Jumat, 10 Juni 2016

[PRELIM] 55 - WAMENODO HUANG | APAKAH INI MIEMPI?

WAMENODO HUANG
oleh : Nibelhero

--
1st Thread
The reverier

Di Alam mimpi, ada dua sosok makhluk yang sedang berjalan-jalan sambil singgah ke beberapa mimpi dan menandai para pemimpinya sebagai Reverier.

Mereka berusaha secepat mungkin menemukan orang-orang atau makhluk atau malah benda yang mereka anggap memiliki mimpi yang tak biasa, dengan tujuan melaksanakan suatu acara agar sang Kehendak kembali tenang.

Sampai saat ini, sudah ada beberapa yang terkumpul. Mulai dari seniman biasa, orang-orang dengan kemampuan super, bahkan pembunuh pun sudah mereka datangi dan tandai.

Tidak sampai di situ, ada juga botol penyemprot ruangan, ayam dan juga hantu mereka tandai. Entah apa kriteria yang mereka pakai.

Saat mereka mau menyudahi tugas dadakan mereka tersebut...

"Paman Nurma, aku mau ke sana!"

"Hey, kita harus kembali ke museum semesta. Jangan ngeloyor kemana-mana deh." Tumpal Zainurma, sang kurator.

"Tapi... ada wangi makanan yang enak banget...aku jadi lapar..." Si kepala bantal manyun, walau tak ada bibirnya.

Zainurma yang sedari tadi mencoba mengabaikan rengekan Huban, mulai menyadarinya.

"Oh, jangan-jangan ini salah satu reverier ya?"

"Ya kan? ya kan? ayo ke sana!!!"

***

Kamis, 09 Juni 2016

[PRELIM] 54 - ZIA MAYSA POASEA | KHAYALAN

oleh : A.K.A. Fai


"Did you ever feel you aren't supposed to be exist? Being in the twilight between dream and reality? At the dawn  of truth and lie?"

Unsur 1H – Imajinasi

Pemimpi. Ada sangat banyak pemimpi. Gadis kecil itu kini tidak hanya mengamati impian yang ada dalam kepalanya, tetapi ditemani pria berjanggut berkelana dari satu mimpi ke yang lainnya. Menandainya satu persatu sebagai tamu yang diundang ke Alam Mimpi

Puluhan mimpi dan sekitar dua puluh pemimpi yang ditandai sudah mereka hampiri lalu mereka memutuskan untuk kembali ke Alam Mimpi terlebih dahulu sebelum perjalanan panjang lainnya. Gadis berkepala bantal itu melompat keluar dari mimpi seorang petarung dan mendarat ke pulau kue cookies dengan coklat chips yang mengambang di atas lautan susu putih, bersama pulau pulau cookie lainnya.

Kalau diperhatikan di atas pulau pulau itu juga terlihat bulatan bulatan putih kecil. Bukan topping seperti chochochips melainkan domba domba yang sedari tadi mengeluarkan suara mengembik ketika gadis itu tiba

Disusul oleh pria berambut klimis dengan setelan jas hitam ala elit politik, yang langsung memutuskan untuk telentang di atas pulau kue coklat itu sambil bergumam "Kau adalah Reverier... dan kau dapat membuat Mahakarya..."

Rabu, 08 Juni 2016

[PRELIM] 53 - PUCUNG | REM

oleh : Wildan Hariz
--


PRELUDE TO A DREAM
ALPHA WAVE


Riuh melanda hamparan luas pematang sawah. Semarak para petani menyambut musim panen terdengar. Asep mendengar kalau tahun ini adalah salah satu panen terbesar dalam sejarah. Ia sama sekali tak ingin melewatkan perayaan besar nanti malam di Balai Desa. Sudah dua bulan hujan dan cuaca tak mendukung aktivitas melanda Desa Karikil. Tak menguntungkan memang bagi para pekerja. Namun ada berkahnya bagi ladang yang dahaga akan air setelah kemarau panjang.
Tali sepatu Asep ikatkan kuat-kuat. Ia tak mau terlihat konyol oleh teman-temannya kalau jatuh karenanya. Muka Asep sudah menor benar dengan bedak yang dibubuhkan ibunya. Begitulah ibu. Anak ingin bermain saja penampilannya harus prima, seperti akan mengantri giliran sunat. Kendati Asep bukan salah satu di antara antrian itu, ia tetap pakai bedak itu dengan bangga.
“Mah. Asep main dulu yah! Nanti udahnya mau nginep di rumah Rudi. Jam 8 pagi pulangnya!” seru Asep seraya membanting pintu tak sabaran.
“Iya! Hati-hati ya, Sep! Jangan ngerepotin ibunya Rudi di sana!”
Ibu Asep bahkan tak perlu repot menoleh lantaran ia asyik menonton sinetron Turki. Entah pula kata-katanya sampai telinga Asep atau tidak. Yang penting, ia percaya bahwa kata-katanya selalu diindahkan oleh Asep, seberapa kalipun ia pernah memberontak.
Dengan sarung diselendangkan pada bajunya, Asep memacu langkah sandal jepitnya ke balai desa. Cuacanya cukup dingin bagi Asep yang memakai celana pendek, jadi ia mulai memakai sarungnya untuk melindungi bagian bawah berharganya yang kedinginan.

[PRELIM] 52 - NAZHME KAIKHAZ | RAJA DI ANTARA DUA DUNIA

oleh : Aryo Budi P.


===
===

“Kakek Yadhaor! Kakek Yadhaoooor!”
Sepasang anak-anak elf berlari berhamburan menuju ruang baca dalam mansion luas di pegunungan itu.
“Wah wah wah! Kalian sudah datang ya,” ucap seorang tua bertubuh pendek sambil mengangkat mata dari buku besar terbuka di atas meja. “Bagaimana sekolah kalian? Apa Melilo masih usil dan Gielana masih ranking bontot?”
“Kakeeeek!” seru sang gadis kecil sambil merengut. “Aku udah gak ranking bontot lagi!”
“Iya, tapi sekarang ranking tiga,” timpal sang pemuda yang sedikit lebih tua. “Dari belakang.”
“Kakaaaak!” seru sang adik sambil meninju bahu sang kakak yang tertawa-tawa.
“Wohoho~ ternyata memang kalian ada perkembangan, hmm?” ucap sang kakek sambil menutup buku besar itu dan melompat turun dari kursi tinggi yang tadi ia duduki. “Wah, kau juga tambah tinggi ya Gielana!”
“Mmhm!” balas Gielana sambil membusungkan dada, bangga. “Tahun depan Kakek nggak bisa mengataiku pendek lagi!”

[PRELIM] 51 - LILIA FIENNES | SUPERBIA

oleh : Suihei Yugure

-- 

Satu lagi hari yang sempurna bagi Lilia Fiennes. Yang mana sempurna bagi gadis itu adalah ia menghabiskan hari liburnya dengan membaca grimoire di perpustakaan keluarganya.

Lilia hanya meninggalkan perpustakaan dua kali untuk pergi ke toilet. Selebihnya, ia habiskan dengan membaca ulang buku-buku yang seluruhnya setidaknya sudah pernah ia baca dua sampai tiga kali. Sesekali beberapa pelayan masuk mengantar makanan dan teh.

"Nona Lilia."

Lilia yang terlalu fokus membaca tidak pernah menyadari kehadiran orang lain sampai orang itu menyapanya, ia menoleh dan mendapati salah seorang pelayan membungkuk hormat di sampingnya.

"Malam semakin larut. Sebaiknya anda tidur agar tidak terlambat besok pagi," lanjut pelayan itu.

Lilia mengeluarkan dan membuka jam sakunya, "Ah sudah selarut ini..." Gadis itu menutup buku yang tengah ia baca dan membawa buku itu beserta dua buku lain dari tumpukan buku di atas meja bacanya.

[PRELIM] 50 - SERILDA ARTEMIA | KESEMPATAN KEDUA

oleh : Naurah Deatrisya Gitany

--
 

"Kesempatan Kedua"

Dimulai
        Kabut, kabut, dan kabut. Semuanya samar. Tidak ada detail yang jelas. Hanya kabut samar-samar. Gadis itu memandang sekelilingnya. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang, atau makhluk, lain di tempat itu. Hingga dua siluet muncul di kejauhan. Yang satu terlihat seperti seorang pria dewasa bermantel dan yang satunya terlihat seperti anak kecil.
        "… reveriers… Mahakarya… Alam Mimpi…," ucap salah satu dari mereka sebelum menghilang.
        Tempat itu seperti meluruh dan menghilang. Berganti dengan kegelapan tidak berujung. Gadis itu mencoba menebak maksud perkataan salah satu sosok tadi hingga hanya dapat berasumsi tadi hanyalah racauan tidak jelas… hingga muncul titik terang.

[PRELIM] 49 - MARTHA A. DORAPUNZEL | RIWAYAT SI NENEK SELFIE



oleh : Dendi Lanjung

--

Prelim.
Maks. 10.000 kata.
Protect people, negotiate with the enemy, and/or withdraw from battle.
DEADLINE MINGGU, 5 JUNI 2016, 23:59 WIB
Mulai menulis: 28 Mei 2016, 23:14 WIB.
Panik.
Martha. Meyshinta. Mayzaldy. Mayang. Maharani.
Hampir semua perempuan yang menurutku menarik, memiliki nama berawalan huruf M.
Hampir semua...
Martha A. Dorapunzel.
Kelihatan sekali kalau pemberian nama ini sangatlah acak, tapi lupakan.
Lupakan sejenak nama itu, dan marilah kita segera masuk ke cerita.
[1]
:: Kok, gampang ya? ::
Sepuluh tahun yang lalu, sebuah benda dari luar angkasa jatuh ke bumi. Bukan meteor, bukan pula kuda sembrani berekor pelangi, benda yang jatuh adalah sebuah sekoci. Soal darimana sekoci itu berasal dan bagaimana caranya jatuh dari luar angkasa, itu akan diceritakan di lain waktu. Satu hal yang pasti, sang penumpang sekoci adalah perempuan berusia senja yang kehilangan memori.
Tak satupun keterangan mengenai identitas si perempuan tua menempel di tubuhnya –selain perkiraan usianya yang di atas enam puluh tahunan. Hanya pakaian kemeja putih menyerupai kebaya dan celana sebetis berwarna biru indigo, juga secarik kertas bertuliskan 'Martha – Meyshinta – Mayzaldy – Mayang – Maharani' saja properti yang ada bersamanya. Selebihnya tentang siapa sebenarnya si nenek dan tempat dia berasal semuanya masih misteri.
Demi mencegah hal-hal yang bisa mengganggu keamanan negara, Pemerintah Indonesia melalui Badan Antariksa, Paranormal dan Eksplorasi Rijalulghaib, disingkat B.A.P.E.R., memberi nama nenek itu Martha A. Dorapunzel.
Sementara untuk tempat tinggalnya, Nenek Martha ditempatkan di sebuah panti bernama Panti Unikorn Pelangi. Panti yang khusus diperuntukkan bagi para veteran pahlawan kemerdekaan itu berdiri di sebuah pulau kecil di utara Jakarta, hal itu karena hampir semua veteran yang tinggal disana memiliki kemampuan khusus.
Sepuluh tahun berselang, si Nenek telah mendapat identitas baru berkat hobinya untuk pergi berkelana ke penjuru dunia hanya untuk berselfie ria –yang tentu saja tanpa persetujuan dari pihak panti. Sepuluh tahun berselang, saat ini Nenek Martha lebih dikenal dengan julukan barunya sebagai Nenek Selfie.
•••

[PRELIM] 48 - ALEXINE ELIZABETTH REYLYNN | THE BEGINNING OF MY FIRST SURREAL ADVENTURE EVER

oleh : Kaleodoscope

--

Duh, mulai lagi deh. Perutku serasa sakit namun bukan sakit yang membuatku kesakitan. Lebih seperti apa ya? Mual? Tapi bukan mual, perutku sehat-sehat aja dari minggu kemarin. Jadi, apa ya? Lucu? Lucu mungkin ya? Habisnya rasa ini aneh, isi perutku seperti kaya diaduk-aduk oleh sendok kayu besar tak terlihat yang sudah diraciki semacam rempah-rempah.
           
            Tapi aku sudah kenal betul dengan perasaan ini. Ini perasaan setiap kali kalau aku terlalu excited.

            Kali ini pastinya yang terparah. Sampai bisa membuatku seluruh tubuhku bergoyang-goyang sendiri semakin aku coba menahannya.

            Untungnya sih, diriku ini sedang duduk di atas pasir pantai malam dekat dengan api unggun, jadinya tak terlalu kelihatan. Coba kalau berdiri, kan ngga lucu kalau aku goyang-goyang sendiri tanpa alasan.

            Tapi, aku punya alasan kenapa tubuhku, terutama perutku bisa seperti ini. Pastinya karena dari kedua orang itu—dua orang gila—yang putih kusam lagi asik memetik gitar, yang coklat tua lagi asik menabuh cajon. Sudah lama kita bertiga tak berkumpul dan menikmati suasana malam bersama.

            Sedangkan aku, cukup saja aku menikmati nyanyian mereka dan musiknya. Sebenarnya, ingin sih aku juga ikut bernyanyi, tapi—

            "Hellooo? Can i hear some of your fucking voices Lex?!"           

[PRELIM] 47 - EVE ANGELINE | DREAM, PAST, PRESENT, AND (FROZEN) FUTURE

oleh : Lyre Reinn

Dream, Past, Present, and (Frozen) Future (?)

Altair's Dream & Past : [Memory, when Eve was created]
.
.
*Z City, April 6th, 2028

"Selesai."

Altair memandangi sebuah—tidak, seorang gadis Humanoid—yang ada di depannya sambil melepas sarung tangan karetnya.

"He…hei… Dia mirip sekali denganmu." ujar Shiro yang sedari tadi berada di sebelah gadis itu sambil memperhatikan Humanoid di depannya.

"Kecuali…"

Iris merah darahnya melirik sekilas ke arah dada Altair dan si Humanoid secara bergantian.

"Kecuali?"

"A..ah.. T..tidak ada apa-apa!" seru pemuda itu panik sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
'Bisa gawat kan kalau aku ketahuan sedang membandingkan 'ukuran'nya' batinnya dalam hati.
Si gadis memandangi Shiro dengan tatapan bingung. Ia mendengar pikiran Shiro barusan, namun tidak mendebatnya lebih jauh. Toh yang dibandingkan tidak sesuai. Untuk apa membandingkan 'besi dengan daging'?

"Shiro…"

"I…iya?"

"Kurasa… Aku harus rajin minum susu…"

"E..e…."

"EEEHHH???"
.
.

Selasa, 07 Juni 2016

[PRELIM] 46 - ULRICH SORGE SCHMIDT | EIN, ZWEI, POLIZEI

oleh : Naer Sisra 

.
.
.
Keriutan lantai besi tua ruangan ini terdengar setiap ia bergerak. Aroma apak dan karat terkuar di udara, membuatnya sedikit tidak nyaman. Penerangan di tempat ini sangat redup, didominasi warna biru pucat dan beberapa bolham kuning temaram yang sudah ketinggalan zaman. Ia tak pernah tahu kalau di bawah ruangan kesehatan sekolahnya ada laboratorium rahasia.

Rahasia, kedengarannya keren dan misterius.

Nyatanya ruangan ini tidak terurus, berantakan, dan kuno. Tidak ada keren-kerennya sama sekali. Walaupun demikian, suara mesin yang menyala di kejauhan membuktikan kalau tempat usang ini masih berfungsi. Setidaknya itu yang ingin Ulrich Schmidt yakini.

Bocah halfling bertanduk gading itu berdiri di depan sebuah alat berbentuk kapsul. Cukup besar untuk dimasuki orang dewasa. Walaupun asap-asap yang keluar dari dalam alat itu membuat Ulrich khawatir.

"Masih lama?" Tenornya pecah karena serak setelah setengah hari tidak bersuara sama sekali, bocah berkacamata itu lalu berdeham, "Apa alatnya belum siap, Profesor Benedict?"