Tampilkan postingan dengan label Group 12 The Black. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Group 12 The Black. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2016

[ROUND 1 - 12L] 36 - SHERAGA ASHER | HASHACHOR HACHADASH


oleh : Sastrawatigila 

--

[Perhatian: ada beberapa bagian yang hanya bisa dimengerti jika menilik preliminer]

- 1 -
“Ini baru permulaan kecil untuk bencana yang amat besar,” makhluk di depan kandil bercabang menuturkan lirih. Tujuh titik api kehijauan mempermainkan bayangan di belakangnya, hingga menegaskan bentuk ketakutan yang paling murni.

Dayan—bangsa panjang umur—itu, menyeringai kecut. Bukan atas keinginan sendiri, melainkan entitas Menteri Neraka yang menyelap raganya.

Para saksi di hadapannya terkesiap, meski raga menjaga sikap. Nahas perasaan mereka tak kuasa dikhianati. Jantung berdentam kuat. Napas memburu tak keruan. Semuanya menciut bak sekawanan tikus, tatkala mata sewarna darah sang Peramal berkilat makin liar.

“Takkan lama lagi, takkan lama!” Kepalanya miring dalam sudut yang mendirikan bulu roma. “Bersiaplah untuk kutukan yang menelan benua ini—bahkan seluruh debu alam raya ini! Tak peduli milik bangsa kamu, Helev—manusia, atau orang-orang Timur! Kamu semua akan melesak ke liang Kegelapan! Tidak ada pengecualian!” Telunjuknya menuding para lawan bicara.

Nyala di depan hidungnya bergolak meninggi, seperti menjilat langit-langit. Tetapi kemudian mengecil ke semula.

Tawanya yang terdiri atas campuran beratus-ratus suara membahana. Bergaung di sudut-sudut kamar semerbak darah.

Lilin-lilin yang menjalin formasi lingkaran mengelilingi ruangan, meletus. Kilat disusul gemuruh membelah malam di luar jendela. Setengah dari selusin prajurit segera melindung telinga. Empat terkapar dengan mata terbeliak.

“Kamu sekalian akan tenggelam! Kebaikan dan Kejahatan absolut, dua kekuatan besar saling bersinggungan! Kiamat tak terelakkan! Pembebasan bagi Yang Tertuduh dan kejatuhan bagi Yang Bersinar!”

Ucapan itu menohok siapapun. Sosok Dayan berambut perak panjang, berikut selusin pengawalnya yang masih berdiri, kontan tenggelam dalam kengerian tiada tara. Malah, seorang miskin iman dibuat berkemih di celana.

Empat belas hari sejak hilangnya Ibukota Batya yang misterius itu, istana darurat di Achrav menerima tamu tidak biasa. Dialah Amram Yirmi, okultis Dayan yang reputasinya harum di seluruh dataran Yisreya.

Pengundangnya sendiri merupakan Dayan yang begitu dihormati. Belum lama semenjak penobatannya sebagai pemimpin negara sekaligus agama. Dengung-dengung mengenai citra baiknya menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru. Bahkan sampai ke tempat Amram yang terpencil, sekaligus mengantar kepadanya bayangan akan imbalan yang begitu melimpah.

Natan Asher, sang Raja.

[ROUND 1 - 12A] 35 - NORA | THE BLACK LAMBS

The Black Lambs
By Mocha_H

--
Prolog

Zainurma mengetuk-ketuk kesal lantai koridor musium dengan ujung sepatunya. Sebenarnya sang kurator berambut klimis itu cukup penyabar, bahkan dia rela menunggu peserta yang terlambat datang tiga jam. Hanya saja, kali ini ia sudah menunggu setengah hari.

"Mbeek~" embikan domba terdengar di ujung koridor.

Mata Zainurma berkelebat secepat kilat ke asal suara itu, seekor domba mimpi yang tengah menggendong sesuatu berbalut selimut hitam.

"Apa ini?"

Ketika Zainurma hendak menarik kain lusuh itu, ia merasakan perlawanan dari apapun yang diangkut si domba, mencengkram kuat selimut yang menutupnya. Maka detik itu kesabaran sang kurator habis, ia berputar ke samping si domba dan menendang domba sekaligus penunggangnya hingga jatuh.

Si domba berdiri kembali dengan cepat, langsung mengembik bernada marah pada sang kurator. Namun penunggangnya terkapar tak bergerak sedikitpun.

"Kamu masih hidup, kan?" tanya sang Kurator, kembali menendang si penunggang.

Si domba tak terima melihat sang tuan ditendang oleh Zainurma. Ia mengembik marah, menghadang sang kurator dan melanjutkan hitungan tendangan. Sebanyak tiga kali.

Sang kuratorpun membatu, penasaran apa yang terjadi antara si domba dan majikannya sampai si domba menendang si tuan, bahkan tampak begitu ceria setelah melayangkan tendangan keempat. Tidak, sang Kurator salah hitung, ini sudah ketujuh kalinya.

"L-Lapar..." suara rintihan terdengar dari balik selimut itu.

Tangan hitam sang reverier berusaha menggenggam apapun di sekitarnya. Hingga tertangkaplah kaki si domba.

"MAKAN!!!"

Bagai seekor hewan penuh amarah, sebuah cairan hitam merambat naik ke kaki si domba, menjalar ke tubuh lain si domba hingga ia terbungkus dalam cairan hitam itu.

"Selamat makan~"

Senin, 01 Agustus 2016

[ROUND 1 - 12L] 27 - RU ASHIATA | TAWA SURAM

oleh : N.V

----


================================================================
[ Bab ll – Tawa Suram ]
================================================================


[ Prologue ]



"AAArrrghhhh!!!!"
"TiiidaaaaAAAAK!!"
"Ini…tolong, tidaaaaak!!!"

Suara teriakan memilukan terdengar dari rekaman video yang sedang ditayangkan dari ponsel di tangan Luna. Tidak terlihat jelas apa yang terlihat di layar, karena gambarnya terus berguncang tak karuan sejak teriakan terdengar direkaman tersebut.

Hingga goncangan di layar di layar diikuti teriakan tersebut berhenti. sudah berubah menjadi guci tanah liat. Bahkan abstrak seperti buatan orang yang baru membuat guci tanah lihat.

Luna terus memasang wajah tegang dicampur ketakutan dengan apa yang dia lihat saat ini dari layar ponsel ditangannya sekarang. Sebuah rekaman video amatir yang sempat diabadikan Ru, kakaknya, saat berada di tempat yang lebih terlihat seperti museum seni.

Namun bukan museum seni pada umumnya, dimana para pengunjung menikmati koleksi seni yang ada disana. Justru terlihat suasana berat diantara orang-orang disana.

Gadis ini meringis ketakutan.

Kamis, 28 Juli 2016

[ROUND 1 - 12L] 18 - ARCA | PENJAHAT SESUNGGUHNYA?

oleh : Penulis Dadakan
--


Beberapa hari sebelum turnamen di mulai.

Seorang pria berpakaian serba hitam berjalan cepat di koridor hotel. Pria itu menuju sebuah kamar bernomor 19 yang berada di ujung koridor.

"Tok..tok…tok.." pria itu mengetuk pintu.

Tidak lama pintu itu terbuka dan pria berpakaian serba hitam itu masuk. Kamar itu kosong, tidak ada tempat tidur, kursi, jendela, kamar mandi, atau barang apapun. Kamar itu seperti sebuah bangunan kotak kosong.

Pria berpakaian hitam itu berkomat-kamit sebentar lalu tiba-tiba munculah asap hitam. Berlahan asap hitam itu berkumpul membentuk wujud manusia bermata merah menyala. Si pria hitam segera berlutut bersujud.

"Bangkitlah," si bayangan hitam berkata dengan suara serak. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya.

"Aku ingin membunuh orang ini," kata si pria berpakaian hitam sambil menunjukan sebuah foto bergambar Arca.