Tampilkan postingan dengan label Fa vs Nano. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fa vs Nano. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2016

[ROUND 2] 10 - NANO REINFIELD | PROTECT FROM NIGHTMARE

FA VS NANO REINFIELD

oleh : Dwi Hendra

--


0 – Prologue


Tiga puluh dua.


Tiga puluh dua orang berkumpul di suatu tempat lain, namun bukan Museum Semesta. Yang terlihat hanyalah ratusan gunung yang menjulang tinggi menembus awan. Dimana pusat tempat itu merupakan gunung tertinggi dengan kuil megah berada di puncaknya. Kemegahan itu mengalahkan gereja manapun di Kota Amor. Di sana terdapat banyak patung-patung menawan berbentuk sosok dewa dan dewi. Mirabelle menjelaskan tempat ini adalah bingkai mimpi miliknya dan patung-patung itu adalah para dewa dan dewi yang dijadikan patung oleh [Sang Kehendak].


Semua terheran-heran karena beberapa reverier yang mereka lawan ada di tengah-tengah mereka. Termasuk aku yang terheran melihat gadis berambut bob hitam dengan senyum ramahnya, yang mungkin tidak bisa kulupakan. Aku seketika teringat dengan Mirabelle yang–dengan seijin [Sang Kehendak]–bisa mengembalikan jiwa reverier walaupun tubuh mereka hancur beberapa kali.


Kali ini aku berdiri di barisan belakang. Karena aku tak ingin lama-lama melihat wajah menyebalkan Zainurma itu. Bisa-bisanya dia tersenyum sementara kami harus berjuang mati-matian hanya untuk–setidaknya–terhindar dari kekalahan dan menjadi guci buruk rupa. Mengingat guci buruk rupa, hatiku bertanya-tanya kemana reverier yang lain. Aku mengingat ada 61 reverier–termasuk aku–berkumpul di Museum Semesta. Sekarang separuh dari kami yang tersisa.


Semua menoleh ketika seorang reverier berbentuk naga mengangkat tangannya. Zainurma mempersilahkan naga itu menanyakan sesuatu. Setelah naga itu selesai berujar, sang kurator seperti menantang para reverier untuk pergi ke Museum Semesta. Seketika naga itu terdiam seperti salah mengucapkan sesuatu ke Zainurma.


Rasakan kau, Naga Tua Bangka!, tawaku dalam hati.

Rabu, 14 September 2016

[ROUND 2] 09 - FA | F.F



FA VS NANO REINFIELD

oleh : Bayee Azaeeb

--

Chp 1 : Fake Fairytale
"This is your life, and it's ending one minute at a time." – F.C
 [Fa's POV]



"Welcome back, Monsieur."

Wanita ini pasti bercanda. Apa dia katakan barusan? Welcome back? Manusia macam apa yang menyambut seseorang dengan moncong shotgun ditodongkan ke wajah?

Aku mengangkat bahuku dan menggeleng, "Maaf, aku tak mengenalmu," jawabku ketus.

"Aku Sjena Reinhilde, dan aku tidak nyata."

Lelucon macam apa lagi ini?

Sjena melepaskan shotgunnya, membiarkannya menguap dan menghilang di udara. Ia lalu merebahkan dirinya begitu saja di trotoar, seolah tak peduli dengan sekitarnya. Kacamata sihir yang melayang di sekitar tubuhnya mendarat dengan lembut di sampingnya.

"Dunia ini tidak nyata bukan? Ini di mana? Limbo? Dimensi tertutup? Katakan padaku, Monsieur."

Aksen asingnya yang dibuat-buat membuatku merasa sedikit tidak nyaman. Tapi perlu diakui, dia ada benarnya. Dunia ini tidak nyata, ini hanyalah bingkai mimpi – sebuah tempat yang berdasarkan alam bawah sadar.

Hei, tunggu sebentar. Alam bawah sadar siapa ini? Aku ingat sekali bingkai mimpiku sebelumnya adalah hutan belantara dengan hantu-hantu sialan berkeliaran. Dan aku berhasil lolos dengan membunuh salah satu hantu sialan itu. Tapi kenapa aku sekarang berada di sebuah kota metropolitan? Apa yang sedang terjadi di sini?

"Aku masih mengingat samar-samar sweater abu-abumu itu, ketika aku masih kecil dan dikejar-kejar seorang pemerkosa. Kau menyelamatkanku dengan sebuah cahaya putih yang menghangatkan. Tapi tak berhasil, hahahaha.."

"Kau pasti salah orang, Sjena," jawabku sambil ikut duduk di sampingnya. Memandang jalanan yang ramai dilewati mobil dan aktivitas manusia.

"Setelah membunuh pria itu, aku merasa tak pantas hidup lagi. Orang tuaku juga tak bisa ditemukan, jadi kuputuskan untuk membunuh diriku sendiri, tapi gagal. Setiap kali aku membunuh diriku, aku selalu terbangun di tempat lain. Menariknya lagi, aku tak bisa keluar dari kota ini. Jadi aku asumsikan, tempat ini tidak nyata bukan?"

Aku menarik nafas panjang sambil menatap langit biru kusam yang menaungi kota asing ini.

"Ya, ini adalah proyeksi alam bawah sadar yang disebut Bingkai Mimpi. Jadi secara teknis, kau adalah proyeksi alam bawah sadar seseorang. Yang aku tak bisa mengerti, kenapa Bingkai Mimpiku bisa terhubung kesini."

"Hei Monsi – "

"Fa. Panggil aku Fa," kataku singkat memotong perkataan Sjena. Jujur, dipanggil Monsieur terasa sangat aneh. Tapi kurasa terjebak di Bingkai Mimpi selama belasan tahun, terjebak dalam loop dan tak bisa mati tentu saja dapat membuatmu gila, sehingga mencampur adukkan bahasa satu dengan lainnya.

"Baiklah Fa, jika aku adalah proyeksi alam bawah sadar, dan seorang proyeksi tidak bisa membunuh dirinya sendiri. Bisakah kau.. membunuh diriku?"

Wanita ini pasti bercanda.

Sesaat kemudian, sebuah portal muncul tepat di sampingku. Baru saja aku sampai di Bingkai Mimpi, apa tak ada waktu untuk beristirahat sejenak?

"Apa ronde selanjutnya sudah dimulai?" Tanyaku pada Ixephon, domba mungil yang berjaga di samping portal.

"Belum, tapi Zainurma dan Huban mengundangmu untuk melihat sesuatu," jawab Ixephon via telepati.

Aku segera beranjak dari tempatku dan berjalan menuju portal magis itu.

"Hey Fa!" Panggil Sjena.

"Jika proyeksi tidak bisa membunuh dirinya sendiri. Apa yang akan terjadi apabila proyeksi membunuh Sang Pemimpi?"

Aku sedikit berharap sebuah ucapan sampai jumpa atau semacamnya. Tapi tampaknya aku salah, mengharapkan pertanyaan yang waras dari Sjena adalah sesuatu hal yang tidak waras. Dan entah mengapa, pertanyaan itu terasa sedikit lucu buatku.

"Hahahaha, beri aku 1001 alasan untuk membunuhmu! Kita baru kenal kurang dari 1x24 jam bukan? Jadi aku tidak punya sedikitpun alasan untuk menerima..permintaan bunuh dirimu."

Oke, itu perpisahan paling tidak konvensional dalam genre drama.


(* * *)