"Mengapa kita bermimpi?" Gadis itu bertanya retoris. "Karena kita memiliki kenangan."
"Manusia begitu akrab dengan konsep mimpi, begitu dekat dan menjadi bagian dari budaya. Namun seperti halnya fenomena yang manusia kira telah mereka pahami betul, mimpi adalah misteri. 'Keinginan bawah sadar yang tak terealisasi,' kata Freud. Ya, itu mungkin saja. Atau pola tidur menyebabkan beberapa daerah di otak aktif. Entahlah.
Kita hanya bisa menyimpulkan dari kedua hal itu, bahwa apapun mimpi itu ia dibangun dari kenangan."
Gold bertanya dalam hati, lalu bagaimana ia—yang bahkan kehilangan seluruh ingatannya—dapat bermimpi segila dan senyata ini?
Kedua orang itu masih setia meringkuk di bawah gerbang benteng Vredeburg, menatap hujan yang turun seperti dicurahkan. Gold dapat melihat beberapa tukang becak pulang, atau satu-dua mampir di sebuah warung seberang jalan. Ia juga dapat merasakan titik air membasahi kulit dan membuat lengannya meremang karena dingin. Sulit dipercaya, bahkan hampir tak mungkin semua yang ada di sekitarnya ini adalah mimpi.
Lelaki itu menoleh, melihat gadis di sampingnya meniup-niup kedua telapak tangan yang ia tangkupkan di depan mulut demi kehangatan. Uap tipis terlihat mengepul dari cuping hidungnya. Mendadak gadis itu menoleh, "Kamu nggak kedinginan, to?"
Gold menggeleng.
"Padahal kamu ini, lho, hanya pakai kaos oblong." Gadis itu kembali menatap jalanan. Mengambil sebatang rokok dari sakunya, memantik, lalu menghisapnya dalam-dalam. "Kenapa lihat-lihat?"
"Aku bener-bener masih penasaran dengan yang kamu bilang," Gold menjawab sejujurnya. "Lebih tepatnya, aku nggak percaya."
"Bahwa ini adalah mimpi?"
Mengikuti sang gadis, Gold menyalakan rokok juga. Ia mengangguk. "Ya."
"Sebenernya aku juga sedikit bingung, bagaimana mimpi yang ini bisa begitu solid, bahkan sensasi dunia nyata juga terbawa sampai sini," ucap gadis itu. Ia membenarkan ikatan rambut sebahunya, baru kembali bicara. "Dan setahuku, kecuali seorang yang bermimpi itu sadar bahwa ia bermimpi, impiannya nggak akan sejelas ini."
Gold menatap gadis itu tengah terlihat berpikir keras. Dan ia mencoba menyimpulkan ekspresi frustasi itu, "Maksudmu, terlalu nyata untuk disebut mimpi?"
***