Kini, mimpiku adalah realitaku.
Kenyataanku
Senangkah aku? Sedihkah aku?
Entahlah, batinku semakin susah memantapkan perkataannya. Semacam tertekan
suatu entitas dengan eksistensi Maha Tinggi. Yang benar saja. Baru kemarin
kurasakan ia mempermainkan raga asliku, tiba-tiba saja jiwaku mendadak
direngkuhnya. Maksudku, sebelum akhirnya nalarku mengerti secuil kisahnya yang
lebih dari sekedar kiamat.
[Sang Kehendak]
Aku tiba di kuil itu dalam
keadaan yang seperti biasa. Tempelan fisik Jess di sebelah kananku, belaian
domba seputih kertas kosong yang dikejar deadline, dan rasa khawatirku yang
mereka-reka jika aku bertemu dengan-Nya. Sejenis amphiteater berisi tiga puluh
dua reverier yang selamat dari pertempuran sebelumnya, dengan mimbar dan patung
dewa-dewi di sekelilingnya.
Kami tak melihat [Sang
Kehendak], namun kami dipertunjukkan kepada kekuasaan-Nya. Kiamat, huru-hara
dunia, kehancuran yang nyata. Jess menahan nafasnya, begitupun aku yang dipaksa
kondisi tubuh setengah wanita-setengah pria ini untuk berbagi rasa satu sama
lain. Beberapa reverier bertanya ragu, sedangkan sisanya sudah terlampau panik.
Sampai akhirnya aku tahu bahwa kami, para pemimpi, adalah mereka yang
beruntung, yang terpilih, untuk menyelamatkan semestanya masing-masing.
Kurasakan kepercayaan Zainurma,
juga Si Dewi Perang, yang begitu besar terhadap kami. Kepercayaan yang
menantang intuisiku terhadap ronde selanjutnya.
Yang sabotasenya dilakukan Si
Jubah Ungu di ujung Alam Mimpi sana.
~
