Tampilkan postingan dengan label Takase vs Castor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Takase vs Castor. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 September 2016

[ROUND 2] 06 - TAKASE KOJOU | WHITE ASH


oleh : Nakano

--
 

 “Ah, taik.” Ucap Sieg, setelah belasan kali mengumpat di depan layar telepon genggam. Entah game apa yang membuatnya kesal, hingga lelaki berambut putih itu tega membanting ponselnya sendiri.

Sudah sekitar 12 jam Takase meninggalkannya di bingkai mimpi, dan separuh dia habiskan untuk mencari markas Phantom - rumahnya sendiri, yang masih misteri di
mana letaknya. Seperempatnya, untuk berjalan kembali ke supermarket tempatnya menaruh jas. Terlalu panas menggunakannya di siang hari.

Supermarket bernama ‘Indoapril’ Sieg jadikan rumah sementara. Tak masalah harus tidur di lantai kalau kau punya ratusan jenis konsumsi dan barang-barang untuk digunakan dengan gratis. Ia bahkan mengambil uang yang Takase taruh di kasir dan menganggapnya konyol. CCTV? Sudah ia tebas dengan katana.

”Si brengsek itu mana, sih!?”

Akhirnya penasaran juga dia ke
mana perginya si Tukang Palu. Mengintip padang rumput lewat jendela, kebetulan yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Menunggang domba dengan perempuan cantik di belakangnya. T-tunggu.....siapa?

“Saus tartar!”

Sieg bergegas keluar, walau pintu kaca bersistem infrared yang lelet terbukanya membuat si rambut putih jatuh menabrak. Sambil memegangi wajah memarnya yang bau kotoran burung, ia melanjutkan larinya. Tapi, baru beberapa meter di depan Indoapril, tanah bergetar hebat.

”G-gempa bumi!!”

Sieg reflek merunduk menutupi kepala. Bangunan di sekitar berguncang-guncang pelan seperti mesin blender, membuat bola matanya yang melihat ikut bergetar. Beruntung, gempa tadi berlangsung singkat. Berdiri perlahan, Sieg memasang ekspresi penuh pertanyaan.

‘Sempat-sempatnya’, batin Sieg.

Saat itu juga ia lupa mengenakan jasnya, pasti tertinggal di sebelah tumpukan majalah dewasa yang dijadikannya bantal. Adalah kewajiban tampil gagah di depan calon istri, hehehe.

Sialnya, nasib buruk belum berhenti. Tepat saat ia mengambil jasnya, empat pemuda berseragam biru muncul dari udara kosong, menatap Sieg kebingungan.

”Eh?” Sieg kaget.

Delapan mata karyawan itu menangkap benda-benda dan bungkus minuman berserakan di lantai, juga mesin kasir yang kosong.

”T-total berapa?” Celetuk Sieg, mulai berkeringat. Terlihat dua security tinggi besar berjalan mendekat. “beli pulsa sekalian, deh!” lanjutnya, panik.

***