Tampilkan postingan dengan label N4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label N4. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2016

[FBC] 019 - NANO REINFIELD

NANO REINFIELD
VERSUS
SANELIA NUR FIANI
[Tantangan N4]
oleh: Dwi Hendra

---


UNHAPPY ENDING LOVE STORY

[Suatu Tempat di Exiastgardsun]


Di suatu malam yang ramai, seseorang bertopeng rubah dan memakai hoodie biru gelap sedang berlari menembus kerumunan penduduk Exiastgardsun yang sedang menyelenggarakan karnaval malam tahun baru. Ia mendorong dan menyenggol orang-orang yang berada di sekitar jalan. Ia menaruh dua dagger di pinggangnya bersiaga sewaktu-waktu para prajurit Exiastgardsun menghadang langkahnya.


Tap..
Tap..
Tap..


Suara lari dari orang itu tidak bisa menyamai riuh rendahnya suara orang-orang yang berada di karnaval itu. Ia sesekali menengok ke belakang memastikan tidak ada prajurit yang mengejarnya.


"Hei, Kau! Berhenti!!" teriak salah satu prajurit.


Drap!
Drap!
Drap!


Suara berat dari gesekan baju besi prajurit menandakan mereka masih mengejar orang itu. Para prajurit berpencar menjadi kelompok-kelompok kecil dan menyebar ke semua jalanan sempit yang ada untuk mempersempit ruang gerak orang itu.


"Orang Exiastgardsun memang tidak gampang menyerah."


Terpaan cahaya lampu jalan silih berganti menerangi jubah biru tua yang terkesan kumuh itu. Ia menoleh ke kiri dan kanan berharap menemukan sebuah tempat untuk meloloskan diri dari kejaran prajurit Exiastgardsun.


Drap!
Drap!


"Nano! Berhenti atas nama Ketua Sanelia!"


Seorang prajurit menghadang di depan dengan menghunuskan pedang dan bersiap untuk menyerang. Nano mengambil dua dagger di pinggangnya dengan cekatan dan terus berlari menerjang hadangan prajurit itu.

Senin, 22 Februari 2016

[FBC] 002 - MAWAR MULIA

VERSUS
MAHESA WERDAYA
[Tantangan N4]
oleh : Ridho Affandi

---

"Sebuah Mimpi yang Aneh"

.Awal Mula Ingatan – Kambing.

Sebuah ruangan bertembok putih. Sebuah ruangan dengan meja dan kursi terletak ditengahnya. Sebuah ruangan sempit bercahaya remang-remang dari sumbu lilin yang terbakar. Aku tersadar di dalam ruangan itu setelah mendengar suara laki-laki berbicara — di dalam kepalaku.

"Dimana ini?" suaranya lembut penuh kebingungan.

Aku, tanpa sadar, berdiri dari kursi yang kududuki dengan pertanyaan yang sama. Hempasanya membuat kursi itu terlempar kebelakang. "Tunggu, tunggu, tunggu! Bukankah itu pertanyaanku? Akulah yang seharusnya bertanya! Dimana ini? Kamu siapa? Kenapa kamu bisa berbicara dalam kepalaku? Apa jangan-jangan kamu alien? Tidak mungkin... jangan-jangan kamu... dukun!"

Hening. Aku tidak mendengar apa-apa lagi dalam waktu yang lama. Aku rasa ini percuma, dia tidak langsung menjawab.

"Bukan..." sangkalnya setengah berbisik setelah sekian lama. "Aku bukan dukun, dasar wanita sialan. Dimana ini? Apakah kau yang mengurungku disini? Dalam ruangan ini?"

"Bukan, bukan, bukan. Bukan aku. Pertama-tama, biar aku jelaskan dua hal kepadamu. Satu, aku juga terkurung dalam sebuah ruangan. Dua, aku punya nama. Sebut saja Mawar. Mawar Mulia."

"Mawar..." laki-laki itu berbisik, nadanya seperti mengingat-ingat sesuatu. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"