Tampilkan postingan dengan label Group 3 The Alien. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Group 3 The Alien. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2016

[ROUND 1 - 3D] 34 - MARTHA A. DORAPUNZEL | BERAKHIR BEGITU SAJA

oleh : Dendi Lanjung
--


Perang tak pernah hitam atau putih, selalu kelabu.

Begitu pula dengan cinta, tak pernah melihat baik ataupun buruk, selalu menggebu, membakar, dan menghanguskan, menjadikan abu.

Ini adalah kisah cinta dua pihak yang saling berseberangan, antara pria dan wanita, pemerintah dan pemberontak, manusia dan mesin, fanatik dan realis, lama dan baru.

Tapi akhirnya selalu sama, membawa luka dan kehilangan.


•••

Senin, 01 Agustus 2016

[ROUND 1 - 3C] 25 - MBAH AMUT | MÉ:καᴎίᴢεδ MÉ:μοяϊζ

MBAH AMUT

oleh : Énryuumaru
--



Catatan: Mungkin akan ada kekerasan, sindiran keras, lawakan garis keras, atau mungkin adégan telanjang melebihi batas. Éntri ini jangan dibawa perasaan, karena hanya cerita karangan. Aslinya diniatkan untuk tertawa, tapi bisa jadi malah bikin kecéwa. Waspada sebelum membaca.




Hai,

Kamu.

Ya, kamu.

Apakah kamu adalah kamu yang kemarin?

Aku harap begitu. Jadi tak perlu penjelasan panjang lébar lagi kenapa kita ada di sini. Kalau kamu bukan yang kemarin, kamu kesini dan ikut duduk saja. Mari kita nonton sama-sama.

Kamis, 28 Juli 2016

[ROUND 1 - 3C] 16 - ASIBIKAASHI | MEREBUT ANATOLIA


By: Zoelkarnaen
Group 3 The Alien - C. The Colony of Rising Sun

---
MEREBUT ANATOLIA

Hawa dingin, langit yang berwarna pelangi, dan gedung-gedung dengan bentuk tak beraturan kembali menyambut penglihatanku. Kami semua dikembalikan ke tempat terkutuk ini, batas mimpi mereka menyebutnya. Segera setelah mereka menunjukkan kekuatan Sang Kehendak—memastikan kalau kami tak memiliki keinginan untuk kabur—dan memastikan tak ada di antara kami yang akan memberontak, mereka mengirim kami semua ke tempat pertarungan awal.

Bagiku dan Asibi, tempat inilah tujuan kami sebelum tempat pertarungan berikutnya.

 Setelah menemukan dataran yang cukup lapang tanpa puing atau reruntuhan gedung, kami mulai duduk. Si Brurung Hantu tua, Asibi, aku, dan Wendigo yang baru saja dipanggil oleh Asibi. Namun ada yang aneh dengan Wendigo, tubuhnya terlihat agak transparan.

Aku yang menyadari Asibi baru saja memanggil Wendigo pun bertanya, "Asibi, kukira kau kehilangan semua kemampuanmu?"

"Aku memang memanggilnya, tapi hanya jiwanya. Entah mengapa aku masih bisa memanggilnya secara fisik."

"Kenapa kau memanggilku?" tanya Wendigo tanpa basa-basi. "Aku bukanlah bagian dari grup ceria kalian."

Sabtu, 16 Juli 2016

[ROUND 1 - 3C] 05 - NAMOL NIHILO | DUA

 
oleh : Aesop Leuvea

---
 DUA





Meteor


"Museum ... Semesta ...!" Namol tersedak napasnya sendiri.

Tidak sengaja menyebut dua kata itu, ingatannya otomatis memainkan kejadian semenit lalu.

Pilar berlapis emas, lautan karpet sewarna darah, lantainya yang berundak-undak artistik, lalu sebelas dinding setebal empat jengkal yang mengitari enam puluh enam makhluk bingung. Namol merupakan satu di antara mereka.

Para Reverier.

Dikumpulkan untuk menyaksikan hasil karya masing-masing, dan beberapa kenyataan yang takkan bisa dilupakan.

Patung itu ....

Namol langsung membuka matanya. Terkesiap dan mengumpat seperti pelaut. Sesaat, ia benar-benar merasa masih ada di sana. Keringat dinginnya jatuh, degup jantungnya berpacu.

Betapa saat ini ia sangat menghargai kegelapan dan suasana familier di dalam kamarnya.

"Namol, oi, goblok," sebias suara cempreng memanggilnya dari balik pintu. Suara Puppis, si peri kecil bersayap empat. "Keluar. Makan."

Namol menyahut serak, "Sebent—"

"NAMOL, BANGUN! AYO MAKAN SAMA-SAMA!"

Kegaduhan dari jebolnya tembok kamar Namol mengiringi jeritan kekanakan barusan. Heppow, si cacing-raksasa berkaus kaki, lantas mengintip polos dari lubang hasil sundulannya.

"Sebentar—oh ayolah, Hepp! Jangan mentang-mentang rumah ini punya sistem reparasi otomatis," sambung Namol sambil mendesah panjang. Jengkel.

Tapi kemudian, setelah melihat baik-baik dua makhluk di depannya, ia tersenyum. Peri dan cacing. Meski aneh dan menyebalkan, mereka adalah penjaganya. Atau lebih baik dari itu: mereka adalah sosok yang akan selalu ada.

"Apaan?" Puppis menuntut, ketus. Merasa risi dipandangi. Meski rona pipinya mengatakan hal lain.

"Bukan apa-apa, Pupp. Oh, ya, apa pesannya sudah datang? Belum? Bagus!" Namol bersiul melodius. Berjalan kikuk menembus dinding, langsung ke arah dapur. "Ayo, makan."

Setidaknya menurut Namol, setakut apa pun situasi mampu membuatnya, ia tidak akan pernah sendirian menghadapinya.



***