Tampilkan postingan dengan label defy the tyranny. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label defy the tyranny. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2016

[PRELIM] 57 - RU ASHIATA | HITAM YANG BUKAN HITAM

 Writer's note: Tulisan putih dan bg hitam bukan maksud untuk menyelaraskan tulisan dan tema OCnya. Tapi penulis suka sakit mata baca di background putih dengan tulisan hitam. xD


oleh : N.V

----
================================================================
[ Bab l – Hitam Yang Pudar ]
================================================================

[ Chapter 0 ]

"Reverier..?"


.... ..eep.. Beep.. Beep..

Suara samar beep yang berulang perlahan terdengar sangat jelas ditelinga. Begitu juga pemandangan yang awalnya terasa kabur, sekarang terlihat jelas langit-langit ruangan disertai lampu neon yang menerangi ruangan, tidak terlalu silau ataupun redup. Termasuk sosok wanita berstatus pasien ini, yang baru saja tersadar dari tidurnya.

Sepasang iris merah pasien yang baru bangun ini, menggelinding bergantian ke kiri dan kekanan perlahan, menelusuri apapun yang dia lihat di ruangan tempat dia berada. Selain sebuah monitor yang menampilkan layar hitam dengan garis dan angka-angka yang terus berganti di samping ranjang tempat dirinya istirahat, ruangan ini begitu terang dengan semua perabotan yang mendominasi warna putih.

'ICU…'

Helaan nafas dihembuskannya dengan pasrah. Kelopak matanya yang masih terlihat sayu itu kembali tertutup, dengan senyum yang terpasang damai.

'Ah, Ru.. kau diselamatkan Tuhan lagi..'

Wanita yang memanggil dirinya Ru ini berpikir, Tuhan kembali memberi keajaiban. Dokter yang merawatnya selalu mengatakan, dirinya selalu cepat sadar melewati fase koma setiap penyakit gulanya kambuh. Entah Tuhan terlalu baik padanya tetap membiarkannya hidup, atau ini cobaan dengan hidup dalam kondisi berpenyakitan. Selama ini, dia hanya bisa pasrah dengan keputusan Tuhannya.

Tapi sebenarnya, ada sesuatu yang hitam ditubuhnya yang selalu menyelamatkannya.

"…reverier…"

Rabu, 08 Juni 2016

[PRELIM] 47 - EVE ANGELINE | DREAM, PAST, PRESENT, AND (FROZEN) FUTURE

oleh : Lyre Reinn

Dream, Past, Present, and (Frozen) Future (?)

Altair's Dream & Past : [Memory, when Eve was created]
.
.
*Z City, April 6th, 2028

"Selesai."

Altair memandangi sebuah—tidak, seorang gadis Humanoid—yang ada di depannya sambil melepas sarung tangan karetnya.

"He…hei… Dia mirip sekali denganmu." ujar Shiro yang sedari tadi berada di sebelah gadis itu sambil memperhatikan Humanoid di depannya.

"Kecuali…"

Iris merah darahnya melirik sekilas ke arah dada Altair dan si Humanoid secara bergantian.

"Kecuali?"

"A..ah.. T..tidak ada apa-apa!" seru pemuda itu panik sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
'Bisa gawat kan kalau aku ketahuan sedang membandingkan 'ukuran'nya' batinnya dalam hati.
Si gadis memandangi Shiro dengan tatapan bingung. Ia mendengar pikiran Shiro barusan, namun tidak mendebatnya lebih jauh. Toh yang dibandingkan tidak sesuai. Untuk apa membandingkan 'besi dengan daging'?

"Shiro…"

"I…iya?"

"Kurasa… Aku harus rajin minum susu…"

"E..e…."

"EEEHHH???"
.
.

Selasa, 07 Juni 2016

[PRELIM] 46 - ULRICH SORGE SCHMIDT | EIN, ZWEI, POLIZEI

oleh : Naer Sisra 

.
.
.
Keriutan lantai besi tua ruangan ini terdengar setiap ia bergerak. Aroma apak dan karat terkuar di udara, membuatnya sedikit tidak nyaman. Penerangan di tempat ini sangat redup, didominasi warna biru pucat dan beberapa bolham kuning temaram yang sudah ketinggalan zaman. Ia tak pernah tahu kalau di bawah ruangan kesehatan sekolahnya ada laboratorium rahasia.

Rahasia, kedengarannya keren dan misterius.

Nyatanya ruangan ini tidak terurus, berantakan, dan kuno. Tidak ada keren-kerennya sama sekali. Walaupun demikian, suara mesin yang menyala di kejauhan membuktikan kalau tempat usang ini masih berfungsi. Setidaknya itu yang ingin Ulrich Schmidt yakini.

Bocah halfling bertanduk gading itu berdiri di depan sebuah alat berbentuk kapsul. Cukup besar untuk dimasuki orang dewasa. Walaupun asap-asap yang keluar dari dalam alat itu membuat Ulrich khawatir.

"Masih lama?" Tenornya pecah karena serak setelah setengah hari tidak bersuara sama sekali, bocah berkacamata itu lalu berdeham, "Apa alatnya belum siap, Profesor Benedict?"

Senin, 06 Juni 2016

[PRELIM] 42 - TAKASE KOJOU | HELLO, SLEEPWALKERS

oleh : Nakano

--
 
"….Reveriers,"


Aku yakin dua sosok itu mengatakan banyak hal, tapi yang bisa kudengar hanya kata itu.


"….Mahakarya,"


Kata kedua yang kudengar. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


"…..Alam mimpi."


Kata ketiga yang kudengar. Aku tak tahan lagi. Aku akan bertanya. Namun, baru saja aku membuka mulutku, kedua sosok itu lenyap bersama cahaya yang menyilaukan.  Menyisakan putih kosong tanpa ujung. Kehampaan sempurna.


Ya, mungkin ini memang  mimpi.



[PRELIM] 41 - ZAUBER MAGI | MIMPI ADALAH KEBOHONGAN YANG MANIS



oleh : Raditya Chema

--

“Mimpi adalah kebohongan yang manis,
dan realita adalah kenyataan yang pahit”
-Anonymous

Mimpi, siapa yang tidak suka mimpi? kita di mimpi bisa mendapat apa yang kita inginkan seperti memimpikan orang yang kita sayang, uang yang berlimpah, atau jadi raja termahsyur pun bisa. Tapi tak selamanya mimpi itu indah, kita bisa mendapat mimpi buruk. Tapi mimpi itu membantu kita, seperti menghilangkan rasa takut pada sesuatu, merasakan sebuah kepuasan tersendiri, atau bisa juga mengingat memori yang telah lama hilang. Ya, mengingat memori yang telah lama hilang, aku harap aku bisa mengingat memori bersama ayahku….

Jumat, 03 Juni 2016

[PRELIM] 32 - NANO REINFIELD | FIRST CLUE FROM THE FAKE PARADISE

oleh : Dwi Hendra

--

0 – Prolog


"Pelan-pelan, Kak. Sakit!"


Natera berteriak menahan sakit dan mencengkram bahu Nano, Kakaknya. Nano merasa kesakitan menahan cengkraman adiknya.


"Ini sudah pelan, Natera. Tahan sebentar lagi." kata Nano menenangkan.


"Tapi ini sakit sekali, Kak. Ini pertama kalinya bagiku." Natera terus mengaduh.


Cahaya redup di penginapan itu ikut menemani teriakan Natera di malam yang sepi. Natera terus memeluk tubuh Nano membuat Nano kewalahan dengan tingkah Natera.


"Itu salahmu sendiri karena kau tidak mengukurnya terlebih dahulu sebelum mencobanya." kata Nano menggerutu.


"Kukira ukurannya pas. Aah.. sakit, Kak. Jangan ditekan di bagian itu."


Natera terus meronta dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Tak terasa air mata menetes di pipi yang meronta merah itu.


"Kalau aku tak menekannya, susah untuk memasukkannya. Tahan sedikit, sebentar lagi selesai."


"Aaahh.. Kak. Aahhh.."


Nano berhasil menarik gaun Natera. Sehingga kini Natera sudah memakai gaun tidur kesukaannya. Natera memeluk tubuh kakaknya yang kekar. Seutas senyum terpancar dari bibir Natera.


"Terima kasih, Kakak."


"Sudah selesai. Seharusnya kau mengukur dulu gaunmu sebelum minta dijahitkan. Tubuhmu sudah bukan seperti dulu lagi."


"Jadi Kakak kira aku sudah gemuk, begitu?" tanya Natera cemberut.


"Bukan begitu maksudku. Sudahlah, aku mau tidur sekarang." jawab Nano sambil mencubit pelan pipi Natera kemudian tertidur pulas di kursi panjang.


*** 

Kamis, 02 Juni 2016

[PRELIM] 31 - GHOUL | NAMAE NO NAI KAIBUTSU

"NAMAE NO NAI KAIBUTSU"
(Monster "29 Februari" Tanpa Nama: si Dua Puluh Lima Juta)

(by: Arieska Arief)


*Lanjutan FBC: 29 February (kalo gak salah sih entri ke-15!)
**NB: mengandung fanservice ringan khusus wanita dewasa (B.OT)





29 Februari…


"Bakar! Bakar mahluk itu sekarang juga!" gemuruh pekikan massa desa turut membakar suasana malam itu di sebuah lapangan eksekusi.

Suara derikan api membungkus mahluk berwujud manusia itu. Ia meraung-raung dan menggeliat berusaha membebaskan dirinya dari api yang berkobar penuh memenjarakannya. "Arrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggghhh!!!" 

Selasa, 17 Mei 2016

[PRELIM] 06 - ADOLF CASTLE | UNSHACKLED

oleh : toomuchidea

---
     Adolf menemukan dirinya terbangun dan tersadar, berdiri di dalam sebuah ruang operasi. Seorang lelaki berdiri di sudut ruangan, mengenakan pakaian yang sama dengan dikenakan para dokter dan suster. Tertidur di atas meja operasi, seorang wanita cantik dengan rambut cokelat yang diikat kebelakang. 
    Mimpi? Pikirnya. Adolf mengelap pipinya yang basah, dan teringat bagaimana ia menggunakan kompres es untuk mengobati memar di pipinya tersebut. Sebelumnya ia berada di kamarnya, di atas ranjangnya sebelum terlelap tertidur.

Minggu, 15 Mei 2016

[PRELIM] 03 - WEISS NACHT | REQUIEM

WEISS NACHT
oleh : YaTaBe

---


I

Zainurma terbang bebas menembus ratusan awan mimpi. Pria berkacamata hitam itu menyeringai lebar. Dia tidak pernah menduga kalau Sang Kehendak mau-maunya menerima ide yang dia lontarkan. Tapi hal itu sangat dia syukuri. Mungkin siapapun yang menciptakan seluruh semesta yang ada sedang menganugerahkan berkat padanya untuk mempercepat rencananya: menghancurkan patung otak bernama Sang Kehendak itu.

"Tu-tuan Zainurma, tolong terbangnya jangan terlalu cepat."

Zainurma berputar dan melirik sesosok makhluk berkepala bantal terbang mendekat dari arah kakinya. Kepala bantalnya tampak kembang kempis dan basah. "Terbangmu lambat, Ratu Huban. Bukannya ini masih bagian dari dimensimu?" kata Zainurma kepada makhluk kepala bantal itu.

"Tetap saja, tuan. Jika Anda bersemangat, bahkan saya pun tidak akan bisa mengikuti," kata Ratu Huban.