oleh : Sam Riilme
--
[Iris Lemma’s Entries Reading Guide For Dummies]
(If you’re not a dummy then no need to read this – just kidding)
1.
Entri Iris Lemma selalu terdiri dari 4
sub-chapter (babak) plus prolog dan epilog, dengan indikator ‘0%~’ di awal dan ‘~100%’ di akhir. Tiap babak itu sendiri terbagi lagi menjadi
beberapa part, tergantung sepanjang
apa sebuah babak cerita berjalan. Hal ini mungkin akan membingungkan beberapa
pembaca dalam membaca entri, namun karena memudahkan penulis dalam menulis
poin-poin ide menjadi sebentuk cerita, jadi siapa peduli?
2. Di dalam entri akan tersebar banyak sekali kata dengan furigana, yang mana sebenarnya tidak wajib untuk dibaca karena
tulisannya terlalu kecil dan hanya akan membuat sakit mata. Tapi karena
kelihatan keren dan penulis senang memasukkan tafsir lain dari suatu kata, jadi
kebebasan penulis lah ya.
3. Di penghujung entri akan ada semacam segmen tambahan bertajuk [Extra Sequence ~ <Another Dream> : Side
x, Part y], yang sifatnya opsional untuk dibaca dan tidak berkaitan langsung
dengan entri yang bersangkutan, tapi berhubungan dengan canon Iris Lemma. Kalau pembaca yang budiman tidak begitu peduli
dengan dia dan kawan-kawan, skip saja bagian itu.
4. Terakhir, materi (sok) berat dan (sok) dalam - seolah hendak menguliahi pembaca (dan memang demikian
adanya) - akan selalu ada di setiap entri Iris Lemma. Bila kurang berkenan atau
tidak suka, tidak perlu memaksakan diri untuk membaca. Anak kecil saja bisa
menolak makan sayur karena tidak enak di lidah, apalagi orang dewasa yang punya
kebebasan memilih.
5.
Maaf sudah menghabiskan 250
kata untuk peringatan tidak penting di atas. Akhir kata, selamat membaca.
*****
==Starting_Up_System_[PRAE.SCRIPTUM]==
Ketakutan.
Itulah alat yang paling ampuh untuk mengendalikan
semua mahluk yang memiliki rantai pengekang bernama perasaan dalam ketundukan
absolut.
Dan saat ini, Iris Lemma telah belajar hal baru. 61
sosok yang disebut reverier, termasuk dirinya, dikumpulkan di satu tempat bernama
[Museum Semesta], menyaksikan bagaimana sekelompok mahluk gagal
dihukum oleh tangan tak terlihat secara mengerikan. Hampir semua yang hadir di
sana seketika itu juga merasakan ketidakberdayaan melawan entitas maha tinggi
penguasa tempat ini.
[Sang Kehendak].
Mereka semua tahu, saat ini mereka kehilangan
inspirasi, dan mungkin di saat yang sama juga kehilangan nyali. Melawan berarti
mati. Hanya dengan satu pertunjukan singkat yang efektif, mereka menurut untuk
melakukan keinginan dia yang wujudnya
bahkan tidak dapat dilihat di depan mata mereka.
Tapi bagi Iris Lemma yang tidak disibukkan dengan
impresi pemicu emosi, hal ini membuktikan sesuatu.
Sosok yang ia cari, menjadi tujuannya sejak ia dapat
mengingat dunia terpampang di depan matanya. Sosok Tuhan. Konsep ini
ternyata bukan buah pikiran belaka dan benar adanya. Perjalanannya keluar dari
dunianya sendiri, sebagaimana yang diarahkan oleh Mira Slime, sudah berada pada
garis yang benar. Iris Lemma meyakini hal ini dengan sepenuh hati, sekalipun ia
tidak punya hati.
Sekarang pertanyaannya, bagaimana ia bisa menemui Sang
Kehendak ini?
“Ayo, saatnya kalian kembali~. Domba-domba kalian bisa
kesepian kalau terlalu lama ditinggal di sana~.”
Suara riang dari sosok mungil dengan payung permen –
dalam kepala Iris Lemma telah ditandai dengan nama [Ratu Huban]
– kembali terdengar, mengantar para peserta yang telah pasrah dengan nasib
mereka diseret ke dalam suatu ajang membingungkan ini kembali pada kenyataan,
kenyataan dalam bentuk [Bingkai Mimpi].
*