Rabu, 27 Juli 2016

[ROUND 1 - 9I] 10 - SATAN RAIZETSU | PION DI ATAS PAPAN PERMAINAN

oleh : Hyakunosen
--
Pion di Atas Papan Permainan

Bagian 1

Dalam ruangan yang remang, hanya ada satu sumber yang menjadi penerangan kamar ini, sebuah lampu dinding yang memancarkan cahaya jingga seperti senja.

Aku tak begitu menyukai tempat terang, jadi suasana seperti inilah yang paling cocok denganku. Hanya dengan menenggelamkan diriku pada sofa, seluruh otot di kepala dan tubuh mengendur, membuatku merasa tenang.

Aku yang sekarang sedang mengharapkan ketenangan lebih dari siapapun. Aku hanya ingin bisa pulang ke rumah dan melanjutkan game Little Busters yang belum sempat kuselesaikan, lagi.

Tapi, sepertinya itu akan menjadi tujuan yang sangat panjang bagiku. Terlebih karena kejadian barusan yang mungkin akan meningkatkan kadar kegilaan dari dunia yang mereka sebut sebagai "Alam Mimpi" ini.

"Siapa nama dewi yang tadi? Umm ... Mirabelle, bukan?" gumamku sembari menghela napas. "Kenapa semua dewa seperti itu? Mereka selalu merendahkan kami manusia, dan menganggap dirinya lah yang paling kuasa."

Aku bukanlah orang yang menentang konsep "dewa", karena bagaimanapun ini kedua kalinya aku melihat "makhluk" seperti itu. Tapi, kedua "makhluk" itu meninggalkan kesan buruk dalam diriku.

Aku melirik orang yang sedang tertidur di atas kasur yang tak jauh dari sofa yang kududuki. Dia mungkin adalah salah satu orang yang mendapat kesan paling buruk terhadap makhluk bernama dewa.

Selasa, 26 Juli 2016

[ROUND 1 - 7F] 09 - ZEPHYR | IT'S JUST GOOD BUSSINESS

oleh : Denis Novendra


--IT'S JUST GOOD BUSSINES--


××--<>--××


"War is the Statesman's Game, the Priest's Delight, the Lawyer's jest,
,the Hired Assasin's Trade~"


-Percy Bisshe Shelley-


××--<>--××


First Bullet
||| /
...Victory Love Preparation...


Part 01


Beberapa saat setelah pertarungannya dengan RelaxingEnd, Zephyr didatangi oleh seorang mahluk? Dengan tubuh seorang anak kecil dan berkepala bantal yang mengatakan dirinya adalah seorang Reveriers dari sebuah pertandingan Multisemesta bernama Battle of Realms : Masterpiece of Reveriers.


Tentu, awalnya Zephyr tidak percaya. Apalagi saat sebagian besar pertanyannya tidak dijawab oleh gadis berkepal bantal itu yang hanya menjawab dengan : "Maaf kak, sebagian besar pertanyaan mu itu mengandung spoiler!" Heck, siapa yang tidak kesal dan bingung jika pertanyaan serius hanya dijawab enteng seperti itu.


Apalagi gadis yang mengaku bernama Ratu Huban itu juga memberi seekor Domba juga tanpa alasan yang jelas dan bilang itu adalah hadiah karena lolos babak seleksi.


Namun...


Jumat, 22 Juli 2016

[ROUND 1 - 1A] 08 - ODIN | DREAM 01. A MASS ENCOUNTERS

oleh : Dee

--
Warning : Harsh Language, no sexual scene (maybe) but some scene may be not suitable for under 18 years old.  Out of Character is slightly inevitable
(Round 1 Setting starts from Part 03)


"Who shot you ?"  | "No one. No one has shot me."  - Frank Gusenber (Deceased Member from Morran Gang, February 14, 1929)


Whatever in front of your eyes, may trick you.



Part 01. Beginning of a Dream

Ruang Pameran, Museum Semesta

Ruangan tempat Odin berada kini sangat kontras dengan tempat yang ia tinggalkan. Nuansa emas dan merah yang menjadi interior utama mengingatkan Odin pada lukisan Olympus yang pernah ia lihat saat menjajakan lukisannya di pasar kesenian Pomupeii beberapa tahun silam. Sayangnya, ruangan tempat Odin berada sekarang hanyalah sebuah galeri biasa, setidaknya terlihat seperti itu, jika tidak melihat dengan seksama lukisan-lukisan yang tergantung di dinding ruangan dan 'mengelilingi' para pengunjung.

Ya. Bukan hanya Odin yang berada di tempat itu. Ada pria berjubah yang menjemputnya, beserta dengan wanita berkepala bantal dan satu wanita lagi. Tidak hanya mereka, ada puluhan makhluk yang berkumpul di tengah ruangan. Mulai dari robot sampai naga, sesuatu yang hanya Odin dengar dari cerita orang-orang di Pomupeii. Odin tidak jelas mendengar ucapan pengunjung yang lebih mirip dengungan, namun perlahan ia bergerak, mengikuti makhluk-makhluk yang ada di sekelilingnya : memperhatikan lukisan-lukisan yang terdapat di sana.

Mata hijau milik Odin membesar saat ia menemukan sebuah lukisan yang menggambarkan dirinya sedang membunuh Tuan.

Apa? Sejak kapan?

[ROUND 1 - 10I] 07 - ADRIAN VASILIS | I AM BETWEEN A CONFLICT

oleh : Tanz

--

Chapter 2
I Am Between A Conflict




Detak jantung stabil, peralatan sudah steril.

Kerusakan di bagian itu cukup parah, tapi ada orang baik hati yang—

Apa ini mungkin?

Masih untung dia hanya dapat satu luka serius dari kecelakaan itu.

Tolong, jangan katakan ini padanya.

Memulai transplantasi organ.


***

Minggu, 17 Juli 2016

[ROUND 1 - 9I] 06 - LUCAS MASOLEUM | PENYELAMATAN DI STARBRIGHT.INC


oleh : R.J. Marjan

---

The Dream

Aula Museum Semesta, lebih dari enam puluh orang tak sekalipun membuatnya sesak. Mereka berkumpul di atas karpet merah dengan kebingungan dan keterkejutan. Di dinding, di atas permadani berhiaskan benang merah dan emas, berjejer lukisan-lukisan luar biasa. Emas membingkai tiap kanvas besar yang memuat laga-laga penuh drama dan aksi. Para Reveriers.

Lucas berdiri disana, tak memperhatikan apapun selain lukisan yang memuat gambaran dirinya, baru saja menembakan pisau, dan kabel listrik jatuh di depannya. Garis listrik kekuningan yang memercik terasa begitu nyata. Disana, dengan detil terlukis gambaran dari sosok yang tengah menjulurkan tangan, menggeliat. Daniel. Lucas jelas tak menikmatinya. Juga tak menyesalinya.

Ketika mengedarkan pandangan ke sekeliling, dia menyadari tiga sosok di dekat pintu tengah mengamati orang-orang yang kebingungan ini. Salah satu dari mereka terus menjawab tanda tanya dari para reverier. Mereka tau banyak.

Dari ketiga sosok itu, Lucas mengenal salahsatunya, Ratu Huban. Kali ini, dia geram akan mereka yang menahannya dalam mimpi ini. Untuk apa? Dia tak menemukan gagasan masuk akal di benaknya.

"Apa ini? Apa maksudnya semua ini? Siapa kalian?" Dia mengeraskan suaranya.

Mirabelle, Sang Dewi Konservasi sempat menjawab sebelum gempa bumi dan pekik kesakitan melingkupi aula. Beberapa orang menatap langit-langit dengan nanar sementara tubuh mereka perlahan menjadi tanah liat. Lucas menatap Sang Dewi dengan kengerian dan tanda tanya. Yang didapatnya hanyalah kata maaf dari mulut Mirabelle. Pria necis di sampingnya tak berhenti berkilah sementara Ratu Huban, si kepala bantal malah tertawa dibelakangnya.

Kesewenang-wenangan. Sebenarnya Lucas tak begitu peduli. Dia tak peduli pada orang yang kini telah menjadi tembikar. Tapi kekhawatirannya berpusat pada dirinya. Bahkan saat rasa sakit menyelimuti semua reveriers. Lucas mengerang sakit, hingga cahaya membawanya pergi. Dia cemas.

Sabtu, 16 Juli 2016

[ROUND 1 - 3C] 05 - NAMOL NIHILO | DUA

 
oleh : Aesop Leuvea

---
 DUA





Meteor


"Museum ... Semesta ...!" Namol tersedak napasnya sendiri.

Tidak sengaja menyebut dua kata itu, ingatannya otomatis memainkan kejadian semenit lalu.

Pilar berlapis emas, lautan karpet sewarna darah, lantainya yang berundak-undak artistik, lalu sebelas dinding setebal empat jengkal yang mengitari enam puluh enam makhluk bingung. Namol merupakan satu di antara mereka.

Para Reverier.

Dikumpulkan untuk menyaksikan hasil karya masing-masing, dan beberapa kenyataan yang takkan bisa dilupakan.

Patung itu ....

Namol langsung membuka matanya. Terkesiap dan mengumpat seperti pelaut. Sesaat, ia benar-benar merasa masih ada di sana. Keringat dinginnya jatuh, degup jantungnya berpacu.

Betapa saat ini ia sangat menghargai kegelapan dan suasana familier di dalam kamarnya.

"Namol, oi, goblok," sebias suara cempreng memanggilnya dari balik pintu. Suara Puppis, si peri kecil bersayap empat. "Keluar. Makan."

Namol menyahut serak, "Sebent—"

"NAMOL, BANGUN! AYO MAKAN SAMA-SAMA!"

Kegaduhan dari jebolnya tembok kamar Namol mengiringi jeritan kekanakan barusan. Heppow, si cacing-raksasa berkaus kaki, lantas mengintip polos dari lubang hasil sundulannya.

"Sebentar—oh ayolah, Hepp! Jangan mentang-mentang rumah ini punya sistem reparasi otomatis," sambung Namol sambil mendesah panjang. Jengkel.

Tapi kemudian, setelah melihat baik-baik dua makhluk di depannya, ia tersenyum. Peri dan cacing. Meski aneh dan menyebalkan, mereka adalah penjaganya. Atau lebih baik dari itu: mereka adalah sosok yang akan selalu ada.

"Apaan?" Puppis menuntut, ketus. Merasa risi dipandangi. Meski rona pipinya mengatakan hal lain.

"Bukan apa-apa, Pupp. Oh, ya, apa pesannya sudah datang? Belum? Bagus!" Namol bersiul melodius. Berjalan kikuk menembus dinding, langsung ke arah dapur. "Ayo, makan."

Setidaknya menurut Namol, setakut apa pun situasi mampu membuatnya, ia tidak akan pernah sendirian menghadapinya.



***

[ROUND 1 - 1B] 04 - VENESSA MARIA | RAID AT TENET CHRUCH


oleh : Saya Maria Fransiska

---

[WARNING! Restrincted for kids under 18 years, Contain sexual scene and no place for Social Justice Warriors]



Prolog : Keluarga Cemara

"Uuuuiiiiik...!"

Lengkingan itu begitu keras, sekilas terdengar seperti suara babi.

"Aduh, Dombe! Jangan melawan dong, mau dijadikan sate ya?" ucap seorang gadis. Lengannya sibuk menahan hewan ternak di hadapan.

Seekor domba berbulu tebal berulang kali melakukan perlawanan. Hewan itu panik ketika dihadapkan pada sebuah gunting. Majikannya hendak memanen bulunya agar bisa dijual ke pabrik garment.

"Uuuik, uik, uik. Uuuuuiiiikkk..!!"  (Hey, jangan macam-macam ya! Aku nggak bisa kamu eksploitasi seperti ini!)

Minggu, 10 Juli 2016

[ROUND 1 - 7G] 03 - FaNa | F.P

oleh : Bayee Azaeeb Via

Chp. 0 : Prepare for trouble
[Na's POV]

"Sjena, bangun!"

Kuguncangkan tubuh gadis kecil itu. Namun ia masih saja terus mengigau dan meronta tanpa sadar. Badannya panas, keringat dingin mengucur deras dari sisi wajahnya.

"Fa, kau bilang kekuatanku bisa membuat seseorang mimpi indah, bukan?!"

"Mana aku tahu, bodoh!? Memangnya aku terlihat seperti gurumu? Coba cubit Sjena, mungkin saja dia bisa bangun dari mimpi 'indah'nya."

Seperti biasa, jawaban Fa tak pernah menyelesaikan masalah. Yang ada hanya menambah masalah, ditambah emosi, sama dengan percuma.

Mungkin ada solusi lain. Bagaimana kalau aku melakukan hal yang sama untuk membalikkan sugestinya? Baiklah, tak ada waktu untuk bermain-main.

Kusentuh pipi Sjena dengan kedua tanganku. Lalu dengan sekali hentakan, kugunakan harapanku untuk menariknya kembali ke dunia nyata. Seketika, matanya membelalak dan nafasnya kembali. Begitu ritme pernafasannya kembali, ia langsung memelukku erat.

"Apa yang terjadi barusan, Sjena?"

Jumat, 01 Juli 2016

[ROUND 1 - 1A] 02 - ANITA MARDIANI | BRINGING NUKE TO A GUNFIGHT

oleh : Fachrul RUN

--
 
Volume #2: Bringing Nuke to a Gunfight


Previous Stories





Prologue



Rumah Klaus secara ajaib kembali berdiri. Wujudnya masih sama seperti sebelumnya, yakni bangunan dua lantai yang tinggal sisa separuh. Lokasinya pun tetap di tengah gurun gersang, diawasi makhluk tentakel dari awan. Tapi segala lubang, cekungan, dan kehancuran yang tercipta dari pertarungan Anita dengan Sharif hilang sepenuhnya. Tak hanya itu, jasad Klaus dan Wagner yang Anita tinggalkan di ruang altar pun turut lenyap, memberi gadis itu sedikit ketenangan di tengah kalut.


Anita duduk seorang diri di undakan ruang tengah. Kedua tangannya tertangkup dan kepalanya tertunduk. Wajahnya boleh tersenyum tipis, namun hatinya dicabik-cabik oleh sedih, sesal, dan rasa tidak berdaya.  


Seharusnya aku menyelamatkan mereka.

[ROUND 1 - 4C] 01 - IRIS LEMMA | THE WORLD IS NOT ENOUGH

oleh : Sam Riilme

--

[Iris Lemma’s Entries Reading Guide For Dummies]
(If you’re not a dummy then no need to read this – just kidding)

1.       Entri Iris Lemma selalu terdiri dari 4 sub-chapter (babak) plus prolog dan epilog, dengan indikator ‘0%~’ di awal dan ‘~100%’ di akhir. Tiap babak itu sendiri terbagi lagi menjadi beberapa part, tergantung sepanjang apa sebuah babak cerita berjalan. Hal ini mungkin akan membingungkan beberapa pembaca dalam membaca entri, namun karena memudahkan penulis dalam menulis poin-poin ide menjadi sebentuk cerita, jadi siapa peduli?
2.       Di dalam entri akan tersebar banyak sekali kata dengan furigana(phonetic guide), yang mana sebenarnya tidak wajib untuk dibaca karena tulisannya terlalu kecil dan hanya akan membuat sakit mata. Tapi karena kelihatan keren dan penulis senang memasukkan tafsir lain dari suatu kata, jadi kebebasan(suka-suka) penulis lah ya.
3.       Di penghujung entri akan ada semacam segmen tambahan bertajuk [Extra Sequence ~ <Another Dream> : Side x, Part y], yang sifatnya opsional untuk dibaca dan tidak berkaitan langsung dengan entri yang bersangkutan, tapi berhubungan dengan canon Iris Lemma. Kalau pembaca yang budiman tidak begitu peduli dengan dia dan kawan-kawan, skip saja bagian itu.
4.       Terakhir, materi (sok) berat dan (sok) dalam - seolah hendak menguliahi pembaca (dan memang demikian adanya) - akan selalu ada di setiap entri Iris Lemma. Bila kurang berkenan atau tidak suka, tidak perlu memaksakan diri untuk membaca. Anak kecil saja bisa menolak makan sayur karena tidak enak di lidah, apalagi orang dewasa yang punya kebebasan memilih. 
5.       Maaf sudah menghabiskan 250 kata untuk peringatan tidak penting di atas. Akhir kata, selamat membaca.

*****

==Starting_Up_System_[PRAE.SCRIPTUM]==

Ketakutan.

Itulah alat yang paling ampuh untuk mengendalikan semua mahluk yang memiliki rantai pengekang bernama perasaan dalam ketundukan absolut.

Dan saat ini, Iris Lemma telah belajar hal baru. 61 sosok yang disebut reverier(peserta), termasuk dirinya, dikumpulkan di satu tempat bernama [Museum(Pameran) Semesta(Mahakarya)], menyaksikan bagaimana sekelompok mahluk gagal dihukum oleh tangan tak terlihat secara mengerikan. Hampir semua yang hadir di sana seketika itu juga merasakan ketidakberdayaan melawan entitas maha tinggi penguasa tempat ini.

[Sang(The True) Kehendak(Mastermind)].

Mereka semua tahu, saat ini mereka kehilangan inspirasi, dan mungkin di saat yang sama juga kehilangan nyali. Melawan berarti mati. Hanya dengan satu pertunjukan singkat yang efektif, mereka menurut untuk melakukan keinginan dia yang wujudnya bahkan tidak dapat dilihat di depan mata mereka.

Tapi bagi Iris Lemma yang tidak disibukkan dengan impresi pemicu emosi, hal ini membuktikan sesuatu.

Sosok yang ia cari, menjadi tujuannya sejak ia dapat mengingat dunia terpampang di depan matanya. Sosok Tuhan(pencipta). Konsep ini ternyata bukan buah pikiran belaka dan benar adanya. Perjalanannya keluar dari dunianya sendiri, sebagaimana yang diarahkan oleh Mira Slime, sudah berada pada garis yang benar. Iris Lemma meyakini hal ini dengan sepenuh hati, sekalipun ia tidak punya hati.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana ia bisa menemui Sang Kehendak ini?

“Ayo, saatnya kalian kembali~. Domba-domba kalian bisa kesepian kalau terlalu lama ditinggal di sana~.”

Suara riang dari sosok mungil dengan payung permen – dalam kepala Iris Lemma telah ditandai dengan nama [Ratu(Kepala) Huban(Bantal)] – kembali terdengar, mengantar para peserta yang telah pasrah dengan nasib mereka diseret ke dalam suatu ajang membingungkan ini kembali pada kenyataan, kenyataan dalam bentuk [Bingkai(Realita) Mimpi(Terbatas)].

*