FATIMA DHU AL-QARNAYN
VERSUS
FATANIR
ROGER DANIEL
[Tantangan NV2]
VERSUS
FATANIR
ROGER DANIEL
[Tantangan NV2]
oleh: Zoelkarnaen
---
That Damn Dream's Damsel
Jam dinding berdentang dua belas kali saat pintu kantor Biro Investigasi milik Dale mendadak terbuka, deru badai pasir pun bergemuruh mengiringi mengiringi masuknya sosok wanita bertubuh tinggi dan besar. Dari tangannya ia melemparkan sebuah karung yang berlumuran darah, lalu tanpa basa-basi ia segera merebahkan dirinya di atas sofa ruangan kantor tersebut.
Sementara itu di sisi terjauh ruangan dekat jendela, seorang pria paruh baya yang sebelumnya sibuk mengetik sesuatu kini berhenti sejenak. Pria itu menghela napas panjang seraya memijat keningnya sendiri.
"Fatima, bisa tolong jelaskan kepadaku, apa maksud dari semua ini?" tanya pria yang bernama Dale itu akhirnya.
"Itu buronan targetku," jawab Fatima langsung. "Kau tahu, pekerjaan yang kau berikan kepadaku minggu lalu, yang kliennya adalah pihak kepolisian?"
"Ya-ya aku tahu, karung kecil itu pasti berisi potongan tangan dan kepala dari si keparat malang, tapi bukan itu yang kutanyakan. Kenapa kau datang ke sini di tengah badai pasir, lalu mengotori karpet baruku dengan darah buronan?"
Dale pun berdiri sambil menunjuk ke mejanya. "Lihat ini, lihat ini semua! Mejaku, kopi ku, dan berkas-berkas yang baru saja kuketik, semuanya bertaburan pasir!"
"Brewok manja, jangan bawel, ah!" hardik Fatima yang kini berguling di sofa memunggungi bosnya. "Kalian bangsa Eydis terlalu banyak mengeluh, memangnya kau pikir semua orang yang kau temui itu dari bagian pengaduan?"
Biasanya Fatima akan lebih tahan dengan segala keluhan yang dimuntahkan Dale, tetapi rasa lelah yang ia rasakan saat ini membuatnya malas melayani segala ocehan si brewok itu. Hanya tidur nyenyak yang ia inginkan di siang hari berbadai ini.
Baru saja Fatima akan memejamkan kedua matanya, pintu ruangan kantor kembali terbuka, membawa deru dan debu masuk bersama dua sosok berjubah. Beruntung Fatima belum sempat melepas masker logam yang melindungi mulut dan hidungnya, atau saat ini mungkin ia sedang terbatuk-batuk seperti Dale.
Berusaha tak mengindahkan rentetan omelan Dale yang seperti senapan mesin, Fatima melepas rompi lalu memakainya untuk menutupi kepala. Fatima menduga kalau kedua sosok yang masuk barusan pasti Marreth dan Mirreth, putri kembar si bos.
Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Fatima terlelap, rasa penat yang dirasakan menyeretnya semakin jauh dari alam sadar. Suara omelan yang bercampur canda dan tawa pun terdengar semakin redup.
***


