Tampilkan postingan dengan label Free Spirit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Free Spirit. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2016

[PRELIM] 59 - CAIN AMAKUSA | THE SPIRIT BEGONE



oleh : M. Hafidz Ramadhan

--

Merah...
Biru...
Hijau...

Dan warna warna lainnya ntah mengapa mereka terlihat seperti gumpalan cahaya berwarna yang ada disekitar ku.
Sempat ku tanya pada orang orang disekeliling ku " apakah itu?" tanya ku sambil menunjuk gumpalan gumpalan cahaya itu namun mereka hanya menatap ku seakan akan aku sedang berkhayal.
Tidak tidak aku tidak sedang berkhayal. Mereka nyata mereka ada dimana mana di gunung, di danau , di taman , di hutan, bahkan dimana pun.
Bagi yang percaya mereka biasa disebut spirit atau roh alam, dimana mereka yang mengendalikan keseimbangan alam ini .
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Jumat, 10 Juni 2016

[PRELIM] 57 - RU ASHIATA | HITAM YANG BUKAN HITAM

 Writer's note: Tulisan putih dan bg hitam bukan maksud untuk menyelaraskan tulisan dan tema OCnya. Tapi penulis suka sakit mata baca di background putih dengan tulisan hitam. xD


oleh : N.V

----
================================================================
[ Bab l – Hitam Yang Pudar ]
================================================================

[ Chapter 0 ]

"Reverier..?"


.... ..eep.. Beep.. Beep..

Suara samar beep yang berulang perlahan terdengar sangat jelas ditelinga. Begitu juga pemandangan yang awalnya terasa kabur, sekarang terlihat jelas langit-langit ruangan disertai lampu neon yang menerangi ruangan, tidak terlalu silau ataupun redup. Termasuk sosok wanita berstatus pasien ini, yang baru saja tersadar dari tidurnya.

Sepasang iris merah pasien yang baru bangun ini, menggelinding bergantian ke kiri dan kekanan perlahan, menelusuri apapun yang dia lihat di ruangan tempat dia berada. Selain sebuah monitor yang menampilkan layar hitam dengan garis dan angka-angka yang terus berganti di samping ranjang tempat dirinya istirahat, ruangan ini begitu terang dengan semua perabotan yang mendominasi warna putih.

'ICU…'

Helaan nafas dihembuskannya dengan pasrah. Kelopak matanya yang masih terlihat sayu itu kembali tertutup, dengan senyum yang terpasang damai.

'Ah, Ru.. kau diselamatkan Tuhan lagi..'

Wanita yang memanggil dirinya Ru ini berpikir, Tuhan kembali memberi keajaiban. Dokter yang merawatnya selalu mengatakan, dirinya selalu cepat sadar melewati fase koma setiap penyakit gulanya kambuh. Entah Tuhan terlalu baik padanya tetap membiarkannya hidup, atau ini cobaan dengan hidup dalam kondisi berpenyakitan. Selama ini, dia hanya bisa pasrah dengan keputusan Tuhannya.

Tapi sebenarnya, ada sesuatu yang hitam ditubuhnya yang selalu menyelamatkannya.

"…reverier…"

Rabu, 08 Juni 2016

[PRELIM] 52 - NAZHME KAIKHAZ | RAJA DI ANTARA DUA DUNIA

oleh : Aryo Budi P.


===
===

“Kakek Yadhaor! Kakek Yadhaoooor!”
Sepasang anak-anak elf berlari berhamburan menuju ruang baca dalam mansion luas di pegunungan itu.
“Wah wah wah! Kalian sudah datang ya,” ucap seorang tua bertubuh pendek sambil mengangkat mata dari buku besar terbuka di atas meja. “Bagaimana sekolah kalian? Apa Melilo masih usil dan Gielana masih ranking bontot?”
“Kakeeeek!” seru sang gadis kecil sambil merengut. “Aku udah gak ranking bontot lagi!”
“Iya, tapi sekarang ranking tiga,” timpal sang pemuda yang sedikit lebih tua. “Dari belakang.”
“Kakaaaak!” seru sang adik sambil meninju bahu sang kakak yang tertawa-tawa.
“Wohoho~ ternyata memang kalian ada perkembangan, hmm?” ucap sang kakek sambil menutup buku besar itu dan melompat turun dari kursi tinggi yang tadi ia duduki. “Wah, kau juga tambah tinggi ya Gielana!”
“Mmhm!” balas Gielana sambil membusungkan dada, bangga. “Tahun depan Kakek nggak bisa mengataiku pendek lagi!”

[PRELIM] 47 - EVE ANGELINE | DREAM, PAST, PRESENT, AND (FROZEN) FUTURE

oleh : Lyre Reinn

Dream, Past, Present, and (Frozen) Future (?)

Altair's Dream & Past : [Memory, when Eve was created]
.
.
*Z City, April 6th, 2028

"Selesai."

Altair memandangi sebuah—tidak, seorang gadis Humanoid—yang ada di depannya sambil melepas sarung tangan karetnya.

"He…hei… Dia mirip sekali denganmu." ujar Shiro yang sedari tadi berada di sebelah gadis itu sambil memperhatikan Humanoid di depannya.

"Kecuali…"

Iris merah darahnya melirik sekilas ke arah dada Altair dan si Humanoid secara bergantian.

"Kecuali?"

"A..ah.. T..tidak ada apa-apa!" seru pemuda itu panik sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
'Bisa gawat kan kalau aku ketahuan sedang membandingkan 'ukuran'nya' batinnya dalam hati.
Si gadis memandangi Shiro dengan tatapan bingung. Ia mendengar pikiran Shiro barusan, namun tidak mendebatnya lebih jauh. Toh yang dibandingkan tidak sesuai. Untuk apa membandingkan 'besi dengan daging'?

"Shiro…"

"I…iya?"

"Kurasa… Aku harus rajin minum susu…"

"E..e…."

"EEEHHH???"
.
.

Selasa, 07 Juni 2016

[PRELIM] 46 - ULRICH SORGE SCHMIDT | EIN, ZWEI, POLIZEI

oleh : Naer Sisra 

.
.
.
Keriutan lantai besi tua ruangan ini terdengar setiap ia bergerak. Aroma apak dan karat terkuar di udara, membuatnya sedikit tidak nyaman. Penerangan di tempat ini sangat redup, didominasi warna biru pucat dan beberapa bolham kuning temaram yang sudah ketinggalan zaman. Ia tak pernah tahu kalau di bawah ruangan kesehatan sekolahnya ada laboratorium rahasia.

Rahasia, kedengarannya keren dan misterius.

Nyatanya ruangan ini tidak terurus, berantakan, dan kuno. Tidak ada keren-kerennya sama sekali. Walaupun demikian, suara mesin yang menyala di kejauhan membuktikan kalau tempat usang ini masih berfungsi. Setidaknya itu yang ingin Ulrich Schmidt yakini.

Bocah halfling bertanduk gading itu berdiri di depan sebuah alat berbentuk kapsul. Cukup besar untuk dimasuki orang dewasa. Walaupun asap-asap yang keluar dari dalam alat itu membuat Ulrich khawatir.

"Masih lama?" Tenornya pecah karena serak setelah setengah hari tidak bersuara sama sekali, bocah berkacamata itu lalu berdeham, "Apa alatnya belum siap, Profesor Benedict?"

[PRELIM] 44 - UNO FIBRI | HUKUM RIMBA


oleh : Luna Love
--
 
Sebuah hutan tropis di bagian tengah benua Utereu sedang mengalami perubahan cuaca akibat perpindahan letak bulan terdekat dari Planet Animalia yang bernama Bliss Lunar. Hujan yang tidak terlalu deras dan angin dingin yang berhembus menyelimuti kawasan hutan tersebut. Suasananya yang gelap ditambah dengan cuaca yang tidak mendukung membuat sebagian penghuni hutan lebih memilih untuk bersembunyi dari basah dan juga beristirahat.
Danau besar yang berada di tengah hutan terlihat berkilauan hitam kebiruan akibat sinar bulan yang terpantul di balik awan besar yang berkumpul. Pepohonan seperti sedang sibuk berbisik akibat tetesan air hujan. Suara makhluk malam pun juga ikut meramaikan.
Di dalam sebuah gubuk kayu di tepian danau, terlihat dua orang yang sedang duduk di depan perapian.
Sabba Salamander sedang sibuk memasak makanan untuk makan malam mereka berdua dengan ekor panjangnya yang bergerak-gerak santai. Terlihat jelas di wajahnya terdapat sepasang janggut tipis yang berbentuk kipas menyatu dengan leher, sebenarnya itu merupakan kulit tipis yang merupakan ciri khas dari Ras Salamander. Kulitnya yang berwarna cokelat gelap membuatnya terlihat sedikit menyeramkan, namun jangan lihat seseorang dari wajahnya. Karena kita tidak tahu hati sesorang bagaimana jika belum mengenalnya.
Di dekat perapian juga, seorang anak kecil bernama Uno Fibri di samping Sang Salamander terlihat sedang asyik berguling-guling. Tubuhnya yang mungil berkulit pucat dan memiliki mata besar dengan iris berwarna merah terang yang menggemaskan. Sudah berapa kali mata pria salamander itu menangkap wajah lucu anak angkatnya itu yang sedang menguap beberapa kali. Mungkin karena akibat dari cuaca di luar dan udara yang dingin, sehingga situasi seperti itu sangat pas jika digunakan untuk tidur.
“Uno kalau kamu mengantuk tidur saja dahulu.” Pria itu mencoba membujuknya agar mau beristirahat. Tangannya tetap sibuk membalik-balik makanan yang dia panggang.

[PRELIM] 43 - ELEANOR TIFFANY | PRETENTIOUS WORK

ELEANOR TIFFANY
oleh : Lazuardi Pratama

--

The dance of the puppets
The rusted chains of prison moons
Are shattered by the sun
I walk a road, horizons change
The tournament's begun

Pagipagi. Dinihari. Lamat-lamat matahari. Bangun tidur seorang lelaki: Eleanor Tiffany. Diingatnya mimpinya kurang pasti. Dilihatnya seekor peri. Menarinari ke sana dan ke mari. Kemudian ia hinggap pada pintu almari.

Hei ini bukan nyata tetapi ini mimpi bangunlah engkau jangan lekas berdiri jangan pula lari aku bukan untuk ditakuti.

Tapi aku takut

Aku...

Anak

Ini...

Yang mencelat karena sepukulan besi

Kuucap selamat...

Tetes darah bercampur bulir keringat dan air mata

Masterpis

Mata bulatnya menjerit

Alam mimpi...

Kau akan hidup, namun hidupmu lebih sunyi daripada mati

Senin, 06 Juni 2016

[PRELIM] 40 - KAMINARI HAZUKI | ALAM MIMPI, KENAPA KITA BERMIMPI?

oleh : Izunalord

-- 

Chapter 0: Self thought.
"Battle Of Realms: Masterpiece of Reveries"
Atau Reveries, sementara menurut kamus, yang relevan adalah Reveries, daydreaming, ngawang, melamun, lost  in thought, mimpi siang bolong. Impian siang bolong. Siang, yang bolong. Apanya siang yang bolong?

Sekilas hal diatas kuanggap biasa saja, namun di kalimat terakhir membuatku bingung.  Sebenarnya sejak kapan  siang itu bolong. Apakah bolongnya bersiang, atau siang yang berbolong, atau bolong bernuansa siang? atau  siang bernuansa bolong? Auk ah gelap. Buka kamus pun percuma.
.
Masalahnya, yang aku tahu sejauh aku hidup (Sebentar, memangnya kondisiku ini dianggap hidup?). . .
[EHM!]
Erm, baiklah. kembali lagi. Sejauh yang aku tahu selama hidupku, hanya donat, celana jeans, dan sedotan yang  wajib bolong. Harus bolong. Seperti kata pepatah "If there's a hole, there's a hope"
[Tunggu, kenapa susunan awal katanya jadi berubah?]

"KAMI-SAN!!!! SERIUS DIKIT DONK" suara melengking yang paling tidak ingin kudengar semenjak  kepulanganku dari {Alam Mimpi} 2 hari silam.

Nora Hazuki. My Sister, or not so sister, atau adik angkat,
adik yang diangkat, aku yang mengangkat adik, atau terangkatnya adik, atau adik yang terangkat. Ah sudahlah.

[PRELIM] 39 - SNOW WINTERFELD | ONCE UPON AN EVENTFUL DREAM

oleh : Rangga Rahman A.

--

Sejak hari itu pikiranku selalu dipenuhi pertanyaan.
Sejak kehidupanku diambil alih oleh takdir kejam.
Sejak mengambil kehidupan menjadi keseharianku.
Sejak Sang Kematian bersarang di dalam jiwaku.
 
Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiranku.
 
Kehidupan.
Apakah itu semudah bernafas? Atau lebih dari itu?
Untuk apa manusia hidup? Apa hanya karena mereka lahir?
Atau untuk sesuatu yang lebih dari itu?
 
Pertanyaan yang membuatku memutuskan pilihanku.
Pertanyaan yang menjadi alasan kehidupanku.
 
~~~

Sabtu, 04 Juni 2016

[PRELIM] 35 - GOLD MARLBORO | KEPING MIMPI YANG TERLUPAKAN

GOLD MARLBORO
oleh : Jester

--

KEPING MIMPI YANG TERLUPAKAN


"Mengapa kita bermimpi?" Gadis itu bertanya retoris. "Karena kita memiliki kenangan."
"Manusia begitu akrab dengan konsep mimpi, begitu dekat dan menjadi bagian dari budaya. Namun seperti halnya fenomena yang manusia kira telah mereka pahami betul, mimpi adalah misteri. 'Keinginan bawah sadar yang tak terealisasi,' kata Freud. Ya, itu mungkin saja. Atau pola tidur menyebabkan beberapa daerah di otak aktif. Entahlah.
Kita hanya bisa menyimpulkan dari kedua hal itu, bahwa apapun mimpi itu ia dibangun dari kenangan."

Gold bertanya dalam hati, lalu bagaimana ia—yang bahkan kehilangan seluruh ingatannya—dapat bermimpi segila dan senyata ini?



Kedua orang itu masih setia meringkuk di bawah gerbang benteng Vredeburg, menatap hujan yang turun seperti dicurahkan. Gold dapat melihat beberapa tukang becak pulang, atau satu-dua mampir di sebuah warung seberang jalan. Ia juga dapat merasakan titik air membasahi kulit dan membuat lengannya meremang karena dingin. Sulit dipercaya, bahkan hampir tak mungkin semua yang ada di sekitarnya ini adalah mimpi.
Lelaki itu menoleh, melihat gadis di sampingnya meniup-niup kedua telapak tangan yang ia tangkupkan di depan mulut demi kehangatan. Uap tipis terlihat mengepul dari cuping hidungnya. Mendadak gadis itu menoleh, "Kamu nggak kedinginan, to?"
Gold menggeleng.
"Padahal kamu ini, lho, hanya pakai kaos oblong." Gadis itu kembali menatap jalanan. Mengambil sebatang rokok dari sakunya, memantik, lalu menghisapnya dalam-dalam. "Kenapa lihat-lihat?"

"Aku bener-bener masih penasaran dengan yang kamu bilang," Gold menjawab sejujurnya. "Lebih tepatnya, aku nggak percaya."
"Bahwa ini adalah mimpi?"
Mengikuti sang gadis, Gold menyalakan rokok juga. Ia mengangguk. "Ya."
"Sebenernya aku juga sedikit bingung, bagaimana mimpi yang ini bisa begitu solid, bahkan sensasi dunia nyata juga terbawa sampai sini," ucap gadis itu. Ia membenarkan ikatan rambut sebahunya, baru kembali bicara. "Dan setahuku, kecuali seorang yang bermimpi itu sadar bahwa ia bermimpi, impiannya nggak akan sejelas ini."

Gold menatap gadis itu tengah terlihat berpikir keras. Dan ia mencoba menyimpulkan ekspresi frustasi itu, "Maksudmu, terlalu nyata untuk disebut mimpi?"


***

Jumat, 03 Juni 2016

[PRELIM] 32 - NANO REINFIELD | FIRST CLUE FROM THE FAKE PARADISE

oleh : Dwi Hendra

--

0 – Prolog


"Pelan-pelan, Kak. Sakit!"


Natera berteriak menahan sakit dan mencengkram bahu Nano, Kakaknya. Nano merasa kesakitan menahan cengkraman adiknya.


"Ini sudah pelan, Natera. Tahan sebentar lagi." kata Nano menenangkan.


"Tapi ini sakit sekali, Kak. Ini pertama kalinya bagiku." Natera terus mengaduh.


Cahaya redup di penginapan itu ikut menemani teriakan Natera di malam yang sepi. Natera terus memeluk tubuh Nano membuat Nano kewalahan dengan tingkah Natera.


"Itu salahmu sendiri karena kau tidak mengukurnya terlebih dahulu sebelum mencobanya." kata Nano menggerutu.


"Kukira ukurannya pas. Aah.. sakit, Kak. Jangan ditekan di bagian itu."


Natera terus meronta dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Tak terasa air mata menetes di pipi yang meronta merah itu.


"Kalau aku tak menekannya, susah untuk memasukkannya. Tahan sedikit, sebentar lagi selesai."


"Aaahh.. Kak. Aahhh.."


Nano berhasil menarik gaun Natera. Sehingga kini Natera sudah memakai gaun tidur kesukaannya. Natera memeluk tubuh kakaknya yang kekar. Seutas senyum terpancar dari bibir Natera.


"Terima kasih, Kakak."


"Sudah selesai. Seharusnya kau mengukur dulu gaunmu sebelum minta dijahitkan. Tubuhmu sudah bukan seperti dulu lagi."


"Jadi Kakak kira aku sudah gemuk, begitu?" tanya Natera cemberut.


"Bukan begitu maksudku. Sudahlah, aku mau tidur sekarang." jawab Nano sambil mencubit pelan pipi Natera kemudian tertidur pulas di kursi panjang.


*** 

Minggu, 29 Mei 2016

[PRELIM] 25 - NORA | TWO OF THE FOUR PIECES, BROKEN BY DEATH

oleh : Mocha_H

--

Two of  The Four Pieces, Broken by Death

==1==
Sang Tinta Hitam


Apa itu kedamaian? Apa itu kesejahteraan?

Banyak yang mengartikan kedamaian adalah suatu masa dimana tidak terjadi pertumpahan darah, sedangkan kesejahteraan adalah suatu masa dimana orang-orang merasa puas akan segala sesuatu.

Namun atas harga apa mereka mengharap masa itu?
Akankah mereka mengharap suatu kedamaian setelah pembantaian?
Akankah mereka mengharap suatu kesejahteraan dengan merebut kesejahteraan yang lain?

Kedua kalimat itu selalu dipakai dalam semboyan para munafik. Mereka yang berkata berjuang untuk kedamaian dunia hanyalah pembawa perang dan mereka yang berkata membawa kesejahteraan adalah pembawa kesengsaraan bagi yang lain.

Oleh karena dasar pemikiran itulah, Nora sang tinta hitam tidak memiliki tuan. Tentara bayaran itu selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengharapkan untuk menemukan kesenangan yang fana dan bekerja hanya untuk mendapatkan uang.

Gadis itupun...

"LAPAR!!!!!"

...sedang dalam...

"KENAPA HANYA POHON DI KANAN KIRI?!"

...perjalanan menyusuri...

"BISA NGGAK SKIP INTRO KEPANJANGAN INI?!"

Ya gusti... kenapa,sih OC ini nggak bisa diam selagi narasi dibacakan? 

[PRELIM] 24 - MIA | KUPU-KUPU YANG TIDAK BISA BERHENTI BERMIMPI

oleh : meridianna

--

Judul: Kupu-Kupu Yang Tidak Bisa Berhenti Bermimpi
Alignment: Chaotic Netral (Necessary Kill)



-How do I know that enjoying life is not a delusion?
How do I know that in hating death we are not like people who got lost in early childhood and do not know the way home?-

"Kau ... Reverier, dan ... membuat Mahakarya ... di Alam Mimpi. Mencapai ... mampu ...  duniamu."

Mata Mia membuka dengan berat setelah semalaman berusaha mengalahkan boss.

Bagus, pikirnya. Mimpi apaan gue semalem. Bikin kepala pening saja.

Dia tidak sadar kalau itu karena ulahnya sendiri, main game tanpa henti. Sampai tengah malam, demi boss di game RPG klasik yang mulai dilupakan orang.

Sambil berusaha untuk sadar, dia bangkit dari tempat tidurnya. Berkali-kali dia ingin tidur lagi tapi selalu dihentikan oleh suara indah itu. Suara lelaki tampan yang menumpang dirumahnya. Dan lelaki itu sedang membuka tirai jendela kamarnya sekarang. Lalu sorot sinar matahari langsung mengenai mata Mia.

"Selamat pagi, Mia. Cuaca cerah sekali hari ini." 

Jumat, 20 Mei 2016

[PRELIM] 17 - FaNa | F.N

oleh : Bayee Azaeeb

--

Chp 0 : Dream
"Sleeping is no mean art: for its sake one must stay awake all day." – F.N
[Fa's POV]


Apa benar ada kehidupan setelah kematian?

Pertanyaan semacam itu sering terlintas di benakku. Mengira-ngira, suatu saat nanti jika aku akan mati apa aku akan pergi ke Surga? Heh, tidak pantas nampaknya. Atau Neraka? Tak ada yang tahu tentunya. Apa mungkin kita hanya pergi ke alam mimpi? Kalian tahu, alam mimpi yang sering kita kunjungi saat kita tidur.

Lalu kenapa kita bermimpi?

Muncul satu lagi pertanyaan. Dan pertanyaan ini menimbulkan pertanyaan lainnya, ratusan – bahkan ribuan.

Hei, kalian pernah dengar tentang Lucid Dream? Mimpi di mana kita sadar dan mampu mengambil kontrol atas tubuh kita. Bahkan melakukan hal-hal yang tak masuk akal, seperti terbang ataupun melakukan sihir. Menarik bukan?

Aku sering mendapat Lucid Dream, namun akhir-akhir ini mimpiku terasa agak aneh. Dalam mimpiku itu, aku melihat sebuah bangunan yang sangat megah. Aku tidak bisa mendeskripsikannya dengan baik, karena setiap kali aku berusaha mendekati bangunan itu, aku langsung terbangun.

Namun kali ini, aku yakin bisa mendekati bangunan itu. Ya, yakin sekali. Tapi firasatku mengatakan kalau aku takkan terbangun setelah mengetahui rahasia dibalik kemegahan itu. Tapi persetan dengan dunia nyata, lagipula..

Ah lupakan, aku ingin tidur sejenak.


(* * *)

[PRELIM]16 - MBAH AMUT | SEBUAH KEHILANGAN

MBAH AMUT
oleh : Énryuumaru

--



Catatan: Mungkin akan ada kekerasan, sindiran keras, dan lawakan garis keras. Éntri keras inti ini harus dibaca dengan pengawasan yang berwawasan dan bertenggang perasaan. Aslinya diniatkan untuk tertawa, tapi bisa jadi malah bikin kecéwa. Tak apa, yang penting waspada sebelum membaca.

=========================================================
=========================================================

Hai kamu,

Ya, kamu.

Kamu yang di sana.

Kamu keberatan tidak bila aku mengajakmu untuk duduk bersamaku?

Hah? Untuk apa, katamu?

Aku bosan.

Aku terkurung di sini lama sekali, di sini sangat sepi. Dan aku tak bisa melakukan apa-apa selain mengamati. Apa? Kau takut aku memakanmu, katamu? Oh, ayolah... di ruang imajinér ini memangnya aku bisa apa, sih? Lagipula di sini aku ingin berbagi denganmu. Berbagi sebuah tontonan yang mungkin akan menyenangkan, atau mungkin membosankan, tergantung bagaimana kamu menilainya.

Kamis, 19 Mei 2016

[PRELIM] 14 - TAL BECKER | SENTIMENTAL

oleh : MirorMirors

--

=Warning! Mature Content=

"Jiwa-jiwa yang sudah terlepaskan dari raganya, mereka tidak akan pernah bisa bermimpi ...."

Prolog

Kaki jenjang berbalut Loubouttin merah menyala berjalan cepat membelah genangan air bekas hujan semalam. Tidak peduli cipratan kecilnya akan mengotori ujung sepatu mewah itu. Si empunya malah mengubah langkahnya jadi berlari. Menciptakan cipratan-cipratan yang semakin besar tatkala ia setengah melompati genangan dan mendarat di genangan yang lainnya.

"Tal!" seru sebuah suara yang sudah tidak asing. Gadis bergaris wajah khas Irlandia itu seketika berhenti berlari. Tubuh ramping berbalut rok floral di atas lutut itu berbalik.