oleh : Nakano
--
Museum semesta.
Sebuah tempat berupa penyimpanan karya
seni dengan dinding dan pilar bernuansa putih, bercahaya emas, dan beralaskan
karpet merah darah. Dari ujung ke ujung nampak lukisan-lukisan surealis
berjejer, dipajang tinggi-tinggi. Luasnya gila-gilaan, bahkan rasanya mustahil
melihat pintu keluar, selalu ada pintu disana dan disini yang berisi ruang
pameran karya seni.
Itulah tempat Takase dipanggil setelah
menyelesaikan tantangan dari bingkai mimpinya. Dan, ia tidak sendiri. Minus
Zainurma dan Huban, ada 67 orang asing disana. Satu di antaranya adalah seorang
wanita berambut merah dengan perisai dan tombak, persis karakter Athena dari
game monopoli online.
Lainnya, masih didominasi manusia,
namun terdapat beragam mahluk hidup lain sejenis hiu berkaki dua, iblis, juga
robot. Kaleng pengharum ruangan di ujung sana termasuk? Di mimpi semuanya bisa
terjadi ‘kan?
“Ini … aku yang sedang bertarung? Di
lukisan ini? S-siapa yang membuatnya?” ujar salah satu reverier yang wajah
mabuknya segera sirna. Zainurma menyeringai, “Judulnya adalah ‘Naga Terkapar,
Langit Gempar’. Sedikit berlebihan kurasa judulnya, untuk ukuran karya yang
biasa-biasa saja. Tapi yah … bukan aku yang membuat judul itu. Bisa dikatakan
sebagian besar karya kalian cukup memuaskan. Biarpun masih jauh dari kualitas
mahakarya, tentu saja.”
Setelah itu, para pemimpi lain mulai
mencari-cari lukisan milik mereka.
“Be-benar! Ini aku!”
“Lukisan ini boleh aku ledakkan?”
“Jangan, bangsat!”
“Toilet dimana? Dimana toiletnya!?”
Komentar-komentar dilayangkan, Takase
akhirnya menoleh kearah lukisan di depannya, tampak jelas. Pria bermantel hijau
dengan palu, itu dirinya.
“He-hello…..Sleepwalkers?” Takase agak
terbata. Judul lukisannya menjiplak nama band jepang. Ada benarnya juga sih,
karena ia bertarung dalam mimpi, mungkin ini dimaksudkan sebagai ‘ucapan
selamat datang bagi pemimpi’, siapa tahu?
Kehebohan belum surut, para Reverier
melayangkan pertanyaan-pertanyaan bertubi kearah Zainurma, Huban, dan dewi
perang. Seperti biasa, Takase cuek bebek dan makan cemilan sembunyi-sembunyi.
Namun, hal pelik lagi-lagi terjadi.
Museum semesta berguncang dahsyat. Takase syok, keripik kentangnya berceceran
di karpet. Alasan lain, lima orang reverier mengerang keras. Bagai ditarik
jiwanya, mereka berteriak kesakitan. Air muka penuh rasa siksa dan sengsara.
Cahaya memancar dari tubuh mereka.
“—!“
Takase masih tergemap, tak mampu
berkata-kata. Kenapa mereka?
Jawabannya ada pada lima buah lukisan
beraura suram. Karya gagal. Bernilai rendah.
Zainurma menjentikkan jarinya, kelima
reverier terbang di udara bagai kapuk diterpa angin. Sedetik kemudian, mereka
berubah menjadi patung haniwa, tembikar.
Apa yang menjadi faktor penilaian
karya museum semesta? Kenapa yang karyanya rendah akan menerima hukuman semacam
ini?
“Huban si Kepala Bantal yang sedari
tadi hanya berdiri diam di pojok aula ini akan membawa kalian kembali ke
Bingkai Mimpi. Kalian akan menetap di sana sampai mendapatkan instruksi untuk
proses penciptaan karya berikutnya.”
Mafia necis itu kembali berlisan. Para
reverier hanya dapat menggeram sebagai balasan.
“Mungkin kalian tak percaya tapi …
pada dasarnya aku dan Mirabelle sama saja seperti kalian. Tak punya kebebasan
lagi. Dan satu saja saran dariku. Gunakan kesempatan ini untuk membuat diri
kalian menjadi kuat.”
Setelah mengucapkan itu, Zainurma
meninggalkan aula pameran, disusul dewi perang di belakangnya. Huban? Ia
berjingkrak gembira, sangat tak pantas mengingat apa yang baru saja terjadi.
“Ayo~ saatnya kalian kembali~
Domba-domba kalian bisa kesepian kalau terlalu lama ditinggal di sana~~”
Ratu Huban pun melempar ke-66 Reverier
ke portal ajaib, satu demi satu. Yang dilempar hanya bisa pasrah. Tiba giliran
Takase.
“C-cih….”
Sebelum terserap penuh ke portal itu,
Takase melihat sebuah patung gigantik dari tumpukan badan manusia, membentuk
sesuatu yang kita sebut dengan – otak.
Itulah entitas yang disebut dengan
‘Sang Kehendak’.