Tampilkan postingan dengan label Ganzo vs Sheraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ganzo vs Sheraga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2016

[ROUND 2] 19 - GANZO RASHURA | MAGNASHIYA

oleh : Ramiza

--

AYAT 11
BUAH DARI KEKECEWAAN

"[Kurasa tuhan yang kau anggap itu bukanlah tuhan. Melainkan sesuatu yang sedang memainkan 'Permainan Tuhan']"
.
.
.

Ayat 11 Potongan 31 Kitab Suci Varsakhtisav mengenai Agama Varsakhta berbunyi;

"…Dunia akan lebih baik tanpa agama…"

Ganzo Rashura terpejam. Berduduknya ia diatas sebuah batu besar di tengah sungai yang tenang berhadapan dengan kuil sakral 'Varsaria' . Meditasinya kali ini tak lain untuk merenungi kesalahannya pada pertarungan sebelumnya serta mencerna opini seseorang yang terlampau membuatnya bimbang.

Tidak. Bukan seseorang, melainkan sebuah robot bernama Iris Lemma. 'Kurasa tuhan yang kau anggap itu bukanlah tuhan. Melainkan sesuatu yang sedang memainkan 'Permainan Tuhan'? Omong kososng, kau hanyalah sebuah robot yang di program untuk berbicara secara random' , umpatnya dalam hati.

Namun bagaimana pun juga ia tak boleh meremehkan opini mengenai 'Permainan Tuhan' yang selama ini ia berusaha pecahkan tersebut. Ia mencoba mencernanya dengan membandingkan opini tersebut dengan salah satu ayat dari Kitab Suci Varsakhtisav.

"Jika dunia lebih baik tanpa agama… Lalu mengapa ada agama Varsakhta di dunia ini? Inikah 'Permainan Tuhan'?" Tanpa sengaja ia mengeluarkan perkataan tersebut di sela – sela pejaman matanya.

"Ganzo Rashura… Kau masih terlalu dini untuk menyimpulkan hal tersebut… Masih banyak 'Kenyataan' yang belum kau ketahui… Perjalanan mencari kebenaran untuk menyampaikannya pada umatmu masih lah panjang" Satu ucapan seratus suara tersebut menggema di langit – langit bingkai Mimpi Ganzo Rashura.

Tuhannya datang.

[ROUND 2] 18 - SHERAGA ASHER | SITRA ACHRA


oleh : Ahran Efendi
 
--
 

 [Perhatian: berkaitan erat dengan preliminer, dan terutama ronde satu.]
“Jangan dengarkan kilasan-kilasan itu, dan tetaplah percaya kepadaku. Kamu insan baik. Begitu luhur budi, sehingga kamu tidak pernah membalas kejahatan orang-orang yang berlaku zalim kepadamu. Tetaplah demikian selamanya.”


- 0 -
Sepanjang usianya, Orim Kohan seorang pengasih dan penyabar. Atau sekurang-kurangnya sang Okultis akan berusaha untuk menampakkan kesan demikian. Ketenangan sudah merupakan bagian dari identitasnya. Riak emosi takkan dibiarkannya bergolak. Tapi untuk kali ini, ketentuan tersebut tidak ditegakkannya.

Itu terlalu berharga bagi musuh. Orim bahkan tak perlu repot-repot mengunci mati penglihatan, sebagaimana biasa. Iris birunya menguarkan rasa jejap, pada sosok di hadapan.

Orang yang belum lama ingin membunuh Orim terikat di kursi. Kedua tangan berikut kakinya terbebat jerat magi. Api di atas ruangan mempertegas kulit si pemuda ular, yang sepasi kapas dan bersisik. Rambut perak panjangnya tergerai berantakan, masih mempertahankan bercak di beberapa bagian.

Wajahnya tidak mengesankan roman kemanusiawian; sayat dan gurat dalam bergelimpangan di sana, sebelah matanya rusak, dan sudut mulutnya tak setangkup. Dari dalam bibir pucat keriputnya, sesekali lidah kelam bercabang dua menyembul secepat kerjap. Alih-alih setengah Helev, pemuda itu—Nadav—justru lebih menyerupai manifestasi Yang Terbuang. Sebangsa Netzakh yang sempat berbagi raga dengan Orim.

Dengan babak belur di sekujur badan, Nadav malah tertawa. Satu mata safirnya yang tersisa menyorot penuh benci.

“Ssh, yang seharusnya mengakui apa pun, adalah kau,” desisnya tajam. “Kau pun, ssh, melenyapkan nyawa seseorang malam itu. Dengan iblis di dalam tubuhmu!”

Tak mengikuti momen sebelumnya, dengan mengikutsertakan Netzakh, tongkat pemukul Orim tak langsung menambah remuk si pemuda. Terutama setelah penyingkapan rupa yang baru saja terjadi.

“Kamu, kamu ini ... sebenarnya makhluk apa?” tanya Orim, dengan gentar yang mencekam. Mengernyit menahan jijik dan seberkas iba.