Hansel dan Gretel
Beberapa tahun lalu
Coba perhatikan itu, gumpalan lumpur kecil berambut senja! Menjijikkan setiap hari! Gretel memaki tanpa suara. Makian yang dilandasi sepenuhnya rasa benci di sisa-sisa serpihan hatinya. Sangat intens pula, silabel per silabel dari makian tersebut, sampai-sampai bisa menyamai ibtida para pendoa yang sedang menjalankan ritus dan menganggap dunia sekelilingnya tidak ada, terhalau khusyuk.
Karena sesungguhnya, akhir-akhir ini, dalam konsep waktu yang sudah kian mengabur dan nyaris tak lagi diketahuinya, Gretel memang hanya bisa melakukan sebatas itu saja.
Dulu, gadis berambut pirang bernama Gretel ini berprofesi sebagai fotografer, yang juga hobi jalan-jalan. Gretel hidup pada belahan bumi yang berbeda di setiap akhir pekan. Ia berpetualang berdua.
Bersama Hansel, sahabat laki-lakinya yang berprofesi sebagai tunakarya, atau lebih suka disebut sebagai pujangga idealis; karena Hansel lebih senang menulis apa yang dilarang untuk dipikirkan khalayak, daripada menulis jurnal rata-rata yang membahas suhu planet, adat, tokoh penting, atau novel-novel menggugah.
Apa pun, pokoknya, jenis tulisan yang mampu mendatangkan cukup koin ke pundi-pundi, seolah Hansel hindari. Dan Gretel memilih keliling bumi bersama jenis laki-laki pembawa masalah itu—tak heran kalau mereka bahagia.
"Kita berhasil menemukannya, Gretel! Gerbang! Itu pasti jalannya! Jalan menuju beragam misteri yang baru!" seru Hansel di perjalanan terakhir mereka. Gretel masih ingat setiap kalimat bersemangat yang diutarakan sahabat baiknya itu, juga pemandangan setiap tetes darah yang merembes dari lubang di tubuh mereka. Menggantung dan menetes melalui ujung stalaktit gua terlarang di pedalaman Afrika, seperti air mata.

