Tampilkan postingan dengan label Group 1 The Unholy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Group 1 The Unholy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2016

[ROUND 1 - 1A] 17 - NANO REINFIELD | BIG TROUBLE IN LITTLE ITALY

oleh : Dwi Hendra

--


0 – Prologue


Aula dengan nuansa keemasan dengan karpet merah menghiasi ruangan yang bernama aula semesta. Nano agak takjub dengan ruangan ini. Sebab istana yang biasa ia tempati tidak semegah dan semewah ini. Namun ia tak sendiri. Ada sekitar 60 makhluk berbagai bentuk dan ras seperti manusia, alien, robot bermata satu, bahkan sampai kaleng besar yang ia tak tahu apa kegunaannya atau bahkan ia tak tahu jika dia salah satu seperti dirinya.


Semuanya tertuju pada suatu dinding yang menempelkan lukisan-lukisan aneh. Mereka lalu mengerubungi dinding itu, termasuk Nano. Ia melihat salah satu lukisan seperti dirinya bertarung di kota Odojilak dan membebaskan para warga yang berada di pemukiman kumuh. Ia baru teringat semua itu, namun yang membuat dirinya heran adalah kenapa kejadian yang ia alami bisa berada di lukisan itu.


Nano hanya menatap bingung dan ngeri saat melihat lima orang menjadi pot tanah liat yang buruk. Ia dan semua reverier terpental ketika wanita berbaju perang bernama Mirabelle menebaskan tombaknya di udara.

Jumat, 22 Juli 2016

[ROUND 1 - 1A] 08 - ODIN | DREAM 01. A MASS ENCOUNTERS

oleh : Dee

--
Warning : Harsh Language, no sexual scene (maybe) but some scene may be not suitable for under 18 years old.  Out of Character is slightly inevitable
(Round 1 Setting starts from Part 03)


"Who shot you ?"  | "No one. No one has shot me."  - Frank Gusenber (Deceased Member from Morran Gang, February 14, 1929)


Whatever in front of your eyes, may trick you.



Part 01. Beginning of a Dream

Ruang Pameran, Museum Semesta

Ruangan tempat Odin berada kini sangat kontras dengan tempat yang ia tinggalkan. Nuansa emas dan merah yang menjadi interior utama mengingatkan Odin pada lukisan Olympus yang pernah ia lihat saat menjajakan lukisannya di pasar kesenian Pomupeii beberapa tahun silam. Sayangnya, ruangan tempat Odin berada sekarang hanyalah sebuah galeri biasa, setidaknya terlihat seperti itu, jika tidak melihat dengan seksama lukisan-lukisan yang tergantung di dinding ruangan dan 'mengelilingi' para pengunjung.

Ya. Bukan hanya Odin yang berada di tempat itu. Ada pria berjubah yang menjemputnya, beserta dengan wanita berkepala bantal dan satu wanita lagi. Tidak hanya mereka, ada puluhan makhluk yang berkumpul di tengah ruangan. Mulai dari robot sampai naga, sesuatu yang hanya Odin dengar dari cerita orang-orang di Pomupeii. Odin tidak jelas mendengar ucapan pengunjung yang lebih mirip dengungan, namun perlahan ia bergerak, mengikuti makhluk-makhluk yang ada di sekelilingnya : memperhatikan lukisan-lukisan yang terdapat di sana.

Mata hijau milik Odin membesar saat ia menemukan sebuah lukisan yang menggambarkan dirinya sedang membunuh Tuan.

Apa? Sejak kapan?

Sabtu, 16 Juli 2016

[ROUND 1 - 1B] 04 - VENESSA MARIA | RAID AT TENET CHRUCH


oleh : Saya Maria Fransiska

---

[WARNING! Restrincted for kids under 18 years, Contain sexual scene and no place for Social Justice Warriors]



Prolog : Keluarga Cemara

"Uuuuiiiiik...!"

Lengkingan itu begitu keras, sekilas terdengar seperti suara babi.

"Aduh, Dombe! Jangan melawan dong, mau dijadikan sate ya?" ucap seorang gadis. Lengannya sibuk menahan hewan ternak di hadapan.

Seekor domba berbulu tebal berulang kali melakukan perlawanan. Hewan itu panik ketika dihadapkan pada sebuah gunting. Majikannya hendak memanen bulunya agar bisa dijual ke pabrik garment.

"Uuuik, uik, uik. Uuuuuiiiikkk..!!"  (Hey, jangan macam-macam ya! Aku nggak bisa kamu eksploitasi seperti ini!)

Jumat, 01 Juli 2016

[ROUND 1 - 1A] 02 - ANITA MARDIANI | BRINGING NUKE TO A GUNFIGHT

oleh : Fachrul RUN

--
 
Volume #2: Bringing Nuke to a Gunfight


Previous Stories





Prologue



Rumah Klaus secara ajaib kembali berdiri. Wujudnya masih sama seperti sebelumnya, yakni bangunan dua lantai yang tinggal sisa separuh. Lokasinya pun tetap di tengah gurun gersang, diawasi makhluk tentakel dari awan. Tapi segala lubang, cekungan, dan kehancuran yang tercipta dari pertarungan Anita dengan Sharif hilang sepenuhnya. Tak hanya itu, jasad Klaus dan Wagner yang Anita tinggalkan di ruang altar pun turut lenyap, memberi gadis itu sedikit ketenangan di tengah kalut.


Anita duduk seorang diri di undakan ruang tengah. Kedua tangannya tertangkup dan kepalanya tertunduk. Wajahnya boleh tersenyum tipis, namun hatinya dicabik-cabik oleh sedih, sesal, dan rasa tidak berdaya.  


Seharusnya aku menyelamatkan mereka.