oleh : Sastrawatigila
--
- 1 -
“Ini baru permulaan kecil untuk bencana
yang amat besar,” makhluk di depan kandil bercabang menuturkan lirih. Tujuh
titik api kehijauan mempermainkan bayangan di belakangnya, hingga menegaskan
bentuk ketakutan yang paling murni.
Dayan—bangsa panjang umur—itu,
menyeringai kecut. Bukan atas keinginan sendiri, melainkan entitas Menteri
Neraka yang menyelap raganya.
Para saksi di hadapannya terkesiap, meski
raga menjaga sikap. Nahas perasaan mereka tak kuasa dikhianati. Jantung
berdentam kuat. Napas memburu tak keruan. Semuanya menciut bak sekawanan tikus,
tatkala mata sewarna darah sang Peramal berkilat makin liar.
“Takkan lama lagi, takkan lama!”
Kepalanya miring dalam sudut yang mendirikan bulu roma. “Bersiaplah untuk
kutukan yang menelan benua ini—bahkan seluruh debu alam raya ini! Tak peduli
milik bangsa kamu, Helev—manusia, atau orang-orang Timur! Kamu semua akan
melesak ke liang Kegelapan! Tidak ada pengecualian!” Telunjuknya menuding para
lawan bicara.
Nyala di depan hidungnya bergolak
meninggi, seperti menjilat langit-langit. Tetapi kemudian mengecil ke semula.
Tawanya yang terdiri atas campuran
beratus-ratus suara membahana. Bergaung di sudut-sudut kamar semerbak darah.
Lilin-lilin yang menjalin formasi
lingkaran mengelilingi ruangan, meletus. Kilat disusul gemuruh membelah malam
di luar jendela. Setengah dari selusin prajurit segera melindung telinga. Empat
terkapar dengan mata terbeliak.
“Kamu sekalian akan tenggelam! Kebaikan
dan Kejahatan absolut, dua kekuatan besar saling bersinggungan! Kiamat tak
terelakkan! Pembebasan bagi Yang Tertuduh dan kejatuhan bagi Yang Bersinar!”
Ucapan itu menohok siapapun. Sosok Dayan
berambut perak panjang, berikut selusin pengawalnya yang masih berdiri, kontan
tenggelam dalam kengerian tiada tara. Malah, seorang miskin iman dibuat
berkemih di celana.
Empat belas hari sejak hilangnya Ibukota
Batya yang misterius itu, istana darurat di Achrav menerima tamu tidak biasa.
Dialah Amram Yirmi, okultis Dayan yang reputasinya harum di seluruh dataran
Yisreya.
Pengundangnya sendiri merupakan Dayan
yang begitu dihormati. Belum lama semenjak penobatannya sebagai pemimpin negara
sekaligus agama. Dengung-dengung mengenai citra baiknya menyebar dengan cepat
ke seluruh penjuru. Bahkan sampai ke tempat Amram yang terpencil, sekaligus
mengantar kepadanya bayangan akan imbalan yang begitu melimpah.
Natan Asher, sang Raja.



