Tampilkan postingan dengan label Pucung vs Catherine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pucung vs Catherine. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2016

[ROUND 2] 23 - PUCUNG | REM 02: SATIRICAL

oleh : Wildan Hariz
 
--
 
PUCUNG – REM 02: SATIRICAL

SATIRE 1
MERGING FRAMES



Meluas. Bingkai ini meluas.

Satu hal yang diketahui Pucung sejak beberapa jam lalu ia bangun adalah munculnya tempat-tempat baru dalam Bingkai Mimpinya. Bisa diumpamakan seperti ini: seseorang telah mengganti bingkai sebuah foto dengan bingkai yang lebih besar untuk foto yang lebih besar pula. Anggap saja ukuran foto itu adalah ukuran mimpi Pucung saat ini.

        Dua sosok putih berjalan berdampingan. Pucung dan Alejandro menyusuri sebuah sungai tanpa nama, replika dari sungai di Desa Karikil. Di ujung sungai membentang hutan berkabut merah. Di sampingnya berdiri megah sebuah air terjun, tersambung dengan sungai. Mengesampingkan nuansa seram hutan berkabut, pikiran Pucung menyarankannya untuk memeriksa hutan itu. Definisi seram Pucung sedikit berbeda, lagipula.

        Begitu asing. Tak pernah Pucung temukan tempat macam ini di Buana Panca Tengah, Nyungcung, Larang—tidak di buana manapun. Kabut merah menyesakkan seakan mencumbu area itu. Tak ada yang luput darinya. Manusia pastilah akan menutup hidung dan mulut di sini. Siapa yang tahu apa efek kabut ini pada mereka?

[ROUND 2] 22 - CATHERINE BLOODSWORTH | MEMORIES

oleh : Xeon4rvellen
 
--
 

BoR 6 – R2 : Memories
Cahaya merah yang berpendar mengusir gelapnya langit malam pada garis cakrawala di ujung pandanganku. Pohon suci desa Bentala Vayu yang berdiri dengan gagahnya, kini tengah terbakar oleh semburan api dari puluhan ekor naga yang dipimpin oleh Seth.
 Para penduduk desa yang berlarian panik pun tak ketinggalan. Mereka mendapatkan peran sebagai korban santapan bagi kadal-kadal bersayap yang mematuhi perintah tuan mereka untuk menghabisi seluruh warga desa. Rangkaian kejadian itu menjadi adegan penutup dari pertunjukan lima orang Reverier wanita yang tengah menciptakan karya seni mereka untuk dipajang di aula Museum Semesta.
Dalam kekacauan itu, dua ekor domba tampak berlarian untuk menghampiri kedua tuan mereka yang kini tengah saling pandang antara satu sama lain; Seorang wanita berambut hitam dengan sebilah pisau dalam genggaman tangannya dan seorang anak perempuan berambut coklat kepang dua yang tengah jatuh terduduk.
'Catherine Bloodsworth dan Lilia Fiennes, ya?' aku membuka daftar katalog peserta di tanganku sambil memandang mereka dari kejauhan, 'Oh, dan Samara Yesta juga. Ia masih hidup rupanya.'
"Paman Nurmaaaaaaa!"
Suara teriakan yang tak asing bagiku terdengar semakin mendekat. Ratu Huban yang  melayang-layang di udara menghampiri diriku dengan pelan. Di sebelahnya, seorang wanita berambut merah yang mengenakan baju perang tampak mengikuti. Namanya Mirabelle. Sama seperti diriku, ia juga terperangkap di Museum Semesta karena ulah Sang Kehendak.
"Tidak usah berteriak begitu, telingaku masih normal."
"Hmm? Ah! Paman Nurma lagi ngintip ya? Di sini Reveriernya cewek semua!"