah itu naik ke atas, mengeksplorasi dada Fata yang bidang hingga ke leher jenjangnya.

Kedua tangan Fata terulur untuk menangkup payudara Rea dan merasakan puncak dada yang mengeras di balik gaun. Jempolnya menekan puncak dada tersebut, diiringi dengan benda di pangkal pahanya yang semakin mengeras.

"Tanggalkan pakaianmu...." bisik Fata.

Minggu, 21 Februari 2016

[FBC] 001 - ORCHID CHOCOLATECHAN

VERSUS
SANELIA NUR FIANI
MIMA SHIKI REID
BU MAWAR
       [Tantangan NV6]
        oleh: Ichsan Leonhart

---

Bukan Putih Salju Biasa

     "Korek api… siapapun tolong beli… Korek api…"

     Suara lemah itu sayup terdengar di tengah bisingnya kerumunan. Orang-orang hiruk pikuk berseliweran. Tak ada yang peduli dengan korek murahan meski berulangkali ditawarkan. Turunnya salju begitu dingin, selaras dengan sikap penghuni kota yang tak sedikitpun memedulikan.
     
Gadis itu berjalan ke sana ke mari mencoba keberuntungan. Namun keberadaannya sama sekali tak diacuhkan. Hatinya terasa pedih akan hebatnya penderitaan yang dirasakan. Mulutnya masih terbuka, walau tak ada ucapan terdengar dari sana. Ia menatap tinggi ke angkasa, bersiap menumpahkan kekecewaan.
     
"ANJING LAH, GUE GAK MAU JADI GADIS PENJUAL KOREK API!"

     Dan begitulah, dua paragraph pembuka ini ternyata ditolak mentah-mentah oleh sang tokoh utama. Ia tak sudi memerankan tokoh miskin lahir batin, bertelanjang kaki hingga nyaris membeku.