oleh : Sastrawatigila
--
"Suatu saat nanti semesta yang akan meniadakan-Mu."
- 1 -
Semestinya saat ini masih berlangsung perjalanan dari Hagashah menuju Avratika—melewati rute paling rahasia di benua Tara. Alih-alih terjaga di penginapan pada batas terluar sebuah kota terlupakan, pemuda berambut hitam dan bermata kelabu itu mendapati dirinya berada di tempat yang ganjil.
Memandangi sekitarnya, Sheraga merasa kembali ke masa tiga tahun silam. Kehangatan kampung halaman mendadak membekapnya. Sekali lagi, dia disambut bangunan-bangunan tinggi serbaputih berpuncak kubah, senada dengan jalanan rata dari batu. Patung-patung malaikat dan para tokoh terkenal memenuhi sudut-sudut kota, seolah berbaris penuh hormat.
Namun, kebekuan dari tempat pelariannya tak luput menyertai.
Sheraga mendongak. Langit sewarna matanya, dan memuntahkan butiran dingin. Disadarinya kemudian Ibukota Batya menyempit, dan tidak berdiri di pinggir lautan. Melainkan dikelilingi gugusan bukit hijau. Tak dapat diperkirakan apa yang menanti di baliknya.
Menoleh ke samping, tampak patung perunggu Dewi Gallena—sang ibu pemelihara semesta dalam ajaran bangsa Helev—menjulang kukuh di tengah kota. Hal yang sepatutnya hanya terjadi di kota-kota besar Hagashah. Lebih jauh, kabut tipis menggantung di udara. Cukup untuk sedikit demi sedikit mengikis keberanian Sheraga.
Makhluk-makhluk berakal tak jauh darinya adalah kerumunan berpakaian panjang tertutup tanpa warna. Walau demikian, telinga mereka tidak tegak ke atas. Rambut mereka pirang kotor serupa jerami, dengan mata sewarna pepohonan di musim merekah. Menandakan mereka bukan Dayan. Melainkan orang-orang Helev—manusia—sama seperti Sheraga.
"Maaf, apakah ini benar ibukota Batya?" Sheraga memberanikan diri angkat suara, pada manusia terdekat.
Tetapi pria itu, nyaris tanpa pertimbangan, pergi menjauh. Air mukanya menyiratkan rasa tidak suka. Seberkas sumpah serapah sampai pada telinga sang alkemis. Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya perkara bahasa teratasi.
Kemujuran lain disadarinya datang, karena ketidakhadiran istana di area yang seharusnya. Tergantikan sepasang kuil pemujaan dewi yang berhadap-hadapan. Sehingga Sheraga tidak patut melihat lagi tempat traumatis tersebut.
Apa aku benar bermimpi?