Stepping firmly on a muddy path, I wandered hollowly
The caged bird danced sheerly, to the sky with distant sun[1]
"Kalau kalian kalah di turnamen ini, bakal sial deh nasib semesta kalian." ungkap Zainurma dengan entengnya.
Orang-orang, atau makhluk-makhluk, yang berada di sekitar Mia menjadi kaget dan bertanya macam-macam pada Zainurma. Mia hanya diam menatap sosok itu di barisan paling akhir.
'Oh jadi ini turnamen? Yang kalau kalah, dunia tempatku berada hilang?'
Seharusnya Mia kaget atau kalut, akan tetapi wajahnya tetap tidak ada ekspresi yang berarti. Hanya, wajahnya terlalu tenang seperti menunjukkan kepasrahan diri. Ataukah kekosongan?
'Ah, apakah saatnya sudah datang? Akhir untukku.'
Sejak Mia lahir di dunia ini, dia dianggap sebagai anak yang terkutuk. Semua orang yang disekitarnya secara perlahan namun pasti, meninggalkan dirinya sendirian. Dia sudah tidak bisa mengingat wajah ayah dan ibunya. Hanya neneknya yang bersama dirinya. Tapi itupun sudah tidak lagi.
Lalu dia pergi dari tempat itu sambil berpikir hidupnya selama ini ternyata cukup menyenangkan dan dia tidak menyesali keputusannya.
++++
